Last Updated:
Teknik Usaha Kulit dan Produk Kulit
Teknik Usaha Kulit dan Produk Kulit https://www.pustakadunia.com

Aspek Teknik Usaha Kulit dan Produk Kulit

Aspek Teknik Usaha Kulit dan Produk Kulit - Rata-rata berat kulit mentah sapi/kerbau  per ekor adalah sekitar 25-30 Kg/ekor, sedangkan kulit mentah kambing atau domba rata-rata beratnya sekitar 4-5 Kg/ekor.

Selanjutnya dari kulit mentah diproses menjadi  kulit samak dan beratnya berkurang menjadi sekitar 10 sampai 15 kg/ekor. Sedangkan  proses akhir dari kulit samak menjadi kuli jadi beratnya rata-ratavmenjadi  sekitar  5-6 Kg per ekor. 

Dari proses akhir kulit jadi tersebut dapat dibuat berbagai jenis produk kulit seperti, sepatu kulit, sandal kulit, jaket kulit, perlengkapan pakaian dari kulit lainnya, tas tangan kulit, koper kulit, tali pinggang kulit  dan kerajinan dari kulit lainnya.

Jenis-Jenis Produk Kulit

Kulit dan produk kulit Indonesia yang diproduksi terdiri dari berbagai jenis produk.  Untuk jenis kulit yang diproduksi terdiri dari kulit mentah, kulit setengah jadi (wet blue) dan kulit jadi.

Jenis-jenis kulit yang diekspor maupun untuk pasaran lokal  sebagian besar adalah berdasarkan pesanan atau job order.

Untuk pasaran ekspor misalnya ekspor kulit adalah  berdasarkan  trend pasar.

Sedangkan  untuk pasaran lokal  sebagian besar produksinya  dipesan untuk kebutuhan industri  produk kulit seperti sepatu kulit dan jacket kulit . 

Jadi produsen sepatu kulit, jaket kulit atau produk kulit lainnya  dapat memesan kulit sesuai dengan keinginannya  baik type kulit, model, corak, maupun warna kulitnya.

Kemasan/packaging adalah merupakan tahap akhir dari proses produksi yang berfungsi untuk melindungi prodiuk dari kerusakan pada saat pengiriman  barang.

Khusus untuk kemasan produk kulit mempunyai peranan yang penting karena dengan kemasan yang baik akan tetap terjaga kualitas produknya.

Sementara itu produk-produk kulit yang telah mendapat sertifikat  SNI (standar Nasional Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut.

Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk kulit

No

Nama Barang

No.SNI

1

Sepatu dinas lapangan  ABRI

12-0305-1989

2

Sepatu harian umum pria (Pantofel)

12-0073-1987

3

Sepatu harian umum Pria (Derbi)

12-0366-1989

4

Sepatu pengaman

12-0111-1987

5

Sepatu Bola

12-0488-1989

6

Sepatu lari

12-0570-1989

7

Sarung tangan kerja

06-0652-1989

8

Jaket kulit pria

12-0653-1989

9

Sarung tangan golf

12-0897-1989

10

Sepatu wanita (Pantofel)

12-2942-1992

11

Sepatu golf

12-1533-1989

12

Sepatu pria (Mokasin)

12-1534-1989

13

Kopor

12-1536-1989

14

Tas seminar

12-1536-1989

15

Tas Kantor

12-1992-1989

&  Sumber : Standar Nasional Indonesia (SNI)

Kesesuaian Lokasi Usaha Kulit dan Produk Kulit

Keputusan untuk mendirikan pabrik kulit dan produk kulit pada suatu tempat tertentu perlu dipertimbangkan  baik secara teknis maupun eknomis.

Karena akan berpengaruh besar terhadap berhasil atau gagalnya usaha tersebut.

Pertimbangan asal bahan baku perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi, hal ini secara langsung akan berpengaruh terhadap ongkos transportasi dan proses produksinya.

Industri-industri penyamakan kulit skala besar, menengah dan kecil di Indonesia misalnya sebagian besar berlokasi di dekat sumber bahan bakunya yaitu Pulau Jawa, karena seperti diketahui bahwa populasi ternak terbesar seperti sapi, kerbau, kambing dan domba  adalah di Jawa Timur, Tengah dan Jawa Barat.   

Sedangkan sentra – sentra industri  barang jadi kulit baik skala besar, menengah dan kecil yang mendominasi pasar dalam negeri, juga sebagian besar berlokasi di dekat sumber bahan bakunya seperti di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. 

