Last Updated:
Pupuk
Pupuk https://www.pustakadunia.com

Pupuk Pembahasan Secara Lengkap

Usaha pertanian modern termasuk usaha kehutanan semakin tergantung pada pemakaian pupuk.

Hal ini sejalan dengan usaha peningkatan produksi pertanian melalui penggunaan varietas unggul yang membutuhkan pupuk lebih banyak.

Produksi pertanian yang tinggi tidak dapat diperoleh tanpa penggunaan pupuk, yang merupakan ciri dari sistem pertanian intensif.   

Penerapan Pupuk
Dalam usaha pertanian yang intensif tersebut, kesuburan tanah terus mengalami kemerosotan akibat diambil oleh tanaman dan hilangnya pupuk karena pencucian dan penguapan. 

Untuk memenuhi permintaan produksi pertanian yang terus meningkat dewasa ini, berbagai usaha terus dilakukan, khususnya melalui usaha pemupukan berimbang antara unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman.  

Pupuk

Ada 16 unsur hara esensial yang diperlukan tanaman, 9 unsur hara dinamakan unsur hara makro dan 7 unsur hara dinamakan unsur hara mikro.  

Termasuk unsur hara makro adalah C, H, O, N, P, K, Ca, Mg dan S.  Unsur C, H dan O dipenuhi dari air dan udara.  

Unsur N, P dan K sebagian besar dipenuhi dari pupuk, sedangkan Ca dan Mg biasanya diberikan dalam bentuk pengapuran.  

Pupuk S biasanya tidak menjadi masalah pada daerah yang ada gunung apinya.  

Belerang dari gunung api menguap dan bercampur dengan awan kemudian turun bersama air hujan.  

Termasuk unsur hara mikro adalah Fe, Cu, Mn, Zn, B, Mo dan Cl umumnya dipenuhi dari batuan yang melapuk dan bahan organik. 

Upaya peningkatan produksi pangan hampir selalu diikuti oleh pemakaian pupuk yang makin besar.  

Namun demikian di daerah beriklim tropika basah dengan tanah-tanah yang mengalami pelapukan lanjut (highly weathered soils) seperti Indonesia kebutuhan pupuk lebih banyak karena sebagian dari pupuk tersebut hilang melalui irigasi, run off, nitrifikasi dan volatilisasi. 

FAO mencatat penggunaan pupuk di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) berkembang cukup pesat, terutama pupuk nitrogen.

Namun demikian penggunaan pupuk P dan K dinilai masih sangat rendah termasuk di Indonesia.  

Hal ini kurang menguntungkan terutama untuk lahan yang potensi kesuburan tanahnya rendah.  

cara memberikan pupuk
Unsur P dan K termasuk unsur hara esensial yang dibutuhkan dalam jumlah yang besar.

Oleh karena itu, pupuk P dan K merupakan pupuk yang sama pentingnya dengan pupuk N. 

Pengelompokan Pupuk

Secara umum pupuk dapat dibedakan menjadi pupuk anorganik dan pupuk organik. Pupuk anorganik disebut juga pupuk kimia.  

Dalam kelompok ini terdapat pupuk urea, ZA, TSP, SP 36 dan KCl. 

Sedangkan pupuk organik adalah pupuk yang dihasilkan dari dekomposisi sisa-sisa tanaman dan kotoran hewan, termasuk di dalamnya kompos dari kotoran cacing (kasting) dan pupuk hijau.  

Pupuk kimia biasanya dihasilkan oleh industri besar, sedangkan pupuk organik dihasilkan oleh industri kecil dan industri rumah tangga.  

Untuk menghasilkan pupuk organik dapat digunakan bahan yang mengandung mikroorganisme.  

Bahan tersebut berfungsi mempercepat pengomposan.  Salah satu bahan tersebut adalah stardex. 

Dari uraian di atas, industri pupuk masih merupakan mata usaha yang perlu dikaji kemungkinan pengembangannya seiring dengan usaha peningkatan produksi pertanian.

Kenyataan bahwa stok pupuk pada tingkat nasional belum tersedia secara merata dan kadang-kadang terjadi kelangkaan pupuk.

Jenis Pupuk

No.Jenis PupukContoh

1.

2.

Pupuk Anorganik

Pupuk Organik

Urea, ZA, TSP, SP36 dan KCl

Kompos, kotoran hewan, kasting, pupuk hijau

Sumber : Data Primer, diolah 

Pupuk yang ada di pasaran sekarang ini banyak sekali jumlahnya baik pupuk asli ataupun pupuk palsu.

Pupuk palsu maksudnya pupuk yang diproduksi dengan formula yang tidak sesuai dengan kandungan unsur seperti yang tertera pada label kemasan, dan dibuat mirip dengan jenis pupuk yang asli.

contoh pupuk palsu
Pupuk palsu ini banyak digunakan oleh para petani yang memerlukan harga pupuk yang relatif rendah.

Akan tetapi karena kualitas pupuk palsu tidak baik seperti pupuk aslinya, maka petani yang menggunakan akan dirugikan. 

Jika ini terus berlangsung pada akhirnya petani tidak akan membeli pupuk tersebut. Dampak akhirnya akan merugikan industri pupuk baik pupuk asli maupun pupuk palsu itu sendiri.

 Jenis-Jenis Pupuk Kimia 

Ada tiga jenis pupuk kimia yang diproduksi di Indonesia, yaitu urea, SP-36, dan ZA.  

Jumlah pupuk yang diproduksi tergolong besar dan mengalami kenaikan cukup tinggi adalah pupuk urea.

Pada tahun 2000, produksinya mencapai 6.333.717 ton atau naik 0,03% dibanding tahun sebelumnya sebesar 6.146.017 ton.  

Sementara itu produksi pupuk SP-36, pada tahun 2000 hanya mencapai 464.427 ton atau turun 45,60% dibanding tahun sebelumnya.  

Sedangkan produksi pupuk ZA pada tahun 2000 mengalami kenaikan dari 461.424 ton menjadi 491.051 ton atau naik sekitar 6,40% dibanding tahun sebelumnya.  Data produksi pupuk menurut jenisnya pada tahun 1994- Juni 2001.

Produksi Pupuk menurut Jenisnya, 1994- Juni 2001                                                                                                                     (Ton)

Tahun

Urea

SP-36

ZA

Total Seluruh Jenis Pupuk

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

Jan-Sep, 2001

5.289.110

5.894.714

6.199.977

6.305.736

6.154.714

6.146.017

6.333.717

4.074.769

1.176.809

858.127

986.049

788.603

813.620

854.090

464.427

483.601

611.619

655.524

639.987

432.691

419.720

461.424

491.051

336.326

7.077.538

7.408.365

7.826.007

7.527.029

7.388.054

7.261.621

7.335.741

4.894.696

Sumber: APPI, (2001). 

Disamping itu, meskipun pupuk KCl saat ini masih diimpor tidak tertutup kemungkinan suatu saat dibuat di dalam negeri.  

Pupuk jenis ini sama pentingnya dengan pupuk urea dan SP-36.  

Pupuk SP-36 merupakan pupuk P untuk mengganti TSP yang bahan bakunya dimpor.  

Pupuk SP-36 diproduksi dari bahan baku dalam negeri.  

Produksi pupuk SP-36 tidak mengalami kenaikan dari tahun ke tahun dan bahkan cenderung mengalami penurunan khususnya tahun 2000.  

Hal ini mungkin disebabkan kesulitan bahan baku. Bahan baku SP-36 sebagian dipenuhi dari dalam negeri yang jumlahnya terbatas. 

Selain jenis-jenis pupuk tersebut di atas yang dihasilkan oleh industri besar, berbagai jenis pupuk yang berkualitas lebih rendah dapat dihasilkan oleh industri pupuk yang berskala sedang dan kecil.

Industri pupuk tersebut dapat memproduksi campuran pupuk dengan perbandingan tertentu.

Misalnya mencampur pupuk nitrogen, pupuk P dan pupuk K dengan perbandingan 15-15. 

Industri pupuk berskala kecil juga dapat memproduksi pupuk dengan bahan baku lokal misalnya batuan fosfat yang harganya murah.

Pupuk jenis inilah yang rawan pemalsuan.  

Jenis pupuk lain yang mungkin diproduksi oleh industri pupuk lokal adalah mencampur pupuk N, P, dan K dengan unsur mikro.  

Jenis pupuk ini biasanya untuk formulasi jenis tanaman tertentu.

Ukuran dan Kemasan Pupuk Komersial 

Undang-undang di negara tertentu mengharuskan adanya semacam bea untuk setiap pupuk yang dijual.  Pada umumnya setiap ton pupuk dipajak.

Oleh karena itu, pengusaha pupuk harus mencatumkan data berikut pada kantong atau label tertentu.

  1. Bobot bersih pupuk tiap kemasan
  2. Nama, atau merk dagang
  3. Susunan kimia yang terjamin
  4. Kemasan potensial
  5. Nama dan alamat pengusaha pupuk 

Untuk melaksanakan undang-undang tersebut negara dilengkapi dengan berbagai kelengkapan.

Pemeriksaan dan analisis pupuk berada pada suatu jawatan, seperti Dinas Pertanian, Kebun Percobaan Balai Informasi Pertanian, atau Balai Kimia.  

Jawatan tersebut menunjuk beberapa pemeriksa yang mengambil contoh-contoh dari pupuk yang beredar di pasaran. 

Contoh-contoh tersebut dianalisis untuk memastikan apakah isi dan kadarnya sesuai dengan jaminannya.  

Biaya untuk pemeriksaan diperoleh dari pajak setiap ton pupuk. 

Bentuk pupuk urea ada yang berbentuk tabur (prill) dan juga berbentuk tablet (granull).  

Menggunakan urea tablet, sebenarnya lebih menguntungkan ketimbang menggunakan pupuk urea tabur.  

Hanya saja, petani belum terbiasa menggunakan pupuk urea tablet, karena harus menggunakan lebih banyak tenaga kerja saat pemupukan.  

Sekarang bentuk pupuk yang banyak dibuat oleh industri kecil adalah yang berbentuk butir seperti bola.  

Ukuran butiran bermacam-macam dan dengan warna yang beragam.  Ada yang kemerahan, kecoklatan, abu-abu dan lain-lain.

Kualitas Pupuk 

Kualitas pupuk harus mengacu pada pencapaian International Standar Quality sehingga dapat bersaing di pasaran internasional.

Berikut beberapa standar internasional untuk semua jenis pupuk (ISO-Guide 25, Australia 1994).

  1. ISO 9002              SGS Yearsly                      1995
  2. ISO 14001            SGS                                   1997
  3. ISO 14001            Sucofindo                           1997
  4. ISO 9001              Sucofindo                           1999 

Standar mutu pupuk Indonesia (SNI) berdasarkan jenisnya antara lain sebagai berikut.   

  1. Pupuk Nitrogen :
 

Ammonium Sulfat (ZA)

Nitrogen dari Ammonium (dihitung sebagai N):......................... min. 21,0%

Asam bebas (dihitung sebagai H2SO4) :.................................... max.  0,4%

 

Urea

Nitrogen (dihitung sebagai N) : ................................................  min. 46,0%

Biuret : ...................................................................................  max.  1,0% 

  1. Pupuk Fosfat: 
 

Super Fosfat Rangkap (DS)

Fosfat larut dalam air (dihitung sebagai P2O5) : .........................  min. 38,0%

 

Super Fosfat Triple (TSO)

Fosfat larutan dalam asam sitrat (dihitung sebagai P2O5) :.......... min. 46,0%

 

Fosfat Alam

Fosfat larut dalam asam mineral (dihitung sebagai P2O5): ..........  min. 20,0%

Kehalusan Mesh 80 : ..............................................................  min. 60,0% 

  1. Pupuk Kalium: 
 

Kalium Chlorida

Kalium (dihitung sebagai K2O) : ..............................................  min. 60,0% 

  1. Pupuk Compound: 
 

Ammonium Fosfat

Amofas 1 (SS16-20)

Nitrogen dari Ammonium (dihitung sebagai N) : .......................  min. 16,0%

Fosfat (dihitung sebagai P2O5) : ...............................................  min. 20,0%

Amofas II

Nitrogen dari Ammonium (dihitung sebagai N) : .......................  min. 10,0%

Fosfat (dihitung sebagai P2O5) : ...............................................  min. 46,0%

 

Kalium Nitrat

Nitrogen dari Nitrat (dihitung sebagai N) : ...............................  min. 12,5%

Kalium (dihitung sebagai K2O) : ..............................................  min. 42,0% 

Sumber :     "Pupuk dan Pemupukan pada Tanaman Pangan", Kerjasama Ditjen Pertanian Tanaman Pangan dengan Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia/APPI). 

Untuk menjaga kualitas produk pupuk perlu juga dilakukan uji di laboratorium dan uji komparatif di lapangan.  

Yang paling penting dari penetapan kualitas pupuk adalah kesesuaian unsur yang  dikandung dengan jaminan yang tercantum dalam kemasan.  

Jika nilainya sama berarti kualitasnya tinggi.  Semakin kecil di bawah nilai yang tercantum dalam kemasan, kualitasnya semakin jelek.

Pupuk yang dibuat untuk tanaman tertentu perlu diuji dengan tanaman tertentu pula dan dibandingkan dengan standar pupuk.  

Pupuk yang baik juga ditentukan oleh keawetan pupuk selama penyimpanan. 

Pupuk yang berkualitas baik tidak mudah rusak bentuknya selama penyimpanan dalam gudang. 

Dosis Pupuk Tanaman dan Kegunaanya 

Jumlah pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman berbeda-beda tergantung dari jenis tanaman.  

Secara garis besar tanaman dapat dikelompokkan menjadi empat, sebagai berikut.

  1. Tanaman Padi sawah
  2. Tanaman Hortikultura: sayur-sayuran dan buah-buahan, seperti bayam, tomat, cabai, terung, dan lain-lain.
  3. Tanaman Palawija: kedelai, jagung, kacang tanah, dan lain-lain.
  4. Tanaman Perkebunan: kopi, cengkeh, karet, kelapa sawit, dan lain-lain. 

Jumlah pupuk yang diperlukan untuk setiap jenis pupuk dan jenis tanaman disajikan pada Tabel.

Dosis Pupuk yang Diperlukan untuk Setiap Jenis Tanaman

Jenis Tanaman

Urea (kg/Ha)

TSP (kg/Ha)

KCl (kg/Ha)

Padi Sawah

150 – 250

200 – 250

150 – 250

Tanaman Hortikultura

200 – 350

150 – 250

100 – 200

Tanaman Palawija

150 – 300

200 – 300

150 – 200

Tanaman Perkebunan

150 - 400

200 – 150

150 – 200

Sumber : Data Primer, diolah 

Secara umum pupuk niterogen diperlukan tanaman pada fase vegetatif. 

Kekurangan nitrogen menyebabkan daun tanaman berwarna kuning.  

Tanaman yang diambil daunnya memerlukan pupuk nitrogen dalam jumlah banyak.  

Pupuk P dan K diperlukan dalam jumlah banyak oleh tanaman pada fase generatif yaitu pada saat tanaman dalam pembentukan bunga, buah dan biji.

Tanaman yang dipanen buah dan bijinya memerlukan pupuk P dan K dalam jumlah yang mencukupi.  

Pupuk mikro : Fe, Cu, Zn, Mn, B, Mo, Cl diperlukan tanaman dalam jumlah yang kecil. 

Umumnya pupuk ini adalah cukup dipenuhi dari pelapukan batuan.  

