Last Updated:
Prospek Usaha Perkebunan Bunga
Prospek Usaha Perkebunan Bunga https://www.pustakadunia.com

Prospek Usaha Perkebunan Bunga

Prospek Usaha Perkebunan Bunga - Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa, saat ini memiliki prioritas utama pembangunan agroindustri pada aspek kelautan, pakan ternak dan hortikultura,  termasuk florikultura didalamnya.

Florikultura merupakan salah satu subsektor yang memiliki potensi sebagai pusat pertumbuhan baru sektor pertanian. 

Selain itu florikultura di Indonesia menjadi salah satu industri yang sedang dikembangkan dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani, memperluas lapangan pekerjaan, pariwisata serta menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman. 

Menurut Rachmat (2000) terdapat tiga alasan yang mendukung hal diatas, sebagai berikut

  1. Potensi keragaman jenis tanaman hias yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, 
  2. Potensi pasar produk tanaman hias baik domestik maupun ekspor, dan
  3. Potensi ketersediaan lahan bagi pengembangan tanaman hias di Indonesia yang masih cukup luas.

Perkembangan Usaha Perkebunan Bunga

Perkembangan florikultura di Indonesia sebenarnya telah dimulai pada akhir   1980-an ketika para petani dapat memenuhi kebutuhan primernya dari usaha tanaman hias.

Perkembangan Usaha Perkebunan Bunga
Pengusahaan bunga dan tanaman hias ternyata mampu mengubah pola usaha tani dari sekedar hobby menjadi usaha komersial yang prospektif.

Seiring dengan pertumbuhan perekonomian, pertumbuhan penduduk, pertumbuhan pemukiman dan industri pariwisata maka area produksi tanaman hias pun  semakin meningkat walaupun dengan persen peningkatan yang rendah. 

Pada tahun 1993 area produksi tanaman hias tercatat mencapai 1 823 ha dan pada tahun 1995 menjadi 1 996 ha, atau meningkat satu persen per tahun.

Angka peningkatan tersebut masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan Thailand yang mencapai nilai 10 persen per tahun. 

Usaha Bunga Tangguh Melewati Krisis

Namun demikian, sektor diatas menurut ASBINDO (Asosiasi Bunga Indonesia) termasuk tangguh melalui masa krisis ekonomi dan moneter di Indonesia pada tahun 1997-1998. 

Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura (2001) menyebutkan kebutuhan pasar dalam dan luar negeri pada kenyataannya tidak dapat dipenuhi hingga masih diperlukan impor 5-15% dari total volume yang dibutuhkan. 

Bahkan, sejak 10 tahun terakhir permintaan akan bunga dan tanaman hias meningkat pesat dari tahun ke tahun, di kota-kota besar tercatat lebih dari 50 juta tangkai bunga potong dibutuhkan setiap tahun untuk mencukupi permintaan pasar ibu kota. 

Rendahnya tingkat pertumbuhan usaha bunga dan tanaman hias di Indonesia menurut Rachmat (2000) diduga berkaitan dengan belum terpenuhinya kuantitas dan kualitas benih/bibit bermutu sesuai dengan permintaan pasar serta permasalahan dalam kontinuitas produksi oleh skala kecil yang relatif tertinggal dalam penerapan teknologi, permodalan dan informasi. 

Disamping hal tersebut sarana penunjang yang sesuai terutama transportasi dan promosi ekspor tanaman hias dan bunga yang masih rendah, serta penelitian dan keterkaitan/komunikasi yang terintegrasi antara peneliti dan pengusaha yang masih rendah menyebabkan Indonesia belum dapat memenuhi dinamika perubahan yang cepat dari selera konsumen terhadap bunga dan tanaman hias.

Oleh karena hal tersebut perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam terhadap tingkat risiko usaha serta peluang keberhasilan usaha tersebut, baik ditinjau dari aspek produksi maupun aspek pemasarannya.

 

Dalam artikel ini dipilih tiga macam komoditas tanaman hias dan bunga, yaitu mawar  sebagai tanaman hias potong, krisan sebagai tanaman hias bunga potong maupun pot dan asparagus bintang sebagai tanaman hias daun potong.

Pemilihan ini didasari pertimbangan bahwa sejak dekade ini mawar dan krisan merupakan tanaman bunga potong yang termasuk ever lasting demand pada perdagangan internasional maupun nasional, sedangkan aspargus bintang merupakan tanaman hias daun yang sampai saat ini pelaku bisnisnya masih sangat sedikit di Indonesia.

Penyusunan Artikel Prospek Usaha Perkebunan Bunga bunga dan tanaman hias ini bertujuan untuk :

  1. Memberikan informasi mengenai karakteristik tanaman hias dan pengusahaannya dilihat dari aspek teknis, finansial, maupun pemasaran.
  2. Memberikan gambaran mengenai prospek usaha tanaman hias serta tingkat resiko yang akan dihadapi.
  3. Menganalisa kelayakan ekonomi dan finansial usaha tanaman hias
  4. Mengidentifikasi berbagai titik kritis dan permasalahan aktual usaha bunga dan tanaman hias baik di bidang produksi maupun pemasarannya 

Cakupan Bahasan Prospek Usaha Perkebunan Bunga

Secara umum Artikel ini membahas mengenai pengusahaan bunga dan tanaman hias, yang diharapkan dapat menjadi pedoman bagi pihak bank dalam menentukan skim kredit bagi nasabah. Dengan demikian pihak bank lebih dulu memiliki informasi penting tentang industri yang dimaksud.

Cakupan Bahasan Prospek Usaha Perkebunan Bunga
Pada Artikel ini dipilih bunga mawar, krisan dan asparagus bintang.

Pemilihan ini didasari dengan pertimbangan bahwa sejak dekade ini mawar dan krisan merupakan tanaman bunga potong yang termasuk ever lasting demand pada perdagangan internasional maupun nasional, sedangkan aspargus bintang merupakan tanaman hias daun yang sampai saat ini pelaku bisnisnya masih sangat sedikit di Indonesia.

Ruang lingkup Artikel ini mencakup pada perencanaan dan pengembangan bunga dan tanaman hias sebagai suatu industri. 

Aspek pengusahaan dibahas mulai dari syarat umum pendirian usaha, aspek teknis, pemasaran, resiko usaha  dan aspek finansial. 

Selain itu dibahas juga prospek industri bunga dan tanaman hias dikaitkan dengan tingkat kejenuhan, peluang dan hambatan usaha serta skim kredit yang sesuai dengan industri bunga dan tanaman hias.

