Last Updated:

Prospek Usaha Kulit dan Produk Kulit

Prospek Usaha Kulit dan Produk Kulit - Kulit dan Produk Kulit di Indonesia cukup potensial untuk dikembangkan terutama dalam upaya untuk meningkatkan ekspor non migas, karena kulit dan produk kulit mempunyai peluang pasar yang  cukup besar baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Harapan tersebut akan terwujud jika dilaksanakan beberapa kegiatan produktif diantaranya, peningkatan pertumbuhan industri hulunya (bahan baku)  dan industri hilirnya (produknya) seperti sepatu kulit, tas kulit, koper kulit, jaket kulit, sarung tangan kulit, jok kulit dan produk kulit lainnya. 

Berkembangnya industri kulit dan produk kulit di dalam negeri akan meningkatkan devisa melalui peningkatan ekspor.

Selain itu juga akan meningkatkan daya serap tenaga kerja serta mendorong masuknya investasi di sektor ini.

Tujuan Penulisan Artikel Prospek Usaha Kulit dan Produk Kulit

Tujuan dari penulisan Prospek Usaha Kulit dan Produk Kulit ini untuk melihat sampai sejauh mana perkembangan usaha industri kulit dan barang jadi kulit di Indonesia

Ruang lingkup artikel meliputi :

  • Industri Penyamakan Kulit baik skala besar, menengah maupun kecil
  • Industri Barang Jadi Kulit baik skala besar, menengah maupun kecil
  • Dan Prospeknya 

Pada dasarnya, penulisan artikel ini akan memanfaatkan dua methode riset yaitu riset   kepustakaan (desk/library research) dan riset /survai lapangan (field survey / research Riset Kepustakaan.

Studi Kepustakaan adalah penelitian untuk mendapatkan data-data sekunder melalui jajian atas data-data kepustakaan berupa penerbitan-penerbitan yang erat kaitannya dengan konteks studi ini baik yang diterbitkan oleh instansi pemerintah (Depperindag, BPS, Deptan, dan Instansi Terkait lainnya), swasta maupun assosiasi profesi yang relevan di dalam negeri, institusi terkait di luar negeri.

GAMBARAN UMUM TENTANG INDUSTRI KULIT DAN PRODUK KULIT 

Kondisi ekonomi makro Indonesia secara umum mulai membaik dan stabil.

Hal ini terlihat dari sejumlah indikator ekonomi makro yang cenderung menguat.  Salah satu indikator ekonomi utama,  yaitu  laju  pertumbuhan PDB, telah kembali tumbuh positif dalam tiga tahun terakhir (2000–2002).

Perkembangan ini cukup menggembirakan, mengingat laju pertumbuhan PDB tersebut sempat mengalami kontraksi ketika krisis multidimensi mengalami puncaknya di tahun 1998.

Pada tahun 1999 laju pertumbuhan PDB nasional kembali positif walau masih, yaitu hanya tumbuh 0,79%. 

Pada tahun 2000 pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali meningkat menjadi 4,92%, tahun 2001 sedikit menurun menjadi hanya 3,44%, namun kembali meningkat menjadi sebesar 3,66% di tahun 2002 lalu. 

Hingga semester pertama 2003  laju pertumbuhan PDB Indonesia yang dilaporkan BPS telah mencapai 3,76%. 

Diharapkan hingga akhir 2003 target pertumbuhan PDB Indonesia diatas 4% dapat tercapai, dan pada tahun 2004 mendatang laju pertumbuhan PDB diperkirakan akan mencapai sekitar 4,0%-5,0%.

Indikator ekonomi makro lainnya seperti nilai tukar rupiah, laju inflasi, dan tingkat suku bunga, perkembangannya juga  membaik  dalam setahun  terakhir  ini (2002 – 2003).  

Stabilitas ekonomi Indonesia sejak akhir 2002 hingga pertengahan 2003 ini tercermin dari stabilnya kurs rupiah, rendahnya  suku bunga bank, dan terkendalinya laju inflasi.  

Perkembangan nilai tukar rupiah sejak tahun 2002 lalu terus menguat dan stabil selama semester pertama 2003. 

Sejak triwulan kedua  hingga Agustus 2003,  kurs rupiah berada pada kisaran relatif stabil, yaitu sekitar Rp 8.200,-/US$ - Rp 8.500,-/US $. 

Indikator ekonomi makro lainnya yaitu laju inflasi, juga menunjukkan perkembangan yang makin membaik memasuki tahun 2003 ini. 

Seperti diketahui  pada saat krisis mencapai puncaknya laju inflasi kumulatif di Indonesia sempat melambung hingga mencapai 77,63% di tahun 1998. 

Meskipun sempat merosot tajam hingga hanya sebesar 2,01% di tahun 1999, namun memasuki tahun 2001- 2002 laju inflasi kumulatif Indonesia kembali mencapai dua digit yaitu sebesar 12,55% di tahun 2001 dan sebesar 10,03% di tahun 2002.

Namun memasuki 2003 ini laju inflasi makin terkendali dan tergolong cukup rendah, dimana hingga semester pertama 2003  laju inflasi Indonesia tercatat hanya sebesar 1,23%. 

Akhir 2003 laju inflasi kumulatif Indonesia dapat ditekan hingga hanya mencapai 5,06. 

Indikator ekonomi makro lainnya yaitu suku bunga perbankan, juga menunjukkan perkembangan yang makin membaik pada tahun 2003 ini.

Jika pada saat krisis suku bunga SBI sempat dinaikkan hingga mencapai 35,52% di tahun 1998, maka pada tahun 1999  diturunkan menjadi 11,93%, namun karena ekonomi makro kembali melemah suku bunga SBI itu kembali dinaikkan menjadi 14,31% di tahun 2000 dan 17,62% di tahun 2001.

Seiring makin terkendalinya kurs rupiah dan laju inflasi di tahun 2002, BI mulai kembali berani untuk menurunkan suku bunga SBI secara bertahap,  dari sebesar 16,93% pada awal 2002, lalu sebesar 15% pada pertengahan 2002, dan makin diturunkan hingga mencapai 12,93% di akhir 2002.

Memasuki tahun 2003  BI kembali menurunkan suku bunga SBI secara bertahap, yaitu dari sebesar 12,69% pada Januari 2003 menjadi 10,88% pada bulan Mei, dan kembali diturunkan menjadi sebesar 9,53% pada Juni 2003, dan pada akhir tahun 2003 menjadi 8.31%.   

Berikut ini dapat dilihat perkembangan sejumlah indikator ekonomi makro Indonesia, sejak tahun 1996 – 2002 lalu.

Indikator Ekonomi Makro Indonesia 1996-2002

No.

Keterangan

1996

1997

1998

1999

2000

2001 5

2002 5

1

GDP (Rupiah Miliar) 1)

414.418,9

434.245,9

376.374,9

379.352,3

398.016,9

411.691,0

426.740,5

 

Pertumbuhan (%)

7,98

4,71

-13,13

0,79

4,92

3,44

3,66

2

GNP (Rupiah Miliar) 1)

402.376,3

417.783,0

348.927,1

357.204,4

372.543,0

393.733,0

404.522,7

 

Pertumbuhan (%)

8,18

3,82

-16,48

2,37

4,29

5,69

2,74

3

Pendapatan Nasional  1)

359.187,6

370.020,5

328.430,4

332.057,9

364.333,7

364.360,6

364.289,3

 

Pertumbuhan (%)

8,99

3,01

-11,24

1,10

9,72

0,007

-0,0195

4

Laju Inflasi (%)

6,47

11,05

77,63

2,01

9,35

12,55

10,03

5

Suku Bunga Bank :

 

 

 

 

 

 

 

 

- SBI  ( %/year ) 2)

12,26

17,63

37,93

12,64

14,31

17,63

13,12

 

- Deposito Berjangka 3 bln (%/year)

17,03

23,92

49,23

12,95

12,54

17,24

13,63

 

- Modal Kerja (%/year)

          19,04

21,98

32,27

19,75

18,43

19,19

18,25

 

- Investasi (%/year)

16,36

17,34

23,16

22,93

16,59

17,90

17,50

6

Nilai Tukar US$ to Rp 3)

2.385,0

5.700,0

8.100,0

7.100,0

9.595,0

10.400,0

8.929

7

Populasi (Million)  4)

194,3

197,3

200,2

203,2

206,3

209,3

212.2

 

- Pertumbuhan (%)

1,49

1,49

1,49

1,49

1,49

1,49

1,47

 

- Kepadatan / Km2

100,3

101,8

103,3

104,8

106,5

109,0

111,0

8

Perdagangan Luar Negeri

 

 

 

 

 

 

 

 

- Eksport (Million US $)

49.814,9

53.433,6

48.847,6

48.665,4

62.124,0

56.320,9

57.158,8

 

- Pertumbuhan (%)

9,68

7,28

-8,60

-0,37

27,65

-9,34

1.49

 

- Import (Million US$)

42.928,5

41.679,8

27.336,9

24.003,3

33.514,8

30.962,1

31.289,9

 

- Pertumbuhan (%)

5,66

-2,91

-34,41

-12,19

39,62

-7,62

1.05

Note       1) Atas dasar harga konstan 1993

                2) SBI 3 bulan

                3) Posisi Akhir Tahun

                4) Berdasarkan sensus 2001

                5) Angka sementara

Sumber : BPS, BI

Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Lapangan Usaha 

Secara keseluruhan perkembangan kinerja ekonomi berdasarkan masing-masing lapangan usahanya selama 2002 masih belum tumbuh signifikan, meskipun  terjadi perbaikan dibandingkan tahun 2001.

Pertumbuhan yang dicapai oleh masing-masing sektor ekonomi seluruhnya telah mengalami pertumbuhan positif selama tahun 2002. 

Sektor pertanian yang pada tahun 2001 kebelakang mengalami pertumbuhan yang rendah, ternyata tahun 2002 ini pertumbuhannya sedikit membaik yaitu sebesar 1,74%.

Sementara itu sektor industri pengolahan ( manufacturing ) yang selama ini memiliki peranan cukup besar dalam pertumbuhan PDB, ternyata belum terlalu kuat pertumbuhannya.

Pada tahun 2002, sektor industri pengolahan  hanya tumbuh sekitar 4,01%, sedikit menurun dibandingkan tahun 2001 yang sebesar 4,10%.

Sektor perdagangan, termasuk hotel dan restauran, pada tahun 2002 juga tumbuh kurang begitu pesat.

Selama tahun 2002 sektor ini hanya tumbuh sebesar 3,61%,  yang berarti mengalami penurunan jika dibandingkan dua tahun sebelumnya. 

Pada tahun 2001 sektor perdagangan, hotel, dan restauran tumbuh sebesar 5,34%,  sedangkan pada tahun 2000 sektor ini tumbuh sebesar 5,67%.

Demikian pula  sektor bangunan (konstruksi) pada tahun 2002 juga mengalami pertumbuhan kurang pesat dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Selama tahun 2002 sektor bangunan tercatat tumbuh sebesar 4,11%,  yang berarti sedikit menurun jika dibandingkan tahun 2001 yang saat itu mencapai sebesar 4,21%. 

Bahkan dibandingkan tahun 2000 pertumbuhan sektor bangunan di tahun 2002 jauh lebih menurun lagi, dimana pada tahun 2000 sektor ini tumbuh sebesar 5,64%.

Sektor pertambangan dan penggalian pada tahun 2002 tercatat tumbuh sebesar 2,25%, yang berarti mengalami kenaikan dibandingkan pada tahun 2001 yang saat itu hanya tumbuh sebesar 0,64%.

Sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun 2002 tumbuh sebesar 7,83%, yang berarti sedikit meningkat dibandingkan tahun 2001 yang saat itu tercatat tumbuh sebesar 7,34%.  

Sementara itu sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan kenaikan laju pertumbuhannya lebih besar lagi, dimana pada tahun 2002 tercatat tumbuh sebesar 5,55%, meningkat cukup besar dibandingkan pada tahun 2001 yang saat itu hanya tumbuh 3,42%.

Perkembangan Produk Domestik Bruto atas Dasar Harga Konstan 1993 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) & Laju Pertumbuhannya (% )

 

 

1998

1999

2000

2001

2002

 

LAPANGAN USAHA

Rp milyar

Pertumb.

Rp milyar

Pertumb.

Rp milyar

Pertumb.

Rp milyar

Pertumb.

Rp milyar

Pertumb.

