Last Updated:
Usaha Pembibitan Ayam
Usaha Pembibitan Ayam https://www.pustakadunia.com

Usaha Pembibitan Ayam

Daging maupun telur ayam ras telah menjadi komoditas strategis dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.

Peran strategis tersebut setidaknya dalam hal pemenuhan kebutuhan protein hewani dan instrumen pemberdayaan masyarakat. Respon positif dalam bisnis budidaya ayam ras baik oleh dukungan pemerintah maupun preferensi masyarakat menciptakan keterkaitan ke depan (forward linkage) dengan tumbuhnya industri pembibitan. 

Industri pembibitan ayam ras telah berkembang sedemikian sistematis dan hirarkis  yang satu sama lain terkait secara fungsional.

Secara hirarkis industri pembibitan ayam ras terdiri dari : (1) tingkat Pure Line (PL) yang memproduksi DOC Grand Parent Stock (GPS), (2) GPS yang memproduksi DOC Parent Stock (PS), dan (3) PS yang memproduksi DOC Final Stock (FS).

Permintaan DOC PL merupakan turunan (derivat) dari permintaan DOC GPS dan permintaan DOC GPS merupakan derivat dari permintaan DOC PS, demikian seterusnya sehingga permintaan DOC setiap hirarki ditentukan oleh permintaan daging atau telur di masyarakat.

Oleh karena itu pertumbuhan yang pesat pada bisnis budidaya ayam ras pedaging maupun petelur akan mendorong tumbuhnya industri bibit PS. Hal ini pada gilirannya juga mendorong tumbuhnya bisnis pembibitan GPS dan PL. Hal ini didukung oleh ketentuan pemerintah yang melarang impor bibit DOC FS sejak tahun 1976. 

Industri PS sebagai produsen DOC FS memiliki peran strategis dalam aktivitas agribisnis, karena stabilitas pada kegiatan budidaya sangat ditentukan oleh keberadaan industri PS. Biaya DOC FS dalam kegiatan budidaya merupakan komponen biaya yang cukup tinggi mencapai 20-30 % dari total biaya produksi. Saat ini telah terdapat satu buah perusahaan pembibitan galur murni,      18 GPS baik pedaging maupun petelur, 108 buah pembibitan PS pedaging dan      52 buah PS Petelur. Sebaliknya tumbuh berkembangnya industri pembibitan ditentukan oleh situasi pada sub sistem budidaya. Fluktuasi yang sering terjadi pada usaha budidaya berpengaruh pada ketidakpastian industri pembibitan. Oleh karena itu industri pembibitan lebih bersifat padat modal dan diusahakan secara terintegasi dengan usaha makanan ternak untuk mengantisipasi pasar yang tidak menentu. Sebagai strategi pemasarannya, penjualan DOC FS banyak dilakukan dalam bentuk paket bersamaan dengan pakan (Direktorat Jenderal Peternakan, 2000). 

Prospek pengembangan industri pembibitan sangat terkait dengan situasi ekonomi nasional maupun global. Pemulihan ekonomi yang sedang berjalan merupakan saat yang baik bagi tumbuh berkembangnya industri perunggasan termasuk industri pembibitan. Potensi pasar industri pembibitan juga berasal dari peluang ekspor yang cenderung menguat dengan semakin membaiknya situasi ekonomi. Namun demikian sebagaimana industri unggas pada umumnya, faktor resiko (risk) dan ketidakpastian (uncertainly) industri pembibitan ayam ras cukup tinggi. Dibandingkan dengan kegiatan pendukung usaha budidaya ayam ras lainnya, industri pembibitan termasuk paling rumit pengelolaannya dan memerlukan investasi paling besar. Aset yang berhubungan dengan investasi pembibitan (breeder) mencapai Rp 6 trilyun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan aset dalam industri obat hewan             (1 trilyun) dan industri pakan/feedmill (Rp 2 trilyun). Sejauhmana prospek pengembangan industri pembibitan ayam ras dan strategi yang diperlukan merupakan menjadi kajian yang perlu dilakukan. 

KARAKTERISTIK KOMODITAS 

Industri Pembibitan

Usaha pembibitan adalah usaha peternakan yang menghasilkan ternak untuk dipelihara, bukan untuk dikonsumsi. Perkembangan industri pembibitan ini berkembang seiring dengan perkembangan industri ayam ras di Indonesia. Ada empat usaha pembibitan ayam ras, sebagai berikut.

  1. Pembibitan untuk menghasilkan pure line atau ayam galur murni atau ayam berdarah murni yang merupakan cikal bakal ayam komersial bila telah mengalami penyilangan-penyilangan.
  2. Pembibitan untuk menghasilkan great grand parent stock atau ayam bibit “buyut” yang merupakan hasil penyilangan dari pure line.
  3. Pembibitan untuk menghasilkan grand parent stock atau ayam bibit “nenek” yang merupakan hasil penyilangan dari great grand parent stock.
  4. Pembibitan untuk menghasilkan parent stock atau ayam bibit “induk” yang merupakan hasil penyilangan dari grand parent stock. Ayam bibit induk ini disebut juga bibit dasar yang bila dibibitkan lagi akan menghasilkan keturunan yang dikenal dengan nama final stock, yang dijadikan ayam niaga (ayam komersial) dan DOC-nya dipelihara untuk dibudidayakan.
  5. Final Stock merupakan hasil akhir dari pembibitan modern yang dihasilkan oleh peternak parent stock. Usaha mendapatkan ayam final stock biasanya dilakukan persilangan antara ayam jantan bangsa Cornish dengan ayam betina bangsa ayam New Hampshire, atau dapat pula jantan cornish dengan betina White Plymouth Rock. Proses untuk mendapatkan strain baru final stock unggul memerlukan waktu lama. 

Mengenai produktivitas dan karakteristik grand parent stock dan parent stock dapat dilihat pada Tabel. 

Produktivitas dan Karakteristik Grand Parent Stock (GPS) dan Parent Stock (PS)

Indikator

Grand Parent Stock

Parent Stock

Produksi telur/tahun (butir)

200 – 250

230 - 260

Produksi puncak (%)

90 – 92

90 - 92

Fertilitas (%)

80 - 90

80 - 90

Daya tetas (%)

70 - 84

81- 85

Umur produksi 50% (hari)

148 - 160

148 - 160

Anak ayam umur sehari atau Day Old Chick (DOC) memiliki sifat yang khas dibandingkan dengan komoditi industri manufaktur maupun industri lainnya, yaitu sifatnya yang perishable (mudah rusak), sehingga memerlukan penanganan khusus dalam transportasi dan penyimpanan. Selain sifat tersebut, komoditi ini mempunyai berat dan volume yang besar, sehingga memerlukan tempat yang besar dan mahal dalam transportasi dan penyimpanan. 

Tipe Ayam Ras

Jenis ayam yang telah mengalami penyilangan dari bermacam-macam bangsa, sehingga tercipta jenis ayam baru dengan nilai ekonomi produksi tinggi dan bersifat turun menurun disebut strain. Klasifikasi ayam berdasarkan tujuan pemeliharaan, adalah sebagai berikut.

  1. Ayam tipe petelur

Ayam tipe petelur dipelihara untuk menghasilkan telur yang banyak. Karakteristik ayam tipe petelur ini, adalah sebagai berikut.

