Last Updated:
Peternakan Ayam Ras Petelur
Peternakan Ayam Ras Petelur https://www.pustakadunia.com

Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur

Usaha peternakan ayam ras petelur telah dirintis jauh sebelum  pengembangan ayam ras pedaging.

Pengembangan usaha ternak ayam petelur di Indonesia dimulai sejak awal era orde baru, saat mulai diterapkan sistem perekonomian terbuka.

Dimulai dari uji coba skala kecil-kecilan dengan total populasi nasional sebesar 688 ribu ekor, saat ini terus berkembang dan mencapai  populasi sekitar 69,37 juta ekor. Diprediksikan pada tahun 2002 populasi ternak ayam petelur mencapai 73,58 juta ekor (Direktorat Jenderal Peternakan, 2001).

Secara lambat tapi pasti, komoditas telur ayam ras semakin diminati masyarakat dan kian menggeser peran telur ayam buras meskipun keunggulan telur ayam buras dalam cita rasa dan khasiat masih sangat melekat pada masyarakat luas.

Peternakan Ayam Ras Petelur

Peran ayam ras dalam produksi telur juga semakin menggeser posisi ternak itik. 

Pada awal orde baru dimana peran ayam buras masih dominan, produksi telur ayam ras baru mencapai 4,2 ribu ton sementara telur ayam buras dan itik masing-masing sebesar 30,9 ribu dan 22,6 ribu ton.

Peran ayam ras dalam produksi telur mulai dominan dan menggantikan peran ayam buras dan itik terjadi pada akhir tahun 70-an dan awal tahun 80-an, dengan pangsa produksi sekitar 60 % dari total produksi 262,6 ribu ton.

Peran dominan ayam ras dalam produksi telur masih terlihat sampai saat ini meskipun sempat mengalami penurunan sekitar 40 % ketika terjadi krisis moneter.

Krisis moneter memberi dampak cukup besar bagi produksi ayam ras yang menyebabkan penurunan produksi dari 500,6 ribu ton pada tahun 1996 yang merupakan puncak produksi menjadi hanya sebesar 266,9 ribu ton pada tahun 1999 (Direktorat Jenderal Peternakan, 2001). 

Perkembangan bisnis ayam ras petelur sebagaimana komoditas ternak lainnya dipengaruhi oleh situasi ekonomi regional.

Semakin membaiknya perekonomian pada tahun 1999, bisnis ayam ras petelur kembali bergairah meskipun belum sampai pada kondisi puncak.

Permintaan telur ayam ras cenderung elastis terhadap peningkatan pendapatan per kapita dengan nilai elastisitas sekitar 1,10.

Memasuki tahun 2001 meskipun sedikit terjadi penurunan, bisnis ayam ras petelur diperkirakan cukup stabil mendekati situasi puncak tahun 1996 dengan total populasi 66,9 juta ekor dan total produksi telur sebesar 490,55 juta ton.

Konsumsi telur nasional dimana kontribusi terbesar dari telur ayam ras diperkirakan mencapai 821,81 ribu ton pada tahun 2001 dan meningkat menjadi 849,84 ribu ton pada tahun 2002 (Direktorat Jenderal Peternakan, 2001). 

Perkembangan bisnis ayam ras petelur didorong keunggulan komparatif dan kompetitif dalam berbagai hal seperti;

  1. ketersediaan sarana produksi khususnya bibit dan pakan yang terjamin dengan berkembangnya industri breeder dan pakan ternak,
  2. teknologi yang relatif mudah diadopsi masyarakat tingkat menengah dan kecil,
  3. pemasaran luas dengan jalur-jalur efektif yang dapat menjangkau konsumen di berbagai wilayah,
  4. minat konsumen yang semakin membaik karena kontinuitas yang terjamin dan harga yang lebih rendah dibandingkan telur ayam buras atau itik,
  5. produktivitas yang tinggi dan cepat berproduksi dan
  6. dukungan pemerintah yang tinggi sebagai instrumen dalam pemberdayaan masyarakat.

Pemulihan ekonomi yang mulai nampak saat ini serta iklim usaha yang semakin kondusif termasuk faktor keamanan nampaknya akan mendorong pelaku-pelaku baru bermunculan disamping pelaku lama yang semakin intensif.

Oleh karena itu sejauh mana prospek, resiko, dan kelayakan investasi dalam pengembangan bisnis ayam ras petelur perlu pengkajian sebagai informasi penting dalam penentuan kebijakan berbagai pihak. 

Karakteristik Ayam Ras Petelur

Ayam ras petelur merupakan hasil rekayasa genetis berdasarkan karakter-karakter dari ayam-ayam yang sebelumnya ada.

ayam petelur unggulan
Perbaikan-perbaikan genetik terus diupayakan agar mencapai performance yang optimal, sehingga dapat memproduksi telur dalam jumlah yang banyak.

Salah satu keuntungan dari telur ayam ras petelur adalah produksi telurnya yang lebih tinggi dibandingkan produksi telur ayam buras dan jenis unggas yang lain.

Perbandingan produktivitas ayam ras petelur dengan ayam buras disajikan pada Tabel . 

Perbandingan Produktivitas Ayam Ras Petelur dengan Ayam  Buras

Keterangan

Ayam ras

Ayam Buras

-          Produksi telur (butir/tahun)

-          Berat telur (gram)

-          Sifat mengeram

-          Kemampuan berproduksi

200 – 250

50 – 60

hampir tidak ada

tinggi

40 – 60

30 – 40

ada

sangat terbatas

Sumber : Cahyono, 1996 

Terdapat dua macam tipe ayam petelur, sebagai berikut.

Tipe ayam petelur ringan

Tipe ayam ini sering disebut dengan ayam petelur putih yang mempunyai ciri-ciri badan ramping atau kecil mungil, bulunya putih bersih dan berjengger merah.

Ayam tipe ini umumnya berasal dari galur murni White leghorn yang mampu bertelur lebih dari 260 butir/tahun.

Ayam tipe petelur ringan ini sensitif terhadap cuaca panas dan keributan.

Tipe ayam petelur medium

Bobot badan ayam ini cukup berat, sehingga ayam ini disebut dengan ayam dwiguna. Ayam ini umumnya mempunyai warna bulu coklat dan menghasilkan telur berwarna coklat pula.

Ayam tipe ringan maupun tipe medium memerlukan pemeliharaan yang relatif sama. 

Beberapa karakteristik strain ayam ras petelur dalam kaitannya dengan produktivitas, FCR dan tingkat kematian dapat dilihat pada Tabel di bawah.

Mengenai perkembangan normal bobot badan, konsumsi pakan dan produksi telur ayam petelur coklat pada setiap tingkatan umur dapat dilihat padaTabel. 

Performan Beberapa Strain Ayam Petelur

Strain

Umur Awal Produksi

(minggu)

Umur pada Produksi 50%

(minggu)

Puncak Produksi

(%)

FCR

Kematian (%)

Lohmann Brown MF 402

19-20

22

92-93

2,3-2,4

2-6

Hisex Brown

20-22

22

91-92

2,36

0,4-3

Bovans White

20-22

21-22

93-94

2,2

5-6

Hubbard Golden Comet

19-20

23-24

90-94

2,2-2,5

2-4

Dekalb Warren

20-21

22,5-24

90-95

2,2-2,4

2-4

Bovans Goldline

20-21

21,5-22

93-95

1,9

6-7

Brown Nick

19-20

21,5-23

92-94

2,2-2,3

4-7

Bovans Nera

21-22

21,5-22

92-94

2,3-2,45

2-5

Bovans Brown

21-22

21-23

93-95

2,25-2,35

2-7

          Sumber : Rasyaf, 1995

Perkembangan Normal Bobot Badan, Konsumsi Pakan dan Produksi Telur Ayam Petelur Coklat

Umur

(minggu)

 

Rata-rata BB kg/ekor

 

Konsumsi pakan

Produksi (%)

 

gr/ekor/hari

Total (kg)

1

4

8

12

16

19

20

21

22

23

24-25

26-27

28-40

40-45

46-56

57-60

60-63

60-65

66-76

77-80

-

0,27

0,59

0,91

1,23

1,47

1,55

1,62

1,70

1,75

1,83

1,92

1,98

2,01

2,03

2,04

2,05

2,05

2,06

2,08

10

35

54

64

72

80

82

87

96

100

105

110

120

119

118

117

117

116

115

115

0,07

0,65

1,97

3,70

5,61

7,24

7,81

8,49

9,21

9,82

11,24

12,78

25,49

27,15

40,76

41,94

42,74

43,37

52,15

55,31

 

 

 

 

 

1

5

10

40

65-70

82,3-89,4

92,1-92,7

90,9-93,5

88,7-90,9

82,4-88,7

79,5-82,4

77,2-79,5

75,7-77,2

66,4-75,7

62,9-65,5

          Sumber : PT. Japfa Comfeed, 2001 

Karakteristik Telur

Telur merupakan produksi ternak ayam yang sangat bernilai ekonomis, produksinya cepat, mudah diproses, mudah dicerna dan memiliki flavour yang khas.

