Last Updated:
Usaha Budidaya Kodok Lembu (Bullfrog)
Usaha Budidaya Kodok Lembu (Bullfrog) https://www.pustakadunia.com

Usaha Budidaya Kodok Lembu (Bullfrog)

Usaha Budidaya Kodok Lembu (Bullfrog) - Salah satu komoditas perikanan yang memiliki prospek yang cukup baik untuk dikembangkan adalah kodok.

Paha kodok merupakan sumber bahan pangan yang memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan rasa yang enak, sehingga tak mengherankan jika permintaan kodok untuk konsumsi baik dalam negeri maupun luar negeri setiap tahunnya terus meningkat, sedangkan pasokannya terus menurun.

Penurunan ekspor kodok tersebut terjadi karena berkurangnya stok kodok dari alam.

Pada tahun 1974-1978 Indonesia pernah menjadi pengekspor kodok ketiga terbesar setelah India dan Bangladesh, bahkan pada tahun 1979 menjadi pemasok kodok kedua terbesar ke negara-negara Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) yaitu sebesar 34 persen dari total impor negara-negara tersebut, sedikit dibawah India (38 persen) (Anonimous, 1990).

Peluang Usaha Budidaya Kodok Lembu (Bullfrog)

Pada saat itu kodok yang diekspor merupakan hasil penangkapan dari alam, seperti sawah, danau, sungai, dan perairan lainnya.

Tahun 1985 India melarang penangkapan kodok dari alam karena dapat merusak keseimbangan lingkungan demikian juga Bangladesh dan Indonesia.

Menghadapi masalah tersebut, maka mulai berkembanglah usaha budidaya kodok, terutama kodok asli perairan Indonesia.

Namun usaha-usaha itu tidak berhasil karena kodok-kodok tersebut sulit beradaptasi dengan lingkungan budidaya.

Pada tahun 1980 Indonesia mendatangkan jenis kodok asal Amerika Utara  dari Taiwan yang disebut bullfrog.

Kodok tersebut diberi nama kodok lembu di Indonesia karena suaranya yang seperti lembu.

Kodok lembu (Rana catesbeiana) ternyata memiliki berbagai kelebihan jika dibandingkan beberapa kodok asli Indonesia.

Kelebihan tersebut diantaranya mudah beradaptasi dengan lingkungan budidaya, ukurannya lebih besar, pertumbuhannya lebih cepat (dapat mencapai bobot 500-600 gram), tidak tergantung pada pakan alami atau dapt diberi pakan, dan kandungan gizinya lebih tinggi jika dibandingkan dengan kodok-kodok lain.

Kodok lembu memiliki kandungan protein sebesar 19,76 persen, lemak 0,63 persen, air 75,63 persen, dan abu 2,36 persen.

Sementara jenis kodok konsumsi lainnya yang diekspor mengandung protein 15,23 persen, lemak 0,59 persen, air 80,59 persen, dan abu 3,38 persen (Anonimous, 1990).

Kelebihan-kelebihan tersebut sangat memungkinkan kodok lembu dibudidayakan di Indonesia.

Sejak saat itu, dimulailah budidaya kodok lembu yang dimulai dengan ujicoba yang dilakukan di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi, Jawa Barat. Ujicoba tersebut dinilai cukup berhasil dan kemudian disebar luaskan ke daerah-daerah lain di tanah air.

Namun, jumlah masyarakat yang membudidayakannya masih sedikit dan teknologinya masih belum banyak dikuasai sehingga belum mampu meningkatkan produksi kodok untuk menggantikan kodok dari hasil tangkapan.

Dengan demikian budidaya kodok lembu ini masih cukup potensial untuk berkembang.

Berkembangnya budidaya kodok lembu ini diharapkan bisa meningkatkan produksi dalam negeri, menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan aktivitas usaha.

Artikel tentang Usaha Budidaya Kodok Lembu (Bullfrog) untuk bisnis usaha budidaya kodok lembu secara umum bertujuan  untuk mengkaji kelayakan usaha, kendala kritis dan strategi pengembangannya.

  1. Mengkaji karakteristik dan potensi secara ekonomis mengenai komoditas budidaya kodok lembu serta kondisi perkembangannya
  2. Melakukan identifikasi terhadap kriteria teknis produksi dan investasi usaha budidaya kodok lembu.
  3. Melakukan analisis kelayakan finansial dan jenis investasi yang dibutuhkan dalam pengembangan bisnis usaha budidaya kodok lembu.
  4. Mengetahui titik kritis pinjaman untuk bisnis budidaya kodok lembu.
  5. Mengetahui posisi perkreditan dalam bisnis budidaya kodok lembu.