 

  (%) (%)

 

(%)

 

(%)

 

(%)

1

PERTANIAN, PETERNAKAN,

63.609,5

-0,33

64.985,2

2,16

66.208,9

1,88

66.858,2

0,98

68.018,4

1,74

 

KEHUTANAN DAN PERIKANAN    

 

 

 

 

 

 

 

a. Tanaman Bahan Makanan

33.350,4

2,03

34.012,4

1,98

34.533,8

1,53

34.260,2

-0,79

34.442,1

0,53

 

b. Tanaman Perkebunan

10.501,8

0,05

10.702,0

1,91

10.722,0

0,19

10.979,5

2,40

11.327,9

3,17

 

c. Peternakan dan Hasil-hasilnya

6.439,7

-13,94

6.836,9

6,17

7.061,3

3,28

7.312,7

3,56

7.537,0

3,07

 

d. Kehutanan

6.580,7

-8,47

6.288,1

-4,45

6.388,9

1,60

6.522,5

2,09

6.651,3

1,97

 

e. Perikanan

6.736,9

1,92

7.145,8

6,07

7.502,9

5,00

7.783,3

3,74

8.060,0

3,56

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

37.474,0

-2,76

36.865,7

-1,62

38.896,4

5,5138.894,8-0,00

39.768,1

2,25
 

a. Minyak dan Gas Bumi

23.340,1

-2,42

22.136,8

-5,16

22.658,3

2,36

21.537,3

-4,95

21.574,4

0,17

 

b, Pertambangan  tanpa Migas

9.678,0

26,58

10.357,7

7,02

11.619,2

12,18

12.502,5

7,60

13.082,2

4,64

 

c. Penggalian

4.455,9

-36,10

3.471,2

-1,90

4.618,9

5,67

4.855,0

5,11

5.111,5

5,28

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

INDUSTRI PENGOLAHAN

95.320,6

11,44

99.058,5

3,92

104.986,9

5,98

109.290,2

4,10

113.671,7

4,01

 

a. Industri Migas

11.042,2

-3,68

11.797,2

6,84

11.599,9

-1,67

11.196,5

-3,48

11.434,0

2,12

 

1) Pengilangan Minyak Bumi

6.310,0

6,49

6.606,6

4,70

6.843,1

3,58

6.958,0

1,68

6.917,4

-0,58

 

2) Gas Alam Cair

4.732,3

0,16

5.190,6

9,68

4.756,9

-8,36

4.238,5

-10,90

4.516,6

6,56

 

b. Industri tanpa Migas

84.278,4

-13,10

87.261,3

3,54

93.387,0

7,02

98.093,7

5,04

102.237,7

4,22

 

1) Makanan, Minuman dan Tembakau

48.836,8

-0,23

51.105,5

4,65

52.929,0

3,57

54.260,1

2,51

55.723,1

2,70

 

2) Tekstil, Barang Kulit & Alas Kaki

7.160,6

-14,87

7.769,5

8,50

8.394,1

8,04

8.801,3

4,85

9.354,1

6,28

 

3) Barang kayu & Hasil hutan lainnya

4.254,4

-25,49

3.678,0

-13,55

3.930,6

6,87

3.855,7

-1,90

3.844,5

-0,29

 

4) Kertas dan Barang Cetakan

3.795,3

-4,04

3.882,3

2,29

3.981,4

2,55

3.707,6

-6,88

3.921,1

5,76

 

5) Pupuk, Kimia & Barang dari Karet

10.001,9

-16,01

11.028,5

10,26

11.816,8

7,15

13.362,3

13,08

14.544,4

8,85

 

6) Semen & Barang Galian Bukan Logam

2.298,7

-29,76

2.418,9

5,23

2.551,2

5,47

2.882,3

12,98

3.205,4

11,21

 

7) Logam Dasar Besi & Baja

2.300,9

-26,91

2.296,2

-0,20

2.595,9

13,05

2.565,8

-1,16

2.652,2

3,37

 

8) Alat Angkutan, Mesin & Peralatanannya

5.277,0

-52,35

4.735,0

-10,27

6.796,2

43,53

8.184,3

20,43

8.444,6

3,18

 

9) Barang lainnya

352,8

-36,03

347,4

-1,54

392,0

12,83

474,3

21,02

548,3

15,60

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

LISTRIK, GAS, DAN AIR BERSIH

5.646,1

3,03

6.112,9

8,27

6.574,8

7,56

7.078,0

7,65

7.514,6

6,17

 

a. Listrik

4.607,7

3,24

5.013,1

8,80

5.394,7

7,61

5.818,2

7,85

6.163,5

5,94

 

b. Gas Kota

225,1

-16,52

226,5

0,60

268,0

18,30

297,3

10,96

342,8

15,30

 

c. Air Bersih

813,2

8,88

873,3

7,38

912,1

4,45

962,6

5,53

1.008,3

4,75

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

BANGUNAN

22.465,3

-36,44

22.035,6

-1,91

23.278,7

5,64

24.259,1

4,21

25.255,3

4,11

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6

PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN

60.130,7

-18,22

60.093,7

-0,06

63.498,3

5,67

66.888,1

5,34

69.303,2

3,61

 

a. Perdagangan Besar dan Eceran

47.845,9

-18,69

47.574,5

-0,57

50.333,8

5,80

53.055,3

5,41

54.827,3

3,34

 

b. Hotel

2.485,9

-8,91

2.592,8

4,30

2.669,2

2,95

2.760,2

3,41

2.796,4

1,31

 

c. Restoran

9.798,9

-18,02

9.926,4

1,30

10.495,3

5,73

11.072,5

5,50

11.679,4

5,48

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

26.975,1

-15,13

26.772,1

-0,75

29.072,1

8,59

31.207,1

7,34

33.649,5

7,83

 

a. Pengangkutan

20.503,8

-19,94

19.737,6

-3,74

21.176,3

7,29

22.319,8

5,40

23.364,1

4,68

 

1) Angkutan Rel

326,8

7,55

363,5

11,22

371,1

2,09

360,4

-2,88

336,9

-6,52

 

2) Angkutal Jalan Raya

10.988,2

-25,40

10.001,4

-8,98

10.485,4

4,84

11.058,4

5,46

11.632,3

5,19

 

3) Angkutan Laut

2.541,3

-3,16

2.776,4

9,25

3.162,7

13,91

3.341,5

5,65

3.528,7

5,60

 

4) Angkutan Sungai, Danau & Penyeberangan

1.521,3

-8,64

1.510,3

-0,72

1.596,7

5,72

1.668,9

4,52

1.725,5

3,39

 

5) Angkutan Udara

1.208,6

-37,03

1.062,9

-12,05

1.211,3

13,96

1.339,0

10,54

1.457,2

8,83

 

6) Jasa Penunjang Angkutan

3.917,6

-10,27

4.023,1

2,69

4.349,1

8,10

4.551,6

4,66

4.683,5

2,90

 

b. Komunikasi

6.471,3

4,83

7.034,5

8,79

7.895,8

12,24

8.887,3

12,56

10.285,4

15,73

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA PERUSAHAAN

28.278,7

-26,63

26.244,5

-7,19

27.449,4

4,59

28.388,6

3,42

29.963,2

5,55

 

a. Bank

10.058,0

-37,90

8.686,1

-13,64

9.167,9

5,55

9.655,9

5,32

10.296,6

6,63

 

b. Lembaga Keuangan tanpa Bank

2.896,8

-17,21

2.949,3

1,81

3.064,6

3,91

3.172,8

3,53

3.284,0

3,51

 

c. Jasa Penunjang Keuangan

218,2

-16,65

226,3

3,70

235,1

3,87

242,7

3,23

251,2

3,52

 

d. Sewa Bangunan

9.475,7

-19,87

8.906,2

-6,01

9.214,8

3,47

9.417,6

2,20

9.947,0

5,62

 

e. Jasa Perusahaan

5.630,0

-16,73

5.476,6

-2,72

5.767,0

5,30

5.899,7

2,30

6.184,4

4,83

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

JASA-JASA

36.475,0

-3,85

37.184,1

1,94

38.051,5

2,33

38.826,9

2,04

39.596,6

1,98

 

a. Pemerintahan Umum

21.887,5

-7,32

22.250,7

1,66

22.555,1

1,37

22.795,4

1,07

22.887,0

0,40

 

1) Administrasi Pemerintahan & Pertahanan

16.320,4

-8,48

16.465,5

0,89

16.681,6

1,31

16.819,4

0,83

16.881,7

0,37

 

2) Jasa Pemerintahan Lainnya

5.567,1

-3,75

5.785,2

3,92

5.873,5

1,53

5.976,0

1,75

6.005,3

0,49

 

b. Swasta

14.587,5

1,88

14.933,4

2,37

15.496,4

3,77

16.031,5

3,45

16.709,6

4,23

 

1) Sosial Kemasyarakatan

2.512,4

-9,19

2.638,3

5,01

2.758,7

4,56

2.880,2

4,41

3.031,5

5,25

 

2) Hiburan & Rekreasi

692,6

-12,05

646,8

-6,61

684,4

5,81

707,2

3,34

742,2

4,95

 

3) Perorangan dan Rumah Tangga

11.382,5

5,75

11.648,3

2,34

12.053,3

3,48

12444,1

3,24

12.935,9

3,95

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRODUK DOMESTIK BRUTO

376.374,9

-13,13

379.352,3

0,79

398.016,9

4,92

411.691,0

3,44

426.740,5

3,66

 

PRODUK DOMESTIK BRUTO TANPA MIGAS

341.992,5

-14,22

345.418,3

1,00

363.758,7

5,31

378.957,2

4,18

393.732,1

3,90

Sumber : BPS

*) Angka sementara

**) Angka sangat sementara 

Ekspor dan Impor Kulit dan Produk Kulit

Perkembangan Ekspor 1996 - 2002 - Perkembangan ekspor Indonesia selama periode 1996-2002 cukup bervariatif.

Jika pada tahun 1997 ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 53.443,5 juta, kemudian merosot ketika krisis mendera hingga hanya menjadi sebesar US$ 48.847,6 juta di tahun 1998 dan nampak stagnan di tahun 1999 menjadi sebesar US$ 48.665,4 juta.

Barulah pada tahun 2000 ekspor Indonesia kembali melonjak 27,6% menjadi US$ 62.124,0 juta dan ini merupakan angka tertinggi dalam sejarah Indonesia.

Kenaikan nilai ekspor ini selain akibat dari naiknya harga minyak mentah di pasar internasional, juga akibat dari melonjaknya nilai ekspor komoditi  non-migas, terutama produk industri pengolahan.

Meskipun  kemudian menurun  menjadi US $ 56.320,9 juta di tahun 2001 dan US$ 57.158,8 juta di tahun 2002, namun angka tersebut masih berada diatas nilai ekspor Indonesia di tahun 1997.

Berikut dapat dilihat lebih jelas perkembangan nilai ekspor Indonesia selama periode 1996 – 2002.

Perrkembangan Ekspor Indonesia, 1996 - 2002 

Jenis

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

A

Minyak dan Gas Bumi

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Minyak Mentah

5.711,99

5.480,0

3.348,7

4.517,3

6.090,1

5.714,7

5.227,6

 

2. Hasil Minyak

1.516,2

1.302,7

708,1

918.1

1.651,6

1.189,4

1.307,4

 

3. Gas

4.493,9

4.839,8

3.815,5

4.356,8

6.624,9

5.732,2

5.577,7

 

Sub-Total (1)

11.722,0

11.622,5

7.872,3

9.792,3

14.366,6

12.636,3

12.112,7

 

Share (%)

25,53

21,75

16.12

20.12

23,13

22.44

21,19

2

Non-Migas

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Hasil Sektor Pertanian

2.912,7

3.132,6

3.653,5

2.901,5

2.709,1

2.438,5

2.568,3

 

2. Hasil Sektor Industri

32.124,8

34.985,2

34.593,2

33.332,4

42.003,0

37.671,1

38.729,6

 

3. Hasil Sektor Tambang

3.019,8

3.107,1

2.704,4

2.625,9

3.040,8

3.569,6

3.743,7

 

4. Hasil Sektor lain

35,6

596,1

24,2

13,5

4,5

5,4

4,5

 

Sub-Total (2)

38.092,9

41.821,0

40.975,3

38.873,2

47.757,4

43.684,6

45.046,1

 

Share (%)

74,47

78.25

83,88

79,88

76.87

77.56

78,81

 

Total

49.814,9

53.443,5

48.847,6

48.665,4

62.124,0

56.320.9

57.158,8

 

Pertumbuhan (%)

9,68

7,28

-8.60

-0.37

27,66

-9.34

1,49

Sumber : BPS 

Ekspor Indonesia selama periode 1996-2002 didominasi oleh ekspor non migas (rata-rata 78%/tahun), dan bila dirinci terlihat bahwa ekspor produk industri pengolahan merupakan yang terbesar nilainya.

Hal ini berarti bahwa ditahun-tahun mendatang produk industri pengolahan masih akan tetap merupakan produk andalan ekspor Indonesia.

Hambatan yang terjadi pada industri pengolahan nasional akan berdampak langsung pada nilai ekspor.

 Dari sisi negara tujuan, Asia merupakan pasar ekspor utama Indonesia, dimana pada saat  sebelum krisis  (1996) nilai ekspor ke wilayah ini mencapai US$ 31,674 juta dan pada tahun 2002 meningkat menjadi US$ 36.363,0 juta.

Nilai ekspor Indonesia ke negara-negara anggota ASEAN selama periode tahun 1996-2002 cenderung terus meningkat dari US$ 7.688,5 juta di tahun 1996 menjadi US$ 9.933,3 juta di tahun 2002.

Hal ini berarti, dengan diberlakukannya AFTA pada tahun 2003 ini, diperkirakan tidak akan mengganggu ekspor Indonesia ke negara-negara ASEAN.