Senyawa putih telur dan kuning telur memiliki sifat-sifat sebagai berikut.

  1. Mengikat
  2. Mengentalkan
  3. Menghancurkan kristal-kristal gula
  4. Emulsifikasi
  5. Klorisifikasi
  6. Melindungi/coating
  7. Memberi warna dan memiliki kandungan nutrisi yang tinggi 

Sifat-sifat ini menyebabkan sangat ideal untuk dikombinasikan dengan makanan lain. 

Sifat Fisik Telur

Telur yang besar memiliki berat sekitar 60 gram, yang terdiri atas kulit luar 11 %, putih telur 58 %, kuning/yolk 31 %.

Berdasarkan kandungan bagian dalam, persentasenya adalah putih telur 65 % dan kuning telur 35 %.

Hasil pemecahan komersial berbeda dengan hasil di atas dimana prosentase kuning telur cukup tinggi.

Hal ini disebabkan sebagian putih telur tinggal bersama kuning telur pada saat pemecahan.

Secara keseluruhan sebutir telur terdiri dari  65,5 % air.

Secara terpisah putih telur mengandung 88 % air dan kuning telur mengandung 48 % air. Tabel menunjukkan komposisi kimia dari telur dan bahan telur yang cair.

Komposisi Kimia Telur

Komposisi

Whole Liquid

White

Yolks

Yolk

(Commercially Separated)

Water (%)

Protein (%)

Fat (%)

Carbohydrate (%)

Free Carbohydrate (%)

Ash (%)

73,7

12,9

11,5

1,1

0,3

1,0

87,6

10,9

Tr

1,1

0,4

0,7

51,1

16,0

30,6

1,0

0,2

1,7

55,5

15,4

26,9

1,0

0,2

1,6

          Sumber : Fakultas Peternakan IPB, 1997

Komposisi Nutrisi Telur

Sebutir telur mengandung 6-7 gram protein.

Protein yang terkandung dalam telur merupakan protein yang berkualitas tertinggi untuk makanan manusia.

Protein telur mengandung semua asam amino essensial yang dibutuhkan.

Selain protein, telur memiliki 5-6 gram lemak mudah dicerna yang terdiri dari asam lemak jenuh dan tidak jenuh.

Kandungan karbohidrat telur kurang dari 0,4 gram, merupakan bahan makanan berkalori rendah dan baik untuk yang melakukan diet. 

Mengandung vitamin essensial (kecuali vitamin E) yang larut dalam lemak (A-D-E-K) dan yang larut dalam air (B kompleks, Thiamin, riboflavin, asam panthotheric, niacin, asam folic dan B12) juga ada pada telur.

Kuning telur mengandung kolesterol yang relatif tinggi, sejenis lemak yang terdapat dalam darah, jaringan saraf dan bagian lain tubuh, yang berfungsi dalam proses-proses fisiologis tubuh. 

Telur dapat disamakan dengan tempat penimbunan zat-zat gizi.

Salah satu cara menilai kualitas gizi adalah dengan jalan menghitung NPU (Net Protein Utilization), yaitu persentase protein dalam bahan pangan yang diubah atau dikonversikan menjadi protein tubuh.

NPU dari protein beberapa bahan pangan disajikan pada Tabel. 

Net Protein Utilization (NPU) Beberapa Bahan Pangan

Sumber Protein

Net Protein Utilization (%)

·         Telur

·         Daging unggas

·         Ikan

·         Susu

·         Beras

·         Kedelai

96

78

77

71

63

61

          Sumber : Fakultas Peternakan IPB, 1997 

Pengembangan grading telur banyak dilakukan oleh para peternak mengingat permintaan konsumen yang menyukai berbagai jenis ukuran telur (besar dan kecil).

Pada perkembangan berikutnya, grading dilakukan tidak hanya berdasarkan ukuran telur saja, melainkan telah menggunakan ukuran yang lebih bervariasi lagi.

Berdasarkan bobotnya, klasifikasi telur hasil grading adalah sebagai berikut.

  1. Jumbo, dengan bobot 70,5 gram.
  2. Ekstra jumbo, dengan bobot 63,7 – 70,5 gram.
  3. Besar, dengan bobot 52,3 – 63,6 gram.
  4. Sedang, dengan bobot 42,9 – 52,2 gram.
  5. Kecil, dengan bobot 34,4 – 42,8 gram.
  6. Kecil sekali, dengan bobot 34,3 gram. 

Selain berdasarkan bobot, grading telur juga dilakukan berdasarkan mutunya. Mutu telur diklasifikasikan ke dalam empat kelas, yaitu mutu AA, A, B dan C. Ciri-ciri spesifik dari setiap mutu telur disajikan pada Tabel. 

Klasifikasi Mutu Telur Ayam

Mutu

Ciri Spesifik

AA

 

 

 

A

 

 

 

B

 

 

 

C

Kulit bersih, tidak retak dan normal, diameter kantung udara tidak lebih dari 1/8 inci, putih telur cerah dan kental, kuning telur normal dan tidak cacat

 

Kulit bersih, tidak retak dan normal, diameter kantung udara tidak lebih dari 3/16 inci, putih telur cerah tapi agak encer, kuning telur agak normal dan tidak cacat

 

Kulit tidak retak, sedikit bernoda, sedikit abnormal, diameter kantung udara tidak lebih dari 3/8 inci, putih telur cerah dan sedikit encer, kuning telur normal dan membesar, dan agak cacat

 

Kulit tidak retak, tetapi bernoda dan abnormal, diameter kantung udara tidak lebih dari 3/8 inci, putih telur cerah, tetapi encer, kuning telur membesar dan cacat

          Sumber : Suharno, 1998 

Telur memiliki sifat yang mudah rusak (perishable), tercemar oleh bakteri dan zat yang terkandung di dalam telur mudah rusak, sehingga perlu diperhatikan dalam penanganannya terutama dalam pemasaran telur yang perlu mempertahankan kualitasnya.

Telur akan mengalami perubahan kualitas selama penyimpanan oleh karena suhu di mana telur disimpan, waktu penyimpanan, kelembaban dan konsentrasi karbondioksida di udara.

Tingkat suhu dalam dalam penyimpanan untuk memepertahankan kualitas telur dalam keadaan baik pada tingkat kelembaban 80 % disajikan pada Tabel. 

Tingkat Suhu dan Lama Penyimpanan

Lama Penyimpanan (Hari)

Suhu Penyimpanan (oC)

3

37

8

25

23

16

65

7

100

3

          Sumber : Poultry Indonesia, 2001 

Putih telur kental dari telur yang berkualitas tinggi mengandung lebih banyak bahan solid, hydrogen dan ovumulen.

Beberapa indikator kimia untuk menilai kualitas putih telur disajikan pada Tabel. 

Perbedaan Komposisi antara Kualitas Putih Telur yang Baik dan Kurang

Uraian

Kualitas Baik

Kualitas Kurang

HCl

Mucin (%)

PH

Ca (mg/100 cc Putih telur)

Mg (mg/100 cc Putih telur)

K (mg/100 cc Putih telur)

Na (mg/100 cc Putih telur)

94

1,78

7,63

15,76

10,87

156,20

192,20

69

1,48

7,67

16,00

10,47

165,00

178,40

          Sumber : Poultry Indonesia, 2001 

Berdasarkan SNI 01-3926-1995 tentang mutu telur konsumsi (Lampiran 3) dibedakan menjadi tiga, yaitu : mutu kelas 1, mutu kelas 2 dan mutu kelas 3.

Pengklasifikasian mutu telur tersebut didasarkan pada beberapa faktor sebagai berikut.

  1. Kulit telur (kerabang)    ~ keutuhan, bentuk, kelicinan dan kebersihan
  2. Kantong udara              ~ kedalaman rongga udara, kebebasan udara
  3. Keadaan putih telur       ~ kekentalan dan kebersihan
  4. Keadaan kuning telur    ~ bentu, posisi dan kebersihan
  5. Bau                              ~ bau telur harus khas

Mengenai standar mutu telur konsumsi disajikan pada Tabel. 

