Last Updated:
Prospek usaha jagung
Prospek usaha jagung https://www.pustakadunia.com

Prospek Usaha Jagung sebagai Komoditas Unggulan Indonesia

Jagung merupakan salah satu komoditas penting, baik di Indonesia maupun negara-negara lain di dunia, karena merupakan sumber karbohidrat penting selain padi. 

Jagung selain sebagai bahan pangan, terutama digunakan sebagai pakan ternak, serta sebagai bahan baku industri (minyak makan, tepung maizena, pati, dan minuman).  

Prospek Usaha Jagung

Sebagai bahan pangan, jagung dapat dikonsumsi langsung baik sebagai nasi, dicampur dengan beras, maupun jagung muda.  

Selain itu, yang melalui proses pengolahan seperti emping jagung, marning, tepung jagung dan lain-lainnya.

Diversifikasi pengolahan jagung ini juga akan meningkatkan permintaan jagung dalam negeri.

Pemanfaatan Jagung

Akhir-akhir ini di Indonesia, pemanfaatan jagung untuk pakan ternak mengalami peningkatan sejalan dengan berkembangnya bisnis peternakan, terutama ayam ras beserta industri pakannya.  

Hal ini disebabkan karena sebagian besar bahan penyusun ransum ayam adalah jagung, sehingga permintaan jagung diprediksi akan terus meningkat sesuai dengan perkembangan industri pakan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2000) produksi jagung pipilan kering di Indonesia pada tahun 2000 adalah 9.676.899 ton.  

Prospek usha jagung
Nilai produksi tersebut masih lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai penggunaan atau pemanfaatan jagung itu sendiri.  

Adapun perincian pemanfaatan jagung pada tahun 1999 adalah untuk bahan makanan sebesar 8.299.000 (85,3%), untuk pakan sebesar 584.000 ton (6%), untuk benih 97.000 ton (1%), untuk industri dan lain-lain sebesar 264.000 ton (2,7%), serta yang tercecer sebanyak 487.000 ton (5%) (Biro Pusat Statistik, 1999).

Rendahnya produksi dibandingkan dengan pemanfaatan tersebut menyebabkan Indonesia harus mengimpor jagung sebesar 618.000 ton (BPS, 1999). 

Untuk mengatasi hal tersebut, upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi adalah dengan pengelolaan pertanaman secara intensif dan penggunaan benih bermutu dari varietas jagung unggul baik varietas hibrida maupun varietas bersari bebas.  

Program Gema Palagung merupakan upaya pemerintah dalam membantu petani untuk meningkatkan produksi jagung secara terus menerus dan berkesinambungan.   

Namun demikian, petani masih menemui beberapa kendala yang memerlukan perhatian dan bantuan berbagai fihak, baik dalam aspek permodalan, teknologi pasca panen, serta aspek pemasaran yang berkaitan dengan fluktuasi harga jual petani.

Berdasarkan analisis ekonomi usahatani jagung dapat memberikan pendapatan yang cukup tinggi sehingga dapat memberikan insentif yang cukup untuk menggerakkan usahatani jagung menjadi usahatani yang maju. 

Meskipun produksi jagung nasional terus meningkat dengan diusahakannya varietas unggul  bersari bebas dan hibrida yang mempunyai potensi hasil yang tinggi, namun belum mampu mengimbangi kebutuhan yang berkaitan dengan terus meningkatnya kebutuhan jagung untuk industri pakan dan pangan.

Kondisi tersebut memberikan peluang bagi petani dan pengusaha untuk terjun dalam industri jagung, sehingga dapat memenuhi permintaan dalam negeri, dan lebih dari itu diharapkan Indonesia menjadi negara produsen utama dunia.

Dukungan sumberdaya yang tercukupi dengan baik, seperti sumberdaya alam dan manusia akan memperbesar peluang tersebut.

Komoditas ini selain memberikan manfaat untuk industri pakan dan pangan, juga memberikan manfaat untuk kesejahteraan petani dan tenaga kerja pada industri terkait.

PROSPEK INDUSTRI JAGUNG

Analisis Strategis (Strategic Analysis) prospek Industri jagung

Analisis SWOT INDUSTRI JAGUNG

Analisis SWOT adalah alat yang sering digunakan untuk menganalisa posisi perusahaan (industri) dalam peta persaingan, keberadaan serta digunakan untuk mengantisipasi langkah perusahaan di masa yang akan datang.

Tujuan dilakukannya analisis SWOT ini untuk: mengevaluasi kinerja perusahaan, mengantisipasi langkah persaingan (bisnis) dan redefinisi tujuan perusahaan.

Analisis SWOT ini dilaksanakan sesuai kebutuhan, dan perlu memperhatikan faktor tempat dan waktu. 

Faktor kekuatan (Strenght)

  1. Produktivitas yang terus meningkat.
  2. Tersedianya benih unggul yang sudah dilepas oleh pemerintah.
  3. Ketersediaan sumberdaya manusia yang banyak dan upah yang relatif murah.
  4. Pengelolaan kebun dan pengolahan jagung yang mudah.
  5. Cukup banyaknya petani ataupun pengusaha yang telah bergerak dalam bidang ini.
  6. Teknologi proses produksi relatif mudah diadopsi dan biayanya relatif murah.
  7. Waktu produksi dan pengolahannya relatif singkat.
  8. Usahatani jagung dan pengolahannya telah banyak dilakukan sehingga sosialisasi untuk hal-hal baru guna pembangunan industri jagung relatif mudah dilakukan.
  9. Jaringan pemasaran yang cukup luas dan interfensi pemerintah cukup baik terhadap peningkatan industri jagung di Indonesia.

Faktor Kelemahan (Weaknesses)

  1. Perencanaan dan pelaksanaan yang kurang baik dan benar
  2. Tersedianya teknologi namun dengan keterbatasan dana untuk mengadopsi teknologi tersebut menyebabkan tidak tersosialisasi dan teradaptasi dengan baik. 
  3. Pengawasan mutu yang kurang, sehingga masih banyak dihasilkan jagung dengan kualitas yang tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh industri lanjutannya, sehingga harga menjadi murah dibandingkan jagung bermutu baik.  Hal ini juga merupakan faktor yang menyebabkan pabrik pakan terus mengimpor jagung.
  4. Kurangnya sumberdaya manusia yang berkualitas, dan adanya kebijakan pemerintah dalam melepas harga dasar jagung sehingga pasar bebas yang menentukan pergerakan harga jagung.
  5. Flutuasi harga yang tidak menentu.

Faktor Peluang (Opportunities)

  1. Adanya perubahan teknologi yang semakin baik dari segi budidaya, maupun pengolahan pasca panen. 
  2. Konsumsi jagung yang meningkat dalam berbagai jenis olahan sebagai bentuk diversifikasi pangan, maupun sebagai bahan baku pakan ternak.
  3. Banyaknya jenis limbah dari tanaman jagung yang masih dapat dimanfaatkan selain untuk pakan ternak di luar hasil jagung juga untuk bahan baku kerajinan sehingga akan memberikan nilai tambah.
  4. Kebijakan/regulasi pemerintah yang semakin tidak membatasi skala usaha.

Faktor Ancaman (Threath)

  1. Harga jagung yang tidak pasti dari waktu ke waktu sejak krisis moneter.
  2. Banyaknya produk substitusi yang lebih baik kualitasnya, persaingan dengan pengusaha luar negeri, perubahan kondisi ekonomi dan politik yang tidak menentu.
  3. Gejolak nilai tukar rupiah

 Analisis Daya Saing Industri Jagung

Daya saing industri jagung di Indonesia diramalkan melalui beberapa parameter, yakni impor bahan baku pakan, ekspor pakan, produksi pakan, perkembangan pabrik pakan, kebutuhan bahan baku pakan, harga pakan domestik, konsumsi dunia (negara ASEAN), pangsa Indonesia dan kelayakan usaha.

Skoring ditetapkan berdasarkan hasil analisis trend, proyeksi dan pergerakan masing-masing parameter.

Penentuan Daya Saing Industri Jagung

Parameter

Trend

Proyeksi

Pergerakan

Nilai

Impor Jagung

-

+

+

2

Ekspor Jagung

-

+

-

1

Produksi Jagung     

-

+

+

3

Pabrik Pakan

+

+

+

3

Kebutuhan bahan baku

     Corn (jagung)

 

+

 

+

 

+

3

Harga jagung

+

+

+

3

Konsumsi

+

+

+

3

Kelayakan usaha

+

+

+

3

Total Nilai

21 (87,5%)

Keterangan    :     

  • Daya saing tinggi     : Total Nilai > 75%
  • Daya saing sedang  : Total Nilai 50 – 75%
  • Daya saing rendah  : Total Nilai < 50%

Dari Tabel di atas memperlihatkan bahwa skor total untuk daya saing industri jagung (pipilan sebagai bahan baku pakan ternak) Indonesia adalah 21 (87,5%), yang berarti industri jagung Indonesia mempunyai daya saing yang tinggi dalam hal ini untuk jagung hibrida.

Teknik Budidaya Jagung

Persiapan tanam hendaknya dilakukan dengan sebaik-baiknya, agar penanaman dapat berlangsung sesuai dengan yang diinginkan.

Teknik budidya jagung
Pada umumnya persiapan tanam diawali dengan persiapan lahan, pengolahan tanah, persiapan benih dan sistem penanaman.  

Selanjutnya diteruskan dengan pemeliharaan, pemanenan dan penanganan pasca panen. 

Benih Jagung

Benih yang digunakan harus benih yang bebas hama dan penyakit (benih sehat), daya tumbuh minimal 80%, bernas, mengkilat dan murni baik secara fisik maupun genetik (kemurnian terjamin) serta merupakan benih berlabel/ bersertifikat.  

Untuk jagung hibrida harus menggunakan benih bersertifikat atau berlabel biru, sedangkan untuk bersari bebas hendaknya menggunakan benih berlabel minimal label merah jambu.  

Kebutuhan benih per hektar biasanya tergantung pola tanam, jarak tanam, banyaknya benih tiap lubang.  

Sebagai contoh : untuk jarak tanam 25 cm x 75 cm, dan tiap lubang berisi 1 benih pada penanaman  secara monokultur diperlukan benih per hektar antara 20 kg (untuk benih jagung hibrida) – 30 kg (untuk benih non hibrida/bersari bebas). 

Pengolahan tanah

Pengolahan tanah dalam budidaya tanaman jagung dilakukan dengan tiga cara, seperti dijelaskan dibawah ini.

Cara pengolahan tanah ke-1

  1. Pengolahan Tanah Maksimum/Sempurna (Maximum Tillage).  Tujuan pengolahan ini untuk memperbaiki tekstur dan struktur tanah, memberantas gulma dan hama dalam tanah, memperbaiki aerasi dan drainase tanah, mendorong aktivitas mikroorganisme tanah, serta membuang gas-gas beracun dari dalam tanah.  Pengolahan ini dapat dilakukan pada tanah-tanah berat, dengan cara :
  2. Tanah dibajak atau dicangkul 2 kali sedalam 15-20 cm, gulma dan sisa tanaman dibenamkan dan tanah digaru sampai rata.
  3. Waktu pengolahan tanah minimum 1 minggu sebelum tanam

 Cara pengolahan tanah ke-2

  1. Pengolahan Tanah Minimum (Minimum Tillage).  Pengolahan ini dapat dilakukan pada tanah-tanah berpasir atau tanah ringan, dengan cara :
  2. Untuk tanah yang sangat peka terhadap erosi (bertekstur ringan) diperlukan usaha konservasi, seperti penggunaan mulsa dan sedikit mungkin dilakukan pengolan tanah.
  3. Tanah dicangku/diolah seperlunya
  4. Bila waktu tanam mendesak pengolahan tanah hanya pada barisan tanam ± 60 cm dengan kedalaman 15-20 cm.

 Cara pengolahan tanah ke-3

  1. Tanpa Olah Tanah/TOT (pada lahan sawah bertekstur ringan).  Pengolahan ini dapat juga dilakukan pada bekas lahan tebang Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI).  Keuntungan sistem ini adalah menekan biaya pengolahan tanah dan memperpendek waktu tanam.  Pengolahan tanah sistem ini dengan cara :
  2. Tanah dicangkul hanya untuk lubang tanam atau langsung ditugal.
  3. Perlu mulsa untuk mengatasi erosi dan menekan gulma.

Berdasarkan tiga cara pengolahan tanah tersebut di atas cara pengolahan tanah untuk budidaya tanaman jagung disesuaikan dengan keadaan tanah atau musim tanam.  

Kelayakan sisitem pengolahan tanah untuk kebun jagung disajikan di bawah ini :

Alternatif Sistem Pengolahan Tanah untuk Penanaman Jagung

No

Jenis Tanah

Sistem Pengolahan Tanah

Tujuan dan Keuntungan

1.

Latosol, PMK, grumusok, dan gambut basah.

Pengolahan tanah maksimum (sempurna)

Memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

2.

Latosol dan Andosol

Pengolahan tanah minimum (Minimum Tillage)

Mempercepat waktu tanam

Menekan biaya pengolahan tanah.

3.

Latosol (ringan)

Tanpa Olah Tanah (TOT)

Mempercepat waktu tanam sebelum musim kemarau tibadi lahan bekas tebang TRI

Menekan biaya pengolahan tanah

Sumber : Effendi, 1995. 

Secara umum pengolahan tanah diawali dengan membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya.  

Bila perlu sisa tanaman yang cukup banyak dibakar di suatu tempat dan abunya dikembalikan ke dalam tanah.  

Kemudian dilanjutkan pencangkulan atau pengolahan tanah dengan bajak.

Apabila sarana alat pengolah tanah telah ada, maka dapat digunakan alat tersebut   Contoh tahapan persiapan lahan jagung dilakukan sebagai berikut

  1. Lahan dibajak sedalam 15-20 cm kemudian diratakan dengan garu/cangkul   agar cukup gembur.
  2. Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman dan tanaman pengganggu lainnya.
  3. Diberi kompos atau kapur jika perlu

menanam jagung
Penanaman Jagung

Waktu tanam yang tepat merupakan usaha memperkecil kegagalan panen.

Penanaman jagung pada tanah tegal, biasanya dilakukan menjelang musim hujan yaitu antara bulan September sampai bulan November.

Di tanah sawah, jagung biasa ditanam secara bergantian atau bergilir dengan tanaman padi sebagai tanaman pokok.

Penanaman jagung di tanah sawah ini pun ada 2 tanam, yaitu menjelang musim hujan atau pada awal musim penghujan dan setelah panen padi penanaman musim hujan.

Jadi berdasarkan perhitungan bulan yaitu antara bulan September – Oktober dan antara bulan Mei – Agustus.  

  1. Lahan ditugal sedalam 5 cm.
  2. Jarak tanam jagung hibrida adalah 75 x 20 cm, untuk 1 butir/lubang.
  3. Insektisida butiran ditaburkan sebanyak 0,25 gram pada tiap lubang benih atau dosis 17 kg/ha.
  4. Lubang ditutup dengan tanah dan padatkan secukupnya.
  5. Pada daerah dengan tingkat serangan penyakit bulai yang berat, disarankan menggunakan Ridomil pada saat tanam. 
alternatif tanam jagung
Penanaman Jagung

Pemeliharaan Tanaman Jagung

Setelah tanaman tumbuh, maka perlu dipelihara dengan sebaik-baiknya.  

Tanaman jagung yang masih muda ini meminta perhatian lebih dari pengelolanya.

Hal-hal yang harus diperhatikan, dipaparkan di bawah ini. 

Penyiangan dan Pembumbunan

Penyiangan dan pembumbunan  perlu dilakukan, mengingat tanaman yang masih muda ini menghendaki perlindungan dari tumbuhan pengganggu atau gulma, atau tanaman lainnya.  

Sebab makanan yang tersedia di dalam tanah, terutama di sekitar perakaran bibit dibutuhkan untuk pertumbuhan, sehingga pertumbuhan tanaman jagung normal dan wajar.  

Maksud pembumbunan ialah untuk memperkuat berdirinya batang.

Selain itu pembumbunan berarti menyediakan makanan yang ada pada tanah bumbunan.  

Pembumbunan juga berfungsi mengatasi tanah yang terlalu banyak air dan sekaligus memperbaiki drainase.

Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman jagung berumur ± 15 hari setelah tanam atau pertumbuhan tanaman mencapai setinggi lutut.  

Alat bantu penyiangan dapat menggunakan tangan, kored, cangkul atau alat lainnya. 

Cara penyiangan adalah dengan membersihkan atau mencabut seluruh gulma secara hati-hati agar tidak merusak akar tanaman.  

Penyiangan dan pembumbunan berikutnya (kedua) dilakukan pada waktu tanaman jagung berumur 40 hari setelah tanam.

Cara penyiangan dan pembumbunan kedua sama seperti pada penyiangan pertama.  

Penyiangan dilakukan sesegera dan sesering mungkin, sebaiknya dilakukan sebelum pemupukan. 

Pemupukan

Setiap tanaman perlu makanan untuk pertumbuhan dan perkembangan.   

Makanan tersebut berupa unsur-unsur hara, baik yang terdapat di dalam tanah, di udara maupun hara hasil buatan manusia.  

Makanan yang diperlukan tersebut biasa dikenal dengan pupuk.  

Untuk melengkapi tersedianya makanan di dalam tanah dan untuk mencukupi kebutuhan makan dari tanaman yang diusahakan, maka terwujudlah pupuk buatan.  