Cakupan dan Ruang Lingkup Artikel Usaha Budidaya Kodok Lembu (Bullfrog)

Ruang lingkup komoditas dan usaha, hanya mencakup kegiatan budidaya kodok lembu, yaitu kegiatan pembesaran.

Pada usaha pembesaran, produk yang dihasilkan berupa kodok lembu ukuran konsumsi. Untuk ruang lingkup wilayah,, mencakup wilayah nasional dengan prioritas kajian pada wilayah sentra produksi.

Ruang lingkup analisa, mencakup deskripsi kondisi umum, analisis potensi, peluang dan hambatan, analisis kelayakan finansial, dan analisis strategi keberhasilan.

Pendekatan dan Metodologi Penulisan Artikel

Pengkajian yang dilakukan meliputi identifikasi dan analisis kebutuhan investasi serta pengkajian deskriptif prospek pengembangan budidaya kodok lembu.

Keputusan dan rekomendasi diambil berdasarkan informasi data sekunder, laporan terkait, survei ke lokasi usaha budidaya dan studi banding.

Penelusuran data sekunder yang digunakan dalam pengkajian ini antara lain data perkembangan populasi kodok lembu dan produksinya, perkembangan harga, data ekspor, dan laporan laporan hasil riset.

Disamping itu juga data dari laporan tahunan dinas terkait, jurnal perikanan, hasil penelitian, makalah seminar dan kajian ilmiah lainnya.

Indikator dalam analisis finansial meliputi perhitungan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Return of Invesment (ROI), Payback Period, Benefit Cost Ratio (BCR) dan Break Event Point (BEP).

Analisis finansial dilakukan untuk mengkaji tingkat keuntungan usaha jangka pendek maupun usaha jangka panjang, kemampuan dalam mengatasi gejolak suku bunga perbankan dan kecepatan perputaran modal.

Pengkajian ini juga diarahkan guna menentukan persyaratan teknis dan strategi pengembangan usaha budidaya kodok lembu yang penting bagi persyaratan pembiayaan.

Persyaratan teknis dilakukan dengan menggunakan standar dalam teknik budidaya kodok lembu, sedangkan penyusunan strategi dilakukan dengan menggunakan metode SWOT kualitatif, didasarkan pada analisis potensi utama dan kendala kritis dalam bisnis budidaya kodok lembu.

Sebagai sarana untuk melakukan analisis kelayakan usaha dan arah pengembangan digunakan beberapa kebijakan pemerintah yang berkaitan.

Budidaya Kodok Lembu Sebagai Suatu Sistem

Budidaya kodok merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa aspek yang terdiri dari aspek pembenihan, pembesaran, dan pasca panen. 

Ketiga aspek tersebut harus saling mendukung untuk mendapatkan produk yang berkualitas seperti terlihat pada siklus produksi kodok.

Siklus Pemeliharaan Budidaya Kodok Lembu

Ciri-Ciri Khas Kodok Lembu (Bullfrog)

Walaupun kodok lembu sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat Indonesia tetapi untuk mengkaji secara jelas sifat biologi dan perilaku kodok lembu masih sedikit orang yang melakukannya.

Pengenalan terhadap sifat biologi dan perilaku kodok lembu akan memudahkan petani dalam membudidayakannya.

Pengenalan terhadap kodok lembu dapat dipelajari dalam beberapa aspek biologinya, yaitu klasifikasi, morfologi, habitat, makanan, perkembangbiakannya, dan sebagainya.

Klasifikasi Kodok Lembu (Bullfrog)

Menurut Grzimek (1974), klasifikasi kodok lembu adalah sebagai berikut.

Filum            :   Chordata

Kelas             :   Amphibia

Sub kelas       :   Anaumorpha

Ordo             :   Anaurans

Subordo        :   Diplasiocoela

Famili            :   Ranidae

Sub famili     :   Raninae

Genus            :   Rana

Spesies          :   Rana catesbeiana Shaw 

Morfologi Kodok Lembu (Bullfrog)

Kodok lembu memiliki susunan tubuh yang terdiri dari kepala, badan dan alat gerak.

Kepala kodok lembu terdiri dari beberapa organ, yaitu mulut, mata, dan gendang telinga dan lubang hidung.

Mulut berukuran lebar dan berada sedikit kebawah serta membelah secara horizontal ke hampir seluruh bagian kepala dengan lubang hidung yang kecil.  Mata berwarna hitam dan memiliki pinggiran berwarna coklat muda.