Standar Mutu Telur Konsumsi

No

Faktor Mutu

Mutu I

Mutu II

Mutu III

1

Kerabang

 

 

 

 

  Keutuhan

Utuh

Utuh

Utuh

 

  Bentuk

Normal

Normal

Normal

 

  Kelicinan

Licin (halus)

Boleh ada bagian-bagian yang kasar

Boleh kasar

 

  Kebersihan

Bersih bebas dari kotoran yang menempel maupun noda

Bersih bebas dari kotoran yang menempel, boleh ada sedikit noda

Bersih bebas dari kotoran yang menempel, boleh ada noda

2

Kantung udara

(dilihat dengan peneropongan)

 

 

 

 

  Kedalaman

Kurang dari 0,5 cm

0,5-0,9 cm

1 cm atau lebih

 

  Kebebasan 

  bergerak

Tetap di tempat

Bebas bergerak

Bebas bergerak dan mungkin seperti busa

3

Keadaan Putih Telur

(dilihat dengan peneropongan)

 

 

 

 

  Kebersihan

Bebas dari noda (darah, daging atau benda asing lain)

Bebas dari noda (darah, daging atau benda asing lain0

Boleh ada sedikit noda tetapi tidak boleh ada benda asing lain

 

  Kekentalan

Kental

Sedikit encer

Encer, tetapi kuning telur belum tercampur dengan putih telur

4

Keadaan Kuning Telur (dilihat dengan peneropongan)

 

 

 

 

  Bentuk

Bulat

Agak gepeng

Gepeng

 

  Posisi

Di tengah

Di tengah

Agak kepinggir

 

Bayangan  batas-batas

Tidak jelas

Agak jelas

Jelas

 

  Kebersihan

Bersih

Bersih

Boleh ada sedikit noda

5

Bau

Khas

Khas

Khas

          Sumber : http://www.deptan.go.id/sni

TEKNIS PRODUKSI TELUR AYAM RAS 

Suhu Lingkungan Ideal Ayam Ras Petelur

Ayam ras petelur dewasa dalam pemeliharaannya, memerlukan kisaran suhu yang ideal antara 18-21oC, karena ayam ras umumnya berasal dari negara beriklim subtropis.

Temperatur tersebut hanya dapat dicapai di dataran tinggi di Indonesia yang beriklim tropis (panas lembab).

Suhu lingkungan yang panas akan mengurangi nafsu makan ayam ras petelur dan ayam cenderung lebih banyak minum.

Berkurangnya konsumsi dapat mengganggu kebutuhan nutrisi dan berpengaruh pada produksi telur.

Ayam ras petelur lebih mudah beradaptasi (lebih tahan) dengan suhu yang relatif tinggi daripada suhu yang selalu berubah-ubah. 

Umumnya usaha peternakan ayam ras petelur mempertimbangkan lokasi peternakan dengan daerah penyedia sarana produksi dan pemasaran agar dapat menekan biaya transportasi.

Oleh karena itu, masalah temperatur dapat diatasi dengan membuat sistem ventilasi udara yang baik yaitu dengan memberi kipas pada kandang, sehingga dapat mengurangi panas.

Jadi yang menjadi aspek kritis di sini yaitu masalah temperatur yang dapat mengganggu produktivitas ayam ras petelur.

Hal ini dapat di atasi dengan membuat sistem ventilasi udara yang baik pada kandang. Ada dua macam ventilasi yang dapat diterapkan, sebagai berikut.

Ventilasi bantuan negatif

Suatu kipas yang berfungsi menyedot udara busuk dari kandang sementara udara segar masuk dari sisi lain.

Ventilasi bantuan positif

Fungsi kipas dalam hal ini untuk menghembuskan angin segar ke dalam kandang dan udara busuk di dalam kandang akan terdesak ke luar.

Oleh karena itu, penggunaan sistem ventilasi positif harus disesuaikan dengan luas kandang, kekuatan motor penggerak kipas dan lebar kipas.

arah hembusan angin Ventilasi bantuan negatifarah hembusan angin Ventilasi bantuan positif
Sumber   : Rasyaf, 2001

Kandang dengan Ventilasi Bantuan Negatif (Kiri) dan Kandang dengan Ventilasi Bantuan Positif (Kanan). 

Lokasi Yang Tempat Membuat Kandang Ayam Ras Petelur

Memulai usaha peternakan perlu memperhatikan lokasi yang ideal bagi pemeliharaan ayam ras petelur.

Lokasi tersebut hendaknya tidak akan mengganggu lingkungan masyarakat sekitar. Kesalahan menentukan lokasi tanpa memperhatikan aspek sosial akan menimbulkan masalah akibat bau limbah kotoran yang dapat mengganggu kesehatan.

Sebaiknya lokasi peternakan tidak berada di lingkungan pemukiman penduduk. Oleh sebab itu perlu memperhatikan master planpengembangan dan tata ruang wilayah.

Lokasi peternakan perlu melihat aspek sosial dan ekonomi serta beberapa hal penting sebagai berikut.

  1. Tidak mengganggu lingkungan masyarakat disekitarnya.
  2. Berada pada kawasan yang menurut Rencana Tata Ruang diperuntukkan untuk pengembangan peternakan.
  3. Memperhatikan potensi sumberdaya alam sekitarnya yang dapat dimanfaatkan.
  4. Menghindari daerah-daerah yang peka terhadap kerusakan lingkungan.
  5. Lokasinya terbuka, cukup luas dan tidak ada bangunan atau pun pepohonan rindang yang menghalangi peredaran udara sehingga udaranya segar.
  6. Keadaan sekitarnya tenang, tidak terlalu berdekatan dengan keramaian, untuk menghindari ayam mengalami stress akibat kebisingan dan suara-suara yang menggaduhkan yang akan merugikan usaha peternakan.
  7. Lokasi harus lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya, sehingga gerakan udara bebas dan untuk menghindari air menggenang pada waktu musim hujan, sehingga tidak menimbulkan kelembaban yang tinggi yang akan mengganggu kesehatan ayam.
  8. Lokasi harus dekat dengan sumber air yang bersih dan sumber listrik.
  9. Lokasi tidak jauh dengan tempat pemasaran, agar biaya tataniaga dapat ditekan dan resiko terhadap kerusakan telur dalam pengangkutan dapat dihindari. 

Perkandangan Ayam Ras Petelur

Fungsi Kandang Ayam Ras Petelur

Kandang yang baik dibuat memanjang dari arah Utara ke Selatan dari bahan yang relatif menyerap panas (atap berwarna muda), murah, dan tersedia cukup.

Kandang merupakan sarana yang terpenting untuk terselenggaranya usaha peternakan ayam secara intensif.

Bagi pengusaha peternakan perlu memahami arti pentingnya fungsi kandang yang dipaparkan sebagai berikut.

  1. Memberikan kenyamanan dan melindungi ternak dari panasnya sinar matahari pada siang hari, hujan, angin, udara dingin dan untukmencegah gangguan seperti predator.
  2. Memudahkan tata laksana yang meliputi pemeliharaan dalam pemberian pakan dan minum, pengawasan terhadap ayam yang sehat dan ayam yang sakit.
  3. Memudahkan dalam pengambilan telur dan pengumpulan kotoran untuk pupuk kandang. 

Syarat Kandang Ayam Ras Petelur

Syarat-syarat umum konstruksi kandang ayam ras petelur yang baik dan memenuhi persyaratan kesehatan bagi kehidupan ayam adalah sebagai berikut.

  1. Dinding kandang tidak rapat, harus merupakan celah-celah yang terbuka, dapat dibuat dari dinding kawat atau jeruji bambu.
  2. Tempat kandang harus kering dan bersih.
  3. Posisi kandang dibangun menghadap ke arah Timur, agar kandang mendapat cukup sinar matahari pagi secara langsung dan bila siang hari ayam terhindar dari panas matahari yang merugikan.
  4. Pertukaran udara dalam kandang harus lancar, sehingga diperlukan ventilasi yang cukup.
  5. Kandang dibuat cukup tinggi, minimal 3 meter untuk bagian tengahnya. Tinggi bagian samping minimal 2 meter dan tepi atap panjangnya 1 meter. Lebar dan panjang kandang dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan jumlah ayam yang dipelihara.
  6. Atap kandang dibuat berbentuk huruf A dengan bagian tengah lebih tinggi dan meluncur ke arah samping (untuk kandang model bateray).
  7. Kandang harus tetap bersih, baik yang di dalam maupun yang di luar kandang. 

Bentuk Kandang Ayam Ras Petelur

Berdasarkan model konstruksinya, ada tiga bentuk kandang yang dapat digunakan untuk pemeliharaan ayam ras petelur secara intensif, yaitu sebagai berikut.

Kandang Postal

Merupakan kandang yang tidak disertai dengan halaman umbaran yang beralaskan liter, sehingga dalam pemeliharaannya ayam tidak dilepas dan selalu terkurung sepanjang hari di dalam kandang.

Kebutuhan luas kandang per meter persegi adalah untuk 4-5 ekor ayam.

Kelebihan menggunakan model postal adalah lebih menghemat tempat karena tanpa halaman umbaran, menghemat biaya, dan pembuangan kotoran lebih mudah.

