Last Updated:
Usaha Perkebunan Kakao (Coklat)
Usaha Perkebunan Kakao (Coklat) https://www.pustakadunia.com

Usaha Perkebunan Kakao (Coklat)

Kakao (Coklat) adalah komoditas ekspor Indonesia yang mengalami perkembangan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir ini. 

Perkembangan yang menyolok terjadi semenjak adanya krisis moneter.

Pada awal krisis tahun 1998 ekspor  Kakao (Coklat) baru mencapai 266.270 ton (US$ 419,8 juta). 

Ekspor biji Kakao (Coklat) kemudian terus meningkat, sehingga tahun 2001 lalu mencapai 438.775 ton., be­rarti ekspornya mengalami lonjakan 64,8%.  

Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US dollar menyebabkan komoditas Kakao (Coklat) Indonesia menjadi lebih bersaing dipasar ekspor dan di dalam negeri petanipun menjadi lebih bergairah mengolah kebunnya supaya hasil panennya meningkat. 

Indonesia bisa terus meningkatkan ekspor Kakao (Coklat) karena Indonesia hingga kini tidak  menjadi anggota ICCO (International Cocoa Organization), sehingga  tidak terkena pembatasan ekspor sehingga ekspor.

Namun dengan melonjaknya ekspor tersebut, industri pengolahan Kakao (Coklat) di dalam negeri menjerit kesulitan mendapatkan bahan baku dengan harga yang mema­dai.

Untuk mempertahankan operasi pabriknya mereka terpaksa mengimpor bahan baku tersebut.

Akibat tingginya harga Kakao (Coklat) banyak produsen Kakao (Coklat) olahan yang  merugi, malah bebera­pa di antaranya berhenti beroperasi. 

Pada tahun 2001 lalu impor  Kakao (Coklat) melonjak dua kali lipat lebih, dari 17.605 ton tahun sebelumnya menjadi 38.717 ton.

Peningkatan itu menandakan produsen Kakao (Coklat) olahan kesulitan memperoleh Kakao (Coklat) biji didalam negeri sehingga untuk  bisa terus berproduksi terpaksa mengimpor bahan baku tersebut.

Didalam negeri sendiri industri hilir Kakao (Coklat) yaitu industri makanan dan kosmetik, terus berkembang sehingga permintaan terhadap Kakao (Coklat) olahan seperti cocoa butter dan cocoa powder juga meningkat. 

Pesatnya ekspor Kakao (Coklat) didorong oleh harganya yang terus meningkat di pasar internasional yaitu pada bulan September 2002 ini mencapai rekor tertinggi selama 15 tahun yaitu sebesar US$ 1.850  per ton.

Menurut ICCO harga masih akan meningkat atau paling tidak bertahan karena pasok Kakao (Coklat) di dunia berkurang akibat masalah dalam negeri yang dihadapi produsen utama Kakao (Coklat) didunia yaitu Pantai Gading. 

Besarnya permintaan terhadap produk Kakao (Coklat) di dalam dan di luar negeri membuka peluang untuk investasi di sektor itu.

Peluang  ini ditunjang oleh kondisi lahan maupun iklim Indonesia yang umumnya cocok untuk tanaman ini.

Namun kenyataan­nya, sejak krisis 1997 lalu, terkecuali perkebunan rakyat, belum banyak minat investasi baru di sektor perkebunan ini, begitu juga minat investor di sektor pegolahannya makin berkurang. 

Tujuan artikel tentang usaha perkebunan Kakao (Coklat) ini adalah sebagai berikut :

  • Mengkaji karakteristik dan potensi ekonomi usaha komoditas Kakao (Coklat) serta komoditas pengembanganya.
  • Mengidentifikasi kriteria teknis produksi dan investasi usaha komoditas Kakao (Coklat).
  • Mengkaji titik kritis, peluang, hambatan dan resiko usaha dalam pengembangan usaha komoditas Kakao (Coklat) secara teknis dan ekonomis.
  • Menganalisis kelayakan finansial dan kebutuhan investasi yang diperlukan dalam mengembangkan usaha komoditas Kakao (Coklat).
  • Menilai prospek usaha Kakao (Coklat) beserta resiko yang ada, sehingga menjadi acuan dalam menilai kelayakan bisnis dan program investasi serta bahan lengkap dalam pembuatan rencana bisnis Kakao (Coklat). 

Kakao (Coklat) adalah komoditas agribisnis yang sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor, namun demikian industri pengolahannya didalam negeri juga telah berkembang untuk memenuhi kebutuhan industri hilir lokal maupun untuk dijual ke pasar ekspor untuk memperoleh nilai tambah yang lebih besar. 

Artikel ini meliputi aspek makro yang berkaitan dengan industri Kakao (Coklat) sebagai latar belakang untuk mengetahui peranan industri tersebut dalam perekonomian Indonesia. 

Kajian aspek mikro memperlihatkan struktur industri dari komoditas meliputi pohon industri, perkembangan produksi, perdagangan luar negeri dan konsumsi dalam negeri. 

Kajian aspek teknis memberikan gambaran dari segi teknis industri tersebut yang meliputi teknologi, proses produksi, standar yang berlaku, dan manajemen operasional.

Informasi ini dapat digunakan oleh pihak bank untuk sebagai acuan dalam rangka mengevaluasi kelayakan dari aspek teknis proyek investasi disektor ini. 

Artikel ini juga mengkaji aspek pemasaran untuk mengetahui tingkat persaingan dan tingkat kejenuhan sehingga dapat diketahui apakah masih ada peluang pasar disektor ini.

Juga di kaji strategi yang diterapkan oleh pemain utama dan strategi yang diperlukan bagi pemain baru. 

 

 

 

Perkembangan makro dan pengaruhnya terhadap industri kakao (Coklat) 

Produksi Dan Konsumsi Kakao (Coklat) Nasional 

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, konsumsi biji kakao (Coklat) nasional sejak krisis tahun 1997 cenderung mengalami penurunan terus, sehing­ga titik nadirnya dicapai tahun 1999 yang hanya menyisakan konsumsi kakao (Coklat) sekitar 42,3 ribu ton.

Kecenderungan anjloknya konsumsi biji kakao (Coklat) tersebut dikarenakan selain produksi kakao (Coklat) menurun akibat musim kering berkepanjangan, juga krisis moneter di dalam negeri membuat permintaan terhadap industri makanan minuman di dalam negeri menurun, sehingga konsumsi kakao (Coklat) olahan di dalam negeri pun merosot. 

Sebaliknya, melonjaknya ekspor komoditas kakao (Coklat) dipacu oleh oleh tingginya disparitas nilai tukar rupiah terhadap US$-dollar, serta didorong oleh cenderung meningkatnya harga kakao (Coklat) di pasar dunia -- akibat menurunnya stok dunia.

Dampak dari kondisi tersebut, industri pengolahan kakao (Coklat) di dalam negeri mengalami kesulitan memperoleh bahan baku dengan harga yang memadai di pasar lokal.

Sehingga selain ada produsen yang menghentikan produksinya, juga pada umumnya mereka memperkecil utilitas kapasitas produksinya. 

Belakangan, pulihnya kembali industri makanan dan minuman di dalam negeri telah membuat konsumsi biji kakao (Coklat) nasional mulai mengalami peningkatan lagi, terutama tahun 2001 lalu konsumsinya diperkirakan sudah mencapai 107,1 ribu ton.

Sebelumnya, akibat merosotnya produksi kakao (Coklat) olahan di dalam negeri, impor kakao (Coklat) olahan terutama kakao (Coklat) bubuk dan pasta mengalami kenaikan cukup berarti dalam dua tahun terakhir.

Hal ini menandakan produksi kakao (Coklat) olahan semenjak krisis lalu, tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan industri pemakainya.

Sebab selama ini impor kakao (Coklat) olahan konstribusinya tidak cukup berarti, namun tahun 2001 lalu impor kakao (Coklat) bubuk mencapai 37.632 ton senilai US$ 27,2  juta dana kakao (Coklat) pasta sebesar 10.424 ton senilai 9,2 juta. 

Perkiraan Konsumsi Biji Kakao (Coklat) Indonesia, 1997 – 2001

 

('000 Ton)

Tahun

Produksi

Ekspor

Impor

Konsumsi

Perubahan (%)

1997

 330,2

  219,9 

   0,8 

   110,9 

      -

1998

 370,4  

  278,1 

   5,2 

    97,5 

   -12,1  

1999

 367,4  

  333,7 

   8,6 

    42,3 

   -76,0             

2000

 374,0  

  333,6 

  12,6 

    53,0 

    25,3       

2001

 380,8  

  302,7 

  29,0 

   107,1 

   102,1       

Rata-rata pertumbuhan konsumsi                 

9,8

Harga Kakao (Coklat) 

Tingkat harga kakao (Coklat) dan produk kakao (Coklat) tergantung dari faktor kualitas biji kakao (Coklat) dan faktor ekonomi.

Kualitas biji kakao (Coklat) ini tergantung dari negara asal pengekspor. Setiap negara mempunyai spesifik biji kakao (Coklat) tersendiri, tergantung kondisi tanah dari negara-negara penghasil -- yang akan mempengaruhi kualitasnya, selain juga dipen­garuhi oleh klimat/musim, hujan, transport dan gudang penyimpanan. 

Kualitas biji kakao (Coklat) dinilai atas faktor fisik dan ekonomi. Faktor ekonomi didasarkan atas pasokan produk dan kebutuhannya.

Karena produknya bersifat alami dan kebutuhannya terus berkembang, maka faktor suplay dan demand ini mengatur harga jual/beli kakao (Coklat).

Harga terutama diatur pada pasaran kakao (Coklat) mendatang di London dan New York. Ada dua pasaran untuk kakao (Coklat), yaitu physical market dan future mar­ket

Dalam physical market, pembeli dan penjual berunding untuk harga, kualitas, waktu penyerahan dan kondisi pembayaran, sedangkan harga dikaitkan ke terminal (future) market.

Yang dirundingkan pada future market itu hanyalah untuk kontrak standar kakao (Coklat) tersebut, berikut harga dan waktu penyerahan.

Future market mempunyai tiga basis fungsi untuk produsen, konsumen dan pedagang -- yakni membuat kepas­tian harga dan memberikan informasi harga kepada publik, mengecilkan resiko harga yang dinamakan hedging, serta sebagai alat spekulasi. 

Harga biji kakao (Coklat) di pasar internasional diperkirakan akan mengalami kenaikan dibandingkan dengan harga kakao (Coklat) pada tahun 2001, karena pasokan kakao (Coklat) dunia diperkirakan akan mengalami penurunan sedangkan permintaannya terus meningkat.

Tercatat harga kakao (Coklat) di pasar lokal pada April 2002 lalu mencapai Rp 14.000 per kg, namun seiring menu­runnya harga kakao (Coklat) -- harga di pasar domestik pada bulan Juli pun turun menjadi Rp 12.000 per kg. Koreksi harga di pasar dunia, didorong oleh ulah para spekulan yang melepas stoknya di tengah mulai lan­carnya pasokan dari berbagai negara produsen, termasuk Afrika Sela­tan. 

Saat ini, harga komoditas kakao (Coklat) di dalam negeri mengalami kenaikan akibat ketatnya pasokan di pasar domestik.

Harga kakao (Coklat) di Pasar Sumatera Utara misalnya, awal Oktober lalu sudah mencapai Rp 16.500 / kg, setelah harga ekspor komoditas itu menembus 1.471 poundsterling atau US$ 2.062 per ton. 

Padahal sebelumnya harga di dalam negeri masih berkisar Rp 14.500 per kg, saat harga ekspor 1.400-an poundsterling. 

