Last Updated:
Teknik Budidaya Kambing Perah (SUSU)
Teknik Budidaya Kambing Perah (SUSU) https://www.pustakadunia.com

Teknik Budidaya Kambing Perah (SUSU)

Teknik Budidaya Kambing Perah (SUSU) - Di Indonesia, kambing telah lama dipelihara di pedesaan.

Akan tetapi peranan kambing sampai saat ini belum banyak berarti, baik sebagai sumber daging maupun sumber air susu. 

Hal ini terjadi karena usaha peternakan kambing masih sederhana dengan jumlah pemilikan sedikit dan masih merupakan usaha sampingan dan sebagai tabungan.

Gambaran Singkat Usaha Budidaya Kambing Perah (SUSU)

Sebenarnya ternak kambing mempunyai potensi cukup besar untuk berkembang, karena termasuk ternak yang mempunyai adaptasi cukup tinggi, disamping modal yang diperlukan relatif sedikit. 

Pengembangan peternakan berkaitan dengan peningkatan pendapatan.

Pendapatan yang meningkat dari suatu usaha peternakan akan memberikan motivasi untuk berusaha lebih baik.

Sukses dan gagalnya suatu usaha peternakan sangat dipengaruhi oleh kemampuan ternaknya berproduksi dan harga input produksi serta output yang dihasilkan.

Keadaan tersebut erat kaitannya dengan kemampuan peternak dalam mengelola usahanya dan tingkat  keuntungan maksimum yang dicapainya. 

Peternak dengan jumlah ternak pemilikan yang banyak, mempunyai kesempatan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.

Jumlah pemilikan ternak yang lebih banyak umumnya akan lebih efisien dalam hal tenaga kerja dan biaya produksi. 

Populasi kambing di Indonesia cukup tinggi tetapi data mengenai bangsa kambing perah di Indonesia tidak ada, karena data tersebut masih secara umum dan tidak dikelompokkan menurut tipe kambing perah maupun kambing potong.

Pengembangan produksi susu merupakan upaya yang bertujuan meningkatkan dan memanfaatkan potensi yang ada di dalam negeri sehingga terjadi peningkatan produksi susu.

Peningkatan produksi susu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, mengurangi impor dan sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan. 

Jenis kambing perah yang ada di Indonesia adalah kambing Peranakan Etawah (PE). Kambing PE tersebut banyak terdapat di daerah Kali Gesing, Purworejo, Jawa Tengah. Kambing PE merupakan kambing persilangan antara kambing Etawah dengan kambing Kacang.

Kambing Etawah berasal dari India sedangkan kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia.

Kambing perah lain yang sedang dikembangkan di Indonesia adalah kambing Saanen yang berasal dari Swiss. 

Bagaimana Prospek Usaha Budidaya Kambing Perah (SUSU)

Jumlah penduduk Indonesia yang besar sangat potensial bagi permintaan produk peternakan.

Menurut pangsanya pada tahun 2001, konsumsi produk peternakan dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masing-masing adalah daging sebesar 5,11 kg/kapita/tahun, telur sebesar 3,47 kg/kapita/tahun dan susu sebesar 6,46 kg/kapita/tahun.

Perkembangan konsumsi susu dalam lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata 7,9 % per tahun.

prospek Usaha Budidaya Kambing Perah (SUSU)
Peningkatan konsumsi susu dari tahun ke tahun merupakan peluang bagi pengembangan ternak penghasil susu (diolah dari Deptan, 2001). 

Produksi susu di Indonesia pada tahun 1997 adalah 423.664 ton terus mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata 5,1 % per tahun, sehingga pada tahun 2001 menjadi sebesar 505.024 ton. 

Jumlah produksi susu tersebut belum dapat memenuhi permintaan total konsumsi.

Total konsumsi susu pada tahun 1997 sebesar 1.050 ribu ton dan terus mengalami peningkatan, sehingga pada tahun 2001 menjadi sebesar 1.330 ribu ton.

Dengan demikian penyediaan susu dalam negeri selama lima tahun terakhir mengalami defisit rata-rata sebesar 740,66 ribu ton per tahun (diolah dari Deptan, 2001). 

Umumnya susu dihasilkan dari ternak sapi perah.

Defisit penyediaan susu yang tidak terpenuhi dari penyediaan susu sapi perah, merupakan peluang bagi pengembangan ternak kambing perah sebagai alternatif pengembangan usaha dan penyediaan susu di Indonesia.

Jumlah defisit tersebut ekuivalen dengan 740.660 ekor kambing perah laktasi, yang berarti dapat dijadikan sebagai usaha kecil yang layak untuk 74.066 orang peternak. 

Susu kambing perah yang diproduksi kemudian dipasarkan masih terbatas.

Hal ini karena susu kambing belum banyak dikenal dan kurang populer dibandingkan dengan susu sapi.

Permintaan susu kambing terbatas untuk daerah tertentu dan untuk etnik tertentu.  

Keuntungan Memelihara Kambing Perah

Kambing menjadi pilihan alternatif usahaternak dengan mempertimbangkan keunggulan yang dimiliki ternak tersebut.

Beberapa keuntungan dalam memelihara ternak kambing adalah sebagai berikut (Sudono, 2002) :

  1. Kebutuhan lahan untuk memelihara ternak kambing tidak terlalu luas.
  2. Kambing memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai lingkungan, sehingga mudah dipelihara dan dikembangkan baik di dataran tinggi maupun dataran rendah bahkan di daerah kering dengan sumber makanan kasar sekalipun.
  3. Kambing memiliki perkembangbiakan yang cepat. Umur 1,5 tahun sudah mulai beranak dan dalam dua tahun dapat beranak tiga kali. Setiap kali beranak dapat melahirkan dua ekor.
  4. Selain daging dan susu, kambing dapat diambil kulitnya untuk kebutuhan industri.
  5. Limbah kotoran kambing dapat digunakan sebagai pupuk pertanian.
  6. Kambing merupakan sumber uang tunai yang sewaktu-waktu lebih mudah dijual.
  7. Susu kambing mengandung kadar protein dan lemak yang lebih tinggi daripada susu sapi.
  8. Investasi yang dibutuhkan untuk memelihara ternak kambing lebih kecil daripada ternak besar seperti sapi perah. 

Tujuan Penuliasan Artikel Teknik Budidaya Kambing Perah (SUSU)

Secara umum studi yang dilakukan bertujuan untuk mengkaji kelayakan usaha kambing perah (Etawah) dengan mengkaji aspek peluang bisnis, bididaya dan pembibitan.

Mengkaji karakteristik dan potensi ekonomi komoditas kambing serta kondisi pengembangannya.

  1. Mengkaji risiko kritis dalam pengembangan usahaternak kambing secara teknis dan ekonomis.
  2. Mengidentifikasi kriteria teknis produksi dan investasi usahaternak kambing.
  3. Menganalisa kelayakan finansial dan kebutuhan investasi yang diperlukan dalam pengembangan bisnis kambing.
  4. Mengetahui posisi kredit pinjaman dalam bisnis kambing. 

Cakupan Pembahasan Artikel Teknik Budidaya Kambing Perah (SUSU)

Ruang lingkup dalam artikel untuk komoditi kambing perah adalah sebagai berikut.

  1. Ruang lingkup komoditi dan usaha, dibatasi hanya untuk kegiatan budidaya dan pembibitan kambing dengan produk utama yang dihasilkan adalah susu kambing.
  2. Ruang lingkup wilayah, mencakup wilayah nasional dengan prioritas kajian pada wilayah sentra produksi.

GAMBARAN UMUM TERNAK KAMBING PERAH

Karakteristik Kambing Perah - Jumlah ternak dapat diukur dalam satuan ternak (ST). Satuan ternak seekor kambing dewasa betina maupun jantan adalah 0,14 ST.

Seekor kambing muda lepas sapih sampai setahun bernilai 0,07 ST, dan seekor anak kambing bernilai 0,035 ST. 

Kambing (Capra hircus) dapat hidup dengan baik di daerah tropis dan daerah iklim sedang, pegunungan, padang pasir, serta pada semua lingkungan tersebut dapat menghasilkan susu dan daging untuk dimanfaatkan manusia.

Dalam mencerna pakan kambing lebih efisien dan dapat beradaptasi lebih baik pada lingkungan buruk dibanding ternak ruminansia lainnya. 

Kambing mempunyai daya adaptasi yang besar, dapat mengkonsumsi lebih banyak hijauan berkualitas rendah dan senang meramban (browser).

Ternak kambing adalah hewan yang cerdik, dapat berjalan jauh untuk memperoleh pakan, dapat memanfaatkan pakan yang tidak dimakan sapi atau domba, lebih toleran terhadap rasa pahit dan lebih efisien dalam menggunakan air dan hijauan yang dimakan yang terdiri atas rerumputan dan dedaunan. 

Kambing Perah Versus Sapi Perah

Kambing perah merupakan bentuk kecil (miniatur) dari sapi perah.

Persamaan dari kedua ternak perah ini adalah struktur kelenjar ambing alveoli, saluran susu, sinterva kelenjar, fungsi anatomi dan fungsi puting dalam memproduksi susu.

Penyebaran atau konversi pakan menjadi susu antara kedua ternak perah ini juga sama. Periode laktasi selama 305 hari dengan 60 hari periode kering kandang, merupakan persamaan yang dimiliki kambing dan sapi. 

Di samping persamaan, kambing perah memiliki karakteristik yang unik dalam memproduksi susu bila dibandingkan dengan sapi.

Sapi memiliki empat puting dan empat ambing yang terpisah, sedangkan kambing hanya memiliki dua ambing saja.

Produksi susu yang dihasilkan tujuh ekor kambing sama dengan susu yang dihasilkan oleh satu ekor sapi, namun jumlah pakan 10 ekor kambing sama dengan jumlah pakan satu ekor sapi.

Kambing betina dengan bobot 55 kg/ekor dapat menghasilkan susu sekitar 2.000 kg dalam sekali laktasi selama 305 hari, sedangkan sapi perah terbaik dengan bobot 540 kg menghasilkan susu hanya 16.725 kg selama laktasi 305 hari. 

Rata-rata ukuran kambing perah hanya sepersepuluh sapi.

Dengan demikian kambing perah lebih mudah dipelihara dibandingkan dengan sapi perah.

Volume pakan yang dibutuhkan kambing lebih sedikit dan kambing dapat mengkonsumsi berbagai macam bahan pakan.

