Last Updated:
Usaha Peternakan Ayam Pedaging
Usaha Peternakan Ayam Pedaging https://www.pustakadunia.com

Usaha Peternakan Ayam Pedaging

Daging ayam ras dalam waktu relatif singkat menjadi komoditas bisnis peternakan yang strategis dan menggantikan peran ternak lainnya dalam penyediaan daging.

Produksi daging sapi pada tahun 1984 sebesar 216,4 ribu ton, sedangkan produksi daging ayam ras baru 78,5 ribu ton tetapi sejak tahun 1990, produksi daging sapi hanya meningkat menjadi 259,2 ribu ton sementara daging ayam mulai melampaui daging sapi dengan produksi sebesar 261,4 ribu ton.

Perubahan peran dalam kontribusi daging nasional dari dominannya daging sapi ke daging ayam ras terus berlanjut dan mencapai puncaknya pada tahun 1996, dimana produksi daging sapi sebesar 347,2 ribu ton sementara produksi daging ayam ras mencapai 605,0 ribu ton.

Pada tahun 1996 tersebut terjadi puncak populasi ayam ras pedaging sebanyak 755,96 juta ekor (Direktorat Jenderal Peternakan, 2001). 

Konsumsi daging ayam ras terus meningkat seiring dengan perubahan ekonomi nasional.

Pada tahun 1990 konsumsi daging ayam ras baru mencapai 1,93 kg/kapita/tahun dan tahun 1996 meningkat mencapai 2,61 kg/kapita/tahun.

Konsumsi daging ayam ras sempat menurun saat terjadi krisis tetapi kemudian kembali meningkat saat pemulihan ekonomi berlangsung dan pada tahun 2001 diprediksi konsumsi rata-rata 4,48 kg/kapita/tahun.

Peningkatan konsumsi daging ayam ras diperkirakan terus meningkat apabila terjadi pertumbuhan ekonomi karena korelasi antara konsumsi dengan pendapatan masyarakat cukup tinggi.

Titik jenuh konsumsi daging ayam ras masih jauh dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Sebagai perbandingan, konsumsi daging ayam ras di negara maju dapat mencapai 75 kg/kapita/tahun, yang 16 kali lipat lebih dari rata-rata konsumsi nasional saat ini (PINSAR Unggas Nasional, 2000). 

Tingginya permintaan ayam ras dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:               

  • memiliki karakteristik yang disukai masyarakat luas termasuk penduduk pedesaan;
  • elastisitas permintaan terhadap pendapatan relatif lebih tinggi sebesar 1,11 dan relatif paling tinggi dibandingkan produk ternak lainnya;
  • dibandingkan dengan daging lainnya, daging ayam ras dipercaya sebagai produk dengan kadar kolesterol rendah;
  • harga relatif lebih rendah dibandingkan dengan harga daging lainnya, biasanya sekitar sepertiga dari harga daging sapi; dan
  • perkembangan usaha di tingkat off farm (proses hilir) yang sangat efektif dalam mendukung sistem distribusinya seperti McDonald, Kentucky Fried Chicken, California Fried Chicken, dan Texas Fried Chicken. 

Perkembangan populasi dan produksi ayam ras pedaging sangat pesat karena faktor-faktor antara lain :

  • secara biologis memiliki masa pemeliharaan yang singkat, dapat dipanen umur 5-6 minggu;
  • dukungan yang kuat dalam ketersediaan bibit oleh industri modern khususnya dari negara tetangga;
  • teknologi mudah diadopsi dan minat masyarakat dalam budidaya sangat tinggi;
  • dukungan pemerintah dengan harapan menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat melalui pola kemitraan PIR. Perkembangan ayam ras tersebut terkait dengan jumlah penduduk dan aksesibilitas, sehingga sentra pengembangan saat ini berada di Jawa Barat dengan populasi 180,83 juta ekor, Jawa Timur dengan 92,48 juta ekor, Jawa Tengah 71,86 juta ekor, Sumatera Utara 27,57 juta ekor (Direktorat Jenderal Peternakan, 2001). 

Namun demikian selama perkembangannya sejak awal orde baru, gejolak pasang surut industri ayam ras pedaging sering terjadi.

Gejolak industri ayam ras disebabkan oleh adanya benturan kepentingan berbagai pihak dan krisis moneter.

Benturan antar pihak terjadi karena di satu sisi ada keinginan mengarahkan usaha ayam ras sebagai industri besar-besaran, sehingga efisiensi dapat tercapai sesuai dengan karakteristik komoditas yang memerlukan skala besar tetapi di sisi lain diharapkan usaha ayam ras pedaging diprioritaskan untuk skala kecil yang dikelola mayarakat kecil.

Melalui Keppres No. 50 Tahun 1980, pemerintah berpihak pada peternak kecil dengan pembatasan produksi  maksimal 650 ekor per periode.

Upaya ini tidak efektif,  karena dengan mudah dapat  disiasati oleh perusahaan besar dengan cara membagi skala usaha atas nama pihak lain tetapi pada hakekatnya tidak beralih kepemilikannya.

Berbagai kebijakan regulasi sebagai jalan tengahnya diterapkan oleh pemerintah kemudian yang pada intinya memberikan kesempatan lebih besar kepada pihak investor untuk menanamkan modalnya di industri ayam ras pedaging tanpa mengurangi misi pemberdayaan masyarakat.

Oleh karena itu sebagian besar industri ayam ras pedaging saat ini didesain sebagai bentuk usaha kemitraan, dimana investor sebagai inti bergerak di off farm hulu (bibit dan pakan) dan off farm atau proses hilir (pemotongan, pengolahan, dan pemasaran) serta menyediakan sarana produksi, sedangkan peternak rakyat mengelola kegiatan budidaya  dengan sarana produksi yang dipasok oleh inti. 

Gejolak bisnis ayam ras pedaging juga disebabkan adanya krisis moneter yang secara langsung memukul industri ayam ras dalam negeri karena komponen bibit dan pakan diperoleh dari impor.

Pada masa ini peran ayam ras sebagai penghasil daging mengalami penurunan secara drastis dan peran daging sapi kembali dominan. 

Industri ayam ras nampaknya kembali memasuki momen yang kondusif bagi kebangkitannya setelah proses pemulihan ekonomi mulai terlihat.

Pada tahun 1998 populasi ayam ras pedaging sebesar 354 juta ekor dan pada tahun 1999 meningkat menjadi 418,94 juta ekor.

Pada tahun 2000 meningkat menjadi sebesar 530,87 juta. Pada tahun 2002 diperkirakan populasi mencapai 567,15 juta ekor dengan produksi daging 554 ribu ton sementara daging sapi hanya 338,79 ribu ton (Direktorat Jenderal Peternakan, 2001).

Peluang ekspor juga ada kemungkinan membaik. Peluang ekspor kemungkinan akan semakin membaik menyusul krisis yang terjadi di beberapa negara khususnya Jepang dan CIS (Rusia).

Peluang ekspor juga terbuka untuk ke negara Australia, New Zelland, negara-negara Eropa Timur, Jepang, Arab Saudi, Brunai Darrusalam.

Ekspor ayam pedaging telah dilakukan sebelumnya, yang pada tahun 1995 mencapai 997,6 ton senilai 3.367,60 ribu US$ dan tahun 1999 sebagai puncaknya mencapai 2.859,3 ton senilai 3.912,11 US Dollar (Infovet, Nov 2001). 

Khusus ke negara Islam, peluang ekspor lebih terbuka karena dapat memanfaatkan label halal dan persyaratan higienis.

Namun kebangkitan industri ayam ras saat ini belum banyak menyentuh peternak plasma.

Peternak plasma umumnya bertahan dengan sistem kemitraan melalui kerjasama sewa kandang dan pengelolaan. 

Peternak mandiri saat ini masih menghadapi kendala klasik berupa terbatasnya modal dalam memanfaatkan momen pemulihan ekonomi saat ini.

Oleh karena itu kajian sejauhmana kelayakan pemberian kredit bagi pengembangan usaha ayam ras pedaging khususnya yang dikelola oleh peternak skala kecil sangat diperlukan diantaranya sebagai informasi penting pihak perbankan dalam perencanaan kucuran pinjaman bagi peternak ayam ras pedaging.

Karakteristik Ayam Ras Pedaging

Ayam ras pedaging atau yang lebih dikenal dengan nama ayam broiler, merupakan hasil rekayasa genetis berdasarkan karakter-karakter dari ayam-ayam yang sebelumnya ada.

Keistimewaan ayam pedaging jenis ini yaitu usia pemeliharaan yang singkat untuk konsumsi.

Jenis ini memang diarahkan pada pertumbuhan yang cepat, sehingga didapatkan daging yang berat dalam waktu yang sependek mungkin.

Perbaikan-perbaikan genetik terus diupayakan agar mencapai performance yang optimal. 