Jika dilihat berdasarkan negara tujuan secara individual, Jepang merupakan negara tujuan ekspor terbesar Indonesia selama ini, diikuti oleh Amerika Serikat di posisi kedua.  Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Ekspor Indonesia Menurut Negara Tujuan, 1996-2002

Negara Tujuan

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

1

ASEAN

7.688,5

9.258,0

9.346,8

8.278,3

10.883,4

9.507,1

9.933,3

2

Hongkong

1.624,9

1.778,3

1.865,0

1.330,1

1.554,0

1.290,3

1.242,4

3

Jepang

12.885,3

12.461,3

9.116,1

10.397,3

14.415,3

13.010,2

12.045,1

4

Asia Lainnya

9.475,3

10.592,5

9.244,4

10.138,0

13.351,6

11.862,5

13.142,2

5

Afrika

639,2

771,2

907,9

1.062,9

1.098,5

1.181,9

1.235,0

6

Amerika Serikat

6.794,6

7.113,1

7.031,1

6.896,4

8.475,5

7.748,7

7.558,8

7

Kanada

368,2

398,2

411,8

353,6

404,0

390.2

378,0

8

Amerika Lainnya

757,9

950,0

926,7

830,0

1.074,9

993,3

987,7

9

Australia

1.216,0

1.510,7

1.533,4

1.484,8

1.519,5

1.844,9

1.924,4

10

Oceania Lainnya

70,5

69,2

121,1

142,3

174,7

241,1

230,5

11

Uni Eropa

7.723,6

8.055,5

7.765,6

7.085,1

8.564,6

7.745,0

7.898,1

12

Eropa Lainnya

570,9

485,3

577,7

666.6

508.0

505.8

583,3

 

Total

49.814,9

53.443,3

48.847,6

48.665,4

62.124.0

56.320,9

57.158,8

Sumber : BPS 

Perkembangan Impor 1996 - 2002 

Perkembangan impor Indonesia selama periode 1996-2002 nampak cenderung terus melemah yaitu dari US$ 42.928,5 juta ditahun 1996 menjadi hanya US$ 24.003,3 juta di tahun 1999.

Meskipun  sempat kembali meningkat menjadi US $ 33.514,8 juta di tahun 2000, namun  yang kemudian kembali merosot menjadi US $ 30.762,1 juta di tahun 2001, dan sedikit meningkat  menjadi US$ 31.288,9 juta pada  tahun 2002.

Berikut ini dapat dilihat perkembangan impor Indonesia selama 1996 – 2002 berdasarkan penggolongan barang ekonominya.

Perkembangan Impor Indonesia 1996-2002, menurut golongan barang ekonomi

 

Golongan

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

1

Barang Konsumsi

2.805,9

2.116,3

1.917,7

2.468,3

2.718,7

2.251,2

2.650,5

2

Bahan Baku

30.469,7

30.229,5

19.611,8

18,475.0

26.018,7

23.879,4

24.227,5

3

Barang Modal

9.652,9

9.284,0

5.807,4

3.060,0

4.777,4

4.831,5

4.410,9

 

Total

42.928,5

41.679,8

27.336,9

24.003,3

33.514,8

30.762,1

31.288,9

 

Pertumbuhan (%)

5,66

-2,91

-34,41

-12,19

39,62

-7,62

1,71

Sumber : BPS 

Dari uraian di atas terlihat bahwa semasa krisis ekonomi melanda Indonesia, impor tetap didominasi oleh impor bahan baku (70%) untuk memenuhi kebutuhan industri nasional, kemudian impor barang modal (22%) dan impor barang konsumsi (8%).

Menurunnya impor barang konsumsi ini antara lain disebabkan  merosotnya tajamnya daya beli masyarakat akibat Indonesia dilanda krisis.

Dari sisi negara asal, Asia selama ini merupakan kawasan impor utama bagi Indonesia,  kemudian disusul dari Eropa, Amerika, Oceania dan Afrika.

Diantara negara-negara Asia, impor terbesar Indonesia selama periode 1996 - 2002 berasal dari Jepang. 

Dengan demikian Jepang merupakan negara mitra perdagangan internasional terbesar bagi Indonesia selama ini, mengingat ekspor Indonesia terbesar selama kurun waktu yang sama juga ditujukan ke Jepang.

Berikut ini dapat dilihat perkembangan impor Indonesia berdasarkan negara asalnya selama 1996 – 2002.

Impor Indonesia Menurut Negara Asal, 1996-2002

Negara Tujuan

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

1

ASEAN

5.124,0

5.413,1

4.506,3

4.783,5

6.484,9

5.462,0

6.767,5

2

Hongkong

  262.3

  325,4

  263,7

  227,5

  342,4

257,3

240,7

3

Jepang

8.504,0

8.252,3

4.292,4

2.913,3

5.397,3

4.689,5

4.409,3

4

Asia Lainnya

8.422,8

 8.034,6

5.033,2

 5.952,2

9,195,9

8.545,9

8.382,4

5

Afrika

642,9

683,7

429,8

572,7

825,1

1.370,8

1.664,3

6

Amerika Serikat

5.059,8

5.440,9

3.517,3

2.839,0

2.390,3

2.207,5

2.639,9

7

Kanada

785,6

682,4

504,2

421,2

638,3

356.5

411,9

8

Amerika Lainnya

1.089,1

927,2

515,1

583,5

596,5

441,7

528,5

9

Australia

2.535,1

2.426,7

1.760,5

1.460,4

1.693,8

1.814,1

1.587,2

10

Oceania Lainnya

244,6

234,4

166,3

117,4

264,9

226,6

199,9

11

Uni Eropa

9.233,6

8.332,5

5.865,6

2.801,0

4.163,3

4.046,9

3.576,0

12

Eropa Lainnya

1,024,7

926,6

482,5

331.6

522.1

543.3

586,2

 

Total

42.928,5

41.679,8

27.336,9

24.003,3

33.514.8

30.096,1

31.288,9

Sumber : BPS 

Prospek Ekonomi Indonesia

Pertumbuhan PDB 

Melihat perkembangan kondisi ekonomi makro yang membaik dan stabil, CIC memperkirakan bahwa untuk tahun 2003 perekonomian Indonesia akan tumbuh diatas 4,0%. 

Di samping itu sejumlah indikator ekonomi makro lainnya diperkirakan juga akan mencapai target yang ditetapkan dalam APBN 2003. 

Namun karena masih rawannya gejolak sosial politik dan situasi keamanan adlam negeri menghadapi Pemilu 2004 mendatang, maka para pelaku pasar dan dunia usaha tetap harus berhati-hati dalam menghadapi situasi di tahun 2004, karena berbagai kemungkinan masih mungkin terjadi yang dapat mengancam stabilitas perekonomian makro.

Terkendalinya sejumlah indikator ekonomi makro yang terlihat hingga pertengahan 2003 ini masih dapat berubah sewaktu-waktu, mengingat situasi menjelang Pemilu biasanya sangat rawan terhadap berbagai isu dan gejolak yang terjadi. 

Pergerakan kurs rupiah, tingkat suku bunga dan laju inflasi,  masih dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor rawan menjelang Pemilu 2004.

Melihat situasi yang masih rawan, Pemerintah sendiri nampaknya belum terlalu berani untuk menetapkan target yang lebih tinggi pada sejumlah asumsi indikator ekonomi pada RAPBN 2004.

Dalam RAPBN 2004 yang baru diajukan Pemerintah pada pertengahan Agustus 2003 lalu, target pertumbuhan ekonomi di tahun 2004 hanya ditetapkan sebesar 4,5%.

Setelah tahun 2004, barulah Pemerintah akan lebih berani dalam menargetkan pertumbuhan ekonomi, dimana pertumbuhan PDB tahun 2005 dan 2006 diperkirakan akan ditetapkan sebesar 6% dan 6,5%.  

Berikut ini dapat dilihat perkembangan PDB Indonesia selama 2001–2002, and perkiraan CIC untuk tahun 2003.

Perkembangan PDB Indonesia (atas dasar harga konstan 1993) 2001-2003

Sektor Ekonomi

2001 *)

2002 **)

2003***)

1

Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan

66.858,2

68.018,4

73.288,2

2

Pertambangan dan Penggalian

38.894,8

39.768,1

41.240,2

3

Industri Pengolahan

109.290,2

113.671,7

116.770,3

4

Listrik, Gas dan Air Minum

7.078,0

7.514,6

7.910,5

5

Bangunan

24.259,1

25.255,3

26.625,4

6

Perdagangan, Hotel dan Restoran

66.888,1

69.303,2

72.294,4

7

Pengangkutan dan Komunikasi

31.207,1

33.649,5

36.294,9

8

Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

28.388,6

29.963,2

31.452,7

9

Jasa-Jasa

38.826,9

39.596,6

40.497,1

 

Produk Domestik Bruto (PDB)

411.691,0

426.740,5

446.414,8

 

Laju Pertumbuhan (%)

3,44

3,66

4,61

Catatan : *) Angka Sementara

**) Angka Sangat Sementara

Sumber : BPS 

Kondisi Mikro Industri Kulit Dan Produk Kulit Di Indonesia

Berdasarkan cabang dan proses produksinya industri kulit dan produk kulit terdiri dari  Industri Peternakan, Industri Pemotongan Hewan, Industri Kulit Mentah, Industri Kulit Samak dan Industri produk kulit.

Industri Peternakan adalah industri yang menghasilkan hewan potong seperti peternakan sapi/kerbau, domba, kambing dan hewan potong lainnya. 

Sedangkan industri pemotongan hewan atau rumah potong hewan adalah industri tempat pemotongan hewan sapi/kerbau, domba/kambing atau hewan potong lainnya yang menghasilakan daging mentah  dan kulit  mentah . 

Diagram Pohon Industri Kulit dan Produk Kulit
Diagram Pohon Industri Kulit dan Produk Kulit

Peta Industri Dan Penyebarannya

Industri Penyamakan Kulit

Menurut sumber APKI (Asosiasi Penyamakan Kulit Indonesia), saat ini jumlah industri penyamakan kulit  berskala menengah atas kini tercatat ada sekitar 84 perusahaan yang tersebar di berbagai daerah, ditambah empat sentra industri utama yaitu Garut ( Sukaregang), Magetan, Pekalongan, Pulogadung,  dan Masin (Kendal) yang dihuni kira-kira sekitar 2.400 unit penyamak kecil.

Namun dari sejumlah tersebut, industri penyamakan kulit berskala menengah ke atas yang masih aktif  hanya sekitar 50 % nya  atau  sebanyak 47 perusahaan sedangkan di sentra industri skala kecil yang beroperasi hanya tinggal  125 unit, atau dengan total tenaga kerja sebanyak 1.079 orang.

Perkembangan Industri Penyamakan Kulit Yang Beroperasi Di Indonesia, 1996-2002 

Tahun

Menengah/Besar

Tenaga Kerja

Sentra IK

TenagaKerja

Pekerja

 

(Unit)

(Orang)

(Unit)

(Orang)

(Orang)

1996

116

9280

500

3280

12.560

1997

112

8960

400

1780

10.740

1998

97

7760

310

2760

10.470

1999

73

5840

200

1540

  7.380

2000

67

5360

150

910

6.270

 

 

 

 

 

 

2001

52

4160

136

1690

5.850

2002

47

3760

125

1860

5.620

Catatan :  Industri = Skala Besar

               IKM       = Industri Kecil & Menengah

               Industri Kecil  =  Jumlah Tenaga Kerja  4 s/d 10 Orang

               Industri Menengah = Jumlah Tenaga Kerja  20 s/d 100 Orang

Sumber : APKI (Asosiasi Penyamakan Kulit Indonesia) 

Di antara sejumlah produsen kulit samak/jadi seperti yang tercatat di bawah ini yang masih beroperasi dan menghentikan sementara kegiatannya dilihat dari jumlah tenaga kerjanya terbesar adalah PT Surya Puspita, CV Surawangi, PT Sunpu Leather Industry, PT Perdana Bhakti Sejati Sentosa, PT Stanjaya Putra Leather, PT Agung Jaya, PT Satya Darma Sarana, PT Wirasakti Adikulit dan beberapa perusahaan lainnya.

Penyebaran industri penyamakan kulit berikut jumlah tenaga kerjanya secara lebih lengkap bisa dilihat pada tabel berikut ini.

Produsen Penyamakan Kulit Skala Menengah/Besar dan Kecil Serta Jumlah Tenaga Kerjanya, 2002

 

WILAYAH

Tenaga Kerja

 

Skala Mengah-Besar

 

 

DKI Jakarta

(Orang)

1

Apolindo Citra Guna, PT

24

2

Sugiharta, CV

22

3

Sri Rahayu Sumber Harapan,CV

22

4

Merry Sundari, CV

20

5

Kurnia Hidup, CV

25

6

Karya Hidup, PT

94

7

INDOLECO, CV

45

8

Padi Mas Jaya, CV

20

9

Reptindo Utama, CV

24

10

Usaha Cipta, PT

20

11

Penta Exomania, CV

25

 

Jawa Barat

 

12

Universal Perkasa, PT

32

13

Periangan, CV

49

14

Bandung Leather Piker, CV

21

15

Standjaya Putra Leather IND, PT

240

16

Hanif Dinamika, PT

116

17

Bumi Perwira Sakti, PT

32

18

Daewa Leather Lestari, PT

208

19

Surya Puspita, PT

60

20

Baskara Ayu Brahma Agung

110

21

Muhara Dwitunggal Laju, PT

131

22

Sinar Gunung Putri, PT

36

23

Cisarua, CV

150

24

Zaskia, PT

21

25

Putra Setra, PD

26

26

Intenational Leather Garment, PT

24

27

Suka Setra PD

28

28

Ukus, CV

21

29

Lancar Jaya, CV

69

30

AM, PD

22

31

AFA Samwo Gemilang, PT

0

32

Eka Nindya Karsa, PT

58

33

Kulit Murni Asia Tenggara, PT

95

34

Asia Kulit Murni, PT

62

35

Adira Semesta Indonesia, PT

110

36

Abdi Pembangunan, PT

39

37

Makmur Sejahtera Lestari, PT

70

38

Lengtat Tangerang Leather, CV

200

39

Wira Sakti Adikulit

240

40

Dutindo Multitama, PT

120

 

Jawa Tengah

 