Pupuk buatan ini terdiri beberapa macam bentuk yaitu kristal Urea, TSP, KCL, bentuk cair seperti pupuk cair.  

Ketiga macam unsur yang terkandung di dalam pupuk buatan dan sering digunakan yaitu N, P, dan K yang juga dibutuhkan oleh tanaman jagung.  

Secara umum dapat diterapakan dosis pemberian pupuk adalah sebagai berikut.

Contoh Jenis dan Dosis Pupuk yang Diberikan Pada Waktu Pemupukan Tanaman Jagung 

Jenis Pupuk

Contoh

Dosis

Pupuk N = 90 – 120 kg

contoh : Urea (45% N)                    

200 – 300 kg

Pupuk P2O5 = 30 – 45 kg

contoh : TSP ( 46% P2O5)                  

75 – 100 kg

Pupuk K2O = ± 25 kg,               

contoh : KCL (50% K2O)                        

± 50 kg

Sumber : Rukmana, 1997 

  • Tanah ditugal sedalam 5 cm untuk meletakkan pupuk
  • Setelah pupuk diletakkan, lubang ditutup kembali dengan tanah untuk menghindari penguapan. 

Pengendalian Hama dan Penyakit

Perlindungan tanaman yang dianjurkan adalah pengendalian hama dan penyakit terpadu.

Hal ini harus segera dilakukan jika terjadi serangan seketika. 

Pengendalian hama dan penyakit terpadu meliputi pengendalian fisik dan mekanis, kultur teknis, biologis, dan kimiawi.  

Pengendalian secara fisik dan mekanis dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut.

  1. Mengumpulkan dan memusnahkan organisme hama dan penyakit secara langsung.
  2. Mencabut dan memangkas bagian tanaman yang terserang hama dan penyakit.
  3. Penjemuran atau pengeringan benih jagung sebelum tanam.

Pengendalian secara kultur teknis dilakukan dengan mengatur penanaman secara serempak, pergiliran (rotasi) tanaman, pengolahan tanah yang sempurna, penyiangan gulma, pemupukan berimbang dan perbaikan aerasi serta drainase tanah. 

Sedangkan untuk pengendalian secara biologis dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh-musuh  alami dari hama dan penyakit.   

Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan pestisida selektif.  Bila ada gejala serangan hama/penyakit segera semprotkan pestisida yang disarankan oleh Dinas Pertanian.  

Prinsip pengendalian hama dan penyakit terpadu merupakan penggabungan beberapa cara pengendalian secara serasi dalam waktu bersamaan ataupun tidak bersamaan untuk menekan populasi atau tingkat kerusakan hama dan penyakit dibawah ambang ekonomi. 

Untuk pertumbuhan tanaman jagung diperlukan air dan udara.  

Tanaman jagung membutuhkan air yang cukup untuk pertumbuhan dan untuk memberikan hasil produksi yang baik.  

Tanaman jagung membutuhkan air yang cukup, terutama pada fase petumbuhan vegetatif  sampai masa pengisian biji dalam tongkol.

Selama benih belum tumbuh, peranan air cukup besar dalam membentuk proses perkecambahan benih.

Air sangat diperlukan terutama pada saat penanaman (45-55 hari) dan pengisian biji (60-80 hari).  

Kebun Jagung
Drainase yang baik penting untuk pertumbuhan jagung yang optimal.  Hindarkan tanaman dari genangan air.

Hasil  penelitian Balai Penelitian Tanaman Pangan  menunjukkan bahwa tanaman jagung yang kekurangan air dan mengalami kelayuan selama 1-2 hari pada periode pembumbunan, dapat menurunkan hasil sampai 22%.

Bila kelayuan tanaman terjadi hingga 5-8 hari, penurunan hasil jagung dapat mencapai 50%.  

Biasanya setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab.  

Pengairan berikutnya diberikan dengan tujuan untuk menjaga agar tanaman tidak layu dan ini pun tidak perlu banyak air.  

Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung. 

Cara pengairan tanaman jagung adalah dengan mengalirkan air melalui saluran pemasukan air.  

Selanjutnya lahan dileb sampai beberapa waktu hingga tanahnya cukup basah.   

Setelah itu, air dibuang kembali melalui saluran pembuangan air. 

Pengairan lahan kebun jagung di daerah atau tanah-tanah yang kering biasanya dilakukan 1-2 minggu sekali atau tergantung pada keadaan air tanah. 

Populasi Tanaman

Jumlah tanaman per satuan luas merupakan faktor penting utmuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Jumlah populasi tanaman yang dianjurkan untuk mendaptkan hasil yang optimal tergantung pada varietas jagung yang akan ditanam. 

Naiknya tingkat kepadatan tanaman per satuan luas akan meningkatkan hasil tanaman jagung.  

Tetapi kenaikan hasil tersebut hanya sampai pada suatu tingkat kepadatan tanaman di mana kesuburan tanah, air dan intensitas cahaya merupakan faktor pembatas.

Varietas jagung berumur genjah pada umumnya lebih toleran terhadap tingkat populasi tanaman yang tinggi daripada varietas berumur dalam, karena varietas yang genjah rata-rata mempunyai ukuran tanaman yang lebih kecil dibandingkan tanaman yang berumur dalam.

jumlah tanaman jagung
Rata-rata varietas genjah dapat memberikan hasil maksimal sampai 5,7 ton/ha pada tingkat populasi 105.000 tanaman/ha.

Hasil maksimal dari rata-rata varietas berumur dalam sebesar 6,7 ton/ha dicapai pada tingkat populasi 95.000 tanaman/ha.  

Naiknya jumlah tanaman/ha pada umumnya merubah sifat-sifat agronomi lainnya, baik pada varietas berumur dalam maupun varietas berumur genjah.  

Bertambahnya populasi tanaman/ha menambah umur berbunga, tinggi tanaman dan tinggi tongkol, jumlah tanaman rebah dan jumlah tongkol barren (tongkol tidak berbiji) serta mengurangi umur masak.  

Populasi tanaman yang dianjurkan untuk varietas berumur dalam adalah sekitar 55.000 tanaman/ha, sedangkan pada varietas berumur genjah sekitar 70.000 tanaman/ha. 

Jarak Tanam

Untuk mendapatkan populasi tanaman per ha yang diinginkan, dilakukan dengan mengatur jarak tanam, yaitu jarak di antara barisan tanaman dan jarak di dalam barisan tanaman.

Secara umum terdapat tiga macam jarak tanam yang digunakan dalam budidaya tanaman jagung berdasarkan kriteria jarak tanamnya.

Semakin kecil jarak tanam dan varietas tanaman merupakan varietas berumur genjah maka semakin besar populasi tanamannya.   

Data selengkapnya disajikan di bawah ini.

Populasi dan Jarak Tanam Berdasarkan Kriteria Varietas Tanaman Jagung (Dirjen Tanaman Pangan dan Hortikultura, 1999)

Kritea Varietas

Jarak Tanam (cm x cm)

Populasi Tanaman/Ha

Umur dalam ( > 100 hari)

100  x (40 – 50)

40.000 – 50.000

Umur tengah (90 – 100 hari)

75 x (40 – 50)

53.000 – 66.000

Umur genjah (80 – 90 hari)

50 x (20 – 25)

80.000 – 100.000

Sumber : Rukmana, 1997 

Jarak tanam di antara barisan tanaman yang dianjurkan adalah sekitar 75 cm, sedangkan jarak tanam di dalam barisan tanaman bervariasi tergantung pada populasi tanaman per ha dan jumlah tanaman per lubang.  

Untuk mendapatkan populasi 53.333 tanaman per ha dipakai jarak tanam 75 cm di antara barisan tanaman dan 50 cm di dalam barisan tanaman dengan 2 tanaman per lubang, atau dapat pula dipakai jarak tanam 25 cm di dalam barisan tanaman dengan 1 tanaman per lubang.

Untuk mendapatkan populasi 66.666 tanaman/ha dipakai jarak tanam 75 cm di antara barisan tanaman dan 40 cm di dalam barisan tanaman dengan 2 tanaman per lubang, atau dapat pula dipakai jarak tanam 20 cm di dalam barisan dengan 1 tanaman per lubang.

Contoh gambar pola jarak tanam tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.

 Populasi tanaman jagung

Panen dan Pasca Panen Jagung

Panen Jagung

Penentuan saat panen jagung yang paling tepat, sangat tergantung pada tujuan penggunaan produksi.  

Tanaman jagung dapat dipanen apabila sudah mencapai matang fisologis (tergantung dari varietas dan tinggi tempat).  

Hal ini biasanya sering dilakukan dalam usaha jagung skala komersial/industri.

Jagung siap panen ditandai dengan terbentuknya lapisan hitam di ujung biji dan kulit tongkol (klobot) sudah mengering atau berwarna coklat muda.

Biasanya panen dilakukan pada saat tongkol berumur 7-8 minggu setelah keluar bunga dan dapat juga ditandai dengan penampakan biji jagung yang mengkilap jika tongkol dikupas.  

Selain itu, jika biji ditekan dengan tangan tidak meninggalkan bekas melekuk, dan kadar air dalam biji sudah mencapai  35 –  40%.

Kadar air biji jagung saat panen mempengaruhi volume dan mutu hasil.

Pemanenan yang dilakukan pada kadar air rendah (17 – 20%) menyebabkan terjadinya susut hasil akibat tercecer sebesar 1,2 – 4,7%  dan susut mutu 5 – 9%.

Apabila panen dilakukan pada kadar air tinggi (35 – 40%), susut hasil akibat tercecer mencapai 1,7 – 5,2% dan susut mutu 6 – 10% (Purwadaria, 1988).

Faktor yang perlu diperhatikan didalam penentuan panen jagung adalah waktu panen.  

Panen yang terlalu awal atau tongkol masih belum mencapai matang fisilogis dapat menyebabkan penurunan kualitas produksi yaitu akan menghasilkan banyak butir muda, sehingga daya simpan jagung rendah.  

Sebaliknya, terlambat panen dapat menyebabkan rusaknya biji akibat deraan lingkungan dan serangan hama.

Jika panen dilakukan pada musim hujan menyebabkan biji jagung mudah berjamur sehingga biji akan terkontaminasi aflatoksin, yaitu metabolit beracun yang dihasilkan oleh cendawan Aspergillus flavus yang dapat meracuni manusia dan hewan.  

Dari hasil penelitian Balittan Malang (dulu) menunjukkan bahwa penentuan saat panen jagung yang paling tepat selain memperhatikan ciri-ciri matang fisiologis pada tongkol, juga menentukan umur tanaman mencapai paling optimum.  

Faktor penting lainnya adalah keadaan cuaca harus cerah (terang) pada saat pemanenan jagung dilakukan.  

Cara pemanenan tanaman jagung umumnya dilakukan secara manual dengan tangan.

Cara panen tersebut dilakukan dengan menentukan tanaman (pohon) yang bertongkol matang fisiologis kemudian tongkol dipetik dengan tangan hingga terlepas dari batangnya. 

Jika tidak segera dikonsumsi atau dijual, jagung sebaiknya dipanen bersama klobotnya agar biji tidak mudah rusak dan dapat disimpan selama 3-4 bulan.  Dalam hal ini perlu pengeringan/penyimpanan jagung berupa para-para dalam jumlah yang cukup.

Pasca Panen Jagung

Proses penanganan pasca panen jagung diklasifikasikan berdasarkan tingkat kemasakan dari masing-masing jagung yaitu masak susu, masak lunak (jagung manis/sweet corn dan jagung muda/jagung biasa), masak tua (30-40%), dan masak mati (17%).  

Untuk tiap tingkat kemasakan tersebut terdapat perbedaan dalam proses penanganannya.  

Proses penanganan pasca panen pertama untuk jagung masak susu dan masak lunak terdiri dari panen, pengemasan segar dan penyimpanan.  

Proses penanganan pasca panen kedua untuk jagung masak tua dan masak mati terdiri dari proses panen, pengeringan tongkol, penyimpanan tongkol,  pemipilan, pengeringan jagung pipilan dan penyimpanan jagung pipilan. 

Penanganan pasca panen yang bertujuan untuk memproduksi jagung pipilan meliputi kegiatan pokok yang terdiri dari  pengumpulan hasil, penempatan dalam wadah, pengangkutan, pengeringan, pemipilan, pengeringan ulang dan penyimpanan.   

Penanganan pasca panen ini dibedakan antara penanganan jagung tongkol dan jagung pipilan.

Tahapan-tahapan penanganan jagung tongkol adalah :

  1. pengumpulan hasil, yaitu mengumpulkan hasil panen di tempat yang teduh dan strategis sambil melakukan sortasi tongkol yang terserang hama atau penyakit ;
  2. pewadahan, yaitu memasukkan ke dalam kantong goni atau wadah lain secara teratur;
  3. pengangkutan;
  4. pengeringan tongkol dengan cara mengeringkan tongkol satu persatu dalam bentuk ikatan-ikatan berisi 10 tongkol/ikat dengan cara menjemur  di atas lantai;
  5. penyimpanan, ikatan-ikatan tongkol disimpan digudang penyimpanan atau diatas tungku dapur dengan cara digantung pada tali atau bilah bambu.   

Untuk penanganan jagung pipilan prinsipnya sama dengan penanganan jagung tongkol, hanya setelah pengeringan dilakukan kegiatan pemipilan, pengeringan ulang dan penyimpanan dengan segera.  

Proses Pengeringan Jagung

Selain menurunkan kadar air biji, pengeringan juga bertujuan untuk menghindari biji jagung dari kontaminasi Aspergillus flavus.

Ambang batas Aspergillus flavus di biji jagung, menurut ketentuan FAO adalah 30 ppb. Hasil penelitian menunjukkan panundaan waktu pengeringan sampai 2 hari dapat meningkatkan kontaminasi Aspergillus flavus pada biji jagung, dari 14 ppb menjadi 94 ppb (Paz et al., 1989).

Untuk mengatasi hal itu maka jagung perlu segera dikeringkan setelah panen hingga kadar air biji mencapai 14 – 15%. 

Petani umumnya mengeringkan jagung dengan cara menjemur tongkol langsung di tanah atau menggunakan alas berupa tikar dan sejenisnya.

Untuk mempercepat laju pengeringan, penjemuran sebaiknya  menggunakan alas plastik kedap air.

Pengeringan jagung dengan cara mengasapi tongkol berkelobot yang berjarak 80 cm dari sumber asap dapat menurunkan kadar air biji dari 29% menjadi 14% selama 7 hari pengasapan, waktu pengasapan berlangsung dari pukul 08.00–16.00.

Untuk skala besar atau industri terdapat dua tipe alat pengeringan yang digunakan antara lain sebagai berikut. 

Alat Pengeringan Tipe Sumur (Pit Dryer)

Alat pengering tipe sumur dibuat dengan kontruksi yang terdiri dari :

  1. tungku sederhana dari drum bekas;
  2. cerobong gas yang diletakkan di lubang galian dibawah permukaan tanah;
  3. bak pengering yang terbuat dari batako atau kayu lapis (dibangun di atas tungku) dan
  4. sungkup kayu sebagai penutup bak pengering atau pelindung terhadap air hujan.  

Sumber panas berasal dari tungku dihubungkan dengan cerobong gas, sehingga aliran panas dapat menyebar ke bak pengering. 

Alat pengering jagung tipe sumur rancangan dari hasil penelitian Balittan malang (dulu) pada tahun 1998 berkapasitas 1,2 ton tongkol dengan lama pengeringan sekitar 18 jam pada tingkat suhu 23ºC dan kelembaban udara luar 96% menunjukkan bahwa dari 1 ton jagung tongkol varietas Arjuna yang dikeringkan dengan alat tersebut dihasilkan 300 kg jagung tongkol berkadar air 17% atau 275 kg jagung tongkol pada kadar air 10%.  Bentuk alat pengering jagung tipe sumur ini dapat dilihat pada gambar

alat pengering jagung tongkol tipe sumur
Alat Pengering Jagung Tongkol Tipe Sumur (Rukmana, 1997)

Alat Pengering Jagung Tongkol Tipe Rak

Pengering tipe rak juga dapat dikembangkan sebagai alat pengering jagung.  Pengering tipe ini dapat dibuat berupa kerangka bambu dan ruang pengering (plenum).  Bagian utama dari alat ini terdiri atas :

  1. tungku dari drum bekas yang dibuat di bawah rak,
  2. ruang pengering (plenum) berdinding tripleks (plywood) dengan letak bersusun tiga (atas, tengah dan bawah), dan
  3. pipa besi bekas yang dipasang memanjang melalui titik tengah drum yang menghubungkan tungku dengan ruang plenum.  

Bentuk alat pengering tipe rak ini dapat dilihat pada gambar

Alat Pengering Jagung Tongkol Tipe Rak

Alat Pengering Jagung Tongkol Tipe Rak (Rukmana, 1997)

Hasil rancangan Balittan Malang (dulu) pada tahun 1994 untuk alat pengering tipe rak dengan kapasitas 240 kg jagung tongkol atau masing-masing sebanyak 80 kg/rak, sumber panas menggunakan bahan bakar sekam padi 2,5 kg/jam pada suhu 41ºC, dapat menurunkan kadar air jagung tongkol dari 45% menjadi 17% dalam waktu 64 jam.