Ayam ras pedaging memiliki pertumbuhan yang fantastis sejak usia 1 – 5 minggu.

Pada umur 6 minggu besarnya sudah sama seperti ayam kampung dewasa dan bila dipelihara hingga 8 bulan, bobotnya dapat mencapai 2 kg.

Berat sebesar ini sulit dicapai oleh ayam kampung. 

Ayam broiler adalah ayam-ayam muda jantan dan betina berumur kurang dari 8 minggu, dengan variasi bobot badan, sesuai permintaan konsumen,  0,8 – 2,0 kg.

Di luar negeri, orang mengkonsumsi ayam berumur 7-8 minggu dengan bobot sekitar 1,8 kg.

Di Indonesia, umur panennya lebih singkat yaitu hanya 5-6 minggu dengan bobot sekitar 1,3-1,4 kg.

Berdasarkan permintaan pasar, di Indonesia terdapat klasifikasi ayam ras pedaging berdasarkan bobot badan, sebagai berikut.

  • Kurang dari 1 kg (kecil)
  • Antara 1 – 1,2 kg (sedang)
  • Lebih dari 1,2 kg (besar)

Komoditas ayam ras pedaging didesain memiliki pertumbuhan yang cepat mengikuti kurva pertumbuhan sigmoid.

Oleh karena itu bisnis ayam ras pedaging merupakan bisnis berintensitas tinggi yang keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan pengelolaan fase-fase pertumbuhannya. 

Ayam ras pedaging merupakan produk akhir dari industri ayam ras secara keseluruhan melalui tahapan produksi dalam rangkaian proses pembibitan yang memiliki nilai ekonomi tinggi tetapi rentan terhadap keterlambatan waktu.

Anak ayam umur sehari (DOC) yang dihasilkan pada setiap tahapan produksi pembibitan hanya tahan selama 36 jam dan karena itu harus sesegera mungkin dipelihara secara intensif.

Sedikit mengalami keterlambatan akan menderita kerugian yang tinggi. Demikian juga saat panen harus tepat waktu karena efisiensi penggunaan pakan sangat sensitif terhadap kendala waktu.

Sebagai industri biologis yang dirancang dengan formula tertentu, produksi ayam ras pedaging sangat ditentukan oleh pakan baik kuantitas maupun kualitas.

Ketidaksesuaian pemberian pakan berakibat pada proses produksi secara fatal. 

Sifat permintaannya cenderung stabil meskipun pada hari-hari besar/ hari raya sering terjadi lonjakan yang cukup besar, dapat mencapai 2-3 kali dari kondisi normal. 

Pada kondisi tersebut harga meningkat dengan sangat signifikan dapat mencapai 1,5-2,5 kali lipat dari harga biasa. 

Seleksi terhadap Anak Ayam (DOC)

Seleksi awal terhadap anak ayam (DOC) yang telah dikeluarkan dari perusahaan pembibitan perlu mendapat perhatian yang serius, agar bibit yang dibudidayakan nantinya tidak banyak merugikan.

Beberapa pedoman untuk memilih DOC didaftar di bawah ini.

  1. Anak ayam yang berasal dari induk yang sehat agar tidak membawa penyakit bawaan.
  2. Ukuran atau bobot ayam seragam, tidak terlalu kecil dan terlalu besar.
  3. Anak ayam harus sehat dalam arti bebas dari berbagai macam penyakit, secara fisik ayam yang sehat dapat ditunjukkan oleh mata yang bersih, bening dan bersinar serta mata tidak redup.
  4. Tubuh tidak cacat.
  5. Jika dijatuhkan ke lantai ayam dapat berdiri dengan cepat.
  6. Bulu ayam penuh dan bersih.
  7. Anus tidak becek (basah) melainkan kering dan bersih.
  8. Perut bila diraba tidak keras dan kaku.
  9. Ukuran badan tidak terlalu kecil.
  10. Paruh pendek dan tidak melengkung.
  11. Anak ayam lincah dalam gerakannya.
  12. Kakinya kuat, lurus dan berdiri tegap. 

Standar Mutu Karkas Ayam Ras Pedaging

Berdasarkan SNI 01-3924-1995 bahwa standarisasi karkas ayam ras pedaging diklasifikasikan berdasarkan hal-hal sebagai berikut. 

Penanganan Karkas

Berdasarkan penanganan karkas ayam ras pedaging dibedakan sebagai berikut.

  1. Karkas segar ialah karkas segar yang baru selesai diproses selama tidak lebih dari 6 jam dan tidak mengalami perlakuan lebih lanjut.
  2. Karkas dingin segar ialah karkas segar yang segera didinginkan setelah selesai diproses sehingga suhu di dalam daging menjadi antara 40 – 50
  3. Karkas beku ialah karkas yang telah mengalami proses pembekuan cepat atau lambat dengan suhu penyimpanan antara 120C sampai dengan suhu 180 

Cara Pemotongan Karkas

Berdasarkan cara pemotongan karkas dibedakan menjadi sebagai berikut.

  1. Karkas utuh
  2. Potongan separuh (halves) karkas dibagi menjadi dua potong sama besar.
  3. Potongan seperempat (quartes) karkas dibagi menjadi empat potong sama besar.
  4. Potongan bagian-bagian badan (chicken part atau cut up).
  5. Debone yaitu karkas ayam pedaging tanpa tulang atau tanpa kulit dan tulang. 

Ukuran Karkas

Ukuran karkas ditentukan berdasarkan bobotnya. Bobot karkas individual ditentukan oleh bobot karkas itu sendiri, berdasarkan pembagian sebagai berikut.

  1. Ukuran kecil 0,8 – 1 kg
  2. Ukuran sedang 1 – 1,2 kg
  3. Ukuran besar 1,2 – 1,5 kg 

Disusunnya standar karkas ayam ras pedaging bertujuan agar konsumen lebih mudah menentukan pilihannya dan produsen akan meningkatkan usahanya untuk menghasilkan produk yang baik dan memungkinkan adanya persaingan harga yang sehat.

Standar mutu karkas ayam pedaging dibuat untuk menghindari pemasaran daging ayam ras yang membahayakan konsumen.

Mengenai standar mutu karkas ayam disajikan pada Tabel. 

Standar Mutu Karkas Ayam

No.

Faktor Mutu

Tingkatan Mutu

Mutu I

Mutu II

Mutu III

1.

Konformasi

Sempurna

Boleh ada cacat sedikit tetapi tidak ada pada bagian dada dan paha

Boleh ada cacat sedikit

2.

Perdagingan

Tebal

Sedang

Tipis

3.

Perlemakan

Cukup

Cukup

Tipis

4.

Keutuhan

Sempurna

Tulang Sempurna, kulit boleh sobek sedikit, tetapi tidak pada bagian dada

Tulang boleh ada yang patah, ujung sayap boleh terlepas. Boleh ada kulit yang sobek, tetapi tidak terlalu lebar.

5.

Perubahan Warna

Bebas dari memar dan “Frozen burn

Boleh ada memar sedikit tetapi tidak pada bagian dada dan tidak “Frozen burn

Boleh ada memar sedikit tetapi tidak ada “Frozen burn

6.

Kebersihan

Bebas dari bulu jarum

Boleh ada bulu jarum sedikit yang menyebar, tetapi pada bagian dada

Boleh ada bulu jarum sedikit.

         Sumber : http://www.deptan.go.id/sni 

TEKNIS PRODUKSI AYAM PEDAGING 

Suhu Lingkungan Ideal Untuk Ayam Pedaging

Ayam broiler yang dipelihara di Indonesia berasal dari negara barat, sehingga pemeliharaan ayam ras pedaging yang ideal yaitu dengan kisaran suhu antara 18-22oC.

Suhu di luar kisaran tersebut akan menyebabkan rendahnya produktivitas karena faktor ketidaknyamanan.

Kisaran suhu yang masih dapat ditolerir antara 15-27oC. Perbedaan suhu antara siang dan malam tidak boleh lebih dari 4oC.

Kelembaban udara juga sangat berpengaruh bagi pertumbuhan ayam broiler ini.

Wilayah Indonesia yang memiliki temperatur demikian hanya terdapat di daerah pegunungan, sedangkan peternakan ayam pedaging kebanyakan di sekitar kota besar yang terletak di dataran rendah dengan temperatur sekitar 33-35oC.

Akibatnya ayam broiler akan megap-megap dan selalu ingin minum, maka lantai litter menjadi basah dan lembab. 

Oleh karena itu ventilasi udara harus diperhatikan dengan baik karena memegang peranan yang sangat penting.

Ada dua macam ventilasi yang dapat diterapkan, seperti dijelaskan di bawah ini.

Ventilasi bantuan negatif

Suatu kipas yang berfungsi menyedot udara busuk dari kandang sementara udara segar masuk dari sisi lain.

Ventilasi bantuan positif

Fungsi kipas dalam hal ini untuk menghembuskan angin segar ke dalam kandang dan udara busuk di dalam kandang akan terdesak ke luar.