Perkembangan Harga Rata-Rata Biji Kakao (Coklat) Kering  di Dalam dan Luar Negeri, 1996 – 2002

 

Tahun

Harga Domestik

(Rp/Kg)

Harga Internasional

(New York/US$/Ton)

1996         

     2.281      

1.465

1997         

     3.338      

1.610

1998         

    12.900      

1.620

1999         

     7.042      

1.088

2000          

     7.344      

910

2001         

     9.500      

1.443

2002 - April 

    14.000      

1.566

           Juli  

    12.000      

1.465

 

Sumber: Ditjen Perkebunan/ICCO/Data Consult

 

     

Kondisi Kakao (Coklat) Dunia 

Produksi kakao (Coklat) dunia cenderung naik -- dengan peningkatan rata-rata pada periode 1996/97 sampai 1998/99 sekitar 1,73% per tahun.

Sehing­ga pada tahun 1998/1999 produksinya mencapai  2,8 juta ton. Semen­tara grinding atau pengolahan kakao (Coklat) dunia untuk tahun 1998/99, diperhitungkan stabil. 

Produsen kakao (Coklat) dunia yaitu Pantai Gading (Cote d'Ivoire) pada tahun 1998/99 menempati tempat pertama dengan produksi 1,1 juta ton, kedua ditempati Ghana dengan produksi 370 ribu ton dan Indonesia berada diurutan ketiga dengan produksi 350 ribu ton. 

Posisi Biji Kakao (Coklat) Dunia Plus Pengolahan dan Konsumsi Final, 1997 - 2000

 ('000 ton)

Uraian / Negara

1997

1998

1999

2000

Perubahan (%)

- Ivory Coast   

 1.108,0  

 1.113,0 

 1.100,0 

 1.250,0 

    -0,36         

- Ghana         

    322,5  

   409,4 

    370,0 

    410,0 

     7,19     

- Indonesia     

    325,0  

   330,0 

    350,0 

    400,0 

     5,24        

- Nigeria       

    160,0 

    165,0 

    180,0 

    170,0 

     6,06  

- Brazil        

    185,0 

    170.0  

    160,0 

    125,0 

    -7,52   

- Lainnya       

    610,9 

    546,7 

    646,5 

    574,0 

     2,87    

Total           

2.711,4 

   2.734,1 

2.806,5 

2.939,0 

     1,73  

Menurut perkiraan ICCO, adanya peningkatan bargaining posi­tion dari negara-negara produsen, berserta dengan masuknya 10 negara produsen utama dalam Cocoa Producers Alliance (CPA),  menjadikan produksi kakao (Coklat) dunia tahun 1999/2000 mencapai 2.939.000 ton. 

Negara Produsen dan Produksi Biji Kakao (Coklat) Dunia, 1999/2000        (ton)

Negara produsen

Produksi

Cote d'Ivoire        

      1.250.000

Ghana                

        410.000

Indonesia            

        400.000

Nigeria              

        170.000

Brazil               

        135.000

Cameroon             

        125.000

Equador              

         95.000

Malaysia             

         80.000

Dominican Rep.       

         47.000

Coloumbia            

         40.000

Lain-lain            

         68.000

Dunia                 

      2.939.000  

Sumber : ICCO                       

Sementara itu stok kakao (Coklat) dunia pada tahun 1998/99 menurun menjadi 954 ribu ton, dibanding stok tahun sebelumnya yang mencapai 1,1 juta ton.

Penurunan tersebut menjadikan ratio antara stok kakao (Coklat) dunia dan jumlah kakao (Coklat) yang diolah (word grinding) menurun, karena volume kakao (Coklat) yang diolah setiap tahun hampir tetap. Hal ini berarti supply kakao (Coklat) dunia cenderung turun pada saat itu. 

Konsumsi, stock dan rasio stok dengan pengolahan, 2000

 

(ribu ton)

Uraian

1996/97

1997/98

1998/99

Perubahan (%)

World grinding  

    2.750,5  

    2.791,0 

     2.800,0

       0,89

World stock     

    1.245,0  

    1.102,0 

       954,0

     -14,23

Stock ratio     

     45,27   

     39,48  

      34,07 

     -15,27

  Sumber : ICCO 

World grinding adalah jumlah kakao (Coklat) yang diolah, sedangkan World stock adalah jumlah stock kakao (Coklat) pada akhir musim panen, yaitu setelah suplay kakao (Coklat) pada musim panen per tahun ditambah stock tahun sebelumnya -- dikurangi oleh jumlah kakao (Coklat) yang dimanfaatkan langsung oleh industri kakao (Coklat) olahan.

Dengan demikian sangat logis bilamana World stock lebih kecil dibandingkan World grinding.

Sebab bila terjadi sebaliknya, suplay kakao (Coklat) akan membanjir, harga kian terpuruk dan pada akhirnya banyak perkebunan kakao (Coklat) diterlantarkan, karena sangat tidak ekonomis dibandingkan dengan biaya perawatan tanaman tersebut. 

Musim panen utama (main crop) kakao (Coklat) Indonesia adalah pada bulan September sampai dengan Desember dan musim panen kedua (mid crop) pada bulan Maret sampai dengan Juli.

Yang bersamaan dengan musim panen di Indonesia adalah Ghana, Nigeria dan Kamerun. Sedangkan Pantai Gading dan Brazil panen utamanya masing-masing adalah bulan Oktober sampai dengan Maret. 

Musim Panen Produsen Kakao (Coklat) Utama, 2000

 

Negara

Panen utama

Panen kedua

Pantai Gading   

    Oktober - Maret   

       Mei - Agustus

Brazil          

    Oktober - Maret   

       Mei - Agustus

Ghana           

   September - Maret  

       Mei - Agustus

Malaysia        

   Oktober - Desember 

        April - Mei

Indonesia       

  September - Desember

       Maret - Juli

Sumber : ICCO

Pengaturan Internasional 

Sebagaimana diketahui perdagangan kakao (Coklat) internasional diatur dalam Persetujuan Kakao (Coklat) Internasional (ICCA) yang sampai saat ini telah terdapat 4 Persetujuan Kakao (Coklat) internasional, yaitu : 

ICCA - 172

Mengatur perdagangan kakao (Coklat) dunia atas sistim kuota ekspor bagi negara produsen yang menjadi anggota.

ICCA-1976

Pengaturan perdagangan  kakao (Coklat) dunia melalui penetapan kuota ekspor yang dihubungkan dengan perkembangan harga kakao (Coklat) di pasaran dunia.

Kesepakatan untuk mengatur stok kakao (Coklat) dunia diharapkan secara lang­sung dapat mengatur stabilitas harga guna mempengaruhi harga kakao (Coklat) di pasaran dunia.

ICCA-1980

Menggunakan stok penyangga (buffer stock) -- dengan menggunakan "price level" sebagai indikator guna mengendalikan pasar kakao (Coklat) dunia.

ICCA-1986

Berhasil merumuskan "economic provision" (price level). Untuk alat pengendali pasaran kakao (Coklat) dunia digunakan buffer stock dan witholding scheme

Adapun tujuan dari ICCA antar lain menciptakan perkembangan yang seimbang dalam perekonomian coklat internasional dan penyesuaian dalam hal produksi, serta mempromosikan konsumsi sehingga mengamankan keseimbangan antara permintaan dan penawaran dalam jangka menengah maupun panjang.

Kemudian juga, menjamin supply yang memadai dengan harga yang layak baik bagi produsen maupun konsumen. 

Anggota Organisasi kakao (Coklat) Internasional terdiri dari 16 negara produ­sen dan 22 anggota negara konsumen.

Walaupun Indonesia secara aktif hadir dalam sidang perumusan naskah ICCA-1986 dan senantiasa hadir dalam sidang ICCO, namun hingga kini belum menjadi anggota ICCO.

Adapun alasan utama yang mendasari ketidakikutsertaan Indonesia adalah share kakao (Coklat) Indonesia di pasaran dunia kini baru mencapai 5% dari total ekspor dunia.

Dengan produktifitas yang cukup tinggi dan biaya produksi yang cukup murah, diperkirakan Indonesia akan mampu bersaing bebas di pasaran internasional. 

Hal lainnya, adanya ketentuan ekonomi (buffer stock and withholding scheme) dan kemungkinan diberlakukannya ketentuan pembatasan produk­si bagi anggota ICCO, padahal Indonesia  dewasa ini masih dalam tahap pengembangan produksi tanaman kakao (Coklat) dan masih memerlukan kondisi yang mendukung usaha pengembangan ini. Juga ICCO masih tetap menghadapi berbagai kesulitan baik masalah organisasi seperti tunggakan kontribusi maupun disebabkan kegagalan organisasi untuk mendorong perbaikan dan pemantapan pasaran kakao (Coklat) dunia. 

Selain organisasi internasional, terdapat juga organisasi negara- negara produsen kakao (Coklat) yaitu Cocoa Producers Alliance (CPA) yang anggotanya adalah seluruh negara produsen/eksportir anggota ICCO kecuali PNG dan Malaysia.

Indonesia sampai saat ini belum menjadi anggota CPA dengan pertimbangan perkebunan kakao (Coklat)nya masih dalam tahap pengembangan, karena sebagai anggota CPA ada ketentuan kebijakan pembatasan produksi bagi anggotanya. 

Posisi Komoditi Kakao (Coklat) Indonesia 

Sebagai salah satu negara produsen kakao (Coklat) terbesar dunia, sampai saat ini Indonesia masih terus mengandalkan biji kakao (Coklat), padahal pasaran Eropa lebih banyak membutuhkan produk olahan setengah jadi seperti cocoa paste, butter dan cocoa powder.

Namun ekspor kakao (Coklat) olahan ke negara-negara Eropa dikenakan tarif bea masuk sebesar 7,7%. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi industri pengolahan kakao (Coklat) di kawasan negara tersebut. 

Hambatan teknis (technical barrier to trade) terhadap ekspor biji kakao (Coklat) dari Indonesia ke Uni Eropa, adalah menyangkut persyaratan biji kakao (Coklat) yang diekspor harus difermentasi.

Sementara itu biji kakao (Coklat) yang diekspor ke negara maju lainnya, khususnya Amerika Seri­kat tidak harus difermentasi.

Padahal harga fermented cocoa beans di tingkat petani biasanya sama dengan harga biji kakao (Coklat) yang tidak difermentasi, sehingga para petani kakao (Coklat) enggan untuk melakukan proses fermentasi -- karena tidak ada tambahan insentif. 

Pembebasan tarif bea masuk impor biji kakao (Coklat) oleh Uni Eropa sebenarn­ya bukanlah dimaksudkan untuk membantu negara-negara produsen kakao (Coklat) (dari negara berkembang), tetapi lebih banyak dimaksudkan agar harga biji kakao (Coklat) impor murah, sehingga industri pengolahan kakao (Coklat) di kawa­san Uni Eropa semakin berkembang dan kompetitif. 

Negara-negara produsen kakao (Coklat) terutama Pantai Gading (Cote d'Ivoire) pada umumnya telah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan multi nasion­al dari Eropa.

Oleh karena itu, negara-negara produsen kakao (Coklat) di Afrika selain terus menjalankan ekspor biji kakao (Coklat) (fermented cocoa beans), mereka juga aktif dalam mengembangkan industri pengolahan kakao (Coklat) setengah jadi (cocoa paste, cocoa powder, cocoa butter) untuk diek­spor ke Uni Eropa.

Seperti diketahui bahwa negara-negara Afrika, Carribea dan Pacific yang tergabung dalam kelompok  Lome dibebaskan dari kewajiban membayar tarif bea masuk oleh Uni Eropa.  

Dari berbagai pertimbangan yang ada, Indonesia untuk menjadi anggota ICCO perlu dipertimbangkan secara lebih mendalam dan menunggu waktu yang tepat, mengingat biaya kontribusi yang ditanggung Pemerintah Indonesia cukup besar.