Peranannya dalam tanaman dari masing-masing unsur sangat penting untuk metabolisme tanaman yang sangat berkaitan dengan fotosintesa.

Pupuk Anorganik 

Dalam pembahasan aspek teknis akan diuraikan mulai dari kepemilikan lokasi pabrik, kesesuaian lokasi pabrik yang harus mempetimbangkan bahan baku dan daerah pemasaran serta prasarana dan infrastruktur.  

Dalam artikel ini juga akan dibahas lebih spesifik tentang teknis pembuatan pupuk di pabrik khususnya menyangkut reaksi-reaksi yang berlangsung selama proses pembuatan pupuk.  

Pembahasan dimulai dengan pupuk anorganik kemudian dilanjutkan dengan pupuk organik.  

Tujuan industri pupuk adalah sebagai berikut.

  1. Memproduksi pupuk dengan kualitas terjamin untuk memenuhi kebutuhan konsumen baik yang memerlukan pupuk dalam jumlah besar (pengusaha perkebunan) maupun dalam jumlah kecil (petani).
  2. Menyediakan pupuk dalam jumlah yang cukup di semua daerah sasaran penjualan. 

Lokasi Pabrik Pupuk 

Karena bahan baku berasal dari gas bumi, maka lokasi paling strategis untuk lokasi pabrik urea adalah di suatu tempat yang memang ada sumber gas alam.

Sedangkan produksi SP-36 tidak harus demikian, pertimbangannya adalah pengangkutan batuan fosfat kurang berisiko dibanding gas alam.  

Tapi demi efisiensi pembangunan pabrik SP-36 dapat saja dalam satu lokasi dengan bahan baku.  

Untuk pupuk yang lain perlu pertimbangan mendekati bahan baku atau mendekati konsumen.  

Namun demikian lokasi pabrik sebaiknya jauh dari permukiman penduduk karena pabrik pupuk biasanya menimbulkan kebisingan dan bau yang tidak sedap.

Kesesuaian Lokasi Pabrik Pupuk 

Untuk menentukan kesesuaian tempat atau lokasi harus dilakukan survei.

Survei meliputi kesesuaian lahan yang dikaitkan dengan kerusakan lingkungan dan kesesuaian yang berkaitan dengan sosial kemasyarakatan.

Kelebihan dan kekurangan dievaluasi untuk menentukan tempat yang paling cocok. 

Survei ini didasarkan pada aspek ekonomi, sosial dan budaya, serta lingkungan.  

Aspek ekonomi antara lain pada kedekatan dengan sumber bahan baku sehingga dapat menekan biaya transportasi seminimal mungkin serta kondisi pasar dan pemasaran.  

Aspek sosial dan budaya yaitu kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan, berpengaruh kepada kondisi masyarakat di sekitarnya.  

Sedangkan aspek lingkungan yang harus diperhatikan adalah ketersediaan air dan pembuangan limbah serta penanggulangannya.

Prasarana Transportasi Pabrik Pupuk

Prasarana transportasi merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan lokasi pabrik.

Industri pupuk besar yang sudah ada biasanya menggunakan pelabuhan sebagai jalur distribusi.

Untuk pembangunan suatu industri pupuk baru, jika tidak terdapat pelabuhan, prasarana jalan mutlak diperlukan. 

Pembangunannya disesuaikan dengan kapasitas dukung operasional kegiatan.

Jalan sangat penting untuk mengangkut bahan baku dan pendistribusian produk pupuk.

Disamping jalan untuk pengakutan, jalan untuk lalu lintas pekerja dan pegawai pabrik juga perlu dipikirkan.

Infrastruktur (Utilities)

Utilities mencakup hal-hal di bawah ini.

  1. Air bersih untuk bahan baku, air untuk pendingin, air bebas mineral untuk ketel uap, uap air, udara instrument, tenaga listrik, O2 dan Nitrogen.
  2. Bahan baku udara yang diperoleh dari udara bebas di dalam Fractionation Column didinginkan dengan berdasarkan perbedaan titik embun, sehingga unsur oksigen dan nitrogen dapat dipisahkan.  Ini terutama untuk industri pupuk nitrogen.
  3. Gas alam merupakan bahan baku pupuk urea. Ketersediaannya sangat banyak di Indonesia. Bahan baku pupuk lainnya juga perlu disiapkan sebelum memproduksi pupuk dengan bahan baku tersebut.

Pupuk Organik 

Lokasi Pabrik Pupuk Organik 

Pupuk organik memerlukan bahan baku dari limbah pertanian, sampah domestik, sampah kota dan kotoran hewan.  

Oleh karena itu lokasi pabrik sebaiknya berada di sekitar bahan baku yaitu dekat dengan tempat pembuangan sampah, dekat dengan daerah pertanian yang menghasilkan limbah, atau dekat dengan daerah peternakan yang besar.  

Dengan mendekati sumber bahan baku, maka pabrik pupuk organik akan terjamin kelangsungan operasinya.

Kesesuaian Lokasi Pabrik Pupuk Organik 

Untuk mengevaluasi kesesuaian tempat pabrik pupuk organik perlu dikaji jumlah bahan baku yang dibutuhkan sesuai dengan kapasitas produksinya.  

Studi yang teliti dapat menyatakan jumlah bahan baku sampai periode tertentu.  

Dihindarkan lokasi pabrik dekat dengan pemukiman karena dalam proses pembuatannya mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Prasarana Transportasi Pabrik Pupuk Organik

Jalan merupakan sarana transportasi yang sangat vital untuk pengembangan pupuk organik.  

Berhubung pupuk organik merupakan pupuk yang jumlah kandungan haranya rendah, maka diperlukan dalam jumlah yang besar untuk memenuhi kebutuhan tanaman. 

Untuk itu jalan yang dapat dilewati kendaraan truk merupakan syarat didirikannya pabrik pupuk organik.

Bahan Baku Pupuk Anorganik 

Bahan baku untuk memproduksi amoniak dan urea adalah gas alam, sedangkan untuk SP-36 adalah batuan fosfat (rock phosfate) dan bahan baku ZA adalah belerang. 

  • Gas Alam. 

Bahan baku utama pupuk nitrogen adalah gas alam.  

Gas alam ditemukan sebagai Assosiated Gas (dari Reservoir Minyak) dan Non Assosiated Gas (dari Reservoir gas yang tidak mengandung minyak). 

Penyebaran lokasi cadangan gas alam menyebabkan keterbatasan lokasi pabrik pupuk nitrogen.  

Menurut data tahun 1997 dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Departemen Pertambangan dan sumberdaya mineral cadangan gas alam sebesar 137.794 BSCF (Billion Standard Cubic Feet) terdiri atas 76.172 BSCF cadangan terbukti dan 61.622 BSCF cadangan potensial.  

Cadangan gas alam terbesar berada di wilayah Kepulauan Natuna yaitu sebesar 48.838 BSCF atau 35,44% dari jumlah cadangan gas alam Indonesia.  

Oleh karena itu Kepulauan Natuna sangat berpotensi untuk pengembangan industri pupuk urea.

Akan tetapi karena lokasinya cukup jauh dari pusat konsumen sehingga pemanfaatannya belum optimal karena tidak ekonomis. 

Cadangan gas alam Indonesia tersebar di beberapa wilayah lainnya seperti di daerah-daerah Aceh 6.953,6 BSCF, Sumatera Utara 7.301,2 BSCF, Sumatera Tengah 842,1 BSCF, Sumatera Selatan 14.041,2, Jawa Barat 6.632,0 BSCF, Jawa Timur 6.038,1, Kalimantan 45.564,3 BSCF, Sulawesi 820,1 BSCF, dan Irian Jaya 762,9 BSCF. Cadangan gas alam Indonesia disajikan pada Tabel.

Cadangan dan Eksplorasi Gas Bumi Indonesia Januari 1997.                                

(BSCF)

No.

Wilayah Kerja

Eksplorasi

Cadangan

Jumlah

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Aceh Utara

Sumatera Utara

Sumatera Tengah

Sumatera Selatan

Jawa Barat

Jawa Timur

Kalimantan

Natuna

Sulawesi

Irian Jaya

5.755,7

1.336,8

546,0

4.490,8

4.819,2

3.186,2

25.507,8

29.702,4

623,8

203,2

1.197,9

5.964,4

296,1

9.550,4

1.812,8

2.851,9

20.056,0

19.135,7

196,3

559,7

6.953,6

7.301,2

842,1

14.041,2

6.632,0

6.038,1

45.564,3

48.838,1

820,1

762,9

Jumlah:

76.171,9

61.621,7

137.793,6

Sumber: Ditjen Minyak dan Gas Bumi (1998) 

Produksi dan Pemanfaatan Gas Bumi Indonesia Tahun 1993-1997

    (MMSCF)

Uraian

1993

1994

1995

1996

1997

Produksi

2.661.878

2.941.622

2.999.229

3.164.016

3.166.035

Pemanfaatan:

LNG

LPG

Kilang

Pupuk

Petrokimia

Semen

Industri Baja

Listrik

PGN

Industri Lain

Pemakaian sendiri

2.448.227

1.530.108

27.979

27.633

200.326

-

4.855

46.352

37.272

22.268

10.904

540.530

2.755.278

1.663.545

28.619

34.963

183.824

12.877

2.715

41.217

155.610

29.154

8.311

594.443

2.835.270

1.593.063

28.823

34.432

190.625

17.150

5.633

40.025

208.988

41.185

17.315

658.031

2.987.594

1.661.232

30.680

36.792

203.169

18.453

4.956

40.643

233.087

49.097

8.825

700.660

2.975.184

1.713.687

25.395

39.391

206.911

19.417

4.551

36.034

237.286

55.634

6165

630.313

Hilang/dibakar

213.651

186.344

163.959

176.422

190.851

Sumber: Ditjen Minyak dan Gas Bumi (1998)

Pemanfaatan gas alam untuk industri pupuk pada tahun 1997 baru mencapai 6,5% dari total produksi gas alam yaitu sebesar 206.911 MMSCF (Million Standard Cubic Feet) dari 3.166.035 MMSCF (1997).  

Gas alam yang sudah dimanfaatkan sebesar 2.975.184 MMSCF sehingga masih ada sisa gas alam yang belum termanfaatkan sebesar 190.851 MMSCF.  

Oleh karena itu pemanfatan gas alam untuk industri pupuk dapat terus ditingkatkan. 

  • Batuan Fosfat (Rock Phospate) 

Berdasarkan bentuk geografi dan ciri-ciri geologi di Indonesia, endapan fosfat yang ada diperkirakan dalam bentuk endapan fosfat gua/guano dan endapan fosfat sedimen (marine phosphate).  

Sampai saat ini potensi endapan fosfat di seluruh Indonesia masih dilakukan penyelidikan yang mencangkup semua daerah yang secara teoritis diduga mempunyai potensi endapan fosfat.  

Berikut beberapa daerah di Jawa dan Madura yang memiliki kandungan cadangan fosfat yang dapat dikembangkan untuk memproduksi pupuk fosfat disajikan pada Tabel.

Potensi Endapan Fosfat di Jawa dan Madura

No.

Lokasi atau Daerah

Sumber Daya (106 ton)

1.

Cibinong, Ciampea dan Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat

250 s.d. 500

2.

Pamancingan-Padaherang-Cijulang, Ciamis, Jawa Barat

2.000 s.d. 4.500

3.

Karangbolong, Jawa Tengah

1.000 s.d. 2.500

4.

Ajibarang, Jawa Tengah

250 s.d.500

5.

Brati, Pati, Jawa Tengah

500 s.d. 1.500

6.

Sukolilo, Pati-Grobogan, Jawa Tengah

250 s.d. 1.000

7.

Karangrayung, Grobogan, Jawa Tengah

250 s.d. 500

8.

Gunungkidul, Jawa Tengah

250 s.d. 500

9.

Pacitan dan Trenggalek, Jawa Timur

250 s.d. 500

10.

Rembang, Tuban, Lamongan dan Gresik, Jawa Timur

1.000 s.d. 3.000

11.

Madura dan pulau-pulau sekitarnya, Jawa Timur

1.000 s.d. 2.500

Sumber: Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral (1998) 

Hasil penyelidikan tersebut diharapkan dapat mengungkapkan ada atau tidaknya endapan fosfat yang ekonomis baik besar cadangan maupun mutunya.  

Sampai sekarang endapan yang ditemukan adalah endapan gua/guano yang letaknya tersebar dengan kandungan P2Obervariasi antara 0%-47% dan jumlah depositnya kecil.

Sedangkan endapan fosfat sedimen yang pada umumnya berpotensi besar dan bermutu baik masih diselidiki.

Sampai saat ini batuan fosfat untuk kebutuhan dalam negeri masih diimpor dari Maroko, Tunisia, USA dan Yordan. Batuan fosfat dalam negeri dipergunakan sebagai bahan baku pupuk fosfat alam. 

  • Belerang 

Cadangan/deposit belerang yang ditemukan tersebar di berbagai wilayah dengan jumlah yang kecil dan mutu yang rendah dengan kadar belerang antara 20%-50%.  

Oleh karena itu penambangan belerang dilakukan secara kecil-kecilan dengan peralatan sederhana dan sebagian dilakukan secara padat karya.  

Dalam tahun 1998 hanya ada dua pemegang Kerta Pertambangan Eksploitasi yang melaporkan produksi belerang sebagaimana disajikan pada Tabel.

Produksi Belerang Indonesia 1994-1998

No.

Lokasi Tambang

No. Daftar Usaha

Produksi (Ton)

1994

1995

1996

1997

1998

1.

 

2.

 

3.

 

4.

 

5.

 

6.

 

G. Papandayan

(Garut)

G. Welirang

(Pasuruan)

G. Ijen

(Banyuwangi)

Ds. Semangut

(Sumut)

PT. Candi Ngrimbi

(Maluku)

KUD Belerang

Raksa-Jatim

595/Jabar

 

151/Jatim

 

225/Jatim

 

236/Sumut

 

225/Jatim

 

151/Jatim

-

 

538.235

 

170.000

 

28.000

 

-

 

528.235

-

 

-

 

2.421,12

 

-

 

-

 

436.45

-

 

-

 

3,00

 

-

 

-

 

94,85

 

-

 

-

 

2.177,63

 

-

 

-

 

-

-

 

-

 

-

 

-

 

1.612

 

252.520

Jumlah

1.264.170

2.857,57

3.165,19

2.177,63

254.132

Keterangan  :    -   =  Tidak ada data

Sumber        :    Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral (1998)

Disamping belerang sebagai deposit, dapat pula berasal dari sumber lain misalnya hasil samping penyulingan minyak bumi, dan lain-lain.

Sampai saat ini kebutuhan belerang untuk bahan baku pupuk ZA masih diimpor dari Canada dan USA. 

  • Kalium 

Sampai saat ini di Indonesia belum ditemukan deposit kalium, dan pencarian deposit kalium saat ini masih terus dilakukan.  

Menurut penelitian Departemen Pertanian, sebagian keperluan kalium dapat dipenuhi antara lain dari batang padi/jerami, batang pisang, kulit  buah kapok dan lain-lain, karena bahan-bahan tersebut mengandung kalium cukup tinggi. 

Saat ini telah diketemukan deposit KCl di Thailand dan akan dikembangkan menjadi Project ASEAN Industrial Joint Venture dimana Indonesia akan ikut serta sebagai pemegang saham.  

Kebutuhan pupuk KCl sampai saat ini dipenuhi dengan mengimpor dari Kanada, Jordania, Rusia dan lain-lain. 

  • Kapur dan Dolomit 

Deposit kapur tersebar luas di Indonesia terutama di Jawa dan Madura (40%).