Pendekatan dan Pengkajian  Usaha Perkebunan Bunga

Pengkajian yang dilakukan meliputi identifikasi dan analisis kebutuhan investasi serta pengkajian deskriptif prospek pengembangan budidaya bunga dan tanaman hias.

Keputusan dan rekomendasi diambil berdasarkan informasi data sekunder, laporan terkait,  survei ke lokasi usaha budidaya dan studi banding.

Penelusuran data sekunder yang digunakan dalam pengkajian ini antara lain data perkembangan populasi bunga dan tanaman hias dan produksinya, perkembangan harga, data ekspor-impor dan laporan hasil riset, disamping data dari hasil penelitian, makalah seminar dan kajian ilmiah lainnya.

Indikator dalam analisa finansial meliputi perhitungan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period, Benefit Cost Ratio (BCR) dan Break Event Point (BEP). 

Analisis finansial dilakukan untuk melihat tingkat keuntungan usaha jangka pendek maupun usaha jangka panjang, kemampuan dalam mengatasi gejolak suku bunga perbankan dan kecepatan perputaran modal.

Pengkajian ini juga diarahkan guna menentukan persyaratan teknis dan strategi pengembangan usaha budidaya bunga dan tanaman hias yang penting bagi persyaratan pembiayaan.

Persyaratan teknis dilakukan dengan menggunakan standar dalam teknik budidaya bunga dan tanaman hias, sedangkan penyusunan strategi dilakukan dengan menggunakan metode SWOT kualitatif didasarkan pada analisa potensi utama dan kendala kritis dalam usaha bunga dan tanaman hias sebagai sarana untuk melakukan analisis kelayakan usaha.

Karakteristik Kegunaan Tanaman Hias dan Bunga

Tanaman hias merupakan komoditas hortikultura yang sangat khas, karena umumnya dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan “batiniah”, kebutuhan akan keindahan, serta kehidupan sosial lainnya seperti pemberian ucapan selamat, acara yang bersifat kultural, dan sebagainya.

Sebagai tanaman hias, secara umum komoditas ini dibagi atas beberapa jenis berdasarkan bagian tanaman yang dipasarkan/diperjualbelikan, yaitu :

  1. tanaman hias bunga,
  2. tanaman hias daun,
  3. bunga potong, dan
  4. daun potong.

Berdasarkan peruntukannya, tanaman hias bunga dan tanaman hias daun dibagi lagi menjadi sebagai berikut.

  1. tanaman hias pot untuk penghias di dalam ruangan (potted plant, indoor plant).
  2. tanaman hias penutup tanah untuk penghias lansekap (bedding plant).
  3. tanaman hias pot gantung (hanging basket)
  4. tanaman hias untuk pembatas atau pagar (bordery plants).

Tanaman hias bunga maupun daun yang berupa potted plant biasanya digunakan dalam usaha jasa penyewaan (rental) tanaman hias, maupun dijual eceran oleh nursery.  Sedangkan bedding plant dan bordery plant biasanya digunakan dalam usaha/jasa lansekapingHanging basket juga biasanya dijual retail oleh nursery.  Untuk pemasaran bunga potong dan daun potong, dilakukan oleh trader (kios bunga atau flowershop) milik nursery, atau oleh florist untuk jasa perangkaian bunga.

Karakteristik Bunga dan Tanaman Hias 

Bunga Krisan ( Dendranthema sp)

Krisan termasuk  famili  Asteraceae dan genus Dendranthema.  Species krisan yang banyak digunakan adalah dari spesies Dendranthema grandiflora Tzvelev.

Krisan (Chrysanthemum) merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain seruni/bunga emas (Golden flower) yang berasal dari dataran Cina. 

Di Jepang bunga ini dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan disebut Queen Of The East.

Krisan memiliki karakter yang khas yaitu tingkat kepekaannya yang tinggi terhadap fotoperiodisme (panjang hari) untuk melakukan inisiasi bunga. 

Oleh karena itu krisan disebut tanaman hari pendek (Short Day Plant), karena tanaman ini membutuhkan panjang hari yang lebih pendek dari titik kritisnya untuk memacu proses pembentukan bunga. 

Dalam budidaya krisan dikenal istilah “Response Time” yaitu lamanya waktu yang dibutuhkan oleh suatu varietas krisan dari saat mendapat perlakuan hari pendek hingga terjadinya inisiasi bunga.

Krisan umumnya tersedia secara komersial dalam bentuk krisan pot dan krisan potong. Berdasarkan jenis dan varietas tanaman krisan di Indonesia terdiri atas tiga kelompok sebagai berikut.

Krisan lokal

Berasal dari luar negeri, tetapi telah lama beradaptasi di Indonesia sehingga dianggap sebagai krisan lokal.

Ciri-cirinya antara lain sifat hidup dihari netral dan siklus hidup antara 7-12 bulan dalam satu kali penanaman. Contohnya D. maximum yang berbunga kuning atau putih.

Krisan Introduksi (Krisan modern/krisan hibrida)

Merupakan tanaman hari pendek (Short Day Plant) dan bersifat  annual.

Krisan Produk Indonesia

Krisan jenis ini merupakan hasil pemuliaan BALITHI (Balai Penelitian Tanaman Hias).   Varietas yang telah dilepas BALITHI antara lain Varietas Sekartaji, Purbasari, Dewi Sartika, Retno Dumilah, Saraswati, Kartini, Larasati, Chandra Kirana dan Cut Nyak Dien. 

Berdasarkan  tipe pembungaan, menurut Cahyono (1999) krisan terbagi menjadi dua tipe seperti yang dijelaskan berikut ini.

Krisan Tipe Spray

Pada dasarnya bunga krisan berbentuk spray, yaitu pada satu cabang tanaman tumbuh beberapa cabang bunga lateral.

Pada pertumbuhan normal, bunga terminal akan tumbuh lebih cepat dari bunga lateral sehingga bunga terminal akan tampak jauh lebih tua.

Oleh karena itu biasanya bunga terminal dibuang sehingga bunga-bunga lateral akan tumbuh dan mekar lebih serempak. 

Krisan Tipe Standar

Bunga krisan yang berukuran besar biasanya dijadikan tipe standar, yaitu dengan membuang semua bagian-bagian samping/lateral sehingga tinggal satu bunga yang berada ditengah/bunga terminal yang terus dipelihara. 

Bentuk bunga krisan sangat bervariasi. Untuk membedakannya berikut disajikan lima bentuk bunga krisan yang umum diketahui, sebagai berikut.

Krisan Bunga Single

Bentuk bunga single  adalah bentuk bunga krisan yang mempunyai mahkota (bunga pita) memanjang dan lebar, sedangkan bagian tengahnya (bunga tabung) bundar dan sedikit mengembang.  