Oleh karena itu, penggunaan sistem ventilasi positif harus disesuaikan dengan luas kandang, kekuatan motor penggerak kipas dan lebar kipas. 

Lokasi

Memulai usaha peternakan perlu memperhatikan lokasi yang ideal bagi pemeliharaan ayam ras petelur.

Lokasi tersebut hendaknya tidak akan mengganggu lingkungan masyarakat sekitar. Kesalahan menentukan lokasi tanpa memperhatikan aspek sosial akan menimbulkan masalah akibat bau limbah kotoran yang dapat mengganggu kesehatan.

Sebaiknya lokasi peternakan tidak berada di lingkungan pemukiman penduduk.

Oleh sebab itu perlu memperhatikan master plan pengembangan dan tata ruang wilayah. 

Lokasi peternakan perlu melihat aspek sosial dan ekonomi serta beberapa hal penting di bawah ini.

  1. Tidak mengganggu lingkungan masyarakat disekitarnya.
  2. Berada pada kawasan yang menurut Rencana Tata Ruang diperuntukkan untuk pengembangan peternakan.
  3. Memperhatikan potensi sumberdaya alam sekitarnya yang dapat dimanfaatkan.
  4. Menghindari daerah-daerah yang peka terhadap kerusakan lingkungan.
  5. Lokasinya terbuka, cukup luas dan tidak ada bangunan ataupun pepohonan rindang yang menghalangi peredaran udara sehingga udaranya segar.
  6. Keadaan sekitarnya tenang, tidak terlalu berdekatan dengan keramaian, untuk menghindari ayam mengalami stress akibat kebisingan dan suara-suara yang menggaduhkan yang akan merugikan usaha peternakan.
  7. Lokasi harus lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya, sehingga gerakan udara bebas dan untuk menghindari air menggenang pada waktu musim hujan, sehingga tidak menimbulkan kelembaban yang tinggi yang akan mengganggu kesehatan ayam.
  8. Lokasi harus dekat dengan sumber air yang bersih dan sumber listrik.
  9. Lokasi tidak jauh dengan tempat pemasaran, agar biaya tataniaga dapat ditekan dan resiko dalam pengangkutan dapat dihindari. 

Perkandangan

Fungsi Kandang

Kandang yang baik dibuat memanjang dari arah barat ke timur dari bahan yang relatif menyerap panas (atap berwarna muda), murah, dan tersedia cukup.

Kandang merupakan sarana yang terpenting untuk terselenggaranya usaha peternakan ayam secara intensif.

Bagi pengusaha peternakan perlu memahami arti pentingnya fungsi kandang, sebagai berikut.

  1. Memberikan kenyamanan dan melindungi ternak dari panasnya sinar matahari pada siang hari, hujan, angin, udara dingin dan untuk mencegah gangguan seperti predator.
  2. Memudahkan tata laksana yang meliputi pemeliharaan dalam pemberian pakan dan minum, pengawasan terhadap ayam yang sehat dan ayam yang sakit.
  3. Memudahkan dalam pengumpulan kotoran untuk pupuk kandang. 

Syarat Kandang

Syarat-syarat umum konstruksi kandang ayam ras pedaging yang baik dan memenuhi persyaratan kesehatan bagi kehidupan ayam adalah sebagai berikut.

  1. Dinding kandang tidak rapat, harus merupakan celah-celah yang terbuka, dapat dibuat dari dinding kawat atau jeruji bambu.
  2. Tempat kandang harus kering dan bersih.
  3. Posisi kandang dibangun menghadap ke arah Timur dan membujur dari Timur ke Barat, agar kandang mendapat cukup sinar matahari pagi secara langsung dan bila siang hari ayam terhindar dari panas matahari yang merugikan.
  4. Pertukaran udara dalam kandang harus lancar, sehingga diperlukan ventilasi yang cukup.
  5. Kandang dibuat cukup tinggi, minimal 3 meter untuk bagian tengahnya. Tinggi bagian samping minimal 2 meter dan tepi atap panjangnya 1 meter. Lebar dan panjang kandang dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan jumlah ayam yang dipelihara.
  6. Kandang harus tetap bersih, baik yang di dalam maupun yang di luar kandang. 

Bentuk Kandang

Berdasarkan model konstruksinya, ada tiga bentuk kandang, seperti dipaparkan di bawah ini.

Kandang darat/postal

Bentuk ini paling banyak dijumpai karena mudah membuatnya dan biayanya relatif lebih murah. Lantai dasar kandang darat ini dapat langsung berupa tanah yang dikeraskan maupun diplester (disemen).

Kandang panggung

Jarak ideal antara lantai kandang dan tanah sekitar 1,5 – 2 meter. Lantai kandang panggung ini umumnya terbuat dari belahan bambu dengan lebar kurang lebih 3 cm dan jarak 2 cm.

Kandang panggung air/longyam

Kandang ini dibangun di atas kolam air, dengan jarak antara lantai kandang dengan permukaan air kurang lebih 1,25 – 1,5 meter. Biasanya kolam tersebut sekaligus untuk memelihara ikan. Syarat utama kandang panggung longyam ini adalah air kolam tersebut harus mengalir. Hal ini untuk menghindari terjadinya akumulasi amonia berlebihan. 

Ditinjau dari sistem sirkulasi udaranya, ada dua tipe kandang, sebagai berikut.

Kandang Open House/terbuka

Dinding kandang terbuat dari bilah-bilah bambu atau kawat, sehingga cukup terbuka bagi terjadinya sirkulasi udara secara alami.

Biaya pembuatan kandang ini relatif murah, tetapi kapasitas muat per meter perseginya lebih sedikit dibanding kandang close house.

Setiap meter persegi kandang open house mampu menampung 10 ekor ayam.

Kandang Close House/tertutup

Dinding kandang ini tertutup seluruhnya. Sirkulasi udara terjadi karena adanya pendorong dan penghisap udara (blower) yang dipasang di dindingnya.

Temperatur dan kelembaban kandang dengan mudah diatur. Daya tampung per meter perseginya mencapai 1,7 kali lipat kandang open house.

Selain itu percepatan pertumbuhan dan ketahanan terhadap penyakit relatif lebih baik dibanding kandang terbuka. 

Ukuran Kandang

Lebar kandang yang baik adalah 7 meter, panjangnya 40 – 50 meter, sedangkan tingginya 3,5 m.

Ukuran ini selain didasarkan faktor teknis (sirkulasi, kepadatan, dsb) juga secara ekonomis lebih efisien, karena seorang pelaksana kandang secara optimal mampu menangani antara 3.000–3.500 ekor atau setara dengan luas kandang antara 300–350 meter persegi dengan kepadatan 12-13 ekor/m2.

Jarak antara dinding kandang yang satu dengan kandang yang lain minimal 7 meter.

Sebaiknya lingkungan sekitar kandang dibuat lapang dan tidak ada tanaman yang rimbun yang dapat mengganggu sirkulasi udara. 

Memadatkan jumlah ayam per satuan luas melebihi jumlah yang dianjurkan tanpa mengetahui dasar-dasarnya dapat menyebabkan hal-hal di bawah ini.

  • Konsumsi ransum menjadi berkurang. Pemadatan ayam per satuan luas meyebabkan tempat makanan menjadi sempit dan mengurangi kesempatan ayam untuk makan
  • Pertumbuhan terlambat. Ayam broiler yang terlalu berhimpitan menyebabkan panas di dalam kandang dan akumulasi CO2 meningkat dan efek lanjutannya yaitu pertumbuhan menjadi lambat.
  • Meningkatkan persentase kematian.
  • Menimbulkan kanibalisme.
  • Menambah kebutuhan jumlah udara segar untuk mengusir CO2 dan udara bau dari dalam kandang.

Mengenai pengaruh kepadatan ruang terhadap berat badan dan mortalitas ayam broiler disajikan pada Tabel. 

Pengaruh Kepadatan Ruang terhadap Berat Badan dan Mortalitas  Ayam Broiler

Kepadatan Ruang (m2/Ekor)

Rata-rata Berat Badan Ayam (kg)

Mortalitas (%)

0,09

0,08

0,07

0,06

0,05

0,04

0,03

1,87

1,86

1,84

1,82

1,79

1,75

1,70

2,1

2,3

2,6

3,0

3,6

4,5

5,8

            Sumber : Rasyaf, 2001 

Peralatan Kandang

Tempat makan dan minum. Tempat makan dan minum biasanya terbuat dari plastik berbentuk lonjong.

Setiap 1.000 ekor ayam membutuhkan 35 pasang tempat makan dan minum. Tempat makan dan minum tersebut digantung sedemikian rupa, sehingga tinggi bibir piringannya setinggi leher ayam.

Tempat gantungan tersebut harus dapat diatur tinggi rendahnya sesuai dengan umur ayam. 