Secara kimiawi kapur adalah CaCO3, sedangkan yang mengandung Magnesium disebut dolomit (CaCO3,MgCO3) yang secara geologis terbentuknya memang berkaitan, namun tidak semua deposit kapur mengandung magnesium.  

Produsen dolomit saat ini hanya di Propinsi Jawa Timur dan sebuah perusahaan di Aceh. Produksi dolomit pada tahun 1997 yang tercatat sebesar 13.411 ton. 

Produksi Dolomit Indonesia Tahun 1993-1997

(Ton)

Nama Perusahaan

1993

1994

1995

1996

1997

PT Penca Ubaya

Peksi Jatim

CV Dewi, Jatim

PT AML

PT Polowijo

Gosari, Jatim

PT Pentayana

Paito, jatim

Sdr, Matekan,Jatim

UD, Bungo Lebat

CV Patmo

PD Kerta Pertambangan

63,00

 

1.500,00

-

3.000,00

 

500,00

 

-

-

-

-

39,82

 

500,00

-

500,00

 

500,00

 

-

-

-

-

10,83

 

-

-

-

 

600,00

 

-

-

3,44

100,00

-

 

-

-

-

 

1.612,00

 

1.726,00

-

5.769,00

-

-

 

-

450,00

-

 

483,00

 

2.322,00

5.316,00

4.840,00

-

Keterangan  :    -   = Tidak ada data

Sumber        :    Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral (1998) 

  • Limbah 

Jenis-jenis limbah yang mempunyai potensi sebagai bahan baku pupuk meskipun belum semuanya dimanfaatkan antara lain dipaparkan di bawah ini.

Limbah Industri

  • Limbah blotong dari industri MSG, mengandung N,P,K,Ca,Mg,S,Fe, dan sebagainya.
  • Limbah terak baja dari industri peleburan baja, mengandung Ca, Mg dan Fe.

Limbah Pertanian

Jerami, batang pisang, serat kelapa, kulit buah kakao, kulit buah kapok, kulit buah kopi, dan lain-lain merupakan limbah pertanian yang potensial digunakan sebagai bahan pupuk organik.

Sampah

Sampah banyak terdapat di kota-kota besar yang dapat digunakan sebagai pupuk kompos. 

Kotoran Hewan

Kotoran hewan biasanya langsung dipergunakan sebagai pupuk.

Kotoran hewan yang dapat digunakan sebagai pupuk contohnya kotoran ayam, kotoran sapi dan kambing.

Kotoran Manusia

Sampai saat ini di Indonesia kotoran manusia belum dimanfaatkan sebagai pupuk.

Namum demikian China pernah menggunakannya sebagai bahan pupuk dan sangat berhasil.

Sumber Pembelian Bahan Baku Pupuk 

Sumber pembelian bahan baku pupuk untuk bahan baku gas alam diperoleh dari Indonesia sendiri yaitu dari pabrik-pabrik gas alam.  

Salah satu contoh senyawa (CO) dan amoniak (NH3) sebagai bahan baku pupuk urea berasal dari bahan baku gas alam.

Urea merupakan jenis pupuk anorganik yang diperoleh dari proses reaksi antara ammonia dengan carbon dioksida yang membentuk ammonium carbonate dan kemudian di dekomposisi pada tekanan sekitar 5 atmosfir. Ammonia dibuat dari gas alam melalui proses steam reforming atau partial combustion.  

Sebagai bahan baku utama, komponen gas alam mencapai sekitar 40% dari biaya produksi area.  

Sumber bahan baku tersebut merupakan kekayaan Indonesia khususnya terbanyak di Sumatera Selatan.

Sebelumnya gas alam digunakan sebagai bahan baku pupuk yang disubsidi pemerintah, tetapi saat ini pemerintah sudah tidak memberikan subsidi lagi.

Namun harga bahan baku pupuk ini selalu disepakati antara produsen dan pembeli sehingga harganya relatif stabil. 

Bahan baku utama dari pupuk P adalah batuan fosfat (rock phosphate) yaitu berbagai macam apatit (Ca-fosfat) seperti fluoroapatit (Ca3(PO4)3); karbonat apatit ((Ca3(PO4)2)3,CaCO3).  

Senyawa P lainnya dalam tanah dan deposit yang menjadi bahan baku (walaupun kecil) terutama adalah Fe-fosfat (FePO4.2H2O) dan Al-fosfat (AlPO4.2H2O). 

Untuk batuan fosfat sebagai bahan baku diperoleh dengan cara impor.

Di Indonesia sendiri batuan fosfat terdapat di beberapa tempat tetapi kualitasnya belum memenuhi standar.  

Lagipula jumlah depositnya sedikit, seperti terlihat pada Tabel.

Deposit Batuan Fosfat di Indonesia

Propinsi

Jumlah lokasi

Perkiraan deposit (Ton)

Kadar P2O5 (%)

Aceh

Sumatera Utara

Sumatera Barat

Jawa Barat

Jawa Tengah

Jawa Timur

Nusa Tenggara

Irian Jaya

5

1

16

77

104

75

2

2

1.800

304

152.000

169.640

228.175

105.639

3.000

2.500

5,89

29,30

-

9,31-43,37

10,10-35,06

40,30

1,25-27,19

15,00-31,53

Sumber: Sarno Harjanto (1986) 

Sumber bahan baku ini di Indonesia sangat terbatas.  

Apatit sebagian berasal dari magma dan sebagian merupakan organogenetic.  Endapan ini biasanya tidak dalam jumlah yang besar.  

Endapan apatit yang terluas di dunia adalah dari jenis kalsium karbonat fluoroapatit atau disebut juga fracvolite (Ca10F2(PO4)6 x CaCO3.  

Geologi endapan deposit ini erat hubungannya dengan geologi marin yaitu pembentukan endapan fosforit di dasar laut sebagai hasil proses kimia, fisik dan biologi.  

Endapan ini merupakan sumber P terbesar, sekitar 80% dari produksi dunia.  

Sedangkan yang berasal dari batuan beku hanya sekitar 12%.   Sumber fosfat yang lain ialah guano tetapi bukan untuk bahan baku dalam pembuatan pupuk P.

Penambangan dan Persiapan 

Kegiatan pembuatan pupuk P dimulai dengan penambangan deposit yang umumnya memakai metode strip mining.  

Hasil tambang dibawa ke pabrik untuk selanjutnya dilakukan pemisahan dari pasir, liat dan lain-lain.  

Pembuatan pupuk P dengan hanya memakai proses fisik ini lebih murah tetapi pupuk ini sukar larut dalam air dan hanya larut dalam suasana yang masam.  

Hal ini karena bentuk fosfatnya yaitu trifosfat (PO4-3) yang tidak larut dalam air.  

Oleh sebab itu, berbagai cara diusahakan untuk meningkatkan efektivitas dari pupuk ini.  

Usaha ini dimulai sekitar tahun 1840 di Inggris dengan memakai asam sulfat.  

Ada bermacam-macam proses dekomposisi kimia yang dilakukan terhadap batuan fosfat yang pada dasarnya dikelompokan menjadi 3 kelompok sebagai berikut.

  1. Penggantian sebagian Ca dalam apatit dengan H dari asam, dalam produksi superfosfat dan triplefosfat.
  2. Penggantian sebagian Ca dalam apatit dengan Na, dalam produksi rhenania fosfat.
  3. Perombakan secara total terhadap struktur kimia dari apatit atau senyawa P yang lain, dalam produksi fosfat Thomas dan lain-lain.

Pupuk-pupuk P yang dihasilkan dengan cara yang pertama semuanya larut-air dan dengan cara 2 dan 3, bahan baku akan menjadi lebih mudah diubah menjadi ion-ion yang dapat diserap tanaman.

Kualitas Bahan Baku Pupuk 

Tersedianya bahan baku dalam jumlah dan kualitas yang memenuhi persyaratan baik teknis maupun ekonomis, merupakan salah satu keunggulan komparatif dalam industri pupuk kimia karena biaya produksi dapat ditekan.  

Dikatakan dalam jumlah yang memenuhi syarat adalah paling sedikit dapat memenuhi penyediaan bahan baku selama lebih dari 20 tahun bagi satu pabrik dengan kapasitas yang sesuai dengan minimum skala ekonomi. 

Kualitas gas alam Indonesia sebagai bahan baku pupuk urea termasuk kualitas paling baik di dunia.  

Oleh karena itu, pupuk urea di Indonesia, kualitasnya sangat baik sehingga mempunyai tingkat kompetisi yang sangat tinggi untuk diekspor.

Cadangan Fosfat Dunia (x 106 ton)

Negara

Jumlah

Eksplorasi

Cadangan

Amerika Utara

United States

130

1.300

5.700

Canada

1

-

20

Mexico

2

120

140

Total

133

1.400

5.900

Amerika Selatan

Brazil

11

-

400

Colombia

1

-

15

Peru

1

-

120

Venezuela

1

-

12

Total

14

-

550

Europa

Finlandia

2

-

45

Turki

1

-

12

USSR

60

6.500

8.000

Total

63

6.500

8.100

Afrika

Ajajair

1

250

250

Mesir

5

-

260

Maroko

11

2.100

20.000

Sahara Barat

1

850

850

Senegal

2

170

170

Africa Selatan

1

1.800

1.800

Togo

1

50

50

Tunisisa

7

70

220

Lain-lain

2

-

12

Asia-Oceania

China

10

170

1.000

Israel

3

-

70

Jordania

3

530

530

Syria

2

170

180

Lain-lain

1

-

34

Australia

6

340

850

Nauru

1

23

23

Total

26

1.230

2.670

Total Dunia

267

14.000

41.000

Sumber: Tisdale et.al. (1985) 

Sementara itu, sebagai bahan baku pupuk P sebagian besar masih diimpor karena kualitas fosfat alam Indonesia mutunya rendah. 

Ini pula yang menyebabkan pemalsuan pupuk P sering terjadi karena menggunakan bahan baku lokal.

Harga Bahan Baku Pupuk 

Harga gas alam sebagai bahan baku pupuk urea relatif murah karena berasal dari dalam negeri sehingga harga pupuk urea sangat kompetitif jika diekspor.

Harga bahan baku pupuk SP-36 sangat bervariasi dari satu negara ke negara lain disebabkan oleh biaya angkut yang bervariasi.  

Harga bahan baku SP-36 berkisar antara Rp 300.000 – Rp 400.000 per ton jika kita impor dan jika menggunakan bahan baku dalam negeri berkisar antara Rp 100.000 – Rp 200.000 per ton.  

Hanya saja kualitas bahan baku negeri kurang baik. 

Harga bahan baku KCl berfluktuasi mengikuti perubahan dollar. 

Bahan baku pupuk KCl seluruhnya merupakan bahan baku impor.

Harga bahan baku berkisar antara Rp 400.000 – Rp 600.000 per ton.

Teknologi Proses Pembuatan Pupuk 

Teknologi dalam bidang pertanian mengalami peningkatan.

Seperti halnya dengan teknologi proses pembuatan pupuk anorganik saat ini relatif sudah tersedia dengan berbagai alternatif.  

Misalnya teknologi pembuatan pupuk TSP, pada prinsipnya terdiri dari pemurnian bahan dan pembuatan butiran sesuai ukuran dan pengemasan.  

Berikut beberapa teknologi yang digunakan dalam proses produksi pupuk anorganik beserta kapasitasnya.

  • Teknologi Lurgi/Brande Paroisse  1.800 ton /hari Amoniak Stamicarbon  700.000 ton /tahun urea
  • Teknologi M,W, Kellog 1.800 ton /hari amoniak Stamicarbon 570.000     ton /tahun urea
  • Teknologi Haldor Topsoe 1.000 ton /hari amoniak Stamicarbon   570.000 ton/tahun urea  
  • Teknologi Ke llog  1.170 ton/hari amoniak
  • Mitsui Toatsu Total Recycle C, Improved 570.000 ton /tahun urea 

Teknologi proses pembuatan pupuk organik juga mengalami kemajuan yaitu dengan ditemukannya alat-alat pengolahan pupuk organik serta zat-zat aditif yang dapat mempercepat dekomposisi bahan-bahan organik menjadi pupuk.

Namun demikian, harganya yang masih cukup tinggi membuat perusahaan tidak berani mengadopsi teknologi tersebut, karena produk harus bersaing dalam harga. 

Seiring dengan majunya teknologi, penelitian mengenai jenis-jenis pupuk organik baru semakin banyak dilakukan.  

Beberapa jenis pupuk organik yang baru diintroduksikan ke masyarakat, misalnya Rhizo-Plus yang dikembangkan oleh peneliti dari Balitbang Pertanian Bogor dan Technofert 2001 yang dikembangkan oleh para peneliti dari BPPT dinilai mempunyai keunggulan dibandingkan pupuk kimia.

Mesin dan Peralatan Pembuatan Pupuk 

Penggunaan mesin dan peralatan pada industri pupuk dilakukan oleh bagian utilitas.  

Unit ini bertugas mempersiapkan kebutuhan operasional dari pabrik khususnya yang berkaitan dengan penyediaan bahan baku dan bahan pembantu. 

Unit kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pabrik  (ammonia dan urea) dipaparkan di bawah ini.

Stasiun Pengukuran Gas (Gas Metering Station)

Pada stasiun ini terdapat knock out drum yang terdiri dari 4 buah, berfungsi untuk memisahkan  cairan yang terbawa oleh gas alam.  

Debu-debu dari gas alam yang masuk dipisahkan oleh scrubber.  

Cairan dan debu yang terkumpul dibakar di Lubang Pembakaran.  

Selain itu pada Stasiun Pengukuran Gas terdapat alat pencatat aliran, pencatat suhu dan pencatat tekanan.

Pengolahan Air Bersih (Water Treatment)

Pada pengolahan air bersih digunakan pompa air dan beberapa reaksi kimia sehingga sumber air yang tadinya kotor bisa menjadi jernih dengan cara memisahkan endapan lumpur dengan airnya.

Tangki clearwell akan menampung air bersih dari parit penjernihan.

Air bersih dari parit penjernihan akan ditampung di Tangki clearwell.  

Di dalam tanki tersebut dijaga pH air antara 6,8-7,5 dengan injeksi-injeksi soda kaustik.  

Saringan pasir menampung air dari tangki clearwell yang dialirkan melalui pompa.  

Fungsi saringan pasir adalah menyaring kotoran yang masih terbawa air. 

Penampung air filter mempunyai kapasitas 4.130 m3, berfungsi sebagai tempat penampungan air bersih.

Pengolahan Air Bebas Mineral (Demineralized Water)

Pada pengolahan air bebas mineral, karbon filter yang digunakan berfungsi sebagai penampungan air bersih dari penampungan air filter.

Pada alat ini terjadi pengikatan klorin dan pengurangan zat organik yang dapat merusak penukar kation (Exchanger).

Air dari karbon filter mengalir ke Penukar Kation yang mempunyai resin yang berfungsi mengikat ion-ion logam seperti Ca, Mg, dan Na.  

Dari penukar kation, air mengalir ke penukar anion yang mempunyai resin yang berfungsi mengikat ion-ion negatif seperti Cl, SO4, CO2 dan SiO2.

Tempat pembilasan terakhir jika masih ada ion-ion positif maupun negatif yaitu Penukar mixed bed yang mempunyai resin baik kation maupun anion.

Regenerasi resin menggunakan asam 4% dan causatic soda 4%.  

Kapasitasnya adalah 30.000 m3.  Tangki Air Demin merupakan tempat penampungan air demin.

Pengolahan Air Pendingin (Cooling Water) dan Condensate Stripper.