Selain itu faktor lingkungan setempat juga dijadikan pertimbangan adalah  kemungkinan tenaga kerja yang murah, pengaruh usaha terhadap lingkungan, jumlah dan tingkat sosial penduduk, adat istiadat, tingkat harga tanah dan tersediannya bahan-bahan penunjang yang penting.

Secara keseluruhan keseluruhan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih lokasi usaha adalah sebagai berikut :

  1. Kemudahan untuk mendapatkan bahan baku secara kontinyu
  2. Jarak dengan pasar, dan angkos transportasi
  3. Pengadaan tenaga kerja dan tingkat sosial masyarakat
  4. Tersedianya sumber air yang memadai dan faktor lingkungan lainnya yang menunjang usaha
  5. Peraturan-Peraturan setempat, faslitas dan kemudahan yang tersedia. 

Tipikal Lay-Out Pabrik/Tata Ruang Pabrik

Tata ruang pabrik juga merupakan salah satu faktor yang sangat penting diperhatikan agar suasana kerja menjadi baik. Sasaran tata ruang adalah untuk mengatur ruang agar aliran proses produksi menjadi lancar, efisien dan menciptakan suasana kerja  yang menyenangkan  dan mudah diawasi. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam tata ruang adalah sebagai berikut :

  1. Mudah dalam pengangkutan bahan baku maupun hasil produksi
  2. Letak bangunan pabrik sesuai dengan urutan proses
  3. Demi keselatan kerja maka pada tempat-tempat yang mudah terjadi kebakaran ditempatkan unit-unit pemadam kebakaran
  4. Penyimpanan bahan baku, bahan pembantu dan hasil produksi harus terletak pada lokasi yang terisolir, misalnya lem, atau bahan kimia lainnya
  5. Tersediannya ruang kosong untuk pembongkaran alat-alat
  6. Cukup ventilasi dan lubang-lubang sirkulasi udara
  7. Distribusi air dan listrik harus se-efisien mungkin
  8. Letak peralatan harus dibuat se-efisien mungkin sesuai dengan alur proses produksi
  9. Pengelompokan alat-alat yang sejenis untuk mempermudah pengawasan dan pemeliharaan
  10. Pemasangan pipa letaknya harus di ataur supaya tidak menganggu orang yang berjalan.

Spesifikasi Peralatan/Mesin/Instalasi

Spesifikasi peralatan dan mesin yang  digunakan dalam proses produksi industri penyamakan kulit adalah sebagai berikut :

  1. Bak Perendam
  2. Bak Pengapuran
  3. Piasau buang daging dengan ukuran 15 cm dan lebar 10 cm
  4. Pisau buang bulu
  5. Drum dari kayu jati untuk penyamakan, buang kapur, pengikisan protein dan pembuangan lemak
  6. Drum dari kayu jati untuk penetralan, pengecatan, peminyakan dan fikasi
  7. Mesin ketam (Shaving machine)
  8. Pisau setting aut
  9. Papan pentangan
  10. Pisau pemotong tepi
  11. Meja Setting Out
  12. Meja Triming
  13. Meja untuk alas pengecatan
  14. Dan lain sebagainya 

Sedangkan spesifikasi Teknis, Merek dan Negara asal pada umumnya adalah berasal  dari Italia, dan Jerman.

Spesifikasi mesin-mesin dan alat produksi yang utama dibutuhkan untuk industri  barang-barang jadi kulit antara lain adalah Meja Gambar, Mesin Potong, Mesin Lipat, Mesin Pemasang Asseories dan Mesin Finising. Sedangkan spesifikasi Teknis, Merek dan Negara asal pada umumnya adalah berasal dari Italia, Jerman dan Korea Selatan

Jenis Mesin Yang Digunakan Dalam Industri Produk Kulit

 

Nama Mesin

 Spesifikasi Tehnis, Merek/Negara Asal

1

Meja Gambar

 Italia, Jerman dan Korea Selatan

2

Mesin Potong

 

3

Mesin Lipat

 

4

Mesin Jahit

 

5

Mesin Pemasang Asesoris

 

6

Mesin Finishing

 

