Last Updated:
Prospek dan Peluang Usaha Ternak Kambing Perah
Prospek dan Peluang Usaha Ternak Kambing Perah https://www.pustakadunia.com

Prospek dan Peluang Usaha Ternak Kambing Perah

Prospek dan Peluang Usaha Ternak Kambing Perah- Produksi atau pasokan susu dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan, sehingga Indonesia masih impor. 

Peternakan sapi perah pun belum mampu memenuhinya, sehingga pemasaran susu kambing perah masih terbuka lebar dan memiliki prospek yang cukup cerah.

Bagi perekonomian nasional, peningkatan produksi dalam negeri akan menyerap tenaga kerja lebih banyak, meningkatkan aktivitas usaha, menghemat devisa dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar dalam penyediaan komoditas strategis.

Produksi dan Konsumsi Susu Nasional
Produksi dan Konsumsi Susu Nasional Tahun 1996-2000 (Ditjen Peternakan, 2001) 

Sebagai ternak yang beradaptasi dengan baik pada lingkungan/ agroekosistem Indonesia, kambing PE sangat berpotensi untuk dikembangkan, terutama untuk daerah pedesaan.

Tabiat makan yang tidak berbeda dengan ternak ruminansia lainnya memudahkan dalam penyediaan dan pemberian pakan.

Dedaunan seperti tanaman legum pohon (glirisidia, lamtoro, kaliandra dan lain sebagainya) merupakan pakan hijauan yang sangat digemari.

Pola pengembangan dan skala usaha hendaknya dipertimbangkan dengan memperhatikan potensi daya dukung alam dan manusia.

Daging dan susu merupakan nilai tambah tersendiri bagi program perbaikan gizi masyarakat, sekaligus sebagai upaya meningkatkan pendapatan petani ternak di pedesaan.

Oleh karena itu, tidaklah berlebihan apabila pemeliharaan kambing PE, diarahkan sebagai usaha yang berorientasi bisnis dengan memperlihatkan peluang pasar yang masih terbuka lebar.

Kambing PE anak jantan diharapkan dapat dibesarkan dan digemukkan, yang pada akhirnya merupakan sumber pasokan daging nasional.

Sementara anak betina dapat diarahkan sebagai calon induk yang dapat menghasilkan susu.

Produksi susu yang dihasilkan dengan kandungan gizi yang sama dengan susu sapi dapat dipakai sebagai upaya perbaikan gizi masyarakat pedesaan sekaligus dapat merebut pasar susu yang selama ini didominasi oleh produk sapi perah.

Sentuhan teknologi yang telah tersedia, diharapkan dapat mendukung program usaha tersebut agar lebih memiliki daya saing, efisien, dan ekonomis.

Potensi Ekonomi Usaha Ternak Kambing Perah

Ternak kambing mempunyai kedudukan yang cukup penting dalam sosial-ekonomi masyarakat yang sebagian besar terdiri atas petani.

Bentuk fisik kambing yang badannya kecil memberikan keuntungan bagi petani dalam beberapa segi, sebagai berikut. 

Segi Biologi Kambing

Ternak kambing dapat dipelihara pada area penggembalaan yang sempit dengan kondisi hijauan yang kurang baik, relatif kurang menimbulkan masalah ketika terjadi kekurangan pakan, dari segi nutrisi lebih efisien dibandingkan sapi dan kerbau. 

Segi Pengelolaan Kambing

Kandang yang diperlukan tidak terlalu luas, mudah pemeliharaannya sebab dapat dilakukan oleh wanita dan anak-anak.   

Segi Ekonomi Usaha Ternak Kambing Perah

Modal yang dibutuhkan relatif kecil dan kerugian akibat kematian relatif rendah bila dibandingkan sapi dan kerbau. 

Memberikan keuntungan yang cepat karena cepat masak kelamin dan selang beranak pendek.

Daging dan susu yang dihasilkan dapat mengatasi kekurangan gizi protein hewani di daerah tropis.  

Segi Sosial Usaha Ternak Kambing Perah

Daging dan susu yang dihasilkan kambing dapat dikonsumsi siapa saja, sehingga umum digunakan dalam aktivitas keagamaan.

Di beberapa negara susu kambing digunakan sebagai obat, yaitu anti alergi. 

Pada kambing persilangan kambing Kacang dengan kambing German Fawn di Malaysia, diperoleh hasil keuntungan bersih (net benefit) selama satu laktasi adalah M$ 834.

Juga dilaporkan bahwa yang memelihara 4 atau 5 ekor kambing dengan tenaga kerja keluarga, dapat menjual susu kepada tetangganya, sedangkan bagi pemilik 1 - 2 ekor kambing maka kelebihan menyusu setelah anak kambing dikonsumsi sendiri untuk peningkatan gizi.

Produksi susu kambing dapat menguntungkan dengan pemilikan kambing 20 sampai 30 ekor dengan pola usaha industri rumahan (home industry). 

Biaya Produksi Peternakan Kambing Perah

Komposisi biaya produksi total memperlihatkan bahwa pada peternakan kambing perah terdapat biaya untuk generator, sewa lahan, dan biaya lain di biaya tetapnya.

Biaya-biaya tersebut tidak ada apabila menggunakan lahan dan modal sendiri, dan tidak menggunakan generator listrik tetapi menggunakan pasokan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). 

Biaya tetap lainnya adalah penyusutan kandang, gudang dan kantor. 

Pada biaya variabel di peternakan kambing perah adalah biaya pakan dan merupakan yang terbesar.

Biaya variabel lainnya adalah upah tenaga kerja tetap dan harian, obat untuk karyawan, pembelian alat habis, obat ternak, administrasi, pemeliharaan kebun rumput dan BBM.

Dari struktur biaya peternakan tersebut, biaya tetap total lebih rendah daripada biaya variabel total.

Persentase biaya tetap peternakan kambing PE sedikit lebih tinggi daripada persentase biaya tetap 11,63%.   

Komponen biaya terbesar pada peternakan kambing perah adalah biaya pakan 48,87%, selanjutnya biaya tenaga kerja 29,62%.

Apabila dibandingkan dengan jumlah ternak yang ada dengan besarnya tenaga kerja pada peternakan kambing perah, maka efisiensi tenaga kerja lebih baik daripada peternakan kambing pedaging. 

Penerimaan terbesar pada peternakan kambing perah berasal dari penjualan susu. 

Penerimaan lain berasal dari penjualan ternak baik berupa ternak bibit betina maupun ternak jantan dan penerimaan yang berasal dari penjualan pupuk kandang. 

Peluang Investasi Usaha Ternak Kambing Perah

Masyarakat memiliki peluang untuk mengembangkan ternak kambing perah dengan menanamkan modalnya untuk pengembangbiakan kambing PE.

Sedikitnya diperlukan lahan 1.500 m2 dan modal yang harus tersedia sebesar Rp 42,5 juta. Lahan 1.500 m2 itu, separuhnya untuk penanaman rumput yang membutuhkan biaya Rp 1,5 juta.

Dan separuh lainnya untuk tempat kandang, rumah susu, dan gudang kecil yang seluruhnya menghabiskan Rp 15 juta (studi kasus peternak kambing PE).

Sedangkan untuk pengadaan kambingnya sebanyak 22 ekor, terdiri dari 20 betina dan dua ekor lainnya jantan yang berfungsi sebagai pemacek tangguh.

Harga seekor kambing betina masing-masing Rp 1,1 juta, sedangkan pejantannya Rp 2 juta per ekor.

Jadi untuk kambing sendiri dibutuhkan biaya Rp 26 juta. Dengan demikian, total biaya itu mencapai Rp 42,5 juta. 