Air pendingin ditampung dalam bak menara pendingin, jika dibutuhkan maka dengan pompa dikirim ke penukar atau pendingin kemudian kembali lagi ke menara pendingin sebagai air panas yang akan didinginkan lagi.

Air panas masuk ke menara pendingin melalui katup distributor yang dilengkapi ID Fan.  

Kegunaan dari ID Fan adalah untuk menghisap udara dari atmosfir sehingga dapat menguapkan panas dari air ke udara. 

Condensate stripper berfungsi mengolah air yang berasal dari bagian ammonia supaya kandungan ammonia dan CO2 yang dihasilkan kurang dari 50 ppm dengan cara stripping.

Pembangkit Tenaga Uap (Boiler)

Pembangkit tenaga uap berjumlah dua buah.   

Pembangkit uap pertama adalah waste heat boiler (WHB) yang sumber energinya berasal dari panas gas buangan dari turbin gas generator.   

Panas tambahan disuplai oleh 8 pembakar yang dipasang pada WHB.  Kapasitas WHB adalah 90 ton/jam dengan tekanan 42 Kg/cm2.  

Pembangkit uap kedua adalah Paket Ketel Uap yang sumber energinya berasal dari udara atmosfir yang dihembus oleh blower dengan tenaga gerak turbin.  

Kapasitas Paket Ketel Uap adalah 110 ton/jam dengan tekanan 42 Kg/cm2.

Pembangkit Tenaga Listrik

Turbin Gas Generator digunakan sebagai sumber utama energi listrik.  

Tenaga listrik ini dilengkapi dengan sistem load shedding yang berfungsi melepas beban berdasarkan penurunan frekuensi secara otomatis agar sumber utama tidak mengalami kelebihan muatan dan terhindar dari gelap total.

Sumber tenaga darurat biasanya digunakan generator diesel untuk menggantikan sumber utama jika mengalami trip/mati.

Udara Instrumen dan Udara Pabrik

Udara instrumen adalah udara setelah melewati kompresor dikeringkan di pengering untuk menghilangkan kandungan uap air dan CO2 dengan bahan penyerap silica gell.   

Pengering terdiri dari 2 buah, jika satu beroperasi maka yang lain regenerasi dan menjadi pemanas gel silika.

Proses Produksi Pupuk Anorganik

Urea 

Proses produksi urea secara komersial berdasarkan reaksi ammonia dan karbon dioksida membentuk ammonium karbamat dengan kelanjutan dehidrasi sehingga membentuk urea.  

Ammonia berasal dari ammonia plant dan CO2 adalah produk sampingan pada pembuatan ammonia sintesis dari hidrokarbon.

Pada proses pembuatan pupuk urea terjadi reaksi-reaksi sebagai berikut:

CO2  +  NH3                  HH2COONH4 (ammonium karbamat) ….….………(1)

CO2  + 2 NH3                    H2O  +  NH2CONH2 (biuret) ….……………...…(2)

NH2CONHCONH2  +   NH3              2 NH2CONH2  (urea)  …………….....(3) 

Pembuatan pupuk urea didasarkan pada standar mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah.   

Namun demikian, secara umum produsen pupuk memproduksi pupuk berdasarkan ketentuan spesifikasi di bawah ini, karena disesuaikan dengan permintaan konsumen. 

Spesifikasi Urea

N (Nitrogen)

Minimum

46,0% (berat)

H2O (air)

Maksimum

0,3% (berat)

NHCONHCONH2

(Biuret)

Maksimum

0,5% (berat)

Fe (besi)

Maksimum

1,0 ppm

NH, bebas

Maksimum

150,0 ppm

Abu

Maksimum

15,0 ppm

Butir urea 6-18

US (Mesh)

Minimum

95,0% (berat)

Butir urea 25

US (Mesh)

Maksimum

2,0% (berat)

 

Sintesa

Ammonia cair dari bagian ammonia dialirkan ke penyimpan ammonia (FA-401) kemudian dicampur dengan ammonia pemulihan dari kondensor ammonia.

Di penyimpanan ammonia, gas buangan dipisahkan dari ammonia cair. 

Larutan ammonia karbamat resirkulasi berasal dari pendingin penyerap tekanan tinggi (HPAC) dipompa dengan pompa pendorong larutan daur ulang sehingga memberikan tekanan 24 Kg/cm2 lalu dihisap oleh pompa umpan larutan daur ulang.  

Langkah selanjutnya dipompakan ke reaktor sintesa urea.

Purifikasi dan Separasi

Proses purifikasi bertujuan untuk memisahkan urea dari produk reaksi sintesis (urea, biuret, ammonium karbamat, air dan ammonia berlebih) melalui 3 langkah dekomposisi.  

Pada baki saringan kelebihan ammonia diuapkan dan ammonium karbamat diuraikan oleh panas hasil kontak dengan gas-gas bersuhu tinggi yang berasal dari reboiler HPD dan pemanas Falling Film (FFH).

Dengan proses ini penguapan air sangat minim sehingga konsumsi uap sangat rendah. Di reboiler HPD, larutan amonia dipanaskan lebih lanjut dengan uap betekanan 12 Kg/cm2 dan hampir semua sisa-sisa produk reaksi sintesis dibuang sebagai gas.  

Langkah selanjutnya larutan dipanaskan hingga bersuhu 165oC dalam FFH agar mengurangi pembentukan biuret dan mengurangi hidrolisa urea. 

Pemisahan gas terdiri dari 2 bagian yaitu bagian atas yang beroperasi pada suhu 106oC dan tekanan 0,3 Kg/cm2 dan bagian bawah berupa paket bed yang beroperasi pada suhu 92oC dan tekanan atmosfir.  

Larutan di bagian atas sudah dipisahkan dari hampir semua kelebihan ammonia dan ammonium karbamat.  

Larutan di bagian atas sudah dipisahkan dari hampir semua kelebihan amonia dan CO2 dihilangkan dari larutan urea dengan cara mengurangi tekanan.  

Gas-gas tersebut lalu diuapkan oleh panas sensible oleh larutan LPD.  Sedikit sisa-sisa NH3 dan CO2 dari larutan urea dihilangkan dengan hembusan udara dari penghembus sirkulasi gas luar.  

Gas-gas yang keluar masuk ke dalam kondensor gas luar (EA-406).  Larutan urea yang terbentuk mempunyai konsentrasi 70-75%.

Pemulihan (Recovery)

Tangki penyerap gas luar menampung gas-gas dari LPA dan ditambah air dalam bentuk uap.

Gas-gas tersebut didinginkan dengan air sampai 36oC dalam pendingin akhir penyerap gas luar kemudian dikirim ke penyerap gas luar.  

Penyerap gas luar terdiri dari 2 paket bed.

Sejumlah ammonia dan CO diserap dan terkondensasi oleh larutan daur ulang yang didinginkan dalam pendingin penyerap gas luar (EA-407).  

Larutan dari (EA-407)  dipompa oleh pompa penyerap tekanan rendah (GA-405) menuju LPA (EA-402) untuk diserap gasnya kemudian larutannya dipompakan kembali ke LPD.

Gas-gas yang keluar dari LPD dikondensasikan dan diserap LPA (EA-402) dengan cara gelembung.  LPA beroperasi pada suhu 45oC dan tekanan 2,2 Kg/cm2.  

Tekanan lebih besar dari 2,2 Kg/cm2 akan menyebabkan dekomposisi dalam LPD tidak cukup sehingga harus diuraikan lebih lanjut di pemisah gas.  

Jika tekanan lebih kecil dari 2,2 maka sulit mengirim larutan dari LPD ke pemisah gas.  Gas buangan dikirim ke EA-406. 

Larutan daur ulang dari LPA dipompa oleh pompa HPA  (GA-402) melalui pendingin campur masuk ke HPA (DA-401).  

Konsentrasi CO2 harus dijaga sekitar 16% dari berat,

Di dalam HPA Pendingin (EA-401) dan HPA, semua CO2 dari HPD diserap sebagai ammonium karbamat oleh larutan daur ulang dari LPA dan aqua ammonia dari Penyerap Pemulihan Ammonia.  

Kabut dalam gas ammonia dipisahkan oleh pemisah kering dari HPA.  

Gas-gas ammonia dari HPA dikondensasi di kondensor ammonia (EA-404) dan didaur ulang kembali ke penyimpan ammonia (FA-401). 

Suhu puncak HPA dijaga 50oC oleh penguapan ammonia cair.  

Suhu Pendingin HPA dijaga 100oC oleh air pendingin, urea slurry dan air panas.  Konsentrasi CO2 harus dijaga sekitar 30-35%.

Penyerap pemulihan ammonia (EA-405) terdiri dari 4 penyerap yang tersusun seri.  Gas buangan dan gas ammonia masuk dari dasar penyerap.  

Gas buangan dan gas ammonia masuk dari dasar penyerap.  

Gas buangan kemudian dibuang ke atmosfir sedangkan gas ammonia diserap menjadi ammonia cair yang didinginkan dengan air pendingin dari pendingin kondensator.  

Ammonia tersebut kemudian dipompakan ke puncak HPA.

Kristalisasi dan Pembutiran (Prilling)

Larutan urea dari DA-203 masuk untuk diuapkan airnya.  

Kondisi hampa ditimbulkan oleh generator hampa (EA-201) yang terdiri dari uap ejector tingkat I dan II.  

Larutan urea yang sudah sangat jenuh turun ke bawah kemudian masuk ke dalam kristalizer dimana urea membentuk kristal-kristal dalam larutan slurry sebanyak 30-35% berat. 

Kristalizer bekerja pada tekanan atmosfir dan suhu 60oC.  

Untuk sirkulasi larutan slurry disediakan pompa (GA-201). 

Centrifugal (GF-201) menampung slurry urea dari dasar kristalizer yang dipompa oleh pompa umpan slurry (GA-202).

Sebagian dari slurry disirkulasikan kembali oleh kristalizer untuk mencegah kebuntuan dari pipa-pipa.  

Lima buah centrifugal diperlukan untuk mencapai produksi 100%.

Cairan induk yang dipisahkan dari kristal urea mengalir ke dalam tangki cairan induk (FA-203) yang mempunyai pipa uap untuk mencegah kristalisasi larutan induk kemudian dikirim ke bagian pemulihan sebagai larutan penyerap. 

Pengering cairan (FF-301) mengurangi kadar air urea dari 2.4% menjadi 0,1-0,3% melalui udara panas yang dihembuskan forced fan untuk pengering (EC-301).  

Suhu udara masuk dijaga 120oC.   

Temperatur tersebut tidak boleh lebih dari 130oC karena titik leleh urea adalah 132,7oC.  

Kristal-kristal urea yang telah kering dikirim ke puncak menara prilling (IA-301) melalui pipa pneumatic dan ditampung di dalam cyclone (FC-301). Udara yang mengandung debu urea dialirkan ke pemisah debu (FD-304) dengan induced fan (GB-302) disemprot air dan ditampung dalam ruang debu (PF-302). 

Screw conveyor (JD-301) membawa kristal-kristal urea ke dalam Pencair (EA-301).  

Setelah meleleh masuk tangki pemanas (FA-301) melalui distributor (PF-301) dijatuhkan dalam menara pembutir (prilling).  

Peleleh beroperasi pada suhu sedikit lebih tinggi dari titik leleh urea dengan waktu tinggal yang singkat agar pembentukan biuret didapat sesedikit mungkin.

Sumber panas peleleh adalah uap bertekanan rendah. 

Lelehan urea yang dijatuhkan dan didinginkan udara dari blower (GB-303), didinginkan di EC-302.  

Udara dibuang oleh fan (GB-304) ke atmosfir sebelum dibersihkan dulu dari debu urea.  

Butir-butir urea didinginkan di pendingin fluida (FD-302) dan dikirim ke gudang urea menggunakan belt conveyor.  

Urea yang terlalu besar dilarutkan di tangki pelarut dan dikirim ke tangki urea surge atau tangki ammonium karbamat.  

Kemudian diproses lagi di kristalizer atau sebagai penyerap dalam bagian pemulihan.

TSP/ SP-36 

Pupuk fosfat terbuat dari komponen batuan fosfat dan belerang yang secara alami telah ada.   

Asam fosfat dibuat dari batuan fosfat alam dengan dua cara dasar yaitu secara elektro termal dan proses basah.  

Yang terakhir direaksikan batuan fosfat dengan asam sulfat, asam nitrat atau asam klorida. 

Elektro termal.  Semula asam fosfat dari flour apatit (Ca10(PO4)6F2) diproduksi dalam tanur listrik.  

Tetapi sejak tahun 1990 cara tersebut sudah tidak banyak dipakai lagi karena terlalu besar menggunakan energi sehingga harganya menjadi lebih mahal. 

Proses basah.  Pembuatan asam fosfat secara proses basah dilakukan dengan mereaksikan P-Alam (Ca10(PO4)6F2) dengan asam sulfat (H2SO4).

Secara sederhana reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Ca10(PO4)6F2 + H2SO4+10xH2O           10 CaSO4xH2O+6H3PO4+2HF

Dimana x = 0,0 (0,5-0,7) atau 2,0. 

Sampai akhir abad ke-19 hanya dihasilkan asam dengan kandungan 3,5%- 4,4% P (8,0%-10,1% P2O5) dan tidak ekonomis. 

Kemudian proses diperbaiki terutama sistem penyaringan /pencucian gipsum (CaSO4,2H2O).

Amonium Sulfat/Zwavel Zure Amonium (ZA) 

Pupuk dengan rumus (NH4)2,SO4 terkenal dengan nama Zwavel zure amonium (ZA), kandungan N, 20-21% dan S, 24%.   

Pupuk berbentuk kristal, berwarna putih, atau berwarna kelabu muda (light gray), larut dalam air dan sedikit higroskopik.  

Kelarutannya pada 0oC (32oF) sebesar 70,6 gr/100,0 gr air dan pada suhu 100oC (212oF) sebesar 103,8 gr/100 gr air. 

Pupuk amonium sulfat dibuat dengan cara sebagai berikut.

Menjenuhkan asam sulfat dengan amonium:

2NH+ H2SO4                            (NH4)2SO4

Proses gipsum (proses leuna):

2NH3 + CaSO4 + CO2 + H2O           (NH4)2SO4 + CaCO3 

Amonium sulfat dipisahkan dari CaCO3 dengan jalan sentrifusi dan Asam Sulfat (AS) diperoleh melalui penguapan air. 

Di dalam tanah, NH4+ diikat oleh koloid tanah dalam bentuk dapat dipertukarkan dan sebagian dapat diambil langsung oleh tanaman.  

Ion ini selanjutnya diubah menjadi NO2- oleh bakteri nitrosomonas dan NO3- oleh nitrobakter, proses ini disebut nitrifikasi.  

Pupuk ini seperti pupuk NH4+ yang lain, bersifat memasamkan  tanah (sebagai akibat proses nitrifikasi dan ion sisa asam keras, SO4-) dengan nilai EA (equivalent acidity) sebesar 5,35 kg kapur per kg N atau 110 kg kapur/100 kg pupuk AS dengan kadar 20,5% N.

Pupuk Majemuk (NPK) 

Untuk pembuatan pupuk majemuk nitro fosfat (N-P-K) dibutuhkan bahan baku asam nitrat dan mineral fosfat (fluoroapatit) yang reaksinya adalah sebagai berikut.

