PustakaDunia.com

Analisis Perkembangan Pasar Gula Dunia

 

Analisis Perkembangan Pasar Gula Dunia - Eksportir dan Importir Utama Gula Dunia. Pada tahun 1999, produsen gula-gula dunia yaitu Brazil, Uni Eropa, India, China, dan USA. Produksi gula negara produsen utama ini menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat (Gambar 5). Brazil adalah negara produsen utama yang sangat mempengaruhi kondisi pasar global gula.

Gambar 5.  Perkembangan Produksi Gula Produsen Utama Dunia

Sumber : The World Bank, 2000) 

Eksportir utama gula dunia yaitu Brazil (26,88%), Uni Eropa (16,26%), Australia (11,12%), Thailand (10,44%) dan Cuba (8,35%). Perilaku ekspor dunia sangat dipengaruhi oleh ekspor gula asal Brazil. Pada periode 1996 – 1997, jumlah ekspor asal Brazil dan negara lainnya relatif sama, namun pada periode selanjutnya ekspor dari Brazil meningkat dengan tajam, sementara ekspor dari negara eksporir lainnya cenderung stabil. 

Importir utama gula dunia dunia yaitu Rusia (11,86%), dengan jumlah dan pertumbuhan impor yang relatif besar. Impor gula bagi Uni Eropa, Jepang, Korea, USA, Canada, Egypt, Iran, Malaysia, dan Indonesia dengan pangsa pasar berkisar pada 3 – 5%. Sebagai eksportir terbesar, perubahan impor oleh Rusia sangat mempengaruhi pasar gula dunia. Sejak tahun 1997 menyusul terjadinya krisis di Asia, konsumsi gula di sebagian besar negara di Asia menurun. 

Analisis Perkembangan Pasar Gula Dunia 

Untuk menganalisis perkembangan dan memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi pada pasar produk gula perlu dikenali beberapa isu relevan yang membentuk karakter dasar perkembangan. Isu - isu tersebut dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu isu yang berpengaruh terhadap perkembangan jangka panjang atau perkembangan struktural. Perubahan perkembangan siklikal dapat dilihat dari gerakan fluktuasi suatu variabel dalam jangka pendek (biasanya kurang dari lima periode), sedangkan perubahan perkembangan struktural dapat dilihat dari kecenderungan gerakan suatu variabel dalam jangka panjang (biasanya lebih dari 10 peride). 

Bila kinerja pasar dapat dilihat dari pergerakan harga maka isu - isu yang berpengaruh tersebut dapat dilihat pengaruhnya dari sisi permintaan (demand) dan penawaran (supply). Selain itu isu - isu tersebut ada yang secara terus menerus bekerja sehingga membentuk karakter dasar dari perkembangan, dan isu - isu yang bersifat sementara seperti isu - isu politik. 

Dalam dua dasawarsa terakhir indeks harga komoditas non energi di pasar internasional, termasuk gula, cenderung menurun. Hal ini terutama karena produksi cenderung meningkat, dan peningkatannya lebih besar daripada peningkatan konsumsi (World Bank, 2000). Peningkatan produksi karena pada umumnya negara produsen komoditas tersebut adalah negara sedang berkembang dan masih memiliki peranan yang penting dalam ekonomi, baik sebagai sumber devisa, sumber pendapatan pajak pemerintah, maupun sebagai penyedia lapangan kerja. Akibat dari keadaan ini adalah keadaan stok cenderung membesar yang pada gilirannya penawaran meningkat dan harga menjadi tertekan. 

Kondisi alam sangat mempengaruhi jumlah produksi. Penurunan produksi dalam jumlah besar di Australia terjadi sebagai akibat dari angin badai yang merusak tanaman. Penurunan produksi juga terjadi di beberapa negara Asia akibat dari kemarau yang panjang. Perubahan produksi mengakibatkan perubahan penawaran yang pada akhirnya dalam periode tersebut akan menekan harga dunia. 

Industri olahan berbahan baku gula adalah industri yang relatif besar dan berkembang dengan baik. Industri makanan dan minuman merupakan industri berbahan baku gula yang sangat prospektus. Namun demikian perkembangan ini tidak secara otomatis menyebabkan kenaikan konsumsi yang pada akhirnya akan menciptakan peningkatan penawaran. Hal ini dikarenakan adanya substitusi terhadap gula yang berasal dari gula pemanis lain, misalnya jagung (high fructose corn syrup). 