Pemanas (brooder). Pemanas diperlukan oleh anak ayam (DOC) yang baru masuk kandang, karena DOC memerlukan lingkungan yang mendekati temperatur induknya, yakni berkisar 32oC.

Tujuan dari brooding adalah menyediakan lingkungan yang nyaman dan sehat secara efisien dan ekonomis bagi anak ayam untuk pertumbuhan yang optimal.

Pemanas tersebut dapat berupa kompor semawar (spray) dengan bahan bakar minyak tanah, kompor batu bara maupun gasolex (LPG).

Pemberian pemanas tersebut kurang lebih selama 2 minggu, tergantung iklim, kondisi geografis maupun kondisi ayam itu sendiri. Pada Tabel menunjukkan temperatur tubuh ayam menurut umur. 

Suhu Tubuh Rata-rata yang Dipengaruhi Umur

Umur Anak Ayam (Hari)

Temperatur  Tubuh Rata-rata (oC)

1

39,7

2

40,1

4

41,0

5

41,4

10

41,4

Sumber : Poultry Indonesia, 2001 

Semakin bertambah umur ayam temperatur tubuh ayam pun akan berbeda, sehingga memerlukan perlakuan yang berbeda pemberian brooder pada umur  minggu pertama dengan minggu kedua yang diperlihatkan pada Tabel. 

Suhu Brooding yang Dibutuhkan sesuai dengan Umur

Umur Brooding

Temperatur (oC)

Minggu pertama

32 - 35

Minggu kedua

30 – 32

Sumber : Poultry Indonesia, 2001 

Thermometer. Alat ini digunakan untuk mengontrol suhu/temperatur dalam kandang box/indukan.

Temperatur dalam kandang box harus selalu dikontrol dengan menggunakan termometer, sehingga temperatur yang dikehendaki untuk anak ayam tetap stabil, karena apabila keadaan suhu naik terlampau panas atau terlalu dingin akan merugikan usaha peternakan. 

Bibit Ayam

Bibit yang diperlukan dalam pemeliharaan ayam ras pedaging adalah anak ayam umur sehari atau Day Old Chick (DOC) yang dihasilkan oleh perusahaan pembibitan induk (Parent Stock). 

Bibit dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti poultry shop, perusahaan pembibitan induk atau  perusahan inti dalam sistem kemitraan.

Pembelian melalui poultry shop dapat dilakukan setiap saat di berbagai tempat karena merupakan ujung tombak dalam pemasaran sarana produksi ternak, sedangkan pembelian dari perusahaan pembibitan biasanya dilakukan melalui pemesanan atau sebagai pelanggan tetap. 

Bibit yang digunakan sebaiknya memiliki bobot badan sekitar 45 gram dari strain yang baik.

Beberapa strain yang banyak dibudidayakan di Indonesia antara lain  Kim Cross K 44, Cobb 100, Cobb Color Sexcross, Indian River, Savier, dan Arbor Acres

Beberapa peternak memilih bibit berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah bibit tersebut tidak banyak menimbulkan masalah dan laju pertumbuhannya sesuai dengan target yang ditawarkan.

Ada pula peternak lain yang membeli bibit tidak berdasarkan galurnya, melainkan melihat pembibit yang mengeluarkannya, padahal pada kenyataannya diantara pembibit tidak hanya mengeluarkan satu galur saja, demikian pula sebaliknya satu galur ayam tidak hanya dikeluarkan oleh satu perusahaan saja.

Dalam hal ini peternak harus mengerti mengenai kualitas dari galur ayam yang akan dipelihara dan kualitas dari perusahaan pembibitnya.

Tabel berikut ini menyajikan negara-negara sumber bibit ayam ras pedaging beserta strainnya. 

Negara Sumber Bibit Ayam Ras Pedaging

Negara

Strain

Amerika Serikat

Inggris

Perancis

Jerman

Belanda

Australia

Kanada

Hubbard, Arbor Acres, Indian River, Peterson, Cobb

Ross

Isa Veddete, Acroblack

Sena, Lohmann Meat

Hybro, Bovina

Tegel

Shaver Starbro

Sumber : Karantina JIA Soekarno – Hatta, 2000 

Bibit ayam ras pedaging yang ada di Indonesia berasal dari berbagai negara. Menurut catatan dari Karantina JIA, Soekarno – Hatta (2000), bibit ayam ras tersebut berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Australia dan Kanada. 

Jenis strain yang disukai diminati oleh peternak dapat diprediksikan dari intensitas dan volume jenis strain setiap kali masuk bandara.

Berdasarkan catatan Karantina JIA Bandara Soekarno – Hatta, bibit ayam ras pedaging yang paling sering dan cukup banyak masuk adalah Hubbard, Arbor Acres, Cobb, Hybro, Avian dan Ross.

Lebih lanjut, perkembangan pemasukan bibit ayam ras pedaging ke Indonesia dalam kurun waktu 1995 – 1999 disajikan pada Tabel. 

Perkembangan Pemasukan Bibit Ayam Ras Pedaging Tahun 1995-1999

No

Bibit

1995

1996

1997

1998

1999

1

Acroblack

-

-

+

+

+

2

Arbor Acres

+

+

+

+

+

3

Avian

+

+

+

+

+

4

Bovina

-

-

+

-

+

5

Cobb

+

+

+

+

+

6

Hubbard

+

+

+

+

+

7

Hybro

+

+

+

+

+

8

Indian River

+

+

-

-

-

9

Isa Veddete

+

+

-

+

+

10

Lohmann Meat

+

+

+

-

+

11

Peterson

-

+

+

+

-

12

Ross

+

+

+

+

+

13

Sena

+

-

-

-

-

14

Shaver Starbro

+

+

+

-

-

15

Tegel

+

+

-

-

-

Ket         : + =  masuk

                 -  =  tidak masuk

Sumber   : Karantina JIA Soekarno – Hatta, 2000 

Di tingkat dunia, yang menjadi pilihan utama industri pengolah daging ayam ras adalah strain Cobb.

Cobb  memiliki bebagai keunggulan antara lain adalah adanya percepatan pertumbuhan sehingga ayam pedaging bisa 10 hari lebih cepat dipasarkan, memiliki daging di bagian dada 3 % lebih banyak, mampu mengurangi konsumsi pakan sebesar 100 gram per kilogram daging atau perbaikan Feed Conversion Ratio (FCR) yang cukup meyakinkan dan lebih  tahan terhadap penyakit.

Cobb memiliki keseragaman karkas yang lebih baik dan jumlah daging yang tinggi. Jumlah daging khususnya daging dada yang mencakup 18 % dari bobot tubuh.

Penyebaran Cobb yang amat luas di dunia menuntut produsennya mempunyai sistem distribusi yang akurat.

Hal terpenting dalam usahaternak ayam ras perlu memperhatikan kualitas DOC.

Beberapa kriteria untuk menilai DOC mempunyai kualitas yang cukup baik, didaftar di bawah ini.

  1. Geraknya lincah dan responsif terhadap setiap rangsangan yang dapat diterima lewat inderanya. Bulunya tidak kriting, tidak kusam serta warna bulu homogen.
  2. Besar dan bobotnya relatif seragam. Inkubasi telur tetas yang mempunyai bobot berbeda cukup jauh (lebih dari 8 %) akan menghasilkan DOC berbobot tidak seragam. Bobot DOC yang diperoleh adalah 68-70 % dari bobot telur tetas pada saat dimasukkan ke alat penetas (setter) dan perbedaan bobot telur tetas ini akan mengakibatkan perbedaan waktu tetas (hatch time) yang cukup nyata.
  3. Pusarnya kering dan tertutup dengan baik. Jika kondisi DOC cukup baik, maka tali pusar akan kering dan rontok dalam tempo tidak lebih dari 20 menit.
  4. Tidak ada cacat fisik atau abnormalitas fisik, karena ini akan berpengaruh pada pertumbuhan selanjutnya. DOC yang cacat karena kondisi tubuh kekurangan biotin dan riboflavin. DOC yang mengalami cacat fisik disertai dengan kematian pada minggu pertama.
  5. Bereaksi normal dengan vaksin aktif yang diberikan.
  6. Cepat beradaptasi dengan perubahan-perubahan lingkungan yang minor.
  7. Mempunyai sisik kaki yang berwarna kuning cerah dan tidak kering. Otot dada berisi dan kulit tidak lengket dengan otot. 

Beberapa indikator lain yang dapat digunakan para peternak untuk menilai DOC, dijelaskan sebagai berikut.