Ca10F2(PO4)6 + 20 HNO3                6HNO3 + 10 Ca(NO3)2 + 2HF

4Ca(NO3)2 + H3PO4 + HF + 11NH3                  3CaHPO+ 3NH3H2PO4 

+ 8NH4NO3  + CaF2

Ca(NO3)2                  CaO + 2NO2 + 1/2O

2NO2 + H2O             NO + 2HNO3

2NO + O2                            2NO2 

Untuk memproduksi pupuk yang komersial, maka  larutan asam yang timbul dari hasil reaksi mineral fosfat dengan nitrat perlu dinetralkan dengan larutan amoniak, sesuai dengan reaksi sebagi berikut.

2H3PO4 + 3 NH3                  NH2HPO4 + NH4H2PO4 

HNO3 + NH3                 NH4NO3 

Selama reaksi amonia ini, Ca(NO3)dapat menyebabkan reaksi ke-2, tergantung dari tingkat reaksi amoniasi sebagai berikut.

H3PO4 + 2Ca(NO)3 + 2NH3                   2NH4NO3 + CaHPO4

2CaHPO4 + 2NH3 + Ca(NO3)2                Ca3(PO4)2 + NH4NO

3Ca(PO4)2 + CaF2                 Ca10F2(PO4)2 

Senyawa Ca(NO3)2 yang timbul dari pencampuran asam nitrat dengan mineral fosfat dapat memberikan manfaat pada produk pupuk, tetapi bila senyawa ini berlebih maka akan dapat menyulitkan untuk pengangkutan dan penyimpanan, karena sangat higroskopis.  

Selain itu jika Ca(NO3)2 tidak dikurangi maka akan menyebabkan timbulnya reaksi yang tidak diinginkan, karena dapat menghasilkan senyawa yang tidak larut dalam air seperti CaHPO4 dan Ca3(PO4)2.

Untuk menghindari hal-hal tersebut di atas, senyawa ini dapat dikurangi dengan cara kristalisasi dalam bentuk tetrahidrat Ca(NO3)2,4H2O beta. 

Di pasaran ada beberapa teknologi proses pembuatan dengan teknik pemecahan persoalan yang berhubungan dengan pengurangan Ca(NO3)2 dan kelarutan P2O5 dalam air yang besar.  

Hal ini perlu dilakukan evaluasi awal untuk memilih proses yang paling cocok dengan kondisi di Indonesia.  

Beberapa pemilik proses tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Proses Odda
  2. Proses Norsk Hydro
  3. Proses PEC
  4. Proses DSM
  5. Proses Liljenroth Sulfate-cycle
  6. Proses TVA
  7. Proses Chemico 

Proses Odda 

Proses ini didasarkan pada prinsip konservasi sempurna dari mineral fosfat oleh asam nitrat menjadi asam fosfat, kalsium nitrat dan asam fluorida.

Karena mineral fosfat di dunia yang terbanyak adalah jenis fluorapatit, maka reaksi kimia dapat ditunjukkan sebagai berikut.

Ca10F2(PO4)6 + 20HNO3                   10Ca(NO3)2 + 6H3PO4 + 2 HF 

Penguraian kalsium nitrat dilakukan pada temperatur rendah (sekitar 10oC) dengan kristalisasi, yang kemudian dipisahkan dengan cara centrifugasi.  

Larutan induk yang telah dipisahkan kemudian dinetralkan dengan anhidrida amoniak, selanjutnya dipekatkan di dalam evaporator.  

Setelah itu, dilakukan granulasi untuk mendapatkan pupuk dengan komposisi Nitrogen dan Fosfor adalah 20:20 (b/b), dimana kelarutan P2O5 dalam air sekitar 50%.  

Kristal Ca(NO3)2 yang telah dipisahkan dengan cara centrifugasi dengan asam nitrat encer, kemudian dilelehkan, lalu dinetralisasi dengan amoniak.  

Setelah itu, dibuat butiran untuk mendapatkan produk pupuk NH4NO3,5Ca(NO3)2,10H2O yang mengandung 15,5% - 16,0% N. 

Karena proses Odda diarahkan untuk mendapatkan campuran CaHPO4 dan (NH4)2HPO4 yang equimolar, dimana kelarutannya dalam air sekitar 50,0%, maka perbandingan CaO:P2O5 tidak boleh lebih dari 1:1.   

Untuk mendapatkan kondisi ini paling sedikit 70,0% dari total kalsium dikurangi dengan cara kristalisasi dan sentrifugasi. 

Proses Norsk Hydro 

Norsk Hydro Kvaelstof of Norway mengembangkan proses pembuatan pupuk berdasarkan perbaikan dari proses Odda, yaitu dengan cara sebagai berikut.

  1. Menurunkan temperatur kristalisasi sampai –5oC, sehingga kelarutan P2O5 dapat mencapai 80% sampai 85%.
  2. Menggunakan amoniak dan CO2 untuk melarutkan kembali Ca(NO)2, sehingga didapatkan endapan kalsium karbonat. Selain itu, dihasilkan amonium nitrat yang dapat digunakan untuk mengatur komposisi produk. 

Reaksi kimianya adalah sebagi berikut.

Ca(NO3)2, 4H2O + 2NH3 + CO2                 2NH4NO3 + CaCO3 + 3H2O .... (18)

Setelah endapan CaCO3 disaring, filtratnya digunakan sebagai sumber NH4NO3 dalam pembentukan pupuk, atau biasanya dicampur dengan larutan induk.   

Setelah netralisasi dilakukan evaporasi, pencampuran, dan kemudian granulasi. Produk pupuk yang diperoleh mempunyai perbandingan N:P =23:23 (b/b).

Proses PEC 

Dalam proses ini, kira-kira 6 pon magnesium fosfat ditambahkan ke dalam setiap ton produk akhir.

Campuran kemudian dilakukan amoniasi.  

Masing-masing tahap menggunakan sebuah reaktor pemisah dengan pengaduk. Amoniak dan karbondioksida ditambahkan untuk membentuk kalsium karbonat.

Setelah amoniasi, masih ada satu tahap lagi, yaitu untuk menginjeksi CO2 lagi.   

Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut.

Pengasaman.

Ca10F2(PO4)6 + 14HNO3               3CaH4(PO4)2 + 2HF + 7 CaNO3 

Amoniasi tahap ke-1.

3CaH4(PO4)2 + 2HF + 7Ca(NO3)2 +8NH3                   6CaHPO4 + CaF2

+ 3Ca(NO3)2+8NH4NO3 

Amoniasi tahap ke-2 hingga tahap ke-6.

6CaHPO4 + 3Ca(NO3)2 + 6NH3 + 3CO2 + 3H2O                  6CaHPO4

+ 3 CaCO3 +6NH4NO3 

Campuran reaksi dari reaktor tahap akhir dikirim ke pencampur, dimana kalium dapat ditambahkan. Hasil campuran dikirim ke granulator.  

Produk yang dihasilkan kemudian dikeringkan, didinginkan dan diayak. Analisa produk tidak lebih dari 15-15.

Proses DSM 

Dalam usaha untuk menaikkan kelarutan kandungan P2O5 dalam pupuk nitrofosfat.  DSM (Dutch State Mines) menambahkan amonium sulfat ke dalam campuran supaya kalsium dapat diendapkan sebagai gipsum (CaSO4,2H2O).

Pemisahan kalsium dengan cara ini lebih sempurna dibandingkan dengan cara kristalisasi Ca(NO3)2.  Dengan cara ini kelarutan P2O5  dalam air adalah 100%.

Proses Liljenroth Sulfate Cycle 

Produk dalam proses DSM sangat tergantung pada penyediaan amonium sulfat. Jika amonium sulfat tidak tersedia, cara lain harus ditempuh.

Persoalan ini dapat diatasi dengan proses sulfate-cycle (siklus sulfat) yang telah dikembangkan oleh F.G Liljenroth.  

Proses ini dimulai dengan pengasaman mineral fosfat.  Seluruh P2O5 diubah menjadi H3PO4 dan seluruh kalsium diubah menjadi Ca(NO3)2, sama seperti proses Odda.  

Setelah reaksi dengan HNO3, campuran ditambah amonium sulfat untuk mengubah kalsium nitrat menjadi amonium nitrat dan kalsium sulfat, dimana kalsium sulfat diendapkan sebagai gipsum, gipsum disaring dan filtratnya ditambahkan amoniak untuk mengurangi keasamannya, kemudian dipekatkan dalam evaporator.  

Larutan yang sudah pekat ini kemudian direaksikan lagi dengan amoniak untuk merubah semua asam fosfat menjadi diamonium fosfat.  

Larutan yang mengandung amonium nitrat dan diamonium fosfat ini dipekatkan lagi dalam evaporator, kemudian digranulasi dan dibuat menjadi butir-butiran.  

Produk mempunyai perbandingan N:P= 28:14. 

Gipsum yang tertahan pada saringan diolah menjadi bubur dengan cara menambahkan air.  

Kemudian bubur ini direaksikan dengan anhidrida amoniak dan karbondioksida menjadi kalsium karbonat dan amonium sulfat didaur ulang ke pengemasan mineral posfat dalam reaktor.

Proses TVA 

Proses Odda, PEC, DSM dan Liljenroth mempunyai kekurangan dalam perbandingan antara N : P yang sulit diatur pada produknya.  

Untuk mengatasi kekurangan ini.  TVA berhasil mengembangkan proses yang merupakan gabungan dari proses Odda dan Proses Liljenroth, dimana hampir semua Ca(NO3)2 dapat dikurangi dengan cara kristalisasi pada temperatur yang rendah, dan sisanya diendapkan dengan amonium sulfat.   

Kalsium nitrat yang dipisahkan sesudah itu diubah menjadi amonium nitrat dengan mereaksikannya dengan amoniak dan karbondioksida.  

Amonium nitrat ini juga dapat dicampur dengan produk utama, sehingga perbandingan N : P dapat diatur.  

Proses Chemico 

Pada proses ini mineral fosfat direaksikan dengan 50-60% larutan asam nitrat dan 38-40% larutan amonium sulfat pada suhu 90oC.

Reaksinya adalah sebagai berikut.

Ca10F2(PO4)6 + 20HNO3 + 10(NH4)2SO4 + 20 H2O

6H2PO4 + 2HF + 20 NH4NO3 + 10CaSO4,H2

Larutan induk dari hasil penyaringan CaHPO4 yang telah bebas dari kalsium dan logam berat, masih mengandung amonium nitrat, monoamonium fosfat (NH4H2PO4), dan sejumlah kecil amonium sulfat. 

Larutan ini kemudian dipekatkan dalam evaporator 3 tahap, sehingga pada evaporator tahap ke-2 larutan mengandung 80% padatan yang terdiri dari 55-58% NH4NO3, 21-23% NH4H2PO4 dan 3-4% (NH4)2SO4.  

Keluar dari evaporator, larutan ini kemudian didinginkan pada suhu 35-40oC, sampai 92-94% monoamonium fosfat menjadi kristal. 

Kristal ini kemudian dipisahkan dengan cara sentrifugasi, Setelah itu, dicuci dengan air dan dikeringkan sehingga menjadi produk NH4H2PO4 murni dengan perbandingan N:P:K = 12:60:0.  

Larutan induk yang berasal dari pemisahan sentrifugasi mengandung amonium nitrat dan sejumlah kecil (kira-kira 1-2%) monoamonium fosfat dan amonium sulfat.  

Larutan ini dikirim ke evaporator tahap ke-3 dan dipekatkan sampai 90% NH4NO3, kemudian dibuat butiran dan langsung dapat digunakan sebagai pupuk.

Pengemasan Pupuk 

Pengemasan pupuk kimia umumnya dilakukan dengan berat 25 dan 50 kg.   

Pengemasan lebih besar dapat dilakukan dengan pesanan khusus misalnya untuk perkebunan sedangkan pengemasan lebih kecil dilakukan oleh distributor menjadi 10, 5, 2, atau 1 kg.  

Kemasan yang baik menggunakan  2 lapis, dengan plastik sebagai lapisan dalam untuk menjaga mutu, khususnya untuk pupuk yang dapat menyerap air seperti urea dan KCl.

Penyimpanan Pupuk 

Pupuk buatan terdiri dari senyawa kimia yang mudah mengalami perubahan bila keadaan memungkinkan, seperti meningkatnya kelembaban, suhu, dan tercampurnya beberapa pupuk dengan pupuk lainnya.

Oleh karena itu, dalam penyimpanan pupuk buatan perlu diperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keadaan pupuk yaitu: suhu ruangan penyimpanan, kelembaban tempat penyimpanan, kebersihan ruang penyimpanan dan kemungkinan berbagai macam pupuk dalam satu ruangan penyimpanan.

Beberapa kerugian bila penyimpanan dilaksanakan dalam ruang penyimpanan yang kurang memenuhi syarat adalah.

  1. Pupuk yang higroskopis (seperti urea, kalsium nitrat, dan lain-lain) akan menjadi cair bila disimpan terlalu lama.
  2. Pupuk yang agak/kurang higroskopis bila disimpan lama akan membatu atau bergumpal-gumpal keras yang menyulitkan dalam penggunaannya. 

Untuk mengatasi hal tersebut, tempat atau ruangan penyimpanan pupuk buatan hendaknya.

  1. Mempunyai ventilasi yang baik sehingga suhu dan kelembaban tidak mudah menjadi tinggi karena udara dalam ruangan yang lembab dapat berganti dengan udara luar yang lebih segar.
  2. Lantai penyimpanan harus dibuat dari beton atau tembok yang kedap air dan dilandasi balok-balok yang ditutup papan.
  3. Atap ruangan harus baik dan terhindar dari kebocoran.
  4. Tumpukan karung-karung atau sak-sak pupuk hendaknya tidak terlalu tinggi.  Tumpukan-tumpukan ini tidak boleh lebih dari 20 lapis karung, agar tidak mudah bergeser atau tergelincir, dan karung-karung terbawah tidak pecah atau mengeras oleh tekanan dari atas
  5. Ukuran panjang dan lebar dasar tumpukan yang dianjurkan adalah           10 m x 6 m, 6,5 m x 5,5 m, atau 5,5 m x 4,5 m.  Jarak antara tumpukan 1,0-1,5 m untuk memudahkan orang membongkar dan melaluinya.
  6. Tumpukan karung tidak boleh terlalu dekat dengan dinding, paling sedikit berjarak 0,5 m dari dinding ruangan penyimpanan.  Hal ini penting untuk mencegah kerusakan pupuk maupun kerusakan dinding tersebut.
  7. Tiap tumpukan sebaiknya hanya terdiri dari satu jenis pupuk, tidak dibenarkan pupuk yang berlainan jenis ditumpuk secara tercampur menjadi satu tumpukan.
  8. Dalam keadaan terpaksa, dalam satu ruangan penyimpanan dapat disimpan lebih dari satu jenis pupuk asal diperhatikan sifat masing-masing pupuk tersebut.   Sebagai contoh pupuk DAP dapat dicampur dalam penyimpanan dengan pupuk KCl, TSP, atau kalsium-sulfat. 

Penyimpanan Pupuk Cair 

Tempat penyimpanan pupuk cair dapat terdiri dari sebuah bak atau sumur yang harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.

  1. Dinding bak/sumur tempat penyimpanan harus kedap air, sebaiknya dibuat dari beton
  2. Dapat ditutup rapat, agar udara yang terdapat di atas pupuk cair di dalam bak.  Tidak mudah keluar yang dapat mengakibatkan hilangnya amoniak (NH3)

Proses Pembuatan Pupuk Organik 

Pada prinsipnya pembuatan pupuk organik dilakukan dengan empat tahap yaitu : (1) pengumpulan bahan baku, (2) proses dekomposisi, (3) proses penyaringan, dan (4) pengemasan. 