Liberalisasi perdagangan telah menghilangkan hambatan - hambatan perdagangan pada pasar gula dunia. Beberapa negara telah menurunkan tarif secara berkala. India sejak Desember 1999 telah menurunkan tarif sebanyak dua kali, sementara Indonesia penurunan berkala pada akhirnya telah meniadakan bea masuk impor. Kondisi ini mengakibatkan permintaan yang membentuk harga yang membentuk harga dunia. 

Perkembangan Perdagangan Jangka Panjang 

Laju rata-rata per tahun bagi produksi, konsumsi, stok dan produktivitas gula dunia pada dekade 1970 - 1980 memiliki nilai terbesar dibandingkan dengan periode sesudahnya. Laju produksi tertinggi terjadi pada dekade 1970 - 1980 yaitu mencapai 2,12% per tahun. Laju konsumsi cenderung menurun, dimana pada periode 1970 - 1980 bernilai 2,22% per tahun, pada periode selanjutnya menurun menjadi 1,97% dan 1,91%. Laju produksi yang relatif besar dengan laju konsumsi yang semakin menurun pada akhirnya menciptakan stok yang semakin besar. Pada dekade 1970 - 80-an penambahan stok gula dunia per tahunnya adalah 5,02%, yang kemudian menurun menjadi 1,49% pada dekade 1980 – 90-an dan meningkat kembali menjadi 2,75% pada dekade 1990 – 90. 

Sejak tahun 1970 hingga pertengahan 1980, produksi gula dunia hampir sama dengan konsumsinya, dan pada saat itu stok cenderung menurun dan hanya sekitar 10 juta ton. Sejak pertengahan 1970 - 1980 besarnya produksi gula dunia selalu diatas konsumsi. Besarnya laju konsumsi relatif stabil, berbeda dengan produksi yang berfluktuasi walaupun dalam jumlah yang relatif lebih besar dari konsumsi. 

Laju produksi gula dunia yang lebih besar daripada laju konsumsi, pada akhirnya menciptakan jumlah stok yang semakin membesar. Dengan sifat produk yang dapat disimpan dalam waktu relatif lama, stok gula dunia meningkat sangat besar. Bila pada awal 1970-an nilai stok berkisar pada 30 juta ton, maka pada tahun 1998 telah mencapai 65 juta ton atau sekitar 52% dari konsumsi. 

Perkembangan Harga Gula Dunia 

Harga gula dunia sejak lima tahun terakhir cenderung menurun. Bila pada tahun 1996 harga gula mencapai 26,4 sen dolar/kg, tetapi pada tahun 2000 hanya mencapai 14 sen dolar/kg (Gambar 6). Lima tahun terakhir laju rata - rata penurunan harga yaitu sebesar 13,73%. Proyeksi dua tahun ke depan walaupun ada kecenderungan meningkat, namun tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Sementara itu harga eceran gula dalam negeri pada tahun 2000 mencapai Rp. 2.989,- per kg dan tahun 2001 mencapai Rp. 3.200,- per kg. Diperkirakan harga eceran gula dimasa mendatang tidak akan bergeser banyak dari harga ini. 

Gambar 6.  Perkembangan dan Proyeksi Harga Gula Dunia 1996 – 2002

Berdasarkan Harga Berlaku (Sumber : The World Bank, 2000) 

Perkembangan Perdagangan Jangka Pendek 

Produksi gula dunia dalam periode 1996 - 2000 menunjukkan kecenderungan yang meningkat, walaupun pada tahun 1999/2000 hanya meningkat dengan laju 0,9% (Gambar 7). Pada periode tersebut, Brazil sebagai negara produsen dan eksportir terbesar memproduksi gula lebih sedikit. Demikian pula dengan pertumbuhan ekspor gula asal Brazil,  melambat pada tahun 2000. Kenaikan harga minyak telah menyebabkan pengalihan gula ekspor ke pasar  domestik. 

Sebagian besar permintaan impor bukan berasal dari negara dengan tingkat pendapatan yang tinggi, tetapi dari negara dengan tingkat pendapatan yang rendah. Kenaikan harga akan menyebabkan pengurangan pembelian atau bahkan menghentikan pembelian. 

Konsumsi gula dunia pada periode 1996 - 2000 menunjukkan peningkatan walaupun pada tahun 1999/2000 laju peningkatan hanya sebesar 1,76%.  Penurunan terjadi karena adanya perubahan kebijakan impor pada negara importir gula seperti Indonesia, India, dan Rusia. Secara kuantitas, jumlah gula yang dikonsumsi jauh dibawah jumlah gula yang diproduksi. Hal ini mengakibatkan semakin membesarnya jumlah stok gula dunia.