Kelemahannya adalah pemeriksaan kesehatan terhadap ayam sakit lewat kotoran menjadi sulit, jika ada ayam yang sakit dapat menular cepat, sering timbul perkelahian, bila liter dalam keadaan lembab dapat menimbulkan penyakit.

Kandang Ren

Kandang yang dibangun sebagian merupakan tempat yang tertutup untuk tempat bertelur dan berteduh, dan sebagian lain adalah tempat yang terbuka yang dibatasi oleh pagar yang merupakan halaman umbaran.

Kepadatan populasi per meter persegi adalah untuk 1 ekor ayam.

Kelebihan model ini adalah dapat memperoleh sinar matahari pagi.

Kelemahannya adalah kurang ekonomis, produktivitas masing-masing ayam sulit diketahui, bila ada ayam yang sakit dapat menular dengan cepat.

Kandang Bateray

Merupakan kandang yang berbentuk sangkar empat persegi panjang yang disusun berderet-deret memanjang bertingkat dua ataupun bertingkat tiga, dan setiap sangkar (ruangan) hanya menampung satu ekor ayam.

Lantai kandang merupakan bilah-bilah bambu ataupun kawat yang disusun tidak rapat agar kotoran ayam dapat langsung jatuh ke tanah.

Ukuran luas sangkar kandang untuk satu ekor ayam adalah panjang 45 cm, lebar 25 – 30 cm dan tinggi 40 – 45 cm.

Pintu kandang terletak di bagian muka, pada sisi yang berukuran 40 – 45 cm x 25 30 cm.

Model kandang ini paling sesuai dengan dan efektif untuk daerah tropis yang panas dan lembab seperti di Indonesia, serta cocok untuk lahan yang sempit.

Pada Gambar dijelaskankan model kandang sistem bateray.

Beberapa keuntungan  kandang model ini adalah sebagai berikut.

  1. Lebih menghemat tempat dan dapat dibuat bertingkat.
  2. Produktivitas masing-masing ayam mudah diketahui.
  3. Pengawasan kesehatan ayam lebih terjamin.
  4. Penyebaran atau penularan penyakit secara luas dapat dicegah.
  5. Energi yang dikeluarkan lebih sedikit, sehingga ayam dapat berproduksi maksimal.
  6. Mencegah kerusakan telur dari pematukan.
  7. Mencegah terjadinya kanibalisme.
  8. Memudahkan pemeliharaan seperti pemberian pakan, minum dan lain-lain.
  9. Memudahkan dalam pengambilan telur.

Beberapa kelemahan pada kandang model ini adalah sebagai berikut.

  1. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat kandang lebih besar.
  2. Persentase telur pecah lebih tinggi bila alas kandang tidak diberi bahan yang empuk.
  3. Sering banyak lalat bila kandang sempit dan tertutup, serta terlambat membuang kotoran.
Kandang Ayam Batray Bertingkat
 Sumber    :  Rasyaf, 1995

Model Kandang Sistem Bateray Bertingkat 

Peralatan Kandang Ayam Ras Petelur

Tempat makan dan minumTempat makan dan minum harus memenuhi persyaratan seperti tidak mudah kotor dan mudah dibersihkan, ukuran yang sesuai dengan tingkatan umur ayam, harus kuat tidak mudah ditumpahkan oleh ayam sehingga tidak ada makanan yang terbuang, dapat dengan mudah dicapai oleh ayam serta mudah diatur dan tidak mengganggu pemeliharaan.

Pada sistem bateray, tempat makan dan minum menjadi satu yang ditempatkan di luar, untuk dua ekor ayam diberikan satu tempat minum.

Tempat makan yang digunakan adalah model U atau V yang memanjang lurus.

Pada sistem postal atau ren, alat makan dan minum yang digunakan adalah model ember terbalik yang digantungkan atau dengan model sarang koloni. 

Pemanas (brooder)Brooder merupakan induk buatan yang berfungsi untuk memberikan kehangatan kepada anak-anak ayam yang masih membutuhkan pemanasan dalam hidupnya.

Alat pemanas harus memenuhi persyaratan seperti panasnya harus stabil dan mudah diatur suhunya, serta penerangannya cukup.

Pemanas ini dapat berupa lampu minyak atau kompor yang dipanaskan dengan gas, listrik, lampu listrik dan lain-lain. Pada Tabel menunjukkan temperatur tubuh ayam menurut umur.

Temperatur Tubuh Rata-rata yang Dipengaruhi Umur

Umur Anak Ayam (Hari)

Temperatur Tubuh Rata-rata (oC)

1

39,7

2

40,1

4

41,0

5

41,4

10

41,4

Sumber : Poultry Indonesia, 2001 

Semakin bertambah umur ayam temperatur tubuh ayam pun akan berbeda, sehingga memerlukan perlakuan yang berbeda pemberian brooder pada umur  minggu pertama dengan minggu kedua yang diperlihatkan pada Tabel. 

Temperatur Brooding yang Dibutuhkan sesuai dengan Umur

Umur Brooding

Temperatur

Minggu pertama

32 – 35

Minggu kedua

30 – 32

Sumber : Poultry Indonesia, 2001 

Thermometer. Alat ini digunakan untuk mengontrol suhu/temperatur dalam kandang box/indukan. Temperatur dalam kandang box harus selalu dikontrol dengan menggunakan termometer sehingga temperatur yang dikehendaki untuk anak ayam tetap stabil, karena apabila keadaan suhu naik terlampau panas atau terlalu dingin akan merugikan usaha peternakan. 

Bibit Ayam Ras Petelur

Penggunaan bibit ayam yang baik merupakan salah satu sarana produksi dalam usaha peternakan yang penting untuk diperhatikan disamping sarana-sarana lainnya, kerena penggunaan bibit yang baik mutunya sangat menentukan keberhasilan panen.

Bibit ayam ras petelur haruslah dipilih dari bibit yang unggul dan produktif, serta tahan terhadap penyakit.

Bibit ayam ras petelur yang unggul adalah bibit yang telah mengalami seleksi dan pemuliabiakan berdasarkan teknologi. 

Bibit dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti poultry shop, perusahaan pembibitan induk atau  perusahan inti dalam sistem kemitraan.

Pembelian melalui poultry shop dapat dilakukan setiap saat di berbagai tempat karena merupakan ujung tombak dalam pemasaran sarana produksi ternak, sedangkan pembelian dari perusahaan pembibitan biasanya dilakukan melalui pemesanan atau sebagai pelanggan tetap. 

Pada umumnya jenis-jenis ayam yang telah dikenal di Indonesia merupakan final stok yang merupakan turunan terakhir hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang dikenal mempunyai daya produktivitas tinggi.

Secara umum ada dua golongan ayam ras petelur, yaitu sebagai berikut.

  1. Ayam ras petelur dengan warna bulu putih, yang menghasilkan telur berkulit warna putih. Strain ayam yang termasuk ke dalam golong ini adalah Babcock, Hyline W– 36, Arbor Acres AA – 26, Shaner 288, Dekalb, Tatum T – 100, Hisex putih, Steggles Leghorn dan Lohman putih.       
  2. Ayam ras petelur coklat, dengan warna bulu yang bermacam-macam (coklat kemerah-merahan, lurik, hitam kemerah-merahan dan lain-lain) yang menghasilkan telur warna putih coklat. Strain ayam yang termasuk ke dalam golongan ini adalah Hyline 717, Golden Comet, Babcock, Hyline Brown, Hisex Brown, Shaver 579, Tatum Brown T – 173, Ross Brown, Dekalb Warren, Isa Brown, Hubbard dan Lohman Brown. 

Beberapa Strain Bibit Ayam Ras Petelur

Nama Bibit

Warna Bulu

Tipe

Produksi Telur (butir/tahun)

Konversi Ransum

(kg/dosin telur)

Babcock B-300 V

Putih

Ringan

270

1,82

Dekalb XI-Link

Putih

Ringan

255-280

1,8-2,0

Hisex White

Putih

Ringan

288

1,89

H & W Nick

Putih

Ringan

272

1,7-1,9

Hubbard Leghorn

Putih

Ringan

260

1,8-1,86

Ross White

Putih

Ringan

275

1,9

Shaver S 288

Putih

Ringan

280

1,7-1,9

Babcock B 380

Coklat

Dwiguna

260-275

1,9

Hisex Brown

Coklat

Dwiguna

272

1,98

Hubbard Golden Comet

Coklat

Dwiguna

260

1,24-1,3

Ross Brown

Coklat

Dwiguna

270

2,0

Shaver Star Cross 579

Coklat

Dwiguna

265

2,0-2,08

Warren Sex Sal Link

Coklat

Dwiguna

280

2,04

Sumber : Rasyaf, 1995 

Pada Tabel memperlihatkan kemampuan masing-masing bibit ayam ras petelur yang pada umumnya memiliki kemampuan yang relatif sama.