Pengumpulan Bahan Baku Pupuk Organik  

Pada umumnya bahan baku dari pupuk organik tidak berasal dari satu jenis bahan tetapi digunakan bermacam-macam bahan.

Untuk mempercepat proses dekomposisi maka bahan baku sebaiknya dipisahkan dari bahan yang mengandung plastik, kaleng, kaca, dan bahan-bahan lain yang tidak dapat didekomposisi.  

Kotoran hewan perlu ditambahkan agar proses dekomposisi menjadi lebih cepat.

Kapur dan pupuk urea sering ditambahkan untuk mempercepat proses pengomposan. 

Proses Dekomposisi 

Proses dekomposisi merupakan tahap yang paling menentukan kualitas dari pupuk organik.  

Proses ini dapat berlangsung 1,5 sampai 3 bulan.  Pada prinsipnya dalam proses ini bahan organik dihancurkan oleh mikroorganisme dalam keadaan aerobik.  

Oleh karena itu dalam proses ini diperlukan sirkulasi udara.  

Tumpukan bahan baku organik sebaiknya tidak langsung kena hujan, maka diperlukan peneduh.  

Pembalikan bahan organik perlu dilakukan untuk mempercepat proses penghancuran bahan organik. 

Proses Penyaringan 

Penyaringan pupuk organik yang sudah matang perlu dilakukan agar pupuk yang dihasilkan mempunyai ukuran yang seragam.  

Makin halus ukuran pupuk organik maka kualitasnya semakin baik.  Ukuran saringan dapat dibuat antara 0-2 mm, 0-5 mm, 0-10 mm, dst. 

Pada umumnya produksi pupuk organik yang dihasilkan petani untuk  konsumsi sendiri tidak dilakukan penyaringan sehingga kualitasnya kurang baik.

Pengemasan 

Untuk memudahkan transportasi dan menjaga mutu pupuk organik perlu dilakukan pengemasan produk.  

Pengemasan dapat dilakukan dengan ukuran 20 kg, 50 kg atau kemasan yang lebih besar agar efisien.

Manajemen Operasional dan Lingkungan 

Operasi pabrik dapat berjalan dengan baik apabila masalah-masalah yang menyangkut operasi pabrik dapat dikuasai dengan baik dan faktor penunjangnya dapat disediakan dalam waktu yang tepat.   

Masalah-masalah yang penting dalam pengelolaan pabrik adalah operasi pabrik, proses produksi, pemeliharaan pabrik, tersedianya suku cadang yang memadai, rancang bangun dan perekayasaan.  

Berikut sarana-sarana penunjang yang mendukung industri pupuk.

  1. Iklim usaha yang baik guna mendukung pengembangan industri pupuk melalui penyempurnaan tataniaga, tarif, perpajakan, dan permodalan.
  2. Peningkatan penyediaan tenaga kerja yang terampil melalui kerja sama industri dengan universitas serta pembentukan sekolah-sekolah magang (apprentice school).
  3. Kemampuan tenaga terampil yang dibutuhkan untuk peningkatan pengelolaan pabrik sehingga pabrik dapat berjalan dengan lancar.
  4. Begitu pula dalam pengelolaan dan pembangunan pabrik baru, senantiasa mengikuti pola manajemen internasional.
  5. Kemampuan perekayasaan dan engineering nasional perlu ditingkatkan untuk menggantikan perusahaan engineering asing sebagai kontraktor utama dalam pembangunan industri pupuk.
  6. Kemampuan penelitian dan pengembangan perlu ditingkatkan dengan menambah atau melengkapi laboratorium penelitian, pilot plant, serta meningkatkan pendanaan guna penelitian dan pengembangan tersebut, agar dapat mengikuti kemajuan perkembangan teknologi dunia bahkan lebih baik lagi apabila dapat menciptakan teknologi sendiri yang sesuai dengan situasi dan kondisi Indonesia. 

Pembangunan industri harus berwawasan lingkungan karena pembangunan pada hakekatnya adalah pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat pada umumnya.  

Pembangunan industri harus diusahakan seminimal mungkin berdampak negatif terhadap lingkungan, oleh karena itu harus diawali dengan studi analisa dampak lingkungan dan dilengkapi dengan peralatan anti polusi. 

Demikian juga pembinaan terhadap daerah dan masyarakat sekitarnya perlu diperhatikan sehingga kehadiran industri di suatu daerah benar-benar dapat melaksanakan misinya sebagai penggerak pembangunan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

PEMASARAN 

Kondisi dan Tingkat Persaingan

Persaingan Lokal 

Industri pupuk di dalam negeri saat ini didominasi oleh jenis pupuk urea. Produsen terbesar pupuk urea adalah oleh PT.  Pupuk Sriwijaya.  

Pada tahun 2000 produksinya sebesar 1.924.820 ton atau sekitar 30,39% dari total produksi nasional yang sebesar 6.333.717 ton.

Sementara itu PT. Pupuk KALTIM produksinya pada tahun yang sama 2.237.524 ton atau sekitar 35,3% dari total produksi nasional.  

Sedangkan keempat produsen lainnya memiliki pangsa kurang dari 12,00%.

Sementara itu industri pupuk yang berskala kecil produksinya hanya ratusan ton per tahun.

Produksi Pupuk Urea Indonesia menurut Perusahaan, 1994-2000

(Ton)

Nama Perusahaan

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

PT. Pupuk Sriwijaya

PT. Pupuk KALTIM

PT. Asean Aceh Fertilizer

PT. Pupuk Kujang

PT. Pupuk Iskandar Muda

PT. Petrokimia Gresik

1.667.480

1.815.048

547.891

 

536.325

568.808

 

153.558

2.036.760

1.713.308

567.951

 

607.803

600.044

 

368.849

2.180.780

1.849.700

652.846

 

596.425

619.803

 

300.423

2.112.990

1.856.051

695.847

 

600.769

639.079

 

401.001

2.223.456

1.833.998

663.367

 

511.115

636.233

 

286.545

1.997.260

1.904.300

685.654

 

560.142

550.836

 

271.123

1.924.820

2.237.524

586.798

 

578..940

664.201

 

341.434

Total

5.289.110

5.894.714

6.199.977

6.305.736

6.154.714

5.969.154

6.333.717

Sumber:APPI (2000) 

Kebijaksanaan dalam negeri, pemerintah dalam hal pupuk adalah menyediakan semua jenis pupuk yang diperlukan oleh petani dan pengelola perkebunan secara merata di seluruh daerah Indonesia.  

Pupuk yang berbahan baku lokal diproduksi di dalam negeri, sedangkan pupuk yang berbahan baku impor dilakukan impor bahan baku tersebut.  

Jika hal itu sulit dilakukan baru kita impor pupuk dalam bentuk pupuk jadi. 

Pemerintah juga mendorong penggunaan pupuk organik yang bahan bakunya melimpah di dalam negeri.  

Disamping dapat menyediakan unsur hara, pupuk organik dapat memperbaiki sifat-sifat fisik tanah.  

Penyaluran pupuk secara lokal dipakai oleh petani kecil dan petani skala besar (perkebunan).  Penyaluran pupuk lokal dilakukan oleh distributor pupuk lokal dan KUD.

Realisasi Penyaluran Pupuk Urea, ZA, TSP dan KCl selama Pelita V

Tahun

Urea

TSP

KCl

ZA

x 1000 ton

%

x 1000 ton

%

x 1000 ton

%

x 1000 ton

%

Tanaman Pangan

89/90

2.624,5

81

1.132,7

71

219,3

32

486,6

72

90/91

2.553,5

78

1.037,8

63

189,4

26

486,6

66

91/92

2.522,5

74

966,4

58

176,4

24

485,0

66

92/93

2.717,6

79

976,3

59

160,4

22

507,8

67

93/94

2.527,8

71

905,0

67

98,9

16

518,0

78

Tanaman Perkebunan

89/90

354.7

-

174.0

-

262.9

-

100.8

-

90/91

444.1

-

210.1

-

291.7

-

119.9

-

91/92

361.2

-

258.9

-

294.9

-

109.9

-

92/93

594.3

-

273.1

-

295.9

-

111.9

-

93/94

655.9

-

300.0

-

180.7

-

128.4

-

Sumber: BPS, 1997 

Pemasaran pupuk pada skala lokal masih cukup baik.   Hal ini dapat dilihat dari produksi pupuk dan penjualan pupuk untuk sektor pertanian.

Produksi Pupuk Indonesia, 1993-1998 (000 Ton)

Jenis

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

Urea

5.289

5.895

6.189

6.306

6.155

5.969

6.334

4.075

TSP/SP36

867

867

986

789

612

648

511

519

ZA

679

679

640

438

324

267

491

336

Total

6.835

7.441

7.815

7.533

7.091

6.884

7.336

4.930

Sumber: APPI, 1997. 

Penjualan Pupuk untuk Sektor Pertanian (000 Ton)

Tahun

1993

1994

1995

1996

1997

1998

Urea

3.095

3.288

3.748

3.918

3.324

4.290

TSP/SP36

1.173

1.125

1.069

900

664

869

ZA

539

515

653

688

351

408

Sumber: APPI,1999 

Produksi pupuk urea Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun, tetapi setelah tahun 1997, karena terjadi krisis ekonomi, produksi tahun 1998 dan 1999 menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun demikian produksi tahun 2000 mulai normal kembali.

Sementara itu produksi pupuk TSP/SP36 terus mengalami penurunan karena kesulitan bahan baku. Untuk pupuk ZA, produksi juga mengalami penurunan karena pupuk jenis ini kurang digemari masyarakat sebagai sumber N. 

Sementara itu konsumsi pupuk urea terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan perkembangan sektor pertanian.

Namun demikian konsumsi pupuk TSP dan SP-36 yang seharusnya meningkat, ternyata mengalami penurunan.  

Hal ini disebabkan oleh lonjakan harga pupuk tersebut sebagai akibat bahan baku yang masih diimpor. 

Menurut APPI (2001) bahwa tahun 2002 diprediksikan Produksi Urea Nasional 8,0 Juta Ton/Tahun.  Tiga pabrik pupuk yaitu PT. Pupuk Iskandar Muda (PIM), PT.Pupuk Kalimantan Timur (KALTIM) dan PT.Pupuk Kujang mengivestasikan modal sebesar 924,7 juta dolar AS untuk pembangunan pabrik-pabrik pupuk urea baru.

Tiga pabrik pupuk tersebut akan menambah kapasitas produksi urea nasional hingga menjadi 8,0 juta ton per tahun.

Berdasarkan studi pupuk nasional, tahun 2002 nanti Indonesia akan kekurangan pupuk urea sebesar 1,0 juta ton.

Ketiga pabrik perluasan tersebut, diharapkan selesai dibangun dan mulai berproduksi komersial tahun 2002 mendatang.  

Setelah perluasan tersebut, kapasitas produksi pupuk urea nasional akan menjadi 8,0 juta ton per tahun.

Proyek PIM-2 (pabrik pupuk milik PT. Pupuk Iskandar Muda 2) yang akan dibangun dengan biaya sebesar 308,1 juta dolar AS pada tahun 2002 mendatang akan mampu memproduksi sedikitnya 720.000 ton amonia per tahun dan 1.200.000 ton urea per tahun.

Proyek KALTIM-4 (pabrik milik PT. Pupuk Kalimantan Timur 4) yang dibangun dengan biaya sebesar 312,00 juta dolar AS pada saat yang sama akan mampu menghasilkan 2,95 juta ton urea dan 1,75 juta ton amonia per tahun.  

Proyek Kujang 1-B (pabrik milik PT. Pupuk Kujang) pada saat yang sama akan memiliki kapasitas amonia sebesar 330.000 tonn dan 570.000 ton urea per tahun. Proyek Kujang 1-B ini dibangun dengan biaya 304,6 juta dollar AS.

Persaingan dalam Pasar Ekspor 

Produksi yang dihasilkan oleh enam produsen pupuk di Indonesia rata-rata setiap tahunnya 7,5 juta ton (Bisnis Indonesia, 9/8/2001).

Kebutuhan pupuk di dalam negeri sampai saat ini mencapai 4,5 juta ton. Dengan demikian sisa stok 2,5 juta yang dapat diekspor.  

Peluang mengekspor pupuk adalah dari jenis urea. 

Namun demikian, pasokan pupuk dalam negeri khususnya urea masih tersendat-sendat.

Hal ini disebabkan masih adanya penyelundupan pasokan oleh pelaku-pelaku ekonomi ke luar negeri.  

Saat ini harga urea di pasar internasional lebih tinggi daripada dalam negeri sehingga cukup menggiurkan bagi penyelundup pupuk. 

Kelangkaan pupuk di sejumlah daerah juga disebabkan karena sistem distribusi masih banyak masalah.

Oleh karena itu, tata niaga pupuk yang adil perlu diterapkan untuk kepentingan pertanian, petani (lokal), pemenuhan kebutuhan dalam negeri, serta ekspor untuk memperoleh devisa. 

Pada tahun 1998 ini pemerintah telah mengeluarkan peraturan mengenai pembebasan distribusi pupuk ke pasar.

Hal ini dilakukan dalam rangka mengurangi subsidi pemerintah untuk pupuk serta mendorong pengusaha-pengusaha pupuk untuk bersaing dan mendorong munculnya industri pupuk baru. 

Selama ini ekspor pupuk Indonesia berfluktuasi dan cenderung meningkat, namun peningkatannya tidak lagi sepesat tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 1994 tercatat baru sebanyak 1.373.205 ton dengan nilai US$ 178.645 ribu kemudian ekspornya meningkat menjadi 2.214.589 ton dengan nilai  US$ 224.250 ribu atau naik sekitar 39,8% dibanding tahun sebelumnya. 

Ekspor pupuk Indonesia pada tahun 1998 mengalami penurunan cukup drastis, ekspor pupuk anjlok dari 2.360.896 ton dengan nilai US$ 308.216 ribu menjadi hanya 1.583.164 ton dengan nilai US$ 161.548 ribu atau turun 32,9% dibanding tahun sebelumnya.

Ekspor tertinggi dicapai pada tahun 1997 yaitu sebanyak 2.360.896 ton dengan nilai US$ 308.216 ribu atau naik sekitar 52,8% dibanding tahun sebelumnya. 

Berdasarkan data APPI 2001, ekspor pupuk Indonesia terbesar jika dilihat dari jenisnya adalah pupuk urea dari tahun 1990–2000, trendnya dari tahun ke tahun cenderung meningkat.  

Kemudian dikuti oleh amoniak, TSP dan amonium sulfat (AS). Pada tahun 2000, total ekspor pupuk urea Indonesia sebanyak 2.073.422 ton, kemudian amoniak 412.555 ton, dan TSP 46.130 ton.  

Namun empat tahun terakhir ini Indonesia tidak mengekspor amonium sulfat (AS)  

Data APPI 2001 menginformasikan bahwa dari tahun 1977–1992 hanya mengekspor pupuk urea dan amoniak.  

Setiap tahun, sebagian besar ekspor Indonesia adalah pupuk urea, karena Indonesia kaya akan bahan baku pupuk urea yaitu gas alam.  

Untuk ekspor pupuk TSP dan AS, Indonesia tidak melakukan setiap tahun karena keterbatasan bahan baku yang ada di Indonesia, sedangkan Indonesia sendiri masih banyak membutuhkan pupuk tersebut sehingga alokasi ekspor agak dikurangi. 