Kambing dapat diusahakan dalam skala kecil untuk keperluan rumah tangga atau dapat pula dijadikan usaha peternakan besar atau skala industri. 

Jenis Ras Kambing Perah

Kambing sebagai ternak selain menghasilkan daging juga dapat sebagai penghasil susu. Ternak kambing dapat berpotensi menghasilkan susu karena dipengaruhi oleh genetik dan perawatan yang baik.

Beberapa ras kambing perah yang tersebar di berbagai belahan dunia, memiliki sifat produksi dan karakteristik sebagai ternak penghasil susu yang produktif disajikan pada Tabel di bawah. 

Kemampuan Produksi Susu Berbagai Kambing Perah yang Dipelihara Pada Kondisi Ideal 

Bangsa Kambing Perah

Produksi Susu (kg/hari)

Bobot Dewasa (kg)

Alpen

4,5

55

Barbari

0,6

27-36

Damascus

2-6 liter

40-60

Etawah/Jamnapari

3,8

68-91

Kerdil Cina Selatan

0,5

25-30

Malabar

0,6-0,9

35-40

Mamber

1,5

20-40

Maradi

0,5-1,5

20-30

Marota

0,5

36

Ma Tao

1,5

20-37

Nubian

1-1,5

27-60

Osmanabad

2

40

PE

1,5-3,7

30-50

Saanen

3,2

65

Toggenburg

1,1

45

Sumber : Sarwono, 2001

Kambing Peranakan Etawah (PE)

Kambing PE merupakan hasil kawin tatar (grading-up) antara kambing Kacang dengan kambing Etawah, sehingga mempunyai sifat-sifat di antara tetuanya. 

Sebagian kambing PE mempunyai sifat mendekati sifat kambing Etawah dan sebagian lainnya mendekati sifat kambing Kacang. 

Produksi susu kambing Etawah di India dapat menghasilkan susu 182 kg selama 168 hari laktasi atau 1,08 kg per ekor per hari dengan kadar lemak rata-rata 3,6%. 

Kambing Etawah dapat beradaptasi di lingkungan Indonesia dan dapat meningkatkan produksi susu kambing Kacang.

Kambing Kacang produksi susunya sangat rendah dengan masa laktasi hanya sekitar 10-12 minggu, dan produksi susu kambing Kacang selama 12 minggu laktasi adalah 32 kg atau 0,38 kg per ekor per hari. 

Di BPT Ciawi kabupaten Bogor, produksi susu kambing PE berkisar dari 0,498-0,692 liter per ekor per hari dengan produksi tertinggi dicapai 0,868 liter.

Produksi susu harian pada peternakan kambing PE yang dipelihara secara intensif di daerah Bogor  0,99 kg per ekor per hari dan masa laktasi 170 hari (Sarwono, 2002). 

Kambing Saanen

Kambing Saanen berasal dari lembah Saanen Swiss Barat, berwarna putih mulus atau krem pucat dengan bulu yang panjang atau pendek, telinga tegak, mata besar dan cerah, panjang kepala medium dan punggung lurus dan muka lurus.

Kambing Saanen mempunyai produksi susu rata-rata tertinggi dibandingkan bangsa-bangsa kambing manapun dan yang tertinggi dapat mencapai produksi  2.495,18 kg untuk satu laktasi. 

Produksi susu kambing Saanen di Israel dengan kondisi peternakan yang sangat baik  1.701 kg dalam 311 hari dengan puncak produksi harian 7,1 kg di India 3,3 kg per hari sementara di Venezuela hanya 1,1 kg per hari. 

Pada peternakan kambing Saanen di daerah Bogor yang dipelihara secara intensif mengasilkan susu sebanyak 1,29 kg per ekor per hari dengan masa laktasi 270 hari (Budiarasana, 2002). 

Kambing PE sebagai Penghasil Susu

Kambing PE merupakan sebutan untuk kambing Peranakan Etawah yang sangat potensial sebagai penghasil susu. Kambing PE adalah hasil persilangan antara kambing Etawah dengan kambing Kacang.

Bentuk fisiknya lebih mirip dengan kambing Etawah. Keberadaan kambing ini sudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan tropis seperti di Indonesia.

Kambing PE sebagai ternak kambing lokal berkembang di daerah Bogor, Tegal, Sleman dan Kulonprogo.

Kambing PE Kaligesing

Salah satu jenis kambing yang populer di Indonesia adalah kambing PE Kaligesing.

Ciri khas kambing PE Kaligesing yaitu bertubuh besar, pipih dengan profil wajah melengkung.

Telinga panjang menggantung. Warna bulunya putih dengan kombinasi hitam atau merah kecoklatan atau campuran ketiga warna tersebut.

Kedua kaki belakangnya terdapat bulu yang lebat. Induk betinanya rata-rata melahirkan dua ekor anak dan sangat jarang melahirkan satu anak.

Bahkan ada yang melahirkan tiga sampai empat ekor anak.  Karakteristik produksi kambing PE Kaligesing disajikan pada Tabel di bawah. 

Karakteristik Produksi Kambing PE Kaligesing

Parameter

Kisaran

Bobot Badan (kg) :

 

Bobot Badan Jantan Dewasa

45 - 80

Bobot Badan Betina Dewasa

30 - 50

 

 

Umur (bulan) :

 

Umur Dewasa Kelamin (bulan)

6 - 8

Umur Jantan untuk Dikawinkan (bulan)

12

Umur Betina untuk Dikawinkan (bulan)

18

 

 

Jumlah Anak per Kelahiran (ekor)

1 - 3

 

 

Bobot Lahir (kg) :

 

Bobot Lahir Kelahiran Tunggal (kg)

3 - 5

Bobot Lahir Kelahiran Kembar (kg)

2 - 3,5

Bobot Lahir Jantan (kg)

3 - 5

Bobot Lahir Betina (kg)

2 - 4,5

 

 

Masa Laktasi (bulan)

7 - 10

Produksi Susu (kg/hari)

1,5 - 3,7

 

 

Umur Sapih (bulan)

3 - 3,5

Bobot Sapih Jantan (kg)

17

Bobot Sapih Betina (kg)

15

Sumber : Sarwono, 2001 

Kelas Kambing PE Kaligesing

Kambing PE Kaligesing digolongkan dalam empat kelas (grade), yaitu kelas A, B, C dan D. Bibit kambing PE Kaligesing yang memiliki ciri-ciri baik adalah sebagai berikut.

  1. Tubuh besar.
  2. Tinggi gumba (pundak kambing perah) kambing jantan 90 – 110 cm, betina 70 – 90 cm.
  3. Bobot hidup kambing jantan dewasa 65 – 90 kg, betina 45 – 79 kg.
  4. Panjang tubuh kambing jantan dewasa 85 – 105 cm, betina 65 – 85 cm.
  5. Kepala tegak, garis profil wajah melengkung sekali.
  6. Kepala bertanduk, baik kambing jantan maupun betina. Posisi tandauk mengarah ke belakang.
  7. Telinga lebar, panjang, menggantung (terkulai) dan sedikit melipat pada bagian ujungnya. Panjang telinga kambing jantan 25 – 41 cm dengan lebar 8 – 14 cm, yang betina panjang telinganya 21 – 30,5 cm dengan lebar 8 – 13 cm.
  8. Ambing berkembang baik. Puting susu cukup besar. Masa laktasi setelah melahirkan anak dapat menghasilkan dua sampai tiga liter per hari. Pada kambing jantan lingkaran testes 23 cm atau lebih. Warna bulu bermacam-macam, antara lain belang putih dengan bercak-bercak hitam, merah coklat atau campuran ketiganya.
  9. Pada bagian belakang kaki terdapat bulu gembol yang lebat dan panjang, baik pada kambing jantan maupun betina. 

Jika semua ciri di atas memenuhi syarat dan ditambah dengan penampilan dan imbangan tubuh yang serasi serta ukuran dan bobot di atas rata-rata maka kambing tersebut tergolong kelas A.

Jika ukuran dan bobot di bawah rata-rata maka kambing tersebut tergolong kelas B. Kambing yang kurang memenuhi syarat, tetapi memiliki imbangan yang serasi maka tergolong kelas C.

Jika kambing kurang memenuhi syarat dan tidak serasi termasuk dalam kelas D. 

Menentukan Umur Kambing

Usia kambing dapat diketahui dari pertumbuhan gigi serinya.

Gigi seri kambing hanya terdapat pada rahang bawah sebanyak 8 buah (4 pasang). Gigi seri ini sudah lengkap sejak lahir.

Pada Tabel di bawah disajikan penentuan umur kambing berdasarkan pergantian gigi seri. 

Pergantian Gigi Seri Kambing

Umur

Gigi Seri yang Berganti

Umur kurang dari 1 tahun

Gigi seri belum ada yang diganti

Umur 1 – 1,5 tahun

Gigi seri dalam (I1) berganti

Umur 1,5 – 2 tahun

Gigi seri tengah dalam (I2) berganti

Umur 2,5 – 3 tahun

Gigi seri tengah luar (I3) berganti

Umur 3 – 4 tahun

Gigi seri luar (I4) berganti atau semua (8) gigi seri telah berganti

Umur lebih dari 4 tahun

Penentuan umur berdasarkan perubahan-perubahan gigi geliginya

Sumber : Sarwono, 2001 

Memilih Calon Induk Kambing

Memilih calon induk yang baik diperlukan dalam pemeliharaan kambing.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih calon induk yaitu harus sehat, tampak bersemangat, aktif bergerak, kepala selalu tegak, mata bercahaya, pertumbuhan bagus, bulunya mengkilap dan bebas dari cacat turunan.

 

Karakteristik Susu Kambing

Susu sebagai sumber protein hewani banyak mengandung zat nutrisi yang sangat berguna bagi kesehatan dan pertumbuhan.

Komposisi susu kambing mempunyai perbedaan antarbangsa dan antarhewan dalam bangsa yang sama, demikian pula umur laktasi dan berbagai faktor lingkungan seperti pakan. 

Produksi  susu kambing yang dikandangkan kurang lebih dua kali lipat hasil susu kambing yang digembalakan, tetapi tidak beda nyata dalam persentase lemak atau kasein meskipun keduanya lebih tinggi sedikit pada kambing yang digembalakan.

Pada Tabel di bawah disajikan perbandingan komposisi susu dari masing-masing sumber. 