Gendang telinga berbentuk cincin berwarna coklat tua dan bagian tengah berwarna hijau. 

Badan yang terdiri dari perut dan punggung memiliki panjang tiga kali panjang kepala. 

Perut berwarna putih kekuningan dengan kulit yang halus dan elastis. 

Punggung berwarna hijau dengan kulit agak kasar dan tulang punggungnya menonjol sehingga tampak bungkuk. 

Kodok lembu memiliki dua bulah alat penggerak yaitu sepasang kaki depan dan belakang. 

Kaki kodok terbagi menjadi tiga bagian, yaitu paha, betis dan jari-jari. 

Panjang paha dan betis hampir sama, akan tetapi daging pada paha lebih besar jika dibandingkan dengan daging betis. 

Kaki depan kodok lembu tidak terdapat selaput renang, dengan jari-jari sebanyak 4 buah.  Kaki belakang memiliki jari.jari 5 buah dan memiliki selaput renang yang elastis.

Panjang kodok lembu bisa mencapai 15-17,5 cm, sedangkan besarnya  bisa mencapai 1 kg. Morfologi kodok lembu tersebut adalah secara umum, sedangkan antara kodok lembu jantan dan betina dapat dibedakan

Perbedaan antara Kodok Lembu Jantan (kanan) dan Betina (kiri)

Perbedaan kodok lembu  jantan dan betina adalah sebagai berikut.

Kodok lembu Bullfrog jantan

  • Ukuran lingkaran gendang telinga, dua kali lebih besar dari lingkaran mata,

  • Warna kulit disekitar kerongkongan hijau kekuningan,

  • Ibu jari bagian depan relatif lebih besar,

  • Ukuran badan relatif lebih kecil,

  • Memiliki kantung suara yang terletak diantara selaput gendang dan pangkal kaki depan. 

Kodok lembu Bullfrog betina

  • Ukuran lingkaran gendang telinga relatif sama dengan lingkaran mata,
  • Warna kulit disekitar kerongkongan putih dengan bintik-bintik kehitaman,
  • Ibu jari bagian depan relatif lebih besar,
  • Tidak memiliki kantung suara. 

Habitat dan Siklus Hidup Kodok Lembu Bullfrog

Kodok Lembu Bullfrog memiliki dua jenis habitat. Pada masa kecebong/berudu hidup di air, sedangkan pada stadia percil atau kodok muda sudah memerlukan daratan sebagai tempat hidupnya dan hanya sekali sekali saja memerlukan air.

Habitat kodok di alam biasanya di genangan-genangan air seperti danau, reservoir, dan sungai-sungai yang aliran airnya tidak terlalu deras, kodok lembu dapat hidup di daerah tropis maupun sub tropis, akan tetapi pertumbuhannya lebih cepat di daerah sub tropis.

Kodok lembu merupakan perenang cepat, Karena memiliki kaki yang kuat.

Warna tubuh bermacam-macam dan tidak membedakan jenis kelamin, namun karena disebabkan oleh pengaruh sinar matahari dan keadaan lingkungan.

Dalam siklus hidupnya, Kodok lembu dibagi menjadi empat macam fase, yaitu telur, berudu, percil dan dewasa.

Perubahan bentuk terjadi pada fase berudu dan fasa percil dan hal ini disebut juga transformasi/metamorfosis. 

Waktu yang diperlukan untuk mengadakan perubahan bentuk berkisar antara dua sampai tiga bulan, tergantung dari kualitas air dan makanan yang tersedia dalam media hidupnya. 

Makanan dan Kebiasaan Makan Kodok Lembu Bullfrog

Pada stadia berudu lebih bersifat omnivora (pemakan segala), sehingga termasuk memakan plankton, jasad renik, dan lumut.

Berudu juga dapat bersifat scavenger atau pemakan bangkai seperti anak ikan mati dan sebagainya. 

Disamping pakan alami, berudu juga dapat diberikan pakan buatan asalkan halus.

Contohnya seperti konsentrat sebagai pakan ternak.

Pada stadia percil sampai dewasa, kodok lembu lebih banyak memakan makanan yang bergerak seperti serangga., cacing tanah, belatung/ulat, serta ikan kecil, sehingga makanan tersebut baru dimakan apabila dalam keadaan bergerak. 

Perkembangbiakan Kodok Lembu Bullfrog di Alam

Kodok lembu memijah pada awal musim hujan dan selama musim hujan, terutama di kolam, danau dan perairan umum lainnya. 