Proses Pemipilan Jagung

Pemipilan merupakan rangkaian dari penanganan pasca panen jagung.  Proses pemipilan dilakukan setelah tongkol jagung kering.  

Namun setelah dilakukan pengeringan pertama, dapat juga dilakukan pengeringan ulang atau kedua, dimana kadar air jagung menjadi antara 9-12%.

Di daerah yang kekurangan tenaga kerja, pemipilan jagung menggunakan alat pemipil.

Di Malang, Jawa Timur telah dikembangkan alat pemipil jagung yang diberi nama Ramapil dan Senapil.

Ramapil dirancang untuk dikembangkan di tingkat petani di pedesaan, sedangkan Senapil untuk tingkat KUD.

Alat pemipil jagung terdiri dari bermacam tipe.  Dalam hal ini terdapat lima tipe alat pemipil yang diperkenalkan Balittan Malang (1994), antara lain tipe TPI, tipe Ramapil, tipe Senapil, tipe PBM-J.  

Berikut ini penjelasan mengenai alat-alat tersebut.

Alat Pemipil Tipe TPI

Alat pemipil ini tipe TPI bentuknya sedrhana, terbuat dari bahan papan kayu yang berbentuk segi empat dan bergagang, serta ditengahnya dibuat lubang versudut empat sebagai tempat memasukkan tongkol jagung.  Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar.

alat pemipil jagung tipe TPI
Alat Pemipil Jagung Tipe TPI

Cara memipil jagung dengan alat pemipil tipe TPI adalah : (1) memilih tongkol jagung yang sudah kering dengan kadar air 10-17%; (2) kelobot jagung dikupas hingga bersih; (3) tongkol jagung dipegang dengan tangan kanan dan alat pemipil dipegang dengan alat kiri kemudian ujung tongkol dimasukkan ke dalam lubang alat pemipil sambil diputar-putar, hingga bijinya terlepas dari tongkol; dan (4) biji dikumpulkan dalam wadah.

Alat Pemipil Jagung Tipe Ramapil

Alat pemipil ini terdiri dari 10 buah komponen yang penjelasanya pada gambar.

Tahapan cara penggunaan alat pemipil tipe ramapil ini adalah sebagai berikut.

  • Jagung yang masih berbentuk tongkol dijemur sampai kering dengan kadar air 12-14%.
  • Klobot jagung dikupas sampai bersih, kemudian
  • Sebanyak 5-10 kg jagung (tongkol kering) dimasukkan pada tempat jagung tongkol.
  • Rantai sepeda dan penahan dipasang.
  • Silinder diputar dengan cara mengayuh sambil memasukkan jagung tongkol satu persatu sampai jagung terpipil habis. 
  • Penahan getaran dilepas dan pasang kembali rantai sepeda ataupun ban belakang setiap melakukan pemipilan.

Keterangan :

(1) tempat tongkol jagung, (2) hoper, (3) silinder pemipil, (4) saangan, (5) karet penggantung, (6) penyetel jarak, (7) rantai sepeda pemutar silinder pemipil, (8) lubang tongkol, (9) lubang biji, (10) penahan getaran dan (11) rantai sepeda.

 Alat Pemipil Jagung Tipe Ramapil

Alat Pemipil Jagung Tipe Ramapil

Alat Pemipil Tipe Senapil

Alat pemipil senapil merupakan pengembangan dari tipe ramapil.  

Kelebihan dari alat ini adalah dapat memipil tongkol jagung dalam jumlah besar (banyak). Dan menekan kerusakan hasil pipilan.  

Prinsip kerjanya hanya kontruksi silinder dan sarangannya diperkuat agar kapasitas tongkol uang dipipil berjumlah banyak.

Alat ini juga digerakkan dengan motor bakar 7,0 PK.  Model alat pemipil tipe senapil disajikan pada gambar.  

Keterangan :

1.        Hoper

2.        Karet penggantung

3.        Silinder

4.        sarangan

5.        Penyetel sarangan depan

6.        Penyetel sarangan belakang

7.        Lubang Tongkol

8.        Lubang biji

9.        Motor bensin 7.0 PK

10.    Dudukan mesin

 

Alat Pemipil Jagung Tipe Senapil
 Alat Pemipil Jagung Tipe Senapil

Proses Penyimpanan Jagung

Dalam penanganan pasca panen jagung, penyimpanan termasuk kegiatan yang tidak kalah penting artinya karena menentukan mutu biji dan mutu produk bila diolah menjadi bahan pangan, pakan, atau produk olahan lainnya.

Daya simpan jagung dipengaruhi oleh kadar air biji sebelum penyimpanan, alat pengemas yang digunakan dan kondisi ruang penyimpanan. 

Penyimpanan biasanya mulai dilakukan setelah jagung kering yaitu mempunyai kadar air 9-12% dan segera dikemas dalam karung goni atau tempat lainnya yang diikat rapat, kemudian disimpan dalam gudang penyimpan. 

Apabila jagung yang akan disimpan dalam bentuk pipilan, kadar air biji perlu diturunkan hingga 13%. 

Jika disimpan pada kadar air awal lebih dari 13% maka biji akan dirusak oleh hama gudang atau terkontaminasi oleh jamur Aflavus.  

Alat pengemas yang akan digunakan sebaiknya kedap air dan kedap udara agar jagung dapat terhindar dari gangguan jamur Aflavus.   

Teknik penyimpanan jagung dalam karung plastik dan dibubuhi bahan nabati  berupa rimpang dringo (Acorus calamus) dapat dikembangkan di tingkat petani maupun industri.  

Dengan teknik tersebut, daya simpan biji jagung dapat mencapai 5 bulan bila kadar air biji di awal penyimpanan diturunkan hingga 13% dan bahkan dapat ditingkatkan menjadi 6 bulan bila kadar air biji 11%.

Karakteristik Komoditas Jagung

Jenis dan Klasifikasi Jagung

Berdasarkan tujuan penggunaan atau pemanfaatannya, komoditas jagung di Indonesia dibedakan atas jagung untuk bahan pangan, jagung untuk bahan industri pakan, jagung untuk bahan industri olahan, dan jagung untuk bahan tanaman atau disebut benih.  

Masing-masing jenis bahan tersebut memiliki nilai ekonomi yang berarti. 

Jagung sebagai bahan pangan, dapat dikonsumsi langsung maupun perlu pengolahan seperti jagung rebus, bakar, maupun dimasak menjadi nasi.

Sebagai bahan pakan ternak, biji pipilan kering digunakan untuk pakan ternak bukan ruminan seperti ayam, itik, puyuh, dan babi, sedangkan seluruh bagian tanaman (brangkasan) jagung atau limbah jagung, baik yang berupa tanaman jagung muda maupun jeraminya dimanfaatkan untuk pakan ternak ruminansia.

Selain itu, jagung juga berpotensi sebagai bahan baku industri makanan, kimia farmasi dan industri lainnya yang mempunyai nilai tinggi, seperti tepung jagung, gritz jagung, minyak jagung, dextrin, gula, etanol, asam organik, dan bahan kimia lain.

Disamping itu, bahan tanaman jagung yang umum disebut benih, merupakan bagian terpenting dalam suatu proses produksi jagung itu sendiri.  

Plasma nutfah tanaman jagung yang tumbuh di dunia mempunyai banyak jenis.  Para ahli botani dan pertanian mengklasifikasikan tanaman jagung berdasarkan sifat endosperma (kernel) sebagai berikut. 

Klasifikasi Biji Jagung Berdasarkan Sifat Endosperma

Berdasarkan penampilan dan tekstur biji (kernel), jagung diklasifikasikan ke dalam 7 tipe yaitu (a) flint corn, (b) dent corn, (c) sweet corn, (d) pop corn, (e) floury corn, (f) waxy corn dan (g) pod corn.  

Dari ketujuh jagung tersebut, jagung mutiara  (flint corn) dan semi gigi kuda (dent corn), serta jagung manis (sweet corn) yang banyak dibudidayakan di Indonesia. 

Jagung mutiara (flint corn) - Zea mays indurata

Biji jagung tipe mutiara berbentuk bulat, licin, mengkilap dan keras karena bagian pati yang keras terdapat di bagian atas dari biji.

Pada waktu masak, bagian atas dari biji mengkerut bersama-sama, sehingga menyebabkan permukaan biji bagian atas licin dan bulat.  

Pada umumnya varietas lokal di Indonesia tergolong ke dalam tipe biji mutiara.  Sekitar 75% dari areal pertanaman jagung di Pulau Jawa bertipe biji mutiara.

Tipe biji ini disukai oleh petani karena tahan hama gudang.

Jagung gigi kuda (dent corn) – Zea mays identata

Bagian pati keras pada tipe biji dent berada di bagian sisi biji, sedangkan pati lunaknya di tengah sampai ke ujung biji.  

Pada waktu biji mengering, pati lunak kehilangan air lebih cepat dan lebih mengkerut dari pada pati keras, sehingga terjadi lekukan (dent) pada bagian atas biji.

Tipe biji dent ini bentuknya besar, pipih dan berlekuk.  

Jagung hibrida tipe dent adalah tipe jagung yang populer di Amerika dan Eropa.  Di Indonesia, terutama di Jawa, kira-kira 25% dari jagung yang ditanam bertipe biji semi dent (setengah gigi kuda).

Jagung manis (sweet corn) – Zea mays saccharata

Bentuk biji jagung manis pada waktu masak keriput dan transparan. 

Biji jagung manis yang belum masak mengandung kadar gula lebih tinggi dari pada pati.  Sifat ini ditentukan oleh satu gen sugary (su) yang resesif.

Jagung manis umumnya ditanam untuk dipanen muda pada saat masak susu (milking stage).

Jagung berondong (pop corn) – Zea mays everta

Pada tipe jagung pop, proporsi pati lunak dibandingkan dengan pati keras jauh lebih kecil dari pada jagung tipe flint.  

Biji jagung akan meletus kalau dipanaskan karena mengembangnya uap air dalam biji.  

Volume pengembangannya bervariasi (tergantung pada varietasnya), dapat mencapai 15-30 kali dari besar semula.  

Hasil biji jagung tipe pop pada umumnya lebih rendah daripada jagung flint atau dent.

Jagung tepung (floury corn) – Zea mays amylacea

Zat pati yang terdapat dalam endosperma jagung tepung semuanya pati lunak, kecuali di bagian sisi biji yang tipis adalah pati keras.  

Pada umumnya tipe jagung floury ini berumur dalam (panjang) dan khususnya ditanam di dataran tinggi Amerika Selatan (Peru dan Bolivia).

Jagung ketan (waxy corn) – Zea mays ceratina

Endosperma pada tipe jagung waxy seluruhnya terdiri dari amylopectine, sedangkan jagung biasa mengandung  ± 70% amylopectine dan 30% amylose.

Jagung waxy digunakan sebagai bahan perekat, selain sebagai bahan makanan.

Jagung pod (pod corn) – Zea mays tunicata

Setiap biji jagung pod terbungkus dalam kelobot, dan seluruh tongkolnya juga terbungkus dalam kelobot. Endosperma bijinya mungkin flint, dent, pop, sweet atau waxy.

Klasifikasi Jagung Berdasarkan Umur Tanaman

Kelompok varietas tanaman jagung berdasarkan umur tanamannya terbagai menjadi tiga seperti dijelaskan dibawah ini :

  1. Varietas Berumur Pendek (Genjah) : umur panennya berkisar antara 70 - 80 hari setelah tanam (HST). Contoh : varietas Medok, Madura, Kodok, Putih Nusa, Impa Kina, dan Abimayu.
  2. Varietas Berumur Sedang (Medium) : umur panennya berkisar antara 80 - 100 HST.  Contoh : varietas Panjalinan, Bromo, Arjuna, Sadewa, Parikesit, Hibrida C-1 dan CPI-1.
  3. Varietas Berumur Panjang (Dalam) : umur panennya berkisar antara 80 - 110 HST.  Contoh : varietas Harapan, Metro, Pandu, Bima dan Composit-2. 

Klasifikasi Jagung Berdasarkan Tempat Penanaman

Tanaman jagung dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi.  

Berdasarkan ketinggian tempat penanaman, jagung dibedakan menjadi dua kelompok varietas sebagai berikut :

  1. Varietas jagung dataran rendah : dapat tumbuh dan berproduksi baik di daerah yang mempunyai ketinggian kurang dari 1.000 m dpl. Contoh : varietas Harapan, Arjuna, Sadewa, Parikesit, Bromo, Abimayu, Kalingga dan Wiyasa.
  2. Varietas jagung dataran tinggi : dapat tumbuh dan berproduksi baik di daerah yang mempunyai ketinggian lebih dari 1.000 m dpl. Contoh : varietas Bima, Pandu, Kania Putih, dan Baster Kuning

Klasifikasi Jagung Berdasarkan Ketahanan Terhadap Hama dan Penyakit

Setiap varietas jagung memiliki ketahanan yang berbeda dengan varietas lain terhadap serangan hama dan penyakit.

Berdasarkan sifat ketahanan tersebut tanaman jagung dapat dibedakan menjadi empat jenis varietas :

  1. Varietas yang Tahan (Resisten) : varietas yang tahan (tetap tumbuh dan berproduksi dengan baik) apabila dalam keadaan hama dan penyakit berkembang dengan baik serta merupakan tanaman yang jagungnya terserang kurang dari 10%. Contoh : C-1, Pioneer-1, Pioneer-2, Sadewa, Semar-1 dan Semar-2. 
  2. Varietas yang Toleran : varietas yang toleran terhadap hama dan penyakit ditandai dengan kemampuan varietas jagung yang hanya terserang 11%-25% pada saat hama dan penyakit berkembang dengan baik.  Contoh : DMR 5, C1, C2, dan IPB-4. 
  3. Varietas Setengah Toleran : tanaman yang ditandai dengan kemampuan terserang antara 26%-50% oleh hama dan penyakit pada saat organisme tersebut berkembang dengan baik.  Cotohnya : semua varietas jagung unggul. 
  4. Varietas Peka : tanaman yang ditandai dengan kemampuan terserang lebih dari 50% pada waktu organisme tersebut berkembang biak.  Contohnya : varietas Metro.

Klasifikasi Jagung Berdasarkan Pembentukannya

Tanaman jagung adalah tanaman yang menyerbuk silang, artinya sebagian besar 
(± 95%) penyerbukannya berasal dari tanaman lain.

Pada umumnya tanaman menyerbuk silang atau bersari bebas, susunan genetik antar satu tanaman dengan yang lain dalam suatu varietas akan berlainan.

Oleh sebab itu sifat-sifat pada tanaman menyerbuk silang akan menunjukkan suatu varietas yang besar.

Walaupun demikian, varietas tersebut masih menunjukkan sifat-sifat yang dapat diukur, seperti tinggi tanaman, bentuk tongkol, tipe biji, warna biji dan sebagianya.

Varietas yang telah mengalami seleksi dan adaptasi pada suatu lingkungan akan menunjukkan suatu keseragaman fenotipe yang dapat dibedakan dengan varietas lain.  

Pada dasarnya varietas jagung digolongkan ke dalam dua golongan varietas berikut.

  1. Varietas bersari bebas (non hibrida atau Open Pollinated Variety / OPV)
  2. Varietas hibrida

Varietas Bersari Bebas (Non Hibrida)

Yang dimaksud dengan varietas bersari bebas adalah varietas yang benihnya diambil dari pertanaman sebelumnya, atau dapat dipakai terus-menerus dari setiap pertanamannya dan belum tercampur atau diserbuki oleh varietas lain.  

Benih yang digunakan tentunya berasal dari tanaman atau tongkol yang mempunyai ciri-ciri dari varietas tersebut. 

Berdasarkan bahan penyusunnya, varietas jagung bersari bebas dibedakan menjadi varietas komposit dan varietas sintetik.

  1. Varietas Komposit adalah varietas jagung yang berasal dari campuran lebih dari dua varietas yang telah mengalami persilangan bebas/acak (random mating) minimum lima kali.  Contoh : varietas Harapan, Bogor Composit-2, Bogor BMR-4, dan Wonosobo Composit.
  2. Varietas Sintetik adalah varietas jagung yang berasal dari campuran beberapa galur murni yang telah mengalami penyerbukan sendiri (selfing) minimal satu kali penyerbukan. Contoh : varietas Harapan, Permadi, dan Bogor Sintetik-2. 

Suatu varietas bersari bebas yang sudah dilepas dianggap sudah mencapai keseimbangan genetik (genetic equilibrium), artinya frekuensi allel dan genotipe yang dihasilkan selalu sama dari generasi ke generasi.  

Agar varietas tersebut tidak berubah maka keseimbangan genetik dari varietas tersebut jangan terggangu.

Susunan genetik varietas tersebut tidak akan berubah apabila dipenuhi beberapa hal sebagai berikut.

  1. Varietas tersebut ditanam dalam jumlah yang banyak. Minimal jumlah tanaman tidak   kurang dari 400-500 tanaman, lebih banyak lebih baik. Bila varietas tersebut ditanam dalam jumlah hanya 100 tanaman, maka kemungkinan varietas tersebut akan mengalami  kemunduran dalam sifat-sifatnya  karena adanya tekanan inbreeding sebesar 0,5%.  Bila hanya ditanam 200 tanaman, faktor inbreedingnya sebesar 0,25%.
  2. Terjadinya perkawinan acak (random mating), artinya terjadi perkawinan bebas secara alami di lapang.
  3. Tidak ada seleksi ke arah perubahan sifat-sifat tertentu. Adanya seleksi akan mengubah beberapa variabel dan nilai rata-rata suatu sifat. Tetapi seleksi negatif, seperti halnya membuang tanaman yang menyimpang perlu dilakukan.
  4. Tidak terjadi migrasi atau pencampuran varietas lain.  Pertanaman harus terisolasi dari kemungkinan tercampur dengan varietas lain.
  5. Tidak terjadi mutasi. Kalaupun ada mutasi, kemungkinannya sangat kecil.

Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor (dulu) dalam penelitiannya telah banyak menghasilkan varietas unggul bersari bebas.

Varietas unggul berumur genjah yang terbaik saat ini adalah varietas Arjuna, yang dilepas pada tahun 1980.

Varietas Arjuna  dipanen pada umur 85-90 hari, dan mempunyai hasil rata-rata 4,3 ton/ha. Varietas ini sudah tersebar luas dan banyak ditanam oleh petani.

Varietas unggul berumur dalam yang terbaik adalah varietas Kalingga, yang dilepas pada akhir tahun 1985, berumur  96 hari dan mempunyai hasil rata-rata 5,4 ton/ha atau sama dengan 93% dari hasil rata-rata varietas hibrida C-1 yang berumur 96-100 hari dengan hasil rata-rata 5,8 ton/ha.

Varietas Jagung Hibrida

Varietas jagung hibrida merupakan generasi pertama (F1) hasil persilangan dua tetua galur murni atau lebih (Poehlman dan Sleper, 1995).  

Galur murni didapat setelah dilakukan penyerbukan sendiri (selfing) minimal 5-6 generasi, karena pada generasi kelima secara teoritis didapat tingkat kehomozigotannya yang mendekati 97% (Allard, 1960).  

Penyerbukan sendiri (selfing) pada tanaman yang secara alami menyerbuk silang menyebabkan terjadinya tekanan silang dalam (inbreeding depression), yaitu kemunduran pada vigor tanaman yang disebabkan oleh bertambahnya frekuensi dari alel-alel homozigot, sedangkan heterozigotannya berkurang 50% pada setiap fokus (Sprague, 1995). 

Jika tanaman jagung diserbuki sendiri, keturunan yang diperoleh (galur S1) mempunyai vigor yang lebih rendah daripada tanaman S0 semula, daya hasil berkurang, tinggi tanaman lebih kecil, tongkol lebih besar, dan lain-lain.  

Sebaliknya jika dua galur yang berbeda disilangkan, maka keturunan yang diperoleh (tanaman F1) mempunyai vigor yang lebih besar daripada kedua galur induknya, seperti daya hasil lebih tinggi, tanaman lebih tinggi, tongkol lebih besar, dan lain-lain (Moentono, 1998). 

Bertambahnya vigor pada generasi F1 hasil persilangan antar dua galur murni disebut gejala heterosis.  

Heterosis adalah keunggulan hibrida atau hasil persilangan (F1) yang melebih nilai atau kisaran kedua tetuanya.

Varietas hibrida dapat dibentuk dengan berbagai macam kombinasi persilangan galur murni.  

Kombinasi tersebut adalah: Single CrossDouble CrossThree Way CrossTop CrossModified Single Cross dan lain-lain.  

Single Cross (SC) adalah hibrida yang berasal dari persilangan dua galur murni. 

Double Cross (DC) adalah hibrida yang berasal dari persilangan antara dua Single Cross. 

Sedangkan Three Way Cross adalah hibrida yang berasal dari persilangan antara Single Cross dan suatu galur murni yang lain.

Top Cross adalah hibrida yang berasal dari persilangan antara galur murni dengan suatu varietas atau populasi.  

Modified Single Cross adalah hibrida yang berasal dari persilangan antara Single Cross (yang berasal dari 2 galur yang satu keturunan) dengan galur lain.

Varietas jagung hibrida yang telah dikenal luas selain dihasilkan oleh Pemerintah (Balai Penelitian Tanaman Jagung dan Serealia Lainnya di Maros) juga dihasilkan oleh Perusahaan Swasta seperti daftar di bawah ini.

  1. Varietas Semar 3-8 yang dikeluarkan oleh Balai Penelitian Tanaman.
  2. Varietas BISI 1-8 yang dikeluarkan oleh PT. BISI
  3. Varietas C 1-15 yang dikeluarkan oleh PT. Cargiil.
  4. Varietas P 6-9 yang dikeluarkan oleh PT. Pioneer       

Pada umumnya jagung varietas hibrida yang terbaik akan memberikan hasil lebih tinggi dari pada jagung bersari bebas.  

Hasil rata-rata yang tinggi di beberapa negara Eropa dan Amerika adalah karena digunakannya varietas hibrida.  

Namun terdapat beberapa kelemahan dari penggunaan varietas jagung hibrida, karena dasar berikut.

  1. Untuk mendapatkan hasil yang maksimum, varietas hibrida memerlukan pemupukan yang tinggi dan lingkungan tumbuh yang lebih baik.
  2. Setiap musim pertanaman, petani harus membeli benih baru (F1) yang harganya relatif mahal.
  3. Produksi benihnya sukar dan mahal

Sedangkan keuntungan pemakaian varietas bersari bebas adalah benihnya tidak mahal dan dapat dipoduksi oleh petani, kendati hasil produksinya lebih rendah dibandingkan varietas hibrida. 

Pemanfaatan Jagung dalam Kehidupan

Pemanfaatan jagung dibagi kedalam tiga kategori yang dibedakan berdasarkan kegunaannya, seperti yang dijelaskan dibawah ini.

Pemanfaatan Jagung untuk Bahan Makanan

Jagung merupakan bahan pangan sumber karbohidrat kedua setelah beras.

Pemanfaatan jagung untuk bahan makanan dapat ditingkatkan melalui peningkatan konsumsi per kapita dengan program diversifikasi pangan dengan mengembangkan jagung sebagai bahan pangan alternatif susbtitusi beras. 

Produk olahan jagung yang biasa dikonsumsi manusia antara lain sebagai berikut.

  1. Nasi jagung
  2. Makanan kecil atau snack, seperti jagung bakar, jagung rebus, brondong, dsb.
  3. Produk olahan, seperti pati jagung atau maizena dapat dibuat berbagai macam produk olahan. Produk olahan lainnya adalah tepung jagung yang dapat digunakan untuk pembuatan bermacam-macam makanan. Tepung jagung dapat berperan sebagai tepung terigu, sehingga diharapkan dapat menjadi substitusi tepung terigu, dan dapat mengurangi penggunaan tepung terigu.     

Pemanfaatan Jagung untuk Bahan Pakan

Pemanfaatan jagung bijian sebagai bahan pokok pakan ternak berperut tunggal (ayam ras).

Jagung pipilan kering sebagai bahan penyusun ransum ayam yang utama. Jagung sebagai pakan ternak digunakan sebagai sumber energi dengan kadar karbohidrat 83% dari bahan kering jagung yang antara lain berupa pentosan, pati, dekstrin gula, sellulosa, dan hemisellulosa.

Dilihat dari segi energi dan Total Nutrient Tercerna (TNT), jagung bijian menempati urutan pertama, meskipun dari segi protein, di bawah terigu dan beras.   

Sedangkan potensi limbah jagung untuk pakan ternak, pertimbangan kuantitas harus diimbangi dengan kualitas yang diukur dengan nilai gizinya, misalnya dari TNT, Bahan Kering Tercerna (BKT), dan Bahan Organik Tercerna (BOT).  

Jerami jagung ternyata menduduki ranking kedua setelah jerami padi berdasarkan nilai BKT dan BOT.   

Limbah atau hijauan, brangkasan atau jerami jagung terdiri dari daun batang, setelah panen termasuk klobot dan janggelnya, dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak terutama ruminansia baik dimakan langsung maupun melalui pemrosesan, sebagai Silase, Hay dan Chop. 

Silase

Prinsip pembuatan silase adalah pengolahan bahan atau hijauan dengan cara dipotong-potong, kemudian dimasukkan ke tempat/ruang yang kedap udara (silo) dengan pemadatan, sampai waktu tertentu.

Jika dibandingkan dengan silase rumput, silase jagung mempunyai keunggulan yaitu produksi per satuan luas lebih banyak, lebih konsisten, lebih disukai ternak, lebih tinggi TNT dan vitamin D-nya.

Pembuatan silase jagung yang umum adalah sebagai berikut.

  1. Tanaman jagung yang belum dewasa (milk stage atau periode masak susu). Tanaman jagung, termasuk  batang, daun dan buah muda di potong-potong untuk dibuat silase.  Pada periode ini tanaman jagung kaya akan zat gizi terutama zat gula sehingga membantu proses fermentasi. Silase yang terbentuk lebih disukai sebagai pakan ternak dengan TNT 60 – 75% dan protein 11 – 15%.
  2. Tanaman dewasa (mature stage).  Hijauan atau brangkasan jagung setelah diambil tongkolnya, dipotong-potong untuk dibuat silase.  Hasil silase lebih bulky dan mengandung TNT 30% dan protein 8,3%

Hay

Merupakan hijauan (brangkasan) jagung yang dilayukan kemudian dikeringkan agar awet disimpan.

Pada proses pengeringan dan pelayuan, diperoleh hay dengan kadar air ± 20%, tanpa ada kerusakan nilai gizi kecuali penurunan vitamin A dan vitamin D.

Chop

Tanaman jagung (semua bagian) yang masih muda (milk stage) dipotong-potong, dan langsung digunakan sebagai pakan ternak. Nilai TNT 60 – 75%, protein 11-15%, kaya akan asam amino dan mineral, serta lebih disukai ternak. 

Pemanfaatan Jagung untuk Bahan Baku Industri Olahan

Jagung berpotensi sebagai bahan baku industri makanan, minuman, kimia, farmasi, dan industri lainnya.  

Dari 100 kg jagung dapat dihasilkan 3,5 – 4,0 kg minyak jagung, 27 – 30 kg bungkil makanan ternak, 64 – 67 kg pati, dan sisanya 15-25 kg bagian terbuang.

Varietas Jagung Unggul

Menurut Subandi (1988) varietas unggul adalah varietas yang memiliki beberapa keunggulan, diantaranya : hasil produksi yang tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, adaptasi tumbuh yang luas, dan umurnya genjah.  

Salah satu varietas yang mempunyai keunggulan untuk meningkatkan produksi jagung adalah varietas hibrida.  

Namun terdapat juga varietas bersari bebas yang unggul karena daya adaptasi yang baik dengan tempat tumbuhnya.  

Contoh gambar tongkol jagung beberapa varietas unggul dapat dilihat pada gambar.

 

jagung varietas unggul

Dari Kanan ke Kiri Tongkol Jagung Varietas Kalingga, Wiyasa, Hibrida C-1, dan Pioneer-1.

Setiap tahun pemerintah melepas (merelease) varietas unggul jagung.  

Peningkatan produksi dan produktivitas jagung nasional dapat dipacu dengan ketersediaan varietas unggul yang berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, serta produksinya stabil.

Varietas Arjuna yang dilepas tahun 1990 hingga saat ini paling popouler ditanam oleh petani.  

Varietas tersebut memberikan hasil rata-rata 4 ton pipilan kering per hektar, sehingga dapat meningkatkan hasil rata-rata jagung nasional. 

Selain varietas Arjuna, masih banyak varietas unggul yang baru direlease oleh pemerintah sampai tahun 1999 seperti varietas Semar-3, Semar-4, Semar-5, dan lainnya.  

Data karakteristik varietas unggul lainnya yaitu untuk varietas jagung hibrida dan jagung bersari bebas berdasarkan umur, potensi hasil, lingkungan tumbuh serta tahun dilepas (direlease) oleh pemerintah.

Persyaratan Tumbuh Tanaman Jagung

Menurut Effendi (1985) tanaman jagung mempunyai kemampuan beradaptasi lebih luas dibandingkan tanaman serelia lainnya.

Meskipun demikian, jagung akan tumbuh lebih baik pada tanah-tanah subur, berdrainase baik, suhu hangat dan curah hujan merata sepanjang tahun dengan curah hujan bulanan sekitar 100–125 mm.  

Kisaran pH yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jagung adalah  5,5 – 8,0 dengan pH optimum 6,0 – 7,0. Suhu rata-rata yang dibutuhkan tanaman jagung adalah sekitar 21 – 32° C.

Suhu Ideal Tanaman Jagung

Suhu panas dan lembab amat baik bagi pertumbuhan tanaman jagung pada periode fase vegetatif sampai fase reproduktif, terutama pada saat mengakhiri pembuahan.   

Suhu yang terlalu panas dan kelembaban udara rendah berpengaruh kurang baik terhadap pertumbuhan dan produksi jagung karena menyebabkan rusaknya daun dan terganggunya persarian bunga. 

Temperatur yang dikehendaki tanaman jagung antara 21° C hingga 30° C.

Akan tetapi temperatur optimum antara 23° C sampai 27° C.

Hal ini tidak menjadi masalah yang berarti bagi areal pertanaman jagung di Indonesia. 

Di Jawa Timur yang terkenal banyak diusahakan tanaman jagung mempunyai suhu antara 25–27° C.

Proses perkecambahan benih memerlukan temperatur yang cocok, kehidupan embrio dan pertumbuhanannya menjadi kecambah akan optimal pada suhu kira-kira 30° C dengan kapasitas air tanah antara 25-60%.

Keadaan suhu rendah dan tanah basah sering menyebabkan benih jagung membusuk.

Ketinggian Tempat Ideal Tanaman Jagung

Jagung dapat ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai di daerah pegunungan yang memiliki ketinggian antara 1.000-1.800 m dpl.  

Jagung yang ditanam di daerah dataran rendah yaitu pada ketinggian di bawah 800 m dpl dapat berproduksi dengan baik, dan pada ketinggian di atas 800 m dpl pun jagung masih bisa memberikan hasil yang baik pula. 

Keadaan Tanah Ideal Tanaman Jagung

Kedaan tanah yang kaya hara dan humus sangat cocok untuk tanaman jagung.

Disamping itu tanaman jagung juga toleran terhadap berbagai  jenis tanah.  

Namun tanaman jagung akan tumbuh lebih baik pada tanah yang bertekstur lempung (lempung berdebu atau berpasir) dengan struktur tanah remah, aerasi dan drainasenya baik serta cukup air.  

Tanaman jagung toleran terhadap kemasaman tanah pada kisaran pH 5,5–7.  Tingkat kemasaman tanah yang paling baik untuk tanaman jagung pada pH 6,8. 

Intensitas Penyinaran Ideal Tanaman Jagung

Sinar matahari merupakan sumber energi dan sangat membantu dalam proses asimilasi daun.

Pada proses asimilasi tersebut sinar matahari berperan langsung pada pemasakan makanan yang kemudian diedarkan ke seluruh bagian tubuh tanaman. 

Di daerah tropis faktor penyinaran tidak menjadi masalah yang berarti. Intensitas penyinaran matahari cukup berarti bagi kehidupan tanaman dan sinar matahari berperan dalam pembentukan batang.

Curah Hujan Ideal Tanaman Jagung

Air sangat diperlukan untuk hidup semua makhluk, termasuk tanaman.

Air dapat menyediakan atau menyiapkan zat hara dari dalam tanah ke daerah perakaran tanaman, sehingga memudahkan proses penyerapan hara oleh akar-akar tanaman.

Pada daerah yang curah hujannya merata dengan batas musim kemarau yang kurang tegas, seperti daerah di Jawa Barat, maka kebutuhan air cukup terpenuhi sehingga jagung dapat tumbuh dengan baik.

Berdasarkan hasil penelitian pada temperatur 23° C, jumlah air yang diuapkan tiap tanaman satu tanaman per hari mencapai 1,8 liter. Makin tinggi temperatur, maka air yang diuapkan juga semakin banyak.

Kemiringan Tempat Ideal Tanaman Jagung

Kemiringan tanah ada hubungannya dengan gerakan air pada permukaan tanah.

Hal ini menjadi salah satu syarat kehidupan tanaman, termasuk tanaman jagung. Tanah dengan kemiringan kurang dari 8% dapat dilakukan penanaman jagung.

Pada tingkat kemiringan tersebut sangat kecil kemungkinan terjadinya erosi tanah.

Jagung umumnya kurang toleran terhadap kemasaman tanah.

Ketersediaan hara utama, seperti P sangat rendah di lahan kering masam. Untuk dapat ditanami jagung dengan hasil yang memadai, tanah Podsolik Merah Kuning memerlukan pengeloaan yang baik dan pemupukan atau penambahan unsur hara yang cukup tinggi (Subandi et al., 1998). 

Pola Produksi Tanaman Jagung

Jagung pada umumnya ditanam di lahan kering (tegalan) secara tumpangsari, campuran atau monokultur.  

Padi gogo, ubi kayu, dan kacang-kacangan, seperti kedelai dan kacang tanah, merupakan tanaman yang sering digunakan petani dalam tumpangsari atau tanam campuran dengan jagung.  

Tanaman jagung, disamping ditanam secara monokultur, dapat pula ditanam secara tumpang sari dengan padi gogo, kedelai, ubi jalar maupun dengan kacang hijau.  

Sketsa tanam tumpang sari disajikan pada gambar.

 Tumpang Sari Jagung dengan Padi Gogo dan Ubi Kayu

Tumpang Sari Jagung dengan Padi Gogo dan Ubi Kayu.