Perbandingan Komposisi Susu Kambing dengan Susu Sapi dan ASI Per 100 Gram 

Komposisi

Susu Kambing

Susu Sapi

ASI

Air (g)

83 –87,5

87,2

88,3

Karbohidrat (g)

4,6

4,7

6,9

Energi (Kcal)

67,0

66,0

69,1

Protein (g)

3,3-4,9

3,3

1,0

Lemak (g)

4,0-7,3

3,7

4,4

Ca (mg)

129

117

33

P (g)

106

151

14

Fe (g)

0,05

0,05

0,02

Vitamin A (IU)

185

138

240

Thiamin (mg)

0,04

0,03

0,01

Riboflavin (mg)

0,14

0,17

0,04

Niacin (mg)

0,30

0,08

0,20

Vitamin B 12 (mg)

0,70

0,36

0,04

Sumber : Triyatna, 2002 

Bobot jenis susu dipengaruhi dengan tinggi atau rendahnya komponen penyusun susu.  Bobot jenis susu pada kambing French Alpine adalah 1,0280, sedangkan bobot jenis susu kambing PE berkisar 1,0260-1,0420. 

Susu segar minimal memiliki bobot jenis 1,028 pada suhu 27,50 C dengan kadar lemak minimal 2,8%.

Susu terdiri dari 7/8 bagian air dan 1/8 bagian bahan kering. Susunan susu masing-masing individu kambing dipengaruhi oleh bangsa, waktu pemerahan, musim, pakan, umur dan kesehatan ternak.

Susu kambing PE maupun Etawah memiliki kandungan lemak lebih banyak daripada susu kambing lainnya.

Susu kambing yang sehat berwarna putih bersih, kekuning-kuningan dan tidak tembus cahaya.

Jika susu kambing berwarna semu biru, merah, terlalu kuning atau seperti air dan agak berlendir bergumpal-gumpal maka kondisi susu tersebut tidak normal.

Bau dan rasa susu kambing murni hanya sedikit berbau kambing dan rasanya gurih, sedikit manis dan berlemak. 

Keunggulan Susu Kambing

Di daerah tropis kambing tidak pernah dipelihara khusus untuk produksi susu.

Namun Demikian Sekarang ini di daerah tropis produksi susu kambing mempunyai arti yang penting dan sedang digalakkan.

Susu kambing mempunyai bermacam-macam manfaat yang lebih baik daripada susu sapi dan telah lama diakui oleh para dokter untuk dimanfaatkan oleh mereka yang mengalami gangguan pencernaan.

Susu kambing juga dapat digunakan untuk membuat keju yang lunak. 

Susu yang diproduksi dari kambing perah berbeda dengan sapi perah dalam hal kandungan karotennya, tipe curd (keju) yang terbentuk dimana asam dan enzim pada susu kambing memberikan hasil yang berbeda dibandingkan curd dari susu sapi. 

Dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing lebih mudah dicerna karena ukuran molekul lemak susu kambing lebih kecil dan secara alamiah sudah ada dalam keadaan homogen.

Dari uji organoleptik, menunjukkan bahwa susu kambing digemari seperti layaknya susu sapi. Di Inggris susu kambing selain dikonsumsi, juga diolah menjadi berbagai bentuk seperti keju, krim, mentega dan yoghurt. 

Kandungan protein susu kambing jauh lebih tinggi daripada susu manusia dalam kaitannya dengan jumlah kalori.

Proteinnya juga berbeda dalam proporsi dan jenis, tetapi profil asam amino total hampir sama dalam susu kambing dan susu manusia.

Juga dilaporkan bahwa tidak diragukan sama sekali nilai gizi susu kambing bagi bayi lepas sapih dan anak-anak, dan sebagai makanan pelengkap bagi wanita hamil dan menyusui. 

Keunggulan susu kambing untuk kesehatan adalah sebagai berikut (Sudono, 2002).

  1. Lemak dan proteinnya lebih mudah dicerna daripada susu sapi, karena terdapat dalam bentuk yang lebih halus dan homogen sehingga dapat dikonsumsi oleh balita hingga orang dewasa.
  2. Proteinnya mempunyai efek laksatif yang lembut.
  3. Kandungan vitamin B1 susu kambing lebih tinggi dibanding susu sapi.
  4. Susu kambing baik sekali dikonsumsi anak-anak dan orang lanjut usia yang tak dapat minum susu sapi karena gangguan pencernaan.
  5. Minum segelas susu kambing setiap hari membantu penyembuhan asma dan radang paru-paru kronis.
  6. Minum segelas secara rutin bagi wanita dapat meningkatkan kehalusan kulit.
  7. Minum secara teratur dua – tiga gelas per hari dapat membantu mengatasi impotensi pada laki-laki.
  8. Sebagai sumber gizi serta mencegah atau menyembuhkan TBC pada balita.
  9. Tidak menyebabkan diare dan alergi, karena tidak memiliki faktor lactose intolerance

Dibandingkan susu sapi, susu kambing memiliki kandungan gizi yang lebih baik. Keunggulan susu kambing ditinjau dari kandungan gizinya adalah sebagai berikut (Sudono, 2002).

Lemak - Lemak susu kambing sekitar 4,2% terdapat dalam bentuk emulsi (butiran-butiran kecil) yang tersebar merata di dalam susu. Jika susu didiamkan beberapa saat, emulsi lemak akan naik ke permukaan dan mengumpul membentuk lapisan yang dapat diolah menjadi mentega. Lemak susu kambing memiliki ukuran yang lebih kecil sekitar 3 mikron, sedangkan lemak susu sapi berukuran sekitar 4 – 5 mikron.

Protein - Protein susu mengandung sekitar 40% asam amino esensial. Kandungan protein susu kambing relatif lebih tinggi yaitu 3,19 – 4,3% dibandingkan dengan susu sapi (3,8%) dan lemaknya 3,69%.  Tiga perempat protein susu kambing adalah kasein, selebihnya adalah gamma globulin 0,19%, beta laktoglobulin 0,48%, alfa laktalbumin 0,25% dan serum albumin 0,08%. Protein susu kambing sekitar 3,5% yang terdiri dari 3,1% kasein dan 0,4% laktabumin.

Laktosa - Laktosa yang dikandung dalam susu kambing sekitar 4,2%. Laktosa atau gula susu terlarut dalam susu, sehingga memberikan rasa manis pada susu. Laktosa dapat dipisahkan dari cairan susu setelah kasein dan dibuat keju. Laktosa mempunyai manfat yang sama dengan karbohidrat setelah mengalami pemecahan oleh enzim pencernaan menjadi glukosa dan galaktosa.

Mineral dan vitamin - Dalam hal mineral, susu kambing merupakan sumber kalsium dan fosfor yang sangat baik. Hampir semua jenis mineral esensial yang diperlukan manusia terdapat dalam susu kambing. Susu kambing mengandung provitamin A, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B12, Vitamin C, Vitamin D, Vitamin E, Piridoksin dan Asam Folat. Susu kambing mengandung kalsium dan fosfor, vitamin B1, B2, B12 yang lebih tinggi dari susu sapi . 

Selain itu kelebihan susu kambing dibandingkan mamalia lainnya adalah sebagai berikut (Mulyanto dan Bernardinus, 2002). 

  1. Memiliki sifat antiseptik alami dan bisa membantu menekan pembiakan bakteri dalam tubuh. Hal ini disebabkan adanya flourine yang kadarnya 10-100 kali lebih besar dari susu sapi.
  2. Bersifat basa (alkaline food) sehingga aman bagi tubuh
  3. Lemaknya mudah dicerna karena teksturnya lembut dan halus, butiran lemak susu sapi 4,55 mikron dan susu kambing hanya 3,49 mikron
  4. Adanya sodium (Na), flourine (F), kalsium (Ca) dan fosfor (P) sebagai elemen kimia yang dominan serta kandungan nutrisi lainnya, susu kambing berkhasiat membantu pencernaan dan menetralisir asam lambung, menyembuhkan alergi pada kulit, saluran napas dan pencernaan, menyembuhkan penyakit paru-paru (asma, TBC dan infeksi akut pada paru-paru lainnya). Selain itu menyembuhkan beberapa kelainan ginjal (seperti nephrotic syndrom, infeksi-infeksi ginjal dan asam urat tinggi), kandungan kalsium yang tinggi membantu menyembuhkan rematik dan mencegah osteoporosis, menambah vitalitas dan daya tahan tubuh, mengatasi masalah impotensi dan gairah seksual baik pada pria maupun wanita.
  5. Berdasarkan beberapa penelitian di Amerika, susu kambing terbukti mempunyai efek anti kanker.

Pembahasan Teknik Budidaya Kambing Perah (SUSU)

Reproduksi Kambing Jantan

Tingkat reproduksi tergantung pada interaksi faktor genetik dan lingkungan, tetapi faktor lingkungan lebih berpengaruh.

Bangsa kambing dari daerah iklim sejuk, rentan sekali terhadap cekaman panas dan karenanya bagi hewan tersebut, tatalaksana pemeliharaan dan pakan yang memadai guna menekan sekecil mungkin produksi panas metabolik sangatlah penting.

Kegagalan produksi karena cekaman panas pada jantan dapat berupa libido serta fertilitas yang rendah. 

Anak kambing jantan akan mencapai dewasa kelamin atau pubertas pada umur sekitar tiga bulan, tetapi pada umur ini kambing tersebut sangat jarang dikawinkan. 

Kambing jantan yang sehat dapat melayani paling sedikit 30 ekor kambing betina.

Kambing jantan dapat lebih muda dikawinkan daripada kambing betina (dara) tetapi alangkah baiknya dikawinkan setelah berusia 1,5 tahun. 

Perbandingan antara jumlah jantan dewasa dan jumlah betina dewasa pada peternakan kambing beragam tergantung berbagai faktor misalnya pakan dan tatalaksana pemeliharaannya.

Kambing jantan yang dikandangkan mempunyai perbandingan 1 : 20.

Perbandingan jantan dan betina pada peternakan yang digembalakan 1 : 40-50.

Pada peternakan yang belum baik dimana perkawinan tidak dikendalikan, seekor pejantan dapat mengawini 25 ekor betina.

Dalam satu hari pejantan dapat melakukan perkawinan 4-5 kali.

Kemampuan pejantan mengawini betina sampai menjadi bunting merupakan salah satu kriteria kesuburan pejantan.