Gambar 7.  Perkembangan Produksi dan Konsumsi Dunia 1996 - 2000

Sumber : The World Bank, 2000 

Antisipasi Menghadapi Situasi Perdagangan Dunia 

Perdagangan komoditas pertanian pada era perdagangan bebas, tidak terlepas dari perjanjian yang telah disepakati bersama, yang meliputi.

  1. Penghapusan hambatan non tarif dalam perdagangan pertanian, seperti kuota impor, harga impor minimum, dan digantikan oleh tarif yang secara berkala akan mencapai nol persen.
  2. Pengurangan tingkat tarif  produk pertanian secara berkala.
  3. Penciptaan ketahanan pangan sebagai upaya untuk menjaga pasokan impor dan melindungi perubahan harga bagi negara-negara pengimpor. 

Kondisi pasar gula domestik sangat sensitif terhadap pasokan gula impor dan terutama dari sisi penawaran. Dari sisi penawaran diketahui bahwa produksi gula lokal sulit ditingkatkan dan sulit bersaing dengan gula impor, selain impor gula cenderung semakin meningkat dengan tingkat harga yang cenderung rendah. Sementara itu dengan pertambahan penduduk akan terjadi peningkatan demand terhadap gula. Pada Gambar 8 disajikan proyeksi konsumsi, produksi dan impor gula Indonesia. 

Asumsi:

  • Semua proyeksi berdasarkan trend aktual
  • Jumlah penduduk dijadikan dasar proyeksi konsumsi dengan pertumbuhan 1,7%/tahun (proyeksi BPS)
  • Peningkatan konsumsi perkapita 0,5 kg/tahun
 

Gambar 8.  Proyeksi Konsumsi, Produksi dan Impor Gula Indonesia 

Dari proyeksi yang dibuat tampak bahwa pada tahun 2001 akan terjadi kekurangan gula, jika impor dan produksi dalam negeri berjalan seperti trend yang terjadi selama 10 tahun terakhir. Untuk mencukupi kebutuhan gula dalam negeri tidak mungkin mengandalkan produksi sendiri yang relatif sulit ditingkatkan. Jika produksi gula dalam negeri tidak mampu meningkat, maka setelah tahun 2001 jumlah impor akan lebih besar dibandingkan produksi dalam negeri. 

Jika usaha peningkatan produksi gula dalam negeri dapat dilakukan sebesar 10% pertahun maka proyeksi impor dan produksi tersebut seperti pada Gambar 9. Kondisi ini berakibat pada penurunan impor  ± 5% per tahun atau sekitar 1 juta ton per tahun. 

Asumsi :

  • Jumlah penduduk dijadikan dasar proyeksi konsumsi dengan pertumbuhan 1,7%/tahun (proyeksi BPS)
  • Peningkatan konsumsi perkapita 0,5 kg/tahun
  • Produksi meningkat 10% pertahun
 

Gambar  9.  Proyeksi Produksi dan Impor dalam Keadaan Produksi Meningkat 

Keadaan yang paling mungkin dilakukan adalah menurunkan impor sampai tingkat kebutuhan gula untuk industri (± 750.000 ton). Dengan kondisi proyeksi ini berarti produksi gula dalam negeri harus mampu meningkat  ± 15% per tahun (Gambar 10).  

 Asumsi :

  • Jumlah penduduk dijadikan dasar proyeksi konsumsi dengan pertumbuhan 1,7%/tahun (proyeksi BPS)
  • Peningkatan konsumsi per kapita 0,5 kg/tahun
  • Impor turun 15% per tahun 

Gambar 10.  Proyeksi Produksi Berdasarkan Pengurangan Impor 

Atas dasar proyeksi di atas adalah suatu keharusan untuk terus berupaya mengembangkan industri gula nasional, terlepas dari kenyataan tidak menentunya arah perkembangan harga gula di pasar dunia. Efisiensi harus menjadi acuan utama dalam membangun dan mengembangkan industri gula di Indonesia. Melalui restrukturisasi diharapkan akan meningkatkan efisiensi dan akan menekan biaya produksi, sehingga industri gula Indonesia dapat bertahan dan bahkan mampu bersaing dalam era pasar bebas.