Di samping itu manfaat Indonesia untuk menja­di anggota ICCO maupun CPA (Cocoa Producers Alliance) -- kaitannya dengan bergaining position nampaknya masih belum jelas. 

Belum jelasnya posisi Indonesia, karena sampai saat ini masih mengandalkan ekspor biji kakao (Coklat) (cocoa beans), sehingga masalah utama yang dihadapi adalah bagaimana mendorong para pelaku agribisnis dalam meningkatkan daya saing ekspor biji kakao (Coklat) di pasaran interna­sional (khususnya Eropa), di samping mencari upaya untuk meningkat­kan insentif kepada para petani kakao (Coklat) dengan memberikan harga yang lebih tinggi terhadap biji kakao (Coklat) yang difermentasi. 

Upaya untuk meningkatkan ekspor produk-produk olahan kakao (Coklat), terutama cocoa pasta, powder dan cocoa butter ke Uni Eropa, nampaknya akan terus mengalami persaingan yang tidak sehat, karena negara-negara produsen kakao (Coklat) utama dunia dari Afrika, Carribea dan Pacific menda­patkan mendapatkan pembebasan tarif bea masuk.

Oleh karena itu, keanggotaan Indonesia dalam ICCO maupun CPA nampaknya tidak akan banyak membantu memecahkan masalah ini, tanpa diimbangi dengan pende­katan kepada Komisi Eropa untuk mendapatkan keringanan atau pembeba­san tarif bea masuk yang diskriminatif.

BAB III  

Kondisi mikro komoditas kakao (Coklat)

 

Sebagaimana sektor agrobisnis lainnya, semenjak terjadi krisis di dalam negeri -- ekspor biji kakao (Coklat) terus meningkat setiap tahunnya, sehingga tahun 2001 lalu mencapai 438.775 ton. Dibandingkan ekspor saat krisis tahun 1998 sebesar 266.270 ton (US$ 419,8 juta), berarti ekspornya mengalami lonjakan 64,8%. Karena Indonesia tidak menjadi anggota ICCO sehingga tidak terkena pembatasan ekspor. Namun damp­aknya, justeru industri pengolahan kakao (Coklat) di dalam negeri menjerit kesulitan mendapatkan bahan baku dengan harga yang memadai. Sehingga produsen kakao (Coklat) olahan cenderung merugi, malah beberapa di antaranya berhenti beroperasi.

 

Sama dengan ekspornya, impor kakao (Coklat) Indonesia tahun 2001 lalu menga­lami lonjakan dua kali lipat lebih, dari tahun sebelumnya sebesar 17.605 ton menjadi 38.717 ton. Selain impor kakao (Coklat) biji meningkat menjadi 28.961 ton, juga impor kakao (Coklat) bubuk telah mencapai 7.187 ton. Hal ini menandakan, produsen kakao (Coklat) olahan meningkatakan impor biji kakao (Coklat) -- karena dengan pesatnya ekspor -- stok kakao (Coklat) di dalam negeri makin berkurang. Begitu juga peningkatan impor kakao (Coklat) olahan (bubuk dan pasta), menandakan pasok dari produsen kakao (Coklat) olahan di dalam negeri tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan industri pemakainya.

 

Masih pesatnya ekspor kakao (Coklat) tidak berarti didorong oleh harganya yang terus meningkat di pasar internasional, melainkan setiap tahunnya mengalami penurunan -- terkecuali tahun 2001 dan 2002  yang lalu har­ganya cenderung menguat lagi. Sebagai gambaran tajamnya fluktuasi harga kakao (Coklat) dunia, bisa dilihat dari harga rata-rata ekspor tahun 1998 cukup tinggi sekitar US $ 1.516 / ton, tahun 1999 turun menjadi US$ 988,5 per ton. Kemudian pada tahun 2000 harga rata-rata ekspornya merosot lagi hingga tinggal US$ 791,6 per ton. Sedangkan tahun 2001 lalu harga rata-rata ekspornya menguat menjadi sekitar US$ 988,7. Bahkan tahun 2002, harga rata-rata ekspornya melonjak menjadi US$ 1.436, berarti hampir menyamai harga rata-rata ekspor tahun 1998 lalu.

 

Tahun 2000 harga kakao (Coklat) melemah karena siklus sektor perkebunan pada saat itu mengalami masa puncak produksinya lagi -- sehingga stok kakao (Coklat) dunia kembali -- berdampak pada penekanan harga. Sedangkan tahun 2002, dengan berkurangnya suplay dari pemasok kakao (Coklat) terbesar dunia yaitu Pantai Gading, serta ulah para fund manager melakukan aksi pembelian lagi, sehingga harga kakao (Coklat) dunia terkoreksi cukup besar.

 

Terbukanya peluang ekspor, di samping kondisi lahan maupun iklim Indonesia umumnya cocok untuk tanaman ini, merupakan tantangan menarik bagi investor memasuki agroindustri kakao (Coklat). Namun kenya­taannya, sejak krisis 1997 lalu -- terkecuali perkebunan rakyat -- tidak ada lagi investasi baru di sektor perkebunan ini, begitu juga minat investor di sektor pegolahannya makin berkurang.

 

 

 

 

 

 

3.1. Pohon Industri Kakao (Coklat)

 

Di dalam dunia perdagangan, jenis coklat yang diperdagangkan tidak terbatas kepada coklat yang masih dalam bentuk biji yang merupakan bahan baku industri olahan, namun umumnya juga diperdagangkan produk kakao (Coklat) olahan berupa pasta coklat (cocoa paste) yang sudah dipisahkan lemaknya, mentega coklat/lemak & minyak kakao (Coklat) (cocoa butter/fat & oil), bubuk coklat (cocoa powder)  yang mengandung dan tidak mengan­dung gula atau bahan pemanis lainnya, serta kakao (Coklat) lain-lain dalam bentuk balok, lempengan/batang berisi coklat atau makanan lainnya yang mengandung coklat.

 

Produk hasil olahan tersebut, merupakan bahan baku untuk industri pengolahan lanjutan, seperti misalnya bubuk coklat untuk industri makanan/minuman dan kembang gula. Sedangkan coklat lemak bisa digu­nakan untuk pembuatan kosmetik, antara lain sebagai bahan baku pembuatan lipstik, sabun kecantikan dan lainnnya.

 

Belakangan dengan berkurangnya pasok biji kakao (Coklat) dari negara pengha­sil terbesar Pantai Gading, menjadikan demand terhadap kakao (Coklat) biji Indonesia mengalami peningkatan, sehingga banyak buyers langsung membeli komoditas itu langsung ke sentra produksinya. Internasional trading tersebut menurut Askindo (Asosiasi Kakao (Coklat) Indonesia) menguasai 80% dari ekspor kakao (Coklat) Indonesia dan tidak mau menjual ke industri pengolahan di dalam negeri, karena mereka mempunyai komitmen dengan industri pengolahan kakao (Coklat) di luar negeri.

 

Akibatnya, industri pengolahan kakao (Coklat) yang kebanyakan berlokasi di Pulau Jawa, kesulitan untuk mendapatkan bahan baku -- karena untuk membeli biji kakao (Coklat) di Sulawesi harganya terlanjur tinggi, ditambah lagi dengan beban biaya PPN dan PPh untuk transaksi lokal. Dengan kondisi seperti itu, dari 17 pabrik pengolahan kakao (Coklat) yang total kapasitas gilingnya berkisar 200.000 MT, saat ini menurut Askindo yang beroperasi tinggal 5 perusahaan dengan kemampuan giling hanya 80.000 m3.

 

Menurut Askindo, banyak beristirahatnya industri pengolahan kakao (Coklat) -- dikarenakan pertama modal kerja tidak cukup dibandingkan harganya yang cenderung terus naik, kedua tambahan kredit sulit didapatkan dan bunga perbankan dinilai masih tinggi, ketiga kebijakan pemerin­tah mematikan industri kakao (Coklat) dengan adanya PPN dan PPh sebanyak 11,5%. Di samping kebijakan pemerintah dianggap membingungkan inves­tor, sementara itu ekspor kakao (Coklat) olahan Indonesia ke Eropa Barat dikenai hambatan tarif 12% -- sedangkan ekspor dari kawasan Afrika Barat bea masuknya dibebaskan (O%).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diagram Pohon Industri

 

Click di sini untuk melihat pohon industri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


3.2.

Sediaan farmasi / kimia, makanan

 

Makanan, Kosmetik, Sediaan Farmasi

 

Peta Penyebaran Komoditas Kakao (Coklat)

 

Tanaman kakao (Coklat) atau coklat yang nama latinnya theobroma cacao linn termasuk famili steculiaceae, berasal dari hutan-hutan di Amerika selatan, yang kemudian diusahakan penanamannya oleh orang-orang India Aztec. Pertama kali tanaman coklat masuk ke Indonesia tahun 1560 di daerah Minahasa (Sulawesi), yang dibawa oleh orang-orang Spanyol  melalui Sangir Talaud. Sekitar tahun 1820 tanaman kakao (Coklat) mulai diperluas sebagai akibat meningkatnya permintaan dari Manila akan hasil kakao (Coklat) dari Minahasa. Selanjutnya tanaman tesebut menyebar ke Pulau Jawa.

 

Akibat rendahnya harga kakao (Coklat) tahun 1996/97 lalu, menyebabkan banyak areal perkebunan kakao (Coklat) rakyat dikonversi ke jenis tanaman lain yang diaggap lebih menguntungkan, sehingga pada tahun 1997 luas areal perkebunan  nasional mengalami penurunan 19,2%, yaitu dari tahun sebelumnya seluas 655.331 Ha menjadi 529,057 Ha. Semenjak saat itu pertumbuhan perkebunan kakao (Coklat) relatif rendah per tahunnya, sehingga pada tahun 2001 diperkirakan luas arealnya mencapai 669.211 Ha. Dari luas areal perkebunan kakao (Coklat) sebesar itu, sekitar 536.000 ha atau 80,1% merupakan pertanian rakyat.

 

Sulawesi merupakan sentra produksi perkebunan kakao (Coklat) yang tahun 2001 luasnya diperkirakan mencapai 339.478 ha atau sekitar 50,7% dari total luas perkebunan kakao (Coklat) nasional. Sementara luas perkebunan kakao (Coklat) di Jawa hanya sekitar 61.040 ha atau kontribusinya hanya 9,1%. Dibandingkan dengan potensi lahan perkebunan kakao (Coklat) yang menurut Ditjen Perkebunan mencapai 119 juta Ha, potensi lahan di sentra produksi kakao (Coklat) yaitu Sulawesi Selatan hanya 4,2 juta Ha dan Sulawesi Tengah 4,2 juta Ha, sementara Irian Jaya potensi lahan perkebunannya paling besar seluas 19,9 juta Ha.

 

Sejak tahun 1988, kebun kakao (Coklat) milik swasta maupun PTPN banyak mengalami kerusakan, baik akibat kemarau panjang tahun sebelumnya, aksi penjarahan, maupun kerusakan akibat serangan hama serta penyakit. Tingginya kurs US-dollar terhadap rupiah, di satu pihak memang telah memberikan nilai tambah yang luar biasa bagi ekspor produk-produk pertanian. Namun lain pihak, harga pupuk dan pestisida juga mengalami kenaikan yang luar biasa. Akibatnya, tanaman maupun buah kakao (Coklat) banyak yang mengalami kerusakan, karena hama serta penyakit tidak dapat tertanggulangi dengan baik.