Banyaknya perkawinan per kebuntingan yang normal berkisar 1,0 – 2,0. 

Tata cara perkawinan induk yang baik adalah bila terdapat induk yang berahi, perkawinan dilakukan dengan membawa pejantan ke tempat induk yang berahi. 

Dengan demikian perkawinan secara alami dan setiap perkawinan dilakukan dua kali kawin (service).

Untuk menghindari terjadinya silang dalam (inbreeding), pejantan yang akan dikawinkan terlebih dahulu diperhatikan catatan perkawinannya.

Kambing jantan sebagai pemacak yang digunakan telah berumur di atas 1,5 tahun, dan satu minggu mampu melakukan dua kali perkawinan.       

Reproduksi Kambing Betina

Siklus Berahi Kambing - Pencatatan siklus berahi dilakukan dengan menghitung jarak antara kawin dengan kawin berikutnya kalau pada perkawinan yang sebelumnya tidak terjadi kebuntingan.

Siklus berahi dapat dipengaruhi oleh pakan yang diberikan, dan siklus berahi lebih lama dengan semakin tingginya suhu lingkungan.  

Kambing betina akan berahi setiap 21 hari atau pada interval 18 sampai 21 hari dengan lama berahi antara satu - dua hari.

Tanda-tanda berahi pada kambing sama dengan sapi yaitu:  vulvanya membengkak, sering kencing, sering mengembik, menaiki kambing betina lain dan siap untuk dinaiki kambing betina lainnya.

Kambing dara akan berahi pertama saat bobot      38,59 – 43,13 kg dan berumur sekitar 10 bulan. 

Pada kebanyakan kambing daerah tropis, berahi terjadi sepanjang tahun, sedangkan kambing daerah beriklim sejuk, berahi terjadi secara musiman. 

Kambing di daerah empat musim, musim kawin terjadi di bulan September, Oktober dan Nopember dan akan beranak saat bulan Februari, Maret atau April. 

Sebagai ilustrasi, di Inggris kambing beranak pada bulan Februari dan Maret, sedangkan di Perancis Selatan musim beranak adalah bulan April. 

Pada kambing yang berasal dari daerah tropis tidak mengenal musim kawin.

Kambing lokal Indonesia tidak memperlihatkan berahi atau beranak musiman, artinya setiap saat selalu saja terjadi perkawinan dan kelahiran. 

Lama berahi akan mempengaruhi keberhasilan perkawinan yang akan menjadi bunting.  Lama berahi dapat terjadi antara beberapa jam sampai dengan tiga hari. 

Berahi kembali setelah beranak dapat mempengaruhi lamanya kawin kembali setelah beranak.

Perkawinan setelah beranak sangatlah tergantung dari berahi kembali setelah beranak, tatalaksana pengontrolan berahi dan tersedianya pejantan. 

Kebuntingan pada induk kambing dipengaruhi oleh tatalaksana perkawinan dan kesuburan kambing betina. 

Hal tersebut dapat terjadi karena pengamatan berahi kambing betina oleh pekerja kandang kurang baik dan tatalaksana perkawinan tidak tepat waktunya.  

Umur Kawin Pertama Kambing

Umur kawin pertama dipengaruhi oleh pencapaian dewasa kelamin, juga dipengaruhi pencapaian dewasa tubuh pada kambing dara dan tentunya berhubungan dengan kandungan nutrisi pada pakan yang dikonsumsi. 

Pada peternakan kambing di daerah Bogor, umur kawin pertama kambing PE tercapai ketika berumur 13,5 bulan dan kambing Saanen 15,0 bulan. 

Kambing lokal dara di Bogor dikawinkan pertama kali rata-rata ketika berumur 10,5 bulan.

Kambing dara PE di Purwakarta dikawinkan pertama kali rata-rata pada umur 12,5 bulan. 

Kambing betina yang dapat dikawinkan tergantung pada pertumbuhan atau ukuran badannya. 

Bobot badannya pada saat dikawinkan umumnya 40 - 45 kg pada umur 9 - 10 bulan.  Umur kawin pertama pada kambing dapat dilakukan saat berusia 8 - 9 bulan dan bila pertambahan bobot badan per hari rendah maka kambing dikawinkan setelah berumur 15 - 18 bulan.       

Kambing dara PE di Bogor lebih cepat mencapai umur kawin pertama dibandingkan kambing dara Saanen.

Karena kambing PE merupakan kambing yang sudah lama di Indonesia dan sudah dapat beradaptasi daripada kambing Saanen.   

Umur Beranak Pertama Kambing

Kambing yang terdapat pada daerah yang memiliki empat musim, tidak akan berahi sebelum tibanya musim gugur hingga musim dingin.

Anak kambing betina yang lahir musim semi akan berahi pada musim kawin berikutnya (musim gugur hingga musim dingin).

Apabila tidak dikawinkan akan menunggu musim kawin berikutnya atau kira-kira berumur 18 bulan. 

Umur pertama kali beranak sangat dipengaruhi oleh kawin pertama pada kambing dara dan banyaknya kawin per kebuntingan.

Kambing lokal di daerah Bogor, pertama kali beranak berumur 15 bulan.  Kambing PE di Purwakarta, pertama kali beranak berumur 18 bulan.

Umur beranak pertama kambing PE di Bogor 21,5 bulan, lebih lama daripada kambing Saanen di Bogor 19,15 bulan.

Umur beranak pertama dipengaruhi dewasa tubuh dan keberhasilan perkawinan.  

Lama Kebuntingan Kambing

Lama kebuntingan adalah lamanya kambing bunting dan umumnya sekitar 150 hari atau 5 bulan.

Rataan lama kebuntingan kambing PE sedikit lebih cepat yaitu 148,87 hari dibandingkan rataan kebuntingan kambing Saanen yaitu 151,46 hari.

Jumlah anak yang dikandung dapat mempengaruhi lama kebuntingan. 

Lama Hari Kosong Kambing

Lama hari kosong adalah waktu antara induk kambing beranak hingga induk dikawinkan kembali dan terjadi kebuntingan. 

Pada peternakan kambing PE di Bogor rataan lama hari kosong induk laktasi 110 hari, sedangkan rataan lama hari kosong pada peternakan kambing Saanen 171 hari.

Lama hari kosong dipengaruhi oleh tingkat kesuburan kambing jantan dan kambing betina, tatalaksana perkawinan dan tujuan peternakan. 

Lama hari kosong kambing PE di daerah lain misalnya di Purwakarta 140 hari. 

Selang Beranak Kambing

Selang beranak adalah periode antara dua beranak yang berurutan dan terdiri atas periode perkawinan (periode dari beranak sampai bunting) dan periode bunting.

Kelahiran anak kambing terjadi setelah satu tahun, terdiri dari periode laktasi sekitar 7 - 10 bulan dan ditambah dua bulan masa kering.  

Lama periode perkawinan merupakan faktor penentu selang beranak yang paling penting, yang pada gilirannya tergantung pada timbulnya kembali siklus berahi.

Selang beranak pada kambing umumnya adalah delapan bulan.

Pada peternakan kambing PE di Bogor selang beranaknya adalah 8,64 bulan, sedangkan pada peternakan kambing Saanen 10,75 bulan.

Selang beranak  kambing dapat berlangsung 9,96 bulan pada kambing lokal di Indonesia. 

Lama periode perkawinan merupakan faktor penentu selang beranak yang paling penting yang pada gilirannya tergantung pada timbul kembalinya siklus berahi. 

Kawin Kembali Setelah Beranak Kambing

Timbulnya berahi kembali setelah beranak dapat mempengaruhi lamanya kawin kembali setelah beranak.

Tatalaksana pemeliharaan induk yang baru beranak dan pakan yang diberikan dapat mempengaruhi berahi kembali setelah beranak.

Perkawinan kembali setelah beranak dapat ditunda sampai lama laktasi empat sampai lima bulan dan umumnya kawin kembali setelah beranak adalah berkisar tiga bulan.

Kambing lokal di Lampung mempunyai kawin pertama setelah beranak tujuh bulan, berarti tergolong sangat lama.

Selang dari saat beranak sampai berahi pertama sangat beragam dari satu sampai tiga bulan atau bahkan lebih.

Kambing Kacang di Malaysia terjadi selama 89,4 hari untuk anak tunggal dan 106,3 hari untuk kembar dua, dan kembalinya berahi setelah beranak yang dini penting artinya bagi kambing yang berbiak secara tidak musiman.

Kambing PE di Purwakarta, kawin kembali setelah beranak 3,88 bulan, 39,16% terjadi dua sampai tiga bulan setelah beranak, 48,78% setelah tiga sampai empat bulan, dan 17,07% diatas empat bulan setelah beranak. 

Parameter Produksi Susu Kambing

Meskipun secara kasar produksi susu berbagai bangsa kambing paling sedikit perlu mempunyai taksiran produksi susu selama masa satu laktasi, lama laktasi, frekuensi melahirkan (satu atau dua kali setahun).

Batasan umum hewan perah adalah hewan yang menghasilkan susu melebihi kebutuhan anaknya.  Produksi susu yang tinggi diinginkan untuk anak-anaknya dan kelebihannya untuk konsumsi manusia.

Masa laktasi yang lama yang berkelanjutan setelah anaknya disapih penting bagi hewan perah. 

Produksi Susu Kambing

Tahun musim beranak, jumlah laktasi dan umur pertama kali beranak mempengaruhi produksi susu.

Hewan yang beranak dari Januari sampai sampai Juni menghasilkan susu lebih banyak dari yang beranak bulan-bulan lainnya.

Bangsa dan jumlah laktasi berpengaruh terhadap produksi susu  dimana hasil yang tertinggi adalah pada laktasi ketiga.

Produksi susu maksimum tercapai pada umur empat atau lima tahun dan tidak menurun drastis selama tiga tahun berikutnya, dimana dianggap hampir semua bangsa kambing sekarang berbiak sekali dalam setahun. 

Susu yang dihasilkan tiap hari akan meningkat sejak induk melahirkan, kemudian produksi akan menurun secara berangsur-angsur hingga berakhirnya masa laktasi. 

Puncak produksi susu akan dicapai pada hari 48 - 72 atau sekitar dua bulan setelah beranak. Puncak produksi susu dapat dilihat dari Gambar.