  • Bertingkah laku lincah dan mudah terkejut.
  • Badan relatif kecil dan langsing sehingga disebut tipe ringan.
  • Cepat dewasa kelamin sehingga cepat bertelur.
  • Jumlah telur banyak, kerabang berwarna putih atau coklat.
  • Jarang mengeram.

Tipe ayam petelur misalnya bangsa ayam Leghorn terutama yang berbulu putih contoh strainnya Hyline.

  1. Ayam tipe petelur dan juga pedaging

Ayam yang dapat menghasilkan telur sekaligus daging cukup banyak sering disebut ayam tipe dwiguna. Ciri-ciri ayam ini, sebagai berikut.

  • Ukuran badannya sedang sehingga disebut juga tipe sedang.
  • Jumlah telurnya banyak dan besar-besar, kerabang berwarna coklat.
  • Bulu berwarna coklat atau bercampur hitam.
  • Dalam satu kelompok ayam ada yang suka mengeram.

Ayam tipe ini diantaranya Rhode Island Red, Plymouth Rock, dan New Hampshire. Contoh strain-nya Harco, Hysex Brown, AA Brown.

  1. Ayam tipe pedaging

Ayam tipe pedaging dapat menghasilkan daging relatif banyak dalam waktu yang cepat. Ciri-cirinya sebagai berikut.

  • Ukuran badan relatif besar, padat, kompak dan berdaging penuh sehingga disebut tipe berat.
  • Jumlah telur relatif sedikit.
  • Bergerak lamban dan tenang.
  • Biasanya lebih lambat mengalami dewasa kelamin.
  • Beberapa jenis mempunyai bulu kaki dan masih suka mengeram.

Ayam tipe ini antara lain Brahma Putra dan Cochin China. Ayam tipe pedaging yang kakinya tidak berbulu misalnya ayam bangsa Cornish dan Sussex. Contoh strain-nya strain AA 707, Hybro, Shaver. Ayam tipe pedaging ini selain yang berukuran normal juga ada bangsa-bangsa yang dibuat strain Isa Vedette

Telur Tetas

Penanganan telur akan berpengaruh pada jumlah bakteri pada kulit telur. Pengambilan telur dalam sehari harus dilakukan sekurang-kurangnya 4 kali, agar telur yang didapatkan bersih, tidak retak atau pecah. Pada Tabel 17 diperlihatkan pengaruh kebersihan telur terhadap jumlah bakteri yang terkandung pada kulit telur. Mengenai pengaruh waktu peneluran terhadap bakteri pada kulit telur ayam ras disajikan pada Tabel. 

Pengaruh Kebersihan Telur terhadap Kandungan Bakteri pada Kulit Telur Ayam Ras

Tingkat Kebersihan Kulit Telur

Jumlah Bakteri pada Kulit Telur

Bersih

Bertelur di lantai

Kotor

3.000 - 3.400

25.700 - 28.100

390.000 - 430.000

Sumber : Sudaryani dan Santosa, 2000

Pengaruh Waktu Peneluran terhadap Jumlah Bakteri pada Kulit Telur Ayam Ras

Waktu Peneluran

Jumlah Bakteri pada Kulit Telur

Awal saat bertelur

Setelah 15 menit

Setelah 1 jam

300 - 500

1.500 - 3.000

20.000 - 30.000

Sumber : Sudaryani dan Santosa, 2000 

Telur yang akan ditetaskan harus diseleksi dahulu agar terjamin fertilitas dan daya tetasnya. Telur yang baik untuk ditetaskan pada pertengahan produksi, yaitu sekitar umur 30-60 minggu. Beberapa bentuk telur berpengaruh pada fertilitas dan daya tetas telur yang disajikan pada Tabel. 

Pengaruh Bentuk Telur Tetas Ayam Ras terhadap Fertilitas dan Daya Tetasnya

Bentuk Telur

Fertilitas (%)

Daya Tetas (%)

Normal

Retak sedikit

Kerabang tidak baik

Tanpa lubang udara

Banyak bintik darah

82,3

74,6

72,5

72,3

78,7

71,7

39,7

34,3

23,4

56,3

Sumber : Sudaryani dan Santosa, 2000 

Telur yang akan ditetaskan diseleksi dengan berat minimum 50-52 gram. Tujuan seleksi telur dilakukan untuk mendapatkan DOC sesuai dengan yang diharapkan. Standar yang biasa digunakan untuk menentukan berat anak ayam umur sehari, adalah dengan rumus sebagai berikut.

    Berat anak ayam umur sehari (gram) = (2/3 x berat telur) + 1 gram 

Pada Tabel ditampilkan pengaruh berat telur terhadap berat awal anak ayam umur sehari yang ditetaskan dalam kondisi mesin tetas yang baik. 

Pengaruh Berat Telur terhadap Berat DOC

Berat (gram)

Berat (gram)

45-49

50-54

55-59

60-64

65-69

29,3

32,3

34,6

37,7

41,1

Sumber : Sudaryani dan Santosa, 2000

Telur yang memerlukan penyimpanan beberapa hari, ruang pendingin harus bersuhu kurang lebih 150C dengan kelembaban 70-80 %. Telur sebaiknya tidak disimpan lebih dari 1 minggu sebab penyimpanan yang semakin lama akan berpengaruh negatif terhadap daya tetas dan menyebabkan bertambahnya waktu yang diperlukan untuk menetas. Pengaruh tersebut dapat dilihat pada Tabel. 

Pengaruh Penyimpanan Telur terhadap Daya Tetas dan Keterlambatan Penetasan Telur

Lama Penyimpanan (Hari)

Daya Tetas Telur Fertil (%)

Keterlambatan Penetasan Telur (Jam)

1

4

7

10

13

16

19

22

25

88

87

79

69

56

44

30

26

0

0

0,7

1,8

3,2

4,6

6,3

8,0

9,7

11,8

Sumber : Sudaryani dan Santosa, 2000 

Standarisasi DOC (Day Old Chick)

Standardisasi merupakan pedoman untuk berproduksi. Manfaat dari standarisasi ini diantaranya adalah untuk menjamin kompatabilitas, menghemat berfikir dan komunikasi, membantu menghasilkan produk-produk yang dapat diandalkan dan meningkatkan tingkat kemampuan teknik. 

Standarisasi DOC dilakukan dengan mengklasifikasikan DOC ke dalam tiga grade, yaitu grade A, B dan YF (Young Flock). Spesifikasi grade A adalah DOC yang dapat berdiri, pusarnya kering dan tidak berwarna hitam atau kuning. Spesifikasi grade B adalah DOC yang berpusar kuning tetapi dapat berdiri, sedangkan spesifikasi untuk grade YF adalah DOC yang berasal dari  telur-telur ayam flock muda (parent stock pada periode awal produksi). DOC yang tidak termasuk ke dalam klasifikasi tersebut harus diafkir. 