41

Puspita Abadi Leather Factori,PT

150

42

Sayung Adhimukti, PT

100

43

Agro Sukses Abadi, PT

23

44

Lembah Tidar Jaya, PT

125

45

Kulit Sangggrahan, CV

31

46

Sinar Surya Makmur, CV

42

47

Trimulya Kencana Mas, PT

160

48

Bintang Buana Sakti, PT

95

49

Amor Abadi Semarang, PT

90

50

Bengawan Solo, CV

60

51

Koperasi Penyamakan Kulit Masin

30

 

DI Yogyakarta

 

52

Adi Surya Abadi, PT

200

53

Sapta Tunggal, CV

50

54

Kulit Sinar Obor, PT

100

55

Budi Makmur Jaya Murni, PT

200

56

Bromo Sakti, PT

30

57

Bintang  Alam Semesta

87

 

Jawa Timur

 

58

Adil, FA

45

59

SAS Leather & Finishing, CV

26

60

Aneka Usaha, PD

33

61

Pabrik Kulit Gajah Pasuruan, PT

100

62

Bonafide, CV

20

63

Kebalen Timur, PT

70

64

Nasional Djawa Kulit, PT

80

65

Kasin, PT

100

66

Dua Jaya, UD

20

67

Surya Sukmana Leather, PT

60

68

Sumber Setia, CV

120

69

Rachbini Leather, PT

150

70

Harmonis Surabaya, CV

160

71

Prince Indonesia Leather, PT

30

72

Bintoro Agung, PT

125

73

Rajawali Nusindo, PT

240

74

Fill Surya Megah, PT

50

75

Aneka Usaha, PD

20

76

Ecco Indonesia, PT

100

77

Leather Corporation, PT

90

78

Wangsa Brata, PT

40

79

Sari Kulit Asli, PT

65

80

Griya Kulit Rahmat, CV

30

81

Surawangi Prima, PT

70

82

WG. UD

40

 

Kalimantan Timur

 

83

Makmur Abadi Permai, PT

100

 

Sulawesi Selatan

 

84

Kreasi Kulit Jawa, PT

30

85

Skala Kecil

1079

 

Pulogadung (Jakarta)  25 Unit

175

 

Sukaregang (Garut) Jawa Barat  38 unit

380

 

Magetan (Jawa Tengah)   32 unit

224

 

Pekalonga   10 Unit

100

 

Yogyakarta  20 unit

200

 

Total Jumlah Tenaga Kerta

7.397*)

 

Total Jumlah Tenaga Kerja Yang Beroperasi

5.620

*) termasuk yang tidak beroperasi
Sumber :  APKI 

Sedangkan sebaran sentra utama industri kecil-menengah (IKM) yang terdaftar di asosiasi,  pada tahun 1996 lalu terbesar  yaitu di Desa Sukaregang, Garut Jawa Barat tercatat sebanyak 337 unit industri  namun yamng beroperasi hanya tinggal  sekitar 38 perusahaan, kemudian di Desa Magetan Jawa Timur tercatat sebanyak 180 perusahaan namun yang beroperasi hanya 32 unit dan di Pulogadung Jakarta sebanyak 54 unit IKM dan yang beroperasi hanya 10 perusahaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.    

Sentra Industri Penyamakan Kulit Skala IKM Menurut Sebarannya, 2002

 

Wilayah    :

1996

2002

Tenaga Kerja

 

DKI Jakarta

(Unit)

Unit)

(orang)

 

Pulogadung

54

25

175

 

Jawa Barat

 

 

 

 

Sukaregang

337

38

380

 

Jawa Timur

 

 

 

 

Magetan

180

32

224

 

Jawa Tengah

 

 

 

 

Pekalongan

-

10

100

 

Yogyakarta

-

20

200

 

 

 

 

 

 

Jumlah

536

125

1079

Sumber :  APKI

Industri Barang Jadi Kulit 

Barang jadi kulit yang dapat diproduksi di Indonesia meliputi banyak produk namun dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu Industri sepatu kulit, industri pakaian kulit dan industri barang kulit lainnya seperti tas dan sejenisnya.

Beberapa produsen barang-barang kulit yang ditampilkan pada laporan ini merupakan industri berskala menengah ke atas, sedangkan  industri kulit dalam skala kecil  (home industri) tidak  tercover  karena  jumlahnya  banyak sekali.

Beberapa sentra industri kecil (IKM) yang diketahui antara lain di Pulogadung (DKI Jakarta), Sukaregang (Garut), Cibaduyut (Bandung),  Ciomas (Bogor), Ciapus (Bogor), Pekalongan, Solo, Magetan (Jawa Timur), dan Yogyakarta yang sebagian besar produksinya berdasarkan job order/pesanan.

Diperkirakan jumlah itu jauh lebih kecil dari yang sebenarnya, karena yang tercover hanya produsen sekala menengak ke atas saja.

Total kapasitas produksi ke 60 perusahaan tersebut diperkirakan mencapai  100 juta pasang per tahun.

Selain memproduksi sepatu,  sebagian perusahaan kulit di atas juga  ada yang memproduksi pakaian dan perlengkapannya, seperti baju kulit, jaket, sarung tangan dan produk kulit lainnya .

Menurut catatan jumlah produsen pakaian dan perlengkapannya dari kulit  tercatat sekitar 40 perusahaan dengan kapasitas sekitar 41 juta buah sarung tangan kulit per tahun dan sekitar 7,7 juta buah jaket kulit per tahun.

Sedangkan jenis  produk  kulit lainnya seperti tas, dompet maupun ikat pinggang tercatat sekitar 23 perusahaan dengan kapasitas produksi sekitar 5,3 juta buah tas dan dompet per tahun serta 2,6 juta ikat pinggang kulit per tahun.

Kapasitas produksi barang-barang kulit ini dinilai relatif kecil dibandingkan dengan kenyataannya, mengingat banyak para pelaku usaha kulit masih dalam katagori pengrajin dengan kapasitas produksi yang sangat kecil serta tidak kontinu.

Untuk lebih jelasnya penyebaran industri produk kulit tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Produsen Barang-Barang Dari Kulit Dan Kapasitasnya

 

Nama Perusahaan

Lokasi

Satuan

 

 SARUNG TANGAN

 

(Pasang)

 

 BATA, PT                         

 Jkt, Sby, Mdn

11,000,000

 

 Budi Makmur, PT                  

 Yogyakarta  

180,000

 

 Budi Mandiri Persada, PT         

 Jakarta     

240,000

 

 Budi Manunggal, PT               

 Yogyakarta  

100,000

 

 Budi Progo Perkasa, PT           

 Sleman      

100,000

 

 Condro Purnomo Cipto, PT         

 Semarang    

108,000

 

 Dae Gun Utama, PT                

 Bekasi      

400,000

 

 Haji Noor Leathter, PT           

 Surabaya    

100,000

 

 Kiho Budi Korin, PT              

 Sleman      

1,080,000

 

 Komega Sports Indonesia, PT      

 Sidoarjo    

1,280,000

 

 Koryo Puspita Indonesia, PT      

 Semarang    

2,520,000

 

 Krida Alam Lestari, PT           

 Bandung     

1,040,000

 

 Laimbock Prima Indonesia, PT     

 Surabaya    

240,000

 

 Masaiki Shoes, PT                

 Jakarta     

140,000

 

 Massyndo Gemilang, PT            

 Pasuruan    

2,900,000

 

 Mitra Saruta Indonesia, PT       

 Gresik      

3,600,000

 

 Oriental Gala Persada, PT         

 Serang      

240,000

 

 Rajawali Gloves Company, PT      

 Sidoarjo    

1,440,000

 

 Seyon Indonesia, PT              

 Purwakarta  

270,000

 

 Sudinar Artha, PT                

 Bandung     

100,000

 

 Surabaya Noor Leather, PT        

 Surabaya    

240,000

 

 Surawangi Prima, PT              

 Surabaya    

200,000

 

 Tayub Indo, PT                   

 Jakarta     

4,700,000

 

 Tunas Sukses, PT                 

 Jakarta     

6,000,000

 

 Woneel Midas Leathers, PT        

 Tangerang   

1,580,000

 

 TAS & DOMPET

 

(buah)

 

 Bromo Sakti, PT                  

 Yogyakarta  

25.000

 

 Citra Mutiara, PT                

 Jakarta     

30.000

 

 Condro Purnomo Cipto, PT         

 Semarang    

945,000

 

 Dae Gun Utama, PT                 

 Bekasi      

400,000

 

 Damai Columbus Inti, PT          

 Jakarta     

300.000

 

 Dutindo Multitama Leather,  PT   

 Tangerang   

1.080.000

 

 Groupie Citra Indonesia, PT      

 Jakarta     

24.000

 

 Konaan Jaya, PT                  

 Jakarta     

30.000

 

 Koryo Puspita Indonesia, PT      

 Semarang    

600,000

 

 Krida Alam Lestari, PT           

 Bandung     

2,300

 

 Makmur Perkasa Abadi, PT         

 Jakarta     

25.000

 

 Menaranusa Sakti, PT             

 Jakarta     

30.0000

 

 Multindo Orfon Sejati, PT        

 Jakarta     

30.000

 

 Oriental Gala Persada, PT        

 Serang      

100,000

 

 Q'non Leather Handicraft, PT     

 Yogyakarta  

20.0000

 

 Rumindo Pratama, PT              

 Yogyakarta  

200.000

 

 Satria Megah Unggul Sejati, PT   

 Tangerang   

1.000.000

 

 Standjaja Putra Leather Ind., PT 

 Bandung     

150.000

 

 Surawangi Prima, PT              

 Surabaya    

100,000

 

 Syahlan Collection, PT           

 Yogyakarta  

100.000

 

IKAT PINGGANG

 

(buah)

 

 Citra Mutiara, PT                

 Jakarta     

100.000

 

 Damai Columbus Inti, PT          

 Jakarta     

100.000

 

 Makmur Perkasa Abadi, PT         

 Jakarta     

100.000

 

 Satria Megah Unggul Sejati, PT   

 Tangerang   

2.000.000

 

 Surawangi Prima, PT              

 Surabaya    

45,000

 

JACKET

 

(potong))

 

 Adhi Busana Megah Perkasa, PT    

 Bogor       

600.000

 

 Budi Progo Perkasa, PT           

 Sleman      

2,000

 

 Condro Purnomo Cipto, PT         

 Semarang    

135,000

 

 Haewae Indonesia, PT             

 Sukabumi    

135000

 

 Halim Jaya Sakti, PT             

 Pasuruan    

360,000

 

 Kaltimex Namsung, PT             

 Jakarta     

2,000,000

 

 Kido Jaya, PT                    

 Jakarta     

180,000

 

 Kuju Indonesia, PT               

 Purwakarta  

125,000

 

 Rodem Apparel, PT                

 Malang      

90.000

 

 Satria Megah Unggul Sejati, PT   

 Tangerang   

1.000.000

 

 Seyon Indonesia, PT              

 Purwakarta  

125,004

 

 Standjaja Putra Leather Ind., PT 

 Bandung     

30,000

 

 Surabaya Noor Leather, PT        

 Surabaya    

12,000

 

 Tunas Sukses, PT                 

 Jakarta     

2,400,000

 

 Unitra Adhijaya, PT              

 Tangerang   

60500

 

SEPATU & SANDAL

 

(Pasang)

 

 Alasindo Ultima, PT              

 Bogor       

1,350,000

 

 Alaska, CV                       

 Semarang    

200,000

 

 Aneka Shoes Factory              

 Jakarta     

200,000

 

 Ara Suchuhfabrik Indonesia, PT   

 Ungaran     

1,000,000

 

 Arti Sanjaya Internusa, PT       

 Jakarta     

1,290,000

 

 Astra International, PT          

 Tangerang   

6,480,000

 

 BATA, PT                         

 Jkt, Sby, Mdn

15,000,000

 

 Bertoni Mukti Jaya, PT           

 Jakarta     

3,000,000

 

 Bintang Buana Sakti, PT          

 Semarang    

300,000

 

 Brown Prima Indonesia, PT        

 Sumedang    

800,000

 

 Cempaka Internusa, PT            

 -           

3.375.000

 

 Cinderella Villa Indonesia, PT   

 -           

4.000.000

 

 Dhaya Tuhumitra, PT               

 Bandung     

480,000

 

 Ecco Indonesia, PT               

 Sidoarjo    

2,500,000

 

 Emperor Footwear Indonesia, PT   

 Bekasi      

6,000,000

 

 Fifth Avenue Indonesia, PT       

 Batam       

300,000

 

 Filsurya Megah, PT               

 Sidoarjo    

24,000

 

 Fortune Mate Indonesia, PT       

 Sidoarjo    

6,300,000

 

 Garmoko Pratama, PT              

 -           

4,250,000

 

 Groupie Citra Indonesia, PT      

 Jakarta     

120,000

 

 Gunung Sewu Pratama, PT          

 -            

2,500,000

 

 Kulit Mas Indah, PT              

 -           

3,600,000

 

 Lefuminda Utama, PT              

 -           

7,200,000

 

 Mangul Jaya, PT                  

 Bekasi      

1,296,000

 

 Marino Pelita Indonesia, PT      

 Tangerang   

480,000

 

 Masaiki Shoes, PT                

 Jakarta     

200,000

 

 Mitra Kumkang Shoe, PT           

 Tangerang   

950,000

 

 Mitra Pradhasty, PT              

 Bandung     

1,000,000

 

 Pelita Tomang Mas, PT            

 Jakarta     

500,000

 

 Quattro Hakimo Perkasa, PT       

 Bandung     

1,000,000

 

 Sadinoe Songko Pamilih, PT       

 Surakarta   

197,000

 

 Salgio Makmur Abadi, PT          

 Jakarta     

600,000

 

 Sejahtera Wira Artha, PT         

 Jakarta     

500,000

 

 Sepatu Mas Idaman, PT            

 Bogor       

500,000

 

 Standjaja Putra Leather Ind., PT 

 Bandung     

300,000

 

 Sudinar Artha, PT                

 Bandung     

1,000,000

 

 Sumitra Tripadu Factory, PT      

 -           

6,000,000

 

 Surya Dharmagati, PT             

 Jakarta     

600,000

 

 Tunas Sukses, PT                 

 Jakarta     

6,000,000

 

 Unisuc Industries, PT            

 Sidoarjo    

1,100,000

 

 Venamon, PT                      

 Bandung     

250,000

 

 Vilar Industrial, P               

 -           

8,000,000

 

 Yuyi Kharisma Footwear, PT       

 -           

2,250,000

 

 

 

 

Sumber : Dari berbagai sumber

Perkembangan Produksi Kulit 

Sektor industri penyamakan kulit sempat menjadi primadona ketiga penyumbang devisa terbesar dari keran ekspor Indonesia.