Kodok lembu jantan akan mengeluarkan suara yang khas untuk memanggil sang betina.

Sebagai proses perkawinan kodok lembu jantan yang umumnya lebih kecil, akan berada akan berada dibagian atas kodok lembu betina, dengan rangsangan tertentu betina akan mengeluarkan telur dan bersamaan dengan itu jantan akan mengeluarkan sperma, sehingga pembuahan akan terjadi diluar.

Telur akan ditempelkan pada substrat yang ada seperti akar eceng gondok, hidrilla atau rerumputan yang berada dalam air yang jernih.

Persyaratan Teknis Investasi Kodok Lembu 

Kodok lembu sebagai salah satu jenis kodok yang berasal dari luar negeri jangan sampai menimbulkan dampak negatif terhadap plasma nutfah asli Indonesia. 

Dampak negatif itu diantaranya sebagai hama, kompetitor, dan pembawa (carrier) penyakit terhadap komoditas asli. 

Pengembangan kodok lembu tetap mengacu pada perkembangan berwawasan lingkungan sebagai upaya sadar dan berencana mengelola sumberdaya secara bijaksana dalam pengembangan untuk meningkatkan mutu hidup yang selalu perlu dijaga untuk keserasian hubungan antara berbagai kegiatan.

Karena kodok lembu bukan komoditas asli Indonesia walaupun secara resmi telah masuk Indonesia melalui prosedur yang benar, maka dalam pengembangan budidaya perlu lebih waspada dengan berbagai kebijaksanaan berikut ini.

  • Pengaturan lokasi/zona usaha kodok.  Pengaturan zonasi budidaya kodok ini dimaksudkan agar kegiatan usaha budidaya ini tidak mengganggu lingkungan usaha lain atau pemukiman penduduk. Gangguan lingkungan tersebut diantaranya suara kodok yang ramai dan keras, kemungkinan timbulnya bau akibat sisa pakan dan kotoran atau jika terlepas dapat berkeliaran keluar masuk rumah penduduk yang dapat menggangu jika ada penduduk merasa jijik.  Untuk pembudidayaan kodok lembu diupayakan jauh dari pemukiman, kecuali jika penduduk telah sepakat.
  • Kesehatan kodok lembu perlu diamati terus menerus untuk mengetahui kemungkinan timbulnya penyakit selama dibudidayakan.  Pengamatan ini menyangkut kodok lembu sendiri, timbulnya penyakit pada hewan lain disekitarnya sebagai akibat adanya budidaya kodok lembu . 
  • Penelitian dan ujicoba terhadap pemanfaatan sisa/limbah pengolahan bagi kodok yang dipotong perlu dilakukan, sehingga sisa pengolahan tersebut dapat memberi nilai tambah dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.  Kemungkinan pemanfaatan limbah tersebut untuk bahan baku pakan, kulitnya untuk bahan kerajinan dan sebagainya.
  • Budidaya kodok lembu tidak memerlukan air yang banyak, meskipun begitu budidaya kodok lembu jangan sampai merugikan kegiatan budidaya lain yang memerlukan/membutuhkan air juga, sehingga dengan kegiatan budidaya kodok lembu tidak menyebabkan mundurnya usaha lain.

Pembinaan Produksi Kodok Lembu (Bullfrog)

Pembinaan produksi dalam jangka pendek bertujuan memperkenalkan dan menyebarluaskan usaha budidaya kodok ke daerah-daerah potensial. 

Dalam tahap ini akan dilaksanakan pengenalan dan penerapan teknologi budidaya kodok kepada petani dan pengusaha. 

.   Pola Pembinaan Produksi Kodok (Rana sp.)  Jangka Pendek (Deptan, 1996)

Pola Pembinaan Produksi Kodok (Rana sp.)  Jangka Pendek (Deptan,

1996)

Bersamaan dengan itu Direktorat Jendral Perikanan (1990) akan menjamin ketersediaan percil melalui suatu mekanisme sebagai berikut.

  • Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) akan memproduksi calon-calon induk  dari spesies Rana catesbiana dan mengupayakan kebutuhan "Grand Parent Stock" untuk menghasilkan calon induk. Calon-calon induk tersebut disebarkan kedaerah-daerah pengembangan untuk digunakan sebagai induk pembenihan di BBI Sentral/Lokal.
  • BBI Sentral/Lokal membesarkan calon induk kodok yang diperoleh dari BBAT.  Dengan hanya menggunakan induk-induk dari BBAT maka BBI akan memproduksi berudu, Kemudian berudu dibesarkan kepada petani pendeder untuk dipelihara sampai menjadi percil.
  • Pendederan dilakukan oleh petani pendeder. Petani pendeder hanya boleh memperoleh berudu dari BBI. Petani pendeder tidak diperbolehkan memproduksi berudu sendiri.  Petani pendeder hanya diperbolehkan membesarkan berudu menjadi percil. Hasil percil tersebut disalurkan kepada petani/pengusaha pembesaran.
  • Pengusaha/petani pembesaran memperoleh percil dari petani pendeder. Percil akan dibesarkan untuk memperoleh kodok konsumsi. Kodok konsumsi tidak boleh dijadikan induk kecuali setelah melalui seleksi oleh BBAT.

Mekanisme tersebut dilaksanakan dengan maksud sebagai sarana pengendali mutu benih kodok unggul. Mekanisme pembinaan produksi dilakukan secara  jangka pendek .

Di lain pihak pembinaan jangka panjang bertujuan untuk mengembangkan usaha budidaya kodok lembu pada tingkat usaha yang lebih massal dan komersial dimana mekanisme penyediaan dan distribusi percil hampir seluruhnya ditangani oleh swasta.

Dalam pola ini pengusaha pembenihan swasta diijinkan untuk mendapatkan "Grand Parent Stock". 

Walaupun demikian keterkaitan instansi baik dipusat maupun daerah tetap berperan, terutama dalam bidang pengawasan mutu percil dan produksi kodok konsumsi.

Untuk memperluas kesempatan berusaha dan lapangan kerja maka untuk pengadaan berudu dan percil seyogyanya dilakukan melalui spesialisasi usaha. 

Dengan demikian akan timbul spesialisasi usaha pembenihan yang menghasilkan berudu, usaha pendederan yang menghasilkan percil dan usaha pembesaran yang menghasilkan kodok konsumsi.

Pola Pembinaan Produksi Kodok (Rana sp.) Jangka Panjang
Pola Pembinaan Produksi Kodok (Rana sp.) Jangka Panjang

Pohon Industri Usaha Budidaya Kodok Lembu (Bullfrog)

Keberadaan usaha budidaya kodok lembu melibatkan berbagai industri lain, baik sebagai pemasok untuk berjalannya proses produksi maupun sebagai penerima produk hasil budidaya.

Usaha Budidaya Kodok Lembu (Bullfrog)

Diversifikasi Produk Kodok Lembu

Ekspor kodok lembu selama ini yang utama dilakukan dalam bentuk paha beku, namun ekspor kodok dalam keadaan hidup sudah dikembangkan.

Ekspor kodok hidup ke Singapura sudah dikembangkan dan perlu diperluas. Kecuali pemanfaatan kulit kodok untuk industri kerajinan dan sisa/limbah dari kodok lembu yang diproses dapat dijadikan bahan baku untuk industri pakan budidaya lainnya yang dapat dilihat pada pohon industri diversifikasi produk kodok. 

Semua bagian badan kodok lembu dapat dimanfaatkan serta memberi nilai tambah. Selain memperbanyak macam produk, kita juga harus mempertahankan nilai mutu dari daging kodok lembu itu sendiri.

Secara komersial warna daging kodok dipersyaratkan dan dikategorikan warna putih kekuning-kuningan. 

Berdasarkan permintaan pasar, ukuran kodok dikategorikan sebagai berikut :

              4  -  8   pc/kg                                                              25 - 32  pc/kg

              9  - 12  pc/kg                                                              33 - 36  pc/kg

              13 - 16  pc/kg                                                             37 - 40 pc/kgg

             17 - 24  pc-/kg                                                            di atas 40  pc/kg

Gambar Salah Satu  Komoditas Ekspor Kodok Lembu dalam Bentuk Paha Kodok (bullfrog leg).
Gambar Salah Satu  Komoditas Ekspor Kodok Lembu dalam Bentuk Paha Kodok (bullfrog leg).

Ukuran yang paling banyak diminta adalah ukuran 12–16  pc/kg keatas. Jika kodok lembu  terlalu besar, konsumen juga tidak suka. 

Dengan budidaya, diharapkan warna daging dan ukuran yang diminta dapat terpenuhi dan kontinuitasnya lebih terjamin.