Perkembangan Produksi Susu Satu Laktasi pada Kambing PE dan Kambing Saanen
Perkembangan Produksi Susu Satu Laktasi pada Kambing PE dan Kambing Saanen

Gambar di atas memperlihatkan kurva dari produksi susu harian selama laktasi pada peternakan kambing PE dan pada peternakan kambing Saanen.

Gambar tersebut menunjukkan bahwa kurva untuk peternakan kambing Saanen pada awal laktasi produksi susu naik kemudian menurun sampai akhir laktasi, tetapi kurva pada peternakan kambing PE pada awal laktasi tidak memperlihatkan kenaikan.

Gambar tersebut memperlihatkan bahwa pada hari yang sama produksi susu pada kambing Saanen lebih tinggi dari produksi susu pada peternakan kambing PE.

Produksi susu mencapai puncak produksi hari ke 35 setelah beranak pada peternakan kambing Saanen dan hari ke 11 setelah beranak pada peternakan kambing PE.

Produksi susu yang dihasilkan akan meningkat sejak induk beranak, kemudian akan menurun hingga berakhirnya masa laktasi. 

Penurunan produksi susu (persistensi) pada kedua peternakan tersebut sama dan terjadi secara perlahan.  

Persentase kambing laktasi yang harus diperhatikan agar peternakan dapat menguntungkan.

Untuk memperoleh pendapatan yang menguntungkan, persentase kambing laktasi yang sebaiknya dipelihara sekurang-kurangnya 60% dari populasi. 

Jumlah pemerahan dan frekuensi pemerahan akan mempengaruhi produksi susu.

Produksi susu pada kambing yang diperah tiga kali akan naik 15–20% daripada yang diperah dua kali dan memerah empat kali akan menaikkan 6 – 8% daripada yang diperah tiga kali.

Pemerahan dua kali sehari terjadi karena terbatasnya tenaga kerja dan produksi susu per ekor per hari yang tergolong sedikit. 

Masa  Laktasi Kambing

Masa laktasi adalah masa dimana ternak memproduksi susu dihitung dari setelah beranak sampai dikeringkan.

Kambing Kacang mempunyai masa laktasi 10 - 12 minggu (2.5 - 3 bulan).

Adalah hal yang biasa bahwa kambing betina dengan bobot 55 kg akan memproduksi lebih dari 200 kg susu dalam sekali laktasi, yang panjangnya 305 hari di negara beriklim sejuk dimana usaha pemeliharaan anak kambing tidak menguntungkan maka lama laktasi dapat mencapai dua tahun.

Masa laktasi setiap bangsa kambing tidak sama dan masa laktasi berhubungan dengan kemampuan kambing memproduksi susu. 

Kambing Saanen di daerah Bogor mempunyai masa laktasi delapan sampai sembilan bulan sedangkan kambing PE di Bogor lima sampai enam bula bulan.

Masa laktasi kambing umumnya sekitar lima sampai enam bulan. 

Masa Kering Kandang Kambing

Masa kering kandang adalah lama antara akhir laktasi (ternak tidak diperah) sampai dengan beranak berikutnya.

Masa kering kandang bertujuan untuk mengistirahatkan kelenjar ambing agar masa laktasi berikutnya menghasilkan susu lebih baik.

Lama masa kering kambing perah enam sampai delapan minggu sebelum beranak untuk memberi kesempatan si induk menumpuk cadangan zat makanan dan menyediakan pertumbuhan janin.

Lama hari kering kandang berhubungan dengan tujuan peternakan dan tingkat produksi susu harian setelah induk kambing bunting dan berhubungan dengan persistensi laktasi. 

Pada peternakan kambing PE, lama hari kering kandang yang hampir mencapai empat bulan dapat terjadi karena adanya kegagalan perkawinan dan rendahnya kemampuan induk laktasi kambing PE dalam menghasilkan susu daripada kambing Saanen.  

Pakan Kambing

Kambing merupakan jenis ruminansia yang lebih efisien daripada domba dan sapi karena dapat mengkonsumsi bahan kering yang relatif lebih banyak untuk ukuran tubuhnya dan lebih efisien dalam mencerna pakan yang mengandung serat kasar dibandingkan dengan sapi atau domba.

Kambing pun dapat mengkonsumsi pakan yang tidak biasa dikonsumsi oleh hewan lain. 

Pakan utama kambing adalah tunas-tunas (semak, ranting dan gulma), dan kambing sangat efisien dalam mengubah pakan berkualitas rendah menjadi produk yang bernilai tinggi. 

Kambing merupakan pemakan yang lahap, dengan pakan yang beragam dari tanaman lunak dan kulit pohon sampai kulit dan kain, dapat mengkonsumsi pakan yang berbau.

Oleh karena itu kambing dapat hidup jauh di pedalaman padang pasir. Kambing mempunyai kemampuan berdiri pada kedua kaki belakang bila ingin memanfaatkan dedaunan yang berada lebih tinggi.  

Biasanya kambing akan menolak mengkonsumsi pakan apa saja yang telah dikotori hewan lain, dan kambing tidak dapat tumbuh dengan baik bila terus diberi pakan yang sama dalam jangka waktu yang lama, karena kambing lebih suka memilih pakannya dari berbagai jenis.

Kambing mempunyai kebiasaan mengkonsumsi pakan yang memiliki ciri khusus, mempunyai bibir atas yang mudah digerakkan dan lidah yang fleksibel, sehingga kambing dapat mengkonsumsi rumput yang pendek dan semak, yang tidak dilakukan oleh ruminansia lain. 

Tambahan konsentrat, sebaiknya berbentuk kasar (digiling kasar), karena kambing tidak suka pakan yang digiling halus dan berdebu. 

Kebutuhan Nutrisi Kambing

Kambing adalah ruminan, sehingga kambing dapat mencerna serat secara efisien. Akan tetapi tipe dan jumlah pakan harus disesuaikan dengan fungsi dan tujuan pemeliharaan kambing.

Sebagai contoh induk kering dan kambing jantan yang tidak aktif dibedakan pakannya dengan induk laktasi dan kambing jantan yang aktif.

Bila rumput-rumput sudah pendek atau kualitasnya rendah, pemberian tambahan konsentrat diperlukan, akan tetapi jangan terlalu banyak karena akan menyebabkan kegemukan. 

Seekor kambing memerlukan daun-daunan atau jerami setiap hari atau padang rumput berkualitas baik ditambah 0,25 kg ransum konsentrat berkadar protein 16% untuk setiap liter susu yang dihasilkan.

Kambing Etawah dengan bobot badan 40 kg dan berproduksi susu dua liter per hari membutuhkan lima kg pakan hijauan dan 0,5-1,0 kg konsentrat.

Konsumsi konsentrat untuk induk laktasi 0,75% bahan kering dari berat badan, atau 1,76% bahan kering.

Induk kambing yang sedang dikeringkan mengkonsumsi konsentrat 0,5-1,0 kg per ekor per hari dengan kadar protein 12-16%.

Kadar protein konsentrat untuk induk laktasi 15-18%. Kadar lemak pakan ruminansia adalah 2-3% (Sudono, 1998). 

Persentase pakan hijauan dan konsentrat menurut Sudono (1999) agar diperoleh ransum yang murah dan koefisien cerna yang tinggi digunakan pakan hijauan 60% dan konsentrat 40%.

Hijauan yang dikonsumsi adalah 10% bahan segar dari berat badan.  

Untuk melakukan semua aktivitas kehidupan diperlukan zat-zat makanan.  Zat-zat makanan tersebut berasal dari pakan yang dikonsumsi.

Tabel di bawah, memperlihatkan contoh komposisi total konsumsi pakan yang diberikan pada kambing PE dan Kambing Saanen. 

Rataan Konsumsi Pakan Kambing PE pada Masing-masing Kelompok Ternak di Peternakan Barokah per Hari

Kelompok Ternak

Konsentrat (kg)

Ampas Tahu (kg)

Rumput (kg)

Singkong (kg)

Induk laktasi

0,5

3,0

5,5

0,5

Induk Kering

0,25

3,0

4,5

-

Pejantan

0,5

3,0

6,5

0,5

Anak 5 bulan

0,1

1,0

2,5

-

Anak 8 bulan

0,25

1,5

3,5

-

Sumber : Budiarsana,2002 

Rataan Konsumsi Pakan Kambing Saanen pada Masing-masing Kelompok Ternak di PT. Taurus Dairy Farm per Hari

Kelompok Ternak

Konsentrat

(kg)

Ampas Tahu (kg)

Rumput

(kg)

Induk Laktasi

0,95

1,5

16,0

Induk Kering

0,95

-

12,0

Pejantan

0,95

-

16,0

Anak 5 bulan

0,5

-

7,0

Anak 8 bulan

0,25

-

5,0

Sumber : Budiarsana, 2002 

Pemberian rumput dilakukan tiga kali sehari, sementara pakan konsentrat dua kali sehari. 

Kambing non laktasi, tidak diberi ampas tahu dan konsentrat diberikan sebanyak dua kali. Rumput yang diberikan tidak habis dikonsumsi sehingga pemberian rumput harus dilebihkan dari kebutuhannya.

Rataan banyaknya rumput yang dikonsumsi induk laktasi adalah 60 % dari pemberian.  

Konsumsi Bahan Kering Untuk Pakan Kambing

Konsumsi bahan kering kambing merupakan satu faktor yang sangat penting, karena kapasitas mengkonsumsi pakan secara aktif merupakan faktor pembatas yang mendasar dalam pemanfaatan pakan. 

Konsumsi bahan kering juga tergantung dari hijauan saja yang diberikan atau bersamaan dengan konsentrat. 

Pada Tabel di bawah diperlihatkan kebutuhan nutrisi bagi kambing. 

Kebutuhan Nutrisi Kambing

Bobot Badan

(kg)

Kadar Lemak Susu (%)

TDN

 (g)

PK

(g)

Ca

 (g)

P

 (g)

50

2,5

781

122

4

2,8

 

3,0

785

127

4

2,8

 

3,5

790

131

4

2,8

 

4,0

794

135

5

3,5

 

4,5

799

140

5

3,5

 

5,0

804

145

5

3,5

 

5,5

808

149

5

3,5

 

6,0

813

153

5

3,5

Sumber : Sudono, 2002

Kebutuhan Nutrisi Kambing

Bobot Badan

(kg)

Kadar Lemak Susu (%)

TDN

 (g)

PK

(g)

Ca

 (g)

P

 (g)

60

2,5

863

134

5

3,5

 

3,0

867

139

5

3,5

 

3,5

872

143

5

3,5

 

4,0

876

147

6

4,2

 

4,5

881

152

6

4,2

 

5,0

886

157

6

4,2

 

5,5

890

161

6

4,2

 

6,0

895

165

6

4,2

Sumber : Sudono, 2002

Keterangan :       TDN      = Total Digestible Nutrien (daya cerna energi)

                                PK          = Protein Kasar

                                Ca           = Kalsium

                                P             = Fospor

 

No.