Seleksi awal terhadap anak ayam (DOC) yang telah dikeluarkan dari perusahaan pembibitan perlu mendapat perhatian yang serius, agar bibit yang dibudidayakan nantinya tidak banyak merugikan.

Bibit tersebut harus diseleksi lagi dan memenuhi persyaratan antara lain sebagai berikut.

  1. Anak ayam harus sehat dalam arti bebas dari berbagai macam penyakit, secara fisik ayam yang sehat dapat ditunjukkan oleh mata yang bersih, bening dan bersinar serta mata tidak redup.
  2. Tubuh tidak cacat.
  3. Jika dijatuhkan ke lantai ayam dapat berdiri dengan cepat.
  4. Bulu ayam penuh  dan bersih.
  5. Anus tidak becek (basah) melainkan kering dan bersih.
  6. Perut bila diraba tidak keras dan kaku.
  7. Ukuran badan tidak terlalu kecil.
  8. Paruh pendek dan tidak melengkung.
  9. Anak ayam lincah dalam gerakannya.
  10. Kakinya kuat, lurus dan berdiri tegap. 

Usaha untuk mendapatkan ayam yang produksi telurnya tinggi perlu dilakukan seleksi terhadap ayam dewasa.

Seleksi pada ayam dewasa dapat dilakukan dengan memperhatikan ciri-ciri fisik dari ayam tersebut seperti disajikan pada Tabel. 

Seleksi Ayam Dewasa Berdasarkan Ciri-ciri Fisik

Bagian Tubuh

Ciri-ciri

Produktivitas Tinggi

Produktivitas rendah

Muka/Kepala

Lebar, halus dan bersih bercahaya

Kecil, kasar dan pucat

Jengger dan pial

Besar, halus dan warna merah menyala

Kecil, suram dan keriput

Mata

Bening bercahaya

Sayu seperti mengantuk

Tulang pubis

Berjarak 3 jari tangan

Berdekatan 2 jari tangan

Perut

Halus, penuh, elastis

Keras dan berlemak

Kulit

Tipis, halus, longgar

Tebal dan melekat pada daging

Kloaka

Oval, lebar, basah dan warna pucat

Bulat, kecil, kering dan warna kuning

Badan

Lebar dan dalam

Sempit

Kaki

Rata, kecil, pucat

Bulat

Paruh

Pendek

panjang

Jarak ujung tulang belakang dan ujung tulang dada

Berjauhan 4 jari tangan

Berdekatan 3 jari tangan

Sumber : Fakultas Peternakan IPB, 1997 

Pakan Ayam Ras Petelur

Dalam usaha peternakan ayam petelur, makanan merupakan salah satu input dalam keberhasilan berproduksi yang mempengaruhi tinggi rendahnya produksi telur.

Kesalahan dalam pemberian pakan akan menyebabkan ayam menderita berbagai macam gangguan penyakit seperti penyakit defisiensi karena unsur-unsur mineral ataupun vitamin yang diperlukan tidak terpenuhi.

Hal ini akan berakibat ayam petelur yang produksinya baik menjadi rendah produksinya.

Untuk mendapatkan pakan yang terjamin mutunya, hendaknya peternak membeli pakan buatan pabrik yang bersertifikat. 

Bentuk dan Jenis Pakan Ayam Ras Petelur

Berdasarkan bentuknya ada tiga jenis pakan yang paparkan sebagai berikut.

Mesh ( berbentuk tepung)

Bentuk ini merupakan bentuk ransum yang umum terlihat. Bahan yang dipilih menjadi ransum digiling halus kemudian dicampur menjadi satu.

Ransum bentuk ini menyebabkan ayam tidak bisa memilih bahan pakan yang disenangi.

Hal ini berdasarkan sifat dan cara makan ayam yang lebih gemar memakan pakan yang berbentu butiran dan berwarna.

Oleh karena itu ransum yang berbentuk tepung kurang disukai ayam.

Bentuk ransum yang halus ini memiliki keuntungan lain, yaitu mudah diserap usus ayam sehingga efisiensinya lebih baik.

Ransum bentuk ini dapat digunakan untuk semua umur dan harganya lebih murah.

Pellet (berbentuk bulat panjang)

Bentuk ini merupakan perkembangan dari bentuk tepung.

Kelemahan dari bentuk ini adalah memungkinkan terjadinya kanibalisme.

Bentuk pakan ini dapat menyebabkan kanibalisme karena pellet merupakan pakan yang padat gizi, sehingga ayam tidak tertarik lagi mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang lebih banyak.

Secara biologis perilaku ayam umumnya suka mematok makanan setiap saat.

Oleh karena gizi sudah terpenuhi, maka yang dipatok bukan lagi makanan melainkan teman sendiri.

Namun kanibalisme tidak selalu disebabkan oleh pakan bentuk pellet. 

Kondisi lingkungan yang panas dan membuat stress ayam juga dapat menyebabkan kanibalisme. Pakan bentuk ini juga kurang cocok untuk anak ayam. 

Crumble (berbentuk pecah/butiran)

Bentuk ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari bentuk pellet.

Bentuk ini banyak digunakan untuk semua umur ayam broiler.

Ransum ini sudah lazim digunakan oleh peternak karena harganya tidak semahal ransum bentuk pellet.

Pada Tabel menunjukkan pemberian pakan pada beberapa tingkatan umur. 

Penggunaan Jenis Pakan pada Tingkatan Umur Ayam Ras Petelur

Pakan

Pemakaian

pada Umur

Keterangan

PAR-DOC

PAR-S

PAR-G

PAR-L I

PAR-L SUPER

PAR L II

1 hr - 6 minggu

7 mg – 12 mg

13 mg – 17 mg

18 minggu dst.

18 minggu dst.

52 mg – afkir

Crumble

Crumble

Crumble/pellet

Crumble/pellet

Pellet

Pellet

Konsentrat

 

Pemakaian

Campuran

Pada Umur

K

J

Kt

G

Kon. Grower I

Kon. Grower II

Kon. Layer kus

Kon. Layer kus Super

Kon. Layer

13 mg – 17 mg

16 mg – 18 mg

18 mg – afkir

18 mg – afkir

7 mg – 12 mg

13 mg – 17 mg

18 mg – afkir

30

30

30

 30

50

25

30

45

45

40

 40

30

45

40

25

25

30

 30

20

30

23

-

-

-

 -

-

-

7

K  = Konsentrat          J = Jagung            Kt = Katul                 G = Grit

         Sumber : PT. Japfa Comfeed, 2001 

Komposisi Nutrisi Pakan Ayam Ras Petelur

Komposisi zat makanan yang diperlukan untuk ransum starter, grower dan layer terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air.

Kebutuhan lemak pada fase starter, grower dan layer masing-masing adalah 4, 5 dan 5 – 6  %. Protein yang diperlukan ayam pada fase starter sebesar 22 %, pada fase grower 14 – 16 % dan pada fase layer 17  %. 

Kebutuhan pakan per ekor per hari berdasarkan umur adalah sebagai berikut.

Anak ayam sampai umur 3 bulan, yang diberikan berupa starter dan dedak halus. Jumlah yang diberikan adalah sebagai berikut.

~ Umur 1 – 6 hari                     :   5 – 10 gram/ekor/hari

~ Umur 7 – 12 hari                   : 10 – 15 gram/ekor/hari

~ Umur 13 hari – 1 bulan          : 15 – 20 gram/ekor/hari

~ Umur 1 – 3 bulan                  : 30 – 40 gram/ekor/hari

Ayam umur 3 – 5 bulan, pakan yang diberikan terdiri dari dedak, jagung giling dan konsentrat dengan perbandingan dalam 100 kg bahan pakan adalah 25 kg dedak halus, 45 kg jagung giling dan 30 kg konsentrat. Jumlah yang diberikan adalah sebagai berikut.

~ Umur 3 – 4 bulan      : 50 – 60 gram/ekor/hari

~ Umur 4 – 5 bulan      : 70 – 80 gram/ekor/hari

Selain itu masih perlu tambahan makanan hijauan 18 – 10 gram per ekor per harinya.

Ayam yang sudah bertelur, diberikan pakan berupa adonan yang terdiri dari dedak, jagung giling dan konsentrat, dengan perbandingan per 100 kg bahan pakan adalah 3:4:3 atau 30 kg dedak, 40 kg jagung giling dan 30 kg konsentrat.

Kebutuhan untuk setiap ekornya adalah sekitar 100 gram per harinya, yang diberikan dua kali sehari.

Disamping itu perlu juga diberikan makanan tambahan berupa hijauan seperti bayam, kangkung, kubis dan lain-lain.