  1. Mortalitas/kematian sampai dengan minggu kedua setelah menetas secara kumulatif tidak lebih dari 2 %. Pada Tabel 28 disajikan kematian normal pada ayam.
  2. Bobot badan rata-rata di atas 35 g/ekor dan keseragaman bobot badan sangat dianjurkan di atas 70 %.
  3. Mempunyai beberapa jenis zat kebal dari induk yang cukup terutama terhadap ND, IB, IBD dan AE.
  4. Tidak mengandung bibit penyakit yang ditularkan secara vertikal, misalnya Salmonella pullorum  

Pola Kematian Normal pada Ayam Ras

Umur Ayam (mg)

Persentase Kematian (%)

Persentase Kumulatif (%)

1

0,9

0,9

2

0,7

1,6

3

0,5

2,1

4

0,5

2,6

5

0,5

3,1

6

0,6

3,7

7

0,6

4,3

Sumber : Trobos, 2001 

Pakan

Bentuk dan Jenis

Berdasarkan bentuknya terdapat tiga jenis pakan, sebagai berikut.

  1. Mesh ( berbentuk tepung)

Bentuk ini merupakan bentuk ransum yang umum terlihat. Bahan yang dipilih menjadi ransum digiling halus kemudian dicampur menjadi satu. Ransum bentuk ini menyebabkan ayam tidak bisa memilih bahan pakan yang disenangi. Hal ini berdasarkan sifat dan cara makan ayam yang lebih gemar memakan pakan yang berbentuk butiran dan berwarna. Oleh karena itu ransum yang berbentuk tepung kurang disukai ayam. Bentuk ransum yang halus ini memiliki keuntungan lain, yaitu mudah diserap usus ayam, sehingga efisiensinya lebih baik. Ransum bentuk ini dapat digunakan untuk semua umur dan harganya lebih murah.

  1. Pellet (berbentuk bulat panjang)

Bentuk ini merupakan perkembangan dari bentuk tepung. Kelemahan dari bentuk ini adalah memungkinkan terjadinya kanibalisme, karena pakan pellet merupakan pakan yang padat gizi, sehingga ayam tidak tertarik lagi mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang banyak. Secara biologis perilaku ayam umumnya suka mematok makanan setiap saat. Oleh karena gizi sudah terpenuhi maka yang dipatok bukan lagi makanan melainkan teman sendiri, sehingga dapat menimbulkan kanibal. Akan tetapi kanibal tidak selalu disebabkan karena pakan bentuk pellet. Kondisi lingkungan yang panas dan membuat stress ayam juga dapat menyebabkan kanibal. Pakan bentuk pellet ini kurang cocok untuk anak ayam.

  1. Crumble (berbentuk pecah/butiran)

Bentuk ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari bentuk pellet. Bentuk ini banyak digunakan untuk semua umur ayam broiler. Ransum ini sudah lazim digunakan oleh peternak karena harganya tidak semahal ransum bentuk pellet. Pada Tabel menunjukkan pengaruh bentuk fisik ransum terhadap pertumbuhan ayam broiler. 

Pengaruh Bentuk Fisik Ransum pada Pertumbuhan Ayam Broiler

Perlakuan

Berat Badan Ayam

Umur 8 Minggu

Konversi Ransum

Umur 8 Minggu

Pellet

Bijian Pecah

½ Pellet ½ Bijian Pecah

Tepung

1,90-4,92

1,90

1,90

1,84

2,16-2,15

2,20

2,20

2,19

Sumber : Rasyaf, 2001 

Berdasarkan waktu pemberiannya, pakan dibedakan menjadi dua jenis, adalah sebagai berikut.

  • Starter (kadar protein sekitar 23%) diberikan pada umur 1-24 hari.
  • Finisher (kadar protein sekitar 20-21%) diberikan pada umur 25 hari sampai panen. 

Komposisi Nutrisi

Komposisi zat makanan yang diperlukan untuk ransum starter dan finisher dapat dilihat pada Tabel 30 di bawah ini. Kebutuhan ransum per ekor per hari berdasarkan umur (Rasyaf, 2001), adalah sebagai berikut.

  • Umur 1 minggu 25 gram
  • Umur 2 minggu 53 gram
  • Umur 3 minggu 65 gram
  • Umur 4 minggu 95 gram
  • Umur 5 minggu 115 gram
  • Umur 6 minggu 130 gram.

Ransum dapat dibeli dari poultry shop atau perusahaan swasta sebagai inti/bapak angkat. 

Komposisi Zat Makanan untuk Ransum Starter dan Finisher

Zat Makanan

Starter (%)

Finisher (%)

Protein

Serat Kasar

Lemak

Ca

P

21 – 23

3,0 – 4,0

3,0 – 8,0

0,9 – 1,1

0,7 – 0,9

18 – 21

3,0 – 4,5

3,0 – 8,0

0,9 – 1,1

0,7 – 0,9

Energi (ME)

2.900 – 3.100 kkal

2.900 – 3.200 kkal

Sumber : Rasyaf, 2001 

Pemeliharaan

Terdapat dua masa pemeliharaan ternak ayam ras pedaging atau broiler sebagai berikut.

  1. Masa pemeliharaan awal atau starter. Masa pemeliharaan starter sejak anak ayam berusia 1 hari – 4 minggu.
  2. Masa pemeliharaan akhir atau finisher. Ini merupakan periode terakhir dalam pemeliharaan ayam ras pedaging yang siap untuk di panen. Biasanya ayam dipanen pada umur 5-6 minggu. 

Sistem pemeliharaan yang digunakan yaitu dengan sistem all in all out, karena anak broiler yang masuk kandang dengan umur yang sama dan kemudian akan dijual pada umur yang sama pula. 

Masa Persiapan

Pemeliharaan ayam ras pedaging harus dilakukan secara cermat dengan pengawasan yang ketat, karena faktor resiko penyakit yang cukup tinggi.

Persiapan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya demikian juga dalam penggunaan alat harus memenuhi baik faktor higienis, keamanan ternak maupun efisiensi.

Lantai, dinding, langit-langit, peralatan makan dan minum, pemanas harus dibersihkan dan disanitasi paling lambat satu minggu sebelum anak ayam (DOC) dimasukkan kandang dengan menggunakan desinfektan seperti biocid. 

Tiga hari sebelum DOC masuk, sekam sudah ditabur dan layar sudah menutup dinding kandang, dan kembali dilakukan disinfeksi terhadap ruangan kandang.

Sehari sebelum DOC datang, pemanas sudah terpasang dan dilakukan uji coba, karena dua jam sebelum DOC datang, pemanas harus sudah dinyalakan untuk mendapatkan temperatur lingkungan yang dikehendaki.

Pada minggu pertama diperlukan suhu 95oF atau 35oC, minggu kedua dengan suhu 900F atau 32,2oC dan minggu ketiga tidak memerlukan brooder lagi.

Namun untuk daerah pegunungan dapat dipakai dengan suhu 29,4oC. Tempat ransum sudah tersusun di sekitar brooder, tapi belum diisi.

Tempat minum sudah diisi, dicampur dengan gula sebanyak 2 % dan ditambah dengan vitamin dan mineral. 

Pemeliharaan Masa Awal

Minggu pertama umur ayam merupakan saat yang menentukan terhadap pertumbuhan dan perkembangan ayam.

Setelah DOC masuk harus segera diberi minuman dengan dicampur gula (2%), untuk mengurangi stress dalam perjalanan dan untuk memberikan tambahan energi secara cepat. 

Penggunaan alat pemanas ideal apabila satu buah alat digunakan untuk 500-1000 ekor DOC dengan suhu awal 32oC.

Pelindung alat pemanas setinggi 45 cm diletakkan melingkar dengan jarak sekitar 2 meter.

Suhu pemanas secara berangsur sehingga saat umur 4 minggu sudah tidak memerlukan pemanas lagi. 

Tempat makan diusahakan dengan tepi melengkung ke dalam untuk mengurangi terbuangnya makanan dalam jumlah yang banyak.

Semakin membesarnya anak ayam, tempat makan harus ditinggikan untuk menghindari pengotoran makanan oleh alas kandang.

Pada tahap awal disediakan ruang makan dengan jarak 2,5 cm per ekor dan secara bertahap ditingkatkan menjadi 5 cm per ekor.

Setiap satu buah tempat makanan yang digantung secara normal dapat digunakan untuk 50 ekor.

Untuk keperluan minum  disediakan tempat minuman dengan kapasitas 7,5 liter untuk kebutuhan 100 ekor. Ruang yang diperlukan untuk aktivitas minum sekitar 1,25 cm per ekor. 

Pemeliharaan Masa Pertumbuhan

Masa pertumbuhan yang cukup pesat biasanya dimulai pada minggu kedua sampai dengan minggu ke 4 - 5.

Selama pemeliharaan, ayam perlu dilakukan vaksinasi, yaitu vaksinasi terhadap penyakit ND (New Castle Desease) dan penyakit gumboro.

Cepatnya pertumbuhan ayam tersebut mempunyai konsekuensi terhadap kerentanan terhadap penyakit.