Zat Makanan

Kebutuhan

 

d.  Mangan

90 ppm

 

e.  Seng

6 – 10 ppm

 

Nisbah Ca : P (minimum)

1,2 : 1

SDL    : Susu yang disesuaikan lemaknya ;  PKD  : Protein kasar dapat dicerna 

Kambing mengkonsumsi bahan kering relatif lebih banyak untuk ukuran tubuhnya yaitu 3 - 5% dari bobot badan, bila dibandingkan sapi 2 - 3 % dari bobot badan. 

Kambing lokal (bangsa kambing pedaging dan perah) di daerah tropis yang diberi makan sekenyangnya, mempunyai konsumsi bahan kering harian dalam kisaran 1,8 – 4,7%. 

Kambing muda yang masih bertumbuh dan kambing laktasi membutuhkan protein lebih daripada jantan dewasa dan induk kering. 

Kambing jantan dan induk kering membutuhkan protein 15 - 18%.

Pakan untuk induk selama periode kering kandang adalah hal penting untuk pertumbuhan anak yang belum lahir  dan  agar kondisi  badan  induk tetap  baik untuk produksi susu secara maksimal dan 70% dari bobot anak kambing yang masih dalam kandungan tumbuh selama periode kering kandang. 

Kesuburan Kambing

Kesuburan sulit diukur secara tepat, tetapi pada hewan betina ditunjukkan pada jumlah perkawinan yang diperlukan per kebuntingan dan pada hewan jantan dari persentase perkawinan yang menghasilkan kebuntingan. 

Kelahiran lebih dari satu anak untuk seekor kambing adalah normal, biasanya kembar dua atau kembar tiga. 

Jumlah anak per kelahiran adalah 1,58 anak per induk pada peternakan tradisional dan 2,03 pada peternakan yang lebih modern dan rata-rata 1,75 anak per induk. 

Rata-rata jumlah anak lahir per induk pada kambing Kacang 1,7, pada kambing Etawah (Jamnapari) 1,5 dan pada kambing Saanen di Israel 1,9. 

Kambing Kacang tergolong kambing yang prolifik atau mempunyai angka kelahiran yang tingi. 

Kambing kacang di Imogiri Jogyakarta mempunyai rata-rata banyaknya anak kambing perkelahiran adalah 1,73 ekor.

Rataan banyaknya anak perkelahiran 1,67 ekor pada kambing lokal di Bogor dan  1,49 pada kambing PE di Purwakarta. 

Angka kelahiran kambing PE di Bogor 1,79  sedangkan kambing Saanen di Bogor 1,56. 

Pada Tabel disajikan contoh angka kelahiran pada kambing PE dan Kambing Saanen.

Jumlah anak jantan yang lahir sedikit lebih tinggi dari anak betina dengan rasio jantan : betina 115 : 100 atau 53,49% anak jantan dan 46,51% anak betina dan kelahiran kembar dua dan kembar tiga sering terjadi bahkan dapat terjadi kelahiran kembar empat.  

Rataan Angka Kelahiran Setahun, Angka Kelahiran Seinduk dan Persentase Kelahiran pada Kambing PE dan Kambing Saanen 

Uraian

Kambing PE

Kambing Saanen

Angka Kelahiran Setahun

1,89

1,51

Angka Kelahiran Seinduk

1,77

1,56

Persentase Kelahiran (%)

 

 

Anak Jantan

51,96

51,59

Anak Betina

48,04

48,41

Anak Tunggal

14,54

32,54

Anak Kembar Dua

57,52

62,70

Anak Kembar Tiga

24,35

4,76

Anak kembar Empat

3,59

-

Sumber : Widianto, 2002 

Tatalaksana Peternakan Kambing

Penyempurnaan tatalaksana peternakan merupakan hal pertama yang harus dilakukan agar tercapai peningkatan produktivitas ternak.

Ternak dengan potensi genetik yang baik tidak akan sepenuhnya menampilkan potensi itu bila tidak didukung oleh kondisi lingkungan yang memadai. 

Sistem Peternakan Kambing

Sistem peternakan biasanya digolongkan sebagai peternakan intensif, semi intensif dan ekstensif, tetapi di negara tropis dan sub tropis penggolongan tersebut kadangkala kurang berguna daripada pembedaan antara sistem peternakan menetap, setengah menetap dan berpindah-pindah.

Sistem peternakan berpindah-pindah merupakan sistem yang tersulit untuk ditingkatkan karena sistem ini melibatkan perpindahan yang terus-menerus, oleh karena itu sulit membagi hewan berdasarkan umur, jenis kelamin dan pemberian pakan tambahan. 

Sistem peternakan setengah menetap yaitu pemeliharaan kawanan kambing dengan digembalakan sampai dengan batas wilayah yang masih dapat dicapai dari basis perkampungan.

Peternakan menetap mempunyai banyak pilihan untuk sistem peternakan yaitu yang ekstensif, semi ekstensif atau intensif. 

Tatalaksana pemeliharaan ekstensif tidak cocok untuk kambing. 

Juga untuk kambing perah karena menyebabkan erosi.  

Pemeliharaan Anak Kambing

Anak kambing yang baru dilahirkan segera dipisahkan dari induknya, dibersihkan dengan kain atau handuk bersih untuk membersihkan lendir yang menyumbat hidung, mata dan telinga. 

Kuku muda dikupas sedikit (ujungnya) agar pertumbuhan kuku dikemudian hari dapat normal dan baik.

Kemudian dilakukan pemotongan tali pusat dan diolesi dengan obat luar yodium tinctuur (tinctura yodii).

Atau dapat juga terjadi bahwa anak kambing yang baru lahir dapat dibiarkan bersama induk selama empat jam, agar mendapat perawatan langsung dari induk.

Setelah itu dipisah dan ditempatkan pada tempat yang sudah tersedia.

Kandang anak kambing diberi alas karung goni agar hangat dan tidak basah, dan dinding kandang ditutup dengan plastik terutama pada malam hari. 

Anak kambing yang baru lahir perlu sekali minum kolostrum (susu jolong) karena kolostrum merupakan pakan satu-satunya sumber antibodi terhadap penyakit. 

Karena tidak dibiarkan bersama induknya atau hanya empat jam bersama induknya, maka anak kambing mendapat susu kolostrum melalui botol, dimana anak kambing tersebut perlu dilatih untuk minum melalui botol. 

Anak kambing dapat susu pengganti atau diberi susu melalui botol sampai anak kambing cukup kuat untuk makan hijauan kering dan konsentrat. 

Susu pengganti dapat berupa susu sapi atau susu skim (susu buatan). 

Kambing perah akan menghasilkan kolostrum selama 7 - 10 hari setelah beranak dan harus diberikan pada anaknya empat sampai lima kali sehari. 

Hal ini dapat dilakukan dengan menyusukan langsung atau diberikan dalam botol, tergantung pengelolaan ternaknya.

Pemberian dengan botol dilakukan dua - tiga kali sehari dengan total pemberian + 8% dari bobot badannya atau anak kambing diberi kolostrum dengan jumlah  0,25 – 1,0 kg per ekor per hari. 

Bila susu kambing juga diperlukan untuk konsumsi manusia, maka ini akan dapat mengganggu kebutuhan susu bagi anak kambing.

Anak kambing tergantung sepenuhnya pada susu induk sampai kurang lebih tujuh - delapan minggu setelah lahir.

Bila penyusuan dibiarkan berlangsung hanya dua atau tiga hari pertama (periode kolostrum) dan selanjutnya diberi  susu terbatas dengan tangan atau susu pengganti, maka jumlah susu yang tersedia untuk konsumsi manusia bertambah.

Susu pengganti, biasanya dibuat dari susu sapi skim kering dengan ditambah karbohidrat dan lemak nabati. 

Pada kebanyakan negara tropis, karena susu pengganti tidak tersedia maka anak kambing tergantung sepenuhnya pada  susu induknya atau induk kambing lainnya. 

Pertumbuhan dan penampilan anak kambing dengan menggunakan susu pengganti lebih baik daripada anak kambing yang dibiarkan bersama induknya dari lahir sampai dengan disapih, dimana anak kambing yang mendapat susu pengganti dibiarkan menyusui tiga hari pertama dengan induknya untuk mendapatkan kolostrum. 

Pada saat lahir, abomasum mengambil tempat 8% dari seluruh kapasitas lambung, meningkat menjadi 20% pada umur dua bulan dan mampu mencernakan pakan padat dan anak kambing mulai mencicipi pakan padat ketika berumur sekitar dua sampai tiga minggu dan hal ini berguna untuk mempengaruhi perkembangan rumen.

Anak kambing membutuhkan konsentrat sampai dengan rumennya cukup berkembang untuk mencerna serat kasar, dan pada umur lima sampai enam bulan anak kambing dapat dilepas di padang penggembalaan. 

Anak kambing dapat diberi konsentrat setelah berumur dua sampai tiga minggu.

Tabel di bawah merupakan contoh pemberian susu dan pakan pada anak kambing PE dan Saanen.

Pemberian Susu dan Pakan per Hari untuk Anak Kambing dari Lahir sampai Umur 4 Bulan pada Peternakan Kambing PE

Umur

(hari)

Kolos-trum

(cc)

Susu

Induk

(cc)

Susu

Sapi

(cc)

Rumput

(g)

Konsentrat

(g)

Ampas

Tahu (g)

1-10

300

 

 

 

 

 

11-15

 

300

 

 

 

 

16-30

 

400

400

 

 

 

31-60

 

500

500

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

61-90

 

 

1000

500

50

200

91-120

 

 

1000

500

100

400

Sumber : Budiarsana, 2002

Keterangan: Secukupnya = konsumsi pakan mengikuti induk

Pemberian Susu dan Pakan per Hari untuk Anak Kambing dari Lahir sampai Umur 4 Bulan pada Kambing Saanen

Umur (hari)

Kolostrum (cc)

Susu Induk (cc)

Susu Sapi (cc)

Susu Skim (cc)

Rumput (g)

Konsentrat (g)

1-7

250

 

 

 

 

 

8-14

 

 

420

 

 

 

15-21

 

 

375

375

 

 

22-28

 

 

 

1000

 

 

29-49

 

 

 

1000

500

50

50-70

 

 

 

1000

1000

100

71-91

 

 

 

1000

1500

150

92-112

 

 

 

1000

2000

200

Sumber : Budiarsana, 2002

Pemberian susu skim dilakukan dengan mencampur susu bubuk skim dengan air dengan perbandingan 1 : 8.