Hal ini dilakukan untuk memberi tambahan vitamin. Setiap ekornya diberikan sekitar 20 gram per harinya. 

Pemeliharaan Ayam Ras Petelur

Pemeliharaan ayam ras petelur harus dilakukan secara cermat dengan pengawasan yang ketat karena faktor resiko penyakit yang cukup tinggi.

Persiapan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya demikian juga dalam penggunaan alat harus memenuhi baik faktor higienis, keamanan ternak maupun efisiensi.

Lantai, dinding, langit-langit, peralatan makan dan minum, pemanas harus dibersihkan dan disanitasi paling lambat satu minggu sebelum anak ayam dimasukkan kandang dengan menggunakan desinfektan seperti biocid. 

Selama hidupnya ayam mengalami tiga fase produksi, yaitu masa produksi awal  (0-6 minggu), masa produksi remaja atau grower (6-20 minggu) dan masa bertelur (20 - 55 minggu). 

Pada periode produksi, ayam dipindahkan dari kandang litter ke kandang bateray. Pemindahan ini sebaiknya dilakukan pada malam hari dimana ayam tidak banyak bergerak, mudah ditangkap dan dapat mengurangi stress.

Satu hari sebelum ayam dipindahkan, ayam dipuasakan lebih dahulu kemudian satu jam setelah dipindahkan diberi pakan.

Ayam sebaiknya diberi obat anti stress (vitamin electrolit) untuk mengurangi stress akibat pemindahan tersebut. 

Persiapan menjelang DOC tiba

  1. Kandang anak ayam dalam keadaan bersih dan sudah diistirahatkan selama 2 minggu atau lebih.
  2. Persiapan chick guard (papan/lingkar pelindung) yang terbuat dari seng atau triplek.
  3. Persiapan induk buatan (brooder) menggunakan sekam atau serbuk gergaji yang dilapisi dengan kertas koran.
  4. Tutup sebagian dinding kandang dengan layar, biarkan bagian atas tetap terbuka agar pertukaran udaranya tetap lancar.
  5. Persiapkan alat pemanas khusus (hover) atau dari elpiji atau lampu listrik, kompor dan lain-lain, bila perlu lengkapi dengan termometer. 

Periode Starter (0-6 minggu)

  1. Penempatan anak ayam (DOC) dalam induk buatan.
  2. Pemberian larutan air gula putih/merah dengan konsentrasi 1-2 % selama 3-4 jam pertama, kemudian segera diganti dengan air minum yang diberi antibiotika atau vitamin elektrolit selama 3 hari.
  3. Pengamatan suhu induk buatan (34oC) dengan memperhatikan anak ayam yang menyebar secara merata.
  4. Tempat pakan yang terbuat dari box bekas DOC segera diisi pakan PAR DOC secukupnya, dan jangan berlebihan karena akan mengakibatkan banyak tumpah dan tercecer oleh kotoran DOC.

Lakukan vaksinasi ND I pada umur 4 hari. Vaksinasi Gumboro I umur 9 hari. Vaksinasi ND II umur 21 hari. Vaksinasi Gumboro II umur 17 hari. 

Periode Grower (6-20 minggu)

  1. Penggantian pakan dari PAR DOC ke PAR S mulai umur 7 sampai 12 minggu. Pergantian pakan dari PAR S ke PAR G, atau dapat pula menggunakan campuran pakan konsentrat yaitu konsentrat grower I dan konsentrat grower II atau konsentat layer dengan campuran dapat dilihat pada Tabel 28.
  2. Vaksinasi ND III dilakukan pada umur 56 hari. Vaksinasi Coryza I umur 60 hari yang diulang 4 minggu kemudian. Vaksinasi ND-EDS pada umur 16 minggu. Vaksinasi ND berikutnya diulang tiap 3 bulan.
  3. Lakukan penimbangan berat ayam untuk mengetahui tingkat dan keseragaman pertumbuhan.
  4. Perhatikan kebutuhan pakan, kebutuhan minum, wadah pakan dan wadah minum.
  5. Lakukan kontrol terhadap kesehatan ayam, ventilasi, konsumsi pakan, kondisi kotoran dan kematian. 

Periode Layer (20-afkir)

  1. Penggunaan pakan layer (PAR L) setelah ayam berumur 18 minggu. Selain PAR L dapat pula dipergunakan konsentrat layer khusus atau konsentrat layer dengan campuran dapat dilihat di tabel.
  2. Berikan penyinaran tambahan secara bertahap agar didapatkan produksi yang maksimal. Tambahan penyinaran dengan total 16-17 jam/hari.
  3. Lakukan pencatatan terhadap produksi telur, berat telur, konsumsi pakan harian, kematian dan seleksi. 

Sebagai pertimbangan dalam memulai usaha ternak ayam ras petelur yaitu dengan melihat keuntungan dan resiko yang akan dihadapi.

Seorang peternak harus memutuskan apakah memulai usaha ayam ras petelur dengan memelihara dari sejak DOC atau dari ayam yang siap bertelur.

Mengenai keuntungan dan kerugian yang dihadapi peternak dalam memulai usaha ayam ras petelur disajikan pada Tabel. 

Keuntungan dan Kerugian dalam Memulai Usaha Ternak Ayam Ras Petelur

 

Keuntungan

Kerugian

Memelihara dari Sejak DOC

1. Bibit lebih terjamin

ketersediaannya

2. Investasi lebih murah

1. Penyakit dan kematian lebih tinggi

2. Spekulasi lebih tinggi karena setiap saat terjadi perubahan harga

3. Penanganan lebih intensif

4. Biaya operasional lebih tinggi

Memelihara Ayam siap Bertelur

1. Cepat berproduksi Resiko penyakit dan kematian lebih rendah

2. Penanganan lebih mudah

3. Biaya operasional lebih murah

1. Bibit seringkali terbatas

2. Investasi lebih mahal

Berdasarkan Tabelmenunjukkan bahwa memelihara ayam yang siap bertelur memiliki keuntungan yang lebih besar dan menghadapi resiko yang lebih kecil.

Dengan demikian usaha yang dapat direkomendasikan untuk ayam ras petelur adalah dengan memulai dari ayam yang siap bertelur. 

Penyakit pada Ayam Ras Petelur

Penyakit karena Bakteri

Penyakit Kolera. Penyakit kolera menyerang pada semua tingkatan umur ayam, bersifat menahun dan accut (ganas). Penyebabnya adalah bakteri Salmonella multocida.

Ciri-ciri : pada yang accut ayam mati mendadak tanpa diketahui gejalanya. Ayam mencret dengan kotoran berwarna kekuning-kuningan, kemudian menjadi kecoklat-coklatan atau kehijau-hijauan dan disertai bau yang busuk.

Pengobatan : dengan Tetra Chlorine Capsule diberikan langsung melalui mulut, atau dengan suntikan Terra mycin, atau dengan obat Ryomycin ataupun noxal yang dicampurkan dalam air minum.

Penularan : melalui binatang vektor seperti lalat atau pun unggas lain. Melalui pernafasan. Makanan dan air minum yang sudah tercemar Salmonella. Luka pada kulit atau luka bekas suntikan. 

Berak Putih/Berak Kapur (Pullorum). Merupakan penyakit berak kapur yang disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum, dapat menyerang pada ayam yang masih muda maupun pada ayam dewasa.

Ciri-ciri : kotoran encer, berlendir dan berwarna putih seperti butir-butir kapur dan sering melekat pada bulu disekitar dubur. Mata tertutup dan sayap terkulai. Ayam lesu dan menggigil kedinginan.

Pengobatan : dengan obat Sulfa yang disuntikkan seperti Sulfa strong infeksi atau dengan Noxal yang dicampur dalam air minum atau Neo-Terra mycine Soluble Powder.

Penularan : melalui kotoran, peralatan kandang. Melalui telur dari induk yang pernah terkena infeksi Pullorum. Kontak langsung dengan ayam yang sakit. 

Fowl Typhoid. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella gallinarum. Sasaran yang diserang adalah ayam remaja dan dewasa.

Ciri-ciri ayam terkena penyakit ini yaitu mengeluarkan tinja yang berwarna hijau kekuningan. Pengobatan penyakit ini adalah dengan antibiotika atau preparat sulfa. 

Parathyphoid. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dari genus Salmonella yang menyerang ayam di bawah umur satu bulan. Pengobatannya dengan preparat sulfa. 

Pilek Ayam (Coryza). Jenis penyakit ini lebih dikenal dengan snot (pilek) atau salesma yang menyerang ayam pada segala tingkatan umur yang disebabkan oleh bakteri Haemophilus gallinarum.