Seleksi awal terhadap anak ayam (DOC) perlu dilakukan agar bibit yang dibudidayakan nantinya tidak banyak merugikan pelanggan atau peternak. Bibit yang diseleksi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Anak ayam harus sehat dalam arti bebas dari berbagai macam penyakit, secara fisik ayam yang sehat dapat ditunjukkan oleh mata yang bersih, bening dan bersinar serta mata tidak redup.
  2. Tubuh tidak cacat.
  3. Jika dijatuhkan ke lantai ayam dapat berdiri dengan cepat.
  4. Bulu ayam penuh dan bersih.
  5. Anus tidak becek (basah) melainkan kering dan bersih.
  6. Perut bila diraba tidak keras dan kaku.
  7. Ukuran badan tidak terlalu kecil.
  8. Paruh pendek dan tidak melengkung.
  9. Anak ayam lincah dalam gerakannya.
  10. Kakinya kuat, lurus dan berdiri tegap. 

Persyaratan Mutu

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia nomor : SNI 01-4868.1-1998 tentang standar bibit ayam ras niaga atau final stock umur sehari (kuri/DOC) tipe pedaging, memberikan persyaratan mutu sebagai berikut.

  1. Berat kuri/DOC per ekor : minimal 37 gram.
  2. Kondisi fisik sehat, kaki normal dan dapat berdiri tegak, tampak segar dan aktif, tidak dehidrasi, tidak ada kelainan bentuk dan tidak cacat fisik, sekitar pusar dan dubur dan pusar tertutup.
  3. Warna bulu seragam sesuai dengan warna galur (strain) dan kondisi bulu kering dan berkembang.
  4. Jaminan kematian kuri/DOC maksimal 2%. 

Persyaratan mutu untuk bibit ayam ras niaga atau final stock umur sehari (kuri/DOC) tipe petelur berdasarkan Standar Nasional Indonesia Nomor : SNI 01-4868.2-1998, adalah sebagai berikut.

  1. Berat kuri/DOC per ekor : minimal 33 gram.
  2. Kondisi fisik sehat, kaki normal dan dapat berdiri tegak, tampak segar dan aktif, tidak dehidrasi, tidak ada kelainan bentuk dan tidak cacat fisik, sekitar pusar dan dubur dan pusar tertutup.
  3. Warna bulu seragam sesuai dengan warna galur (strain) dan kondisi bulu kering dan berkembang.
  4. Jaminan kematian kuri/DOC maksimal 2%. 

Kemasan DOC (Day Old Chick)

Pengemasan sangat berguna untuk menjamin keamanan DOC terhadap kematian dan mempertahankan kestabilan mutu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengemasan meliputi bahan dasar, bentuk, sanitasi, ventilasi, ukuran, kapasitas, frekuensi pemakaian dan penandaan kemasan. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia nomor : SNI 01-2043-1990 sebagai berikut.

  1. Bahan dasar kemasan

Bahan dasar kemasan tersebut dari kertas karton tahan terhadap tekanan yang merusak, sesuai dengan Standar Industri Indonesia, yaitu SII 1875-1986.

  1. Bentuk

Bentuk kemasan adalah trapesium. Bagian dalamnya ada sekat pemisah serta bagian atasnya ada tonjolan.

  1. Sanitasi

Sanitasi dilakukan di tempat penyimpanan kemasan kuri.

  1. Ventilasi

Kemasan kuri harus ada ventilasi yang cukup di bagian kiri, kanan, depan, belakang dan bagian atas.

  1. Ukuran, berat dan kapasitas kemasan

Berat dan kapasitas kemasan.

  1. Ukuran
  • Panjang bagian bawah minimal 64 cm.
  • Panjang bagian atas minimal 60 cm.
  • Lebar bagian bawah minimal 48 cm.
  • Lebar bagian bawah minimal 44 cm.
  • Tinggi kotak kemasan minimal 15 cm.
  • Tinggi tonjolan minimal 3 cm.
    1. Berat

Berat box kosong minimal 0,8 kg.

  1. Kapasitas isi

Kapasitas isi tiap kemasan kuri maksimal 105 ekor.

  1. Frekuensi pemakaian

Pemakaian kemasan kuri hanya 1 (satu) kali.

  1. Penandaan kemasan
    1. Label hendaknya ditempelkan pada salah satu sisi box dengan warna tertentu yang jelas untuk kemudahan pengenalan terhadap jenis-jenis kuri dan terbuat dari kertas biasa dengan ukuran panjang 15 cm dan lebar 10 cm.
    2. Warna label seperti butir tersebut di atas untuk tiap jenis kuri ayam petelur adalah sebagai berikut.
  • Biru tua (biru gelap) untuk kuri ayam bibit nenek (GPS).
  • Biru muda untuk kuri ayam bibit induk (PS).
  • Kuning untuk kuri ayam niaga (FS).
  • Putih untuk kuri ayam yang merupakan produksi ikutan.
    1. Warna dasar label seperti yang tersebut di atas untuk jenis-jenis kuri ayam pedaging adalah sebagai berikut.
  • Merah tua untuk kuri ayam nenek (GPS).
  • Merah muda untuk kuri ayam bibit induk (PS).
  • Coklat untuk kuri ayam bibit yang merupakan produksi

ikutan.

  1. Setiap label berisikan keterangan sebagai berikut.
  • Tanggal dan jam keluar.
  • Galur (strain).
  • Jenis ayam bibit (ayam bibit nenek, ayam bibit induk dan

ayam niaga).

  • Jumlah isi kemasan.
  • Nama dan alamat perusahaan peternak ayam bibit.
  • Nama pemesan/pengirim dan alamatnya.
  • Tanggal vaksinasi Marek.
  • Cap perusahaan. 

TEKNIS PRODUKSI 

  • Suhu Lingkungan

Suhu kandang yang ideal untuk pembibitan ayam ras ini memerlukan kisaran suhu antara 22 – 28oC dengan kelembaban udara berkisar antara 82 – 96 %. Suhu kandang ini dapat ditolerir hingga kisaran 16oC dan 35oC. Suhu kandang ini sangat tergantung kepada jenis yang dipelihara. Sebagai contoh, untuk pemeliharaan Arbor Acress periode layer, suhu yang optimum berkisar antara         16 – 29oC. Cara untuk mengantisipasi suhu dan kelembaban udara yang tinggi,  diperlukan ventilasi dengan bantuan kipas. 

Ventilasi udara berfungsi untuk menjaga suhu dan kelembaban. Ada dua macam ventilasi yang dapat diterapkan, sebagai berikut.

  1. Ventilasi bantuan negatif

Suatu kipas yang berfungsi menyedot udara busuk dari kandang sementara udara segar masuk dari sisi lain.

  1. Ventilasi bantuan positif

Fungsi kipas dalam hal ini untuk menghembuskan angin segar ke dalam kandang dan udara busuk di dalam kandang akan terdesak ke luar. Oleh karena itu, penggunaan sistem ventilasi positif harus disesuaikan dengan luas kandang, kekuatan motor penggerak kipas dan lebar kipas.

 

  • Lokasi

Secara teknis, pemilihan lokasi peternakan pembibitan ayam ras ini sebaiknya didasarkan sebagai berikut.