 

Dengan kondisi tersebut, produksi biji kakao (Coklat) tahun 1999 turun sekitar 1% dari 370.400 ton menjadi 367.475 ton. Begitu pula dua tahun berikutnya, pertumbuhan kakao (Coklat) lamban masing-masing hanya sekitar 1,8% per tahun. Sejalan dengan lambannya pertumbuhan produksi kakao (Coklat) di dalam negeri, stock kakao (Coklat) dunia mengalami penurunan akibat berkurangnya pasok dari negara produsen terbesar Pantai Gading yang tengah dilanda kemelut perang saudara di negaranya. Oleh sebab itu harga kakao (Coklat) dunia belakangan terkoreksi sangat tinggi, bahkan petani kakao (Coklat) bisa langsung menjual hasil panennya ke pedagang asing yang membuka usaha dagangnya di dalam negeri dengan harga yang sangat menarik.

 

Kesempatan infiltrasi pedagang asing itu sudah terjadi sejak 1998 lalu, dimana pemerintah Indonesia ketika itu menandatangani kesepakatan letter of intent (LoI) dengan IMF. Dalam satu pasal dari kesepakatan LoI tersebut, disebutkan bahwa setiap perusahaan asing yang bergerak dalam bidang perdagangan, baik perdagangan eceran (ritel), agen, grosiran maupun distributor dapat beroperasi secara langsung hingga kepelosok daerah di seluruh wilayah Indonesia dengan kepemilikan saham 100%. Sejalan dengan itu, mulailah banyak perusahaan perdagangan asing masuk ke Indonesia hingga ke pelosok sentra-sentra produksi, termasuk perusahaan trading company dan trading house yang bergerak dalam perdagangan komoditas pertanian dan perkebunan internasional seperti Cargill, ED & F man, Continaf, Nobel, dll.

 

Mereka menyewa fasilitas gudang di daerah setempat untuk menampung komoditas ekspor, seperti biji kakao (Coklat) yang mereka beli secara langsung dari petani atau pedagang pengumpul. Asosiasi Kakao (Coklat) Indonesia (Askindo) mengamati dewasa ini terdapat sedikitnya 13 perusahaan perdagangan kakao (Coklat) asing yang sudah membuka operasi secara langsung di daerah-daerah penghasil utama kakao (Coklat) di Indonesia seperti Makassar (Sulawesi Selatan), Palu (Sulawesi Tengah) dan Surabaya / Jember (Jawa Timur). Perusahaan dagang asing itu terus memperkuat jaringan bisnisnya di Indonesia, hingga kini menguasai sekitar 80% dari total volume ekspor biji kakao (Coklat) Indonesia dan hanya 10% saja yang dikuasai oleh para pedagang lokal.

 

Dengan dikuasainya perdagangan biji kakao (Coklat) didalam negeri oleh para pedagang asing ini, maka pasokan biji kakao (Coklat) kepada industri pengolahan biji kakao (Coklat) lokal pun mulai seret. Sebab para pedagang asing tersebut lebih suka mengekspor biji kakao (Coklat) ke luar negeri ketimbang memasok keindustri lokal. Sebab pedagang-pedagang asing tersebut telah memiliki kontrak ekspor jangka panjang dengan industri pengolahan biji kakao (Coklat) di luar negeri. Kondisi tersebut semakin parah karena para pedagang biji kakao (Coklat) lokal pun kini juga lebih suka mengekspor biji kakao (Coklat) ke luar negeri -- ketimbang memasoknya ke industri lokal. Sebab terhitung tahun 2000 pemerintah mengenakan pungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10% dan Pajak Penghasilan (PPh) 1,5% terhadap komoditas biji kakao (Coklat) yang diperdagangkan di pasar dalam negeri, atau penjualan dari pedagang ke industri pengolahan biji kakao (Coklat).

 

Penerapan pajak kakao (Coklat) dalam perdagangan di dalam negeri ini, telah memperkecil volume biji kakao (Coklat) yang diperdagangkan di pasar domestik, karena kebijakan pemerintah tersebut telah mendorong pengusaha untuk lebih banyak mengekspornya ke luar negeri. Dari produksi biji kakao (Coklat) rata-rata kurang dari 400 ribu ton, setiap tahunnya ekspor biji kakao (Coklat) Indonesia rata-rata 300 ribu ton dan sisanya dipasok kepada industri pengolahan biji kakao (Coklat) di dalam negeri yang jumlahnya mencapai 14 perusahaan. Dengan hanya terpenuhinya setengah (50%) dari kebutuhan biji kakao (Coklat) di dalam negeri, maka setengah dari kapasitas terpasang industri pengolahan biji kakao (Coklat) ini terpaksa harus menganggur (idle) tanpa pasokan bahan baku.

 

Bahkan dengan terjadinya kenaikan harga dua kali lipat pada tahun 2002 lalu, yaitu Rp 8.000 - 9.000 per kg pada awal tahun menjadi Rp 16.000 pada akhir tahun -- menyebabkan industri kakao (Coklat) kesulitan modal kerja -- karena harus menyediakan dana dua kali lipat dari sebelumnya untuk membeli bahan baku. Kondisi ini menyebabkan pabrik terpaksa menurunkan kapasitas produksi hingga separuh dari kapasitas. Penurunan produksi ini jelas akan merugikan industri pengolahan kakao (Coklat) di dalam negeri di tengah tingginya permintaan coklat di pasar dunia.

3.2.1. Syarat Tumbuh Kakao (Coklat)

 

Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi kakao (Coklat). Lingkungan alami tanaman kakao (Coklat) adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan, temperatur dan sinar matahari menjadi bagian dari faktor iklim yang menentukan. Demikian juga faktor fisik dan kimia tanah yang erat kaitannya dengan daya tembus (penetrasi) dan kemampuan akar menyerap hara.

 

Ditinjau dari wilayah penanamannya, kakao (Coklat) ditanam pada daerah-daerah yang berada pada 10 derajat LU sampai dengan  10 derajat LS. Walau­pun demikian penyebaran pertanaman kakao (Coklat) secara umum berada pada daerah-daerah antara 7 derajat LU sampai dengan 10 LS. Hal ini tampaknya erat kaitannya dengan distribusi curah hujan dan jumlah penyinaran sinar matahari sepanjang tahun. Namun begitu, kakao (Coklat) masih toleran ditanam pada daerah 20 derajat LU sampai 20 derajat LS. Dengan demikian Indonesia yang berada pada 5 derajat LU sampai 10 LS masih sesuai untuk penanaman kakao (Coklat). Daerah-daerah di Indonesia tersebut ideal bilamana tidak lebih tinggi dari 800 m dari permukaan laut.

 

Hal terpenting dari curah hujan yang berhubungan dengan pertanaman dan produksi kakao (Coklat) adalah distribusinya sepanjang tahun. Hal terse­but berkaitan dengan masa pembentukan tunas muda (flushing) dan produksi. Areal penanaman kakao (Coklat) yang ideal adalah daerah-daerah bercurah hujan 1.110-3.000 mm per tahun. Di samping kondisi fisik dan kimia tanah, curah hujan yang melebihi 4.500 mm per tahun tam­paknya berkaitan dengan serangan penyakit buah (black ponds). Meli­hat kondisi curah hujan di beberapa daerah, secara umum areal pena­naman kakao (Coklat) di Indonesia masih potensial untuk dikembangkan.

 

Pengaruh temperatur terhadap kakao (Coklat) erat kaitannya dengan keterse­diaan air, sinar matahari dan kelembapan. Faktor-faktor tersebut dapat dikelola melalui pemangkasan, penataan tanaman pelindung dan irigasi. Temperatur sangat terhadap pembentukan flush, pembungaan, serta kerusakan daun.

 

Menurut hasil penelitian, temperatur ideal bagi pertumbuhan kakao (Coklat) adalah 30 derajat - 32 derajat (maksimum) dan 18 derajat - 21 derajat (minimum). Kakao (Coklat) dapat juga tumbuh dengan baik pada tempera­tur minimum 15% per bulan dengan temperatur minimum absolut 10 derajat perbulan. Temperatur ideal lainnya bagi pertumbuhan kakako adalah 26,6 derajat -- yang erat kaitannya dengan distribusi tahunan  23,9 derajat - 26,7 derajat masih baik untuk pertumbuhan kakao (Coklat) asalkan tidak didapati musim hujan yang panjang. Berdasarkan keadaan iklim di Indonesia dengan temperatur 25% - 26 derajat, merupakan temperatur rata-rata tahunan tanpa faktor pembatas. Karena itu daerah-daerah di Indonesia sangat cocok jika ditanami kakao (Coklat).

 

Lingkungan hidup alami tanaman kakao (Coklat) adalah hutan hujan tropis yang di dalam pertumbuhannya membutuhkan naungan untuk mengurangi penca­hayaan penuh. Cahaya matahari yang terlalu banyak menyoroti tanaman kakao (Coklat) akan mengakibatkan lilit batang kecil, daun sempit dan tanaman relatif pendek. Namun demikian, sejumlah peneliti menyimpulkan bahwa maksimisasi penggunaan cahaya matahari di dalam proses  fotosintesis ternyata tidak memberikan pengaruh merugikan terhadap pertumbuhan dan produksinya.

 

Kakao (Coklat) dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, asalkan persyaratan fisik dan kimia yang berperan terhadap pertumbuhan dan produksinya terpenuhi.  Kemasaman tanah (pH), kadar zat organik, unsur hara, kapasitas adsorbsi dan kejenuhan basa merupakan sifat kimia yang perlu diperhatikan. Sedangkan faktor fisiknya adalah kedalaman efektif, tinggi permukaan air tanah, drainase, struktur dan konsis­tensi tanah. Selain itu, kemiringan lahan juga merupakan sifat fisik yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kakao (Coklat).

 

Tanaman kakao (Coklat) dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki kemasaman (pH) 6 - 7,5, tidak lebih tinggi dari 8 serta tidak lebih rendah dari 4, paling tidak pada kedalaman 1 m. Hal itu disebabkan terbatasnya ketersediaan hara pada pH tinggi dan efek racun daro Al, Mn dan Fe pada pH rendah. Tanah yang ideal bagi tanaman kakao (Coklat) pH-nya adalah 5,6 - 7,2. Dengan cukup luasnya lahan masam ber pH rendah di Indonesia menjadi faktor pembatas pengembangan kakao (Coklat) di daerah- daerah pantai atau rawa-rawa (tanah gambut).

 

Tekstur tanah yang baik untuk tanaman kakao (Coklat) adalah lempung liat berpasir dengan komposisi 30 - 40 persen fraksi liat, 50% pasir dan 10% - 20% debu. Susunan demikian akan mempengaruhi ketersediaan air dan hara serta aerasi tanah. Struktur tanah yang remah dengan agregat yang mantap, menciptakan gerakan air dan udara di dalam tanah se­hingga menguntungkan bagi akar. Tanah tipe latosol yang memiliki fraksi liat yang tinggi ternyata sangat kurang menguntungkan tanaman kakao (Coklat), sedangkan tanah regosol dengan tekstur lempung berliat -- walaupun mengandung kerikil masih baik bagi tanaman kakao (Coklat). Dengan demikian, tanah-tanah pantai bertekstur liat masih baik ditanami kakao (Coklat) -- bila lapisan atasnya kaya dengan bahan organik.

 

Di samping faktor fisik di atas, kakao (Coklat) juga menginginkan solum tanah minimal 90 cm. Walaupun ketebalan solum tidak selalu mendukung pertumbuhan, tetapi solum tanah setebal itu dapat dijadikan pedoman umum untuk mendukung pertumbuhan kakao (Coklat). 

 

Secara umum -- terkecuali didaerah pantai atau rawa-rawa (tanah gambut), kondisi curah hujan, temperatur rata - rata tahunan (25 - 26 derajat  celcius), tanaman kakao (Coklat) bisa tumbuh diberbagai daerah di Indonesia. Hanya saja untuk tumbuh dengan baik, memerlukan lahan yang ideal /cocok (S1) hingga bisa menghasilkan biji kakao (Coklat) 1,5 ton perhektar. Lahan itu diantaranya berupa tanah lempung liat berpasir atau tanah regosol dengan ketebalan solum tanah minimal 90 cm.