Pendapatan dari investasi itu selama dua tahun yang diperoleh dari penjualan susu, kotoran kambing untuk pupuk organik dan anak kambing mencapai Rp 169,34 juta dikurangi pengeluaran untuk perawatan, pengobatan, upah, biaya pembesaran mencapai Rp 74,88 juta.Hasil bersihnya, Rp 94,46 juta. 

Biaya investasi yang dibutuhkan dalam usaha ternak kambing perah digunakan untuk pembuatan kandang, peralatan, pembelian induk betina, dan pembelian induk pejantan.

Perbedaan dalam pola usaha kontinyu dan non kontinyu terletak pada pembelian induk, pola usaha non kontinyu hanya dilakukan pembelian sekali yaitu pada awal produksi sehingga pada selang waktu tertentu akan terjadi kekosongan produksi susu.

Sedangkan pola usaha kontinyu pembelian induk dilakukan empat kali selama waktu tiga tahun, hal tersebut dilakukan untuk menutupi kekosongan produksi susu salah satu dengan adanya pergiliran produksi susu ternak lainnya.

Biaya operasional digunakan untuk pembelian pakan, obat-obatan, tenaga kerja, dan biaya-biaya operasional lainnya. 

Berdasarkan proyeksi arus kas usaha ternak kambing perah skala 10 ekor non kontinyu membutuhkan kredit investasi sebesar Rp 8.974.063,- untuk memenuhi 65% biaya investasi (selain lahan) yang dikucurkan satu kali pada awal pelaksanaan proyek.

Sedangkan usaha ternak kambing perah skala 10 ekor kontinyu membutuhkan total kredit investasi sebesar  Rp 26.109.688,- yang dikucurkan tiga kali masing-masing sebesar 34,4%, 32,8% dan 32,8%.

Dana investasi ini merupakan dana awal yang dibutuhkan untuk satu kali masa perencanaan proyek.

Artinya apabila usaha peternakan dilaksanakan secara berkelanjutan, dana investasi yang dibutuhkan besarnya sama dengan dana investasi sebelumnya.

Pemasaran Usaha Ternak Kambing Perah

Kondisi Pasar Domestik Susu Kambing - Susu kambing memiliki keunggulan dibandingkan produk susu lain, namun pasarannya tidak sepopuler susu sapi.

Selama ini pasar susu kambing masih terbatas dan bahkan kurang terekspos dipermukaan.

Hal ini disebabkan oleh masih terbatasnya populasi kambing perah dan kebanyakan masyarakat memelihara kambing untuk dipotong. 

Beberapa kasus peternak kambing perah melakukan pemasaran susu kambing kepada para pelanggan tetap.

Susu kambing yang memiliki harga lebih mahal dari susu sapi, namun suplai susu kambing selalu terserap habis oleh para pelanggannya.

Harga susu kambing saat ini sekitar Rp 6.000 hingga Rp 15.000 per liter dan bahkan dipasaran dapat mencapai Rp 17.500 per liternya.

Permintaan terhadap susu kambing terus meningkat.

Susu selain untuk diminum dapat juga diolah untuk pembuatan berbagai makanan seperti es krim, dodol, permen karamel, dan lain-lain. 

Pemasaran susu kambing oleh para peternak masih terhambat pada aspek legalitas dari pemerintah, dalam hal ini adalah Departemen Kesehatan.

Hasil olahan susu tersebut harus menyertakan label atau izin khusus agar dapat dipasarkan secara luas dan konsumen tidak ragu-ragu menkonsumsinya.

Pemerintah telah memberlakukan standar nasional untuk produk susu agar produk tersebut lebih aman dikonsumsi.

Standarisasi produk susu memuat beberapa ketentuan yang disajikan pada Tabel. 

Standarisasi Produk Susu Segar

No

Kriteria

Standar

1.

Bobot jenis (pada suhu 27,50C) minimum

  1,0280

2.

Kadar lemak minimum

  3,0 %

3.

Kadar bahan kering tanpa lemak minimum

  8,0 %

4.

Kadar protein minimum

  2,7 %

5.

Warna, bau, rasa dan kekentalan

  Tidak ada perubahan

6.

Uji alkohol 70 %

  Negatif

7.

Uji reduktase

  2 – 5 jam

8.

Angka katalase maksimum

  3 (cc)

9.

Angka refraksi

  36 – 38

10.

Cemaran mikroba maksimum:

 

 

·    Total kuman

  1 x 106 CFU/ml

 

·    Salmonella

  negatif

 

·    E. Coli (patogen)

  negatif

 

·    Coliform

  20/ml

 

·    Streptococcus Group B

  negatif

 

·    Staphylococus aureus

  1 x 102/ml

11.

Jumlah sel radang maksimum

  4 x 102/ml

12.

Cemaran logam berbahaya, maksimum:

 

 

-  Timbal (Pb)

  0,3 ppm

 

-  Seng (Zn)

  0,5 ppm

 

-  Merkuri (Hg)

  0,5 ppm

 

-  Arsen (As)

  0,5 ppm

13.

Residu:

-     Antibiotika

-     Pestisida/insektisida

  Sesuai dengan peraturan    Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan menteri Pertanian yang berlaku

14.

Kotoran dan benda asing

  Negatif

15.

Uji pemalsuan

  Negatif

16.

Titik beku

  -0,5200C s/d -0,5600C

17.

Uji peroxidase

  positif

Sumber : SNI, 1998 

Pemasaran Produk-produk Asal Ternak Kambing

Penerimaan usaha peternakan kambing perah adalah berasal dari penjualan susu, penjualan ternak dan penjualan pupuk kandang.

Penjualan ternak dapat berupa kambing, induk laktasi, jantan dewasa, dara bunting, jantan muda, dara enam bulan, jantan enam bulan dan kambing induik afkir.

Penerimaan terbesar pada peternakan kambing perah berasal dari penjualan susu yaitu sekitar 70-80% dari total penerimaan.

Beberapa peternakan kambing perah tidak menjual ternak berupa kambing hidup, tetapi menjual ternak yang sudah dipotong.

Produk yang dijual dari kambing yang dipotong adalah karkas (daging), jeroan, kepala dan kaki serta kulit. Kambing jantan yang masih hidup biasanya dijual setelah berumur minimal satu tahun yaitu sebagai ternak kurban pada hari raya Idul Adha atau digunakan sebagai ternak untuk akekah.

Kambing induk laktasi dan kambing dara dijual untuk digunakan sebagai bibit.

Sebagian besar kambing afkir dan kambing jantan muda dijual untuk dikonsumsi manusia dalam bentuk sate dan sop kambing. 

Susu kambing yang diproduksi dipasarkan ke konsumen melalui dua cara, yaitu dipasarkan langsung dalam bentuk susu segar atau sebelum dipasarkan diolah terlebih dahulu menjadi produk-produk asal susu.

Susu kambing yang dijual dalam bentuk segar dipasarkan dengan dua mekanisme yaitu:              

  • Peternak menjual langsung ke masyarakat dengan harga distributor,
  • Peternak menjual susu kambing tersebut ke Asosiasi Peternak Kambing Perah atau inti dengan harga di bawah harga distributor. Asosiasi Peternak Kambing Perah akan menjual susu kambing langsung ke masyarakat dengan harga distributor dan menjual susu ke distributor dengan harga di atas harga yang diterima dari peternak tetapi di bawah harga distributor. 

Dalam wilayah Jabotabek telah dibentuk Asosiasi Peternak Kambing Perah. yang bernama “Asosiasi Peternak Domba dan Kambing Indonesia” yang terdapat di Bogor,  

Asosiasi bertindak sebagai inti yang memberikan pelayanan cara beternak kambing perah yang baik, memberikan pelatihan, menyediakan bibit kambing perah dan menampung serta memasarkan susu kambing.

Asosiasi dapat bertindak sebagai wadah yang memasarkan susu kambing langsung ke industri pengolahan susu dengan harga distributor. Industri pengolahan tersebut akan menjual susu kambing dalam bentuk produk olahan susu. 