Bila sudah terlalu mekar bagian tengah akan tampak menguning karena tepung sarinya mulai pecah. 

Di Indonesia biasa dikenal dengan bentuk Aster.

Krisan Bunga Anemone

Bunga pita seperti bentuk single hanya lebih kecil dan pendek, sehingga tidak begitu membuka melainkan agak menggulung.

Pada bunga tabung tidak terlihat adanya benang sari, sehingga bila bunga terlalu mekar bunga tabung akan mengembang (membentuk bantalan) dan bunga pita akan terlihat sedikit. 

Biasanya dikenal dengan bentuk kancing.

Krisan Bunga Spider

Bunga pita terlihat memanjang dengan ujung yang agak menggulung serta menyebar ke hampir semua bagian bunga.  

Tidak terlihat adanya bagian tengah seperti jenis anemone dan single

Biasanya dikenal dengan bentuk jarum.

Krisan Bunga Pompon

Mahkota berkembang sama panjangnya, sehingga berbentuk bulat seperti bola pingpong. Biasa disebut pompom.

Krisan Bunga Dekoratif

Bunga pita berkembang lebih panjang dari bunga tabung, sehingga seperti pompon tetapi tumbuh lebih besar dan membuka.

Jenis dekoratif biasanya memiliki ukuran bunga lebih besar, sehingga banyak dari jenis ini dijadikan tanaman bunga tipe standar. 

Berdasarkan penggunaannya secara komersial, tanaman krisan dibedakan menjadi dua jenis seperti yang dijelaskan dibawah ini :

Krisan Sebagai Bunga pot

Ditandai dengan sosok tanaman kecil, tingginya 20-40 cm, berbunga lebat dan cocok ditanam dalam pot, polibag atau wadah lainnya. Ukuran bunga krisan pot ini dapat normal atau dapat pula mini (berdiameter kecil). 

Krisan Sebagai Bunga potong

Ditandai dengan tangkai bunga yang panjang, ukuran bervariasi (kecil, menengah dan besar), umumnya ditanam langsung di tanah (dalam rumah kaca atau rumah sere) dan dipanen sebagai bunga potong.

Beberapa jenis krisan dengan berbagai bentuk, warna, tipe dan kepekaan terhadap penyakit tingkat kevigoran dan lama hari panjang (long day)

Mawar (Rosa damascaena Mill.)

Dalam sistematika tumbuhan (taksonomi), mawar diklasifikasikan dalam Famili Rosaceae dan genus Rosa. 

Beberapa species mawar yang banyak digunakan sebagai tanaman hias komersial antara lain Rosa damascena Mill., R. multiflora Thumb., R.hybrida Hort., dan lain-lain 

Famili Rosaceae banyak sekali jenis dan varietasnya.

Tercatat ada lebih dari 5 000 macam hibrida mawar yang telah tersebar luas ditanam di seluruh dunia.

Mawar atau bunga ros ini dikenal sebagai Queen of flower yang merupakan simbol kehidupan religi dalam peradaban manusia.

Mawar termasuk tanaman tahunan (perenial), berupa tanaman perdu yang mempunyai struktur batang berkayu keras, berduri, bercabang banyak,  serta menghasilkan bunga, buah dan biji terus menerus.

Selama siklus hidupnya, tanaman mawar terus tumbuh seolah-olah tidak terbatas dan masa produksinya berulang-ulang.

Mawar berasal dari dataran Cina Timur dan Eropa Timur.

Dalam perkembangannya kini telah menyebar luas ke daerah iklim sub tropis dan tropis. 

Popularitas mawar di Amerika sudah dimulai sejak tahun 1800-an, antara lain jenis mawar Rosa odorata, R. odorata ochrleuca, R. foetida persiana.

Di Rusia dikenal mawar R. visola dan R. canina yang dijadikan bahan baku industri parfum. 

Di Turki dan Albania dikembangkan mawar R. damascena dan R. alba.

Dalam perkembangan selanjutnya aneka jenis mawar kuno disilangkan dengan ragam jenis mawar lainnya, sehingga varietas-varietasnya terus bertambah dari waktu ke waktu.

Perpaduan mawar kuno (old roses) dengan mawar modern (modern roses) merupakan suatu revolusi untuk menghasilkan jenis-jenis mawar yang memiliki ragam bentuk, warna dan habitus tanaman yang bervariasi. 

Dari banyak ragam jenis atau varietas mawar di dunia, pada prinsipnya dikelompokkan menjadi tujuh macam mawar.

Di antara tujuh kelompok mawar tadi, hanya empat kelompok yang banyak dibudidayakan di berbagai negara di dunia, yaitu kelompok Hybrid tea, Polyantha, Floribunda dan Mawar pagar.

Berdasarkan kebiasaan pemeliharaannya dikenal tiga kelompok mawar, yaitu :

Mawar Perdu

Merupakan sosok tanaman mawar yang mengalami perlakuan pemangkasan cabang dan ranting sehingga bentuknya menyerupai semak-semak kecil (rendah).

Mawar pohon

Merupakan sosok tanaman mawar yang tidak mengalami pemangkasan sepanjang hidupnya.

Mawar Mini

Merupakan sosok tanaman mawar yang mengalami perlakuan seperti pada pembentukan bonsai, sehingga disebut bonsai mawar.

Di Indonesia berkembang aneka jenis mawar hibrida yang berasal dari Belanda.

Dari berbagai jenis mawar Belanda ini, jenis mawar yang banyak peminatnya adalah tipe Hybrid tea dan medium. 

Kelebihan kedua tipe mawar ini adalah memiliki variasi warna bunga sangat banyak, tahan lama,  tangkai bunga yang panjang, serta tingkat produktivitas yang tinggi, yaitu berkisar antara 120-280 kuntum bunga/m2/tahun. 

Mawar tipe Hybrid tea memiliki tangkai bunga sepanjang 80-120 cm, sedangkan tipe medium 40-60 cm.

Beberapa varietas mawar introduksi yang dapat dianjurkan untuk ditanam di dataran rendah adalah Cemelot, Frad Winds, Mr. Lincoln dan Golden Lustee sebagai mawar bunga potong, sedangkan varietas Folk Song, Katherina Zeimet, Woburn Abbey dan Cimacan Salem untuk semua tanaman taman (Puslitbangtan Pangan, 1982).

Varietas mawar yang dilepas oleh BALITHI adalah varietas Megawati, Kania, Fortuna, Putri, Shananda. 

Asparagus Bintang (Asparagus myrocladus)

Masyarakat awam Indonesia sudah mengenal  dua jenis tanaman asparagus, yaitu yang diambil rebungnya untuk sayur dan sebagai tanaman hias, tetapi belum banyak yang mengenal asparagus bintang (Asparagus myrocladus).