Pada masa kejayaannya tahun 1996, industri perkulitan nasional sempat mencatat pemasukan  dari nilai ekspor sebesar US$  2.4 miliar .

Angka itu merupakan pemasukan devisa terbesar ketiga setelah sektor tekstil dan kayu.

Pada tahun 1996  tersebut  produksi kulit samak Indonesia cukup tinggi yaitu   mencapai 64.617 ton, namun setelah terimbas krisis ekonomi  produksi kulit samak  mengalami penurunan yang cukup drastis. 

Pada tahun 1997 misalnya produksinya menurun menjadi 31.605 ton dan pada tahun 1998  menjadi 34.761 ton  atau hingga tahun 2002 produk kulit samak hanya mencapai 37.948 ton. 

Pada masa krisis tersebut  jumlah ternak yang dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH) berkurang , dilain pihak kulit mentah maupun kulit setengah jadi dari negara-negara Amerika Latin, Afrika dan Korea Selatan  terjangkit wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) sehingga dilarang untuk di impor.

Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) sempat berkeberatan dengan adanya pelarangan impor kulit mentah tersebut karena akan berdampak sulitnya pasokan bahan baku untuk industri persepatuan di Indonesia, bahkan lebih jauh akan berdampak pada pengurangan aktivitas produksi pabrik sepatu dan penurunan devisa negara dan pajak.

Produksi Penyamakan Kulit Nasional 1996 - 2002

Tahun

K.Produksi          

Produksi

Utilisasi     

 

(Ton)

(Ton)

(%)

1996

92.310

64.617

70.00

1997

92.310          

31,605

34.24          

1998

92.618           

34,761

37.53          

1999

       99.769     

34,212

34.29      

2000

97.774           

35,459

36.27   

2001

97.774

39,486

40.38

2002

      97.774         

37,948

38.81

Diolah dari berbagai Sumber

Perkembangan Fluktuasi Harga Kulit 

Secara umum ketidakstabilan nilai tukar rupiah  terhadap mata uang asing  akan berdampak buruk pada industri kulit dan produk kulit di dalam negeri, terutama terhadap komponen-komponen  biaya, seperti bahan baku kulit,  bahan kimia untuk penyamakan kulit, suku cadang untuk kegiatan produksi, yang  sebagian besar masih harus di impor. 

Selain itu  komponen-komponen biaya tersebut secara tidak langsung juga akan mempengaruhi terhadap harga produk kulit itu sendiri. 

Seperti harga bahan baku kulit misalnya  dipasaran lokal  sekitar Rp 16.000 – Rp 19.000,-/Kg, sementara dipasaran internasional dapat mencapai  US$ 3 atau sekitar Rp 27.000,- per kilogram.

Sedangkan harga kulit setengah jadi (wet blue) bisa mencapai  US$  5 atau sekitar Rp 45.000,- per kilogram.

Harga Kulit Dipasaran Lokal dan Internasional, 2002-2003

Harga

Lokal

Dunia

Tahun

2002-2003

2002-2003

Kulit Mentah

Rp 16.000- Rp 19.000

Rp 27.000 -Rp 30.000

Kulit Setengah Jadi/ Wet Blue

Rp 25.000- Rp 30.000

Rp 45.000 – Rp 60.000

& Sumber : Penelitian Pasar 

Ekspor  Kulit dan Impor Kulit

Ekspor Kulit - Menurut penelitian ada dua jenis kulit yang di ekspor  Indonesia yang volume dan nilai cukup tinggi  antara lain , kulit mentah dan kulit samak.

Kulit mentah adalah kulit dari hewan sejenis lembu, biri-biri atau kulit anak biri-biri atau hewan sejenis kuda yang kondisinya dalam keadaan segar, atau diasinkan, kering,  dikapur, diasamkan atau diawetkan secara lain, tetapi tidak disamak,  dan tidak diolah secara permanen.

Sedangkan kulit samak adalah kulit dari hewan sejenis lembu, biri-biri atau sejenis kuda, tanpa bulu yang telah diproses menjadi kulit samak atau telah diolah secara permanen.   

Total nilai ekspor kulit  mentah dan kulit samak Indonesia ini pada tahun 1998 lalu  sebesar  US$ 76.0 juta  atau  meningkat sangat tinggi dibandingkan tahun sebelumnya  yang tercatat sebesar US$ 5.2 juta dan pada tahun 1999 nilai ekspornya terlihat masih cukup tinggi yaitu sebesar US$ 62.7 juta. 

Atau selama tahun 1997-2002 ekspor kulit mentah dan kulit samak Indonesia  tertinggi adalah pada tahun 2000-2001 mencapai US$ 86.9 juta dan US$ 81.3 juta.

Terutama sejak dibebaskannya pajak ekspor  terhadap kulit mentah dan kulit samak Indonesia. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.  

Perkembangan Ekspor Kulit Indonesia, 1997-2002

Tahun

K. Samak

K Mentah

Total

 

(Ton)

Nilai (US$)

(Ton

Nilai (US$)

Ton

Nilai (US$)

1997

1.250

3.582198

85

1.622.484

1.335

5.204.682

1998

6.666

72.373.163

959

3.657.615

7.625

76.030.778

1999

8.082

58.460.696

514

4.204.171

8.596

62.664.867

2000

28.943

84.835.476

634

2.125.509

29.577

86.960.985

2001

9.211

79.627.820

463

1.669.463

9.674

81.297.283

2002

7.287

63.799.646

447

1.738.939

7.734

65.538.585

& Sumber : BPS,  

Untuk membedakan rincian jenis kulit mentah dan kulit samak yang diekspor dari Indonesia  ada  6  jenis kulit, antara lain HS 4101, HS 4102, HS 4103, HS 4104, HS 4105 dan HS 4106.

Ekspor  kulit mentah terbesar dilihat dari nilainnya adalah kulit mentah menurut  HS 4101 ( jangat, kulit mentah utuh dari hewan jenis lembu atau hewan sejenis lainnya) dan berikutnya adalah HS 4103 ( jangat, kulit mentah utuh dari hewan sejenis kambing atau anak kambing dan jenis hewan lainnya).

Sedangkan ekspor  kulit samak terbesar dilihat dari nilainya adalah  HS 41.04 ( kulit samak dari hewan sejenis lembu atau sejenis  sapi/wet blue atau diolah setelah penyamakan)) dan disusul kemudian HS 4105 ( kulit samak dari biri-biri atau kulit samak anak biri-biri atau diolah setelah penyamakan).

Pada tahun 2000 lalu nilai ekspor kulit mentah menurut HS 4101 tercatat sebesar US$ 1.2 juta, menurun pada tahun 2001 menjadi US$ 563.4 ribu dan pada tahun 2002 kembali meningkat menjadi US$ 730.8 ribu.

Sedangkan HS 4103 nilai ekspornya tercatat sebesar US$ 722.6 ribu, meningkat pada tahun 2001 menjadi US$ 878.5 ribu atau pada tahun  2002 sedikit menurun menjadi US$ 765.0 ribu.

Dibandingkan  dengan  nilai ekspor kulit mentah,  ekspor kulit samak ternyata nilai lebih besar. 

Pada tahun 2000 lalu misalnya ekspor kulit samak jenis HS 4104 sebesar US$ 68.8 juta, menurun pada tahun 2001 menjadi US$ 59.0 juta dan pada tahun 2002 hanya mencapai US$ 44.2 juta. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.    

Perkembangan Ekspor Kulit Menurut Jenisnya , 2000-2002

HS

2000

2001

2002

Kulit Mentah

(Kg)

Nilai (US$)

(Kg)

Nilai (US$)

(Kg)

Nilai (US$)

4101

457.395

1.205.582

271.632

563.412

291.867

730.794

4102

65.225

197.318

39.337

227.538

42.125

243.138

4103

111.652

722.609

152.057

878.513

112.720

765.007

Sub Total

634.272

2.125.509

463.026

1.669.463

446.712

1.738.939

Kulit Samat

 

 

 

 

 

 

4104

28.248.347

68.771.627

8.192.724

59.027.691

6.516.967

44.158.411

4105

305.126

10603445

373.418

13.706.715

368.591

12.880.699

4106

389.293

5460404

644.923

6.893.414

401.748

6.760.536

Sub Total

28.942.766

84835476

9.211.065

79.627.820

7.287.306

63.799.646

Total

29.577.038

86.960.985

9.674.091

81.297.283

7.734.018

65.538.585

& Sumber : BPS,

Impor Kulit - Dibandingkan dengan nilai ekspor kulit mentah dan kulit samak Indonesia dalam lima tahun terakhir,  ternyata nilai  impor kulit  samak dan kulit mentah ke Indonesia lebih  tinggi. 

Pada tahun 1997 lalu misalnya total  volume impor kulit ke Indonesia sebesar 32.808 ton dengan nilai US$ 243.6 juta, kemudian pada tahun 1998 volumenya sedikit menurun menjadi 30.056 ton dengan nilai US$ 30.1 juta dan pada tahun 2000 volumenya kembali menurun menjadi 28.042 ton dengan nilai US$ 173.9 juta atau hingga tahun 2002 volumenya sebesar 20.174 ton dengan nilai  US$ 112.7 juta.

Dilihat dari jenisnya  impor kulit Indonesia  75-80 %  adalah jenis kulit samak  yang pada tahun 1997 lalu impornya tercatat  sebesar  27.757 ton dengan nilai US$ 230.2 juta  kemudian pada tahun 1998 sedikit menurun menjadi 25.735 ton dengan nilai US$ 204.9 juta atau hingga  tahun 1999-2002 terlihat terus menurun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Perkembangan Impor Kulit Indonesia, 1997-2002

Tahun

K. Samak

K Mentah

Total

(Ton)

Nilai (US$)

(Ton

Nilai (US$)

Ton

Nilai (US$)

1997

27.757

230.200.538

5.051

13.417.426

32.808

243.617.964

1998

25.735

204.919.673

4.321

9.640.249

30.056

214.559.922

1999

21.613

160.515.538

6.429

13.411.129

28.042

173.926.667

2000

23.484

173.068.808

5.758

1.274.206

29.242

174.343.014

2001

19.439

146.733.235

2.866

4.872.197

22.305

151.605.432

2002

15.313

110.064.372

4.861

2.643.968

20.174

112.708.340

& Sumber : BPS 

Jenis kulit mentah dan kulit samak yang di impor ke Indonesia juga  ada  6  jenis kulit, antara lain HS 4101, HS 4102, HS 4103, HS 4104, HS 4105 dan HS 4106.

Impor  kulit mentah terbesar dilihat dari volume dan nilainnya adalah kulit mentah menurut  HS 4101 ( jangat, kulit mentah utuh dari hewan jenis lembu atau hewan sejenis lainnya) dan berikutnya adalah HS 4102 ( kulit mentah dari biri-biri atau kulit anak biri-biri (segar atau digarami, kering, dikapur, diasamkan  atau diawetkan secara lain tetapi tidak disamak, tidak diolah lebih lanjut) masih mengandung wol atau dibelah maupun tidak.

Pada tahun 2000 lalu nilai impor kulit mentah menurut HS 4101 tercatat sebesar US$ 6.75 juta, menurun pada tahun 2001 menjadi US$ 1.33 juta dan pada tahun 2002 kembali meningkat menjadi US$ 1.50 juta.

Sedangkan HS 4102 nilai impornya pada tahun 2000 tercatat sebesar US$ 5.64 juta, turun pada tahun 2001 menjadi US$ 3.25 juta ribu atau pada tahun  2002  menjadi US$ 817.0 ribu.

Sementara impor   kulit samak terbesar dilihat dari nilainya adalah  HS 41.04 ( kulit samak dari hewan sejenis lembu atau sejenis  sapi/wet blue atau diolah setelah penyamakan) dan disusul kemudian HS 4106 ( kulit samak kambing atau kulit samak anak kambing atau diolah setelah penyamakan).

Volume dan nilai impor kulit samak  (HS 41.04) tersebut cukup besar,  pada tahun 2000 lalu misalnya volumenya sebesar 23.098 ton dengan nilai US$ 167.27 juta, kemudian pada tahun 2001 sedikit menurun pada tahun 2001 menjadi 19.175 ton dengan nilai US$ 140.25 juta dan pada tahun 2002  menjadi 14.686 ton dengan nilai  US$ 104.84 juta. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.     