Harga susu kambing yang diterima oleh Asosiasi Peternak Kambing Perah dan berasal dari peternak di wilayah Jabotabek pada tahun 2002 adalah Rp 8000,- per kilogram.

Asosiasi susu kambing kemudian menjual ke masyarakat dan Industri Pengolahan Susu dengan harga distributor.

Distributor akan menjual susu kambing ke masyarakat Rp 12.000,- per kilogram di Wilayah Bogor.

Asosiasi akan menjual susu kambing ke distributor di Bogor seharga Rp 9000,- per kilogram. 

Distributor-distributor di wilayah Jakarta, Tanggerang dan Bekasi menjual susu kambing Rp 15.000,- per kilogram karena Asosiasi menjual susu seharga Rp 12.000,- per kilogram.

Beberapa cafe di Jakarta menjual susu kambing dengan harga Rp 50.000,- per kilogram. Berikut ini disajikan rantai tataniaga susu kambing dan kambing (hewan hidup).

tataniaga susu kambing

Rantai Tataniaga Susu Kambing 

tataniaga susu kambing

Rantai Tataniaga Kambing (Hewan Hidup) 

Susu kambing yang dipasarkan dapat berupa susu olahan dengan tujuan untuk mendapatkan nilai tambah dan meningkatkan daya simpan.

Susu olahan dapat berupa susu pasteurisasi dengan aneka rasa, yoghurt susu kambing dengan aneka rasa.

Produk susu olahan lainnya yaitu caramel susu kambing, dodol susu kambing dan keju susu kambing.

Produk olahan asal susu kambing sudah dapat dipasarkan di toko-toko supermarket dan pasar swalayan.

Beberapa perusahaan atau kelompok yang sudah menghasilkan produk susu olahan antara lain Yummy Food, Kelompok Cigombong, Kelompok Kaligesing dan lain sebagainya. 

Wilayah pemasaran susu kambing adalah kota-kota besar, misalnya di wilayah Jabotabek.

Pemenuhan kebutuhan susu kambing di wilayah Jabotabek didatangkan susu kambing yang berasal dari daerah Jawa Tengah.

Pasaran susu kambing sampai saat ini sebagian besar masih di wilayah Jabotabek, susu kambing belum dapat diekspor atau dipasarkan ke luar negeri.

Permintaan susu kambing untuk diekspor ke luar negeri belum dapat dipenuhi, walaupun permintaan susu kambing di luar negeri cukup tinggi. 

Konsumen susu kambing umumnya adalah orang-orang tua dan orang yang baru sembuh dari sakit yang diopname di rumah sakit.

Konsumen susu kambing sebagian besar berasal dari keturunan Cina, keturunan India dan keturunan Arab, sedikit sekali konsumen susu kambing merupakan orang Indonesia asli.

Susu kambing dikenal karena banyak manfaatnya misalnya dapat menyembuhkan sakit paru-paru, maag dan lain-lain. 

Pemasaran susu kambing segar dan olahannya dilakukan oleh beberapa loper susu atau dipasarkan di pasar swalayan dan supermarket.

Promosi susu kambing melalui media cetak dan media radio. Berdasarkan observasi lapangan konsumen susu kambing dibedakan atas tiga kategori yaitu   

  • Hanya coba-coba,
  • Mencoba dan ingin berlangganan dan
  • Memang ingin berlangganan.

 

KONDISI MIKRO TERNAK KAMBING PERAH

Pohon Industri Usaha Ternak Kambing Perah

Hasil  ternak kambing perah terdiri dari produk utama, sampingan dan limbah. 

Produk utama berupa susu segar, produk sampingannya (berupa cempe dan kambing afkir) dan limbahnya sebagai bahan baku pupuk organik.

Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar berikut ini.  

 

Pohon Industri Ternak Kambing Perah
Pohon Industri Ternak Kambing Perah 

Diversifikasi Produk Usaha Ternak Kambing Perah

Susu segar merupakan produk utama dari ternak kambing perah.

Selain susu susu segar, susu kambing dapat diolah menjadi susu manis, susu pasteurisasi, keju dan yoghurt seperti halnya produk olahan susu sapi.

Keju susu kambing memiliki rasa lebih lembut dan beraroma lebih menarik dibandingkan keju susu sapi. 

Susu kambing dapat juga diolah menjadi sabun kecantikan yang bermanfat untuk menyembuhkan jerawat, menghilangkan noda hitam dan flek pada kulit.

Selain itu juga bermanfaat untuk menyegarkan kulit, menghaluskan dan mengencangkan kulit, menghilangkan kerut pada wajah, menghilangkan bau badan, mencegah rontok rambut dan menghilangkan ketombe. 

Selain produk utama susu tersebut, peternakan kambing perah juga menghasilkan anak kambing (cempe) yang dapat dijadikan tambahan sumber pendapatan usaha peternakan kambing.

Cempe jantan dan cempe betina yang kurang potensi genetiknya dapat dipelihara atau dijual untuk digemukkan dalam usaha penggemukkan kambing potong. 

Cempe betina yang bergenetik potensial baik, dapat dijadikan bibit sebagai ternak pengganti atau dijual ke peternak lain.

Kambing afkir biasanya dijual sebagai kambing potong. Selain itu, kotoran kambing sebagai limbah dapat dijadikan pupuk kandang. 

Peta Potensi Produksi Ternak Kambing Perah

Kambing perah PE datang ke Indonesia pada tahun 1955 dari India dalam kaitan Bantuan Presiden (Banpres) untuk rakyat.

Selanjutnya, kambing Ettawa tersebut dikawinkan dengan kambing lokal yang menghasilkan kambing peranakan Ettawa (PE).

Kambing perah Peranakan Ettawa (PE) keberadaannya di Jawa Barat nyaris punah pada 1990, akan tetapi kini usaha budidaya pengembangbiakan kambing tersebut bangkit kembali.

Bahkan, masyarakat awam pun mempunyai kesempatan yang cukup luas untuk turut menanamkan modalnya dengan pola kemitraan. 

Kambing PE banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta, seperti daerah Kaligesing, Purworejo, Giri Mulyo, Kulon Progo, dan Sleman dengan populasi lebih dari 100 ribu ekor.

Di daerah lain pun kambing tersebut dapat dijumpai, tetapi tidak sebanyak di daerah tersebut.

Sayangnya, produksi susu masih sangat rendah karena pemeliharannya masih sangat tradisional.

Petani ternak biasanya memeliharanya hanya sebagai sambilan atau secara semi-intensif, tanpa mempertimbangkan nilai ekonomi pemeliharaan tersebut.

Sebaran populasi kambing di Indonesia diperlihatkan pada Tabel. 

Selama ini pasar susu kambing PE masih terbatas dan selama 10 tahun kurang terekspos.

Kekurangan pasokan susu kambing, karena populasi kambing perah (PE) masih terbatas.

Selain itu juga, pola peternakan tradisional sehingga tidak menjamin kontinuitas produksi susu. 

Sebaran Populasi Kambing per Propinsi di Indonesia Tahun 1997 – 2001

Propinsi

Tahun

1997

1998

1999

2000

2001

Jawa Tengah

3.053.791

2.899.335

3.812.151

2.968.072

3..33.952

Jawa Timur

2.618.502

2.232.229

2.264.992

2.284.244

2.307.086

Jawa Barat

1.935.346

1.698.631

1.666.500

1.705.605

1.185.000

Sumatra Utara

785.229

691.228

694.338

698.851

703.393

Nangroe Aceh D.