Asparagus yang dipakai untuk tanaman hias biasanya digunakan sebagai tanaman hias pot, landscaping dan untuk poduksi daun potong sebagai filler (pengisi/pelengkap) karangan bunga.

Jenis asparagus yang banyak digunakan sebagai daun potong  diantaranya adalah Asparagus ekor tupai (Asparagus meyeri), Asparagus densiflorus ‘Sprengseri’, asparagus bintang (Asparagus myrocladus)  dan lain-lain.  

Asparagus bintang termasuk  dalam famili Liliaceae yang merupakan tanaman tahunan. 

Sekilas penampilannya menyerupai cemara mini. Setelah dewasa akarnya berdaging dan ada bagian akar yang membengkak seperti umbi.

Rimpang atau batang sejatinya berdaging dan ukurannya dipengaruhi oleh umur tanaman, semakin tua umurnya semakin besar ukuran batang sejati dan semakin banyak jumlah batang semu yang dihasilkan. 

Batang semu asparagus bintang merupakan bagian yang dipanen.  Batang semu ini lunak dan berdaging saat masih muda (sering disebut rebung) tetapi menjadi berduri besar dan tajam serta keras karena sedikit berkayu saat dewasa. 

Batang semu tumbuh mencapai tinggi maksimal lebih dahulu, baru kemudian percabangan dan daun-daunnya tumbuh membuka.

Daun berbentuk seperti jarum, berwarna hijau muda saat muda dan menjadi gelap keabu-abuan saat dewasa.

Kedudukan percabangannya lateral yang secara keseluruhan membentuk kerucut. 

Skala Usaha Bunga dan Tanaman Hias 

Menurut Harjadi (1989) pengusahaan komoditas hortikultura dilakukan secara intensif seperti pada kegiatan pemanenan, transpor dan pemasarannya. 

Budidaya komoditas ini bersifat padat modal dan pada tenaga kerja, bahkan bila telah menggunakan sarana produksi yang canggih, misal penggunaan mesin/traktor masih memerlukan tenaga kerja manusia untuk pemetikan, pemilihan produk dan pengemasannya.

Sehingga dapat dikatakan bahwa tanaman hortikultura ialah tanaman yang masih memungkinkan masukan (input) tinggi tiap satuan luas, karena akan diperoleh keluaran (output) yang tinggi dalam waktu relatif pendek. 

Komoditas hortikultura pada umumnya diusahakan pada lahan yang tidak terlalu luas seperti halnya perkebunan (estate).  

Pada pengusahaan bunga dan tanaman hias, saat ini sebenarnya sudah cukup banyak petani tradisional maupun perusahaan yang bergerak dibidang usaha tanaman hias. 

Para petani tradisional mengusahakan bunga dan tanaman hias ini pada luas lahan rata-rata kurang dari2 000 m2 sedangkan  perusahaan besar memiliki lahan rata-rata lebih dari 2 000 m2.  

Pola pengusahaan pada perusahaan besar dilakukan untuk kontinyuitas suplai pasar, sehingga pola tanam dan luas lahan dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi permintaan konsumen. 

Pada artikel ini pengusahaan bunga dan tanaman hias dilakukan dengan pola tanam harian sehingga pemanenan dilakukan harian (dalam perhitungan dikumulatifkan kedalam mingguan).  

 

Teknis Usaha Perkebunan Bunga 

Industri bunga dan tanaman hias ditinjau dari aspek teknis lebih banyak mengkaji aspek kesesuaian lahan bagi tiap komoditas (mawar, krisan potong, krisan pot dan asparagus bintang), aspek budidaya, perancangan tata letak (Lay Out), sarana dan prasarana serta struktur organisasi. 

Kesesuaian Lahan Untuk Usaha Perkebunan Bunga

Kesesuaian lahan dan agroklimat bunga dan tanaman hias khususnya komoditas mawar, krisan dan asparagus bintang cenderung mempunyai kemiripan dalam segi kesesuaian iklim.

Berikut  ini penjelasan dari masing-masing kriteria iklim yang berpengaruh terhadap pembudidayaan sebagai berikut :

Kebutuhan Cahaya. Usaha Perkebunan Bunga

Tanaman krisan potong maupun krisan pot adalah tanaman hari pendek (short day plant) sehingga untuk memasuki fase generatif (pembungaan) dibutuhkan panjang hari yang lebih pendek dari normal.

Sehingga perlakuan hari panjang mutlak diperlukan. 

Di negara tropis seperti Indonesia, penambahan panjang hari dapat dilakukan dengan penyinaran buatan setelah matahari terbenam.

Sumber cahaya buatan yang umum digunakan adalah lampu TL (fluorescent). Pada tanaman mawar sinar matahari yang diperlukan adalah 5-6 jam per hari.

Pada tanaman asparagus bintang kondisi naungan sehingga mengurangi intensitas matahari sampai 60% sangat mendukung bagi kualitas yang diperoleh.

Suhu Usaha Perkebunan Bunga

Suhu yang paling baik untuk pertumbuhan tanaman krisan adalah antara 200C-260C (siang hari).

Toleransi tanaman krisan terhadap faktor suhu untuk tetap tumbuh baik adalah antara 170C-300C.

Sedangkan untuk pembungaan adalah 160C-180C. Pada mawar suhu yang ideal untuk pertumbuhannya antara 150C pada waktu malam dan 280C pada waktu siang dengan suhu rata-rata harian 220C. 

Suhu untuk budidaya asparagus bintang tidak terlalu menjadi masalah bagi pertumbuhannya.

Ketinggian Usaha Perkebunan Bunga

Lokasi yang cocok untuk budidaya tanaman krisan adalah di daerah dengan ketinggian antara 700-1200 m dpl. 

Pada ketinggian 400 m dpl krisan masih dapat berbunga, hanya kualitas warna bunga menurun (pucat).

Tanaman mawar dapat tumbuh dengan baik di daerah pegunungan pada ketinggian 1 200–2 500 m dpl  akan tetapi keadaan iklim pada ketinggian mulai 500 m dpl sampai + 1500 m dpl masih cukup baik untuk tumbuhnya mawar, pada kisaran ketinggian tersebut, prasyarat iklim lainnya yang optimum untuk mawar akan terpenuhi, seperti suhu udara yang relatif sejuk (antara 180-260C),  panjang hari minimal 6 jam per hari.

Sedangkan asparagus bintang dapat tumbuh pada ketinggian rendah maupun tinggi, akan tetapi ketinggian yang lebih rendah akan lebih baik.