 

 

 

3.2.2. Lahan Potensial

 

Berdasarkan standar kesesuaian lahan yang cocok untuk tanaman kakao (Coklat), maka di Indonesia tersedia lahan yang cocok sekitar 119 juta Ha tersebar di berbagai daerah. Daerah paling luas potensinya untuk tanaman kakao (Coklat) adalah Irian Jaya seluas 19,88 juta Ha dan Kalimantan Timur seluas 13,97 juta Ha. Daerah Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara yang saat ini menjadi sentra produksi kakao (Coklat), ternyata lahan yang potensial untuk tanaman itu masing-masing hanya sekitar 4,5 juta Ha dan  5,4 juta Ha.

Meskipun potensi lahan untuk perkebunan kakao (Coklat) masih sangat luas, namun potensi lahan yang cocok untuk budidaya coklat itu tidak  sepenuhnya bisa dimanfaatkan, mengingat lahan tersebut itu sudah ada yang digunakan untuk sektor tanaman perkebunan lainnya.

 

Sementara ini areal lahan kakao (Coklat) nasional tahun 2001 baru mencapai 669,2 ribu Ha, itupun kondisi lahan yang digunakan tidak sepenuhnya cocok untuk budidaya kakao (Coklat). 

 

Tabel 3-1. Lahan yang sesuai untuk kakao (Coklat), 2000

 

Lokasi

Luas lahan ('000 Ha)

Irian Jaya         

    19.882

Kalimantan Timur   

    13.967

Kalimantan Barat   

     7.425

Maluku             

     7.380

Kalimantan Tengah  

     7.370

Sumatera Selatan   

     6.570

Sumatera Utara     

     5.433

R i a u            

     5.304

DI Aceh            

     5.120

Sulawesi Selatan   

     4.508

Sulawesi Tengah    

     4.156

Jawa Barat         

     3.986

Jawa Tengah        

     3.115

Lain-lain          

    24.809

T o t a l          

   119.025

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2001

 

 

 

 

 

 

3.2.3. Luas Areal Tanaman Kakao (Coklat)

 

Pada tahun 1958 tanaman kakao (Coklat) di Jawa Tengah mengalami kehancuran karena adanya gangguan teknis maupun non teknis yang amat mengganggu perkebunan kakao (Coklat). Sehingga pada tahun 1965 oleh Badan Pimpinan Umum Perusahaan Perkebunan Negara (BPUPPN) digariskan untuk mengalihkan pemusatan budidaya kakao (Coklat) dari Jawa Tengah ke Sumatera Utara dan Jawa timur.

 

Pada tahun 1970 budidaya kakao (Coklat) mulai dikembangkan secara luas lagi di Indonesia, baik melalui pengembangan secara swadaya oleh masyara­kat maupun melalui perkebunan-perkebunan besar dan swasta. Jenis kakao (Coklat) yang dikembangkan sebagian besar adalah jenis kakao (Coklat) lindak (bulk cocoa), sedangkan jenis kakao (Coklat) mulia (edel cocoa) hanya dikem­bangkan di beberapa perkebunan besar negara yang berlokasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

 

Sejak tahun 1996, menurut data di BKPM tidak ada lagi investasi baru di sektor perkebunan kakao (Coklat) oleh swasta, begitu juga perkebunan besar negara hanya sebatas melakukan peremajaan. Dengan demikian luas lahan perkebunan kakao (Coklat) nyaris mengalami stagnasi. Pembukaan lahan perkebunan baru hanya dilakukan oleh perkebunan rakyat, yang terpacu oleh meningkatnya harga kakao (Coklat) sejak tiga tahun lalu. Terca­tat pada tahun 2001, luas areal perkebunan kakao (Coklat) rakyat mencapai 536.005 Ha, atau 80,1% dari total luas perkebunan kakao (Coklat) nasional.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3-2. Luas areal perkebunan kakao (Coklat), 1997 – 2001

Tahun   

Perkebunan

Rakyat

(Ha)

Perkebunan 

Besar

negara

(Ha)

Perkebunan  

besar swasta 

(Ha)

 

Total

(Ha)

Perubahan

(%)

1997    

     380.811  

    62.455   

    85.791    

   529.057

       -  

1998    

     436.576  

    58.261   

    77.716    

   572.553

      8,2

1999    

     534.670  

    59.990   

    73.055    

   667.715

     16,6

2000*)  

     535.337  

    59.994   

    73.131    

   668.462

      0,1

2001**) 

     536.005  

    59.998    

   73.208     

  669.211 

     0,1 

*)  Sementara

**) Estimasi

Sumber : Ditjen Perkebunan/Data Consult         

 

 

 

3.2.4. Sentra Kakao (Coklat) di Sulawesi Selatan

 

Pengembangan budidaya kakao (Coklat) yang telah dimulai sejak 25 tahun lalu, kini tersebar di seluruh propinsi Indonesia, dengan sentra produksi utama Sulawesi Selatan dan Tenggara, serta di Sumatera Utara. Dengan luas areal 339.478 Ha, berarti Sulawesi menguasai 50.7% dari total areal kakao (Coklat) Indonesia. Lebih jauh lagi, dengan luas lahan 157.150 Ha areal perkebunan kakao (Coklat) di Sulawesi Selatan adalah yang terbesar, atau pangsanya sekitar 23,5%. Begitu juga dengan produksinya yang tahun 2001 lalu sebesar 125.041 ton, maka pasok kakao (Coklat) Sulawesi Selatan mencapai 32.8% dari total produksi kakao (Coklat) nasional tahun itu.

 

Sama dengan perkebunan rakyat, perkebunan besar yang dikelola swasta juga kebanyakan berlokasi di Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara. Di Sulawesi Selatan misalnya, tak kurang PT Bosowa Utama Corporation (Bosowa Group) selain memiliki lahan perkebunan kakao (Coklat), sekaligus merupakan perusahaan eksportir komoditi ini. Kemudian PT Perintis Swasembada dan PT Perkebunan Ladongi yang keduanya di bawah Pasopati Group, memiliki lahan perkebunan kakao (Coklat) di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Sedangkan di Sumatera Utara PT PP London Sumatera Indonesia, yang selain dikenal sebagai produsen kelapa sawit, perusahaan PMA ini juga menjadi produsen dan eksportir biji kakao (Coklat).

 

Tabel 3-3. Luas areal perkebunan kakao (Coklat) Indonesia, 2001

 

Lokasi              

Perkebunan

rakyat  

Perkebunan 

besar negara

Perkebunan 

besar swasta

Total                   

Sulawesi            

 325.809  

     2.376   

   11.293    

 339.478         

- Sulawesi Selatan  

 154.048  

       245   

    2.857    

 157.150

- Sulawesi Tenggara 

  93.575  

     2.131   

    3.747    

  99.453

- Sulawesi Tengah   

  68.014  

         0   

    4.689    

  72.703

- Sulawesi Utara    

  10.014  

         0   

        0    

  10.172         

Sumatera            

  58.156  

    26.160   

   34.857    

 119.193  

- Sumatera Utara    

  24.917  

    24.813   

    4.598    

  54.326

- Bengkulu          

   3.263  

         0   

   14.317    

  17.580

- Lampung           

  11.950  

        20   

    1.349    

  13.319

- Sumatera Barat    

   8.976  

         0   

    1.500    

  10.476

- DI Aceh           

   5.266  

       354   

    3.575    

   9.195

- J a m b i         

   1.936  

         0   

    5.865    

   7.801

- R i a u           

     384  

       995   

    3.653    

   5.032

- Sumatera Selatan  

   1.464  

         0   

        0    

   1.464

Jawa                

 20.475   

   30.606    

   9.959     

 61.040                                                                                                          

- Jawa Timur        

  5.513   

   21.783    

   4.187     

 31.483   

- Jawa Barat        

  8.718   

    6.582    

   4.059     

 19.359

- Jawa Tengah       

  3.758   

    2.241    

   1.713      

  7.712

- DI Yogyakarta     

  2.486   

        0    

       0     

  2.486

Kalimantan          

 39.705   

        0    

   8.915     

 48.620           

- Kalimantan Timur  

 30.015   

        0    

   3.124     

 33.139

- Kalimantan Barat  

  6.584   

        0    

   2.091     

  6.675

- Kalimantan Selatan

  1.340   

        0    

   3.310     

  4.650    

- Kalimantan Tengah 

  1.766   

        0    

     390     

  2.156

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lokasi              

Perkebunan

rakyat  

Perkebunan 

besar negara

Perkebunan 

besar swasta

Total                   

- Maluku            

 33.766   

      390    

     400     

 34.556

- Irian Jaya        

 22.751   

      446    

   7.642     

 30.659       

Nusa Tenggara       

 35.523   

        0    

     142     

 35.665       

- N T T             

 30.015   

        0    

   3.124     

 33.139

- N T B             

   3.778  

         0   

      142    

   6.224

Bali                

   6.028  

         0   

      142    

   6.224

T o t a l           

 536.005  

    59.998    

  73.208     

669.211

Sumber: Ditjen Perkebunan/Data Consult

 

 

 

3.2.5. Penyebaran Industri Hilir Kakao (Coklat)

 

Pabrik pengolahan kakao (Coklat) sebagian besar berlokasi di Pulau Jawa, khususnya di wilayah Jaboabek. Dilihat dari produksi kakao (Coklat) olahan nasional tahun 2001 sebesar 107.486 ton (tabel 3.8), maka pemanfaatan kapa­sitas industri ini sudah cukup maksimal, yakni 63,2%.

 

Berlainan dengan sentra produksi biji kakao (Coklat) di Ujung Pandang, just­ru sebagian besar sentra produksi kakao (Coklat) olahan berlokasi di Jawa Barat, satu perusahaan yang tergolong besar adalah PT Ceres Indone­sia, yang memiliki dua buah pabrik pengolahan kakao (Coklat) di Bandung dan Garut (Jawa Barat), dengan kapasitas produksi masing-masing 14.020 ton dan 6.450 ton per tahun.