  1. Sesuai dengan lokasi yang ditentukan oleh pemerintah daerah setempat.
  2. Kondisi sosial dari masyarakat setempat, tidak bertentangan dengan ketertiban dan kepentingan umum.
  3. Tidak terletak di pusat kota, berjarak sekurang-kurangnya 250 m dari pemukiman penduduk, dan berjarak tidak kurang dari 250 m dengan lokasi peternakan lain. Apabila masih dalam satu kelompok usaha, jarak antar pemilikan sekurang-kurangnya 50 m.
  4. Lokasi peternakan hendaknya lebih tinggi dari daerah sekitarnya (untuk mempermudah perawatan kebersihan, pembuangan kotoran/sisa-sisa perusahaan, dan lain-lain), dekat dengan sumber air dan mudah dijangkau, sehingga transportasi keluar masuk peternakan tidak mengalami kesulitan.
  5. Berdekatan dengan produsen atau pabrik pakan ternak.
  6. Dekat dengan pasar/konsumen.
  7. Berdekatan dengan sentral produksi atau sentral populasi ternak.
  8. Sesuai dengan wilayah pengembangan usaha peternakan, wilayah penyebaran industri komoditi peternakan dan wilayah pengembangan ekspor komoditi peternakan. 
  • Perkandangan

Fungsi Kandang

Fungsi kandang dimaksudkan terutama untuk memberikan kenyamanan bagi ternak dengan memperhatikan kebutuhan penyinaran matahari dan sirkulasi udara serta untuk  mencegah gangguan seperti predator. Selain itu, kandang juga berfungsi memudahkan tatalaksana yang meliputi pemeliharaan dalam pemberian pakan dan minum, pengawasan terhadap ayam yang sehat dan ayam yang sakit serta untuk memudahkan dalam pengambilan telur dan pengumpulan kotoran untuk pupuk kandang. 

Sistem Perkandangan

Sistem perkandangan yang umum digunakan adalah sistem kandang tertutup (Close House). Berdasarkan bentuk lantainya, kandang tertutup dibedakan menjadi sebagai berikut.

  1. Kandang Litter

Pada kandang sistem litter, lantai terbuat dari semen yang dialasi sekam dengan tebal antara 10 – 15 cm.

  1. Kandang Slat-litter

Pada kandang sistem slat-litter, 2/3 dari luas kandang lantainya terbuat dari bilah-bilah kayu dan 1/3 bagian sisanya dilapisi oleh sekam yang berada di tengah-tengah kandang. 

Berdasarkan jenisnya, kandang dibedakan menjadi dua, yaitu kandang single dan kandang twin. Kandang twin merupakan penggabungan dua buah kandang menjadi satu. Kandang jenis twin ini digunakan dengan tujuan untuk menghemat lahan. 

Kepadatan kandang per meter persegi tergantung pada faktor-faktor seperti tipe lantai, bobot badan ayam, temperatur sekitar kandang, sistem ventilasi dan perlengkapan yang tersedia dalam kandang. Semakin besar tubuh ayam, semakin luas ruangan yang diperlukan, sebab kesalahan dalam mengatur kepadatan kandang dapat menyebabkan kenaikan suhu dalam kandang. Kandang dengan lantai slat dan litter dalam satu meter persegi dapat menampung 4 ekor ayam pembibit tipe berat. 

Konstruksi Kandang

Kandang sebaiknya dibuat menghadap ke Timur dan membujur dari arah Timur ke Barat. Konstruksi atap pada kandang tertutup berbentuk gable type dengan bahan atap dari flat besi bergelombang. Langit-langit pada kandang single sebaiknya dilapisi oleh foam yang terdiri dari galtolex dan  suprasex, sedangkan pada kandang twin sebaiknya dilapisi parsec. Parsec merupakan lapisan yang berfungsi sebagai insulator, yaitu untuk meredam panas dan mencegah dingin di dalam kandang. 

Bahan yang dapat digunakan untuk litter diantaranya adalah serbuk gergaji, karena tidak mudah dicemari. Penggunaan litter sebaiknya dalam keadaan kering, tidak mudah busuk, mudah menyerap air tetapi tidak membuatnya bergumpal-gumpal. Apabila litter mulai menggumpal atau menipis, maka perlu dilakukan penambahan. 

Batang slat terbuat dari kayu yang berukuran 2,5 x 2,5 cm, dengan kerenggangan antara batang slat 2,5 cm. Tinggi slat dari lantai adalah 60 cm. Setiap sisi kandang ditutupi oleh tembok dan kawat sebaiknya ditutupi oleh tirai penutup. Tirai ini dapat dibuka secara otomatis untuk mencegah ayam mati, karena cooling pad dan blower tidak berfungsi pada saat aliran listrik terhenti. 

Peralatan Kandang

Peralatan-peralatan yang dibutuhkan dalam usaha pembibitan ayam ini antara lain adalah sebagai berikut.

  • Induk buatan (brooder)
  • Tempat pakan dan minuman
  • Mesin pengeraman dan penetas
  • Gudang yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan pakan, telur, grading dan fumigasi
  • Alat fumigasi telur
  • Alat pembawa telur
  • Peralatan pengobatan dan vaksinasi
  • Alat pemusnah bangkai (invenerator)
  • Alat sanitasi
  • Tempat khusus untuk menyimpan vaksin
  • Blower dan cooling pad
  • Tempron dan termostat 

Sanitasi kandang

Sanitasi yaitu cara perlindungan lokasi farm dengan jalan membersihkan secara mekanis dan kimiawi. Sanitasi yang dilakukan adalah menjaga kebersihan kandang dan sekitarnya, membersihkan peralatan kandang, mengisi bak desinfektan, membersihkan bulu-bulu yang rontok dan membalik litter yang basah. 

Peralatan kandang dibersihkan setiap seminggu sekali. Pembersihan bak desinfektan dilakukan tiga kali sehari. Bak desinfektan diisi dengan larutan desinfektan dengan dosis 30 cc untuk 5 liter air. 

Litter dibalikkan seminggu sekali atau disesuaikan dengan kondisi untuk menjaga agar litter tetap kering, karena litter yang lembab dapat menjadi media yang baik bagi tumbuhnya cacing, bakteri dan koksida. 

  • Bibit

Bibit yang digunakan merupakan bibit parent stock yang masih diimpor. Jenis bibit/galur yang digunakan diantaranya adalah Acroblack, Arbor Acres, Avian, Bovina, Cobb, Hubbard, Hybro, Indian River, Isa Veddete, Lohmann Meat, Peterson, Ross, Sena, Shaver Starbro dan Tegel untuk pembibitan ayam ras pedaging, sedangkan galur yang digunakan untuk pembibitan ayam ras petelur diantaranya adalah Babcock, Dekalb, Golden Comet, Hissex, Hy-Line, H&N, Isa Brown dan Lohmann Brown. Galur-galur tersebut sampai saat ini masih diimpor oleh perusahaan-perusahaan pembibitan di Indonesia. Galur-galur tersebut diantaranya berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Australia dan Kanada. 

  • Pakan

Pakan yang diberikan selama pemeliharaan dibedakan menjadi tiga jenis kelompok pakan, yaitu pakan untuk layer starter (0 – 7 minggu), layer grower (8 – 13 minggu) dan pakan untuk breeder (20 minggu – afkir). Komposisi zat makanan untuk setiap periode disajikan dalam Tabel. 