Kelembaban Usaha Perkebunan Bunga

Kelembaban udara (RH) yang dibutuhkan tanaman krisan cenderung tinggi. Pada fase pertumbuhan awal, seperti perkecambahan benih atau pembentukan akar bibit stek, diperlukan kelembaban udara 90-95%.

Tanaman muda sampai dewasa tumbuh baik pada kondisi kelembaban udara antara 70-80%. 

Sedangkan kelembaban 60-80% cukup optimum bagi perkembangan tanaman.  Pertumbuhan optimum yang baik bagi mawar adalah mempunyai kelembaban  70-80%.

Media Tumbuh Bunga

Tanaman mawar dapat tumbuh dengan baik di berbagai media tumbuh, misalnya pada rockwool.

Tanah yang baik untuk tanaman mawar adalah tanah liat berpasir, yang kandungan tanahnya antara 30-60%. 

Struktur tanah harus gembur/porous, mengandung banyak bahan organik dengan pH tanah 6-6,5. 

Oleh sebab itu mawar cocok di tanam di daerah pegunungan yang mengandung tanah jenis latosol dan andosol. 

Asparagus bintang dapat tumbuh pada media yang porous dengan pH 5.5–6.5 dengan EC 1 mS.

Tanaman krisan membutuhkan tanah yang bertekstur liat berpasir, subur, gembur, berdrainase baik serta tidak mengandung hama dan penyakit. pH yang baik untuk tanaman ini adalah 5,5-6,7.

Teknik Budidaya Krisan Potong

Pembibitan. Pembibitan krisan pada skala komersial dilakukan melalui dua tahap, yaitu pengadaan stok tanaman induk dan perbanyakan tanaman induk secara vegetatif.

Tanaman induk yang baik harus memenuhi persyaratan berikut.

  1. Varietas atau kultivar komersial yang laku di pasaran.
  2. Daya tumbuh (vigor) tanaman kuat.
  3. Pertumbuhan normal, subur dan dominan fase vegetatif.
  4. Bebas dari OPT.
  5. Mudah diperbanyak secara vegetatif, terutama stek atau kultur jaringan.

Stok tanaman induk untuk sumber bibit ditanam di dalam rumah plastik atau rumah kaca. 

Pemeliharaan tanaman induk dilakukan intensif dan dalam kondisi lingkungan berhari panjang dengan penambahan cahaya 2-4 jam per hari mulai pukul  22.00 atau 23.00. 

Penanganan sebelum pembibitan diantaranya adalah :

  1. Pemangkasan Pucuk (Pinching) dilakukan pada umur dua minggu setelah calon tanaman induk ditanam. Tujuan pemangkasan adalah merangsang pertumbuhan tunas atau calon percabangan.
  2. Penumbuhan Cabang Primer. Perlakuan pinching dapat merangsang pertumbuhan tunas ketiak sebanyak 2–4 tunas dan disebut cabang primer.
  3. Penumbuhan Cabang Sekunder. Pada tiap ujung primer dilakukan pemangkasan pucuk sepanjang 0,5–1 cm. Tiap cabang sekunder dipelihara hingga tumbuh sepanjang 10–15 cm.

Pengambilan stek pucuk untuk calon benih dilakukan pada tunas yang tumbuh dari cabang sekunder. 

Penyetekan dilakukan pada cabang yang telah mencapai panjang 10–15 cm tiap dua– tiga minggu sekali. 

Penyetekan dihentikan bila tanaman induk menunjukkan gejala pertumbuhan fase generatif atau kuncup bunga.  

Teknik Penyemaian Bibit Krisan

Tunas pucuk dipilih dengan kriteria tumbuh sehat, diameter pangkal tunas antara 3–3,5 mm, panjang tunas 5 cm, mempunyai tiga helai daun dewasa berwarna hijau terang.

Stek pucuk dapat langsung disemai atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu 40C dengan kelembaban 30% agar tahan segar selama tiga minggu. 

Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tissu, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik rata-rata 50 stek, dan selanjutnya disusun rapi di rak-rak lemari pendingin.

Pemberian ZPT perangsang akar dilakukan dengan cara dioleskan pada pangkal stek pucuk.

Stek pucuk disemaikan pada bak pesemaian dengan jarak semai  3 cm x 3 cm dan kedalaman 1– 2 cm. 

Sungkup plastik yang tembus cahaya dipasang pada seluruh permukaan bak pesemaian. 

Air disemprotkan dengan sprayer 2 – 3 hari sekali pada medium semai agar lingkungan pesemaian tetap lembab. 

Bola lampu penerangan pada malam hari dipasang untuk mempertahankan pertumbuhan vegetatif. Penyemprotan fungisida dilakukan bila ditemukan serangan cendawan.  

Penanaman dan Pemeliharaan Bunga Krisan

Persiapan Lahan. Tanaman krisan dapat ditanam di rumah plastik atau rumah kaca dengan lahan dalam bentuk bedengan, atau ditanam di pot. 

Budidaya krisan juga dapat dilakukan di lahan terbuka.  Kegiatan budi daya krisan di kebun terbuka prinsipnya sama dengan di rumah plastik atau rumah kaca, namun varietas krisan yang dipilih yang berhari netral dan pada waktu pembungaan, bunga hanya dikerudungi dengan kantong plastik transparan pada tiap tangkai bunga. 

Namum  budidaya krisan di lahan terbuka ini sebenarnya sangat tidak dianjurkan mengingat kualitas bunganya yang bisa merosot tajam.

Persiapan Media Tumbuh. Sistem bedengan. Tanah diolah hingga gembur dan dipersiapkan dalam bentuk bedengan. Tata cara penyiapan lahan adalah dengan tahap-tahap sebagai berikut.

  1. Tanah diolah dengan cangkul sedalam 30 cm hingga gembur.
  2. Tanah dikeringanginkan selama 15 hari agar gas-gas beracun dalam tanah menguap.
  3. Tanah digemburkan kedua kalinya sambil membentuk bedengan berukuran lebar 100–120 cm,tinggi 20–30 cm,panjang disesuaikan dengan keadaan lahan, dan jarak antar bedengan 30 – 40 cm.
  4. Permukaan bedengan dirapikan dengan cangkul atau papan kayu hingga tampak rata. 

Penanaman bibit krisan lebih baik adalah pada pagi atau sore hari, yaitu saat suhu udara tidak terlalu panas.

Tata cara penanaman bibit krisan meliputi tahap-tahap sebagai berikut.