Berdasarkan produsennya, ekspor pupuk urea pada tahun 2000 terbesar dilakukan oleh PT. Pupuk Kalimantan Timur (KALTIM) sebanyak 795.100 ton, kemudian PT.  Asean Aceh Fertilizer (AAF) 567.000 ton,PT. Pupuk Iskandar Muda (PIM) 496.600 ton, PT. Pupuk Sriwijaya (PUSRI) 114.100 ton, PT. Pupuk Kujang 57.600 ton dan PT. Petrokimia Gresik (PETRO) 43.000 ton.  

Jika berdasarkan data rata-rata volume ekspor pupuk urea dari tahun 1990–2000, produsen yang mempunyai kecenderungan meningkat adalah PT. AAF, walaupun nilainya pada tahun 2000 lebih kecil dibandingkan dengan  PT. KALTIM.

Alasan lain karena selama tujuh tahun (1992–1998) PT. KALTIM mengalami penurunan volume ekspor sampai dibawah PT. AAF, namun masih di atas volume ekspor PT. PIM.

Disamping itu, PT. KALTIM mempunyai standar deviasi tertinggi, hal ini menunjukkan banyak terjadi penyimpangan atau volume ekspornya berfluktuasi.  

Sedangkan PT. AAF mempunyai standar deviasi paling rendah yang menunjukkan volume ekspornya stabil dari tahun 1990–2000.  

Ekspor pupuk urea terbesar pada tahun 2000 berdasarkan negara tujuannya adalah ke negara Vietnam sebanyak 761.060 ton dan produsen terbesar adalah PT. KALTIM sebanyak 296.515 ton.  

Sedangkan ekspor pupuk urea terkecil ke negara Hongkong sebanyak 410 ton.  

Selain ekspor, Indonesia juga masih mengimpor pupuk khususnya pupuk P dan K dari beberapa negara.

Volume dan nilai impor Indonesia dari tahun 1995-2000 cenderung naik, hanya saja mengalami penurunan pada tahun 1998 dan 2000 dari volume impor tahun sebelumnya.  

Hal ini disebabkan krisis moneter dan politik Indonesia yang belum stabil.  

Ekspor pupuk Indonesia sebagian besar terdiri dari pupuk urea.  Ekspor pupuk SP-36, ZA, dan pupuk lainnya baru dalam taraf percobaan.

Menurut Biro Pusat Statistik, pada tahun 1999 Indonesia hanya mengekspor pupuk jenis urea saja yaitu sebesar 2.214589 ton dengan nilai US$ 224.250 ribu.  Jumlah ekspor pupuk Indonesia mulai tahun 1994 sampai tahun 1999.

Ekspor Pupuk Indonesia Menurut Jenisnya, 1994-1999 (000 ton)

Year

Urea

Amonium Sulfat

TSP

Amoniak

1990

1.598,3

                 -

                 -

           232,2

1991

1.772,8

           60,6

           74,0

           245,7

1992

1.333,7

           25,0

           81,5

           242,2

1993

1.521,0

             7,3

           25,0

           268,4

1994

1.605,2

             5,5

           37,0

           290,3

1995

1.970,2

           36,5

           65,5

           363,9

1996

1.535,1

           10,0

                 -

           531,8

1997

2.360,7

                 -

                 -

           517,2

1998

1.571,4

                 -

           27,1

           567,2

1999

2.257,6

                 -

                 -

           449,9

2000

2.073,4

                 -

           46,1

           412,6

Sumber :  APPI,  2000 

Peluang ekspor pupuk Indonesia khususnya di kawasan Asia Pacific masih cukup terbuka, seperti terlihat dari ekspornya selama ini.

Kondisi ini sebenarnya memberi kesempatan untuk melakukan penambahan kapasitas atau investasi baru agar kelebihan produksi bertambah besar.

Semakin besar memiliki kelebihan produksi, maka semakin besar pula peluang untuk memperbesar keuntungan pabrik melalui ekspor. 

Meski peluang investasi di sektor industri pupuk, khususnya urea praktis harus dilakukan oleh pabrik yang ada dalam rangka perluasan.

Namun itu pun tampaknya tidak mudah dilakukan.

Masalahnya, karena pabrik pupuk urea di Indonesia hampir seluruhnya adalah BUMN, sehingga untuk mengembangkan usahanya cukup sulit, mengingat terbatasnya dana.

Persaingan Internasional 

Sementara itu produsen utama pupuk dunia adalah Rusia, Jerman, Amerika Serikat, Korea dan Jepang.

Negara-negara tersebut menghasilkan pupuk tidak hanya untuk keperluan negaranya masing-masing tetapi sebagian diekspor.

Rusia dan Jerman menghasilkan Urea, TSP dan KCL, sedangkan Amerika Serikat, Korea dan Jepang menghasilkan TSP dan KCL.

Sebagian produk negara negara tersebut diekspor ke Indonesia. 

Produsen pupuk tersebar hampir di seluruh dunia. 

Saat ini, berdasarkan informasi yang didapat dari fadinap, produsen pupuk di dunia berjumlah 820 buah.  

Dari sekian banyak produsen pupuk dunia, terdapat 5 negara sebagai produsen pupuk terbesar di dunia dilihat dari kapasitas produksinya, yaitu terdiri dari 118 buah produsen pupuk. 

Kelima negara tersebut antara lain Jerman, USA, Korea, Jepang dan Rusia.  

Jumlah produsen terbesar di kelima negara tersebut adalah di negara USA sebanyak 71 buah.  

Data jumlah produsen dari kelima negara tersebut dapat dilihat pada Tabel.

Dilihat dari jumlah produsen pupuk terbesar dari setiap negara di dunia China menempati urutan pertama yaitu sebanyak 165 buah.

Kemudian disusul India (89 buah), USA (71 buah), Malaysia (31 buah) dan Inggris (23 buah).  

Data Jumlah Produsen Pupuk Lima Besar Dunia

No

Negara Produsen

Jumlah Produsen Pupuk

1.

USA

71 buah

2.

Rusia

16 buah

3.

Korea

11 buah

4.

Jerman

10 buah

5.

Jepang

10 buah

Total

118 buah

Harga dan Proyeksi Harga Pupuk Dunia

Pada tahun 1999, kenaikan harga pupuk mencapai persentase yang paling tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.  

Melihat fenomena ini tampaknya tidak ada pilihan lain bagi pemerintah untuk menaikkan harga pupuk.

Apabila belakangan  pemerintah menghapuskan tataniaga pupuk terbukti juga membuat harganya relatif stabil.  

Sementara itu pemerintah juga harus memperhatikan nasib petani melalui upaya peningkatan pendapatannya.  

Untuk itu pemerintah akhirnya meningkatkan pula harga gabah.  Namun kenaikan harga gabah lebih rendah dari kenaikan harga pupuk. 

Kenaikan harga pupuk jenis urea tahun 2000 merupakan nilai yang tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.  

Kenaikan harga pupuk jenis urea naik 161,1% dari Rp 450 per Kg menjadi Rp 1.175 per Kg, pupuk  ZA naik 78,5% dari Rp 504 per Kg menjadi Rp 900 per Kg, dan pupuk SP-36/TSP naik 137,0% dari Rp 675 per Kg menjadi Rp 1.600 per Kg.  

Diperkirakan harga pupuk pada tahun 2005 yang akan datang untuk urea Rp 1.750, SP-36 Rp 3.325, TSP Rp 2.275, ZA Rp 1.500, dan KCl Rp 1.350.

Data perkembangan dan proyeksi harga pupuk di dalam negeri pada tahun 1994-1999 dapat dilihat pada Tabel.

Perkembangan dan Proyeksi Harga Pupuk di Dalam Negeri, 1994-1999 (Rp/Kg)

Tahun

ZA

TSP

SP-36

Urea

KCl

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002*

2003*

2004*

2005*

295

295

355

450

504

1.000

-

1.023

1.114

1.266

1.387

1.508

480

480

525

675

675

1.600

1.300

1.554

1.735

1.916

2.097

2.278

-

-

525

600

675

1.600

1.300

2.005

2.335

2.665

2.995

3.325

260

260

330

400

450

1.175

1.200

1.000

1.150

1.299

1.448

1.597

-

-

450

480

850

650

-

947

1.044

1.141

1.238

1.335

Sumber            :  APPI (1999), diolah

Keterangan       :  * = proyeksi

 

 

 

Produksi dan Konsumsi Pupuk Domestik 

Kebutuhan pupuk dalam beberapa tahun mendatang tampaknya masih akan meningkat mengingat dewasa ini perkembangan sektor pertanian cenderung meningkat, meskipun areal tanaman pangan atau padi di daerah pulau Jawa berkurang.  

Dalam lima tahun terakhir, konsumsi pupuk rata-rata naik 2,0% per tahun.

Dalam lima tahun mendatang, diperkirakan peningkatan konsumsi pupuk tidak akan jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya sekitar 1,5% per tahun.  

Dengan asumsi-asumsi tersebut, maka suplai akan konsumsi pupuk dari 5.405.534 ton pada tahun 2001 menjadi 5.737.235 ton pada tahun 2005.

Untuk lengkapnya dapat dilihat pada Tabel.

Proyeksi Konsumsi Pupuk di Dalam Negeri, 2001-2005

Tahun

Pupuk N

Pupuk P

Pupuk K

Proyeksi Konsumsi (ton)

2001*

2002*

2003*

2004*

2005*

4.040.729

4.101.340

4.162.860

4.225.302

4.288.681

990.777

1.005.639

1.020.724

1.036.035

1.051.575

374.028

379.638

385.332

391.112

396.979

5.405.534

5.486.617

5.568.916

5.652.449

5.737.235

Sumber: InfoRDev, 2000 dan diolah. 

Sektor pertanian merupakan sektor yang paling banyak mengkonsumsi pupuk, untuk jenis pupuk urea, AS, TSP/SP-36, dan KCl dari tahun ketahun.  

Dalam selang waktu antara tahun 1994 hingga 1999, konsumsi domestik pupuk untuk sektor pertanian terjadi kenaikan dan penurunan (APPI, 2000). 

Dari data APPI 2000, terlihat bahwa pada tahun 1998 dan 1999 tidak ada konsumsi domestik KCl untuk sektor pertanian.  

Hal ini dapat disebabkan krisis ekonomi dimana salah satunya nilai tukar rupiah terhadap dollar menurun, sedangkan KCl lebih banyak diimpor sehingga untuk sektor pertanian yang paling banyak pelakunya adalah petani, sulit untuk mendapatkannya.   

Disamping itu, dalam kurun waktu tersebut pernah terjadi kelangkaan pupuk.  

Volume pupuk urea yang dikonsumsi domestik untuk sektor pertanian pada tahun 1999 sebesar 3.140.033 ton, kemudian AS 243.906 ton, dan TSP/SP-36 394.949 ton.  

Sehingga total konsumsi pupuk pada tahun 1999 untuk sektor pertanian sebanyak 3.778.883 ton.  

Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel.

Produksi dan Konsumsi Domestik pada Tahun 2000 – 2001 (ton)

Jenis Pupuk

Produsen

Produksi

Konsumsi Domestik

Total Konsumsi

Sektor Pertanian

Sektor Industri

 Januari – Desmber 2000

Urea

Pusri

Kujang

KALTIM

AAF

PIM

Petro

1.924.820

578.940

2.237.524

586.798

664.201

341.434

1.833.593

485.731

1.188.111

6.150

180.337

265.734

93.067

31.816

194.936

0

4.961

30.871

1.926.660

517.547

1.383.047

6.150

185.298

296.605

 

(UREA)

6.333.717

3.959.656

355.651

4.315.307

AS

SP-36

TSP

PETRO

491.051

464.427

46.546

507.005

622.719

541

26.598

0

0

533.603

622 719

541

TOTAL

7 335.741

5.089.921

382.249

5.472.170

Januari – September 2001

Urea

Pusri

Kujang

KALTIM

AAF

PIM

Petro

1.535.505

406.054

1.632.784

122.832

10114

271.480

1.401.622

284.020

1.021.787

0

27.102

175.096

88.406

54.838

92.036

0

0

30.525

1.490.028

341.412

1.113.823

0

27.102

205.621

 

(UREA)

4.074.768

2.912.627

265.805

3.178.432

AS

SP-36

TSP

PETRO

336.326

483.601

35.745

350.180

470.947

21.822

34.927

0

0

385.107

470.947

21.822

TOTAL

4.930.441

3.755.576

300.732

4056.308

Sumber: APPI, 2001 

Konsumsi Domestik Pupuk untuk Sektor Pertanian (ton)

Tahun

Urea

AS

TSP/SP-36

KCL

Total

1994

3.288.466

614.553

1.124.533

302.080

5.329.632

1995

3.710.455

652.999

1.069.909

403.900

5.837.263

1996

3.917.650

588.192

900.264

375.293

5.781.399

1997

3.323.601

350.503

663.478

350.270

4.687.852

1998

4.289.648

407.898

868.837

-

5.566.383

1999

3.140.033

243.906

394.949

-

3.778.888

Sumber: APPI, 2001 

 

Dari tahun 1994-1999, jika dilihat dari rata-rata konsumsi dari masing-masing pupuk maka sektor pertanian paling banyak mengkonsumsi pupuk urea, kemudian diikuti oleh TSP/SP-36, AS dan KCl.  

Konsumsi pupuk urea untuk sektor pertanian sebesar 70% dan sisanya untuk pupuk lainnya.  

Hal ini didukung dengan melimpahnya produksi pupuk urea dari dalam negeri  karena perolehan bahan bakunya sangatlah mudah,  bahkan sampai diekspor dalam volume yang cukup besar.  

Selain dikonsumsi oleh sektor pertanian khususnya pupuk urea, pupuk juga dikonsumsi oleh sektor  industri namun volumenya lebih kecil dari sektor pertanian.

Konsumsi domestik pupuk urea untuk sektor industri dari tahun 1994 hingga 1998 mengalami kenaikan, namun ternjadi penurunan pada tahun 1999 dan 2000.   

Pada tahun 2000, konsumsi domestik pupuk urea banyak di suplai oleh PT. KALTIM sebesar 194 936 ton, kemudian oleh PT. PUSRI  93.067 ton, PT. KUJANG 31.816 ton, PT. PETRO 30.871 ton dan PT. PIM sebesar 4.961 ton.  

Total konsumsi domestik pupuk urea pada tahun 2000 untuk sektor industri sebesar 355.651 ton.

Konsumsi Domestik Pupuk Urea untuk Sektor Industri (ton)

Tahun

PUSRI

KUJANG

KALTIM

PIM

PETRO

Total

1994

124.884

16.765

116.470

19.450

12.121

289.690

1995

139.232

32.738

112.045

14.860

34.281

333.156

1996

127.896

35.067

121.215

21.664

37.771

343.613

1997

146.307

38.488

201.631

26.950

44.530

457.906

1998

156.976

43.566

223.385

24.250

30.488

478.665

1999

99.699

40.186

161.734

24.325

31.736

357.680

2000

93.067

31.816

194.936

4.961

30.871

355.651

Sumber : APPI, 2000

Pasar Pupuk Internasional 

Ekspor pupuk terbesar Indonesia ditujukan ke Vietnam.

Pada tahun 1998 misalnya, ekspor pupuk ke Vietnam sebanyak 986.506 ton dengan nilai US$ 104.566 ribu atau merupakan 62,8% dari total ekspor sebanyak     1.571.354 ton. Selain Vietnam negara-negara di kawasan Asia lainnya yang cukup menonjol adalah Malaysia, mencapai 82.457 ton dengan nilai US$ 8.622 ribu atau merupakan 5,2% dari total ekspor.  

Negara lainnya yang menyumbang devisa dari ekspor pupuk adalah Philipina, RRC, Taiwan, Thailand, Srilanka, Jepang, dan Singapura.