Komposisi Zat Makanan untuk setiap Periode Pemeliharaan

Zat Makanan

Kandungan Nutrisi (%)

Starter

Grower

Breeder

Kadar Air

Protein

Lemak

Serat Kasar

Abu

Energi Metabolis (Kkal/Kg)

11 – 13,5

19 – 21

3 – 6

4 – 6

4 – 7

2.800 – 2.950

11 – 13,5

15 – 17

3 – 6

6 – 8

5 – 8

2.550 – 2.700

11 – 13,5

17 – 18

3 – 6

6 – 8

10 – 13

2.800 – 2.900

Sumber : Juwita, E., 1998 

Pemberian pakan dilakukan dengan cara ad libitum (terus menerus), sampai ternak berumur 3 minggu. Setelah itu, pemberian pakan dibatasi. Pemberian pakan dilakukan pada pagi dan sore hari, sedangkan pada periode pertumbuhan pakan diberikan sehari sekali (pada pagi hari).  Konsumsi pakan ayam galur Arbor Acres umur 42 – 48 minggu disajikan dalam Tabel di bawah ini. 

Konsumsi Pakan Ayam Pembibit Galur Arbor Acres

Umur (Minggu)

Konsumsi Pakan (gram/ekor/hari)

42

43

44

45

46

47

48

155

155

152,5

150

150

150

150

Rata-rata

151,79

Sumber : Juwita, E., 1998 

Selain pemberian pakan, dalam usaha pembibitan ini, ayam perlu diberikan air minum, yang pemberiannya dilakukan secara ad libitum. Pada masa starter tempat minum yang digunakan kurang lebih berisi 3,8 liter yang disimpan dengan cara digantung, dapat digunakan oleh 100 ekor, sedangkan pada masa breeder dan grower kapasitas tempat minum gantung tersebut dapat digunakan oleh 50 – 60 ekor. 

  • Pemeliharaan

Pemeliharaan periode indukan (brooding) dilakukan mulai umur 0 sampai dengan umur 4 minggu. Periode brooding ini sangat penting, karena menentukan berhasil tidaknya suatu usaha peternakan. Kandang dipersiapkan sebelum DOC datang atau setelah periode produksi ayam pembibit lain selesai. 

Pemeliharaan yang umumnya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pembibit dilakukan pada kandang yang sama dari ayam umur sehari sampai dengan afkir. Sistem ini disebut dengan broad – grow – lay system yang dapat mencegah terjadinya stress pada ayam akibat perpindahan. Selain itu, sistem lain yang biasa digunakan adalah sistem all in all out, yaitu ayam pertama masuk ditempatkan secara bersamaan dan pada saat afkir ayam dikeluarkan secara bersamaan pula. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memutuskan siklus penyakit, untuk efisiensi tenaga kerja, biaya dan efisiensi penggunaan kandang. 

Persiapan Penerimaan DOC

Persiapan yang pertama kali harus dilakukan adalah persiapan kandang. Persiapan kandang dimulai dengan membersihkan dan mensucihamakan lantai, dinding dan tirai. Sekam bekas dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk dijual sebagai pupuk kandang. Selanjutnya kandang disemprot air dengan tekanan tinggi. Penyemprotan kandang dilakukan sebanyak tiga kali. Pada tahap pertama, kandang disemprot dengan desinfektan menggunakan perbandingan 1 : 10 (20 liter formalin untuk 200 liter air). Tahap selanjutnya kandang disemprot dengan antipar 500 dan formalin dengan perbandingan 1 : 2 : 1 (20 cc formalin dicampur dengan 200 liter air dan antipar 500, 2.000 gram). Sebelum dilakukan penyemprotan yang ketiga, sekam dan perlengkapan kandang harus sudah dimasukkan ke dalam kandang. Jarak antar penyemprotan dilakukan antara 3-4 hari. 

Pemanas dinyalakan 2 jam sebelum DOC tiba. Hal ini untuk menghangatkan lantai dan kandang, suhu pada minggu pertama berkisar antara 80-900F. Penggunaan gasolek ini sesuai dengan jumlah brooder dan dipakai selama 21 hari. Untuk mengontrol temperatur dalam kandang dipasang termometer yang diletakkan 6 cm di atas litter. 

Pemeliharaan jantan dan betina dipisah dini untuk mencegah terlambatnya pertumbuhan betina akibat kalah bersaing dengan jantan. Jantan dipelihara di lantai sistem litter sedangkan betina di atas slat

Pemeliharaan Periode Starter

Pemeliharaan  periode indukan dilakukan pada umur 0 – 7 minggu.  Pemeliharaan jantan mulai umur sehari dipisah dari betina. Pemisahan pemeliharaan jantan pada masa awal ini dimaksudkan agar masing-masing kelamin dapat bertumbuh dengan baik dan wajar.  Jengger dan jari kaki ayam sebaiknya ketika diterima sudah dipotong. Hal ini dimaksudkan agar jantan tersebut mempunyai daya fertilitas yang baik. 

Perbandingan Jantan dan Betina

Pencampuran ayam jantan dan betina dilakukan pada umur 10-20 minggu dengan perbandingan 1 : 8 (1 ekor ayam jantan untuk 8 ekor ayam betina). Pencampuran jantan dan betina mempengaruhi daya fertilitas dari telur yang dihasilkan. 

Pemberian Cahaya Tambahan

Pemberian cahaya tambahan dalam kandang sistem tertutup sangat penting sekali, karena sinar matahari tidak bisa masuk secara langsung ke dalam kandang. Oleh karena itu diperlukan cahaya tambahan yang bisa diperoleh dari pemasangan lampu. Sistem pemberian cahaya ini sangat erat kaitannya dengan umur ayam yang dipelihara. Program pemberian cahaya ini disajikan dalam Tabel. 

Program Pemberian Cahaya Tambahan untuk Pembibitan Ayam

Umur

Lama Pencahayaan

(Jam)

Daya Lampu

(Watt)

1 – 4 hari

5 – 8 hari

9 – 12 hari

13 – 16 hari

17 – 21 hari

22 hari – 21 minggu

24

18

14

12

8

8

60

60

60

60

60

5

Sumber       : Maulani, 1998

Keterangan : Pada umur 22 hari – 21 minggu yang dinyalakan hanya

         lampu di atas slat, lampu yang digunakan dicat dengan warna

         putih setengah bagian.

Seleksi Ayam

Pelaksanaan seleksi ayam dilakukan jika ada ayam yang cacat atau sakit dalam kelompok di dalam kandang. Ayam-ayam tersebut harus dikeluarkan dari kelompoknya agar penyakitnya tidak menular. Selain itu, seleksi juga dilakukan pada ayam umur 35 minggu untuk mengetahui ayam yang dapat berproduksi baik dan ayam yang tidak dapat berproduksi. 

Tanda-tanda ayam yang tidak dapat berproduksi diantaranya adalah bulu putih bersih, sifatnya pemalu, paruh bagian depan berwarna kuning dan bersisik, jengger pendek dan jarak antar tulang pubis lebih sempit. Apabila ayam memiliki ciri-ciri tersebut, maka ayam tersebut harus diafkir. 

Penimbangan Bobot Badan

Penimbangan bobot badan dilakukan satu minggu sekali mulai dari masa starter hingga menjelang masa produksi. Selama penimbangan bobot badan ini, dilakukan pemisahan ayam-ayam berdasarkan bobot badannya. Tujuan dari pemisahan ini adalah untuk menghindari persaingan dengan ayam-ayam lain dalam mengkonsumsi pakan. Selain itu pemisahan juga bertujuan agar waktu produksi ayam-ayam tersebut dapat dimulai dalam waktu yang bersamaan. Ayam-ayam yang bobot badannya di bawah rata-rata harus diberi pakan yang sesuai dengan kebutuhannya sampai mencapai bobot badan standar, setelah itu baru disatukan kembali dengan kelompoknya. Ayam-ayam yang memiliki bobot badan di atas rata-rata, pemberian pakannya harus dibatasi lebih ketat. 