644.654

663.131

622.501

626.983

631.497

NTT

629.009

636.466

654.922

361.714

389.988

Lampung

601.506

725.895

734.026

628.514

727.806

Sumatra Selatan

574.001

597.838

420.639

432.080

450.357

Sulawesi Selatan

468.967

489.433

461.115

478.594

502.427

NTB

343.064

273.184

234.063

240.877

251.248

Riau

319.000

395.305

215.702

222.912

264.393

Sumatra Barat

292.697

299.475

234.537

236.929

239.346

DI. Yogyakarta

277.583

263.265

263.397

266.894

266.975

Maluku

261.385

292.751

331.800

331.800

367.058

Sul. Tengah

202.027

210.714

183.314

181.139

206.218

Bengkulu

156.749

101.417

102.370

103.356

104.348

Jambi

126.422

124.731

120.340

122.386

125.000

Bali

122.225

110.350

103.037

96.003

96.243

Sul. Tenggara

117.587

212.967

122.323

115.374

115.950

Sul. Utara

104.604

106.696

123.126

125.897

126.300

Kal. Barat

110.072

111.082

123.086

117.797

120.660

Kal. Timur

73.544

60.754

59.913

57.501

59.594

Kal. Selatan

71.882

64.640

66.756

69.827

73.172

Kal. Tengah

22.676

22.676

27.008

29.880

33.059

Irian Jaya

46.290

49.530

53.002

53.002

56.714

Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan (2001) 

Sumbangan kambing dalam produksi susu di dunia baru mencapai 1,5% dari produksi susu keseluruhan.

Hanya di negara-negara Afrika dan Asia Timur, kambing  mampu memberikan sumbangan produksi susu yang cukup besar masing-masing 10,2% dan 13,3% dari produksi susu keseluruhan, sedangkan di Asia sumbangan kambing untuk produksi daging lebih besar daripada untuk produksi susu.

Belum banyak diketahui keuntungan susu kambing dibandingkan dengan dagingnya, dan susu kambing belum banyak dimanfaatkan, baik dalam bentuk segar maupun sebagai bahan olahan. 

Produksi susu kambing di negara berkembang 73,2% dari produksi total susu kambing di dunia sedangkan produksi susu asal kambing di Asia Tenggara 28,8% dari daerah tropis dan untuk seluruh daerah tropis merupakan 68,8% dari produksi total susu kambing di dunia (Ditjenak, 2001).

Resiko Usaha Ternak Kambing Perah 

Aspek Kritis Usaha Ternak Kambing Perah

Penampilan produksi kambing perah sangat tergantung pada faktor teknis dan sosial masyarakat.

Diantara faktor teknis dan sosial ini, faktor sosial merupakan faktor yang lebih menentukan keberhasilan usaha peternakan kambing perah. 

Oleh karena itu dalam membuka usaha peternakan kambing perah hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kondisi sosial masyarakat sekitarnya.

Apabila faktor sosial sudah dapat di atasi, maka faktor teknis harus diperhatikan. 

Faktor teknis yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas susu dapat dibagi menjadi faktor genetik dan faktor-faktor lingkungan.

Faktor-faktor genetik meliputi bangsa atau jenis kambing dan besarnya badan kambing.

Faktor lingkungan atau teknis meliputi pakan dan ketersediaan air, umur, jarak beranak dan tata laksana lainnya. 

Penanganan pasca panen susu kambing harus diperhatikan dengan baik. Susu kambing dapat tahan diluar selama tiga – empat jam saja, sehingga harus cepat didinginkan. 

Bangsa Kambing Perah

Setiap bangsa kambing memiliki sifat-sifat yang khas dalam menghasilkan susu baik dalam jumlah (kuantitas) maupun kualitas. 

Kambing PE (Peranakan Etawah) merupakan bangsa kambing perah hasil persilangan antara kambing Etawah dengan kambing lokal (kambing Kacang).

Kambing PE memiliki adaptasi yang baik dengan lingkungan tropis seperti di Indonesia.

Kambing PE ini sudah dianggap sebagai kambing lokal yang potensial untuk menghasilkan susu.

Produksi susu yang dihasilkan kambing PE sekitar 182 kg selama 168 hari laktasi. 

Besarnya Badan Kambing

Kambing yang berbadan besar (berbobot badan lebih berat) akan menghasilkan susu lebih banyak daripada kambing yang kecil pada bangsa dan umur yang sama.

Hal ini disebabkan kambing yang berbadan besar mempunyai kemampuan untuk mengkonsumsi pakan lebih banyak, sehingga ketersediaan zat makanan hasil metabolisme tubuh sebagai bahan baku (precusor) susu lebih banyak. 

Disamping itu kambing yang berbadan besar mempunyai kebutuhan hidup pokok yang relatif lebih sedikit dibandingakn kambing yang berbadan lebih kecil. 

Seperti telah disebutkan disamping faktor genetik tersebut, maka faktor teknis lainnya yaitu faktor lingkungan juga berpengaruh dalam produksi susu. 

Faktor-faktor lingkungan tersebut dijelaskan sebagai berikut. 

Pakan dan Ketersediaan Air dalam Usaha Ternak Kambing Perah

Jumlah pakan yang diberikan merupakan faktor kritis yang paling utama dalam produksi kambing perah.

Seekor kambing memerlukan daun-daunan atau jerami setiap hari atau padang rumput berkualitas baik ditambah 0,25 kg ransum konsentrat berkadar protein 16% untuk setiap liter susu yang dihasilkan. 

Kambing Etawah dengan berat badan 40 kg dan berproduksi susu 2 liter per hari membutuhkan 5 kg pakan hijauan dan 0,5-1,0 kg konsentrat. 

Konsumsi konsentrat untuk induk laktasi 0,75% bahan kering dari berat badan, atau 1,76% bahan kering. Induk kambing yang sedang dikeringkan mengkonsumsi konsentrat 0,5-1,0 kg per ekor per hari dengan kadar protein 12-16%. 

Kadar protein konsentrat untuk induk laktasi 15-18%. 

Kadar lemak pakan ruminansia adalah 2-3%. 

Jumlah air minum yang diberikan juga dapat mempengaruhi jumlah produksi susu. Oleh karena itu pemberian air minum penting dalam peternakan kambing perah. 

Hal ini disebabkan 83 – 87,5% bagian dari susu terdiri dari air dan 50% dari badan kambing perah juga terdiri dari air. Kebutuhan air minum kambing untuk bobot badan 18-20 kg 450-680 ml/hari.  

Umur Kambing

Umur beranak pertama dipengaruhi dewasa tubuh dan keberhasilan perkawinan. 

Pada umumnya kambing perah dapat mulai beranak pada umur 15 – 18 bulan.

Puncak produksi susu akan dicapai pada hari 48 - 72 atau sekitar dua bulan setelah beranak.  

Jarak Beranak Kambing Perah

Dengan penerapan manajemen pemeliharaan yang baik, kambing dapat beranak tiga kali dalam dua tahun.

Jadi setiap delapan bulan kambing beranak dengan masa laktasi selama enam bulan dan masa kering dua bulan.

Tiga bulan setelah beranak, kambing dapat dikawinkan lagi dan masa kebuntingan selama lima bulan.

Jadwal produksi kambing lebih teratur dan terprogram dengan manajemen pemeliharan yang seperti di atas. 

Tatalaksana Lainnya dalam Usaha Ternak Kambing Perah

Kegiatan tatalaksana lain yang berpengaruh terhadap produksi susu yaitu kegiatan pemerahan.

Perubahan waktu pemerahan dan tenaga kerja pemerah dapat menurunkan produksi susu sampai 50%, sehingga tatalaksana pemerahan juga merupakan faktor kritis dalam peternakan kambing perah. 

Persentase kambing laktasi yang harus diperhatikan agar peternakan dapat menguntungkan.

Untuk memperoleh pendapatan yang menguntungkan, persentase kambing  laktasi yang sebaiknya dipelihara sekurang-kurangnya 60% dari populasi. 