 

Tumpang Sari Jagung dengan Padi Gogo dan Ubi Kayu
Tumpang Sari Jagung  dengan Padi Gogo dan Ubi Kayu.

Tumpang Sari Jagung dengan Ubi Jalar
Tumpang Sari Jagung dengan Kedelai.

Produksi jagung dapat dibedakan ke dalam empat sistem yaitu berdasarkan tipe lahan (karakteristik tanah dan pengaturan air), sistem pertanaman (tunggal dan tumpangsari), dan keuntungan dari pengelolaan masukan (pupuk dan masukan lain) (Mink et al., 1987). 

Berdasarkan tipe lahan, jagung diproduksi  di lahan kering dan sawah.  

Sistem tegalan meliputi areal yang luas dan sangat heterogen serta terdapat perbedaan frekuensi panen.

Sistem produksi jagung di lahan sawah relatif seragam meskipun lahan sawah tadah hujan memiliki produktivitas yang relatif lebih rendah daripada lahan sawah irigasi.

Lahan Tegalan

Sistem produksi di lahan tegalan dibedakan ke dalam dua sistem yaitu tanam ganda dan tanam tunggal.  

Luas pertanaman jagung di lahan tegalan diperkirakan 80%, terdiri dari 55% tanam ganda dan 2% tanam tunggal.

Tanam Ganda

Jagung ditanam 2 atau 3 kali setahun pada tipe tanah, zone iklim dan ketinggian tempat yang beragam sehingga pertanaman ketiga sering mengalami kekeringan.

Berdasarkan tingkat produktivitas, sistem ini terbagi ke dalam dua subsistem yaitu subsistem produktivitas tinggi dan rendah.  

Pada subsistem produktivitas tinggi, petani umumnya menggunakan varietas unggul dengan takaran pupuk tinggi.

Subsistem produktivitas rendah antara lain terdapat di dataran tinggi JawaTengah dan Sulawesi Selatan. 

Di daerah ini, petani dihadapkan kepada rendahnya harga produksi sehingga mereka menggunakan pupuk dengan takaran rendah dan menanam varietas lokal.

Tanam Tunggal

Jagung ditanami 1 kali dalam setahun. Sistem ini dirikan oleh tumpang sari jagung dengan ubi kayu.  

Jagung umumnya ditanam di awal musim hujan setelah hujan pertama turun dan ubi kayu ditanam sebulan kemudian.  

Sistem tanam tunggal juga dapat dibedakan ke dalam dua subsistem yaitu subsistem produktivitas tinggi dan produktivitas rendah.  

Subsistem produktivitas tinggi antara lain terdapat di Jawa Timur dan Lampung, sedangkan subsistem produktivitas rendah di sepanjang pantai selatan Jawa yang tingkat kesuburan tanahnya relatif rendah dan  petani umumnya jarang atau sebagian bahkan tidak menggunakan pupuk.

Lahan Sawah Tadah Hujan

Terdapat di Jawa Tengah, Jawa timur dan Sulawesi Selatan, sistem produksi di lahan sawah tadah hujan mencakup areal 10% dari total luas pertanaman jagung.

Pada agroekosistem ini, kesuburan tanah relatif tinggi dan jagung diusahakan sebelum dan sesudah padi.  

Ketersedian air di lahan sawah tadah hujan tergantung pada hujan sementara periode hujan relatif pendek.

Oleh karena itu, usahatani jagung di ekosistem ini memerlukan varietas umur genjah. 

Lahan Sawah Irigasi

Luas pertanaman jagung di lahan sawah irigasi diperkirakan 10% dari total luas pertanaman jagung, diantaranya terdapat di Kediri dan Malang, Jawa Timur.

Dalam sistem ini petani umumnya sudah menerapkan teknologi maju seperti penanaman jagung hibrida dengan masukan tinggi.   

Karena itu hasil rata-rata yang diperoleh petani di ekosistem ini lebih tinggi dibanding ekosistem lainnya.

Lahan Bukaan Baru

Sistem produksi jagung di lahan bukaan baru umumnya terdapat di luar Jawa, selain di lahan kering juga di lahan rawa pasang surut.  

Pada lahan pasang surut, petani transmigran menanam jagung di guludan (dalam sistem surjan) dan padi di tabukan.  

Hasil jagung di ekosistem ini bervariasi, tergantung kondisi lahan dan tata air.

Serangan Hama dan Penyakit Tanaman Jagung

Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya produksi jagung adalah serangan hama dan penyakit. 

Serangan hama dan penyakit ini terbukti bisa menurunkan produksi jagung sampai kira-kira di atas 50% apabila tidak ditangani dengan tepat dan benar.

Hama yang dominan menyerang tanaman pada musim hujan adalah lalat bibit (Atherigona sp.) dan penggerek jagung (Ostrinia furnacalis), sedangkan pada musim kemarau adalah hama perusak daun dan penggerek jagung.  

Hama perusak daun yang kerap mengganggu tanaman jagung meliputi  Lamprosema indicataProdenia litura, dan Spodoptera mauritia

Ulat tanah (Agrotis spp.) dan hama lundi adakalanya menjadi masalah pula di daerah tertentu.  

Penyakit penting jagung selain bulai (Peronoclerospora maydis) adalah hawar daun (Helminthosporium turticum), busuk pelepah (Rhizoctonia solani), karat (Puccinia polysora), bercak daun (Helminthosporium maydis), busuk tongkol (Fusarium sp.) dan busuk batang (Erwinia sp.). 

Varietas unggul yang dilepas sejak tahun 1978 umumnya dinilai tahan terhadap bulai dengan tingkat ketahan yang berbeda.

 Akan tetapi, penularan penyakit ini tergantung kepada genotipe dan kepadatan inokulum.  

Varietas Arjuna yang pada awalnya dikenal tahan dapat terinfeksi sampai 45–50%, bahkan mencapai 70% bila inokulum melimpah.  

Kenyataan di lapang menunjukkan hingga saat ini belum ada varietas yang tidak dapat tertular oleh penyakit bulai.  

Penelitian membuktikan pula bahwa tidak terdapat interaksi antara varietas dengan lokasi pertanaman dan antara varietas dengan spesies penyakit (Subandi et al., 1988). 

Aspek Pemasaran Usaha Tanaman Jagung

Perkembangan Produksi Jagung Nasional

Kebutuhan jagung dalam negeri sebagian besar dipenuhi oleh jagung produksi dalam negeri.  

Potensi peningkatan produktivitas pengembangan dan perluasan tanaman jagung masih cukup besar, hal ini terlihat dari produksi jagung dalam negeri yang cenderung naik dan belum mengalami kejenuhan.  

Perkembangan produksi domestik dapat  dilihat dari dua aspek yaitu luas panen dan produksi.

Perkembangan luas panen jagung di Indonesia selama 7 tahun (1994-2000) terakhir sangat berfluktuasi dengan rata-rata 2,82% per tahun.

Perkembangan luas panen berkorelasi positif dengan perkembangan produksi jagung selama periode tersebut, dengan rata-rata produksi sebesar 8.768.279 ton per tahun dan peningkatannya sebesar 6,63% per tahun.  

Begitu juga perkembangan produktivitas yang semakin meningkat dari tahun 1994-2000 dengan nilai rata-rata sebesar 25,28% per tahun. 

Grafik Produksi jagung nasional

Grafik Perkembangan Luas Panen Dan Produksi Jagung di Indonesia

Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Jagung di Indonesia Tahun 1994-2000

Tahun

Luas Panen (000 ha)

Produksi (000 ton)

Produktivitas (Ku/ha)

1994

3.047

6.752

22,09

1995

3.596

8.143

22,58

1996

3.685

9.201

24,86

1997

3.302

8.672

26,14

1998

3.712

10.111

26,14

1999

3.456

9.204

27,53

2000

3.500

9.677

27,65

Sumber : BPS, 2001 

Secara umum selama kurun waktu 1994-2000, tahun 1998 menunjukkan produksi dan luas panen jagung tertinggi.  

Walupun pada tahun 1998 masih dalam kondisi krisis ekonomi.  

Hal ini menunjukkan peluang Indonesia masih cukup besar dalam mengembangkan produksi jagung.  

Selama periode 1994-2000, produksi jagung terendah terjadi pada tahun 1994. 

Hal ini disebabkan pada tahun 1994 sebagian besar pertanaman jagung di Indonesia masih menggunakan benih lokal dengan produktivitas yang rendah.  

Terjadi peningkatan produksi pada tahun 1995, karena pada tahun tersebut pertanaman jagung Indonesia sudah mulai menggunakan benih varietas hibrida walaupun baru mencapai 7,5% sehingga terjadi peningkatan sebesar 17,99% dari tahun sebelumnya.  

Begitu juga pada tahun 1996, penggunaan varietas hibrida sudah mencapai 10,3% dengan produksi rata-rata 5,0 ton/Ha (Deptan, 1995) dan mengalami peningkatan sebesar 2,50% dari tahun sebelumnya.

Penggunaan varietas jagung hibrida meningkatkan produktivitas rata-rata 3,87% per tahun, meskipun produktivitas ini masih jauh lebih rendah dari tingkat hasil potensial yang bisa dicapai verietas jagung hibrida sekitar 7-8 ton/ha sedangan potensi varietas bersari bebas sekitar 4-5 ton/ha.  

Penggunaan varietas jagung hibrida terus meningkat dengan adanya perusahaan benih seperti PT BISI, PT Pioneer,  PT Cargill, PT Monagro Indonesia dan PT Sang Hyang Seri.   

Di dalam negeri, produsen jagung utama masih di Jawa.  Data pada Tabel 13 menunjukkan bahwa dari tahun 1994-2000 perkembangan produksi jagung di Pulau Jawa cenderung meningkat dan perkembangannya jauh lebih pesat daripada di luar Pulau Jawa.  

Pada tahun 2000, produksi jagung di Pulau Jawa mencapai 5.787.174 ton dengan luas panen 1.886.015 ha. Sedangkan di luar Pulau Jawa sebesar  3.889.725 ton dengan luasan panen  1.542.990 ha. 

Penghasil jagung terbesar di Jawa adalah propinsi Jawa Timur dengan total produksi sebanyak 3.487.735 ton (1.170.481 ha), kemudian diikuti propinsi Jawa Tengah 1.713.805 ton, Jawa Barat 412.020 ton, DI Yogyakarta 173.536 ton dan  DKI Jakarta hanya 78 ton.  

Sedangkan penghasil jagung terbesar di luar Jawa adalah Sumatera 2.097.280 ton (745.146 ha), dimana propinsi Lampung menduduki posisi teratas dengan produksi sebanyak 1.122.954 ton (382.401 ha).  

Selanjutnya diikuti Sulawesi sebanyak  998.083 ton (408.048 ha), Bali dan Nusa Tenggara 688.652 ton (323.430 ha), Kalimantan 91.708 ton (56.978 ha), serta Maluku dan Papua sebanyak 14.002 ton (9.388 ha).  

Perkembangan Produksi Jagung di Indonesia Tahun 1994-2000

Propinsi

Produksi (Ton)

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

Sumatera

1.052.861

1.478.398

1.631.884

1 .868.493

 1.994.126

2.188.814

2.097.280

Bali, Nusa Tenggara

535.730

559.359

709.031

735.554

675.126

660.882

688.652

Kalimantan

55.479

64.580

86.625

83.840

85.460

97.975

91.708

Sulawesi

782.015

1.009.149

1.140.304

1.115.411

1.211.586

997.893

998.083

Maluku & Irian Jaya

26.820

20.593

24.921

26.370

13.382

16.313

14.002

Luar Jawa

2.452.905

3.132.079

3.592.765

3 .829.668

3.979.680

3.961.877

3.889.725

Jawa

4.299.241

5.010.784

5.608.042

4.841.838

6.130.877

5.242.159

5.787.174

Indonesia

6.752.146

8.142.863

9.200.807

8.671.506

10.110.557

9.204.036

9 .676.899

Sumber : BPS, 2001

Panen raya jagung di Indonesia biasanya terdapat pada bulan Januari sampai bulan Maret yaitu hasil dari pertanaman pada periode Oktober sampai dengan Desember. 

Hal ini menunjukkan bahwa pada bulan Januari sampai Maret terjadi penumpukan/kelebihan produksi jagung, dilain pihak pada periode yang lain kekurangan produksi jagung.

Padahal untuk mengembangkan industri pengolahan jagung diperlukan kontinyuitas bahan baku.

Sehingga tidak heran Indonesia akan mengimpor jagung dalam jumlah yang besar pada periode kekurangan produksi jagung.  

Rendahnya produktivitas jagung di Indonesia disebabkan oleh  beberapa faktor antara lain : (1) varietas unggul belum digunakan sepenuhnya, (2) belum menggunakan benih berkualitas, dan (3) teknik budidaya, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit belum adoptif terhadap perkembangan teknologi maju yang ada di lapangan. 

Jika dilihat dari volume impor permintaan komoditas jagung cenderung meningkat.  

Hal ini disebabkan berkembangnya industri pengolahan, pakan ternak dan konsumsi per kapita.  

Tercatat pada tahun 1994 ada 162 perusahaan pakan ternak  dengan kapasitas terpasang 5.681.989 ton  per tahun dengan menyerap tenaga kerja 17.061 orang dan investasi yang mencapai Rp 460 Milyar. 

Dalam dua tahun terakhir ini tahun 1999 produksi pakan sebesar 3,7 juta ton dan tahun 2000 sebesar 5 juta ton atau setara dengan 2,5 juta ton jagung (Bisnis Indonesia, 2000).  

Peningkatan produksi untuk konsumsi bahan makanan dalam kurun waktu 1996 – 1999 semakin meningkat yaitu dari 69,7% pada tahun 1996 menjadi 85,3% pada tahun 1999.

Ini menunjukkan semakin pentingnya jagung sebagai bahan makanan pengganti beras. Sebaliknya persentase penggunaan jagung untuk bahan industri olahan semakin menurun yaitu dari 18,2% pada tahun 1996 menjadi 2,7% tahun 1999.  

Untuk persentase pemanfaatan jagung jumlahnya relatif kecil namun dalam kurun waktu 1996–1999 relatif stabil sekitar 6%.

Namun mulai tahun 2000 pemanfaatan jagung untuk pakan ternak diperkirakan akan meningkat seiring dengan perbaikan ekonomi dan bangunnya pengusaha ternak Indonesia. 

Perkembangan Produksi Jagung Dunia

Negara produsen jagung utama dunia adalah Amerika Serikat, pada tahun 1995 pangsa jagung Amerika mencapai 36,4 %.  

Data tahun 1997 menunjukkan Amerika memproduksi jagung sebesar  237.897.000 ton.

Berdasarkan perkembangan selama periode 1985-1995, produksi jagung yang dihasilkan oleh negara-negara penghasil utama, misalnya China, Amerika, India dan lainnya cenderung mengalami penurunan pangsa produksi.   

Sebagai contoh tahun 1985 pangsa produksi jagung di negara utara sebesar 51,1% turun hingga sebesar 41,6% pada tahun 1995.  

Sebaliknya, pangsa produksi jagung di negara-negara Asia cenderung mengalami peningkatan pada periode yang sama yaitu 19,0% menjadi 28,8%.  

Pangsa produksi jagung di Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup berarti yaitu dari 0,9% menjadi 1,6% selama periode yang sama.  

Secara agregat produksi jagung dunia selama periode 1985-1995 mengalami peningkatan sebesar 5.6% atau dengan laju rata-rata sekitar 0,5% per tahun. 

Berdasarkan laporan CIMMYT (2001), menyatakan bahwa selama periode 1997-1999 negara-negara sedang berkembang yang memproduksi jagung terbesar adalag adalah negara China sebanyak 121.363.000 ton dengan produktivitas sebesar  4,9 ton/ha.  

Kemudian disusul oleh India (10.694.000 ton).  

Indonesia menempati urutan ketiga dari 10 negara terbesar penghasil jagung tersebut, yaitu sebanyak 9.358.000 ton.  

Secara agregat untuk negara sedang berkembang rata-rata produksi jagung dunia sebesar 96.062.000 ton selama periode 1997-1999 dengan peningkatan produktivitas 2,9 ton/ha.  

Data selengkapnya mengenai 10 negara tersebut disajikan pada  Tabel.

Rata-rata Produksi, Produktivitas dan Luas Areal Panen Jagung dari 10 Negara Sedang Berkembang Penghasil Jagung Terbesar di Dunia berdasarkan Nilai Produksinya Tahun 1997-1999

No.

Negara

Produksi            (000 ton)

Produktivitas (ton/ha)

Luas Areal Panen (000 ha)

1.

China

121.363

4,9

24.996

2.

India

10.694

1,7

6.223

3.

Indonesia

9.358

2,6

3.547

4.

Afrika Selatan

8.514

2,3

3.691

5.

Egypt

6.164

7,1

864

6.

Nigeria

5.419

1,3

4.111

7.

Thailand

4.483

3,6

1.263

8.

Philipina

4.266

1,6

2.594

9.

Ethiopia

2.724

1,7

1.606

10.

Tanzania

2.362

1,3

1.785

Negara berkembang

96.062

2,9

276.325

Sumber : CIMMYT, 2001

Jika dilihat dari rata-rata luas areal panen jagung terbesar dari negara-negara berkembang adalah China seluas 24.996.000 ha, kemudian India 10.694.000 ha.  