Pohon Industri Diversifikasi Kodok Lembu

Pohon Industri Diversifikasi Kodok Lembu

Negara tujuan/pengimpor kodok lembu memiliki persyaratan-persyaratan tertentu yang cukup ketat dari segi mutu.  Karena itu pembinaan mutu kodok lembu terus ditingkatkan.  Standard kualitas paha kodok lembu untuk ekspor ditetapkan sebagai berikut :

  • Persyaratan minimal organoleptik adalah 
  • Nilai Total Plate Count bakteri maksimal 5 x 1.00.000 per gram.
  • Tidak terdapat bakteri Escherichia coli.
  • Uji bakteri untuk Salmonella, Staphylococcus aureus, Vibrio cholera, Shigella hasilnya negatif.
  • Suhu maksimal untuk produk beku adalah – 20O 

Fatwa MUI Mengenai Kehalalan Kodok Lembu

Fatwa MUI mengenai hukum makan dan membudidayakan kodok tidak menyebutkan secara tegas kehalalan atau keharaman memakan atau membudidayakan kodok.

Dalam Keputusan Komisi Fatwa tentang Hukum Makan dan Membudidayakan Kodok (MUI, 1984) disebutkan bahwa MUI membenarkan adanya pendapat madzhab Syafei/jumhur ulama tentang tidak halalnya memakan daging kodok, dan membenarkan adanya pendapat Maliki tentang halalnya daging kodok tersebut.

Masyarakat tidak terikat pada suatu madzhab dan bebas memilih karena pendapat madzhab bukanlah agama.

Selain itu diputuskan juga bahwa membudidayakan kodok hanya untuk diambil manfaatnya, tidak untuk dimakan, tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

PENYEBARAN WILAYAH USAHA Budidaya Kodok Lembu (Bullfrog) 

Usaha budidaya kodok lembu  sudah mulai menyebar di seluruh pelosok tanah air terutama di pulau Jawa, Bali, Sumatera. 

Usaha tersebut terdiri dari usaha pembenihan dan pembesaran.

Usaha pembenihan sebagian dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintah seperti Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) yang terdapat di Sukabumi dan Jambi, Balai Benih Ikan (BBI) yang terdapat di hampir seluruh pelosok tanah air dan dinas-dinas perikanan setempat. 

Selain oleh lembaga-lembaga pemerintah beberapa petani dan pihak swasta juga sudah ada yang mengusahakan benih (percil), sedangkan usaha pembesaran kodok lembu juga terdapat di beberapa daerah tersebut. 

Usaha pembesaran kodok lembu sudah menyebar di seluruh pelosok Pulau Jawa, sebagian Pulau Sumatera, dan Bali. 

Kegiatan pembesaran ini kebanyakan dilakukan oleh pihak swasta usaha skala kecil dan menengah.  Daftar petani kodok lembu pada saat ini di bawah binaan BBAT Sukabumi dapat dilihat pada Tabel.

Potensi usaha budidaya kodok lembu di Indonesia masih sangat terbuka  mengingat sumber daya alam dan wilayah perairan tawar Indonesia yang sangat luas. 

Selain luas dan besarnya potensi, budidaya kodok lembu relatif  mudah untuk dilakukan

Perkembangan budidaya kodok lembu di Indonesia akan membaik jika mendapat dukungan dari pemerintah, investor, petani dan peneliti. 

Permintaan pasar juga masih terbuka luas karena permintaan dunia sebesar 100 ton per minggu baru dapat terpenuhi sepertiganya (Balai Budidaya Air Tawar, 1990).

Perkembangan usaha budidaya kodok lembu juga akan menuju ke arah yang lebih baik dengan semakin banyaknya usaha pembenihan dan penyedia sarana produksi  yang mendukung budidaya kodok lembu ini.

Dengan semakin banyaknya rantai produksi dan distribusi kodok lembu maka akan memperluas lapangan kerja dan memperkecil tingkat pengangguran.  

Daftar Petani Kodok Lembu Di Bawah Binaan BBAT  Sukabumi

No

Nama Petani

Alamat

Propinsi

1.

Kelompok Usaha Bersama Perikanan “ Madani”

Bandung

Jawa Barat

2.

Bapak Incu

Lumajang

Jawa Timur

3.

Kelompok Usaha Bersama Perikanan “Mina Barokah”

Lumajang

Jawa Timur

4.

Bapak Acep

Sukabumi

Jawa Barat

 Referensi Artikel Usaha Budidaya Kodok Lembu (Bullfrog)
  1. Artikel wikipedia
  2. Artikel dari britanica
  3. Artikel ecological
  4. Artikel Amphibiaweb
  5. Sumber lainnya