Spesifikasi Bahan Baku

Jenis bahan baku yang digunakan untuk  produk kulit  seperti  Sepatu, Jaket, Kopor, Tas Tangan, Dompet, Sarung Tangan  dan produk kulit lainnya di Indonesia memiliki spesifikasi yang berbeda-beda tetapi pada dasarnya berasal dari kulit hewan yang sudah mengalami proses produksi tertentu dengan  menggunakan berbagai bahan baku penolong zat kimia seperti : 

  1. Chroom
  2. Dystup (bahan kimia)
  3. Cat Kulit
  4. Dan Sandaz

Spesifikasi bahan baku yang digunakan untuk pembuatan Sepatu Kulit misalnya, antara lain adalah :

  1. Kulit Box
  2. Kulit Lapis
  3. Kulit Sol

Sedangkan bahan pembantu yang dipakai antara lain :

  1. Lem (adhisive)
  2. Benang Jahit
  3. Paku
  4. Cat Kulit
  5. Lilin

Bahan baku yang digunakan untuk Jaket Kulit ialah jenis kulit box, sedangkan bahan baku penolong lainnya antara lain :

  1. Benang
  2. Cat Kulit
  3. Dan lainnya sebagainya. 

Proses Produksi Produk Kulit

Penyamakan Kulit

Terdapat dua jenis kulit yaitu, berkelas yang bebas dari pewarna dan tidak mengandung metal lebih dari 62.5 ppm. Kulit samak adalah kuli setengah jadi sebagai bahan untuk sepatu kulit dan  pakaian kulit serta perlengkapannya.

Penyamakan kulit terdiri dari atas banyak proses yang saling berurutan. Pada saat kulit mentah (rohet) memasuki proses awal, akan diseleksi  untuk menghasilkan (menyisihkan) kulit berkelas. Tahapan proses dilakukan dalam dyrum yang berkapasitas 400-600 lembar kulit sekaligus.

Penyamakan dilakukan untuk mengubah kulit mentah yang mudah rusak oleh ativitasd mikroorganisma, proses kimia maupun fisik menjadi kulit tersamak yang lebih tahan terhadap faktor-faktor perusak tersebut. Yaitu dengan memasukan bahan penyamak ke dalam jaringan lulit yang berupa jaringan kolegan sehingga terbentuk ikatan kimia antara keduanya menjadikan lebih tahan terhadap faktor perusak.

Zak penyamak bisa berupa penyamak nabati, sistetis, mineral, dan penyamak minyak.

Penyamakan kulit terdiri atas banyak proses panjang, namun pada intinya  dibagi 3 proses utama yaitu, proses awal (beam house atau proses rumah basah), proses penyamakan, dan finishing. 

Proses awal terdiri atas peredaman (untuk mengembalikan kadar air yang hilang selama proses pengeringan sebelumnya, kulit basah lebi mudah bereaksi dengan bahan kimia penyamak, membersihkan dari sisa kotoran, darah, garam yang masih melekat pada kulit), Pengapuran (membengkakan kulit untuk melepas sisa daging, menyabunkan lemak pada kulit, pembuangan sisik, pembuangan sisa daging, pembuatan kapur (deliming) (untuk menghilangkan kapur dan menetralkan kulit dari suasana basa, menghindari pengerutan kulit, menghindari timbulnya endapan kapur), pengikisan protein, pengasaman (picle) (untuk memberikan suasana asam pada kulit sehingga lebih sesuai dengan senyawa penyamak dan kulit lebih tahan terhadap serangga bakteri pembusuk).

Pada kulit sapi dilakukan proses pembuangan bulu menggunakan senyawa Na2S.

Sesuai dengan jenis kulitnya, tahapan proses penyamakan bisa berbeda. Kulit dibagi atas 2 golongan yaitu hide (untuk kulit dari binatang besar seperti kulit sapi, kerbau, kuda dan lain-lain), dan skin (untuk kulit domba, kambing, reptil dan lain-lain).

Jenis zat penyamak yang digunakan mempengaruhi hasil akhir yang diperolah. Penyamak nabati (tannin) memberikan warna coklat muda atau kemerahan, bersifat agak kaku tapi empuk, kurang tahan terhadap panas. Penyamak mineral paling umum menggunakan krom.

Penyamakan krom menghasilkan kulit yang lebih lembut/lemes, dan lebih tahan terhadap panas. Lewat proses penyamakan, dilakukan proses pemeraman yaitu menumpuk atau menggantung kulit selama 1 (satu) malam dengan tujuan untuk menyempurnakan reaksi antara molekul bahan penyamak dengan kulit.