Namun terbesar ketiga bukan Indonesia melainkan negara Nigeria.  

Indonesia sendiri menempati urutan kelima dari 5 negara yang mempunyai rata-rata luas areal panen jagung terbesar di dunia dalam kategori negara-negara berkembang.  

Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel.

Rata-rata Produksi, Produktivitas dan Luas Areal Panen Jagung dari 10 Negara Sedang Berkembang Penghasil Jagung Terbesar di Dunia berdasarkan Nilai Luas Areal Panennya Tahun 1997-1999

No.

Negara

Produksi (000 ton)

Produktivitas (ton/ha)

Luas Areal Panen (ha)

1.

China

24.996

4,9

121.363

2.

India

6.223

1,7

10.694

3.

Nigeria

4.111

1,3

5.419

4.

Afrika Selatan

3.691

2,3

8.514

5.

Indonesia

3.547

2,6

9.358

6.

Philipina

2.594

1,6

4.266

7.

Tanzania

 1.785

1,3

2.362

8.

Ethiopia

 1.606

1,7

2.724

9.

Kenya

1.502

1,5

2.255

10.

Zimbabwe

1.437

1,2

1.710

Negara berkembang

96.062

2,9

276.325

Sumber : CIMMYT, 2000

Perkembangan Konsumsi Jagung Nasional

Secara umum tingkat konsumsi jagung rumah tangga di pedesaan lebih tinggi dibandingkan di wilayah perkotaan.  

Berdasarkan data BPS (2000), propinsi-propinsi yang tingkat konsumsi jagung per kapitanya tergolong tinggi adalah Lampung (11,84 kg/kapita/tahun), Jawa Tengah (8,57 kg/kapita/tahun), Sulawesi Utara (13,79 kg/kapita/tahun) dan Sulawesi Tenggara (14,66 kg/kapita/tahun). 

Total permintaan merupakan penjumlahan dari konsumsi rumah tangga dan permintaan antara industri pengolahan dengan industri lainnya.

Proyeksi konsumsi jagung dapat digunakan parameter dengan asumsi-asumsi laju pertumbuhan penduduk per kapita pada tahun 2003 sebesar 40,00% untuk pedesaan dan 7,5% untuk perkotaan, laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,6% per tahun, elastisitas pendapatan konsumsi jagung 0,1843 untuk pedesaan dan 0,1038 untuk perkotaan, laju penurunan elastisitas pendapatan sebesar 6,00% untuk pedesaan dan 7,5% untuk perkotaan.

Dengan parameter tersebut maka didapat data proyeksi konsumsi untuk tahun 2002 dan 2003 yaitu masing-masing sebesar 31,30 kg/kapita dan 31,40 kg/kapita.

Proyeksi konsumsi total dihasilkan sebesar 3.763.000 ton tahun 2002 dan 6.863.000 ton pada tahun 2003.

Proyeksi total permintaan pada tahun 2002 dan 2003, berturut-turut dapat menjadi sebesar 14.202.000 ton dan 14.755.000 ton pada tahun 2003.

Total konsumsi jagung di Indonesia untuk pangan dari tahun 1996-2000 cenderung meningkat pada kondisi bukan pasar bebas (ada intervensi pemerintah) yaitu dari 6.953.000 ton menjadi 7.870.000 ton pada tahun 2000.   

Begitu juga jika dilihat secara total (untuk pangan dan pakan) mengalami peningkatan yaitu dari 9.205.000 ton (1996) menjadi 10.755.000 ton (2000).  

Jika diproyeksikan sampai tahun 2010 untuk bahan pangan maka akan terjadi peningkatan konsumsi jagung dari tahun ketahun yaitu menjadi 10.596.000 ton, dan secara total diperkirakan mencapai 15.950.000 ton.   

Hal ini juga terjadi pada saat kondisi pasar bebas (adanya intervensi pemerintah).  

Konsumsi jagung untuk alokasi pakan ternak di Indonesia dari waktu ke waktu semakin meningkat  

Berdasarkan data statistik peternakan 2000, pada tahun 2000 konsumsi jagung tahun 2000 meningkat hampir tujuh kali dari 1,1 juta ton tahun 1990 menjadi 7,8 juta ton tahun 2000.   

Peningkatan konsumsi yang luar biasa ini didorong oleh laju pertumbuhan populasi ternak ayam ras.  

Peningkatan konsumsi ini tidak bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri, sehingga masih tetap mengimpor jagung.  

Wilayah konsumsi jagung untuk pakan ternak dari tahun 1990 sampai sekarang tetap terkonsentrasi pada empat wilayah yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sumatera Utara.   

Nilai kontribusinya meningkat menjadi 77% dari total konsumsi jagung pakan.  Pada tahun 1995 keempat daerah tersebut mengkonsumsi jagung sebesar 63% dari total konsumsi jagung untuk ternak.   

Pada tahun 2000 konsumsi jagung terbesar di Indonesia adalah di propinsi Jawa Barat sebesar 25% dari total konsumsi jagung untuk pakan ternak (1.957.000 ton).

Kemudian disusul oleh propinsi Jawa timur sebesar 23% atau sebanyak 1.800.000 ton .

Alokasi Konsumsi Jagung ternak, 1990 dan 2000 (000 ton)

Propinsi

Konsumsi 1990

%

Konsumsi 2000

%

Jawa Barat

304

31

1.957

25

Jawa Timur

141

14

1.800

23

Jawa Tengah – Yogyakarta

109

11

1.487

19

Sumatera Utara

69

7

782

10

Propinsi lainnya

566

37

1.800

23

Total

1.189

100

7.828

100

Sumber : Statistik Peternakan, 2000

Perkembangan Konsumsi Jagung Dunia

Negara-negara di Asia seperti China, India, Jepang, Malaysia dan Indonesia mengalami kenaikan pemanfaatan/konsumsi jagung untuk pakan ternak sekitar 2 - 51% pada tahun 2000 (Bisnis Indonesia, 2000).  

Hal ini menunjukkan dimasa yang akan datang kebutuhan jagung akan meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk dunia.  

Afrika selatan merupakan negara yang mempunyai rata-rata nilai konsumsi jagung perkapita terbesar di dunia, yaitu sebesar 212 kg/tahun.  

Kemudian diikuti oleh negara Malawi sebesar 182 kg/tahun.  Tabel 17 menyajikan data negara 10 negara terbesar dunia yang mempunyai rata-rata nilai konsumsi jagung terbesar.

Rata-rata Konsumsi Jagung Per Kapita (kg/tahun) dari 10 Negara Penghasil Jagung Terbesar di Negara Sedang Berkembang Tahun 1995-1997

No.

Negara

Konsumsi (Kg)

1.

China

121.363

2.

India

10.694

3.

Indonesia

9.358

4.

Afrika Selatan

8.514

5.

Egypt

6.164

6.

Nigeria

5.419

7.

Thailand

4.483

8.

Philipina

4.266

9.

Ethiopia

2.724

10.

Tanzania

2.362

Negara berkembang

9. 062

Sumber : CIMMYT, 2001

Perkembangan Ekspor Impor Jagung

Ekspor

Indonesia masih tetap melakukan ekspor jagung ke berbagai negara di dunia,  walaupun tetap juga melakukan impor jagung dalam volume jauh lebih besar.  

Impor jagung dilakukan untuk memenuhi kebutuhan domestik dimana setiap tahunnya mengalami peningkatan yang sangat siknifikan.  

Ekspor jagung Indonesia dilakukan pada saat terjadi kelebihan suplai jagung di Indonesia.  

Berdasarkan data BPS (2000, diolah) menunjukkan kecenderungan volume dan nilai ekspor jagung Indonesia cenderung turun selama periode 1996-2000.   

Selama periode tersebut volume dan nilai ekspor terbesar pada tahun 1998. Terjadi peningkatan ekspor secara signifikan pada tahun 1997 yang semula 18.956.951 kg (10.885.417 US $) menjadi 624.792.193 kg (65.452.328 US $) pada tahun 1998.  

Dari data menunjukkan bahwa volume dan nilai ekspor jagung Indonesia berfluktuatif dan cenderung turun dari periode tahun 1996-1997, dan 1998 hingga 2000. 

Terdapat 24 negara tujuan ekspor jagung Indonesia selama periode 1996-2000.

Dari ke dua puluh empat negara tersebut, negara tujuan ekspor terbesar berdasarkan volume ekspornya. 

Negara Malaysia menjadi negara tujuan ekspor jagung Indonesia tebesar yaitu 60,66 % dari total keseluruhan ekspor selama periode 1996-2000 dengan total volume ekspor 478.839.447 kg dan nilai ekspor 49.022.752 US $.  

Kemudian diikuti oleh negara Thailand sebesar 10,33 % dari total keseluruhan ekspor selama periode tersebut yaitu 81.574.772 kg (9.572.952 US $) serta negara Jepang sebesar 6,69 % yaitu 52.856.150 kg (9.516.013 US $).  

Selanjutnya dapat dilihat pada  Tabel. 

Volume Ekspor Jagung Indonesia berdasarkan 10 Negara Tujuan Ekspor Terbesar, 1996-2000

Negara Tujuan

1996

1997

1998

1999

2000

Total

% terhadap total

Berat bersih/Net Weight : kg

Belanda

-

4.668.554

-

2.562

-

4.671.116

0,59 %

Filipina

-

1.320.024

5.843.674

1.063.000

769.039

8.995.737

1,14 %

Hong Kong

2.171.220

528.000

5.217.112

3.967.229

1.401.928

13.285.489

1,68 %

Singapura

20.740

13.764

13.327.525

1.275.316

100.864

14.738.209

1,87 %

China

-

-

34.668.571

-

-

34.668.571

4,39 %

Vietnam

7.861.012

-

26.568.565

7.558.500

36.126

42.024.203

5,32 %

Sri Langka

-

-

40.250.000

7.500.000

-

47.750.000

6,05 %

Jepang

16.676.035

9.793.565

2.891.755

9.962.982

13.531.813

52.856.150

6,70 %

Thailand

-

2.100.000

79.089.078

326.000

59.694

81.574.772

10,34 %

Malaysia

76.200

133.500

410.177.273

58.138.850

10.313.624

478.839.447

60,67 %

Lainnya

17.000

399.544

6.758.640

852.406

1.825.784

9.853.374

1,25 %

Sub Total

26.822.207

18.956.951

624.792.193

90.646.845

28.038.872

789.257.068

100 ,00%

Sumber : BPS 2000, diolah

Nilai Ekspor Jagung Indonesia berdasarkan 10 Negara Tujuan Ekspor Terbesar, 1996-2000

Negara Tujuan

1996

1997

1998

1999

2000

Total

% terhadap total

Nilai FOB : US $

Belanda

-

477.578

-

543

-

478.121

0,49 %

Filipina

-

6.750.749

1.396.048

1.343.870

1.417.105

10.907.772

11,17 % 

Hongkong

437.205

110.708

617.912

503.361

191.506

1.860.692

1,91 %

Singapura

2.997

8.533

1.310.704

112.401

17.203

1.451.838

1,49 %

China

-

-

3.328.550

-

-

3.328.550

3,41 %

Vietnam

1.269.151

-

3.015.564

749.040

10.229

5.043.984

5,17 %

Sri Langka

-

-

4.359.550

727.500

-

5.087.050

5,21 %

Jepang

3.536.653

1.885.256

491.875

1.567.871

2.034.358

9.516.013

9,75 %

Thailand

-

1.502.002

7.883.329

166.500

21.121

9.572.952

9,81  %

Malaysia

13.828

14.970

42.265.616

5.692.498

1.035.840

49.022.752

50,22  %

Lainnya

6.630

135.621

783.180

171.477

256.969

1.353.877

1,39 %

Sub Total

5.266.464

10.885.417

65.452.328

11.035.061

4.984.331

97.623.601

100,00 %

Sumber : BPS 2000, diolah

Impor Jagung

Dilihat dari sudut pandang kegunaan jagung untuk bahan pakan (unggas) , dewasa ini tingkat penggunaannya berkisar antara 45-55 %, sehingga diperhitungkan bahwa industri pakan ternak nasional setiap tahunnya membutuhkan sebanyak 3,5 juta ton jagung .

Suplai jagung tergantung pada musim tanam dimana akan terjadi suplai berlebihan pada saat panen raya dan suplai kurang pada saat paceklik, antara panen, ganguan cuaca buruk dan serangan hama dan penyakit, sehingga diperlukan teknik penyimpanan yang lebih baik.  

Walupun pada saat tingkat suplai jagung lokal berlebihan, tetap tidak dapat memenuhi kebutuhan domestik khususnya industri pakan (baik dari volume, harga dan kualitasnya).

Melihat kodisi di Indonesia yang telah dijelaskan diatas, maka Indonesia akan selalu melakukan impor jagung baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pakan ternak dan konsumsi rumah tangga sampai akhirnya mampu mencukupi kebutuhannya sendiri walaupun berdasarkan data BPS (2000), produksi jagung Indonesia terus meningkat dan adanya kebijakan pemerintah Indonesia yang terus mentargetkan untuk tercapainya swasembada jagung.   

Namun peningkatan produksi tersebut masih belum mampu memenuhi kebutuhan domestik, sehingga volume impor jagung Indonesia jauh lebih tinggi daripada ekspornya.

Impor jagung Indonesia yang tercatat di Depperindag berupa biji jagung, tepung jagung dan jagung giling.  

Volume  impor berfluktuasi  dari tahun 1990 – 1999 dan ada kecenderungan naik.  

Meningkatnya impor jagung terutama disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan industri makanan dan pakan ternak.

Berikut ini disajikan data volume dan nilai impor jagung Indonesia dari tahun 1990 sampai 2000.  

Pada tahun 1990 Indonesia masih berstatus  net-exported namun sejak tahun 1995 Indonesia telah menjadi net-imported, artinya nilai ekspor Indonesia lebih rendah dibandingkan nilai impornya sejak tahun 1995 yaitu sebesar 69.730 ton (ekspor) dan 969.193 ton (impor) . 

Volume dan Nilai Impor Jagung Indonesia Tahun 1990-2000.

Tahun

Volume Impor (ton)

Nilai (000 US $)

1990

515

217

1991

323.178

45.686

1992

55.498

7.687

1993

494.446

67.600

1994

1.109.253

151.865

1995

969.193

154.115

1996

616.781

168.496

1997

1.098.353

47.104

1998

313.631

77.717

1999

617.806

158.877

2000

1.256.575

584.106

Total

6.855.229

1.463.469

Sumber : Deperindag, 2000 

Berdasarkan data BPS (2000, diolah) pada Tabel 21 dan 22 dapat dilihat kecenderungan volume dan nilai impor jagung Indonesia selama periode 1996-2000 mengalami peningkatan (sama seperti data yang tercatat di Depperindag).  

Volume impor jagung dari tahun 1996 meningkat signifikan yaitu semula 616.781.364 kg (131.912.571 US $) menjadi 1.098.353.438 kg (168.496.128 US $) pada tahun 1997.  

Namun mengalami penurunan impor yang sangat tajam pada tahun 1998 menjadi 313.630.562 kg (47.103.702 US $).   

Kemudian semakin meningkat lagi pada tahun 1999 menjadi 617.805.972 kg (77.716.863 US $) dan 1.256.575.026kg  (158.876.749 US $) pada tahun 2000.   

Selama periode tersebut, total volume impor jagung terbesar terjadi pada tahun 2000 dan sudah tercatat 30 negara importir jagung didunia yang telah melakukan ekspor jagungnya ke Indonesia.  

Dari 30 negara asal impor jagung Indonesia, China merupakan importir jagung terbesar (negara produsen utama jagung)  untuk Indonesia dengan total volume impor dari negara tersebut selama periode 1996-2000 adalah 2.018.345.716 kg (260.350.352 US $) serta  kontribusinya sebesar 51,71%.   

Kemudian diikuti oleh negara Argentina, Amerika, dan Vietnam yang masing-masing sebesar 818.423.060 kg (141.984.491 US $), 730.309.345 kg (107.154.196 US $), dan 127.731.748 kg (20.475.254 US $), serta negara-negara importir terbesar lainnya yang disajikan pada Tabeldibawah ini.