Selain penyakit tersebut di atas, sering pula muncul penyakit-penyakit bakterial seperti: CRD (Chronic Respiratory Desease), Colli bacillosis dan Salmonelosis

Pemeliharaan Masa Panen

Biasanya ayam broiler dipanen pada umur 28 sampai dengan 40 hari, pada saat berat badan antara 1 kg sampai dengan 1,8 kg.

Penentuan saat panen tersebut dipengaruhi oleh harga ayam dan kondisi kesehatan ayam itu sendiri. Untuk mengurangi tingkat stres yang tinggi, sebaiknya panen dilakukan secara serentak (all out). 

Setelah ayam  dipanen, kandang segera dibersihkan, kotoran dikeluarkan dan alat-alat dicuci.

Kandang dikosongkan atau diistirahatkan minimal 2 minggu agar dapat diisi bibit ayam lagi (DOC).

Kandang yang telah bersih dari litter, disemprot dengan air yang telah dicampur dengan bahan pembunuh kuman, lalu dibilas dengan air biasa.

Maksud dari pengosongan berkaitan dengan kemungkinan penularan penyakit atau sisa-sisa penyakit yang masih ada di dalam kandang. 

Penyakit pada Ayam

Penyakit karena Bakteri

Penyakit Kolera. Penyakit kolera menyerang pada semua tingkatan umur ayam, bersifat menahun dan accut (ganas). Penyebabnya adalah bakteri Salmonella multocida.

Ciri-ciri : pada yang accut ayam mati mendadak tanpa diketahui gejalanya. Ayam mencret dengan kotoran berwarna kekuning-kuningan, kemudian menjadi kecoklat-coklatan atau kehijau-hijauan dan disertai bau yang busuk.

Pengobatan : dengan Tetra Chlorine Capsule diberikan langsung melalui mulut, atau dengan suntikan Terra mycin, atau dengan obat Ryomycin ataupun noxal yang dicampurkan dalam air minum.

Penularan : melalui binatang vektor seperti lalat ataupun unggas lain. Melalui pernafasan. Makanan dan air minum yang sudah tercemar Salmonella. Luka pada kulit atau luka bekas suntikan. 

Berak Putih/Berak Kapur (Pullorum). Merupakan penyakit berak kapur yang disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum, dapat menyerang pada ayam yang masih muda maupun pada ayam dewasa.

Ciri-ciri : kotoran encer, berlendir dan berwarna putih seperti butir-butir kapur dan sering melekat pada bulu disekitar dubur. Mata tertutup dan sayap terkulai. Ayam lesu dan menggigil kedinginan.

Pengobatan : dengan obat Sulfa yang disuntikkan seperti Sulfa strong infeksi atau dengan Noxal yang dicampur dalam air minum atau Neo-Terra mycine Soluble Powder.

Penularan : melalui kotoran, peralatan kandang. Melalui telur dari induk yang pernah terkena infeksi Pullorum. Kontak langsung dengan ayam yang sakit. 

Fowl Typhoid. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella gallinarum. Sasaran yang diserang adalah ayam remaja dan dewasa. Ciri-ciri ayam terkena penyakit ini yaitu mengeluarkan tinja yang berwarna hijau kekuningan. Pengobatan penyakit ini adalah dengan antibiotika atau preparat sulfa. 

Parathyphoid. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dari genus Salmonella yang menyerang ayam di bawah umur satu bulan. Pengobatannya dengan preparat sulfa. 

Pilek Ayam (Coryza). Jenis penyakit ini lebih dikenal dengan snot (pilek) atau salesma yang menyerang ayam pada segala tingkatan umur yang disebabkan oleh bakteri Haemophilus gallinarum.

Ciri-ciri : pembengkakan pada muka terutama pada hidung dan mata. Hidung mengeluarkan cairan yang berlendir. Sulit bernafas dan selalu bersin-bersin.

Pengobatan : dengan obat Trisulfa yang dilarutkan dalam air minum, atau Tetra Chrorine Capsule yang berlangsung diberikan lewat mulut atau dengan suntikan Streptomycine atau Terramycin.

Penularan : melalui makanan dan minuman serta peralatan yang dipergunakan. Kontak langsung dengan ayam yang menderita. 

Penyakit karena Virus

Marek. Penyakit ini di sebabkan oleh virus yang dapat mengakibatkan kematian pada ayam hingga 50 %. Pencegahan terhadap penyakit ini yaitu dengan vaksinasi yang dilakukan di hatchery (tempat penetasan) dengan menggunakan virus hidup heterolog yang bertujuan untuk melawan perbanyakan virus liar secara dini pada ayam dan mencegah pertumbuhan tumor. 

Gumboro. Penyakit ini menyerang anak ayam umur 3-6 minggu yang berpengaruh menurunkan kekebalan tubuh. Penyakit ini berhubungan dengan penyakit lain seperti  Marek, ND, Colli basilosis dan Salmonellosis

Infeksi Bronchitis. Penyakit ini menyerang ayam segala umur. Pada ayam dewasa, penyakit ini dapat menurunkan produksi telur. Tingkat kematian ayam dewasa yang terserang penyakit ini rendah, tetapi pada anak ayam dapat mencapai 40 %. Bila menyerang ayam petelur dapat menyebabkan telur lembek, kulit telur tidak normal, putih telur encer dan kuning telur mudah berpindah tempat. Pencegahan terhadap penyakit ini dengan vaksinasi. 

Infeksi Laryngotracheitis. Penyakit ini merupakan penyakit pernafasan yang serius yang disebabkan oleh virus Tarpeia avium. Virus ini di luar mudah dibunuh dengan desinfektan (karbol). Pencegahan terhadap penyakit ini yaitu dengan vaksinasi dan sanitasi yang ketat. 

CRD (Chronic Respiratory Disease). Penyakit ini disebabkan oleh virus, merupakan penyakit yang sulit dibedakan dengan snot. Menyerang pada ayam segala umur.

Ciri-ciri : batuk, pilek dan disertai dengan bunyi ngorok dalam pernafasannya.

Pengobatan : Tetra Chlorine Capsule melalui mulut, Pirivet, TM 10 atau Aurofac.

Penularan : melalui makanan, air minum dan peralatan yang digunakan yang telah tercemar virus. Melalui telur tetas. 

NCD (New Castle Disease). Dikenal dengan penyakit tetelo yang sangat ganas menyerang ayam pada segala umur. Pada umumnya penyakit ini berjangkit pada waktu terjadi pergantian musim yaitu dari musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Penyakit ini termasuk penyakit menular dan dapat menyebabkan kematian 80-100 %.

Ciri-ciri : ayam sulit bernafas, batuk-batuk, bersin dan timbul bunyi ngorok. Kepala memutar-mutar dan diikuti kelumpuhan. Kotoran encer berwarna kehijau-hijauan dan kadang disertai darah. Jengger dan pialnya berwarna biru kehitam-hitaman. Sayap turun menggantung dan jalan terseret.

Pengobatan : belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Salah satu cara yaitu dengan vaksinasi dan membakar/mengubur ayam yang mati. Sebaiknya ayam yang telah terinfeksi dipisahkan agar tidak menular pada ayam yang lain.

Penularan : melalui hubungan langsung dengan ayam yang terinfeksi. Melalui kotoran maupun bangkai ayam yang sudah sakit. Melalui pernafasan. Melalui binatang vektor seperti serangga. Melalui makanan, air minum dan pendekatan yang tercemar bibit penyakit. 

Cacar (Fowl Pox). Penyakit cacar yang disebabkan oleh virus Borreliota avium yang menyerang pada ayam segala umur.

Ciri-ciri : pada jengger, kelopak mata dan pial terdapat bintil-bintil kecil berwarna merah yang lama kelamaan tumbuh menjadi besar dan berwarna kekuning-kuningan yang akhirnya akan menjadi hitam (gelap). Pada mata dan hidung keluar cairan.

Pengobatan : Bintil-bintil yang terdapat pada jengger, pial diambil sampai bersih dengan menggunakan silet, kemudian bekas luka tersebut diberi obat Yodium tenture 2 %, penicilin Zalf, Tetraplex capsule atau methylen blue 1 %.

Penularan : melalui binatang vektor seperti serangga nyamuk dan lalat. Melalui makanan, minuman yang telah tercemar bibit penyakit. Melalui pernafasan.

Penyakit karena sebab yang Lain

Mycosis. Merupakan penyakit sariawan yang menyerang alat pencernaan yang disebabkan oleh Jamur Candida albicans.

Ciri-ciri : dalam mulut terdapat banyak lendir. Bulu ayam menjadi kasar. Nafsu makan menurun.

Pengobatan : dengan larutan Cupri Sulfat.

Penularan : melalui makanan dan minuman yang tercemar bibit penyakit. 

Favus. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Lophoophyton gallinae yang menyerang pada bagian kulit yang tidak berbulu seperti jengger dan pial.

Ciri-ciri : adanya bercak-bercak berwarna putih pada jengger dan pial, lebih parah bila bercak tersebut menjadi kuning keabuan.