Sistem Distribusi Pupuk 

Dengan program peningkatan produksi pangan dikaitkan dengan pencapaian target produksi, realisasi penyaluran pupuk secara nasional, khususnya di Pulau Jawa cukup tinggi melampaui kebutuhan yang direncanakan.

Langkah pengamanan kelangkaan pupuk yang terjadi di beberapa daerah, antara lain dengan memperhatikan kondisi penyaluran pupuk dilakukan secara bertahap berdasarkan kebutuhan atau jadwal pemupukan.

Selain dibutuhkan sistem distribusi pupuk yang bagus, sarana distribusi juga perlu diperhatikan sehingga pupuk dapat sampai kepada konsumen sesuai sasaran 5 tepat (tepat jumlah, tepat jenis, tepat tempat, tepat waktu dan tepat harga). 

Realisasi penyaluran pupuk urea pada tahun 1999 hanya sebesar 3.140.033 ton atau sekitar 83,1% dari total penyaluran pupuk di dalam negeri.

Kemudian pupuk SP-36 mencapai 394.949 ton atau sekitar 10,4%, dan pupuk ZA mencapai  243.906 ton atau sekitar 6,4% dari total penyaluran pupuk di dalam negeri sebesar 3.778.888 juta ton.

Sedangkan permintaan pupuk pada musim tanam (MT) tahun 1998, secara keseluruhan sudah mencapai 5.566.383 ton atau naik 1,7% dibanding tahun sebelumnya. 

Hasil produksi pupuk yang keluar dari pabrik diangkat dalam bentuk curah dan dalam kantong.

Pupuk curah diangkat dengan kapal curah, melalui dermaga PT. PUSRI Palembang, dermaga PT. Pupuk KALTIM Bontang, dan dermaga PT. Pupuk Iskandar Muda dan PT. AAF di Lhokseumawe menuju unit-unit pengantongan (UPP) yang terdapat di Belawan, Semarang, Cilacap, Surabaya, dan Meneng.

Sesudah dikantongi, pupuk diangkut ke gudang-gudang penyediaan pupuk (GPP) tingkat kabupaten dengan truk.

Sementara itu, pupuk yang dihasilkan oleh PT. Pupuk Kujang dan PT. Petrokimia Gresik diangkut dengan gerbong-gerbong kereta api atau truk ke GPP.

Untuk selanjutnya diangkut ke gudang-gudang tingkat desa yang dikelola oleh Koperasi Unit Desa (KUD), kemudian diangkut ke kios-kios (retailer) baru dijual kepada petani.  

 

 

 

PROSPEK INDUSTRI PUPUK 

Analisis Strategis (Strategic Analysis) 

Analisis SWOT 

Analisis SWOT adalah alat yang sering digunakan untuk menganalisa posisi perusahaan (industri) dalam peta persaingan, keberadaan serta digunakan untuk mengantisipasi langkah perusahaan di masa yang akan datang.  

Tujuan dilakukan-nya analisis SWOT ini untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, mengantisipasi langkah persaingan (bisnis) dan redefinisi tujuan perusahaan.  

Analisa SWOT ini dilaksanakan sesuai kebutuhan, perlu diperhatikan pula masalah tempat dan waktu. 

Faktor kekuatan (strengths) terdiri dari dari segi positif perusahaan/industri yang dapat membimbing ke arah peluang yang lebih luas sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha.  

Faktor kekuatan (strengths) dalam industri pupuk saat ini berupa produktivitas pupuk terus mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pupuk, berhubungan pula dengan peluang pasar yang besar baik domestik maupun internasional.  

Selain itu bahan baku khususnya pupuk urea dan biaya produksi relatif murah, teknologi mudah diadopsi dan tersedia, serta cepat berproduksi dengan produktivitas yang tinggi.  

Faktor kelemahan (weakness) merupakan setiap kekurangan dari bisnis ini dalam hal keahlian dan sumberdaya perusahaan.  

Kelemahan (weakness) dalam industri pupuk dalam negeri menyangkut kurangnya kuantitas dan kualitas bahan baku (khususnya untuk fosfor, kalium, belerang), tersedianya teknologi namun dengan keterbatasan dana untuk mengadopsi teknologi tersebut menyebabkan tidak tersosialisasi dengan baik.  

Disamping itu kurangnya pengawasan mutu, sehingga masih banyak beredar pupuk palsu dengan harga yang relatif murah dibandingkan pupuk asli, kurangnya sumberdaya manusia yang berkualitas, dicabutnya subsidi pemerintah terhadap ketersediaan bahan baku tertentu (gas alam), serta banyaknya bermunculan  produsen pupuk palsu. 

Faktor peluang (opportunities) menggambarkan situasi di lingkungan luar dan peluang-peluang yang ada yang memungkinkan organisasi mendapatkan keuntungan.

Peluang bisa timbul dari perubahan-perubahan teknologi, undang-undang dan kebijakan.  

Peluang yang dapat dimanfaatkan didalam pembangunan dan pengembangan industri pupuk adalah dalam hal peningkatan konsumsi pupuk akibat dari meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pupuk yang berkualitas tinggi (pupuk asli), banyaknya diversifikasi produk di luar hasil pupuk sehingga akan memberikan nilai tambah, dan regulasi pemerintah yang semakin tidak membatasi skala usaha. 

Faktor ancaman (threat) menggambarkan bahaya atau masalah yang dapat menghancurkan kedudukan perusahaan pupuk.  

Ancaman yang mungkin dialami dalam pengembangan industri pupuk menyangkut banyaknya produk substitusi yang lebih baik kualitasnya (untuk pupuk organik), persaingan dengan pengusaha luar negeri, perubahan kondisi ekonomi dan politik yang tidak menentu.

Matriks SWOT Pupuk

 

Strengths (kekuatan)

 

1.         Peluang pasar yang sangat terbuka ditandai dengan peningkatan permintaan akan kebutuhan pupuk.

2.         Penggunaan pupuk (terutama pupuk N) berkembang cepat di negara-negara berkem-bang (laporan FAO).

3.         Banyaknya lembaga-lembaga yang melakukan R&D pupuk. Hasil penelitian tersebut kemudian diintro-duksikan kepada masyarakat, Misalnya: Rhizo-PlusTechnofert 2001, dll.

4.         Biaya produksi yang relatif rendah.

5.         Ketersediaan pasokan bahan baku dari lokal, terutama gas alam, air, udara, kapur & dolomit, dll sepanjang tahun dalam jumlah dan kualitas yang memenuhi persyaratan serta harganya yang relatif murah.

6.         Jumlah dan mutu gas alam yang banyak dan baik mengahasilkan pupuk urea yang bermutu.

7.         Keinginan pemerintah untuk memperbaiki kebijakan dan lingkungan bisnis.

8.         Umumnya lokasi perusahaan strategis dekat sumber bahan baku.

9.         Ketersediaan infrastruktur baik dari pemerintah maupun dari pihak industri itu sendiri

Weaknesses (kelemahan)

 

1.         Kekurangan jumlah dan kualitas bahan baku kalium, belerang, fosfat, dll.

2.         Kurangnya teknologi dan sarana penyimpan pupuk, sehingga banyak pupuk yang tidak dapat dimanfaatkan dengan baik.

3.         Jalur distribusi produk masih kurang baik.

4.         Kurangnya SDM dalam jumlah dan kualitasnya.

5.         Walaupun bahan baku gas alam melimpah, namun merupakan sumber yang tidak dapat diperbaharui, sehingga suatu saat akan habis.

6.         Bahan baku fosfat dan kalium masih impor, sehingga perlu pengamanan supply-nya.

7.         Pengawasan mutu produk yang kurang.

8.         Masih banyak dan ber-munculannya produsen pupuk yang menghasilkan pupuk palsu, pupuk turunan atau campuran dengan dosis yang lebih rendah sehingga dapat memberikan harga yang lebih murah dari pupuk aslinya.

9.         Dampak lingkungan yang masih kurang diperhatikan oleh pihak industri dan pemerintah.

10.      Daya beli masyarakat yang rendah sehingga jumlah pupuk yang digunakan konsumen rendah, maka distribusi pupuk terhambat.

 

Opportunities (kesempatan)

 

1.         Kesadaran masyarakat akan pentingnya pupuk yang berkualitas tinggi semakin besar.

2.         Terbukanya peluang pengembangan diversifikasi produk yang dihasilkan oleh pabrik pupuk di luar hasil pupuk, sehingga memberikan nilai tambah (profit tambahan).

3.         Banyaknya limbah-limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk.

4.         Permintaan yang terus meningkat baik untuk pasar domestik dan pasar ekspor.

5.         Produksi dan kualitas pupuk dapat ditingkatkan dengan adanya kerjasama seluruh pihak yang terkait.

6.         Perhatian masyarakat terhadap lingkungan makin tinggi.

7.         Pasokan bahan baku yang kontinyu, terutama untuk pupuk urea.

8.         Toko-toko sarana pertanian (agen) cukup banyak.

Strategi S-O

 

 

1.         Melakukan promosi mengenai keunggulan komparatif produk (1-4).

2.         Mempertahankan dan meningkatkan produktivitas produk dan pasar dengan menggunakan keunggulan komparatif yang dimiliki (5,6-5,7).

3.         Memperluas jangkauan pasar dan strategi pemasaran.

4.         Melakukan penelitian dan pengembangan dari limbah-limbah produk sebagai bahan baku sehingga tidak ter-gantung pada bahan baku impor (3-3).

5.         Meningkatkan diversifikasi produk melalui penelitian, untuk mendapatkan nilai tambah selain produk utama. (3-2).

 

Strategi W-O

 

 

1.         Melakukan penelitian pasar (1,8,10-4, 8).

2.         Membangun R&D yang kuat untuk mencari substitusi dari bahan baku yang kurang baik dalam jumlah dan mutunya (1,7,8-7,5).

3.         Adanya pengawasan dan sanksi yang jelas terhadap pihak yang melakukan pemalsuan pupuk (7-1).

4.         Melakukan penyuluhan penggunaan pupuk yang baik dan benar (4-1,5).

5.         Melakukan perencanaan yang baik sehingga permintaan dan penawaran seimbang (10-4,8)

 

Threats (ancaman)

 

1.         Banyaknya produk substitusi yang lebih baik kualitasnya (untuk pupuk organik).

2.         Dicabutnya subsidi dari  pemerintah ketersediaan bahan baku gas alam.

3.         Penemuan teknologi proses pembuatan yang baru dan produknya.

4.         Harga bahan baku impor yang meningkat karena krisis ekonomi.

5.         Teknologi baru mahal dan adopsinya membutuhkan waktu.

6.         Kebijakan dan peraturan pemerintah yang tidak dilaksanakan dengan baik dari segi aparat maupun masyarakat.

Strategi S-T

 

1.         Menambah volume produksi dengan mendiversifikasikan bahan baku (5,6-1,3).

2.         Meningkatkan produktivitas pabrik dengan meningkatkan SDM, teknologi, sarana dan prasarananya (5,9-1,3).

3.         Memberikan insentif bagi pelanggan (4-2).

4.         Kerjasama yang baik dari semua pihak untuk menjaga stabilitas di bidang politik, sosial dan keamanan (7-6).

Strategi W-T

 

1.         Melakukan penelitian dan pengembangan produk (4,8-3).

2.         Melakukan pengawasan dan pengendalian mutu, mulai dari perencanaan sampai pada pemasaran produk (7,8-1,3).

Dari analisis SWOT tersebut diatas maka dapat disimpulkan hal-hal penting sebagai berikut.

  1. Prospek industri pupuk urea di Indonesia sangat baik untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri dan pasaran ekspor mengingat bahan baku tersedia dengan cukup banyak dengan kualitas yang sangat baik.
  2. Untuk meningkatkan daya saing, perlu meingkatkan sumber daya manusia untuk menangani industri pupuk secara profesional.  Teknologi baru yang lebih efisien perlu segera diadopsi.
  3. Perlu melakukan penelitian terus-menerus untuk meingkatkan kualitas produk dan melakukan pengendalian mutu.
  4. Perlu perbaikan distribusi pupuk di dalam negeri dengan melakukan koordinasi yang baik semua pihak yang terkait yaitu : industri pupuk, distributor, KUD, dan lain-lain.
  5. Pendanaan pengembangan pupuk berbasis bahan baku lokal yaitu pupuk Pertanian dan pupuk organik perlu didukung agar kebutuhan pupuk dapat dipenuhi dari produk lokal dengan harga terjangkau oleh petani. 

Analisis Daya Saing Industri Pupuk Indonesia 

Daya saing industri pupuk Indonesia diramalkan dengan beberapa variabel, yaitu impor, produksi, ekspor, konsumsi, harga domestik, penjualan dan kelayakan usaha. 

Dari Tabel berikut dapat dilihat, skor total untuk daya saing dari suatu industri pupuk di Indonesia adalah 22,25 yang berarti sektor industri pupuk di Indonesia menunjukkan daya saing yang tinggi.   

Total skor antara 1 sampai dengan 12 merefleksikan daya saing rendah, skor antara 13 sampai dengan 17 memiliki daya saing sedang atau menengah, sedangkan skor antara 18 sampai dengan 24 menyatakan daya saing tinggi.  

Meskipun daya saing industri pupuk di Indonesia tinggi berdasarkan hasil skoring, namun tetap harus memperhatikan beberapa hal yang mempengaruhi daya saing industri pupuk tersebut sebagai berikut.

  1. Bahan baku yang tidak dapat diperbaharui sehingga tidak terhadap permintaan dunia melalui ekspor, sedangkan permintaan tersebut cukup besar.
  2. Semakin luasnya area pertanian, menyebabkan konsumsi terhadap pupuk dalam negeri semakin meningkat, dan sebagainya.

Penentuan Daya Saing Industri Pupuk

Uraian

A

B

C

D

1. Impor Indonesia

+

+

+

3

2. Produksi Indonesia

+

+

+

3

3. Ekspor Indonesia

+

+

+

3

4. Konsumsi Pupuk Indonesia

 

 

 

 

    untuk sektor Pertanian :

 

 

 

 

    a.  Urea

+

+

+

1,25

    b.  ZA

-

-

-

    c.  TSP/SP-36

-

-

-

    d.  KCl

-

+

+

5. Konsumsi Pupuk Indonesia

 

 

 

 

    untuk sektor Industri :

 

 

 

 

    a.  Urea

+

+

+

3

6. Harga Domestik, per jenis produk

 

 

 

 

    a. Urea

+

+

+

3

    b. TSP

+

+

+

    c. SP-36

+

+

+

    d. KCl

+

+

+

    e. ZA

+

+

+

7. Penjualan Pupuk Indonesia

+

+

+

3

8. Kalayakan Usaha :

 

 

 

3

    a. NPV  = Rp 822.803.327

 

+

+

+

 

    b. IRR  =  36,12 %

    c. BCR  =  1,23

    d. Payback Periode   =  5.11

    e. BEP  =  Rp  166.496.108

Total Nilai

22,25

Keterangan :     A. Rata-rata pertumbuhan 6 tahun terakhir

  1. Trend (Slope)
  2. Stabilitas :     1. Stabil, CV < 0,5
  3. Tidak Satabil, CV > 0,2 (20%)
  4. Nilai :     Jumlah tanda positif = 3,2,1, atau 0
Sumber Referensi Artikel
  1. Artikel tentang pupuk dari wikipedia
  2. Artikel menarik dari fertilizer
  3. Artikel pendukung dari howstuffwork
  4. Artikel dari thegrownetwork
  5. Artikel dari ncagr
  6. Sumber lainnya