Proses penyelesaian (finishing) adalah untuk menentukan kualitas hasil akhir (leather). Terdiri atas beberapa tahapan proses yang bervariasi sesuai dengan jenis kulit, bahan penyamak yang digunakan, dan kualitas akhir yang diingingkan.

Proses finishing akan membentuk sifat-sifat khas pada kulit seperti, kelenturan, kepadatan, dan warna kulit. Proses perataan (setting out) bertujuan untuk menghilangkan lipatan-lipatan yang terbentuk selama proses sebelumnya dan mengusahakan terciptanya luasan kulit yang maksimal.

Proses perataan sekaligus juga akan mengurangi kadar air karena kandungan air dalam kulit akan tergolong keluar (striking out). Beberapa proses lanjutan lainnya adalah pengeringan  (mengurangi kadar air kulit sampai batas standar biasannya 18-20 %), pelembaban (menaikan kandungan air bebas dalam kulit untuk persiapan perlakukan fisik di proses lanjutan), pelemasan (melemaskan kulit dan mengembalikan kerutan-kerutan sehingga luasan kulit menjadi normal kembali), pementangan (untuk menambah luasan kulit), pengamplasan (untuk menghaluskan permukaan kulit). Kulit samakan bisa di cat untuk memperindah tampilan kulit. 

Tahapan-tahapan proses produksi penyamakan kulit yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

Aspek Teknik Usaha Kulit dan Produk Kulit

Barang Jadi Kulit

Tahapan-tahapan proses produksi barang- barang kulit seperti Sepatu, Jaket , Tas Tangan, Ikat Pinggang, Kopor, Bola Kulit, Dompet, Sarung Tangan dan barang kulit lainnya , pada prinsipnya hampir sama. Uraian tahapan proses produksi adalah sebagai berikut : 

barang jadi kulit

Manajemen Operasional Usaha Kulit dan Produk Kulit

Keputusan untuk mendirikan pabrik kulit dan produk kulit pada suatu tempat tertentu perlu dipertimbangkan  baik secara teknis maupun eknomis. Karena akan berpengaruh besar terhadap berhasil atau gagalnya usaha tersebut.

Pertimbangan asal bahan baku perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi, hal ini secara langsung akan berpengaruh terhadap ongkos transportasi dan proses produksinya.

Manajemen operasi di sektor industri kulit dan produk kulit tidak jauh berbeda dengan industri-industri lainnya, yakni pengoperasian perusahaan  biasanya dikelola  oleh Dewan Direksi, mulai  dari tahapan produksi sampai kepada pemasaran.

Namun dalam pelaksanaannya Dewan Direksi mendelegasikan  tugas kepada direktur utama, kemudian diteruskan  kepada para direktur dan di transformasikan  kepada para manajer di masing-masing divisi, yang melibatkan manajer produksi, keuangan, kepala pabrik, kepegawaian dan pemasaran, sehingga industri ini memerlukan  divisi/bagian produksi, divisi keuangan, divisi pemasaran, kepala pabrik dan kepegawaian.

Divisi produksi bertugas melaksanakan kegiatan produksi, mulai dari persiapan bahan hingga menjadi produk jadi yang siap dipasarkan.

Selain membawahi bagian produksi, divisi ini juga membawahi bagian uji mutu (quality control) dan laboratorium bahan.

Divisi pemasaran bertugas menjual ke konsumer atau distributor, termasuk mencari pasar baru. Kemudian divisi keuangan bertugas melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan pembiayaan mulai dari gaji pegawai, pembelian bahan baku, biaya-biaya transport, dan biaya operasional lainnya.

Sedangkan divisi kepegawaian bertugas melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan tata terbit kepegawain, keuangan transportasi, hubungan masyarakat dan sebagainya, sedangkan kepala pabrik  bertugas mengawasi kegiatan produksi sampai urusan mengawasi kegiatan karyawan. 

Kepala pabrik biasannya adalah orang kepercayaan direksi.

Sedangkan pada industri skala  UKM (unit kecil menengah), segala kegiatan mulai dari kegiatan produksi, keuangan sampai pemasaran ditangani langsung oleh pemilik yang   dibantu oleh beberapa orang kepercayaannya.   

Struktur Organisasi Usaha Kulit dan Produk Kulit

Pengorganisasian  dalam suatu perusahaan/industri sangat penting karena organisasi dapat berperan  sebagai alat administrasi dan manajemen.