Pemberian konsentrat dimulai pada anak kambing  dengan cara diberikan sedikit demi sedikit. 

Pemberian pakan pada anak kambing ketika anak kambing menjelang berumur satu bulan. 

Bobot Lahir Kambing

Bobot lahir anak kambing dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya lama masa kering dimana memberikan kesempatan induk menyediakan zat makanan untuk pertumbuhan janin.

Bobot lahir anak kambing 2,0 – 6,0 kg tergantung bangsa kambing dan tatalaksana pemeliharaannya. 

Anak kambing jantan lebih berat dari anak kambing betina dan anak kambing kelahiran tunggal lebih berat dari anak kembar dua.

Bobot lahir per ekor kambing anak tunggal lebih tinggi daripada anak kembar dua, tetapi jika dibandingkan dengan bobot lahir total per induk pada anak kembar dua lebih tinggi. 

Bobot lahir berkolerasi positif terhadap bobot hidup dewasa. 

Angka kematian pada anak kambing 20%.

Kematian anak kambing pada peternakan modern 4,95% untuk kambing lokal, 6,32% untuk kambing persilangan, dan untuk anak kambing yang dipelihara secara tradisional angka kematianya 21,10%.

Penyebab utama terjadinya kematian adalah diare terutama pada saat anak kambing berumur satu bulan.

Kejadian diare pada anak kambing terjadi ketika anak kambing mulai diberikan susu penganti. 

Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Bibit Kambing

Anak kambing disapih dari susu induk atau dari susu pengganti pada umur 16 minggu (4 bulan), tergantung pada banyaknya konsentrat yang diberikan setiap hari.

Pemberian jerami kualitas tinggi dan biji-bijian yang lebih awal akan merangsang perkembangan rumen, dan bila anak kambing telah makan jerami dan biji-bijian dengan baik, pemberian susu dapat dihentikan.

Pada kambing pedaging, ada kecenderungan menunda penyapihan untuk memberi kesempatan anak ambing memperoleh keuntungan maksimum dari susu induk. 

Penyapihan lebih cepat akan menyebabkan pertumbuhan lebih lambat dari penyapihan lebih lama. 

Ternak sebagai calon bibit yang dipelihara dipilih yang tidak cacat fisik.  

Anak kambing jantan yang dipakai sebagai calon bibit hanya 10% dan selebihnya dijual. 

Bibit jantan yang dipilih tentunya mempunyai catatan yang baik dan penampilan fisik yang baik.

Kriteria seleksi pada kambing jantan diantaranya dari bobot lahir dan pertambahan bobot badan per hari.

Anak betina yang lahir juga dijadikan sebagai bibit kecuali yang cacat fisik.

Anak kambing betina hendaknya dipertahankan dan tidak dijual untuk mengembangkan usaha peternakan kambing perah. 

Pada suatu sistem peternakan perlu dilakukan pemisahan kawanan ternak ke dalam kelompok.

Sehubungan dengan itu hanya perlu memisahkan kambing betina muda dari umur tiga bulan sampai dianggap cukup umur pembiakkan. 

Anak kambing jantan dipisah dengan anak kambing betina setelah berumur tiga bulan. 

Alasan pemisahan adalah untuk mencegah timbulnya kebuntingan dini pada anak betina yang ada dikelompoknya dan untuk memudahkan dalam menilai keunggulan jantan dan mencari bibit jantan.

Dewasa kelamin dapat terjadi pada umur empat sampai lima bulan pada anak kambing jantan dan empat sampai enam bulan untuk anak kambing betina.

Anak kambing bibit sebaiknya diberi pakan dengan baik sampai mencapai berat kawin pada umur 6 - 12 bulan. 

Bobot sapih pada anak kambing misalnya pada anak kambing PE adalah 12,95 kg pada anak jantan dan 11,52 kg pada anak betina. 

Lokasi Peternakan Kambing

Beberapa hal yang dijadikan pertimbangan dalam memilih lokasi kandang adalah sebagai berikut.

  1. Kandang dibangun di tempat yang teduh, tetapi cukup mendapat sinar matahari di waktu pagi.
  2. Lokasi kandang tidak terlalu jauh dari pengawasan atau penjagan terhadap gangguan.
  3. Kandang dibangun agak jauh dari lalu lintas masyarakat ramai, agar ternak tidak terganggu.
  4. Kandang yang dibangun dengan konstruksi yang kokoh dan dapat memberi perlindungan yang aman bagi ternak dari gangguan hembusan angin, terpaan hujan dan sengatan terik matahari.
  5. Kandang dibangun di atas tanah yang kondisinya padat, kering, tidak becek di waktu hujan dan tidak lembab sehingga memenuhi syarat kesehatan. 

Kandang Kambing

Kandang kambing selain mempunyai nilai investasi yang lama juga berguna untuk menghindari bahaya terhadap kondisi lingkungan.

Bangunan kandang juga harus bersih, dan ada ventilasinya agar ternak dapat terjaga kesehatannya karena ternak dikandangkan sepanjang hari. 

Perkandangan intensif dapat menimbulkan masalah jika perawatan dan kesehatan dengan standar tinggi tidak diterapkan.

Perkandangan itu harus ringan, berventilasi baik, drainase baik dan mudah dibersihkan. 

Ada dua tipe kandang yang umum dipakai, yaitu sebagai berikut.

  1. Kandang yang berlantai rata dengan tanah, beratap miring, tinggi 2 - 3 m di depan dan miring 1,0 – 1,5 m di belakang.
  2. Kandang panggung, lantai ditinggikan 1,0 – 1,5 m di atas tanah, sehingga mempermudah pembersihan dan pengumpulan kotoran serta air kencing. 

Tipe kandang yang umum dipakai di daerah tropis adalah sebagai berikut.

  1. Kandang pada tanah yang sering menempel pada bangunan lain dan lantainya dapat dibuat dari beton kasar atau tanah yang dipadatkan.
  2. Tipe kandang panggung yang sangat umum di Malaysia dan Indonesia. Kandang kambing yang baik adalah berbentuk panggung. Pada lantai kandang terdapat celah ukuran 1,5 - 3 cm untuk memudahkan kotoran jatuh langsung. 

Lantai panggung terbuat dari kayu, sedangkan dindingnya terbuat dari campuran bambu dan kayu dan atapnya terbuat dari asbes, dan ventilasi udara cukup baik 

Kandang ini dilengkapi dengan pintu untuk masing-masing ruangan kandang dan terletak di sebelah belakang, juga dilengkapi tempat pakan (palungan). 

Lantai dibawahnya diberi semen dan dibuat agak miring. 

Salah satu contoh model kandang panggung sederhana untuk pemeliharaan ternak kambing disajikan pada Gambar.

Model Kandang Kambing Panggung
Model Kandang Kambing Panggung  

Apapun tipe kandangnya, kandang harus mendapat cukup sinar matahari, ventilasi serta drainase yang baik dan gampang dibersihkan.

Penyediaan naungan merupakan prasyarat yang mutlak bagi kambing berproduksi tinggi yang diimpor dari daerah sejuk dan sangat peka terhadap sinar matahari yang terik dan temperatur tinggi. 

Dinding kandang tidak rapat dan ada jarak antara papan untuk ventilasi sehingga udara dapat keluar masuk dengan lancar. 

Bagian muka kandang menghadap ke arah terbitnya matahari agar cukup sinar matahari. 

Rataan luas lantai kandang untuk induk beranak yaitu 2,15 m2 per ekor, kambing muda dan dewasa 1,50 m2 per ekor, atau 1,90 m2 per ekor untuk kambing yang bunting. 

Luas lantai kandang untuk satu ekor jantan dewasa 1,2 m2.   Ukuran kandang untuk anak kambing 1,8 m x 1,8 m x 1,2 m dan dapat diisi 6 ekor anak kambing. 

Tempat pakan berupa palungan panjang terbuat dari papan kayu yang diletakkan menempel pada sisi depan kandang dengan ukuran lebar bawah 45 cm, tinggi (dalam) 30 cm dan lebar bagian atas 55 cm serta panjangnya sesuai dengan panjang kandang dengan ketinggian sekitar 40 cm dari lantai kandang, dan ukuran celah kandang untuk mengeluarkan kepala kambing ketika makan sekitar 20 x 25 cm terbuat dari kayu, dimana 20 cm tersebut untuk tinggi leher kambing.

Tinggi bak pakan berguna untuk mengurangi kontaminasi feses dan urine.  

Manajemen Pemeliharaan Kambing PE

Pemeliharaan kambing perah dapat diterapkan manajemen yang baik yang mampu beranak tiga kali per dua tahun.

Anak yang dilahirkan rata-rata dua ekor per kelahiran.

Untuk mencapai tiga kali beranak per dua tahun atau beranak setiap delapan bulan, maka perlu diterapkan manajemen sebagai berikut.

  1. Umur 1-10 hari pertama setelah melahirkan, susu induk harus diberikan kepada anaknya, karena anak kambing membutuhkan kolostrum pada awal laktasi.
  2. Setelah 10 hari pertama, susu diperah untuk dipasarkan atau dikonsumsi.
  3. Umur 60-90 hari setelah beranak, induk kambing yang masih menyusui dikawinkan.
  4. Tiga bulan pertama kebuntingan, susu masih dapat diperah.
  5. Memasuki umur kebuntingn tiga bulan, pemerahan dihentikan untuk memulihkan kondisi induk. Masa pemulihan selama dua bulan atau disebut masa kering.

Skema manajemen pemeliharaan kambing PE disajikan pada Gambar 5.3.