  1. Medium pesemaian disiram dengan air bersih hingga cukup basah.
  2. Bibit krisan satu persatu dicabut secara hati-hati agar tidak rusak akar-akarnya, kemudian ditampung dalam wadah atau keranjang plastik berdasarkan ukuran bibit atau varietas yang sama.
  3. Lubang tempat tanam dibuat dengan tugal mulai jarak 10 cm x 10 cm sampai  20 cm x 20 cm. Bila tersedia jaring penahan rebah tanaman, pasang terlebih dahulu jaring tersebut pada bedengan, kemudian ditengah-tengah mata jaring dibuat lubang tempat tanam.
  4. Insektisida sistemik diisikan sebanyak 6 – 10 butir  tiap lubang, lalu lubang ditutup dengan tanah tipis agar perakaran bibit krisan tidak terkena langsung insektisida untuk perlakuan bibit.
  5. Sebelum tanam batang stek dicelupkan dalam ZPT, lalu bibit krisan satu persatu ditanam pada lubang yang dipersiapkan sedalam 1-2 cm sambil secara perlahan memadatkan tanah dekat pangkal batang bibit.
  6. Seluruh permukaan tanah disiram air bersih hingga cukup basah. 

Pemupukan. Pada saat persiapan lahan, pupuk kandang dan sekam disebarkan pada permukaan bedengan, kemudian dicampur dengan tanah lapisan atas hingga merata. 

Perbandingan tanah lapisan atas,sekam,dan pupuk kandang adalah  2 : 1 : 2.  Seminggu sebelum tanam dapat dilakukan pemupukan dasar berupa campuran pupuk ZA 75 gram + TSP 75 gram + KCl 25 gram (3 : 3 : 1)/m2.

Campuran pupuk tersebut diberikan merata pada tanah sambil diaduk-aduk atau melalui larikan di antara lubang tempat tanam.  Setelah tanam,  dilakukan pemupukan susulan :

  1. Waktu pemupukan dimulai pada umur satu bulan setelah tanam, kemudian diulang seminggu sekali selama sebulan, dan akhirnya sebulan sekali.
  2. Pupuk yang diberikan pada fase awal pertumbuhan adalah Urea 200 g + ZA 200 g  + KNO3 100 g/m2 luas lahan.  Pada fase generatif digunakan pupuk Urea 10 g + TSP 10 g + ZA 15 g + KNO3 25 g/m2 diberikan sebulan sekali.  Untuk memacu pertumbuhan dan pembungaan yang prima selain diberi pupuk tersebut, dapat pula ditambahkan pupuk pelengkap cair (PPC).
  3. Cara pemberian pupuk buatan adalah dengan disebar dalam larikan atau lubang tugal di samping kiri atau kanan tanaman krisan.  Selesai penebaran, pupuk harus ditutup dengan tanah tipis, lalu dilakukan penyiraman.  PPC diberikan dengan cara disemprotkan melalui daun, jenis dan dosis pemberian disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman.  

Penyiraman Bunga Krisan

  1. Waktu penyiraman yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari.  Penyiraman dilakukan satu– dua kali sehari atau tergantung keadaan medium tumbuh dan cuaca.
  2. Penyiraman dilakukan dengan cara mengabutkan air atau sistem irigasi tetes hingga tanah cukup basah. 

Pengaturan Panjang Hari Untuk Bunga Krisan

Waktu pengaturan panjang hari dilakukan sejak bibit krisan ditanam sampai batas tertentu ketinggian tanaman yang diinginkan. 

Misalnya bila diinginkan bunga potong krisan bertangkai 70 cm, maka penambahan cahaya dilakukan sejak tanam sampai tanaman mencapai ketinggian 50–60 cm, kemudian lampu dimatikan.  

Total lama penambahan cahaya sejak bibit ditanam sampai periode menjelang fase generatif antara 4-6 minggu atau tergantung varietas krisan.

Cara penambahan panjang hari yaitu dengan pemberian cahaya lampu tengah malam selama lima menit lalu dimatikan selama satu menit, menyala lima menit dan mati satu menit. 

Hal ini dilakukan berulang–ulang hingga mencapai  30 menit. 

Cara lain pengaturan dan penambahan cahaya adalah dengan memasang lampu TL atau lampu pijar pada tengah malam, dimulai pukul 22.30 – 01.00 selama empat jam. 

Pembuangan Titik Tumbuh Bunga Krisan

Tujuan pembuangan titik tumbuh adalah untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru atau memperbanyak percabangan, dan membuang tunas-tunas yang tidak diinginkan.

Waktu pembuangan titik tumbuh adalah pada umur 10–14 hari setelah tanam.  Caranya dengan memotes ujung/pucuk tanaman sepanjang 5 cm. 

Hama dan Penyakit Penting pada Krisan 

Hama/penyakit yang menyerang krisan berubah setiap waktu, sesuai dengan perubahan musim, sehingga pengendaliannya juga mengikuti pola perubahan musim yang terjadi.  

Hama yang banyak merugikan adalah sebagai berikut :

Pengorok Daun (Liriomyza sp.) Hama ini merusak tanaman dengan cara menggorok daun hingga daun akan terlihat transparan dan cepat menjadi kering

Thrips (Thrips parvispinus Karny.) Serangan hama ini menyebabkan tepi daun berkerut, menggulung dan bila daun tersebut dibuka, akan terdapat thrips yang berkelompok.  Pada serangan yang hebat, daun pucuk serta tunas tanaman akan mengeriting/terpelintir berkerut, menggulung ke dalam dan timbul benjolan seperti tumor sehingga mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil.  Hama ini juga bertindak sebagai vektor virus mosaik dan virus keriting.  Populasi thrips meningkat di musim kemarau/ cuaca kering dan menurun di musim hujan.

Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hufn). Serangan ulat ini terjadi pada malam hari untuk mencari makan dengan menggigit atau memotong ujung batang tanaman muda,sehingga pucuk atau tangkainya terkulai dan layu. Di sekitar tanaman yang diserang hama terdapat sisa tanaman bekas makanan ulat. 

Tungau Merah (Tetranychus sp.). Bagian tanaman yang diserang adalah tangkai daun dan bunga.  Gejala serangannya tampak pada daun yang berbintik-bintik kemudian bergabung dan jaringan daun seluruhnya menjadi kuning kemerahan.  Tungau tampak seperti bercak merah, melengkung pada permukaan bawah daun.  Bila serangan berat daun layu dan gugur.

Ulat Grayak (Spodoptera litura F.). Larva ulat grayak yang masih kecil merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas (daun menjadi transparan) dan tinggal tulang-tulang daun saja. 

Siput (Parmarion pupillaris Humb.). Gejala serangan biasanya dijumpai pada tanaman yang masih muda.  Siput memakan daun dan membuat lubang-lubang tidak beraturan.  Serangan ditandai dengan adanya bekas lendir sedikit mengkilat dan kotoran. 