 

 

 

 

 

 

Tabel 3-4. Produsen pengolahan kakao (Coklat) dengan kapasitas produksinya, 2001

 

 

Nama perusahaan

Lokasi

Kapasitas (ton)

Jenis Produksi

PT Ceres Indonesia          

Bandung, Jawa Barat     

  20.560

Cocoa powder,  butter, bulk & bar

PT Musim Mas                

Medan, Sumatera Utara   

  20.000

Cocoa powder, paste, butter

PT Mitra Sawit Kumala Abadi 

Medan, Sumatera Utara   

  12.500

Cocoa, powder, butter

PT Dolphin Super Ice Cream  

Tanggerang, Jawa Barat   

   8.500     

Chocolate

PT Inticocoa Abadi Industri 

Bekasi, Jawa Barat      

   8.000         

Cocoa powder, butter, cake

PT Cacao Wangi Murni        

Tanggerang, Jawa Barat  

   7.500

Cocoa butter, powder, cake

PT Sari Kakao (Coklat) Perkasa       

Deli Serdang, Medan, Sumatera Utara

   6.287

Cocoa powder, butter, cake

PT Effem Indonesia          

Makasar, Sulawesi Selatan

   6.000

Cocoa powder, chocolate

PT Davomas Abadi            

Tanggerang, Jawa Barat  

   5.000

Cocoa powder, butter, cake, chocolate

PT Indonesia Internasional  

Ujung Pandang, Sulawesi Selatan

   5.000

Cocoa powder, butter, cake

PT Putra Bali Adyamulia     

Muara Karang, Jakarta   

   4.200

Cocoa powder, butter

PT Mas Ganda                

Tangerang, Banten       

   4.080

Cocoa powder, butter, paste

PT Multi Sarana Rasa Agung  

Tangerang, Banten       

   4.080

Chocollate bar, confectinery, cocoa powder, paste

PT Perkembunan Nusantara VIII

Ciomas, Cimerak & Cikosa, Jawa Barat

   3.337

Cocoa powder, butter

PT Cocoa Ventures Indonesia 

Medan Deli, Medan, Sumatera Utara      

   2.600

Cocoa powder, butter

PT Teja Sekawan

Surabaya, Jawa Timur

 

Cocoa, powder, butter

Lain-lain                   

                          

  45.856

 

T o t a l

                           

 170.000

 

     

Sumber: Depperindag/Data Consult

 

 

 

 

 

 

 

 

3.2.6. Investasi Baru

 

Pada awal tahun 1990-an, perkebunan kakao (Coklat) mulai diminati investor baru, setidaknya pada periode 1991 hingga Juli 1992 tercatat 10 proyek baru dan 13 proyek perluasan perkebunan kakao (Coklat). Setelah itu disusul kemudian oleh maraknya investasi baru di sektor pengolahan komoditi itu. Kini, perkebunan kakao (Coklat) sudah tidak lagi diminati investor baru. Terbukti sejak tahun 2000 lalu, hingga kini tidak ada satupun perusahaan yang berminat menggeluti perkebunan kakao (Coklat), bahkan untuk proyek perluasan sekalipun. Para investor saat ini lebih terkonsentrasi pada investasi perkebunan kelapa sawit -- yang kini masih mengalami masa booming.

 

Perkebunan kakao (Coklat) dalam skala besar membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak, mulai dari persiapan lahan, pengolahan tanah, pengendalian gulma, pemberantasan hama, pemetikan buah hingga pasca panen (pengeringan / fermentasi dan penyortiran). Untuk merekrut tenaga kerja sebanyak yang diperlukan memerlukan pendanaan yang tidak kecil. Sementara itu pemerintah melalui sektor perbankannya tidak lagi mengucurkan skim kredit sektor perkebunan dengan bunga rendah, seperti yang terjadi pada perkebunan sawit sebelum terjadi krisis didalam negeri. Begitu pula pola pendukungnya, seperti PIR-Trans tidak lagi diprogramkan karena terbatasnya budget pemerintah saat ini. Padahal dengan pola tersebut, kendala sektor perkebunan yang padat modal dan padat karya bisa tertanggulangi.

 

 

 

Dibandingkan dengan kelapa sawit, masa perawatan tanaman pada perkebunan kakao (Coklat) lebih panjang dan harus lebih instensif, karena mata rantai hama tanaman yang cukup panjang -- sehingga membutuhkan dana lebih besar lagi. Di samping itu mengingat produktifitas tertinggi kakao (Coklat) pada usia tanam belasan tahun, maka sepanjang tahun itu membutuhkan dana perawatan yang cukup. Tanpa perawatan yang baik, akan membuat mutu buah kakao (Coklat) bernilai jual rendah. Semantara itu setelah krisis harga pupuk maupun pestisida cenderung terus meningkat, sehingga membutuhkan tambahan modal yang lebih besar lagi.

 

Sebagai komoditas ekspor, fluktuasi harga biji kakao (Coklat) dunia berkaitan dengan kondisi supply dan demand. Sementara produksi kakao (Coklat) Indonesia sendiri masih kecil, sehingga tidak seperti halnya kelapa sawit, produksi kakao (Coklat) Indonesia tidak memberikan peran untuk menentukan fluktuasi harga di pasar dunia. Perlu diingatkan, tingginya harga kakao (Coklat) sekarang ini lebih dipengaruhi oleh  berkurangnya suplay dari produsen terbesar -- Pantai Gading yang tengah dilanda kemelut politik berkepanjangan. Sebelumnya fluktuasi harga kakao (Coklat) dunia tidak semenarik sekarang ini, sehingga sudah semenjak lama sektor perkebunan kakao (Coklat) tidak dilirik investor.

 

Berlainan dengan bidang perkebunan, sektor industri pengolahan kakao (Coklat) meskipun pertumbuhannya lamban, masih diminati investor -- misalnya pada periode 1996 hingga tahun 1999, telah diterbitkan ijin baru (Surat Persetujuan Tetap-SPT BKPM) sebanyak 13 perusahaan, dengan rincian 9 proyek baru dan 3 proyek perluasan. Namun setelah itu, minat investasi makin berkurang -- tercatat pada periode tahun 2000 - Juli 2002 hanya ada dua investasi baru.

 

Proyek baru yang mendapatkan persetujuan BKPM tahun 2000 itu adalah PT Eskala Sakti dan PT Uniflora Prima. Kedua perusahaan PMDN itu menanamkan investasi sama besarnya yakni Rp 650,3 milyar. Begitu juga kapasitas produksinya sama besar, yaitu untuk cocoa powder dan cocoa butter masing-masing mencapai 32.400 ton per tahun. Diduga perusahaan yang akan mengelola kedua proyek baru itu masih ada hubungan kepemilikan, meskipun nama managemennya berbeda.

 

 Tabel 3-5. Investasi baru di sektor industri pengolahan kakao (Coklat) berdasarkan surat persetujuan tetap (SPT) BKPM 2000 - Juli 2002

Nama perusahaan

Lokasi

Status

Kapasitas

(ton/tahun)

Investasi

(Rp'juta)

Rencana

operasi

PT Eskala Sakti 

                 

 Serang, 

 Banten  

PMDN  

           

Cocoa powder 32.400

  650.275

 

  Feb'03

Cocoa butter 32.400

PT Uniflora     

   Prima        

 Serang, 

 Banten  

PMDN  

           

Cocoa powder 32.400

  650.275

  Apr'03

Cocoa butter 32.400

Sumber : BKPM/Data Consult

 

 

3.3. Produksi Kakao (Coklat) Dan Kakao (Coklat) Olahan

 

Setelah terkena musim kering berkepanjangan tahun 1997 lalu -- hingga produksi kakao (Coklat) merosot tinggal 330.219 ton, pada tahun 1998 produksi justru melonjak 35,9% hingga mencapai 448.927 ton. Hal ini berkaitan dengan mulai membaiknya harga kakao (Coklat) dunia, sehingga petani cenderung merawat tanamannya lebih intensif. Tahun 1999 produksi kakao (Coklat) kembali mengalami penurunan akibat curah hujan yang tinggi -- yang banyak menggugurkan bakal buah. Dalam beberapa tahun ke belakang, meski demand meningkat namun pertumbuhan produksi kakao (Coklat) nyaris mengalami stagnasi, karena ekstensifikasi tanaman kakao (Coklat) sejak krisis lalu nyaris terhenti.

 

Sama dengan biji kakao (Coklat), produksi kakao (Coklat) olahan belakangan ini cender­ung mengalami penurunan, terutama disebabkan oleh sulitnya pabrik pengolahan mendapatkan bahan bakunya di dalam negeri. Meskipun biji kakao (Coklat) masih bisa didapat di dalam negeri, namun kualitasnya sangat jelek -- hasil sortiran trading asing. Selain itu harga biji kakao (Coklat) di dalam negeri juga melambung, mengikuti harga ekspornya, sehingga marjin keuntungan produsen kakao (Coklat) olahan diakui semakin tidak mengun­tungkan.

 

 

3.3.1. Produksi Biji Kakao (Coklat) Sedikit Membaik

 

Meskipun sentra produksi kakao (Coklat) terbanyak dihasilkan dari wilayah Sulawesi, terutama Sulawesi Selatan, namun perkebunan kakao (Coklat) juga dihasilkan dari beberapa daerah lainnya seperti kawasan Sumatera (Sumatera Utara), Jawa (Jawa Timur) dan Kalimantan (Kalimantan Timur). Akibat adanya El-Nino yang menjadikan musim kering berkepan­jangan, produksi kakao (Coklat) 1997 turun 17,9% dari 374 ribu ton menjadi 307,1 ribu ton. Kondisi ini juga dipacu oleh kurang terpadunya penanggulangan hama pengerek buah kakao (Coklat) di perkebunan milik rakyat. Belakangan produksi biji kakao (Coklat) nasional mulai sedikit membaik, meskipun peningkatannya tidak pesat. Tercatat pada tahun 2001 produksi menca­pai 381ribu  ton.

 

Meskipun produktifitas perkebunan kakao (Coklat) rakyat cukup tinggi, namun mutu yang dihasilkan banyak berupa biji kakao (Coklat) asalan yang harganya cen­derung rendah, akibat penanganan pasca panen yang tidak sempurna. Berhasilnya penyuluhan perkebunan kakao (Coklat) rakyat, di mana dengan melakukan perawatan kebun dan pemangkasan tanaman, serta memberi pupuk secukupnya, hasil yang diperoleh petani setiap hektarnya bisa mencapai 1 ton dengan kualitas 105 biji/100 gram.

 

Perkebunan besar yang dikelola oleh negara maupun swasta relatif stabil produksi dengan kualitas biji kakao (Coklat) yang cukup tinggi mutunya. Sebab dengan areal perkebunannya yang terkonsentrasi, juga perawatan tanamannya bisa lebih intensif -- saat mengalami musim kemarau yang panjang.

 

Tabel 3-6. Produksi Biji Kakao (Coklat) Indonesia, 1996 - 2001

 

Tahun   

Perkebunan

rakyat  

(Ton)

Perkebunan

besar negara

(Ton)

Perkebunan

besar swasta (Ton)

T o t a l

(Ton)

Perubahan  

(%)     

 

1997    

   263.846  

    35.644   

    30.729   

    330.219  

       -

 

1998    

   369.887  

    46.307   

    32.733   

370.400

12,2

 

1999    

   304.549  

    37.064   

    25.862   

    367.475  

    -0.9

 

2000    

   310.030  

    37.731   

    26.325   

    374.086  

      1,8

 

2001    

   315.611  

    38.408   

    26.801   

    380.820  

      1,8

 

Sumber: Ditjen Perkebunan/Data Consult

 

Berdasarkan lokasinya, sentra perkebunan  kakao (Coklat) di Sulawesi pada tahun 2001 lalu menghasilkan biji kakao (Coklat) sebanyak 238.077 ton, berar­ti 62,5% dari total produksi biji kakao (Coklat) tahun itu sebesar 380.820 ton. Dari produksi biji kakao (Coklat) di wilayah itu, sebagian besar (98,2%) dihasilkan oleh perkebunan rakyat -- yaitu sebesar 233.844 ton dan perkebunan besar swasta hanya 3.995 ton atau kontribusinya hanya sekitar 1,7%.