Suatu organisasi diperlukan  untuk mencapai tujuan tertentu dengan melibatkan banyak orang, karena itu diperlukan adanya pembangian kerja menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan selanjutnya akan ditangani oleh unit-unit dalam suatu organisasi.

Struktur organisasi di sektor industri  kulit dan produk kulit baik skala besar, menengah maupun kecil dapat dilihat pada bagan berikut ini.

Struktur Organisasi Usaha Kulit dan Produk Kulit
Skala Besar

Struktur Organisasi Usaha Kulit dan Produk Kulit

Skala Menengah-Kecil 

Jumlah pegawai dalam struktur industri IKM (skala kecil menengah)

Jenis Pekerjaan

Tenaga kerja

Manajer/pemilik  dengan latar belakang ahli kulit

1 orang

Tenaga Tehnik pemeliharaan mesin/Maintenance)

1 orang

Administrasi  dan gudang

2 orang

Peredaman & pengapuran

2 orang

Kerok dan buang daging

4 orang

Buang kapur s/d penyamakan

2 orang

Pengecatan dan peminyakan

2 orang

Setting out

2 orang

Pereganagan, pentang, dan  angin-angikan

3 orang

 

14 orang

&   Sumber :  Struktur Pegawai  IKM kulit dan produk kulit di Garut , Jawa Barat. 

KARAKTERISTIK INDUSTRI Kulit dan Produk Kulit 

Sekitar sepuluh tahun yang lalu industri kulit dan produk kulit Indonesia sebenarnya bukanlah tergolong industri yang terbelakang jika dibandingkan dengan negara lain.  Bahkan para produsen kulit dan produk kulit di dalam negeri  meyakini bahwa  industri kulit  yang sekarang berkembang di Cina, Pakistan, dan sejumlah negara lain di Asia sebagian  ada yang meniru gaya industri  kulit dan produk kulit Indonesia.

Keberadaan Akademi Teknologi Kulit dan Balai Penelitian dan Pengembangan Kulit di Yogyakarta membuktikan, bahwa para pengusahan pendahulu telah meletakan dasar-dasar yang kuat bagi pengembangan industri kulit dan produk kulit. Keberadaan dua lembaga itu  semula diharapkan agar industri kulit dan produk kulit mengalami kemajuan yang berarti.

Pengembangan industri kulit yang dimulai pada tahun 1970 an telah membuktikan, kalau industri   kulit dan produk kulit di dalam negeri telah mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pertumbuhan di sektor hulu misalnya, dari 37 pabrik  berskala besar dan menengah pada tahun 1975 menjadi 112 pada tahun 1995.

Pada masa itu muncul sentra-sentra industri kulit seperti di Magetan, Garut (Jawa Barat) dan Madiun (Jawa Timur). Pada masa yang bersamaan pabrik berskala  kecil  juga tumbuh dari sekitar 200 pabrik menjadi 500 pabrik dan kapasitas terpasangpun meningkat dari 40.000 ton  menjadi  70.000 ton per tahun.

Pada masa itu juga teknologi konvensional mulai ditinggalkan dan diganti dengan teknologi yang cukup maju. Pada masa itu pengusaha kulit dan produk kulit di dalam negeri tidak ragu untuk memesan berbagai keperluan industri kulit. Pewarnaan kulit yang semula dilakukan secara tradisional diganti dengan mesin pewarnaan yang  otomatis, yang bisa membuat warna lebih merata, dan campuran warna yang  lebih stabil sesuai dengan yang  trend yang disukai.  

Sebagai gambaran, Italia yang tidak menghasilkan kulit mentah, namun bisa menggerakkan bisnis yang beorientasi industri berbasis kulit.

Keberhasilan ini ternyata peran sertanya  pemerintah Itali yang memberikan kontribusi dalam bentuk infrastrukturnya, yakni memproduksi mesin, dan peralatan penyamakan kulit  dengan nilai investasi sekitar  $ 875 juta Euro atau sekitar Rp 7.9 triliun.

Dari bisnis yang hanya merupakan salah satu lini dari industri kulit dan produk kulit itu ternyata melibatkan sebanyak 400 usaha kecil dan menengah, yang sebagian besar dari UKM ini berada di  daerah Vigenano, Tuskany, dan Marches.