Ciri-ciri : pembengkakan pada muka terutama pada hidung dan mata. Hidung mengeluarkan cairan yang berlendir. Sulit bernafas dan selalu bersin-bersin.

Pengobatan : dengan obat Trisulfa yang dilarutkan dalam air minum, atau Tetra Chrorine Capsule yang berlangsung diberikan lewat mulut atau dengan suntikan Streptomycine atau Terramycin.

Penularan : melalui makanan dan minuman serta peralatan yang dipergunakan. Kontak langsung dengan ayam yang menderita.

Penyakit karena Virus

Marek. Penyakit ini di sebabkan oleh virus yang dapat mengakibatkan kematian pada ayam hingga 50 %.

Pencegahan terhadap penyakit ini yaitu dengan vaksinasi yang dilakukan di hatchery (tempat penetasan) dengan menggunakan virus hidup heterolog yang bertujuan untuk melawan perbanyakan virus liar secara dini pada ayam dan mencegah pertumbuhan tumor. 

Gumboro. Penyakit ini menyerang anak ayam umur 3-6 minggu yang berpengaruh menurunkan kekebalan tubuh.

Penyakit ini berhubungan dengan penyakit lain seperti  Marek, ND, Kolibasilosis dan Salmonellosis. 

Infeksi Bronchitis. Penyakit ini menyerang ayam segala umur. Pada ayam dewasa, penyakit ini dapat menurunkan produksi telur.

Tingkat kematian ayam dewasa yang terserang penyakit ini rendah, tetapi pada anak ayam dapat mencapai 40%.

Bila menyerang ayam petelur dapat menyebabkan telur lembek, kulit telur tidak normal, putih telur encer dan kuning telur mudah berpindah tempat.

Pencegahan terhadap penyakit ini dengan vaksinasi. 

Infeksi Laryngotracheitis. Penyakit ini merupakan penyakit pernafasan yang serius yang disebabkan oleh virus Tarpeia avium. Virus ini di luar mudah dibunuh dengan desinfektan (karbol).

Pencegahan terhadap penyakit ini yaitu dengan vaksinasi dan sanitasi yang ketat. 

CRD (Chronic Respiratory Disease). Penyakit ini disebabkan oleh virus, merupakan penyakit yang sulit dibedakan dengan snot. Menyerang pada ayam segala umur.

Ciri-ciri : batuk, pilek dan disertai dengan bunyi ngorok dalam pernafasannya.

Pengobatan : Tetra Chlorine Capsule melalui mulut, Pirivet, TM 10 atau Aurofac.

Penularan : melalui makanan, air minum dan peralatan yang digunakan yang telah tercemar virus. Melalui telur tetas. 

NCD (New Castle Disease). Dikenal dengan penyakit tetelo yang sangat ganas menyerang ayam pada segala umur.

Pada umumnya penyakit ini berjangkit pada waktu terjadi pergantian musim yaitu dari musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya.

Penyakit ini termasuk penyakit menular dan dapat menyebabkan kematian 80-100 %.

Ciri-ciri : ayam sulit bernafas, batuk-batuk, bersin dan timbul bunyi ngorok. Kepala memutar-mutar dan diikuti kelumpuhan.

Kotoran encer berwarna kehijau-hijauan dan kadang disertai darah. Jengger dan pialnya berwarna biru kehitam-hitaman. Sayap turun menggantung dan jalan terseret.

Pengobatan : belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Salah satu cara yaitu dengan vaksinasi dan membakar/mengubur ayam yang mati.

Sebaiknya ayam yang telah terinfeksi dipisahkan agar tidak menular pada ayam yang lain.

Penularan : melalui hubungan langsung dengan ayam yang terinfeksi. Melalui kotoran maupun bangkai ayam yang sudah sakit. Melalui pernafasan.

Melalui binatang vektor seperti serangga. Melalui makanan, air minum dan pendekatan yang tercemar bibit penyakit. 

Penggunaan Vaksin Berdasarkan Umur Ayam

Umur Ayam (minggu)

Vaksin

Cara Vaksinasi

Penyakit

Strain

2-3

Bronchitis

Newcastle

Massachusetts

La sota

Melalui air minum

Melalui air minum

6

Bronchitis

Newcastle

Massachusetts

La sota

Melalui air minum

Melalui air minum

10

Laryngotracheitis

Fowl Pox

Ada di label

Tusuk sayap

6-16

Avian ancephalomyelitis

Air minum

            Sumber : Rasyaf, 1995 

Cacar (Fowl Pox). Penyakit cacar yang disebabkan oleh virus Borreliota avium yang menyerang pada ayam segala umur.

Ciri-ciri : pada jengger, kelopak mata dan pial terdapat bintil-bintil kecil berwarna merah yang lama kelamaan tumbuh menjadi besar dan berwarna kekuning-kuningan yang akhirnya akan menjadi hitam (gelap). Pada mata dan hidung keluar cairan.

Pengobatan : bintil-bintil yang terdapat pada jengger, pial diambil sampai bersih dengan menggunakan silet, kemudian bekas luka tersebut diberi obat yodium tincture 2 %, penicilin Zalf, Tetraplex capsule atau methylen  blue 1 %.

Penularan : melalui binatang vektor seperti serangga nyamuk dan lalat. Melalui makanan, minuman yang telah tercemar bibit penyakit. Melalui pernafasan. 

Penyakit Karena Jamur, Protozoa dan Cacing

Mycosis. Merupakan penyakit sariawan yang menyerang alat pencernaan yang disebabkan oleh Jamur Candida albicans.

Ciri-ciri : dalam mulut terdapat banyak lendir. Bulu ayam menjadi kasar. Nafsu makan menurun.

Pengobatan : dengan larutan Cupri Sulfat.

Penularan : melalui makanan dan minuman yang tercemar bibit penyakit. 

Favus. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Lophoophyton gallinae yang menyerang pada bagian kulit yang tidak berbulu seperti jengger dan pial.

Ciri-ciri : adanya bercak-bercak berwarna putih pada jengger dan pial, lebih parah bilabercak tersebut menjadi kuning keabuan.

Pengobatan : dengan formalin yang dicampur vaselin dengan perbandingan 1:20 kemudian diusapkan pada bagian yang sakit. Dengan yodium tincture yang diusapkan pada bagian yang sakit. 

Coccidiosis. Merupakan penyakit berak darah yang disebabkan oleh  protozoa yang disebut Coccidia. 

Penyakit ini menyerang pada ayam segala umur. Bagian tubuh yang diserang adalah usus yang menyebabkan radang usus dan dapat menyebabkan kematian.

Ciri-ciri : ayam nampak pucat, lesu dan mengantuk. Sayap terkulai turun.

Mencret, berlendir warna coklat kemerah-merahan karena bercampur darah. Bulu kusam. Ayam menggigil kedinginan.

Pengobatan : Tetra chlorine capsule diberikan melalui mulut, disuntik dengan Sulfa Strong, atau dengan Noxal, Trisulfa tablet yang dilarutkan dalam air minum.

Penularan : melalui kotoran ayam yang mencemari makanan dan minuman. Melalui binatang vektor seperti tikus dan serangga. Peralatan yang tercemar bibit penyakit. 

Cacingan. Penyakit ini disebabkan oleh cacing yang hidup di dalam usus ayam sebagai parasit yaitu seperti cacing Ascaris, cacing pita, cacing mata.

Ciri-ciri : ayam kurus dan pucat, lemah tidak bersemangat. Sayap terkulai. Kotoran encer berlendir berwarna keputihan seperti berak kapur.

Pada cacing yang menyerang mata, mata ayam bengkak dan mengeluarkan cairan.

Pengobatan : dengan warm X, piperzine powder yang dibubuhkan ke dalam air minum. Dengan Tenoban berupa pil atau Dbutyltin.

Pada cacing yang menyerang mata, dengan creolin 5 % yang diteteskan pada mata.

Penularan : memalui lipas, binatang perantara seperti serangga, cacing. Melalui kotoran yang mengandung telur-telur cacing yang mencemari makanan dan minuman. 

Program Pengendalian Cacing Ascaris

Umur (mg)

Obat

Dosis

Metode

8

Piperazine DHCL

100 mg/kg bb

Air minum, berakhir dalam  waktu 2 jam bila alat cerna kosong

12

Piperazine DHCL

100 mg/kg bb

16

Piperazine DHCL

100 mg/kg bb

20

Flubenol

20 ppm

Dalam pakan selama 7 hari berturut-turut

Sumber : CP Group, 2000 

Penyakit Defisiensi

Merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan suatu unsur makanan dalam ransum secara terus-menerus.

Akibatnya seperti kelumpuhan, jari kaki melengkung ke dalam, kaki bengkok.

Pengobatan dan pencegahannya adalah dengan memberikan ransum yang baik yang cukup vitamin dan mineral. 