Pengobatan : dengan formalin yang dicampur vaselin dengan perbandingan 1:20 kemudian diusapkan pada bagian yang sakit. Menggunaan yodium tincture yang diusapkan pada bagian yang sakit. 

Coccidiosis. Merupakan penyakit berak darah yang disebabkan oleh protozoa yang disebut Coccidia. Penyakit ini menyerang pada ayam segala umur. Bagian tubuh yang diserang adalah usus yang menyebabkan radang usus dan dapat menyebabkan kematian.

Ciri-ciri : ayam nampak pucat, lesu dan mengantuk. Sayap terkulai turun. Mencret, berlendir warna coklat kemerah-merahan karena bercampur darah. Bulu kusam. Ayam menggigil kedinginan.

Pengobatan : Tetra chlorine capsule diberikan melalui mulut, disuntik dengan Sulfa Strong, atau dengan Noxal, Trisulfa tablet yang dilarutkan dalam air minum.

Penularan : melalui kotoran ayam yang mencemari makanan dan minuman. Melalui binatang vektor seperti tikus dan serangga. Peralatan yang tercemar bibit penyakit. 

Cacingan. Penyakit ini disebabkan oleh cacing yang hidup di dalam usus ayam sebagai parasit yaitu seperti cacing Ascaris, cacing pita, cacing mata.

Ciri-ciri : ayam kurus dan pucat, lemah tidak bersemangat. Sayap terkulai. Kotoran encer berlendir berwarna keputihan seperti berak kapur. Pada cacing yang menyerang mata, mata ayam bengkak dan mengeluarkan cairan.

Pengobatan : dengan warm X, piperzine powder yang dibubuhkan ke dalam air minum. Menggunakan Tenoban berupa pil atau Dbutyltin. Pada cacing yang menyerang mata, dengan creolin 5% yang diteteskan pada mata.

Penularan : melalui lipas, binatang perantara seperti serangga, cacing. Melalui kotoran yang mengandung telur-telur cacing yang mencemari makanan dan minuman. 

Penyakit Defisiensi

Merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan suatu unsur makanan dalam ransum secara terus-menerus. Akibatnya seperti kelumpuhan, jari kaki melengkung ke dalam, kaki bengkok. Pengobatan dan pencegahannya adalah dengan memberikan ransum yang baik yang cukup vitamin dan mineral. 

Pencegahan Penyakit dan Pengelolaan Lingkungan

Parameter yang sangat menentukan dalam budidaya selama pemeliharaan adalah serangan penyakit, terutama tetelo (ND), bercak darah dan “stres” (cekaman).

Tindakan terbaik adalah melakukan tindakan pencegahan. Pencegahan penyakit dilakukan secara ketat dengan melakukan vaksinasi serta pemberian suplemen vitamin dan mineral.

Hal ini disamping untuk menurunkan angka kematian juga untuk meningkatkan pertumbuhan bobot badan.

Vaksin yang paling banyak dibutuhkan peternak adalah vaksin ND dengan tingkat kebutuhan 64 % dari total vaksin yang dibutuhkan dalam masa pemeliharaan, disusul vaksin IB (Infectious bronchitis) dengan tingkat kebutuhan 15 % dan vaksin IBD dengan tingkat kebutuhan 14%.

Sisanya sebanyak 7 % dibutuhkan untuk memvaksin penyakit SNOT, ILT, EDS dan SHS. 

Selain itu, akibat adanya perubahan musim, bibit penyakit biasanya berada  dalam posisi yang diuntungkan, oleh karenanya peternak harus mengantisipasi kedatangan musim hujan agar ayam tetap berproduksi optimal.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh peternak untuk mengantisipasi hal tersebut, diantaranya dijelaskan di bawah ini.

  • Waspadai kualitas air, karena curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan perubahan pada kualitas sumber-sumber air permukaan, sehingga total bahan terlarut maupun kandungan dan variasi mikroorganisme yang terkandung dalam sumber-sumber air tersebut umumnya akan jauh lebih tinggi daripada saat musim kemarau.
  • Kurangi risiko kontaminasi jamur, karena hembusan angin yang relatif lebih kencang dan tidak menentu arahnya memungkinkan untuk menerbangkan partikel-partikel yang lebih besar seperti spora jamur.
  • Atasi Stress, terutama pada anak ayam 

Jadwal Pencegahan Penyakit

Aktivitas

Minggu ke-

1

2

3

4

5

6

DOC masuk

      

Air gula + vitamin mineral

      

Pemerikasaan fisik DOC

      

Jaga temperatur indukan

      

Awasi konsumsi dan nafsu makan

      

Obat anti stress

      

Vaksinasi ND

      

Cegah Cocciidiosis

      

Cegah dan awasi snot

      

Cegah dan awasi CRD

      

Awasi kondisi litter

      

Sumber : Rasyaf, 2001 

Program pencegahan penyakit yang dapat dilakukan di dalam usaha peternakan ayam ras petelur ini adalah seperti yang dipaparkan berikut ini.

  1. Vaksinasi. Vaksinasi ini harus dilakukan secara teratur terutama terhadap penyakit tetelo (ND) yang sangat membahayakan. Vaksin yang digunakan adalah vaksin strain F yang digunakan untuk anak ayam umur 1 hari sampai          4 minggu, yang diteteskan pada mata, hidung atau mulut sebanyak 1 ml. Vaksin strain K diberikan pada ayam umur 4 – 12 minggu sebanyak               0,5 dosis dan 1 dosis untuk ayam yang berumur 12 minggu atau lebih, yang diberikan dengan cara disuntikkan melalui otot dada.
  2. Menjaga kebersihan lingkungan secara teratur baik yang di dalam kandang maupun yang di luar kandang.
  3. Menjaga kebersihan tempat makan dan minum.
  4. Menjaga kebersihan pakan dan minuman.
  5. Memisahkan ayam yang sakit dari kelompok ayam yang sehat.
  6. Membuang atau membakar bangkai ayam yang telah mati. 
  • Manajemen Operasional

Pada awal perkembangannya industri ayam ras dikembangkan melalui kerjasama antara perusahaan pembibitan, pakan dan peternak budidaya.

Industri besar menangani usaha bibit dan pakan sementara peternak menangani kegiatan budidaya dalam skala kecil.

Pertumbuhan permintaan yang pesat dengan semakin  diterimanya daging ayam ras oleh masyarakat umum termasuk pedesaan mendorong munculnya bentuk usaha integrasi yang cenderung monopoli yang menangani usaha dari mulai bibit sampai pengolahan. Investor besar baik lokal maupun asing bermunculan melihat prospek bisnis ayam ras yang menggiurkan.

Pertumbuhan perusahaan-perusahaan besar disertai permainan kartel dalam industri pakan sangat memukul usaha budidaya yang ditangani oleh peternak kecil.

Lemahnya posisi dan akses terhadap input dan informasi dari peternak kecil menyebabkan gulung tikarnya usaha budidaya skala kecil. 

Perkembangan tersebut mendorong lahirnya kebijakan yang mengarah pada pemberdayaan peternak kecil melalui kerjasama kemitraan.

Perusahaan besar diarahkan bergerak dalam usaha industri bibit dan pakan, peternak kecil menangani kegiatan usaha budidaya.

Model kelembagaan yang dikembangkan adalah bahwa perusahaan besar menyediakan modal untuk bibit, pakan, obat, dan peralatan serta bertanggung jawab dalam pemasaran, sedangkan peternak kecil menyediakan lahan dan kandang serta bertanggung jawab terhadap pengelolaan secara penuh.

Sistem kerjasama penentuan harga biasanya menganut dua macam sistem, yaitu:

  1. berdasarkan harga pasar dan                     
  2. berdasarkan harga standar yang telah ditetapkan sebelumnya.

Model kelembagaan tersebut dapat berkembang dengan baik sekitar akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an.

Namun model pengembangan ini mulai menunjukkan ketidakharmonisan ketika usaha besar ikut serta bergerak menangani usaha budidaya yang berakibat terjadinya over supply produksi di pasaran.

Turunnya harga ayam potong di pasar sangat merugikan peternak skala kecil yang secara ekonomi tidak efisien dibanding dengan skala besar yang ditangani perusahaan swasta besar. 

Keterpurukan peternak skala kecil mencapai puncaknya saat krisis moneter dengan melonjaknya harga pakan secara luar biasa yang tidak diimbangi membaiknya harga jual ayam potong.

Oleh karena itu model usaha yang berkembang saat ini mengarah kepada dua kecenderungan.

Pertama, industri integrasi hulu hilir yang ditangani oleh perusahaan besar sebagai strategi efisiensi usaha, dan Kedua, pola kemitraan sebagai siasat kerjasama peternak kecil-kecil dalam pemanfaatan kandang kosong, pemberdayaan peternak sebagaimana amanat pemerintah, dan minimalisasi resiko baik bagi peternak kecil maupun peternak besar. 