Jumlah pemerahan dan frekuensi pemerahan akan mempengaruhi produksi susu. 

Produksi susu pada kambing yang diperah tiga kali akan naik 15–20% daripada yang diperah dua kali dan memerah empat kali akan menaikkan  6 – 8% daripada yang diperah tiga kali. 

Titik Kritis Usahaternak Kambing Perah

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan dapat diambil beberapa titik kritis dalam usahaternak kambing perah, yaitu sebagai berikut.

  1. Pemilihan lokasi yang baik secara sosial ekonomi sehingga akan menjadi pertimbangan dalam investasi di usahaternak kambing perah.
  2. Pemilihan bibit dengan memperhatikan kriteria bibit kambing perah yang baik.
  3. Manajemen pemeliharaan yang baik sehingga kambing memiliki jadwal produksi yang terprogram dengan baik.
  4. Manajemen pemberian pakan dan air minum yang cukup baik dengan memanfaatkan sumberdaya alternatif demi ketersediaan sumber pakan bagi ternak kambing.
  5. Manajemen tatalaksana yang baik dengan memperhatikan sanitasi kandang dan kesehatan ternak untuk mencegah gangguan kesehatan pada ternak.
  6. Manajemen pemerahan yang baik dengan memperhatikan kebersihan dan sanitasi yang dapat mempengaruhi kesehatan, kualitas dan kuantitas susu.
  7. Penanggulangan penyakit dengan segera, terutama penyakit menular yang dapat berpengaruh pada kelangsungan usahaternak kambing perah.
  8. Menghindarkan penyakit yang dapat menular, baik dari manusia ke ternak maupun dari ternak ke manusia seperti TBC, Anthrax, dan lain-lain.
  9. Mengetahui pemasaran hasil produksi susu mengingat susu kambing tidak sepopuler susu sapi atau susu buatan industri sehingga memerlukan strategi pemasaran yang spesifik.

Sumber Pengadaan Ternak Kambing Perah

Awal mulanya keberadaan kambing perah Etawah diperoleh dari India pada tahun 1955 dalam kaitan Bantuan Presiden (Banpres) untuk rakyat.

Kambing Etawah tersebut dikawinkan dengan kambing lokal yang menghasilkan kambing Peranakan Etawah (PE).

Masyarakat saat itu, sebagian besar membudidayakan kambing perah bukan sebagai penghasil susu namun lebih banyak memanfaatkan dagingnya.

Kondisi itu lama kelamaan mengakibatkan kambing PE semakin sulit dicari, padahal susu kambing PE memiliki banyak keunggulan dan cukup prospektif. 

Pengadaan kambing perah sebaiknya dilakukan langsung kepada pembibit.

Di daerah Kaligesing merupakan sentra pengembangan ternak kambing perah yang sampai saat ini kambing PE Kaligesing pengembangannya diutamakan untuk memenuhi kebutuhan bibit.

Banyaknya permintaan bibit kambing dari luar daerah Kabupaten Purworejo mendorong Dinas Peternakan setempat mengeluarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Purworejo No. 188.4/2267/1969 tentang Pelestarian Kambing Peranakan Etawah (PE) Ras Kaligesing. 

Keputusan tersebut bertujuan untuk menjaga keaslian dan kemurnian kambing PE ras Kaligesing, serta mendorong perkembangan populasi kambing tersebut. 

Kondisi Ternak Kambing Perah

Adanya klasifikasi dan penilaian ciri-ciri tertentu yang menunjukkan kesempurnaan penampilan, membuat kambing PE Kaligesing mejadi mahal harganya. 

Syarat Pendirian Usaha peternakan Kambing Perah 

Izin Usaha Peternakan Kambing Perah

Izin usaha peternakan kambing perah diperlukan jika jumlah kambing yang dipelihara lebih besar dari 300 ekor, yang diberikan kepada perusahaan peternakan baik perorangan Warga Negara Indonesia atau Badan Hukum Indonesia berbentuk Perseroan

Terbatas atau Koperasi yang telah siap melakukan kegiatan produksi, termasuk untuk memasukkan ternak dan pembibitan ternak.

Berdasarkan jenis dan jumlah ternak yang diusahakan, izin usaha peternakan diberikan oleh Direktur Jenderal peternakan dan Gubernur Kepala Daerah TK I. 

Izin usaha peternakan kambing perah untuk skala 300 – 1.500 ekor diberikan oleh Gubernur KDH TK I, sedangkan izin usaha peternakan kambing perah dengan skala di atas 1.500 ekor diberikan oleh Dirjen Peternakan.

Peternakan rakyat tidak wajib memiliki izin usaha peternakan, tetapi cukup memiliki Tanda Daftar Peternakan Rakyat yang diberikan oleh Dinas Peternakan Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II.

Jumlah ternak kegiatan budidaya peternakan rakyat untuk kambing perah  yaitu di bawah 300 ekor. 

Prosedur Izin Usaha Peternakan Kambing Perah

Prosedur untuk memperoleh izin usaha peternakan lebih rinci tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 362/Kpts/TN.120/5/1990.

Secara garis besar tata cara memperoleh izin adalah sebagai berikut.

  1. Sebelum mengajukan permohonan izin usaha peternakan lebih dahulu mengajukan permohonan persetujuan prinsip disampaikan kepada Dirjen Peternakan atau Gubernur Kepala Daerah Tingkat I setempat sesuai dengan ketentuan pembagian kewenangan pemberian izin.
  2. Selambat-lambatnya 20 hari kerja Dirjen Peternakan atau Gubernur Kepala Daerah Tingkat I telah memberikan persetujuan prinsip atau menolaknya. Persetujuan ini berlaku selama jangka waktu satu tahun dan dapat diperpanjang satu kali dalam satu tahun.
  3. Permohonan izin usaha peternakan diajukan kepala Dirjen Peternakan atau Gubernur menggunakan Model IUPm-I dengan tembusan Kepala Dinas Peternakan daerah Tingkat I dan Dati II setempat, dengan disertai beberapa hal sebagai berikut.
  • Izin lokasi
  • Izin Mendirikan Bangunan (IMB), izin Hak Guna Usaha (HGU)
  • Izin tempat usaha (HO)
  • Izin tenaga kerja asing
  • Izin pemasangan instalasi serta peralatan yang diperlukan
  • Izin pemasukan ternak bagi perusahaan yang akan memasarkan ternak
  • UKL/UPL
  1. Selambat-lambatnya 20 hari kerja sejak diterimanya tembusan permohonan secara lengkap, Dinas Peternakan Dati I mengadakan pemeriksaan kesiapan perusahaan untuk berproduksi sesuai pedoman teknis peternakan.
  2. Selambat-lambatnya lima hari kerja setelah pemeriksaan, Dinas Peternakan Dati I melaporkan hasil pemeriksaan dilaporkan kepada Dirjen Peternakan atau gubernur.
  3. Selambat-lambatnya 20 hari kerja setelah menerima hasil pemeriksaan, Dirjen atau Gubernur mengeluarkan izin usaha peternakan atau menundanya. 

Bagan alur mengenai prosedur permohonan izin usaha peternakan dapat dilihat pada Gambar.

izin usaha peternakan kambing perah
Prosedur Permohonan Izin Usaha Peternakan (Ditjenak, 1990)

Aspek Finansial Usaha Ternak Kambing Perah 

Dalam menganalisa aspek finansial usaha ternak kambing perah dilakukan suatu pengkajian pada skala usaha 10 ekor (kambing jenis Etawah) dengan pola usaha non kontinyu dan pola usaha kontinyu, dengan masa laktasi kambing enam bulan dan produksi susu sebanyak satu liter/ekor/hari.

Pola usaha non kontinyu yaitu pola usaha yang dilakukan tanpa memperhatikan kontinyuitas produksi susu.