Pencegahan Penyakit dan Pengelolaan Lingkungan

Program pencegahan penyakit yang dapat dilakukan di dalam usaha peternakan ayam ras petelur ini adalah seperti yang dipaparkan berikut ini.

Vaksinasi Ayam Ras Petelur

Vaksinasi ini harus dilakukan secara teratur terutama terhadap penyakit tetelo (ND) yang sangat membahayakan.

Vaksin yang digunakan adalah vaksin strain F yang digunakan untuk anak ayam umur 1 hari sampai 4 minggu, yang diteteskan pada mata, hidung atau mulut sebanyak 1 ml.

Vaksin strain K diberikan pada ayam umur 4 – 12 minggu sebanyak 0,5 dosis dan 1 dosis untuk ayam yang berumur 12 minggu atau lebih, yang diberikan dengan cara disuntikkan melalui otot dada.

  1. Menjaga kebersihan lingkungan secara teratur baik yang di dalam kandang maupun yang di luar kandang.
  2. Menjaga kebersihan tempat makan dan minum.
  3. Menjaga kebersihan pakan dan minuman.
  4. Memisahkan ayam yang sakit dari kelompok ayam yang sehat.
  5. Membuang atau membakar bangkai ayam yang telah mati.

Bobot Badan dan Angka Konversi Pakan

Penggunaan DOC dan pakan yang berkualitas serta manajemen pemeliharaan yang baik, akan dicapai bobot badan dan angka konversi pakan seperti yang disajikan pada Tabel. 

Rataan Persentase Produksi Telur Strain Isa Brown dan  Konversi Pakan

Umur (minggu)

Produksi Telur (%)

Angka Konversi Pakan (FCR)

59

60

61

80,3

79,5

78,2

2,37

2,42

2,46

          Sumber: Bambu Kuning  Farm, 1998 

Manajemen Operasional

Pada awal perkembangannya industri ayam ras dikembangkan melalui kerjasama antara perusahaan pembibitan, pakan, dan peternak budidaya.

Industri besar menangani usaha bibit dan pakan sementara peternak menangani kegiatan budidaya dalam skala kecil.

Pertumbuhan permintaan yang pesat dengan semakin diterimanya daging ayam ras oleh masyarakat umum termasuk pedesaan mendorong munculnya bentuk usaha integrasi yang cenderung monopoli yang menangani usaha dari mulai bibit sampai pengolahan. Investor besar baik lokal maupun asing bermunculan melihat prospek bisnis ayam ras yang menggiurkan.

Pertumbuhan perusahaan-perusahaan besar disertai permainan kartel dalam industri pakan sangat memukul usaha budidaya yang ditangani oleh peternak kecil.

Lemahnya posisi dan akses terhadap input dan informasi dari peternak kecil menyebabkan gulung tikarnya usaha budidaya skala kecil. 

Perkembangan tersebut mendorong lahirnya kebijakan yang mengarah pada pemberdayaan peternak kecil melalui kerjasama kemitraan.

Perusahaan besar diarahkan bergerak dalam usaha industri bibit dan pakan, peternak kecil menangani kegiatan usaha budidaya.

Model kelembagaan yang dikembangkan adalah bahwa perusahaan besar menyediakan modal untuk bibit, pakan, obat dan peralatan serta bertanggung jawab dalam pemasaran, sedangkan peternak kecil menyediakan lahan dan kandang serta bertanggung jawab terhadap pengelolaan secara penuh.

Sistem kerjasama penentuan harga biasanya menganut dua macam sistem, yaitu :

  1. berdasarkan harga pasar dan                  
  2. berdasarkan harga standar yang telah ditetapkan sebelumnya.

Model kelembagaan tersebut dapat berkembang dengan baik sekitar akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an.

Tetapi model pengembangan ini mulai menunjukkan ketidakharmonisan ketika usaha besar ikut serta bergerak menangani usaha budidaya yang berakibat terjadinya over supply produksi di pasaran.

Turunnya harga ayam potong di pasar sangat merugikan peternak skala kecil yang secara ekonomi tidak efisien dibanding dengan skala besar yang ditangani perusahaan swasta besar. 

Keterpurukan peternak skala kecil mencapai puncaknya saat krisis moneter dengan melonjaknya harga pakan secara luar biasa yang tidak diimbangi membaiknya harga jual ayam potong.

Oleh karena itu model usaha yang berkembang saat ini mengarah kepada dua kecenderungan.

Pertama, industri integrasi hulu hilir yang ditangani oleh perusahaan besar sebagai strategi efisiensi usaha, dan Kedua, pola kemitraan sebagai siasat kerjasama peternak kecil-kecil dalam pemanfaatan kandang kosong, pemberdayaan peternak sebagaimana amanat pemerintah, dan minimalisasi resiko baik bagi peternak kecil maupun peternak besar. 

Hambatan pergerakan dana modal untuk komoditas pertanian, baik melalui investasi atau sistem kredit telah merangsang tumbuhnya sistem kontrak dimana alasan utama pengembangan sistem kontrak adalah tingginya derajat ketidakpastian terhadap pendapatan yang diperoleh peternak mandiri.

Kebanyakan peternak karena alasan pemasaran dan kesulitan dalam permodalan lebih banyak berusaha dalam sistem kontrak. 

Sistem kontrak merupakan suatu cara dalam pengaturan pola produksi, para peternak kecil terikat dalam suatu perjanjian kontrak dengan suatu agen untuk menghasilkan output.

Agen akan memasok tenaga pembina, kredit dan input lainnya serta melaksanakan pengolahan dan pemasaran.

Koordinasi vertikal antara plasma-inti akan dapat mengurangi biaya, meningkatkan keuntungan serta memberikan arus keuntungan yang lebih stabil, pertumbuhan yang tetap, pemasokan bahan mentah secara tetap dan dapat meningkatkan produksi melalui penyediaan modal, manajerial yang baik serta pelayanan yang baik.

Beberapa bentuk kemitraan untuk menjembatani antara peternakan rakyat dengan perusahaan peternakan dipaparkan sebagai berikut.

Kemitraan Miranti-Mirama (mitra usaha inti-mitra usaha plasma)

Pengusaha yang bertindak sebagai miranti adalah anggota GAPPI. Pengusaha ini berkewajiban menjamin pengadaan dan penyaluran sarana produksi (bibit, pakan dan obat-obatan), memberikan bimbingan teknis dan alih teknologi, menampung dan memasarkan hasil produksi serta membantu mirama untuk memperoleh modal usaha.

Kemitraan Model PIR Kinak

Kawasan industri peternakan merupakan suatu kawasan yang dimaksudkan untuk melakukan usaha peternakan dengan komoditas yang seragam.

Peternak plasma yang tergabung dalam pembangunan kawasan industri peternakan mengorganisir diri dalam bentuk koperasi.

Koperasi ini kemudian melakukan negosiasi kerjasama dengan perusahaan inti. Perusahaan inti berkewajiban menyediakan bibit ayam (DOC), pakan dan obat-obatan yang memadai.

Peternak anggota koperasi bertindak sebagai plasma diwajibkan menyediakan kandang dan peralatan serta sanggup melakukan budidaya sesuai dengan standar yang ditetapkan dan menjual hasil produksi kepada perusahaan inti.

Bapak Angkat

Pola bapak angkat bisa berlangsung dengan adanya perusahaan yang ingin memajukan peternak kecil.

Bapak angkat adalah pemilik modal, sedangkan peternak berfungsi sebagai anak angkat yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup peternakannya. 

Desain Peternakan Ayam Ras Petelur

Peternakan ayam ras petelur memerlukan tanah untuk dua hal utama, yaitu untuk tempat berdirinya kandang, gudang dan tempat perkantoran atau tempat tinggal peternak dan para pekerja dan tanah untuk menghasilkan air bagi kebutuhan ternak dan para pekerja.

Patokan dalam pemilihan tanah atau lokasi untuk mendirikan peternakan ayam ras petelur adalah ketersediaan jalan ke lokasi tersebut dan jarak lokasi tersebut dengan daerah pemasaran. 

Pemanfaatan tanah untuk peternakan ayam ras petelur perlu diperhatikan agar diperoleh keuntungan yang besar.

Dalam hal ini persentase yang biasa dan layak untuk peternakan ayam ras petelur adalah 60 – 70 % untuk areal perkandangan, 10 – 20 % untuk selang kosong antar kandang, 10 % untuk gudang telur dan gudang pakan serta 10 % untuk kantor dan tempat tinggal pekerja.  

Sumber Referensi Artikel Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur
  1. Artikel Poultry Indonesia
  2. Artikel dari Fakultas Peternakan IPB
  3. Artikel Deptan
  4. Artikel dari wikipedia
  5. Artikel lanjutan wikipedia
  6. Sumber lainnya