Hambatan pergerakan dana modal untuk komoditas pertanian, baik melalui investasi atau sistem kredit telah merangsang tumbuhnya sistem kontrak dimana alasan utama pengembangan sistem kontrak adalah tingginya derajat ketidakpastian terhadap pendapatan yang diperoleh peternak mandiri.

Kebanyakan peternak karena alasan pemasaran dan kesulitan dalam permodalan lebih banyak berusaha dalam sistem kontrak. 

Sistem kontrak merupakan suatu cara dalam pengaturan pola produksi, para peternak kecil terikat dalam suatu perjanjian kontrak dengan suatu agen untuk menghasilkan output.

Agen akan memasok tenaga pembina, kredit dan input lainnya serta melaksanakan pengolahan dan pemasaran.

Koordinasi vertikal antara plasma-inti akan dapat mengurangi biaya, meningkatkan keuntungan serta memberikan arus keuntungan yang lebih stabil, pertumbuhan yang tetap, pemasokan bahan mentah secara tetap dan dapat meningkatkan produksi melalui penyediaan modal, manajerial yang baik serta pelayanan yang baik. 

Beberapa bentuk kemitraan untuk menjembatani antara peternakan rakyat dengan perusahaan peternakan dijelaskan sebagai berikut.

  1. Kemitraan Miranti-Mirama (mitra usaha inti-mitra usaha plasma)

Pengusaha yang bertindak sebagai miranti adalah anggota GAPPI. Pengusaha ini berkewajiban menjamin pengadaan dan penyaluran sarana produksi (bibit, pakan dan obat-obatan), memberikan bimbingan teknis dan alih teknologi, menampung dan memasarkan hasil produksi serta membantu mirama untuk memperoleh modal usaha. Mirama berkewajiban menyediakan sarana produksi berupa lahan usaha, kandang dengan kapasitas 5.000-15.000 ekor ayam ras pedaging per siklus, peralatan dan perlengkapan yang diperlukan, sanggup melakukan budidaya sesuai dengan persyaratan teknis yang ditetapkan serta menjual dan memasarkan hasil produksinya kepada miranti.

  1. Kemitraan Model PIR Kinak

Kawasan industri peternakan merupakan suatu kawasan yang dimaksudkan untuk melakukan usaha peternakan dengan komoditas yang seragam. Peternak plasma yang tergabung dalam pembangunan kawasan industri peternakan mengorganisir diri dalam bentuk koperasi. Koperasi ini kemudian melakukan negosiasi kerjasama dengan perusahaan inti. Perusahaan inti berkewajiban menyediakan bibit ayam (DOC), pakan dan obat-obatan yang memadai. Peternak anggota koperasi bertindak sebagai plasma diwajibkan menyediakan kandang dan peralatan serta sanggup melakukan budidaya sesuai dengan standar yang ditetapkan dan menjual hasil produksi kepada perusahaan inti. 

Pola kemitraan yang dilakukan antara perusahaan inti dengan peternak plasma dalam implementasinya pun berbeda-beda. Sebagai studi kasus pola kemitraan yang di daerah Bogor dan Sukabumi, yaitu dalam penetapan harga input maupun output yang dapat dilihat pada Tabel. 

Sistem Penetapan Harga Input dan Output oleh Inti

Keterangan

Pola Kemitraan I

Pola Kemitraan II

Harga pakan

Ditetapkan inti melalui sistem diskon yang ditahan

Berdasarkan harga yang berlaku di pasar umum

Harga DOC

Konstan

Berdasarkan harga yang berlaku di pasar umum

Harga obat-obatan

Ditetapkan inti melalui sistem diskon yang ditahan

Ditetapkan inti melalui sistem diskon yang ditahan

Harga ayam

Harga dasar

Berdasarkan harga yang berlaku di pasar umum

Sumber : Suhendar, 1997 

Pembelian hasil panen pada pola kemitraan I dilakukan berdasarkan yang telah ditetapkan sebelumnya yang biasa disebut sebagai harga dasar yang ditetapkan oleh inti. Dalam pelaksanaan pola kemitraan, perusahaan inti melakukan pengawasan di lokasi peternakan, pemberian bonus dan sanksi. 

Adapun beberapa persyaratan untuk mengikuti pola kemitraan usaha peternakan, adalah sebagai berikut.

  1. Mempunyai tempat tinggal yang tetap.
  2. Memberikan agunan sebagai jaminan awal atau menandatangani surat perjanjian.
  3. Mempunyai pengalaman beternak selama tiga tahun dengan performan yang baik atau mengetahui bidang peternakan terutama peternakan ayam ras pedaging.
  4. Kandang dan peralatan layak pakai. 

Terlepas dari itu semua bahwa pengembangan usaha ayam ras harus didesain secara terintegrasi. Hal ini disamping untuk menjaga kesinambungan usaha (sustainable) juga dalam rangka memperoleh marjin secara lebih besar pada setiap stake holder dengan adanya efisiensi setiap kegiatan. Integrasi yang harmonis akan dapat mengurangi transaction cost selain biaya produksi. 

Resiko yang mungkin terjadi pada pola kemitraan dalam pengembangan ternak ayam ras, yaitu bagi peternak plasma dijelaskan sebagai berikut ini.

  1. Ketergantungan peternak kecil semakin tinggi terhadap keberadaan perusahaan besar sebagai inti karena jarang terjadi pembinaan ke arah kemandirian.
  2. Pada pola kemitraan dimana harga jual ditentukan oleh harga pasar, peternak sering mengalami kerugian, karena harga yang diterima sering berubah dan tidak seimbang dengan biaya input produksi yang sudah disepakati. Penurunan harga jual seringkali terjadi sebagai akibat dari melonjaknya pasokan di pasaran. Disamping itu karena peternak umumnya tidak memiliki akses yang baik terhadap informasi harga, maka peternak sering menerima harga yang lebih rendah dari harga pasar sebenarnya.
  3. Dengan kontrak kemitraan yang umumnya sangat mengikat, peternak tidak dapat memanfaatkan peluang pasar yang lebih terbuka. 

Adapun resiko yang dihadapi oleh perusahaan inti, adalah sebagai berikut.

  1. Banyak peternak plasma yang melakukan kegiatan usaha hanya bersifat coba-coba dan mengikuti peternak yang lain yang berhasil, sehingga perusahaan inti harus melakukan pembinaan secara lebih intensif.
  2. Pola produksi yang dilakukan peternak seringkali fluktuatif sehingga tidak setiap saat bersedia melakukan kegiatan usaha. Hal ini dapat mempengaruhi ketepatan dalam perencanaan produksi perusahaan inti.
  3. Tidak tertutup kemungkinan peternak plasma mengambil keputusan secara sepihak dalam berbagai hal termasuk dalam pemasaran, sehingga perusahaan inti tidak memperoleh nilai tambah karena hasil produksi dijual ke pihak lain.
  4. Pada pola kemitraan dengan harga standar, perusahaan inti dapat mengalami kerugian manakala harga pasar yang terjadi saat penjualan jauh lebih rendah dibandingkan harga standar yang sudah yang disepakati. Fluktuasi harga jual ayam ras sangat tinggi dalam waktu yang singkat. 
  • Bobot Badan dan Angka Konversi Pakan

Penggunaan DOC dan pakan yang berkualitas serta manajemen pemeliharaan yang baik, akan dicapai bobot badan dan angka konversi pakan seperti yang disajikan pada Tabel. 

Bobot Badan dan Angka Konversi Pakan Ayam Broiler

Umur (mg)

Bobot Badan (kg/mg)

Pertambahan Bobot Badan (kg/mg)

Jumlah Kebutuhan Ransum (Kg/mg)

Angka Konversi Pakan (FCR)

1

2

3

4

5

6

7

8

0,13

0,27

0,46

0,70

0,97

1,30

1,63

1,96

0,08

0,14

0,20

0,24

0,27

0,37

0,33

0,33

0,14

0,21

0,34

0,45

0,53

0,69

0,76

0,83

-

1,52

1,72

1,90

1,97

2,11

2,31

2,53

            Sumber : Rasyaf, 2001 

  • Koefisien Teknis

Koefisien teknis yang dimaksud di sini adalah beberapa parameter produktivitas penting yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha. Bobot badan yang menjadi patokan dalam perhitungan finansial adalah 1,3 kg dengan lama pemeliharaan 35 hari. Angka  konversi pakan 1,812 yang berarti untuk setiap 1 kg bobot hidup ayam ras pedaging diperlukan sebanyak 1,812 kg pakan. Angka mortalitas yang digunakan 5 % dan kepadatan kandang 12-13 ekor/m2. Berdasarkan angka konversi pakan di atas, maka jumlah kebutuhan ransum untuk periode pemeliharaan 35 hari adalah 1,812 x 1,3 kg = 2,356 kg.