 Skema Manajemen Pemeliharaan Kambing PE
 Skema Manajemen Pemeliharaan Kambing PE (Sarwono,2002) 

Siklus hidup dan pola produksi kambing perah per laktasi berdasarkan umur selama pemeliharaan adalah sebagai berikut :

 

Produktivitas kambing
Keterangan: Produktivitas kambing pada bulan berikutnya akan mengalami                      penurunan, terutama hasil produksi susu menjadi sekitar 70%. 

Pemerahan Susu Kambing

Selama dua sampai tiga bulan anak kambing menyusu pada induknya.

Setelah anak kambing disapih, susu dapat diperah untuk dijual atau dikonsumsi.

Susu diperah dua kali sehari, yaitu pukul 06.00 pagi dan pukul 16.00 sore. Jika produksinya berlimpah dapat diperah tiga kali sehari pada pukul 06.00, 11.00 dan pukul 16.00.

Waktu pemerahan harus tepat, karena produksi dapat berkurang dan lebih pendek dari lama produksi seharusnya. 

Keahlian dalam memerah susu sangat diperlukan karena akan menentukan hasil hasil produksi susu dan lamanya masa laktasi.

Pemerah susu harus orang yang sehat atau tidak menderita penyakit menular, suka menjaga kebersihan, penyayang hewan dan cakap melakukan pekerjaan.

Adapun cara memerah susu kambing disajikan pada Gambar.

cara memerah susu kambing
Cara Memerah Susu Kambing (Jaya dan Tri, 2000) 

Penanganan Penyakit Pada Kambing

Kambing yang sehat memiliki suhu tubuh sekitar 39,5 – 40,50 C, denyut jantungnya 70 – 80 per menit dan kecepatan bernafas 12 – 13 kali per menit.

Kambing mengalami demam ringan jika suhu tubuhnya 41 – 41,50 C dan demam tinggi jika suhu tubuhnya lebih dari 420 C.

Beberapa penyakit pada kambing dijelaskan di bawah ini (Sarwono, 2002).

Kudis pada Kambing

Penyebab

:

disebabkan oleh tungau parasit Sarkoptes scabei yang menyerang pada kambing yang tidak pernah dimandikan, disikat atau kandang kotor.

Gejala

:

Gatal-gatal dan sangat gelisah, kulit merah menebal, borok, bulu rontok, tubuhnya kurus. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian.

 

Pengendalian

:

Kambing yang sakit diasingkan. Diberi ransum yang baik. Bulu sekitar kudis dicukur. Borok dibersihkan dengan air hangat. Ternak dimandikan dengan larutan bubuk Neguvon.

Pencegahan

:

Kandang disemprot dengan desinfektan (Ewawo Perex 20 EC).

 Cacingan pada Kambing

Penyebab

:

disebabkan oleh cacing Haemonchus concortus

Gejala

:

Susah buang kotoran. Kotoran yang keluar awalnya keras, lunak dan akhirnya mencret. Kambing tidak bisa gemuk. Perut besar, bulu kasar tidak mengkilat dan lesu.

Pengendalian

:

Kambing diobati dengan Cetarin Concurat, Wormx Powder atau Pleno Plus.

Pencegahan

:

Menjaga kebersihan kandang. Hindarkan ternak dari tempat becek.

Jantung Berair pada Kambing

Penyebab

:

disebabkan oleh Rickettsia cowdia ruminantium. Serangga penularnya adalah caplak Ambloyoma hebraeum.

Gejala

:

Kejang, demam berat, lidahnya terjulur, jalannya berputar-putar dan nafasnya berat. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian dalam 24-48 jam.

Pengendalian

:

Kambing diobati dengan tetracycline atau Gentamycin dengan cara injeksi.

Ingusan Meloidosis pada Kambing

Penyebab

:

disebabkan oleh Pseudomouos mollei yang banyak menyerang kambing muda.

Gejala

:

Demam ringan, nafsu makan kurang, nafas berat, batuk-batuk dan ingusan.

 

Pengendalian

:

Kambing diobati dengan tetracycline, chloramphenicol atau obat sulfa. Ternak yang sudah sembuh dapat sakit lagi jika stress.

 Enterotoxemia pada Kambing

Penyebab

:

disebabkan oleh bakteri Clostridium perfringens. Termasuk penyakit sangat mematikan.

Gejala

:

Kejang-kejang, kepala tertekan, berputar-putar dan mata dapat menjadi buta.

Pengendalian

:

Disuntik dengan Trimethosulf.

Cacar pada Kambing

Penyebab

:

disebabkan oleh virus cacar

Gejala

:

Nafsu makan kurang, demam, hidung ingusan dan pernafasan berat.

Pengendalian

:

Belum ada obat yang efektif. Untuk pengobatan secara lokal dapat digunakan Methylen Blue.

Anthrax pada Kambing

Penyebab

:

disebabkan oleh Bacillus anthraxis. Dapat menyebabkan kematian dalam 48 jam.

Gejala

:

Demam tinggi 41,50 C, permukaan mulut dan mata terlihat merah tua hingga ungu, pernafasan cepat dan dangkal, denyut nadi cepat dan lemah, tidak mau makan. Pembekakan pada lidah, kerongkongan, dubur dan vulva. Kotoran berdarah dan air kencing merah darah.

Pengendalian

:

Ternak yang mati dikubur sedalam 2,5 m dan diberi kapur atau dibakar. Dilakukan vaksinasi anthrax.

Pink Eye pada Kambing

Penyebab

:

disebabkan oleh Moraxella sp, Rickettsia sp  dan Mycoplasma conjunctivae. Bakteri Aeromonas hudrophilla, Pleisomonas shigelloides dan Actinobacillus actinomycetemcomitans.

Gejala

:

Mata terlihat berair, berwarna kemerahan, bengkak pada kelopak mata dan adang timbul borok pada mata.

 

 

Pengendalian

:

Menjaga kebersihan lingkungan. Pengobatan pada mata dengan salep atau tetes mata yang mengandung larutan asam borat atau larutan Merkurokrom.

Kembung pada Kambing

Penyebab

:

disebabkan oleh gangguan pencernan.

Gejala

:

Rumen membesar. Kambing tampak gelisah dan sulit bernafas. Punggung membungkuk.

Pengendalian

:

Kambing diobati dengan antibiotik. Hindarkan pemberian pakan yang menyebabkan kembung.

Mastitis pada Kambing

Penyebab

:

disebabkan oleh infeksi kuman yang menyerang sel-sel kelenjar susu.

Gejala

:

Ambing membengkak berwarna kemerahan dan terasa panas. Air susu berwarna kecoklatan, kuning tua, kehijau-hijauan atau kemerah-merahan, lebih kental atau lebih encer dari normal. Kambing tampak lesu dan tidak mau menyusui.

Pengendalian

:

Disuntik antibiotik. Susu diperah setiap hari sampai habis dan dikompres dengan air hangat.

Pencegahan

:

Memperbaiki sanitasi kandang, menjaga kebersihan saat memerah susu, menghindarkan dari benda yang dapat melukai ambing.

 Glossary Teknik Budidaya Kambing Perah (SUSU)

ternak kambing, beternak kambing, peternakan kambing, cara ternak kambing, cara beternak kambing, usaha ternak kambing, budidaya kambing, bisnis kambing, kambing etawa, fermentasi pakan kambing, pakan kambing, bisnis ternak kambing, ternak kambing etawa, pakan ternak kambing, usaha kambing, 

fermentasi pakan ternak kambing, budidaya ternak kambing, fermentasi pakan ternak, peluang usaha ternak kambing, cara memelihara kambing, ternak domba, ternak kambing gibas, jenis kambing, cara bisnis kambing, pakan fermentasi kambing, kambing ternak

cara usaha ternak kambing, usaha peternakan kambing, cara beternak kambing etawa, analisa usaha ternak kambing, jual bibit kambing, ternak kambing tanpa ngarit, ternak kambing modern, harga kambing etawa, cara budidaya kambing
peternakan kambing etawa, cara penggemukan kambing, kambing domba, susu kambing, budidaya kambing etawa, susu kambing etawa, pakan kambing etawa
cara ternak kambing etawa, ternak kambing potong, 

prospek ternak kambing, jamu kambing agar cepat gemuk, ternak kambing domba, cara ternak kambing modern, beternak kambing etawa, analisa ternak kambing, tips ternak kambing, manfaat susu kambing etawa, peternak kambing sukses, bisnis peternakan kambing, memelihara kambing, cara bisnis ternak kambing, peternakan kambing modern,khasiat susu kambing, pelihara kambing, penggemukan kambing, peluang usaha ternak, kambing gembel, usaha penggemukan kambing, pakan kambing alternatif, investasi ternak kambing, ternak domba tanpa ngarit, manfaat susu kambing, harga anak kambing umur 4 bulan, ternak kambing pe, kambing pe, cara pelihara kambing, 

pelatihan ternak kambing, cara ternak kambing gibas, jenis pakan kambing, cara ternak domba, kambing aqiqah, video ternak kambing, peluang ternak kambing, bisnis jual beli kambing, sukses ternak kambing, analisa usaha peternakan kambing, modal ternak kambing, beternak domba, pakan ternak kambing etawa, bibit kambing etawa, kambing kacang, harga kambing, bisnis kambing etawa, ternak sapi potong, foto kambing etawa, jual kambing etawa, jenis kambing etawa, kambing gibas, 
analisa usaha penggemukan kambing, ternak kambing kacang, ternak kambing fermentasi, pakan penggemukan kambing

kerjasama usaha ternak kambing, ternak kambing gembel, harga bibit kambing, pakan alternatif kambing, harga kambing gibas, peluang usaha kambing, pakan ternak kambing alternatif, modal usaha ternak kambing, cara beternak kambing pedaging

budidaya domba, prospek beternak kambing, budidaya kambing gibas, beternak kambing potong, kalkulasi ternak kambing, pakan ternak kambing agar cepat gemuk, ternak kambing hcs, kerjasama ternak kambing, usaha ternak kambing potong, bisnis kambing potong, peluang bisnis ternak kambing, ternak domba pedaging, cara usaha kambing

penggemukan kambing dengan pakan fermentasi, bisnis penggemukan kambing, ternak kambing sukses, proposal ternak kambing, pemeliharaan kambing, ternak kambing pedaging, cara ternak kambing etawa tanpa ngarit, prospek usaha ternak kambing, ternak kambing etawa tanpa ngarit, jenis rumput pakan kambing, kemitraan usaha ternak kambing, cara fermentasi pakan ternak kambing, jual pakan ternak kambing