Di sekitar Padua dan Lombardy terdapat pabrik pembuat mesin dan peralatan untuk produksi sepatu kulit, sepatu olahraga dan mesin pembuat  kulit jadi.

Indonesia yang penduduknya  senang makan daging atau penghasil hewan potong yang cukup potensil justru industri kulit dan produk kulitnya sulit berkembang, sehingga hal ini menimbulkan tanda tanya, padahal kalangan produsen kulit dan produk kulit dunia, melihat Indonesia masih merupakan pasar potensial bagi  mereka.

Menurut Direktur Hubungan Internasional Association of Italion Manufactures of Manchinery and Accessories for Footwear Leather Goods and Tanneris (ASSOMAC) Mr. Mario Pucci mengatakan, kendati pasar Cina dan Vietnam makin bagus, namun mereka masih melihat pasar Indonesia memiliki prospek yang bagus. 

Respon bahwa industri kulit dan produk kulit Indonesia memiliki prospek yang baik antara lain, dibangunnya  Indonesian Footwear Service Center (IFSC) di Sidoarjo Jawa Timur.

IFSC yang mulai dioperasikan tahun 2003  dan pendiriannya didukung kerjasama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Italia ini, nantinya akan berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pelatihan, pusat informasi sosialisasi informasi pasar, teknologi, persaingan usaha dan lain-lain, pusat penelitian, pengembangan dan inovasi di bidang industri persepatuan  serta pelayanan konsultasi dan pemecahan masalah yang dihadapi oleh industri persepatuan  di Indonesia khususnya sepatu kulit. 

Naskah Kerjasama berkaitan dengan pendirian IFSC ini ditandatangani oleh Direktur Jenderal Industri dan dagang Kecil Menengah Deperindag, Agus Tjahajana (mewakili Pemerintah Indonesia) bersama duta besar Rep. Italia ,Fancesco M.Greco (mewakili Pemerintah Italia), pada tanggal 30 Januari 2003 di Jakarta.

Dalam naskah kerjasama tersebut tertuang kesepakatan bahwa Pemerintah Italia menyediakan pinjaman lunak sebesar 10 miliar Lira (5.550.000 Euro) dana ini akan dipergunakan untuk pengadaan mesin peralatan IFSC, peralatan Test untuk Balai Besar Litbang Industri Kulit, Karet dan Plastik Yogyakarta, TOT calon instruktur IFSC ke Italia, training pengusaha IKM ke Italia dan bantuan tenaga ahli.

Sedangkan kontribusi pemerintah Indonesia dalam hal ini seluruhnya senilai Rp 10.35 miliar dengan rincian, pemerintah pusat menyediakan biaya operasional selama tiga tahun pertama, dan Pemda Jawa Timur dan Sidoarjo akan membiayai pembangunan Gedung IFSC  berikut asrama dan fasilitas lainnya.

Pengusaha UKM akan menyediakan lahan seluar 5000 M2. Namun kenyataannya sampai saat realisasinya belum terlaksana karena masih ada beberapa kendala yang bersifat teknis.

Secara umum bahwa karakteristik industri kulit dan produk kulit ini antara lain  sebagai berikut

  • Padat Karya, bahwa industri kulit dan produk kulit memerlukan tenaga  kerja  trampil  dan ahli dali perkulitan
  • Padat modal, artnya bahwa dalam pendiriannya industri kulit dan produk kulit mmerlukan modal yang cukup besar untuk pembelian mesin-tenaga , tanah dan SDM yang ahli dalam perkulitam.
  • Padat Teknologi, artinya bahwa dalam proses produksinya kulit dan produk kulit memerlukan  beberapa tahapan    seperti dalam  proses penyamakan, proses pewarnaan, proses penghalusan,  dan proses dalam finising yang kesemuanya  merupakan tahapan yang menggunakan tekologi.
  • Industri kulit dan produk kulit termasuk industri yang tidak ramah lingkungan, terutama dampak lingkungan yang disebabkan dalam proses penyamakan menjadi kulit jadi. Dimana prosesnya  memnggunakan bahan bahan kimia yang cukup berbahaya.
  • Dilihat dari karakternya kapasitas industri kulit dan  produk kulit terdiri dari industri  kecil, indusri menengah dan besar. Untuk kapasitas produksi  IKM rata-rata sebesar 250.000 Sq ft per tahun sedangkan industtri besar rata-rata sebesar 20.000.000 Sq ft per tahun.