 

 

Tabel 3-7. Produksi biji kakao (Coklat) Indonesia  menurut jenis pengusahaan perkebunannya, 2001

 

 (ton)

Lokasi

Perkebunan rakyat

Perkebunan besar negara

Perkebunan besar swasta

Total

Sulawesi           

 233.844  

       238   

    3.995    

 238.077         

- Sulawesi Selatan 

 122.656  

        11   

    2.374    

 125.041

- Sulawesi Tenggara

  34.439  

       227   

      541    

  35.207

- Sulawesi Tengah  

  75.124  

         0   

    1.080    

  76.204

- Sulawesi Utara   

   1.625  

         0   

        0    

   1.625         

                   

 

 

 

 

Sumatera           

  29.677  

    22.152   

   13.171    

  65.000   

- Sumatera Utara   

  17.026  

    20.407   

    6.320    

  43.753

- Bengkulu         

      99  

         0   

    1.002    

   1.101

- Lampung          

   5.201  

        38   

      651    

   5.890

- Sumatera Barat   

   4.249  

         0   

      547    

   4.796

- DI Aceh          

   2.559  

       296   

      871    

   3.726

- J a m b i        

     251  

         0  

       374   

      625

- R i a u          

     109  

     1.411  

     3.406  

     4.926

- Sumatera Selatan 

     183  

         0  

         0  

       183

                   

 

 

 

 

Jawa               

   1.607  

    15.563  

     6.357  

    23.527                                                                                                          

- Jawa Timur       

     349  

    12.274  

     2.716  

    15.339   

- Jawa Barat       

     729  

     2.432  

     2.943  

     6.104

- Jawa Tengah      

     393  

       857 

        698 

      1.948

- DI Yogyakarta    

     136  

         0  

         0  

       136

                   

 

 

 

 

Kalimantan         

  13.414  

         0  

     1.211  

    14.625           

- Kalimantan Timur 

  11.754  

         0  

       945  

    12.699

- Kalimantan Barat 

   1.523  

         0  

        45  

     1.568

- Kalimantan Selatan

     111  

         0  

       126  

       237    

- Kalimantan Tengah

      26  

         0 

         95 

        121

                   

 

 

 

 

Maluku & Irian Jaya

  17.569  

       455  

     1.989  

    20.013

- Maluku           

   6.305  

       124  

        21  

     6.450

- Irian Jaya       

  11.264  

        331 

     1.968  

    13.563       

                   

 

 

 

 

B a l i             

   3.487  

         0  

        78  

     3.565       

                   

 

 

 

 

Nusa Tenggara      

  19.500  

         0  

        78  

    19.578

- N T T            

  15.467  

           0

         0  

    15.467

- N T B             

     546  

           0

     1.790  

       546

T o t a l          

 315.611  

    38.408  

    26.801  

   380.820  

Sumber: Ditjen Perkebunan/Data Consult

 

 

 

 

 

3.3.2. Produksi Kakao (Coklat) Olahan

 

Sejumlah pabrik pengolahan kakao (Coklat) penghasil produk coklat di dalam negeri satu persatu terpaksa harus menghentikan produksinya akibat dilanda kerugian terus menerus dalam beberapa bulan terakhir tahun 2001 lalu, menyusul terjadinya lonjakan harga bahan baku biji kakao (Coklat) di pasar internasional. Menurut Asosiasi Kakao (Coklat) Indonesia (Askindo), dari 17 pabrik pengolahan biji kakao (Coklat) di dalam negeri -- hanya ting­gal 5 perusahaan yang masih beroperasi hingga saat ini. Selebihnya terpaksa harus menghentikan produksinya, akibat kesulitan memperoleh bahan baku dengan harga yang memadai.

 

Akibat kenaikan harga bahan baku biji kakao (Coklat), pabrik pengolahan kakao (Coklat) di dalam negeri rata-rata kini mengalami penurunan utilisasi pabrik yang berdampak pada menurunnya tingkat efisiensi produksi. Belasan pabrik kakao (Coklat) lainnya yang kini masih dapat bertahan memiliki kapasi­tas produksi sekitar 150.000 ton/tahun, tetapi utilitas pabriknya dewasa ini hanya mencapai 80.000 ton per tahun, atau dengan tingkat utilitas hanya sekitar 53,3%.

 

Kondisi tersebut, sebenarnya mulai terjadi semenjak depresiasi rupiah yang sangat tajam tahun 1998 lalu -- telah membuat ekspor kakao (Coklat) meningkat pesatnya. Dampaknya pasok kakao (Coklat) di dalam negeri berkurang. Kecenderungan melonjaknya ekspor kakao (Coklat) juga dipacu oleh menguatnya harga biji kakao (Coklat) dunia, setelah berkurangnya pasok kakao (Coklat) dunia -- sementara konsumsi justeru cenderung meningkat. Pada saat itu, para pelaku perdagangan biji kakao (Coklat) dunia (Amerika Serikat, Singapura, Brazil dan Cina) berusaha mencari sumber pasokan ke Indonesia. Mereka menyerbu ke Indonesia, dengan mendirikan kan­tor-kantor perwakilan, bahkan di antaranya ada juga yang mendirikan pabrik di sini.

 

Dalam enam tahun terakhir (1996-2001), produksi kakao (Coklat) olahan nasion­al rata-rata setiap tahunnya hanya meningkat 1,1%, yaitu dari pro­duksi tahun 1996 sebesar 105.972 ton tahun 1997 menjadi 107.486 ton. Namun angka produksi ini termasuk makanan olahan (coklat), dan produk lainnya yang memakai kakao (Coklat) dengan persentase tidak begitu besar, seperti snack dan biskuit. Sedangkan angka produksi kakao (Coklat)  murni diperkirakan hanya sekitar 80.000 ton.

 

Tabel 3-8. Produksi Kakao (Coklat) Olahan Indonesia, 1996 - 2001

Tahun    

Produksi   (ton)

Perubahan (%)

1997     

   127.166   

        -

1998     

   101.260   

     -20,4

1999     

   104.285   

       3,0

2000     

   105.378   

       1,0

2001*)   

   107.486   

       2,0

Perubahan rata-rata    

      16,2

Ket: termasuk kakao (Coklat) snack dan biskuit

*) Sementara

Sumber: Depperindag/Data Consult

 

 

 

3.4. Perdagangan Ekspor - Impor

 

3.4.1. Ekspor biji kakao (Coklat) dan olahannya

 

Setelah ekspor kakao (Coklat) tahun 1999 lalu melonjak 23% hingga 411.760 ton senilai US$ 407 juta, volume ekspor dua tahun berikutnya masih bisa dipertahankan, meski tahun 2000 harganya cenderung merosot dan akhir tahun 2001 cenderung menguat kembali. Tercatat pada tahun 2000 ekspornya mencapai 413.492, berarti mengalami peningkatan sekitar 0,4%, sedangkan nilainya justeru merosot 19,6% tinggal US$ 327,3 juta.

 

Terakhir tahun 2001, ekspornya kembali meningkat lagi 6,1% menjadi 438.775 ton, dengan nilai ekspor melonjak 35,7% menjadi US$ 444,3 juta. Berarti dengan menguatnya harga kakao (Coklat) di pasar internasional, membuat devisa yang dihasilkan dari sektor komoditas ini mengalami lonjakan yang cukup berarti.

 

Sebagai gambaran tajamnya fluktuasi harga kakao (Coklat) dunia, bisa dilihat dari harga rata-rata ekspor tahun 1999 sekitar US$ 988,5 per ton, maka pada tahun 2000 harga rata-rata ekspornya merosot hingga menja­di US$ 791,6 per ton dan tahun 2001 - 2002 meningkat lagi menjadi US$ 1.012,5 - US$ 1.177 per ton. Padahal pada tahun 1998 harga rata-rata ekspornya cukup tinggi sekitar US$ 1.516/ton. 

 

Cenderung melemahnya harga kakao (Coklat) tahun 2000 lalu, dikarenakan siklus sektor perkebunan kakao (Coklat) pada tahun itu tengah mengalami puncak masa produktifitasnya lagi, sehingga stok kakao (Coklat) dunia pulih kembali. Dengan demikian harganya kembali tertekan. Selain itu, menurunnya harga kakao (Coklat) juga disebabkan ulah para fund manager yang mulai men­gurangi aksi pembelian, sehingga pasokan di pasar berlebih dan berdampak pada penekanan harga. 

 

Belakangan berlangsungnya pengurangan dan keterlambatan pasok komo­ditas dari produsen utama Pantai Gading, Afrika, menjadikan permin­taan dari luar negeri -- khususnya Singapura dan Malaysia mengalami peningkatan. Kedua negara tetangga itu membutuhkan banyak kakao (Coklat) termasuk asal Indonesia, untuk memenuhi pabrik butter yang beropera­si dengan kapasitas produksi besar. Hal ini membuat eksportir kakao (Coklat) kesulitan untuk memenuhi permintaan negara lain seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat, karena produktifitas kakao (Coklat) rendah akibat petani sempat enggan mengurus kebunnya.

 

Selain harga jual dan permintaan yang bergerak naik, importir berse­dia mengurangi potongan harga kakao (Coklat) Indonesia dari US$ 100-US$ 110 per ton menjadi US$ 90 per ton. Hal membuat eksportir di Sumatera Utara memanfaatkan permintaan yang banyak ini dengan menaikan harga dan mengecilkan diskon. Bahkan naiknya harga kakao (Coklat) di pasar dunia yang memicu kenaikan harga di pasar lokal dari sekitar Rp 7.500 per kg menjadi Rp 9.100-Rp 9.200 per kg, tidak menyurutkan eksportir melakukan pembelian ke pedagang atau petani, karena selain untuk memenuhi kontrak juga kebutuhan stok.

 

Belakangan apresiasi menguatnya rupiah terhadap US-dollar yang terlalu cepat, telah menekan harga kakao (Coklat) dan kopi di pasar lokal, sehingga menyulitkan pedagang dalam menetapkan harga ekspor, padahal harga kakao (Coklat) di terminal (New York) cenderung terus naik.

 

Tabel 3-9. Ekspor Biji Kakao (Coklat) Dan Kakao (Coklat) Indonesia, 1996 – 2002

 

                                                                                                             (ton / US $ 000)

 

Jenis kakao (Coklat) 

1996 

1997 

1998 

1999

2000 

2001

2002 *)

Biji kakao (Coklat)

 274.119

  219.852 

  278.146 

 333.695

 333.619  

 302.670   

293.885

 262.847

  294.991 

  382.502 

 296.484

 233.052  

 272.368

399.992

Kakao (Coklat) pasta 

    5.995

     7.724 

    9.955 

    9.555

     5.634  

   7.328

7.328

   15.684

    19.759 

    6.446 

    8.452

     5.599  

   8.587

8.587

Kakao (Coklat) butter

   24.678

    24.824 

   29.880 

   28.365

   32.072  

  33.180

27.890

   81.667

    88.999 

   96.137 

   72.023

   55.438  

  58.985

63.131

Kakao (Coklat) bubuk 

   14.064

     9.901

    12.587

   34.496

   36.409

   32.229

32.229

    5.261

     5.596 

    7.074 

   24.946

   26.393  

  27.944

33.960

         

 

 

Jenis kakao (Coklat) 

1996 

1997 

1998 

1999

2000 

2001

2002 *)

Lain-lain   

    4.221

     3.969 

    4.237 

    5.648

     5.758  

   8.098

8.098

    8.503

    10.412 

   15.491 

    5.112

     6.836  

   9.297

9.297

T o t a l   

 323.077

  266.270 

  334.805 

 411.760

 413.492  

 383.505

356.808

 373.962

  419.757 

  507.650 

 407.017

 327.318  

 377.181

512.385

*) Januari - September

Sumber : BPS / Data Consult

 

Produk kakao (Coklat) Indonesia yang diekspor ke beberapa negara memiliki sejumlah kelemahan, membuat harga komoditas ini relatif tetap rendah di pasar dunia -- hingga tetap harus mengikuti ketetapan diskon oleh importir kakao (Coklat) dunia. Padahal, kalau sejumlah kendala yang ada itu bisa diatasi, maka harga kakao (Coklat) Indonesia bisa meningkat lebih besar lagi.

 

Kelemahan kakao (Coklat) Indonesia itu antara lain tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), sertifikat fumigasi untuk pembuktian produk telah bebas dari serangga yang dikeluarkan dari Sucofindo tidak diakui Departemen Pertanian Amerika Serikat. Persyaratan mutu yang dimaksud, antara lain kandungan kotoran, kandungan serangga, kadar air dan lain-lain. Para petani selama ini tidak melakukan pengeringan terlebih dahulu terhadap produk kakao (Coklat), dengan alasan sangat tergantung pada cuaca dan mereka tidak memiliki alat penger­ing. Selain itu, sertifikat fumigasi yang dikeluarkan Sucofindo tidak diakui oleh Amerika Serikat. Fumigasi terhadap karung-karung kakao (Coklat) dilakukan oleh Sucofindo saat kapal pengangkut lepas dari pelabuhan.