Sebaliknya pola usaha kontinyu merupakan pola usaha yang memperhatikan kontinyuitas produksi susu sehingga tidak mengalami kekosongan produksi susu pada masa istirahat (masa kering).

Pola usaha kontinyu dapat dicapai dengan melakukan pembelian kambing baru setiap kambing lama akan melahirkan ( + bulan ke-7).

Dengan pola ini jumlah kambing yang dipelihara konstan pada jumlah 40 ekor dan yang laktasi 30 ekor.

Satu ekor induk betina dapat melahirkan dua ekor cempe dengan lama kebuntingan sekitar lima bulan dan masa kering dua bulan.

Kebutuhan hijauan kambing sebanyak lima kg/ekor/hari dengan penambahan konsentrat sebesar satu kg/ekor/hari.

Pemeliharaan cempe dilakukan selama tiga bulan dan setelah itu cempe dijual.  

Standar Biaya Usaha Ternak Kambing Perah

Pembiayaan usaha ternak kambing perah secara garis besar terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional.

Biaya investasi meliputi pembelian lahan, pembuatan kandang, peralatan, pembelian induk baik induk betina maupun pejantan.

Biaya operasional meliputi pembelian pakan hijauan dan konsentrat, obat-obatan, tenaga kerja dan biaya lainnya.

Sebagai ilustrasi akan disajikan struktur kebutuhan pembiayaan untuk usaha ternak kambing perah skala 10 ekor pada pola usaha non kontinyu dan pola usaha kontinyu yang tertera pada Tabel.

Kebutuhan investasi yang harus dikeluarkan untuk usaha ternak kambing perah skala 10 ekor non kontinyu sebesar Rp 15.906.250,- (dalam jangka waktu dua tahun), sedangkan pada skala 10 ekor yang diusahakan secara kontinyu kebutuhan investasinya sebesar Rp 61.075.000,- (dalam jangka waktu tiga tahun).

Usaha ternak kambing perah skala 10 ekor dengan pola usaha non kontinyu membutuhkan biaya operasional selama dua tahun sebesar Rp 28.135.300,-.

Pada skala usaha 10 ekor dengan pola usaha kontinyu membutuhkan biaya operasional selama  tiga tahun sebesar Rp 127.615.100,-. 

Kebutuhan biaya secara rinci untuk usaha ternak kambing perah skala 10 ekor baik pada pola usaha non kontinyu maupun kontinyu seperti pada Tabel dibawah ini. 

Struktur Biaya Usaha Ternak Kambing Perah
NoKomponen BiayaStruktur Biaya
Skala 10 ekor (non kontinyu)Skala 10 ekor (kontinyu)

Rp

%

Rp

%

1

Investasi

 

 

 

 

 

- lahan

1.800.000

11,32

7.500.000

12,28

 

- Kandang

4.606.250

28,96

18.425.000

30,17

 

- Peralatan

1.000.000

6,29

1.150.000

1,88

 

- Induk Betina

7.000.000

44,01

28.000.000

45,85

 

- Induk Pejantan

1.500.000

9,43

6.000.000

9,82

 

Total Investasi

15.906.250

100,00

61.075.000

100,00

2

Operasional

 

 

 

 

 

- Hijauan

990.000

3,52

4.455.000

3,49

 

- Konsentrat

11.088.000

39,41

49.896.000

39,10

 

- Obat-obatan

528.000

1,88

2.376.000

1,86

 

- Tenaga Kerja

13.200.000

46,92

59.400.000

46,55

 

- Lain-lain

316.800

1,13

1.425.600

1,12

 

Cempe :

 

 

 

 

 

- Hijauan

262.500

0,93

1.312.500

1,03

 

- Konsentrat

1.470.000

5,22

7.350.000

5,76

 

- Obat-obatan

280.000

1,00

1.400.000

1,10

 

Total Operasional

28.135.300

100,00

127.615.100

100,00

Sumber: data diolah, 2002

Keterangan: *)  Skala 10 ekor non kontinyu jangka waktunya 24 bulan Skala 10 ekor kontinyu jangka waktunya 36 bulan

Penerimaan Usaha Usaha Ternak Kambing Perah

Penerimaan usaha ternak kambing perah terutama berasal dari penjualan susu rata-rata sebanyak satu liter/ekor/hari dengan harga jual Rp 8000,-/liter dan cempe yang dilahirkan dijual dengan harga Rp 300.000,-/ekor serta penjualan kotoran yang dapat dijadikan pupuk berbentuk kering dengan harga jual Rp 100,-/kg.

Penjualan susu merupakan produk utama dalam penerimaan usaha ternak kambing perah disamping hasil sumbangan penjualan cempe dan pupuk yang dihasilkan.

Total penerimaan selama satu bulan melalui pengembangan ternak kambing perah sebanyak 10 ekor dapat mencapai Rp 2.406.600,-.

Kelayakan Investasi Usaha Ternak Kambing Perah

Penentuan kelayakan finansial dari rencana usaha ternak kambing perah dilakukan dengan menganalisis nilai PBP (Payback Period), NPV (Net Present Value), BCR (Benefit Cost Ratio) dan IRR (Internal Rate of Return), Break Event Point (BEP) serta analisis sensitivitas. 

Payback Period Usaha Ternak Kambing Perah

Analisis payback period digunakan untuk mengetahui pada tahun ke berapa pokok investasi yang dilakukan akan kembali.

Payback period  untuk usaha ternak kambing perah skala 10 ekor non kontinyu  disajikan pada Tabel.

Pada Tabel tersebut terlihat bahwa nilai investasi usaha ternak kambing perah skala 10 ekor non kontinyu akan dikembalikan dalam jangka waktu 14 bulan.

Hal ini berarti usaha ternak kambing perah skala 10 ekor non kontinyu dalam waktu 14 bulan arus kas kumulatif dari usaha akan bernilai positif.

Sedangkan usaha ternak kambing perah skala 10 ekor dengan pola usaha kontinyu, arus kas kumulatif dari usaha akan bernilai positif dalam waktu 17 bulan.

Investasi untuk pola kontinyu, menanggung beban kapasitas menganggur yakni ketika lahan yang diproyeksikan untuk 40 ekor belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Namun masih tertutupi oleh manfaat yang diperoleh. 

NPV, IRR dan B/C Ratio Usaha Ternak Kambing Perah

Berdasarkan hasil perhitungan, didapat nilai NPV untuk usaha ternak kambing perah skala 10 ekor dengan pola usaha non kontinyu dan kontinyu selama proyek masing-masing sebesar Rp 5.808.070,- dan Rp. 34.750.886,-  dengan asumsi tingkat suku bunga diskonto 19% per tahunnya.

Nilai NPV yang didapat bernilai positif, yang berarti usaha ternak kambing perah layak dijalankan dan menguntungkan.

Perbedaan NPV antara lain disebabkan investasi awal berupa lahan yang sempat menganggur (idle) pada pola kontinyu. 

Internal Rate of Return usaha ternak kambing perah skala 10 ekor dengan pola usaha non kontinyu diperoleh nilai sebesar 31,41% sedangkan usaha ternak kambing skala 10 ekor kontinyu sebesar 37,79%.  

Nilai IRR menunjukkan toleransi suku bunga dari proyek yang harus bernilai lebih tinggi dari biaya modal.

Berdasarkan hasil nilai IRR usaha ternak kambing perah tersebut yang lebih besar dari rata-rata suku  bunga komersial 19%, maka usaha ini layak untuk dijalankan, namun perlu memperhatikan dengan seksama sensitivitas seperti dibahas di bawah ini. 

Dalam analisis BCR, digunakan pendekatan nilai neto. 

Arus kas dari manfaat maupun biaya yang terjadi pada waktu berbeda-beda distandardisasi dengan faktor diskonto sebesar biaya modal (19%) agar analisis perbandingan yang dilakukan lebih akurat. 