Penanganan Produksi

Pengumpulan telur untuk ditetaskan sebaiknya dilakukan setelah ayam umur 25 minggu. Pengambilan telur tetas sebaiknya dilakukan 4 - 6 kali dalam satu hari. Pengambilan telur yang sering ini dimaksudkan antara lain untuk mencegah penumpukan telur di dalam sarang  yang dapat menyebabkan telur retak atau pecah, untuk mencegah ayam mengerami telur dan untuk mencegah bibit penyakit masuk ke dalam telur. 

Telur-telur yang baru diambil kemudian diseleksi berdasarkan berat standar dan keadaan telur tetas itu sendiri. Telur-telur yang tidak memenuhi standar untuk dijadikan telur tetas, dapat dijadikan sebagai telur konsumsi. Standar telur tetas yang bisa ditetaskan adalah sebagai berikut.

  • Berat telur antara 52 – 70 gram per butir
  • Berbentuk oval
  • Perkapuran kerabang telur merata
  • Tidak ada retak atau cacat pada kerabang 

Telur-telur yang sedikit kotor tetapi memenuhi persyaratan untuk dijadikan sebagai telur tetas, dapat dibersihkan dengan menggunakan ampelas nomor nol atau dengan dikerik. Jika telur terlalu kotor, maka dilakukan pencucian dengan menggunakan larutan air dengan bromoquat, dengan perbandingan antara bromoquat dengan air adalah 1 : 200. 

Setelah telur diseleksi, maka dilakukan penyusunan telur dalam tray. Setiap tray biasanya memuat 84 butir telur dan penyimpanannya disusun sebanyak 5 tumpuk tray. Penyimpanan telur di dalam tray ini tidak boleh lebih dari 2 – 3 hari, dan disimpan dalam suhu 10 – 13oC dengan kelembaban udara sekitar 82 – 85 %. 

Tatalaksana Penetasan

Sebelum dilakukan penetasan, telur tetas harus difumigasi terlebih dahulu. Fumigasi ini bertujuan agar bibit penyakit yang terbawa selama proses pengangkutan dapat dihambat atau dikurangi perkembangbiakannya. Telur tetas tersebut difumigasi dengan menggunakan kalium permanganat (KmnO4) dan formalin, dengan perbandingan 1 : 2. Untuk volume ruang 12,9 m3 diperlukan KmnO4 sebanyak 250 gram dan formalin sebanyak 500 cc. 

Setelah difumigasi, telur tetas dimasukkan ke dalam ruangan yang bersuhu 16oC dengan kelembaban 75 – 80%. Penggunaan suhu 16oC di dalam ruangan ini dimaksudkan untuk membatasi atau mengurangi perkembangan embrio sepenuhnya (dengan kata lain embrio perlu diistirahatkan), sehingga semua telur dapat dimasukkan ke dalam setter (mesin pengeraman) secara serempak pada fase pertumbuhan embrio yang sama. Tingkat kelembaban     75 – 80% dimaksudkan agar pada tingkat kelembaban tersebut dapat mengurangi penguapan cairan telur dan tidak menyebabkan pembusukan telur selama periode pengeraman. 

Kegiatan penetasan pada umumnya terdiri dari lima tahap, sebagai berikut.

  1. Pemasukan telur ke rak telur (traying)
  2. Pemasukan telur pada mesin pengeram (setting)
  3. Pemeriksaan telur (candling)
  4. Pemindahan telur dari mesin pengeram ke mesin tetas (transfer)
  5. Penurunan DOC (panen) 

Sebelum telur dimasukkan ke dalam mesin pengeram, maka dilakukan pemanasan awal (pre-heat) terlebih dahulu di ruang belakang mesin. Pre – heat ini dilakukan selama tiga jam dengan tujuan agar titik air yang ada di permukaan telur dapat dihilangkan. Sistem penyimpanan yang digunakan adalah telur yang pertama kali disimpan/dimasukkan, dikeluarkan pertama kali untuk ditetaskan. 

Setelah dilakukan  pre–heat, telur dimasukkan ke dalam mesin pengeram (setter). Telur tetas berada di dalam setter selama 18 hari, dengan melalui masa kritis pada hari pertama sampai hari ketiga, dan hari ke – 19 sampai hari ke – 21. Suhu mesin pengeram diusahakan dipertahankan 37,2oC. Hal ini dikarenakan kehidupan embrio memerlukan  suhu yang optimal untuk tumbuh dan berkembang secara sempurna. Hal tersebut bukan berarti embrio tidak dapat tumbuh pada  suhu kurang dari atau lebih dari suhu optimal, namun jika suhu berbeda dari optimal, maka kecepatan pertumbuhan embrio akan terganggu. Kelembaban setter dipertahankan pada tingkat 60,6 %. Hal ini berarti jika tingkat kelembaban lebih tinggi dari 60,6 % maka metabolisme air dalam telur tidak dibuang melalui pori-pori kerabang secepat air yang dihasilkan. Jika hal ini  terjadi, maka embrio akan digenangi oleh air, dan pada kondisi demikian pemasukan O2 akan dihambat oleh air, sehingga menyebabkan kematian embrio, anak ayam lambat menetas atau anak ayam perutnya menjadi kembung dan lemas, karena kebutuhan O2 nya tidak dapat terpenuhi. 

Pemindahan telur dari setter ke hatcher (transfer) dilakukan pada hari ke – 19, yaitu bila anak ayam sudah membuat lubang di kulit (piping) kurang lebih       1 %. Pemindahan telur dilakukan secepat mungkin, maksimal 20 menit/6500 butir.  Pada hari ke – 21 anak ayam akan menetas. Bila 80 % bulu-bulu anak ayam yang menetas sudah kering, rak hatcher dikeluarkan. 

Setelah telur menetas tepat hari ke-21 dilakukan penurunan anak (pull chick) ayam umur sehari/DOC. Anak ayam dapat dikeluarkan setelah bulunya mengering, bila sebagian belum mengering maka dapat dibantu dengan kipas angin diluar mesin. 

Kemudian seleksi dilakukan setelah suhu tubuh sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Seleksi dimulai dari penurunan anak ayam dari hatcher. Anak ayam yang mempunyai pusar hitam, abnormal dan cacat anatomi, berat badan ringan, perut kembung, pusar hitam dan basah, lemah tidak bisa berdiri dan bulu cacat/tidak tumbuh dengan sempurna langsung diafkir. 

Sexing dilakukan untuk jenis ayam petelur untuk memisahkan antara jantan dengan betina. Kemudian dilakukan pemotongan paruh (debeaking) dan vaksinasi Marek’s. Standar berat yang digunakan perusahaan untuk berat DOC petelur adalah 34 gram/ekor sedangkan untuk DOC pedaging adalah 37 gram/ekor. 