 

Hampir setiap bulan selalu terjadi kasus penolakan produk biji kakao (Coklat) dari Indonesia oleh importir Amerika Serikat. Penyebabnya, terutama karena kakao (Coklat) yang dikirim tidak memenuhi standar mutu inter­nasional (Codex). Pada Agustus 2001 lalu misalnya, ada 39 kasus penolakan produk dari Indonesia. Dari 39 kasus itu, hanya ada 4 kasus penolakan yang bukan produk kakao (Coklat), yakni 2 produk nanas dan 2 produk lada putih. Sisanya, sebanyak 35 kasus berupa penolakan produk biji kakao (Coklat). Sedangkan Oktober 2001 tercatat 50 kasus penola­kan dan sebanyak 45 kasus tersebut menyangkut prooduk biji kakao (Coklat).

 

Sebagian besar dari biji kakao (Coklat) yang diekspor, berasal dari perkebu­nan besar swasta maupun BUMN atau PTPN (PT Perkebunan Nusantara).  sisanya dari perkebunan rakyat. Sebab meskipun luas areal perkebunan kakao (Coklat) rakyat sekitar 60% dari luas areal perkebunan swasta dan PTPN, namun tingkat produktifitas kebun rakyat masih relatif rendah, yakni hanya sekitar 50% dari yang dihasilkan oleh perkebunan besar.

 

 

 

3.4.2. Negara Tujuan Ekspor

 

Bila sebelumnya ekspor biji kakao (Coklat) Indonesia banyak diserap oleh Singapura untuk diekspor kembali (re-export) ke berbagai negara tujuan. Kini, dalam lima tahun terakhir Indonesia tidak lagi men­g ekspor kakao (Coklat) secara besar-besar ke Singapura, melainkan diserap langsung oleh pasar Amerika Serikat.

 

Kakao (Coklat) Indonesia dengan cita rasa khasnya sangat disukai, sehingga mendapatkan harga premium US$ 65/ton. Masalah yang dihadapi di Amerika Serikat adalah Food and Drug Administration yang menentukan mutu sangat ketat, misalnya kandungan jamur maksimal 4%. Hal ini menyebabkan sering terjadinya automatic detention (penahanan otoma­tis) untuk setiap kakao (Coklat) yang masuk ke Baltimore. Kakao (Coklat) ini langsung masuk ke gudang selanjutnya difumigasi dengan biaya eksportir.

 

Pemerintah tengah berupaya membebaskan automatic detention terhadap produk kakao (Coklat) oleh Amerika Serikat. Beberapa langkah yang telah diupayakan, antara lain harmonisasi standar prosedur internasional antara sistem yang berlaku Indonesia dengan sistem yang berlaku di Amerika.

 

Dari ekspor kakao (Coklat) Indonesia tahun 2001 sebesar 383,5 ribu ton, yang paling besar kontribusinya berasal dari biji kakao (Coklat) sebesar 302,7 ribu ton, atau sekitar 78,9% dari total ekspornya. Sedangkan dilihat dari negara tujuan ekspornya, biji kakao (Coklat) banyak diserap ke pasar Amerika Serikat yaitu sebesar 128,9 ribu ton, atau kontribusinya sekitar 42,6% dari total ekspor biji kakao (Coklat) Indonesia tahun itu.

Di pasar Eropa yang impornya sekitar 1 juta ton, pangsa pasar Indo­nesia sangat kecil yaitu hanya 2%. Ekspor Indonesia ke negara ini terhambat karena Eropa lebih mengutamakan negara bekas jajahannya di Afrika, selain itu lebih memilih kakao (Coklat) yang sudah difermentasi. Di kawasan negara ini Indonesia tidak pernah kena automatic detention.

 

Tahun 2000 lalu Jerman menyerap kakao (Coklat) biji Indonesia sebesar 13.792 ton dengan nilai US$ 12,78 juta, sedangkan tahun 2001 ekspor ke negara itu tinggal 8.121 ton senilai US$ 8,8 juta. Selain biji kakao (Coklat), jenis kakao (Coklat) Indonesia yang banyak diserap di kawasan ini adalah kakao (Coklat) pasta dan kakao (Coklat) butter, misalnya pada tahun 2001 lalu Spanyol menyerap 1.220 ton kakao (Coklat) pasta dan 2.140 kakao (Coklat) bubuk. Pasar potensial lainnya di kawasan ini adalah Belanda dan Belgia.

Untuk pasar Asia yang impornya mencapai 250 ribu ton, Indonesia memasok sekitar setengahnya dan menjadi pemasok utama. Hal ini tidak terlepas dari posisi geografis yang lebih dekat. Baik untuk pasar Eropa, Amerika Serikat dan Brazil dan juga Asia, kakao (Coklat) Indonesia banyak digunakan sebagai campuran karena cita rasa khasnya yang tidak bisa didapat oleh kakao (Coklat) negara lain. Untuk tahun 2001, ekspor biji kakao (Coklat) ke Malaysia dan Singapura menduduki peringkat kedua dan ketiga terbesar -- dengan volume ekspor masing-masing 78.218 ton dan 35.908 ton. Negara potensial lainnya adalah Filipina yang antara lain menyerap kakao (Coklat) bubuk sebanyak 4.530 ton. Sedangkan ekspor kakao (Coklat) olahan ke Malaysia  sempat mendapat pengaduan dari pabrikan kakao (Coklat) di negara itu.

   

Tabel 3-10. Ekspor Kakao (Coklat) Indonesia Menurut Negara Tujuan Utama, 2001

 

Negara

Volume   (Ton)

Nilai (US$'000)

 

 

 

Biji Kakao (Coklat) :    

  302.670 

  272.368

Amerika Serikat 

  128.896 

   110.317

Malaysia        

   78.218 

    73.543

Singapura       

   35.908 

    33.048

Cina            

   11.932 

    11.206  

Brazil          

   11.116 

    10.590

Jerman          

    8.121 

     8.798

Filipina        

    8.517 

     7.459

Kanada          

    7.965 

     7.439

Thailand        

    4.755 

     4.257

 

 

 

Kakao (Coklat) pasta :   

    7.328 

     8.587

Filipina        

    1.042 

       625

Spanyol         

    1.220 

       828

Amerika Serikat 

    1.000 

     1.112

 

 

 

Kakao (Coklat) butter :  

   33.180 

    58.985

Amerika Serikat 

   16.185 

    29.066

Belanda         

    5.287 

     9.048

Australia       

    3.124 

     5.823

Jepang          

    2.129 

     4.242

Perancis        

    1.580 

     2.721     

 

 

 

Kakao (Coklat) bubuk :   

   32.229 

    27.944

Amerika Serikat 

    4.603 

     6.942

Spanyol         

    2.140 

     1.572

Filipina        

    4.530 

     3.392

Malaysia        

    1.233 

       775

Brazil          

    2.594 

     2.177              

Belgia          

    1.722 

     1.911

Belanda         

    2.199 

     2.312

 

 

 

Lain-lain :     

    8.098 

     9.297

Amerika Serikat 

    1.599 

     1.782

Perancis        

      900 

     1.300

Spanyol         

    1.544 

     1.227  

T o t a l :     

  383.505 

   377.181

Sumber: BPS/Data Consult

 

 

 

 

3.4.3. Impor Kakao (Coklat)

 

Impor kakao (Coklat) Indonesia tahun 2001 lalu mengalami lonjakan yang cukup berarti, yaitu dari tahun sebelumnya sebesar 17.605 ton menjadi 38.717 ton, berarti meningkat dua kali lipat lebih (119,9%). Begitu juga devisa yang dikeluarkan naik 203,5% dari US$ 17,2 juta menjadi US$ 52,2 juta.

 

Jenis kakao (Coklat) impor yang terbesar adalah biji kakao (Coklat) sebanyak 28.961 ton dan kakao (Coklat) bubuk sekitar 7.187 ton. Meningkatnya impor biji kakao (Coklat) belakangan ini, menandakan stok kakao (Coklat) di dalam negeri makin berkur­ang karena pesatnya ekspor komoditas itu, sehingga Singapura melakukan re-ekspor biji kakao (Coklat)nya ke Indonesia. Sedangkan meningkatnya impor kakao (Coklat) bubuk, menandakan suplay kakao (Coklat) olahan di dalam negeri tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan industri pemakainya. Akibat sulitnya mendapatkan bahan baku kakao (Coklat) yang harganya memadai di pasar domes­tik, menjadikan produsen kakao (Coklat) olahan cenderung memperkecil utilitas produksinya.

 

Tabel 3-11. Impor Biji Kakao (Coklat) Dan Kakao (Coklat) Olahan Indonesia, 1997 – 2001

                                                                                                     (Ton / US $ 000)

Jenis kakao (Coklat)

1997

1998

1999

2000

2001*)

Biji kakao (Coklat)    

    797  

   5.204  

   8.628 

   12.625  

   28.961   

  1.481  

   8.764  

  11.094 

   12.451  

   30.711

Kakao (Coklat) pasta   

     34  

     447  

     481 

    1.459  

    1.973

     77  

      59  

     332 

      963  

    1.708

Kakao (Coklat) butter  

     50  

      20  

      33 

       27  

       19

    142  

      48  

      70 

       52  

       45

Kakao (Coklat) bubuk   

  1.770  

   1.038  

   1.473 

    2.964  

    7.187

  1.997  

   1.257  

   1.665 

    3.447  

   10.111

Lain-lain  

  2.213  

     685  

     719 

      530  

      577

  1.196  

     529 

      846

       311 

       961

T o t a l  

  4.864  

   7.394 

   11.334 

   17.605  

   38.717

  4.893  

  10.657 

   14.007 

   17.224  

   52.243

*) Sementara (Bisa fix tahun 2001), Sumber : BPS/Data Consult

 

Negara tetangga, Papua New Guinea dan Pantai Gading sebagai pengha­sil terbesar kakao (Coklat) dunia, serta Ghana merupakan pemasok utama biji kakao (Coklat) ke Indonesia. Sedangkan untuk kakao (Coklat) pasta dan kakao (Coklat) bubuk lebih banyak diimpor dari Malaysia dan Singapura. Tak ketinggalan Belanda dan Amerika Serikat pun menjadi pemasok kakao (Coklat) bubuk ke Indonesia.

 

 

 

 

 

 

Tabel 3-12. Impor Kakao (Coklat) Indonesia Menurut Negara, 2000

Negara

Volume   (Ton)

Nilai (US$'000)

Biji Kakao (Coklat) :     

  12.625 

    12.451

Papua New Guinea 

   4.833 

     4.326

Cote D'Ivoire    

   3.428 

     3.330

Ghana            

   2.950 

     3.317

Argentina        

    827  

       940

Kakao (Coklat) pasta :     

  1.459   

     963

Malaysia          

  1.416   

     876

Singapura         

     43   

      87

Kakao (Coklat) butter :    

     27   

      52

Malaysia          

     14   

      21

Singapura         

     13   

      21

Kakao (Coklat) bubuk :     

  2.964   

   3.447

Singapura         

  1.525   

   1.901

Malaysia          

    939   

     792

Belanda           

    400   

     397

Amerika Serikat   

     86   

     141

Lain-lain :       

    530   

     311

Malaysia          

     92   

      33

Cina              

     85   

      36

Singapura  

     79   

     155

T o t a l

 17.605   

  17.224

 Sumber : BPS/Data Consult