Karat Hitam (Puccinia chrysanthemi Roze) atau karat putih (Puccinia horiana P. henning). Gejala serangan akan tampak pada sisi bawah daun terdapat bintil-bintil coklat atau putih yang terdiri dari uredium/teliospora cendawan, atau terjadi lekukan-lekukan mendalam berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas.  Penyakit memperlemah tanaman dan menghambat perkembangan bunga.

Kapang  Kelabu (Botrytis cinerea  Pers.). Biasanya penyakit ini trdapat pada bunga yang ganda atau sangat rapat. Setelah spora berkecambah pada tajuk bunga terjadi bercak cendawan yang kecil dan bundar. Jika lingkungan sangat lembab atau pada waktu banyak hujan bercak melebar dan tajuk bunga tampak seperti diliputi lapisan kelabu kecoklatan, tajuk membusuk dan berlekatan. Pada serangan yang berat dapat menyebabkan busuk bunga.

Bercak Daun (Septoria chrysanthemi Allesch., dan S. eucanthemi Sacc. et Speg.) Gejala serangan S. chrysanthemi menimbulkan bercak-bercak hitam pada daun,  bercak berbentuk bulat dan berbatas tegas, sedangkan S. leucanthemi bercak-bercaknya berwarna coklat, berbentuk bulat berukuran besar 2,5 cm dan mempunyai lingkaran-lingkaran yang jelas.

Penyakit Embun Tepung  (Oidium chrysanthemi Rab.). Gejala Serangan : Permukaan daun tertutup lapisan putih bertepung.  Tepung putih ini merupakan massa dari konidia cendawan. Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering.

Penyakit Layu (Fusarium oxysporum  Schlecht. ex. Fr. dan Verticillium albo-atrum  Reinke et Bert.) Gejala serangan Fusarium sp. menyebabkan tanaman layu, daun bawah menguning dan mengering, dan akhirnya seluruh tanaman mati. Potongan batang melintang pada tanaman yang sakit menunjukkan warna coklat melingkar di sekeliling pembuluhnya. Cendawan Verticillium sp. menyebabkan daun-daun menguning, kemudian daun-daun berguguran.

Nematoda Akar (Meloidogyne sp.). Gejala khas serangan nematoda akar adalah terbentuknya bintil-bintil akar, lalu menjadi layu dan daun menguning akibat rusaknya perakaran.  Pertumbuhan pada bagian atas tanaman menjadi terhambat.

Virus Kerdil Krisan dan Virus Mosaik Lunak Krisan. Gejala serangan virus kerdil adalah tanaman menjadi kerdil, tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal dari tanaman yang sehat, dan warna bunganya menjadi pucat. Virus mosaik menyebabkan daun belang hijau dan kuning (klorosis), dan bunga kadang-kadang bergaris-garis. 

Panen dan Pasca Panen Bunga Krisan 

Tanaman krisan mulai berbunga pada umur 10–14 minggu  setelah tanam, tergantung pada varietas atau kultivar.

Saat panen yang paling tepat untuk krisan standar adalah ketika bunga telah setengah mekar atau 3–4 hari sebelum mekar penuh. 

Krisan tipe spray dapat dipanen bila 70-75 % dari seluruh kuntum bunga dalam satu tangkai telah mekar.

Pemanenan bunga krisan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dipotong tangkainya dan dicabut seluruh tanaman. 

Seusai panen segera dilakukan kegiatan penanganan pasca panen.

Kegiatan tersebut meliputi tahap-tahap: penampungan (pengumpulan hasil), penyortiran dan pembersihan, pengkelasan (grading), pengikatan, pembungkusan, pengepakan (pengemasan), pengangkutan, penyimpanan, pemasaran. 

Sortasi Bunga Krisan

Bunga-bunga potong yang telah diangkut dari lahan dikelompokkan berdasarkan varietasnya kemudian diperiksa hama dan penyakit tanaman pada bunga.

Selanjutnya bunga disortir dengan Sandar Nasional Indonesia (SNI) (Lampiran 5). Bunga yang telah disortir kemudian diikat dengan karet tidak terlalu kencang dengan jarak 10 cm dari pangkal batang sehingga membentuk buket. 

Pengemasan Bunga Krisan

Pengemasan bertujuan untuk menghindarkan bunga dari kerusakan, menjaga kualitas, mempercantik penampilan bunga, dan memberikan nilai tambah secara ekonomis. Pembungkusan dilakukan secara manual menggunakan kertas putih dengan ukuran 60 cm x 40 cm Kertas pembungkus dilengkapi dengan kelas mutu, peringatan dan perhatian, tanggal panen. 

Penyimpanan Bunga Krisan

Bunga krisan potong yang tidak langsung terjual atau terkirim diletakkan pada ember berisi air bersih setinggi 15 cm dan dimasukkan ke dalam ruang pendingin pada suhu 40-800C.

Bila akan dikirim jauh, bunga disimpan didalam ruang pendingin minimal selama empat jam. Lama penyimpanan bunga yang layak jual maksimal empat hari, meskipun penyimpanan dapat dilakukan selama satu bulan.

Budidaya Krisan Pot

Kesesuaian lahan dan iklim untuk budidaya krisan pot sama dengan kesesuaian lokasi (agroklimat) krisan potong, sehingga paparan berikut ini lebih banyak menjelaskan kepada aspek khusus budidaya krisan pot sebagai berikut.

Media Tanam. Pertimbangan khusus dalam menentukan media tanam adalah mudah didapat, harga relatif murah, ringan dan harus memiliki sifat-sifat fisik dan kimia yang bisa mendukung pertumbuhan akar dan serapan hara secara optimal.

Sifat fisik yang penting adalah media harus ringan, gembur dan memiliki aerasi cukup baik.

Sedangkan sifat kimianya adalah derajat keasaman media netral dengan  pH 5.52-6.7, memiliki Eectric Conductivity (EC) rendah sehingga tidak ada kekhawatiran keracunan unsur tertentu. 

Bahan yang banyak digunakan adalah serbuk sabut kelapa (cocopeat) dan arang sekam. 

Gambut memiliki daya pegang air cukup tinggi, dan partikel-partikelnya banyak membentuk gumpalan-gumpalan kecil sehingga membentuk rongga-rongga udara. 

Untuk mengurangi rongga ini perlu ditambahkan bahan lain yang bisa mengisinya seperti serbuk sabut kelapa dan sekam bakar. 

Cocopeat memiliki daya pegang air cukup baik dan tidak membentuk gumpalan antar partikelnya sehingga bisa digunakan untuk mengisi rongga. 