Volume Impor Jagung Indonesia betdasarkan 10 Negara Tujuan Ekspor Terbesar, 1996-2000

Negara Asal

1996

1997

1998

1999

2000

Total

%

Berat bersih/Net Weight : kg

China

2

494.931

250.853

387.338

885.221

2.018.346

51,71%

Argentina

287.646

429.021

28.469

35.846

37.442

818.423

20,97%

Amerika

151.477

171.705

497

190.297

216.334

730.309

18,71%

Vietnam

36.203

130

45

632

90.722

127.732

3,27%

Afrika Selatan

90.503

302

108

149

-

91.061

2,33%

Thailand

7.764

266

26.193

1.960

1.231

37.414

0,96%

Afrika lain

36.534

-

-

-

-

36.534

0,94%

Myanmar

272

1.579

1.938

-

17.800

21.588

0,55%

India

4.749

-

4.390

270

1.800

11.209

0,29%

Malaysia

41

1

-

1.078

5.337

6.457

0,17%

Lainnya

1.592

419

1.139

236

688

4.072

0,10%

Sub Total

616.781

1.098.353

313.631

617.806

1.256.575

3.903.146

100,00%

Sumber : BPS 2000, diolah

Nilai Impor Jagung Indonesia Menurut 10 Negara Tujuan Ekspor Terbesar, 1996-2000

Negara Asal

1996

1997

1998

1999

2000

Total

%

Nilai CIF : US $

China

2.873

71.373.574

36.482.348

46.815.228

105.676.329

260.350.352

44,57%

Argentina

61.145.898

67.222.250

4.375.866

4.499.605

4.740.872

141.984.491

24,31%

Amerika

30.597.526

27.399.960

204.647

23.119.407

25.832.656

107.154.196

18,34%

Afrika Selatan

20.163.946

213.950

41.984

55.374

-

20.475.254

3,51%

Vietnam

7.227.765

23.256

7.283

140.550

12.675.468

20.074.322

3,44%

Thailand

1.650.227

1.975.293

3.720.799

2.173.350

2.538.370

12.058.039

2,06%

Afrika Lain

8.313.731

-

-

-

-

8.313.731

1,42%

India

1.173.523

-

1.030.519

297.000

1.980.000

4.481.042

0,77%

India

1.173.523

-

1.030.519

297.000

1.980.000

4.481.042

0,77%

Malaysia

20.712

1.049

-

120.993

1.652.645

1.795.399

0,31%

Lainnya

442.847

286.796

209.737

198.356

1.800.409

2.938.145

0,50%

Sub Total

131.912.571

168.496.128

47.103.702

77.716.863

158.876.749

584.106.013

100,00%

Sumber : BPS 2000, diolah

Perkembangan Harga Jagung

Harga input dan output merupakan salah satu faktor penentu yang mempengaruhi tingkat produksi dan konsumsi suatu komoditas.  

Dari harga CIF digunakan untuk melihat dampak tarif impor dan harga FOB untuk melihat dampak ada tidaknya subsidi atau proteksi pemerintah.    

Harga CIF biasanya digunakan untuk komoditas impor seperti jagung, beras, kedelai, dan super fosfat.  

Dalam hal ini dengan border price CIF yang mempergunakan pertumbuhan selama periode 1986-1996 didapat informasi bahwa dengan adanya pencabutan subsidi Urea dan tarif impor untuk TSP selama periode tersebut berpengaruh terhadap panen dan produktivitas tanaman pangan.  

Menurut perhitungan BAPENAS dan Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian bulan Januari tahun 2000 dengan border price CIF tersebut menyatakan bahwa proyeksi pertumbuhan produktivitas komoditi tanaman pangan khususnya jagung lebih rendah (0,58%) tanpa subsidi pemerintah daripada disubsidi pemerintah (1,22%). 

BAPPENAS (2000), melaporkan bahwa perkembangan harga jagung di pasar internasional tidak stabil selama periode 1986-1996.  

Sedangkan untuk harga konsumen jagung dalam negeri relatif lebih stabil selama periode 1988-1998.  

Sehingga secara umum kenaikan harga tahunan komoditas pertanian khususnya jagung di pasar internasional lebih rendah dari pada harga pasar dalam negeri. 

Lebih rendahnya kenaikan harga internasional dibandingkan dengan harga dalam negeri mencerminkan adanya proteksi terhadap komoditas tanaman pangan. 

Jika proteksi tersebut dicabut, maka perkembangan harga dalam negeri akan mengikuti perkembangan harga pasar internasional.  

Dengan kenaikan harga yang relatif lebih kecil, maka volume permintaan per kapita komoditi jagung akan lebih besar. 

Jika produksi jagung local mencapai 11 juta ton per tahun, maka cukup untuk memenuhi kebutuhan jagung yang ketersediaanya terjadi bersamaan.   

Pada saat panen raya, suplai melimpah menyebabkan harga jagung dalam negeri jatuh.  

Sebaliknya pada saat paceklik, harga jagung local naik dan mendorong pedagang untuk mengimpor jagung.

Apabila ikut memperhitungkan faktor nilai tukar rupiah yang sangat fluktuatif, maka harga jagung bisa sangat mahal seperti yang terjadi sekarang ini.   

Daya simpan  untuk menghindari variasi suplai dan harga di kalangan  produsen masih rendah, sehubungan masih sedikitnya silo penyimpanan  dan pengeringan jagung di sentra-sentra produksi jagung. 

Penjualan jagung untuk tujuan non-konsumsi umumnya dilakukan dalam bentuk jagung pipilan.  

Dari hasil penelitian Sumedi et al. (1999),  menunjukkan suatu hal yang menarik dari proses pemipilan jagung di Sumatera Utara dan Lampung.

Kegiatan ini dilakukan oleh pedagang dan mereka menetapkan ongkos pipil yang dibebankan kepada petani. 

Biaya pemipilannya ditetapkan sekitar Rp 15,00 – 25,00 per kilogram jagung pipil.  

Bagi petani hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah, karena keterbatasan waktu yang mereka miliki dan peralatan pemipilan.

Selain itu, adanya keterbatasan waktu untuk segera menggarap lahan sawah bagi usahatani padi.

Hal ini menunjukkan bahwa petani cenderung untuk segera langsung menjual hasilnya sehabis panen, dengan selang waktu 1-15 hari.  

Hanya beberapa petani dengan orientasi konsumsi yang melakukan proses penyimpanan dalam waktu yang relatif lama. 

Proses pembentukan harga di tingkat petani dominan ditentukan oleh pedagang, namun hal ini tidak sepenuhnya dipermasalahkan oleh petani, terutama mereka yang telah terikat pinjaman dari pedagang.  

Di dalam proses ini tidak ditemukan adanya persaingan antar pedagang yang benar-benar terbuka dan tawar-menawar yang ketat, karena antara pedagang dan petani pada umumnya sudah saling kenal dan tercipta satu pola kerjasama yang saling menguntungkan (Syahyuti, 1998).  

Variasi harga yang tinggi umumnya terjadi pada pedagang pengumpul ke atas, terutama terhadap besarnya fluktuasi harga antar musim.  

Berdasarkan hasil penelitian Hutabarat et al. (1993) dan Hadi (1993) dapat dilihat selisih harga jagung di Kediri dalam satu tahun bisa mencapai 44%, namun di tingkat konsumen akhir dan pabrik pakan di Indonesia relatif stabil sepanjang tahun. 

Mereka juga memaparkan peranan pedagang selama satu musim sangat berpengaruh.  

Perkembangan harga jagung eceran di Indonesia dari tahun 1988-2000 relatif stabil dengan rata-rata Rp 1.481/kg dan mencapai harga tertinggi pada bulan Desember tahun 2000 sebesar  Rp 1.594/kg.  

Penentuan harga jual jagung yang layak ditentukan atas dasar :

  1. Harga jual yang minimal yang diterima  petani pada saat panen tiba, ditentukan berdasarkan perhitungan B/C ratio lebih dari 1. Pada saat ini perusahaan akan membeli produksi petani sebesar kontrak atau bila kedua belah pihak sepakat maka seluruh produksinya dapat dijual kepada perusahaan.
  2. Harga jual yang diterima petani pada saat panen ditentukan berdasarkan harga pasar yang berlaku. Perusahaan akan membeli produksi petani sebesar kontrak atau bila kedua belah pihak sepakat maka seluruh produksinya dapat dijual kepada perushaan.
  3. Secara bertahap pihak perusahaan melakukan pembinaan dan bimbingan kepada petani baik secara langsung maupun melalui mitra media. 

Harga jagung di dalam negeri tergantung dari stok dalam negeri, dimana ketika keadaan panen raya maka harga jagung cenderung menurun namun ketika bukan musim tanam jagung, harga jagung pipilan akan meningkat sehingga Indonesia akan mengimpor jagung dari negara produsen jagung dunia seperti Amerika, China atau negara Amerika Latin.  

Seiring dengan diversifikasi produk jagung maka harga jagung cenderung meningkat.   

Pada tahun 1988 harga rata-rata per ton di pasar dunia adalah US $ 107 dan meningkat terus sampai tahun 1997 yang mencapai harga US $122,6.  

Di dalam negeripun fenomena itu terjadi, dimana harga jagung cenderung meningkat dari Rp 266,00/kg (pada tahun 1988) menjadi sekitar Rp 562,00/kg (pada tahun 1997).

Perkembangan Harga Jagung di Pasar Dunia Tahun 1988 - 1997

 

No

 

Tahun

F.O.B

(US$/ton)

C.I.F Jakarta

(Rp/kg)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1988

1989

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

107

112

109

107

104

102

108

123

169

122,6

266

   2

297

307

311

314

333

383

498

562

Sumber :Deptan 1998 

Proyeksi Luas Areal Panen, Produksi, Konsumsi dan Penawaran Jagung 

Proyeksi luas areal panen, produksi, konsumsi dan penawaran jagung secara keseluruhan dari tahun 1996-2010 diproyeksikan meningkat.  

Dari hasil proyeksi keempat aspek tersebut  terlihat adanya kecenderungan yang meningkat dengan laju pertumbuhan 1,22% untuk produksi, luas areal panen 0,36%, produktivitas 0,19%,  permintaan  3,05% dengan laju pertumbuhan 4,0%, dan laju pertumbuhan harga riil jagung 0,78%.   

Data selengkapnya disajikan pada Tabel

Produktivitas jagung di Jawa akan tumbuh dengan laju pertumbuhan sebesar 1,26% dan untuk Luar Jawa produktivitasnya adalah 0,07%.   

Untuk jagung sekitar 30 varietas yang dilepas rata-rata mempunyai produktivitas diatas 3 ton/ha, bahkan terdapat 20 varietas, diantaranya mempunyai produktivitas rata-rata diatas 5 ton/ha. 

Proyeksi Luas Areal Panen, Produksi,  Konsumsi dan Penawaran Jagung Tahun  1996-2010

Tahun

Luas Areal Panen (000 ha)

Produksi (000 ton)

Konsumsi  (000 ton)

Penawaran (000 ton)

1996

3.743

9.307

6.953

8.376

1997

3.756

9.416

7.173

8.474

1998

3.770

9.527

7.400

8.574

1999

3.783

9.640

7.632

8.676

2000

3.796

9.755

7.870

8.779

2001

3.810

9.872

8.114

8.885

2002

3.824

9.991

8.364

8.992

2003

3.837

10.112

8.621

9.101

2004

3.851

10.236

8.883

9.212

2005

3.865

10.361

9.152

9.325

2006

3.879

10.489

 9.428

9.440

2007

3.893

10.620

9.710

9.558

2008

3.907

10.752

9.998

9.677

2009

3.921

10.887

10.294

9.798

2010

3.935

11.025

10.596

9.922

Perkembangan

0,36

1,22

3,05

1,22

Sumber : BAPPENAS dan Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, 2000 

Penawaran jagung di Jawa dan Luar Jawa dari tahun 2002-2010 pada kondisi pasar tidak bebas diproyeksikan meningkat dari tahun ketahun dan peningkatannya lebih cepat dibandingkan pada kondisi pasar bebas.    

Perhitungan proyeksi ini didasarkan pada data penawaran jagung pada tahun 1996-2001 yang mengalami peningkatan dari tahun ketahun yaitu dari 8.376.000 ton (1996) menjadi 8.885.000 ton (2001) untuk kondisi pasar tidak bebas, sedangkan pada saat kondisi pasar bebas semula  8.376.000 ton (1996) menjadi 8.619.000 ton (2001).   

Pada Tabel memperlihatkan data dan proyeksi senjang (gap) antara permintaan dan penawaran jagung di Indonesia baik pada kondisi pasar bebas (tidak ada intervensi pemerintah) maupun ada intervensi pemerintah dimana pada kenyataannya dari tahun 1996-2010 mengalami deficit semakin besar.    

Dengan membandingkan permintaan dan penawaran dari produksi jagung dalam negeri, maka sejak tahun 1996 telah mengalami defisit sehingga harus impor jagung sebesar 616.781.364 kg pada kedua kondisi tersebut, dan seterusnya sampai pada tahun 2001 yang kemudian diproyeksikan akan terus defisit sampai tahun 2010.

Data dan Proyeksi Senjang Penawaran dan Permintaan Jagung Indonesia, 1996-2010

Tahun

Senjang

A

B

1996

(829)

(829)

1997

(1.140)

(1.095)

1998

(1.466)

(1.374)

1999

(1.806)

(1.668)

2000

(2.162)

(1.975)

2001

(2.534)

(2.298)

2002

(2.924)

(2.637)

2003

(3.331)

(2.992)

2004

(3.758)

(3.365)

2005

(4.204)

(3.757)

2006

(4.671)

(4.168)

2007

(5.159)

(4.599)

2008

(5.671)

(5.052)

2009

(6.206)

(5.528)

2010

(6.767)

(6.028)

Sumber          :     BAPPENAS, 2001

Keterangan    :     A = pada kondisi pasar bebas (tanpa intervensi pemerintah)

                           B = pada kondisi pasar tidak bebas (ada intervensi pemerintah)

Kondisi Persaingan Usaha Jagung

Terdapat lima kekuatan yang mempengaruhi persaingan dalam industri yang berbahan baku jagung, dalam hal ini industri pakan ternak yaitu pendatang baru, produk pengganti, pembeli, pemasok dan pesaing

Masuknya perusahaan pendatang baru akan menimbulkan sejumlah implikasi bagi perusahaan yang sudah ada, antara lain terjadinya perebutan market share, perebutan sumberdaya produksi dan peningkatan kapasitas.

Hal ini dapat menimbulkan ancaman bagi perusahaan yang telah ada. 

Ancaman masuknya pendatang baru ditentukan oleh beberapa parameter penghambat yang sering disebut dengan hambatan masuk (barrier to entry), antara lain yaitu besarnya skala ekonomi, tingkat diferensiasi produk, banyaknya modal yang dibutuhkan, besarnya biaya pengalihan, kemudahan mendapat saluran distribusi, keunggulan relatif terhadap perusahaan sejenis serta kondusifnya kebijakan pemerintah dalam membantu pendirian perusahaan baru. 

Menurut Lingga (2001), tingkat ancaman masuknya pendatang baru potensial pada lingkungan industri pakan ayam dikatagorikan sedang.

Hal ini disebabkan kebutuhan modal yang cukup besar untuk membangun usaha baru di sektor pakan ayam.

Kebutuhan modal yang besar, disamping untuk memenuhi skala ekonomi dan peralatan produksi yang digunakan, juga disebabkan tingginya proporsi biaya untuk pemasok bahan baku dari luar negeri.

Karakteristik saluran distribusi dan pemasaran industri pakan ternak ayam yang unik juga membutuhkan modal yang cukup besar.

Saat ini, masing-masing pabrik memiliki jalur pemasaran sendiri, yang hampir tidak bersinggungan dengan pabrik lain. Ini terjadi karena setiap pabrik telah menjalin hubungan kerja dengan peternak pelanggannya.

Kondisi karakteristik saluran distribusi dan pemasaran sedemikian menuntut setiap pemain baru untuk mengeluarkan dana lebih besar untuk membina pelanggan dengan menawarkan produk dan layanan yang lebih baik daripada pemain yang telah ada. 

Kondisi ekonomi Indonesia yang terpuruk dan situasi politik yang belum stabil telah menyebabkan banyaknya perusahaan pakan ternak ayam mengurangi produksinya atau bahkan menutup sementara usahanya.

Implikasinya menyebabkan banyak calon pendatang baru mengurungkan niatnya untuk berinvestasi.

Tahun 1998 mencatat bahwa tidak ada satupun proyek baru dan perluasan di industri pakan ternak ayam.

Bahkan, dari perusahaan pakan yang masih beroperasi, tingkat produksinya tinggal 20% hingga 30%, dan umumnya perusahaan yang dapat bertahan tersebut adalah perusahaan yang memiliki kekuatan finansial dan stok bahan baku yang cukup. 

Pemanfaatan Produksi dan Bentuk Penjualan

Adanya perbedaan orientasi petani dalam usahatani jagung menyebabkan perbedaan karakteristik usahatani yang meliputi penggunaan varietas, penanganan pasca panen dan pemasaran.  

Secara garis besar  orientasi usahatani jagung dapat dibedakan : (1) usahatani yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan, dan (2)  usaha tani yang berorientasi bisnis. 

Produsen yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan, cenderung memilih jagung lokal, yang memiliki rasa yang lebih enak, meskipun produktivitasnya rendah.  

Sementara produsen yang berorientasi pada pasar, lebih memilih jagung yang memiliki produktivitas tinggi, sehingga lebih dominan menggunakan benih jagung hibrida atau setidaknya komposit. 

Perbedaan orientasi produksi dan karakteristik produksi menyebabkan perbedaan dalam karakteristik dan volume pemasaran jagung oleh petani.  

Produsen jagung hibrida umumnya menjual seluruh produksinya sesaat setelah panen, sementara produsen jagung untuk tujuan konsumsi sebagian besar dicadangkan sebagai bahan pangan, hanya sebagian kecil yang dijual untuk memenuhi kebutuhan uang tunai dan bila terjadi kelebihan persediaan.  

Penjualan jagung untuk tujuan non-konsumsi umumnya dilakukan dalam bentuk jagung pipilan. 

Pemasaran jagung non-konsumsi biasanya dilakukan di rumah petani atau di sawah.  Hal ini menunjukkan begitu kuatnya posisi tawar petani, karena para pedagang yang aktif mendatangi petani.

Namun disisi lainnya berakibat terbatasnya ruang gerak petani, dan pada beberapa kasus karena sudah terikat utang dengan pedagang maka petani terpaksa menjual jagungnya kepada pedagang tersebut.  