Impor Kulit Indonesia Menurut Jenisnya (HS), 2000-2002
HS20002001

2002

Kulit Mentah(Kg)Nilai (US$)(Kg)Nilai (US$)

(Kg)

Nilai (US$)

4101

4.274.233

6.754.022

1.919.771

1.433.410

3.287.522

1.498.724

4102

883.891

5.641.775

579.647

3.252.455

162.956

817.053

4103

599.928

353.409

366.297

186.332

1.410.134

328.191

Sub Total

5.758.052

12.749.206

2.865.715

4.872.197

4.860.612

2.643.968

Kulit Samat

 

 

 

 

 

 

4104

23.098.194

167.267.218

19.175.259

140.258.774

14.685.588

104.840.599

4105

295.653

3.762.217

117.231

2.821.661

120.416

2.508.627

4106

90.081

2.039.373

146.239

3.652.800

507.310

2.715.146

Sub Total

23.483.928

173.068.808

19.438.729

146.733.235

15.313.314

110.064.372

Total

29.241.980

18 5.818.014

22.304.444

151.605.432

20.173.926

112.708.340

& Sumber : BPS

Konsumsi  Kulit  Indonesia

Konsumsi Kulit Dan Kulit Samak

Produksi kulit samak Indonesia selain untuk kebutuhan dalam negeri juga di ekspor ke berbagai negara. 

Di dalam negeri sendiri kulit samak sebagian besar  digunakan  untuk kebutuhan industri-industri produk kulit seperti industri  sepatu kulit, industri pakaian dari kulit, tas kulit  dan produk-produk dari kulit lainnya.

Bahkan menurut sumber Asosiasi Penyamakan Kulit Indonesia (APKI),  bahwa hampir 80 % pasar kulit samakan di dalam di negeri  diserap  oleh industri sepatu.

Oleh karena itu ketika industri sepatu mengalami penurunan, industri penyamakan kulitpun ikut menurun penjualannya.

Akhirnya para produsen kulit Indonesia lebih memilih untuk mengekspor produknya  seperti ke Amerika Serikat, Jerman, Belanda dan negara-negara Eropa lainnya.

Selain itu kulit asal Indonesia dikenal bermutu tinggi dan sangat baik digunakan untuk bahan baku pembuatan sepatu kulit dan produk kulit lainnya, sedangkan kulit impor dari Amerika Serikat justru berkualitas rendah, dan hanya dapat digunakan untuk pembuatan sepatu santai.

Sementara itu kalau dilihat konsumsi kulit samak di dalam negeri dari tahun ke tahun terlihat terus menurunan. 

Pada tahun 1997 misalnya konsumsi kulit samak di dalam negeri tercatat sebesar 58.112 ton, turun pada tahun 1998 menjadi 53.830 ton, kemudian pada tahun 1999 kembali turun menjadi 47.743 ton.

Bahkan pada tahun 2000  turun cukup dratis menjadi  30.000 ton, namun pada tahun  tahun 2001-2002 sedikit menunjukkan peningkatan menjadi  49.604 ton  atau 45.974 ton. 

Menurunnya konsumsi kulit samak dalam beberapa tahun terakhir ini antara lain akibat  melemahnya  kinerja produksi barang-barang jadi kulit  seperti, sepatu kulit, pakaian dari kulit & perlengkapannya dan produk kulit lainnya di dalam negeri .

Konsumsi Kulit Samak Indonesia, 1997-2002
TahunProduksi Dalam NegeriImporEksporKonsomsi Dalam Negeri

1997

31,605

27,757

1,250

58,112

1998

34,761

25,735

6,666

53,830

1999

34,212

21,613

8,082

47,743

2000

35,459

23,484

28,943

30,000

2001

39,486

19,439

9,321

49,604

2002

37,948

15,313

7,287

45,974

& Sumber : berbagai sumber

Produksi Produk Kulit

Berdasarkan catatan, selama lima tahun lalu  perkembangan produksi barang jadi kulit secara rata-rata menurut unit maupun beratnya cenderung berfluktuasi.

Pada tahun 1997 misalnya  volume produksi barang jadi kulit mencapai 23.187 ton.

Setahun berikutnya produksi menurun menjadi 21.477 ton dan pada tahun berikutnya masih menurun menjadi 19.050 ton atau pada tahun 2000 kembali menurun cukup drastis menjadi 12.600 ton.

Sedangkan pada tahun 2001 sedikit mengalami kenaikan menjadi 19.793 ton atau pada tahun 2002 kembali menurun menjadi  18.344 ton.  

Atau selama tahun 1997-2003  laju perkembangan produksinya  rata-rata sekitar -055 % per tahun. Namun untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Total Perkembangan Produksi Barang Jadi Kulit (Produk Kulit) Nasional, 1997-2002

Tahun

Sepatu*)

Pertumbuhan

Produk   Lainnya

Pertumbuhan

Total

Pertumbuhan

 

(Pasang)

(%)

(Buah)

(%)

(Ton)

(%)

1997

20.652.308

-

30.510.000

-

23187

-

1998

19.129.231

      -   7.38

28.260.000

-7.38

21477

-7.37

1999

15.429.231

- 19.35

33.580.000

18.82

19050

-11.30

2000

  9.230.769

- 40.18

18.572.500

-44.70

12600

-33.86

2001

17.090.769

  85.15

30.827.500

65.98

19793

57.09

2002

16.338.462

-  4.41

24.137.500

-21.71

18344

-7.32

 

Rata-rata (%)

   2.77

 

2.20

 

-0.55

& Sumber : Diolah dari berbagai sumber 

Dilihat dari jenisnya berdasarkan catatan, selama lima tahun lalu  perkembangan produksi produk kulit  terbesar adalah jenis sepatu/alas kaki dari kulit dan pakaian dari kulit serta perlengkapannya. 

Pada tahun 1997 misalnya  volume produksi sepatu kulit sebesar 13.424 ton atau sekitar 20.7 juta pasang, menurun pada tahun 1998 menjadi 19.1 juta atau seberat 12.434 ton. 

Setahun berikutnya produksi sepatu  kulit masih menurun menjadi 15.4 juta pasang atau sekitar 11.029 ton. 

Sedangkan pada tahun 2000 produksi sebesar 11.459 ton, atau pada tahun 2002 menjadi 16.3 juta pasang atau sepatu kulit turun cukup drastis menjadi  9.2 juta pasang atau sebesar 6.300 ton.

Namun pada tahun 2001  meningkat menjadi 17.6 juta pasang atau sebesar 10.620 ton. Jenis produk kulit lainnya yang mulai cenderung meningkat adalah pakaian dari kulit dan perlengkapannya dari 5.537 ton pada tahun 2001 meningkat menjadi 5.793 ton, sedangkan produk lainnya terlihat cenderung menurun.    

Untuk lebih jelasnya perkembangan produk lainnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Perkembangan Produksi Produk kulit Menurut Jenis, 1997-2002

Tahun

Sepatu*)

 

Pakaian**)

 

Lainnya***)

 

Total

 

Pasang

Ton

Buah

Ton

Buah

Ton

Ton

1997

20.652.308

13.424

18.305.000

7.322

12.205.000

2.441

23.187

1998

19.129.231

12.434

16.955.000

6.782

11.305.000

2.261

21.477

1999

15.429.231

10.029

11.525.000

4.610

22.055.000

4.411

19.050

2000

9.230.769

 6.000

14.427.500

5.771

4.145.000

  829

12.600

2001

17.090.769

10.459

13.842.500

5.537

16.985.000

3.397

19.793

2002

16.338.462

10.620

14.482.500

5.793

9.655.000

1.931

18.344

               Catatan :      *) alas kaki dan sejenisnya dari kulit

                                  **) perlengkapan pakaian dan sejenisnya

                                ***) tas, dompet dan sejenisnya

                 Sumber : diolah dari berbagai sumber

Ekspor  dan Impor Barang Jadi Kulit (Produk Kulit)

Ekspor Produk Kulit

Selain ekspor kulit mentah dan kulit setengah jadi (wet blue),  menurut pengamatan, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, ekspor produk kulit Indonesia juga terlihat berkembang cukup pesat  dengan volume pertumbuhan rata – rata  mencapai 6.83%  per tahun, sedangkan nilainya lainya terlihat berfluktuasi dengan laju pertumbuhan rata-rata  minus 1.89 %  per tahun.

Pada tahun 1997 misalnya nilai ekspor produk kulit Indonesia tercatat mencapai US$ 148.3 juta, kemudian  pada tahun 1998 menurun menjadi US$ 144.4juta

Pada tahun 1999 ekspor barang jadi kulit terlihat kembali meningkat, nilainya mencapai US$ 146.9juta, lalu pada tahun 2000, melonjak cukup tinggi menjadi US$ 204.3 juta. Atau pada tahun 2001-2002 menjadi US$ 177.2 juta dan US$ 115.6 juta.

Perkembangan Ekspor Produk Kulit Indonesia, 1997-2002

TahunVolumeNilaiPerubahanPerubahan
 (Kg)(US$)Volume (%)Nilai (%)

1997

  7.933.780

148.314.572

  -

-

1998

  9.138.408

144.370.198

  15.18

-   2.69

1999

13.888.005

146.931.570

  51.97

    1.77

2000

11.654.004

204.283.556

- 16.09

  39.03

2001

10.343.829

177.221.518

- 11.24

- 13.25

2002

 9.756.175

115.580.175

-  5.68

- 34.78

Rata-rata (%)

 

 

    6.83

-1.98

& Sumber : BPS 

Ekspor barang jadi kulit yang terbesar selama ini adalah jenis pakaian dan perlengkapannya, disusul kemudian  jenis alas kaki dan yang paling sedikit adalah tas dan dompet.

Pada tahun 2000 misalnya ekspor pakaian dan aksesoris dari kulit mencapai US$ 141.7 juta, sedangkan ekspor alas kaki dari kulit nilainya mencapai US$ 51.1 juta, kemudian ekspor dompet dan barang sejenis dari kulit nilainya hanya mencapai US$ 11.5 juta.

Proporsi tersebut tidak banyak berubah pada tahun 2001 dari total ekspor yang mencapai  US$ 177.2 juta, ekspor pakaian dan  aksesoris dari kulit mencapai US$ 132.8 juta, kemudian  ekspor alas kaki nilainya mencapai US$ 31.1 juta, sedangkan ekspor dompet dan barang sejenis dari kulit  nilainya hanya mencapai US$ 13.3 juta, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada tahun 2002 proporsi ekspor produk kulit Indonesia juga belum banyak mengalami perubahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.  

Perkembangan Ekspor Produk Kulit Indonesia , 1999-2002

Bahan Jadi Kulit/Jenis Produk

2000

2001

2002

Kg

US$

Kg

US$

Kg

US$

 Kopor kulit                                 

218

905

482,719

2,490,035

784,458

2,164,453

 Tas tangan                                 

545,523

10,114,281

477,917

9,031,935

334,733

5,783,394

 Dompet                                     

126,369

1,125,576

132,935

1,542,466

170,149

1,517,088

 Wadah dari kulit lainnya                   

107,392

305,889

72,321

282,760

196,481

817,808

 Tas, Dompet dan Sejenisnya               

779,502

11,546,651

1,165,892

13,347,196

1,485,821

10,282,743

 Pakaian & perlengkapannya dari kulit samak

2,756,307

64,959,614

2,590,714

61,266,218

2,538,817

21,915,085

 Sarung tangan olah raga                    

1,875,770

72,628,367

1,753,937

67,056,488

1,421,310

55,837,588

 Sarung tangan lainnya                      

582,763

1,805,573

269,627

1,385,791

237,180

2,433,111

 Ikat pinggang                              

243,416

986,892

450,349

2,155,332

203,161

1,513,350

 Perlengkapan pakaian lainnya               

50,182

346,174

32,418

105,511

21,192

71,426

 Perlengkapan mesin                          

104,664

690,974

58,077

382,928

410,177

309,477

 Barang kulit lainnya                       

53,404

223,044

61,382

334,244

53,917

386,742

 Pakaian & perlengkapannya dari kulit berbulu

2,884

9,750

45,595

107,451

34,230

67,349

 Perlengkapan industri dari kulit berbulu   

0

0

0

0

203

6,624

 Barang kulit berbulu lainnya               

2,533

33,882

10,474

9,053

2,446

6,169

 Perlengkapan Pakaian dan Sejenisnya      

5,671,923

141,684,270

5,272,573

132,803,016

4,922,633

82,546,921

 Sepatu boot untuk ski dari kulit           

193,374

2,238,277

194,882

1,922,279

131,414

1,476,902

 Alas kaki dari kulit dan lainnya           

114,900

351,611

106,769

850,792

92,681

597,781

 Alas kaki lainnya                          

23,242

249,925

45,392

164,297

12,494

180,537

 Sepatu laki-laki                           

1,239,555

17,414,357

467,971

7,871,327

601,558

2,044,231

 Sepatu perempuan                           

1,052,203

13,713,874

857,375

10,241,835

932,916

10,202,608

 Sandal                                      

1,771,948

10,798,293

1,360,468

6,348,555

919,472

4,231,857

 Alas kaki lainnya                          

369,289

3,897,657

536,491

1,742,579

316,189

2,360,304

 Alas kaki dengan sol luar kulit            

109,193

471,374

113,280

447,021

62,341

863,301

 Alas kaki lainnya                          

328,875

1,917,267

222,736

1,482,621

278,656

792,990

 Alas kaki dan sejenisnya                 

5,202,579

51,052,635

3,905,364

31,071,306

3,347,721

22,750,511

 Total barang jadi kulit                     

11,654,004

204,283,556

10,343,829

177,221,518

9,756,175

115,580,175

& Sumber : BPS

Perkembangan Impor Produk Kulit

Meskipun ekspor produk-produk kulit tersebut dalam 5 tahun terakhir mengalami penurunan, baik volume maupun nilainya, namun impor produk-produk tersebut juga walaupun berfluktuasi tetapi nilai cukup tinggi.