Benefit Cost Ratio usaha ternak kambing perah skala 10 ekor melalui pola usaha non kontinyu dan kontinyu masing-masing mempunyai nilai sebesar 1,27 dan 1,75. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ternak kambing perah layak untuk dijalankan. 

Nilai NPV, IRR dan B-C Ratio untuk usaha ternak kambing perah skala 10 ekor baik melalui pola usaha non kontinyu maupun kontinyu secara ringkas disajikan pada Tabel.

Kriteria Kelayakan Usaha Ternak Kambing Perah

Kriteria Kelayakan

Skala 10 Ekor

Non kontinyu

Kontinyu

PBP (bulan)

14,25

16,91

NPV (df = 19%)

5.808.070

34.750.886

IRR (% pa)

31,41%

37,79%

BCR (df = 19%)

1.27

1,75

BEP vol (liter)

5.505

23.586

Sumber: Data diolah, 2002 

Break Event Point pada usaha ternak kambing etawah skala 10 ekor pola non kontinyu sebesar 5.505 liter dalam jangka waktu dua tahun, dengan rata-rata BEP per bulan sekitar 229,38 liter.

Sedangkan Break Event Point pada usaha ternak kambing skala 10 ekor pola kontinyu sebesar 23.586 liter dalam jangka waktu tiga tahun, dengan rata-rata BEP per bulan sekitar 655,17 liter. 

Besaran kapasitas tersebut, bukan seluruhnya berasal dari hasil produksi susu tetapi ada sebagian kecil yang berasal dari pupuk dan cempe.            

Analisis Sensitivitas Usaha Ternak Kambing Perah

Analisis sensitivitas digunakan untuk melihat sejauh mana respon kriteria kelayakan usaha ternak kambing perah terhadap perubahan-perubahan harga dan biaya yang terjadi.

Analisis sensitivitas ini dilakukan untuk mengetahui dampak perubahan apabila terjadi kondisi yang lebih buruk, baik disebabkan biaya-biaya operasional yang meningkat, penurunan penerimaan maupun kombinasi keduanya. 

Gambaran sensitivitas usaha ternak kambing perah pada skala usaha 10 ekor melalui pola usaha non kontinyu dapat dilihat pada Tabel.

Sensitivitas dihitung dalam tiga perubahan berikut.

1.

   Kondisi Normal

2.

   Kenaikan Biaya Operasional 25%

3.

   Penurunan Harga Jual Susu 37,5%

4.

   Kenaikan Biaya Operasional dan Penurunan Penerimaan 9,9%

Besaran persentase peningkatan biaya operasional diasumsikan dengan melihat sampai tingkat berapa usaha mengalami goncangan sehingga tidak layak begitu pula pada asumsi sensitivitas ke empat, saat usaha akan mengalami goncangan.

Sedangkan sensitivas yang diakibatkan dengan adanya penurunan harga jual diperhitungkan dengan mengkaji besarnya kisaran penurunan melalui harga terendah yang pernah terjadi.

Kisaran harga diperhitungkan melalui besarnya persentase penurunan harga dari harga normal sebesar Rp. 8.000,- hingga mengalami penurunan harga sampai Rp. 5000,-/liter.  Saat ini harga terendah susu yang pernah dialami usaha peternakan kambing perah adalah sebesar Rp. 5.000,-/liter.

Adapun nilai sensitivitas usaha ternak kambing perah skala 10 ekor non kontinyu adalah sebagai berikut.

Nilai Sensitivitas Usaha Ternak Kambing Perah Skala 10 Ekor

                   Non Kontinyu

Analisis kelayakan usaha

1

2

3

4

NPV

5.808.070

98.720,55

(7.578.643,69)

13.075,21

IRR

31,41%

19,22%

-3,38%

19,03%

BCR

1,27

0,99

0,64

0,99

PBP (bulan)

14,25

19,32

36,04

19,35

BEP (liter)

5.504,7

    6.384,06

        8.808,04

        6.496,13

Sumber : data diolah, 2002 

Usaha ternak kambing perah skala 10 ekor non kontinyu memiliki kelayakan usaha yang cukup baik namun sangat sensitif terhadap perubahan harga yang lazim terjadi.

Kenaikan biaya operasional dan penurunan penerimaan mengakibatkan nilai BCR dan IRR menjadi turun dari besarnya nilai pada kondisi normal sehingga menjadi tidak layak lagi diusahakan, apabila melebihi 9,9%. 

Begitu pula dengan kenaikan biaya operasional hingga melebihi 25% dapat mengakibatkan usaha tidak layak lagi diusahakan dan tidak menguntungkan. 

Gambaran sensitivitas usaha ternak kambing perah pada skala usaha 10 ekor pola kontinyu dapat dilihat pada tabel.

Sensitivitas dihitung dalam dua perubahan berikut.

1.

   Kondisi Normal

2.

   Kenaikan Biaya Operasional 38,9%

3.

   Penurunan Harga Jual susu 37,5%

4.

   Kenaikan Biaya Operasional dan Penurunan Penerimaan 15%

Besaran persentase peningkatan biaya operasional seperti telah diungkapkan, diasumsikan dengan melihat sampai tingkat berapa usaha mengalami goncangan dengan kenaikan biaya operasional dan juga dikombinasikan dengan penurunan penerimaan. 

Nilai Sensitivitas Usaha Ternak Kambing Perah Skala 10 Ekor Melalui Pola Usaha Secara Kontinyu

Analisis kelayakan usaha

                 1

              2

                  3

               4

NPV

34.750.886,48

2.907,46

(18.714.299,06)

(34.151,37)

IRR

37,79%

19,00%

5,58%

18,98%

BCR

1,75

1,00

0,65

1,00

PBP (bulan)

16,91

27,37

40,43

27,28

BEP (liter)

23.585,76

29.791,23

37.737,72

30.563,23

Sumber: data diolah, 2002

Usaha ternak kambing perah skala 10 ekor kontinyu memiliki kelayakan usaha yang cukup baik pada kondisi normal namun sangat sensitif terhadap perubahan penerimaan dan biaya operasional.

Kenaikan biaya operasional 38,9% masih membuat kegiatan usaha menjadi tidak layak dijalankan namun perubahan yang melebihi 38,9% dari kondisi normal mengakibatkan usaha menjadi tidak menguntungkan.

Apalagi dengan terjadinya penurunan harga jual susu sampai mencapai 37,5%.

Kombinasi kenaikan biaya dan penurunan harga jual sampai 15%, akan membuat usaha tidak layak untuk diusahakan atau tidak menguntungkan.

Kesimpulan Prospek dan Peluang Usaha Ternak Kambing Perah

Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari Artikel kambing perah adalah sebagai berikut.

  1. Kambing perah merupakan ternak dwiguna yang sangat potensial untuk dikembangkan, selain menghasilkan susu juga menghasilkan daging. Pola pengembangan dan skala usahanya hendaklah mempertimbangkan potensi daya dukung alam dan manusia.
  2. Ternak kambing memiliki beberapa potensi yang cukup penting dalam sosial ekonomi masyarakat terutama petani. Pengembangan usaha ternak kambing perah memberikan keuntungan dalam berbagai segi antara lain dapat dipelihara pada areal pengembalaan yang sempit dengan kondisi hijauan yang kurang baik, tidak masalah terhadap kekurangan pakan, lebih efisien dari segi nutrisi, tidak membutuhkan kandang terlalu luas, mudah dipeliharanya dan lain sebagainya.
  3. Potensi pengembangan usaha ternak kambing perah semakin terbuka luas dan menjanjikan, hal itu dikarenakan susu kambing dipercaya berguna untuk pengobatan beberapa penyakit.
  4. Usaha ternak kambing perah cukup layak diusahakan dan menguntungkan, tetapi cukup sensitif terhadap perubahan harga jual dan biaya operasional.
  5. Usaha ternak kambing perah skala 10 ekor baik non kontinyu maupun kontinyu sensitif terhadap penurunan harga jual sampai tingkat terendah (Rp. 5000,-/liter). Sehingga pertimbangan pada kondisi harga jual perlu menjadi perhatian dalam upaya pemberian kredit.
  6. Usaha peternakan kambing perah dengan pola usaha kontinyu menciptakan nilai lebih besar dan mempunyai resiko lebih rendah dibandingkan dengan pola usaha non kontinyu yang lebih sensitif terhadap penurunan harga jual maupun kenaikan biaya produksi. 