Kemudian DOC dimasukkan ke kotak khusus persegi empat, setiap kotak diisi 100 ekor DOC ditambah 2 ekor untuk resiko transportasi yang terbagi dalam empat kotak dengan isi masing-masing 25 ekor. Pengemasan dilakukan dengan menampilkan kode produksi misalnya untuk pedaging dengan warna boks biru, untuk petelur dengan warna merah dan untuk jantan dengan warna hijau dan juga pada boks tertera tanggal tetas dan strain dari masing-masing DOC. 

  • Pencegahan Penyakit dan Pengelolaan Lingkungan

Penyakit karena bakteri

Penyakit Kolera. Penyakit kolera menyerang pada semua tingkatan umur ayam, bersifat menahun dan accut (ganas). Penyebabnya adalah bakteri Salmonella multocida.

Ciri-ciri : pada yang accut ayam mati mendadak tanpa diketahui gejalanya. Ayam mencret dengan kotoran berwarna kekuning-kuningan, kemudian menjadi kecoklat-coklatan atau kehijau-hijauan dan disertai bau yang busuk.

Pengobatan : dengan Tetra Chlorine Capsule diberikan langsung melalui mulut, atau dengan suntikan Terra mycin, atau dengan obat Ryomycin atau pun Noxal yang dicampurkan dalam air minum.

Penularan : melalui binatang vektor seperti lalat ataupun unggas lain. Melalui pernafasan. Makanan dan air minum yang sudah tercemar Salmonella. Luka pada kulit atau luka bekas suntikan. 

Pullorum (Berak Putih/Berak Kapur). Merupakan penyakit berak kapur yang disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum, dapat menyerang pada ayam yang masih muda maupun pada ayam dewasa.

Ciri-ciri : kotoran encer, berlendir dan berwarna putih seperti butir-butir kapur dan sering melekat pada bulu disekitar dubur. Mata tertutup dan sayap terkulai. Ayam lesu dan menggigil kedinginan.

Pengobatan : dengan obat Sulfa yang disuntikkan seperti Sulfa Strong Infeksi atau dengan Noxal yang dicampur dalam air minum atau Neo-Terra Mycine Soluble Powder.

Penularan : melalui kotoran, peralatan kandang. Melalui telur dari induk yang pernah terkena infeksi Pullorum. Kontak langsung dengan ayam yang sakit. 

Fowl typhoid. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella gallinarum. Sasaran yang diserang adalah ayam remaja dan dewasa. Ciri-ciri ayam terkena penyakit ini yaitu mengeluarkan tinja yang berwarna hijau kekuningan. Pengobatan penyakit ini adalah dengan antibiotika atau preparat sulfa. 

Parathyphoid. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dari genus Salmonella yang menyerang ayam di bawah umur satu bulan. Pengobatannya dengan preparat sulfa. 

Coryza (Pilek Ayam). Jenis penyakit ini lebih dikenal dengan snot (pilek) atau salesma yang menyerang ayam pada segala tingkatan umur yang disebabkan oleh bakteri Haemophilus gallinarum.

Ciri-ciri : pembengkakan pada muka terutama pada hidung dan mata. Hidung mengeluarkan cairan yang berlendir.  Sulit bernafas dan selalu bersin-bersin.

Pengobatan : dengan obat Trisulfa yang dilarutkan dalam air minum, atau Tetra Chrorine Capsule yang berlangsung diberikan lewat mulut atau dengan suntikan Streptomycine atau Terramycin.

Penularan : melalui makanan dan minuman serta peralatan yang dipergunakan. Kontak langsung dengan ayam yang menderita. 

Penyakit karena Virus

Marek. Penyakit ini di sebabkan oleh virus yang dapat mengakibatkan kematian pada ayam hingga 50%. Pencegahan terhadap penyakit ini yaitu dengan vaksinasi yang dilakukan di hatchery (tempat penetasan) dengan menggunakan virus hidup heterolog yang bertujuan untuk melawan perbanyakan virus liar secara dini pada ayam dan mencegah pertumbuhan tumor. 

Gumboro. Penyakit ini menyerang anak ayam umur 3-6 minggu yang berpengaruh menurunkan kekebalan tubuh. Penyakit ini berhubungan dengan penyakit lain seperti Marek, ND, Kolibasilosis dan Salmonellosis. 

Infeksi Bronchitis. Penyakit ini menyerang ayam segala umur. Pada ayam dewasa, penyakit ini dapat menurunkan produksi telur. Tingkat kematian ayam dewasa yang terserang penyakit ini rendah, tetapi pada anak ayam dapat mencapai 40%. Bila menyerang ayam petelur dapat menyebabkan telur lembek, kulit telur tidak normal, putih telur encer dan kuning telur mudah berpindah tempat. Pencegahan terhadap penyakit ini dengan vaksinasi. 

Infeksi Laryngotracheitis. Penyakit ini merupakan penyakit pernafasan yang serius yang disebabkan oleh virus Tarpeia avium. Virus ini di luar mudah dibunuh dengan desinfektan (karbol). Pencegahan terhadap penyakit ini yaitu dengan vaksinasi dan sanitasi yang ketat. 

CRD (Chronic Respiratory Disease). Penyakit ini disebabkan oleh virus, merupakan penyakit yang sulit dibedakan dengan snot. Menyerang pada ayam segala umur.

Ciri-ciri : batuk, pilek dan disertai dengan bunyi ngorok dalam pernafasannya.

Pengobatan : Tetra Chlorine Capsule melalui mulut, Pirivet, TM 10 atau Aurofac.

Penularan : melalui makanan, air minum dan peralatan yang digunakan yang telah tercemar virus. Melalui telur tetas. 

NCD (New Castle Disease). Dikenal dengan penyakit tetelo yang sangat ganas menyerang ayam pada segala umur. Pada umumnya penyakit ini berjangkit pada waktu terjadi pergantian musim yaitu dari musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Penyakit ini termasuk penyakit menular dan dapat menyebabkan kematian 80-100%.

Ciri-ciri : ayam sulit bernafas, batuk-batuk, bersin dan timbul bunyi ngorok. Kepala memutar-mutar dan diikuti kelumpuhan. Kotoran encer berwarna kehijau-hijauan dan kadang disertai darah. Jengger dan pialnya berwarna biru kehitam-hitaman. Sayap turun menggantung dan jalan terseret.

Pengobatan : belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Salah satu cara yaitu dengan vaksinasi dan membakar/mengubur ayam yang mati. Sebaiknya ayam yang telah terinfeksi dipisahkan agar tidak menular pada ayam yang lain.

Penularan : melalui hubungan langsung dengan ayam yang terinfeksi. Melalui kotoran maupun bangkai ayam yang sudah sakit. Melalui pernafasan. Melalui binatang vektor seperti serangga. Melalui makanan, air minum dan pendekatan yang tercemar bibit penyakit. 

Cacar (Fowl Pox). Penyakit cacar yang disebabkan oleh virus Borreliota avium yang menyerang pada ayam segala umur.

Ciri-ciri : pada jengger, kelopak mata dan pial terdapat bintil-bintil kecil berwarna merah yang lama kelamaan tumbuh menjadi besar dan berwarna kekuning-kuningan yang akhirnya akan menjadi hitam (gelap). Pada mata dan hidung keluar cairan.

Pengobatan : Bintil-bintil yang terdapat pada jengger, pial diambil sampai bersih dengan menggunakan silet, kemudian bekas luka tersebut diberi obat yodium tincture 2 %, Penicilin zalf, Tetraplex capsule atau Methylen blue 1%.