Data yang berhasilkan dikumpulkan dari berbagai sumber menunjukkan bahwa selama periode 1997 hingga 2002, nilai impor barang jadi kulit mengalami pertumbuhan 7,20 % per tahun, sedangkan pertumbuhan volume-nya mencapai 49.66 % per tahun.

Pada tahun 1997 impor total barang-barang dari kulit tercatat mencapai  1.135.6 ton, dengan nilai US$ 6.2 juta kemudian pada tahun berikutnya menurun menjadi 767.2 ton, dengan nilai US$ 4.8 juta, namun pada tahun 1999 meningkat menjadi  1977.6 ton, dengan nilai US$ 5.7 juta.

Pada tahun 2000, impor produk-produk kulit mulai meningkat, yakni menjadi 5.958.2 ton, dengan nilai US$ 8.8 juta, kemudian pada tahun 2001 impor tersebut ternyata kembali menurun menjadi 1.897.9 ton, sedangkan nilainya mencapai US$ 5.45 juta atau pada tahun 2002  nilai  meningkat menjadi US$ 6.65 juta. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Perkembangan Impor Produk Kulit Indonesia, 1997-2002

TahunVolumeNilaiPerubahanPerubahan
 (Kg)(US$)Volume (%)Nilai (%)

1997

  1.135.645

6.192.390

  -

-

1998

  767.257

4.813.821

 - 32.44

-   22.26

1999

1.977.580

5.704.554

  157.75

    18.50

2000

5.958.217

8.849.807

 201.29

   55.14

2001

1.897.942

5.453.549

- 68.15

- 38.38

2002

1.704.824

6.659.348

- 10.18

   22.11

Rata-rata (%)

 

 

    49.66

    7.02

& Sumber : BPS 

Dilihat dari nilainya, impor barang jadi kulit yang terbanyak selama ini adalah jenis pakaian dan perlengkapannya, disusul oleh jenis alas kaki dan yang paling sedikit adalah tas dan dompet.

Pada tahun 2000 impor pakaian dan aksesoris dari kulit mencapai US$ 8.17 juta, kemudian impor alas kaki dari kulit nilainya mencapai US$ 455.6 ribu, sedangkan ekspor dompet dan barang sejenis dari kulit nilainya hanya mencapai US$ 219.9

Proporsi tersebut tidak berubah dan pada tahun 2001 dari nilai total impor yang mencapai US$ 5.45 juta, impor pakaian dan aksesoris dari kulit mencapai US$ 4.65 juta, kemudian impor alas kaki dari kulit nilainya mencapai US$ 626.9 ribu sedangkan impor dompet dan barang sejenis dari kulit nilainya hanya mencapai US$ 178.3 ribu.

Adapun gambaran pada tahun 2002,  rincinya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Perkembangan Impor Produk Kulit Indonesia, 1999-2002

Bahan Jadi Kulit/Jenis Produk

2000

2001

2002

Kg

US$

 

 

Kg

US$

 Kopor kulit                                

51,412

54,574

43,286

60,546

29,381

77,914

 Tas tangan                                 

92,493

80,130

38,893

35,824

136,661

183,759

 Dompet                                     

85,536

68,800

20,419

71,092

29,453

56,084

 Wadah dari kulit lainnya                   

2,416

16,454

508

10,805

4,912

14,975

 - Tas, dompet dan sejenisnya               

231,857

219,958

103,106

178,267

200,407

332,732

 Pakaian dan perlngkp. dari klt smk         

9,234

40,475

9,626

67,930

6,153

42,233

 Sarung tangan olah raga                    

21,080

42,811

14,394

101,532

12,004

11,989

 Sarung tangan lainnya                      

196,893

319,944

142,311

371,783

164,565

336,027

 Ikat pinggang                              

372,675

1,486,846

278,933

598,098

382,292

1,325,730

Perlengkapan pakaian lainnya               

21,294

43,989

21,701

84,557

14,349

143,022

 Perlengkapan mesin                          

60,606

188,633

519,558

182,058

28,393

200,017

 Barang kulit lainnya                       

4,519,497

5,959,641

177,887

2,989,158

196,948

3,104,573

 Pakaian & perlngkp. dari klt berbulu     

43,340

54,437

4,648

131,219

1,273

12,802

 Perlngkp. Industri dari kulit berbulu      

855

7,481

288

8,293

260

4,461

 Barang kulit berbulu lainnya               

23,531

29,918

84,554

113,756

-

-

 - Perlengkapan Pakaian & Sejenisnya      

5,269,005

8,174,175

1,253,900

4,648,384

806,237

5,180,854

 Sepatu boot untuk ski dari kulit           

16,134

8,595

13,279

33,179

2,606

8,963

 Alas kaki dari kulit dan lainnya           

1,644

5,679

128,329

275,315

649

8,828

 Alas kaki lainnya                          

5,830

3,051

14,558

5,941

1,994

2,301

 Sepatu laki-laki                           

14,481

8,058

57,453

62,328

31,250

44,335

 Sepatu perempuan                           

74,111

52,640

39,079

27,177

41,085

56,865

 Sandal                                     

225,738

101,586

87,549

54,795

345,771

358,407

 Alas kaki lainnya                          

2,622

2,371

37,918

23,364

19,443

25,645

 Alas kaki dengan sol luar kulit            

38,180

41,121

72,173

96,903

183,727

467,420

 Alas kaki lainnya                          

78,615

232,573

90,598

47,896

71,655

172,998

 - Alas kaki dan sejenisnya                 

457,355

455,674

540,936

626,898

698,180

1,145,762

 Total                                      

5,958,217

8,849,807

1,897,942

5,453,549

1,704,824

6,659,348

& Sumber : BPS

Dilihat dari negaranya, nilai impor produk kulit terbesar adalah dari Jepang, disusul Korea Selatan, China,  dan Singpore. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut.

Perkembangan Impor Produk Kulit Indonesia Menurut Negara, 2001  

 

NEGARA

 VOLUME (KG)

 NILAI (US$)

1

JAPAN

112,720

1,967,576

2

KOREA, REPUBLIC OF

31,187

860,659

3

CHINA

750,341

571,146

4

SINGAPORE

71,489

399,876

5

NEW ZEALAND

129,013

280,331

6

AUSTRALIA

65,556

270,185

7

UNITED STATES

17,648

265,271

8

HONG KONG

79,534

227,843

9

GERMANY, FED. REP. OF

2,921

116,445

10

MALAYSIA

62,016

114,220

11

INDIA

505,832

104,336

12

TAIWAN

40,071

96,550

13

INDONESIA

2,095

73,722

14

THAILAND

3,671

29,279

15

ITALY

2,038

26,828

16

CANADA

3,536

21,203

17

UNITED KINGDOM

687

10,742

18

BELGIUM

16,040

7,245

19

SWITZERLAND

143

5,357

20

LAINNYA

1,404

4,735

 

GRAND TOTAL

1,897,942

5,453,549

Konsumsi Produk Kulit Indonesia

Pasar produk kulit seperti sepatu kulit dan produk kulit lainnya di dalam negeri akhir-akhir ini juga cukup dinamis, dimana produk yang dijual sudah semakin memenuhi spesifikasi pembeli.

Era globalisasi dan teknologi informasi yang semakin berkembang  berdampak pula pada tuntutan mutu dan desain yang lebih baik serta jenis produk yang sudah disesuikan dengan pasar di dalam negeri.

Disisi lain, produk impor sebagai  pembanding produk dalam negeri juga tetap digemari.     

Dari pengamatan dan penelitian, produk sepatu kulit dan produk kulit lainnya yang di jual di dalam negeri umumnya sudah mempunyai kreteria yang cukup baik seperti, berpenampilan indah, corak dan desain menarik,  memiliki fungsi dan nilai tambah serta memiliki kualitas yang sudah cukup baik

Untuk mengetahui konsumsi dan segmen pasar  produk kulit di Indonesia,menggunakan beberapa  parameter diantarannya adalah sebagai berikut : 

Geografi - Melihat kondisi geografi Indonesia yang terdiri dari wilayah kepulauan, merupakan faktor yang sangat penting untuk menentukan segmen pasarnya mengingat produk kulit disuatu daerah yang sama pada umumnya memiliki kebutuhan dan keinginan yang relatif sama yang secara tidak langsung akan mencerminkan produk kulit yang dibelinya. Sebagai contoh untuk keperluan kantor atau sekolah maka orang Indonesia lebih menyukai produk/sepatu  yang berbahan baku dari kulit sedangkan untuk sekolah seseorang lebih menyukai  sepatu yang berbahan  baku dari karet/ kain kanvas karena dirasakan lebih praktis dan nyaman dipakai. Ukuran kota dan kepadatan penduduk suatu daerah juga termasuk pertimbangan segmen pasar berdasarkan geografis yang mana informasi  mudah ditemukan dari berbagai media lokal termasuk surat kabar, TV, radio dan majalah.

Demografi - Faktor demografi seperti umur, jenis kelamin, status perkawinan, pendatapan dan pendidikan juga merupakan beberapa unsur yang mempengaruhi segmen pasar. Karakteristik demografi biasanya mudah diidentifikasi dan diukur untuk lebih lanjut digunakan sebagai dasar acuan mengenai jenis produk yang diperdagangkan  dan media khusus yang dipakai sebagai alat promosi.

Perubahan peran jenis kelamin di rumah tangga penduduk Indonesia pada umumnya membatasi segmen pasar, namun memberikan peluang baru di lain pihak.

Sebagai contoh, semakin besar jumlah penduduk wanita pekerja akan mempengaruhi jenis produk kulit yang diproduksi dipasaran.

Industri produk kulit akan lebih mengkonsentrasikan pada selera konsumen, demikian pula desain dari produk kulit tersebut.

Jenis dan produk kulit yang diinginkan untuk wanita juga diperluas mengingat bahwa makin banyak kelompok wanita yang mampu membeli produk kulit untuk dirinya sendiri.

Dari pengamatan dan penelitian, akhir-akhir ini produsen produk kulit di Indonesia mulai mengkonsentrasikan jenis produk kulit untuk kelompok pendapatan tinggi dan pendatapan rendah, dimana jenisnya sama namun dengan kualitas mutu yang sedikit berbeda sehingga harganyapun akan berbeda dan dapat menjangkau semua kalangan.

Hal ini mengingat bahwa penduduk Indonesia sebagian besar adalah berada pada klas pendapatan  menengah ke bawah.

Pola Konsumsi

Dilihat dari kegunaannya, sepatu kulit dan produk kulit lainnya dapat dikategorikan sebagai kelompok kebutuhan sekunder namun tetap diminati konsumen sepanjang masa oleh semua kelompok dimanapun  berada.

Mengingat sifatnya sebagai pelengkap alas kaki maka penampilan harus bemutu baik, spesifik.

Dilihat dari pola komsumsinya, penjualan dan pemebelian sepatu kulit dan produk kulit lainnya  secara besar-besaran di dalam negeri, biasanya terjadi pada waktu pameran yang diselenggarakan  setahun sekali misalnya pameran produk Indonesia dan pameran produk ekspor Indonesia.

Sedangkan pembelian dan penjualan barang-barang kulit ditingkat distributor dan pengecer terjadi sepanjang tahun, bahkan  menjelang hari hari-hari besar seperti  Idul Fitri  dan hari Natal serta akhir tahun akan terjadi transkasi yang  besar-besaran.

Sedangkan tempat pembelian sepatu kulit dan  produ kulit lainnya di Indonesia adalah  sebagai berikut :

  • Di pameran dagang
  • Toko Sepatu
  • Departemen Store
  • Mal-Mal
  • Dan disentra-sentra produksi/pengrajin kulit. 

Selain itu di Indonesia  pola konsumsi  pemakaian sepatu kulit dan produk kulit lainnya umumnya terjadi  di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Semarang dan kota besar lainnya. 