Sehingga informasi harga yang diterima petani tidak sepenuhnya sempurna dan dalam penentuan harga posisi petani masih sangat lemah. 

Pemasaran jagung untuk konsumsi biasanya proses transaksinya dilakukan di pasar, dan pembelinya dominan konsumen akhir dan pedagang pengecer.  

Pada kondisi ini petani sudah mengetahui informasi harga yang berlaku dari sesama petani dan mereka dapat menjual jagung dengan harga yang mereka inginkan.  

Jagung-jagung yang dijual berupa jagung muda atau jagung kering yang masih bersama tongkolnya. 

Sistem Distribusi Jagung

Propinsi-propinsi yang penduduknya dominan sebagai konsumen jagung pada umumnya merupakan propinsi-propinsi produsen jagung (Lampung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara dan Sulawesi).  

Ini berarti arus jagung untuk memenuhi permintaan konsumsi rumah tangga hanya bergerak di antara kabupaten-kabupaten di dalam masing-masing propinsi tersebut.  

Sementara itu, untuk memenuhi permintaan industri pengolahan pakan ternak dan industri makanan terjadi arus jagung antar propinsi, yaitu propinsi surplus ke propinsi yang mengalami defisit.

Bahkan impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pakan ternak.

Propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta merupakan dua propinsi terbesar penerima arus jagung dari berbagai propinsi sentra produksi jagung, yang diantaranya mencakup propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Sumatera Utara.  

Permintaan jagung untuk industri pengolahan yang cukup besar di Propinsi Jawa Barat dan Jakarta disebabkan oleh alokasi industri pakan dan pengolahan yang cukup banyak tersebar di wilayah tersebut, dimana industri-industri itu memiliki daya serap yang cukup tinggi terhadap komoditas jagung. 

Di Indonesia, pola arus jagung dari produsen kepada pengguna masih dicirikan oleh rantai pemasaran yang cukup panjang.

Meskipun upaya untuk memperpendek rantai pemasaran tersebut telah diupayakan melalui Koperasi Unit Desa (KUD), tetapi dilihat dari perkembangannya belum semua kelompok tani maupun KUD berjalan sesuai dengan yang diharapkan, terutama dalam penanganan pemasaran palawija.  

Jalur pemasaran jagung pipilan (Rantai Tataniaga Jagung untuk Konsumsi dan Industri Pengolahan) secara garis besar dapat dibagi dalam empat skenario sebagai berikut.

Jalur I

Jalur pemasaran dalam skenario ini termasuk kasus yang umum terjadi, dimana arus jagung pipilan bergerak dari petani ke pengguna (konsumen rumah tangga maupun industri pengolahan) melalui berbagai institusi pemasaran, yaitu pedagang pengumpul tingkat desa (PPD), pedagang pengumpul tingkat kecamatan (PPK), pedagang besar/grosir tingkat kabupaten (PBK) dan pedagang besar tingkat propinsi (PBP)/eksportir (EXP)/pedagang antar pulau (PAP).  

Pada, jagung kelobot kering yang dijual petani secara tebasan atau satuan kepada pedagang desa, dilakukan pemipilan terlebih dahulu oleh pedagang desa sebelum dijual kepada pedagang pengumpul tingkat kecamatan.  

Penjualan dari pedagang besar kepada industri pengolahan pakan ternaksering dilakukan melalui broker/agen seperti yang terjadi di propinsi Jawa Timur atau Sulawesi Selatan. Dalam kasus seperti itu, pembelian umumnya dilakukan secara kontrak.

Pembayaran dilakukan oleh broker/agen kepada pedagang, setelah barang dikirim oleh pedagang kepada pabrik pakan sesuai dengan jumlah dalam kontrak. Resiko pengangkutan dan refaksi menjadi tanggungan pedagang.  

Masuknya broker/agen dalam sistem perdagangan jagung ditunjang oleh faktor-faktor berikut (Hutabarat et al., 1993) : (1) Broker/agen memiliki modal yang kuat dan informasi kebutuhan pabrik; (2) Broker/agen dapat memberikan pembayaran secara tunai dan jadwal waktu yang tetap; (3) Hubungan dekat antara broker/agen dengan pegawai pabrik pakan sulit ditembus oleh pedagang. 

Di propinsi sentra-sentra produksi jagung, penyaluran komoditas jagung selain untuk memenuhi kebutuhan pabrik pakan, pabrik pengolahan makanan, dan konsumsi rumah tangga di daerahnya sendiri, apabila terjadi surplus juga disalurkan untuk memenuhi permintaan ekspor mancanegara atau dikirim ke daerah lain (antar pulau/propinsi) melalui eksportir atau pedagang antar pulau. 

Jalur II 

Jalur pemasaran dalam skenario ini terjadi pada daerah-daerah yang KUD-nya telah mapan dan mampu melakukan pembelian jagung dari petani.

Dengan cara ini rantai tataniaga dapat diperpendek, karena KUD dapat langsung menjual ke pedagang besar tingkat propinsi atau DOLOG.  

Kendala yang sering terjadi dalam penjualan melaui DOLOG adalah harga dasar yang ditetapkan BULOG lebih rendah dari harga di pasaran.

Oleh sebab itu pada tahun 1992 harga dasar pembelian jagung kuning pipilan kering dihapuskan dan DOLOG tidak lagi melakukan pembelian jagung.

Jalur III 

Dalam volume yang relatif kecil, petani biasanya menjual langsung ke pasar desa, kecamatan maupun kabupaten tergantung dari jarak terdekat antara pasar tersebut dengan domisili petani.

Selain itu, pada daerah yang terdapat banyak usaha peternakan skala kecil, petani juga melakukan penjualan secara langsung kepada peternak.  

Dari kasus di Jawa Barat yang dikemukakan oleh Hadi et al. (1993), ditemukan adanya kerjasama antara kelompok tani dengan pihak swasta, dimana pihak swasta menyediakan benih unggul jagung dengan sistem kredit yang dibayar setelah panen, dan petani memasarkan hasil panennya kepada pihak perusahaan.  

Kasus di Sulawesi Selatan yang dikemukakan oleh Mink (1984) menyebutkan bahwa untuk memperoleh harga yang lebih tinggi, petani melakukan pengumpulan secara bersama-sama sehingga mencapai suatu jumlah yang dapat diangkut oleh truk, yang kemudian dipasarkan langsung ke luar desa.

Skenario III ini menggambarkan berbagai upaya petani untuk memperoleh harga yang layak dengan melakukan penjualan langsung kepada pengguna dengan memperpendek saluran rantai tataniaga.

Di lain pihak, untuk menjamin pemenuhan kebutuhan akan bahan baku ternak dan sekaligus mendapatkan harga yang lebih rendah, pengusaha pakan ternak skala besar tidak jarang melakukan pembelian jagung pipilan dipedesaan melalui beberapa kaki tangannya yang berdomisili di desa. Kaki tangan ini memperoleh komisi dari pengusaha (Hutabarat et al., 1993).

Jalur IV 

Dalam kondisi defisit bahan baku jagung di dalam negeri, pemerintah melalui BULOG melakukan intervensi dalam pengadaan jagung pipilan domestik dengan mengimpornya dari mancanegara.  

Upaya ini dilakukan untuk menstabilkan harga-harga hasil ternak, seperti telur dan daging ayam.  

Jagung pipilan dari impor tersebut kemudian disalurkan kepada pengusaha-pengusaha pakan ternak. 

Saluran tataniaga jagung muda, jagung manis (sweet corn), dan jagung sayur (baby corn) relatif lebih sederhana dibandingkan dengan jagung pipilan saluran pemasaran ketiga jenis jagung tersebut digambarkan dengan garis lurus tebal. 

Untuk menjamin kelangsungan peningkatan produksi jagung melalui pengembangan intensifikasi jagung diperlukan insentif berupa jaminan pemasaran hasil produksi petani.

Jaminan pemasaran dapat diwujudkan melalui pola kemitraan yang saling menguntungankan antara petani dan mitra usaha. 

Pemasaran produksi petani dilaksanakan dengan menjalin suatu hubungan kerja sama atau kemitraan dengan para pengusaha/industri pakan ternak atau pihak lain.

Bentuk pola kemitraan antara petani dengan mitra usaha dilaksanakan dalam bentuk perjanjian yang akan diikat, dalam bentuk kontrak.  

Pihak yang bermitra adalah :

  1. Petani/Kelompok Tani sebagai mitra tani yang akan menghasilkan produksi.
  2. KUD/BUMN/Suplier swasta sebagai mitra media yang akan menampung, mengeringkan dan meyimpan untuk kemudian menyalurkan secara bertahap kepada industri pengolah makanan ternak atau pengusaha pemasaran lainnya.
  3. Industri pengolah pakan ternak dan pengusaha pemasaran yang menampung hasil dari mitra media. 

Perkembangan Industri Pakan 

Sejak dulu kebijaksanaan industri pabrik pakan baik PMDN maupun PMA tidak dikaitkan kebelakang pada produksi pertanian khususnya pertanian jagung.  

Tiga hal membuktikan hal ini yaitu pertama lokasi industri pakan ini terkonsentrasi di daerah Jabotabek yang merupakan wilayah non pertanian tetapi merupakan daerah industri.  

Kedua, industri ini bebas tarif impor jagung.  

Sehingga para industri pakan masa lalu memang lebih senang impor jagung dari negara asalnya.  

Sementara membeli jagung dalam negeri banyak masalah.    

Pada tahun 1995 terdapat sekitar 97 pabrik pakan yang tersebar di seluruh Indonesia, terbanyak di pulau Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. 

Pada tahun 1999, jumlah pabrik pakan menurun 36% sebagai akibat sulitnya memperoleh bahan baku pakan karena krisis moneter tahun 1997.   

Sebagai contoh pabrik pakan di Jawa Barat (bukan sentra produksi jagung) menurun dari 38 buah menjadi 17 buah.   

Jumlah perusahaan pakan ternak di Indonesia sampai dengan tahun 1999 berjumlah 67 buah.  

Dilihat dari penyebarannya, perekembangan industri pakan ayam hingga kini secara umum msih terpusat di beberapa propinsi saja, terutama di Pulau Jawa (50 buah). Sementara itu, propinsi luar Jawa yang memiliki produsen pakan ternak adalah Sumatera Utara (10 buah), Sumatera Selatan (1 buah), Lampung (5 buah) dan Sulawesi Selatan (1 buah). Selengkapnya, data inventarisasi pabrik pakan di Indonesia sampai dengan tahun 2000 disajikan pada Tabel.

Perusahaan pakan lainnya yang oleh Gabungan Pengusaha Makanan Ternak  GPMT), terdata sampai tahun 2000, yang masih aktif antara lain adalah PT. Siar Super Feedmill, PT. Masura, PT. Indo Bunge Feedmill, PT. Farmindo utama, PT. Hirema, CV. Subur, CV. Mabar, PT. Sentra Profeed Intermitra, PT. Centra Pangan Pertiwi, PT. Unggul Sari Citra Topfeed, PT. Buana Superior Feedmill, CV. Missouri, PT. Central Proteina Prima dan PT. Restu Jaya. 

Kapasitas produksi terpasang sampai tahun 1998 memperlihatkan peningkatan rata-rata sebesar 17,67 persen.

Peningkatan kapasitas produksi terpasang tertinggi terjadi pada tahun 1996 yaitu sebesar 29,57 persen dan yang terendah terjadi pada tahun 1998 yaitu sebesar 10,09 persen.

Peningkatan produksi riil tertinggi terjadi pada tahun 1996 yaitu sebesar 20,99 persen.

Produksi riil pabrik pakan ternak pada tahun 1998 paling banyak dihasilkan di wilayah Jawa Barat yaitu sebanyak 869.647,47 ton.

Data Inventarisasi Pabrik Pakan Sampai Tahun 2000

No

Nama Perusahaan

Kapasitas Terpasang (ton/tahun)

Status

Perusahaan

1

Gunung Windutama (Medan)

144.000

PMDN

2

Wellgro Feedmill (Cibinong)

22.080

PMA

3

Gold Coin Indonesia (Bekasi)

16.000

PMA

4

Sinta Prima Feedmill (Bogor)

24.000

PMDN

5

Cheil Jedang S (Serang)

530.000

PMA

6

Artacitra Terpadu (Jawa Timur)

140.000

PMDN

7

Cargill Indonesia (Bogor)

420.000

PMA

8

Japfa Comfeed (Sidoarjo)

675.000

PMDN

9

Japfa Comfeed (Tangerang)

337.000

PMDN

10

Japfa Comfeed (Lampung)

200.000

PMDN

11

Japfa Comfeed (Cirebon)

260.000

PMDN

12

Indojaya Agrinusa (Tg  Morawa)

100.000

PMDN

13

Multiphala Agrinus (Sragen)

150.000

PMDN

14

Vista Grain (Lampung)

48.000

Non Fasilitas

15

Charoen Pokhpand (Medan)

450.000

PMA

16

Charoen Pokhpand (Jakarta)

20.000

PMA

17

Charoen Pokhpand (Tangerang)

780.000

PMA

18

Charoen Pokhpand (Sidoarjo)

944.208

PMA

19

Central P  Prima (Jawa Tengah)

480.000

PMDN

20

Sierad Feedmill (Tangerang)

300.000

PMDN

21

Metrointi Sejahtera (Bekasi)

96.000

PMDN

22

Cargill Indonesia (Pasuruan)

420.000

PMA

23

Cargill Indonesia (Ujung Pandang)

420.000

PMA

24

Sierad Grains (Sidoarjo)

500.000

PMDN

25

Sierad Grains (Tg. Bintang)

180.000

PMDN

26

Cibadak Indah SF. (Serang)

17.000

PMDN

27

Gold Coin Indonesia (Surabaya)

10

PMA

28

Gold Coin Indonesia (Medan)

150.000

PMA

29

Citra Indonesia FM (Jakarta)

72.000

PMDN

30

Satwa Boga S. (Jawa Barat)

12.000

PMDN

31

Cheil Samsung (Pasuruan)

240.000

PMA

32

Wonokoyo Jaya C. (Surabaya)

264.000

PMDN

33

Wirifa Sakti (Surabaya)

72.000

PMDN

T O T A L

9.451.298

 

Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan, 2000 

Perkembangan produksi pakan menurut pabrik pakan dapat dilihat pada Tabel 28.  Pabrik pakan Charoen Pokphan dan Japfa Comfeed merupakan dua pabrik pakan skala besar yang menguasai sekitar 50-60% dari seluruh produksi pakan.

Ada kecendrungan bahwa pabrik pakan berbentuk oligopsoni, di mana  produksi pakan dikendalikan oleh beberapa  pabrik pakan.

Perkembangan Produksi Pakan Sebelum dan Sesudah Krisis Moneter, 1997-2000.

Perusahaan Pakan

1997

1998

1999

2000

Charoen Pokphand

Japfa Comfeed

Sierad Feedmill

Wonokoyo

Gold Coin

Cargil Indonesia

Indo Bunge (Hogindo)

Lainnya

1.640

1.113

318

216

240

204

120

2.179

720

516

120

78

108

114

108

774

1.023

600

516

120

78

108

114

774

1.600

1.000

265

172

138

133

132

1.041

Total

6.030

2.538

3.366

4.481

Sumber : Statistik Peternakan, 2001 

Produksi Pakan, Kapasitas Produksi, Kebutuhan Pabrik Pakan dan Produksi Jagung Indonesia Tahun 1990-1999

Tahun

Produksi Pakan

Kapasitas Produksi    (000 ton)

Kebutuhan Jagung

Produksi Jagung         (juta ton)

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

3.200

3.600

4.100

4.600

5.200

5.800

6.500

4.800

2.600

3.700

4.787

4.787

6.250

 6.637

7.387

-

-

-

-

11.000

1.632

1.836

2.091

2.346

2.652

2.958

3.315

2.448

1.326

1.887

6.734

6.225

7.995

6.459

6.868

7.624

-

-

10.110

9.204

Sumber : GPMT dan PI 217 April 1998 

Proyeksi permintaan jagung oleh pabrik pakan diturunkan berdasarkan laju pertumbuhan permintaan selama 10 tahun dari tahun 1990-1999.  

Angka proyeksi ini tidak hanya berbeda dengan angka proyeksi USDA.  

Dengan demikian, permintaan jagung untuk ternak masa 5 tahun ke depan relatif tinggi yakni antara 2,3 sampai 2,7 ribu ton.

Proyeksi Konsumsi Jagung Oleh Pabrik Pakan Tahun 2002-2010

(000 ton)

Tahun

Produksi Pakan (ton)

Kebutuhan Jagung (ton)

Kebutuhan Jagung Proyeksi USDA (ton)

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

5.066

5.199

5.332

5.465

5.598

5.731

5.864

5.997

6.130

2.584

2.651

2.719

2.787

2.855

2.923

2.991

3.058

3.126

2.558

2.755

2.814

2.917

3.041

3.146

3.264

-

-

Sumber : BALITTAN, 2001 

Sumber Referensi Artikel Prospek Usaha Jagung sebagai Komoditas Unggulan Indonesia

  1. Artikel dari world of corn
  2. Artikel dari corpwatch
  3. Artikel dari Indonesia-investment
  4. Artikel dari lowa
  5. Artikel dari pioneer
  6. Lain-lain