Rekomendasi Prospek dan Peluang Usaha Ternak Kambing Perah

  1. Perlu dilakukan pengembangan usaha ternak kambing secara intensif sehingga lebih menguntungkan dan tahan terhadap goncangan disamping dalam meningkatkan populasi kambing perah, yang belum berkembang luas memasyarakat.
  2. Dalam menghadapi persaingan global membutuhkan sentuhan-sentuhan teknologi yang telah tersedia sehingga dapat mendukung pengembangan usaha agar lebih memiliki daya saing, efisien dan ekonomis. Sentuhan teknologi yang dapat dilakukan misalnya teknologi pakan melalui formulasi ransum, kebersihan susu, perbaikan genetik untuk kualitas kambing dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA Artikel Prospek dan Peluang Usaha Ternak Kambing Perah 

  • Budiarsana, IGM. 2002. Kambing PE Penghasil Daging Sekaligus Susu. Balai Penelitian Ternak. Bogor. 
  • Cahyono, B. 1998. Beternak Domba dan Kambing. Kanisius. Yogyakarta. 
  • Departemen Pertanian. 2001. Buku Statistik Peternakan. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta. 
  • Direktorat Jenderal Peternakan.  2001.  Buku Statistik Peternakan. Departemen Pertanian, Jakarta. 
  • Jaya, U dan Tri, MR. 2000. Memerah Laba Kambing PE. Trobos. Jakarta. 
  • Mulyanto, R. D. dan Berdardinus T. W. W. 2002. Khasiat dan Manfaat Susu Kambing, Susu Terbaik dari Hewan Ruminansia. Agromedia Pustaka, Jakarta 
  • Mulyono, S. 2002. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Penebar Swadaya, Jakarta 
  • Sarwono, B. 2002. Beternak Kambing Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta. 
  • Sudono. 2002. Budidaya Aneka Ternak Perah. Jurusan Ilmu Produksi Ternak,      Institut Pertanian Bogor. 
  • Triyatna, SO. 2002. Arsa Tanius, Juragan Susu Kambing. 
  • Widianto, S. 2002. Investasi Kambing Perah di Jawa Barat Makin Menjanjikan.

Glossary Artikel Prospek dan Peluang Usaha Ternak Kambing Perah

usaha ternak kambing, bisnis kambing, fermentasi pakan kambing, bisnis ternak kambing, pakan ternak kambing, usaha kambing, fermentasi pakan ternak kambing, budidaya ternak kambing, fermentasi pakan ternak, cara memelihara kambing, ternak kambing gibas, cara bisnis kambing, pakan fermentasi kambing, kambing ternak, cara beternak kambing etawa, analisa usaha ternak kambing, jual bibit kambing, ternak kambing tanpa ngarit, ternak kambing modern, cara budidaya kambing, peternakan kambing etawa,

cara penggemukan kambing, kambing domba, budidaya kambing etawa, pakan kambing etawa, cara ternak kambing etawa, ternak kambing potong, jamu kambing agar cepat gemuk, cara ternak kambing modern, beternak kambing etawa, analisa ternak kambing, tips ternak kambing, peternak kambing sukses, memelihara kambing, peternakan kambing modern, pelihara kambing, kambing gembel, usaha penggemukan kambing, pakan kambing alternatif, ternak domba tanpa ngarit, harga anak kambing umur 4 bulan, cara ternak kambing gibas, jenis pakan kambing, cara ternak domba, kambing aqiqah, video ternak kambing, sukses ternak kambing, beternak domba, bibit kambing etawa, foto kambing etawa, jual kambing etawa, jenis kambing etawa,

analisa usaha penggemukan kambing, ternak kambing kacang, kerjasama usaha ternak kambing, ternak kambing gembel, harga bibit kambing, harga kambing gibas, pakan ternak kambing alternatif, budidaya domba, kalkulasi ternak kambing, pakan ternak kambing agar cepat gemuk,

penggemukan kambing dengan pakan fermentasi, proposal ternak kambing, cara ternak kambing etawa tanpa ngarit, bisnis ternak, jenis rumput pakan kambing, usaha peternakan, ternak domba sukses, cara beternak domba, cara ternak kambing tanpa ngarit, budidaya kambing kacang, jamu untuk kambing biar gemuk, cara ternak domba modern, kambing gemuk, cara penggemukan kambing jantan, cara menggemukkan kambing, ternak kambing etawa pemula, kambing kacang super, harga kambing qurban, ternak sapi limosin, kambing etawa terbesar, kambing akikah, kandang kambing etawa, kambing qurban, kambing koplo, kerjasama usaha ternak, pakan kambing buatan, usaha ternak sapi, ternak kambing jawa, kambing px, modal ternak kambing pemula, ternak kambing jawa tanpa ngarit, jual anak kambing,

kambing gembel super, analisa usaha ternak kambing pakan fermentasi, harga anak kambing, modal usaha ternak sapi, harga kambing anakan, wedus gibas, kambing gibas unggul, vitamin kambing biar cepat besar, pembesaran kambing jantan, cara ternak kambing jawa, untung ruginya ternak kambing, kambing etawa kaligesing, ternak domba garut, makanan kambing, domba gibas, cara berternak, budi daya kambing, kambing pedaging super, cara mengawinkan kambing, cara membuat pakan fermentasi untuk kambing jawa, gambar kambing etawa, harga kambing boer seekor, peternakan modern, kandang kambing kacang, cara ternak kambing yang menguntungkan,

ukuran kandang kambing, umur kambing aqiqah, budidaya ternak, makanan kambing biar cepat gemuk, kambing besar, gambar kandang kambing, budidaya kambing jawa, cara membuat kandang kambing, syarat kambing qurban, cara merawat kambing, harga kambing jawa randu umur 6 bulan, cara beternak kambing jawa, cara ternak kambing yang baik, contoh kandang kambing, ternak kambing modal 5 juta, harga anakan kambing boer, keuntungan ternak kambing, video kambing etawa, cara buat kandang kambing, cara merawat kambing agar cepat gemuk, cara beternak kambing yang baik, ukuran kandang kambing untuk 10 ekor, cara merawat kambing etawa, aqiqah kambing betina, makanan kambing etawa,

makanan kambing agar cepat gemuk, cara beternak domba yang menguntungkan, youtube kambing, kambing dan domba, perawatan kambing, cara memberi minum kambing, biaya pembuatan kandang kambing, kambing betina, cara merawat anak kambing agar cepat besar, cara merawat domba biar cepat gemuk, membuat kandang kambing, bentuk kandang kambing, kambing tidak mau makan, cara bikin kandang kambing, kambing makan rumput, bisnis ternak sapi bagi pemula, cara membuat kandang kambing sederhana,

makanan kambing selain rumput, kambing kecil, cara merawat domba agar cepat besar, gambar kambing jawa, ukuran kandang kambing etawa, susu kambing provit, ciri kambing birahi, cara agar kambing cepat besar, ukuran kandang kambing untuk penggemukan, domba dan kambing, umur kambing kurban, ukuran kandang kambing panggung, cara mengawinkan kambing agar anaknya jantan, gambar wedus, ukuran kandang domba, gambar kandang kambing sederhana