Perkembangan Jumlah Penduduk Indonesia 1990-2002

Tahun

Laki-laki

Perempuan

Total

Pertumbuhan (%)

1990

88,876,104

89,422,393

178,298,497

1.31

1991

90,523,305

90,916,835

181,440,140

1.76

1992

92,072,714

92,570,157

184,642,871

1.77

1993

93,217,315

94,018,314

187,235,629

1.40

1994

94,755,897

95,260,117

190,016,014

1.48

1995

95,831,589

96,301,287

192,132,876

1.11

1996

96,939,481

97,465,475

194,404,956

1.18

1997

97,906,805

98,446,265

196,353,070

1.00

1998

98,757,425

99,575,964

198,333,389

1.01

1999

100,275,968

100,875,845

201,151,813

1.42

2000

101,399,497

101,625,816

203,025,313

0.93

2001

103,214,755

102,978,545

206,193,300

1.56

2002

105,904,783

103,287,582

209,192,365

1.45

& Sumber : BPS 

Populasi Penduduk Perkotaan dan Pedesaan di Indonesia 2001

 

Provinsi

Perkotaan

Pedesaan

Jumlah

 

PULAU JAWA

 

 

 

1

DKI Jakarta

8.396.500

-

8.396.500

2

Jawa Barat

18.593.960

17.476.105

36.070.065

3

Banten

4.444.951

3.813.104

8.258.055

4

Jawa Tengah

12.632.605

18.431.213

31.063.818

5

DI Yogyakarta

1.832.837

1.295.898

3.128.735

6

Jawa Timur

14.569.809

20.133.786

34.703.595

 

LUAR JAWA

 

 

 

7

NAD

1.061.628

3.085.238

4.146.866

8

Sumatera Utara

5.042.134

6.545.579

11.587.713

9

Sumatera Barat

1.206.449

3.037.061

4.243.510

10

Riau

2.045.256

2.839.052

4.884.308

11

Jambi

697.038

1.739.703

2.436.741

12

Sumatera Selatan

2.421.305

4.511.332

6.932.637

13

Bangka Belitung

403.142

559.901

963.043

14

Bengkulu

414.176

1.011.095

1.425.271

15

Lampung

1.464.411

5.255.849

6.720.260

16

Kal Barat

1.029.893

2.758.969

3.788.862

18

Kal Tengah

531.085

1.307.454

1.838.539

19

Kal Selatan

1.079.041

1.920.221

2.999.262

20

Kal Timur

1.413.366

1.076.622

2.489.988

22

Sul Utara

759.615

1.238.848

1.998.463

23

Gorontalo

218.208

632.590

850.798

24

Sul Tengah

432.091

1.674.886

2.106.977

25

Sul Selatan

2.318.203

5.537.269

7.855.472

26

Sul Tenggara

387.588

1.427.960

1.815.548

27

Maluku

321.894

881.993

1.203.887

28

Maluku Utara

164.862

620.112

784.974

29

Bali

1.559.939

1.596.453

3.156.392

30

NTB

1.422.658

2.44.0196

3.862.854

31

NTT

635.935

3.355.102

3.991.037

32

Papua

556.674

1.598.559

2.155.233

 

Total

88.057.253

117.802.150

205.859.403

  • & Sumber : BPS 

Berdasarkan data jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2002 diperkirakan telah mencapai 205.2 juta jiwa, dan  yang tinggal diperkotaan ada sekitar 40.0 % atau sebanyak 82.0 juta jiwa.

Apabila diasumsikan dari total jumlah penduduk perkotaan tersebut sekitar  30 % saja atau  24.6 juta jiwa saja diasumsikan  memiliki 2 pasang sepatu kulit atau produk lainnya per orang per tahun, maka kebutuhan  dalam waktu satu tahunnya adalah sebesar  49.2 juta pasang sepatu. 

Sementara itu jika dilihat kemampuan produksi sepatu kulit di dalam negeri  pada tahun 2002 hanya mencapai 16.3 juta pasang, mengalami penurunan dibandingkan  tahun 1997 yang mencapai 20.7 juta pasang atau 19.1 juta pasang pada tahun 1998.

Sedangkan komsumsi sepatu kulit di dalam negeri sendiri pada tahun 2002 yang di hitung  berdasarkan produksi di kurang ekspor dan di tambah impor adalah sebesar 7970.5 ton atau  12.2 juta pasang, mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2001 yang tercatat sebanyak 10.9 juta pasang. 

Data volume konsumsi sapatu kulit yang di sajikan di bawah ini adalah dalam satuan ton dan satuan  lusin untuk Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Perkembangan Konsumsi Sepatu kulit & Alas Kaki lainnya Menurut Jenis, 1997-2002

Tahun

Produksi

Ekspor

Impor

Konsunsi

Ton

Pasang

Ton

Pasang

Ton

Pasang

Ton

Pasang

1997

13.424

20.652.308

2992.4

4.603.692

172.9

266.000

10.604.5

16.314.615

1998

12.434

19.129.231

5155.2

7.931.077

  90.6

139.385

 7.369.4

11.337.538

1999

10.029

15.429.231

8531.3

13.125.077

317.2

488.000

 1.814.9

2.792.154

2000

 6.000

9.230.769

5202.5

8.003.846

457.4

703.692

 1.254.9

1.930.615

2001

10.459

16.090.769

3905.4

6.008.308

540.9

832.154

 7.094.5

10.914.615

2002

10.620

16.338.462

3347.7

5.150.308

698.2

1.074.154

  7.970.5

12.262.308

Catatan : diasumsikan  1 pasang sepatu =  0.65 s/d 0.80 Kg

& Sumber 

Selain konsumsi sepatu kulit, konsumsi  pakaian dari kulit dan perlengkapan lainnya seperti jaket kulit, sarung tangan kulit, sarung tangan olahraga dari kulit, ikat pinggang dan lainnya dari kulit di dalam negeri, yang di hitung  berdasarkan produksi di kurang ekspor dan di tambah impor selama tahun 1997-2002 terlihat menurun.

Pada tahun 1997 misalnya konsumsinya tercatat sebesar 4.582 ton atau sekitar 11.5 juta buah dan pada tahun 1998 menurun menjadi 4.177 ton atau 10.4 juta buah , kemudian  pada 1999 turun cukup drastis menjadi 2093.3 ton atau 5.2 juta buah.

Akan tetapi pada tahun mengalami kenaikan cukup tinggi menjadi 5368.1 ton atau sebanyak 13.4 juta buah. 

Namun pada tahun 2001-2002 kembali turun drastis menjadi 1518.3 ton atau 3.8 juta buah  dan 1676.6 ton atau 4.2 juta buah. Untuk lebih jelsanya dapat dilihat pada tabel berikut.

Perkembangan Konsumsi Pakaian dari Kulit, 1997-2002

Tahun

Produksi

Ekspor

Impor

Konsunsi

Ton

Buah

Ton

Buah

Ton

Buah

Ton

Buah

1997

7.322

18.305.000

3462.9

8.657.250

 722.9

1.807.250

4582.0

11.455.000

1998

6.782

16.955.000

3169.2

7.923.000

  564.5

1.411.250

4177.3

10.443.250

1999

4.610

11.525.000

4058.3

10.145.750

1541.6

3.854.000

2093.3

5.233.250

2000

5.771

14.427.500

5671.9

14.179.750

5269.0

13.172.500

5368.1

13.420.250

2001

5.537

13.842.500

5272.6

13.181.500

1253.9

3.134.750

1518.3

3.795.750

2002

5.793

14.482.500

4922.6

12.306.500

  806.2

2.015.500

1676.6

4.191.500

& Sumber : BPS 

Sedangkan konsumsi produk lainnya seperti kopor kulit, tas tangan, dompet dan tempat dari kulit lainnya  dari tahun ke tahun juga terlihat  berfluktuasi, dari 1202.3 ton pada tahun 1997, meningkat menjadi 1559.1 ton di tahun 1998. 

Kemudian di tahun berikutnya  meningkat menjadi 3231.3 ton  atau pada tahun 2002 kembali menurun menjadi  645.6 ton.

Perkembangan Konsumsi Produk kulit lainnya, 1997-2002

Tahun

Produksi

 

Ekspor

 

Impor

 

Konsunsi

 

 

Buah

Ton

Buah

Ton

Buah

Ton

Buah

Ton

1997

12.205.000

2.441

7.392.000

1478.4

1.198.500

239.7

6.011.500

1202.3

1998

11.305.000

2.261

4.070.500

  814.1

561.000

112.2

7.795.500

1559.1

1999

22.055.000

4.411

6.492.000

1298.4

593.500

118.7

16.156.500

3231.3

2000

4.145.000

  829

3.897.500

  779.5

1.159.000

231.8

1.406.500

  281.3

2001

16.985.000

3.397

5.829.500

1165.9

515.500

103.1

11.671.000

2334.2

2002

9.655.000

1.931

7.429.000

1485.8

100.2000

200.4

3.228.000

  645.6

& Sumber : Diolah 

Secara keseluruhan  konsumsi kulit di dalam negeri yang terdiri dari sepatu kulit/alas kaki dari kulit, pakaian dari kulit dan  lainnya serta  produk dari  kulit lainnya selama tahun 1997-2002 terlihat berflutuasi .

Pada tahun 1997 misalnya konsumsinya tercatat  sebesar 16.390 ton,  turun pada tahun 1998 menjadi 13.106 ton dan pada tahun 1999  turun  cukup drastis menjadi 7.140 ton atau pada tahun 2000 kembali menurun menjadi 6.904 ton . 

Akan tetapi pada tahun 2001 sedikit meningkat menjadi 10.949 ton dan pada tahun 2002 sebesar 10.293 ton.

Sementara dilihat prosentase konsumsi di dalam negeri dibandingkan dengan ekspornya selama tahun 1997-2002, prosentase  komsumsi di dalam negeri masih tergolong tinggi yaitu masih di atas rata-rata 50 % sedangkan prosentase  konsumsi untuk di ekspor  rata-rata masih di atas 30 % - 40 %, hanya tahun 1999 saja yang prosentase ekspor  sempat tinggi yaitu mencapai 62.5%.

Dengan demikian potensi produk kulit Indonesia terbesar  pemasarannya  masih di dalam negeri sedangkan sebagian lagi adalah  untuk di ekspor.

Total Konsumsi Produk Kulit Indonesia, 1997-2002

Tahun

Produksi

Ekspor

Impor

Konsumsi

Prosentase Ekspor

Prosentase Dalam Negeri

 

(Ton)

(Ton)

(Ton)

(Ton)

(%)

(%)

1997

23.187

7.934

1.137

16.390

29.3

70.7

1998

21.477

9.138

767

13.106

39.0

61.0

1999

19.050

13.888

1.978

7.140

62.5

37.5

2000

12.600

11.654

5.958

 6.904

45.2

54.8

2001

19.393

10.344

1.899

10.948

43.5

56.5

2002

18.344

9.756

1.705

10.293

43.9

56.1

& Sumber : BPS, 

Dilihat dari jenisnnya, konsumsi produk kulit di dalam negeri terbesar adalah sepatu kulit dan alas kaki lainnya, kemudian pakaian dari kulit dan perlengkapannya serta produk kulit lainnya. Untuk lebih jelasnnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Total Konsumsi Produk Kulit Menurut Jenis, 1997-2002

Tahun

Sepatu & Alas Kaki lainnya

Volume

Pakaian & Perlkya

Volume

Produk Lainnya

Volume

(Ton)

Pasang

(Ton)

(buah)

(Ton)

(buah)

1997

10.604.5

16.314.615

4582.0

11.455.000

1202.3

6.011.500

1998

 7.369.4

11.337.538

4177.3

10.443.250

1559.1

7.795.500

1999

 1.814.9

2.792.154

2093.3

5.233.250

3231.3

16.156.500

2000

 1.254.9

1.930.615

5368.1

13.420.250

  281.3

1.406.500

2001

 7.094.5

10.914.615

1518.3

3.795.750

2334.2

11.671.000

2002

  7.970.5

12.262.308

1676.6

4.191.500

  645.6

3.228.000

& Sumber : BPS

Glossary Artikel Prospek Usaha Kulit dan Produk Kulit

tas kulit wanita, dompet kulit pria, tas kulit pria, tas kulit, dompet kulit, tas kulit jogja, dompet kulit wanita, tas kulit garut, voyej, sepatu wanita branded murah, kulit eksotis, cara memasak kulit sapi, model tas, usaha sepatu, bisnis sepatu, bisnis tas, reseller tas, dompet murah, tas kulit asli, dompet kulit asli, tas kulit bandung, bisnis kerajinan, harga dompet kulit, usaha tas, tas kulit ular, jual tas kulit, grosir tas branded murah tanah abang, usaha modal 20 juta,

lazada tas selempang wanita, jual tas kulit asli, tas kulit asli wanita, grosir dompet wanita murah dan berkualitas, harga tas kulit, dompet kulit asli pria, pengrajin tas kulit jogja, usaha dengan modal 20 juta, grosir tas kw1 tanah abang, usaha grosir, jaket kulit domba garut, tas kulit buaya, pengrajin tas kulit, reseller tas tanpa modal, grosir tas wanita murah tanah abang, dompet kulit buaya, sandal lazada, voyej wallet, harga dompet kulit buaya, dompet kulit garut, tas cantik murah tanah abang, grosir tas import tanah abang, jaket lazada, tas kulit jogja murah, tas kulit asli garut, tas kulit sapi, dompet wanita kulit, mesin jahit kulit, dompet kulit pari, jaket kulit jogja, jaket kulit bekas, usaha tas rumahan, tas pesta elizabeth, cara membuat tas wanita, tas kulit garut online,

dompet kulit ular, tas kulit yogyakarta, gesper kulit, tas kulit wanita bandung, jual kulit sapi lembaran, tas kerajinan jogja, tas wanita kulit, harga kulit sapi, rincian modal usaha distro, kerajinan tas, tas kulit indonesia, tas dompet pria, dompet baellerry, cara membuat tas kulit, dompet kulit ikan pari, cara membuat tas dari kain jeans, jual dompet, harga tas kulit garut, cara membuat tas ransel, dompet voyej, cara membuat tas ransel dari celana jeans bekas, tas bangkok, mencari modal awal, pola dompet,

dompet ikan pari, cara membuat dompet dari kain jeans, cara membuat dompet kulit, bisnisman, dompet kulit handmade, membuat dompet, kulit ikan pari, cara membuat tas ransel dari kain jeans, voyej store, cara membuat tas ransel handmade, cara membuat tas selempang dari celana jeans bekas, cara buat dompet, cara membuat tas handmade, bahan membuat tas, cara membuat tas ransel dari jeans, cara membuat tas selempang dari baju bekas, modal awal, foto asyifa latief, cara membuat dompet hp dari kain jeans, bahasa inggris dompet, tas reptil, 5 sekawan, usaha sandal, kriya kulit, jaket luar negeri, orang jualan, dompet lufas, Prospek Usaha Kulit dan Produk Kulit