Penularan : melalui binatang vektor seperti serangga nyamuk dan lalat. Melalui makanan, minuman yang telah tercemar bibit penyakit melalui pernafasan. 

Penyakit karena sebab yang lain

Mycosis. Merupakan penyakit sariawan yang menyerang alat pencernaan yang disebabkan oleh jamur Candida albicans.

Ciri-ciri : dalam mulut terdapat banyak lendir. Bulu ayam menjadi kasar. Nafsu makan menurun.

Pengobatan : Dengan larutan Cupri Sulfat.

Penularan : Melalui makanan dan minuman yang tercemar bibit penyakit. 

Favus. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Lophoophyton gallinae yang menyerang pada bagian kulit yang tidak berbulu seperti jengger dan pial.

Ciri-ciri : adanya bercak-bercak berwarna putih pada jengger dan pial, lebih parah bila bercak tersebut menjadi kuning keabuan.

Pengobatan : dengan formalin yang dicampur vaselin dengan perbandingan 1:20 kemudian diusapkan pada bagian yang sakit. Dengan yodium tincture yang diusapkan pada bagian yang sakit. 

Coccidiosis. Merupakan penyakit berak darah yang disebabkan oleh  protozoa yang disebut Coccidia. Penyakit ini menyerang pada ayam segala umur. Bagian tubuh yang diserang adalah usus yang menyebabkan radang usus dan dapat menyebabkan kematian.

Ciri-ciri : ayam nampak pucat,lesu dan mengantuk. Sayap terkulai turun. Mencret, berlendir warna coklat kemerah-merahan karena bercampur darah. Bulu kusam. Ayam menggigil kedinginan.

Pengobatan : Tetra Chlorine Capsule diberikan melalui mulut, disuntik dengan Sulfa Strong, atau dengan Noxal, Trisulfa tablet yang dilarutkan dalam air minum.

Penularan : melalui kotoran ayam yang mencemari makanan dan minuman. Melalui binatang vektor seperti tikus dan serangga. Peralatan yang tercemar bibit penyakit. 

Cacingan. Penyakit ini disebabkan oleh cacing yang hidup di dalam usus ayam sebagai parasit yaitu seperti cacing Ascaris, cacing pita, cacing mata.

Ciri-ciri : ayam kurus dan pucat, lemah tidak bersemangat. Sayap terkulai. Kotoran encer berlendir berwarna keputihan seperti berak kapur. Pada cacing yang menyerang mata, mata ayam bengkak dan mengeluarkan cairan.

Pengobatan : dengan Warm X, Piperzine Powder yang dibubuhkan ke dalam air minum. Dengan Tenoban berupa pil atau Dbutyltin. Pada cacing yang menyerang mata, dengan Creolin 5% yang diteteskan pada mata.

Penularan : melalui lipas, binatang perantara seperti serangga, cacing. Melalui kotoran yang mengandung telur-telur cacing yang mencemari makanan dan minuman. 

Penyakit Defisiensi

Merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan suatu unsur makanan dalam ransum secara terus-menerus. Akibatnya seperti kelumpuhan, jari kaki melengkung ke dalam, kaki bengkok. Pengobatan dan pencegahannya adalah dengan memberikan ransum yang baik yang cukup vitamin dan mineral. 

Parameter yang sangat menentukan dalam budidaya selama pemeliharaan adalah serangan penyakit, terutama tetelo (ND), bercak darah dan “stress” (cekaman). Tindakan terbaik adalah melakukan tindakan pencegahan. Pencegahan penyakit dilakukan secara ketat dengan melakukan vaksinasi serta pemberian suplemen vitamin dan mineral. Hal ini disamping untuk menurunkan angka kematian juga untuk meningkatkan pertumbuhan bobot badan. Vaksin yang paling banyak dibutuhkan peternak adalah vaksin ND dengan tingkat kebutuhan 64% dari total vaksin yang dibutuhkan dalam masa pemeliharaan, disusul vaksin IB (Infectious Bronchitis) dengan tingkat kebutuhan 15% dan vaksin IBD dengan tingkat kebutuhan 14%. Sisanya sebanyak 7% dibutuhkan untuk memvaksin penyakit SNOT, ILT, EDS dan SHS. 

Selain itu, akibat adanya perubahan musim, bibit penyakit biasanya berada  dalam posisi yang diuntungkan, oleh karenanya peternak harus mengantisipasi kedatangan musim hujan agar ayam tetap berproduksi optimal. 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh peternak untuk mengantisipasi hal tersebut, diantaranya dijelaskan sebagai berikut.

  • Waspadai kualitas air, karena curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan perubahan pada kualitas sumber-sumber air permukaan, sehingga total bahan terlarut maupun kandungan dan variasi mikroorganisme yang terkandung dalam sumber-sumber air tersebut umumnya akan jauh lebih tinggi daripada saat musim kemarau.
  • Kurangi risiko kontaminasi jamur, karena hembusan angin yang relatif lebih kencang dan tidak menentu arahnya memungkinkan untuk menerbangkan partikel-partikel yang lebih besar seperti spora jamur.
  • Atasi stress, terutama pada anak ayam. 

Usaha untuk melakukan pencegahan penyakit, dapat dilakukan program sanitasi, vaksinasi serta pemberian vitamin. Sanitasi merupakan hal yang penting pada unit penetasan mulai dari pengelola sampai alat yang digunakannya. Pengelola penetasan melakukan penyemprotan dengan menggunakan larutan desinfektan dan penggantian pakaian bila masuk ke dalam unit penetasan. Hal ini bertujuan untuk membunuh bibit penyakit yang terdapat pada karyawan penetasan. Sanitasi juga dilakukan pada peralatan dan perlengkapan yang digunakan. 

Program vaksinasi dilakukan secara berkala untuk mencegah berjangkitnya wabah penyakit. Penyakit yang biasa menyerang diantaranya adalah New Castle Desease (ND), Infectious Bronchitis (IB) dan Infectious Bursal Desease (IBD). Vaksinasi ini dilakukan sesuai dengan jenis atau sifat vaksin yang digunakan. 

Pemberian vitamin pada ayam bertujuan untuk mencegah stress dan menambah daya tahan tubuh ayam tersebut. Vitamin yang banyak digunakan adalah vitamin C 150 cc, yang diberikan setiap dua kali seminggu. Pemberian vitamin ini harus dilakukan secara berkala. 

  • Manajemen Operasional

Susunan organisasi peternakan pembibitan ayam ras, biasanya terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian farm (peternakan) dan hatchery (penetasan). Kedua bagian ini di bawah koordinasi direktur, yang dalam menjalankan fungsinya bekerjasama dengan konsultan. Setiap kepala bagian membawahi beberapa staf sesuai dengan fungsi dan kebutuhannya. 

  • Desain Peternakan

Dalam mendirikan peternakan diperlukan tanah untuk dua hal utama, yaitu untuk tempat berdirinya kandang, gudang dan tempat perkantoran atau tempat tinggal peternak dan para pekerja dan tanah untuk menghasilkan air bagi kebutuhan ternak dan para pekerja. Patokan dalam pemilihan tanah atau lokasi untuk mendirikan peternakan adalah ketersediaan jalan ke lokasi tersebut dan jarak lokasi tersebut dengan daerah pemasaran.