Komposisi media yang baik untuk krisan pot adalah campuran dari gambut (peat), cocopeat dan arang sekam dengan perbandingan volume 4:4:1.

Bibit.  Tinggi bibit untuk krisan pot tidak boleh lebih dari 5 cm. bibit yang terlalu tinggi menyebabkan pertunasan yang kurang kompak, tunas yang terbentuk berjauhan sehingga bagian bawah tanaman menjadi kurang rimbun.

Jumlah bibit yang ditanam dalam satu pot bisa bervariasi.   Untuk ukuran pot 14 -15 cm bisa ditanam 5-6 bibit.

Untuk menentukan jumlah bibit yang ditanam dalam satu pot juga harus mempertimbangkan produktivitas tunas dari jenis yang ditanam.

Untuk jenis yang hanya mengeluarkan tunas sedikit, dibutuhkan jumlah bibit agak banyak, sehingga tanaman pot agak rimbun.

Cara penanamannya satu bibit ditanam cepat ditengah pot dengan posisi tegak lurus, kemudian bibit lainnya ditanam dibagian pinggir pot dengan posisi agak condong keluar agar tunas yang dihasikan menyebar keluar sehingga tanaman pot terlihat lebih besar dan rimbun. 

Penyiraman. Penyiraman tanaman pot bisa dilakukan dengan cara manual atau menggunakan alat bantu sistem irigasi.

Beberapa pertimbangan dalam menentukan pertimbangan adalah frekuensi penyiraman, kualitas air, penyiraman tidak kena daun, penyiraman dilakukan sekaligus dengan pupuk. 

Untuk memenuhi persyaratan penyiraman yang baik, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar hasil penyiraman lebih efisien:

sistem rendam. Penyiraman dengan merendam sebagian pot ke dalam air setinggi    5-10 cm, selama beberapa menit, secara kapiler air dan pupuk bergerak dari bagian bawah pot ke permukaan atas media, sistem ini mengandalkan daya kapiler media terhadap air yang akan merambat dari bawah ke atas. 

Pada fase colouring (fase terakhir perkembangan tanaman krisan pot, saat warna bunga mulai muncul) tanaman harus dipindahkan ke tempat khusus dan sistem pengairannya biasanya menggunakan sistem rendam untuk memudahkan panen. 

Perendaman Tanaman Krisan 

Sistem drip. Dengan sistem drip (irigasi tetes) setiap pot disambungkan dengan selang yang mempunyai jarum untuk mengatur keluarnya air dan sebagai jalan tetesan air ke media.

Dengan menggunakan sistem drip, pemupukan bisa dimasukkan ke dalam alat irigasi. 

Pupuk yang digunakan harus yang mudah larut ke dalam air agar lubang drip tidak mudah tersumbat dan pupuk lebih mudah diserap oleh tanaman. 

Biasanya pada fase short day krisan pot dipindahkan ke tempat lain dan sistem pengairannya menggunakan sistem drip. 

Pemupukan. Pemilihan komposisi pupuk untuk krisan pot dilakukan dengan mempertimbangkan besarnya biaya produksi. 

Contoh pada Tabel adalah komposisi pemupukan krisan pot yang digunakan di PT Kebun Ciputri.  

 Komposisi Pupuk untuk Larutan Pekat 

Jenis pupuk

Jumlah (gram)

 

Stok A (20 liter)

 

 

Ca(NO3)2. 4H2O

2.880

 

KNO3

1.814

 

Stok B (20 liter)

 

 

KNO3

1.476

 

MnSO4.4H2O

5,76

 

ZnSO4.7H2O

0,9288

 

Borak

7,099

 

Na2MoO4.2H2O

0,269

 

MgSo4.7H2O

1.364,6

 

FeSo4.7H2O

85,76

 

Kristalon hijau

1.754,4

   

         Sumber : Cahyono (1999) dalam Supari (1999). 

Bahan pupuk dapat dibuat dari senyawa kimia lainnya sesuai dengan ketersediaan bahan dipasar dan juga dari harga yang lebih ekonomis.

Akan tetapi yang terpenting adalah komposisi dari masing-masing unsurnya. Pada Tabel disajikan pedoman untuk komposisi unsur pupuk. 

Komposisi Unsur Pupuk dalam 1 liter Larutan Pekat

Unsur

Jumlah (gram)

K

38,86

N-Nos

26,26

N-NH2

1,58

P

3,43

Ca

12,23

Mg

4,08

Mn

0,124

Zn

0,032

B

0,049

Cu

0,0263

Mo

0,0066

Fe

0,489

Sumber : Cahyono (1999) dalam Supari  (1999) 

Pengaturan Panjang Hari. Krisan pot memiliki fisiologi sama dengan krisan potong, yaitu memiliki respon terhadap fotoperiodisasi.

Lama penyinaran yang tepat untuk iklim Indonesia 14-16 jam sehari, sehingga pada daerah tropis paling tidak tanaman krisan perlu tambahan cahaya selama dua jam dengan intensitas cahaya minimal 40 lux bila menggunakan lampu TL dan 70 lux apabila menggunakan lampu pijar.  

Pemberian cahaya lampu dilakukan sejak awal tanam sampai tunas lateral yang keluar dari ketiak daun, tumbuh sepanjang  2-3 cm.

Bila tunas yang keluar sudah cukup, maka tanaman akan masuk fase short day. Supaya bunga mekar secara serempak, ada penanam krisan pot yang  melakukan blackout pada malam hari yaitu menutup tanaman dengan plastik hitam atau kain hitam sedemikian rupa sehingga cahaya dari luar sama sekali tidak mengenai tanaman. 

Pinching dan Disbudding. Pinching adalah membuang pucuk terminal dari bibit asal, hal ini dilakukan untuk menghentikan dominasi tunas apikal untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas lateral dari ketiak daun.

Dari setiap bibit diharapkan mengeluarkan tuns lateral sebanyak 3-4 tunas produktif, sedangkan tunas-tunas yang kecil atau tidak peroduktif harus dibuang, sehingga kualitas tunas yang dipelihara benar-benar bagus.

Pinching dilakukan setelah tanaman memiliki lima daun sempurna, dan yang dibuang adalah tunas diantara daun keempat dan kelima, bila daun pertama dihitung dari bawah. Tanaman yang dipinching telah berumur lebih dari 10-14 hari setelah bibit ditanam.

Pinching harus dilakukan tepat waktu. Apabila terlambat maka internode dari bibit akan terlalu panjang, akibatnya jarak antar tunas yang akan tumbuh saling berjauhan.

Disbudding adalah pembuangan bakal bunga yang tidak diinginkan sesuai dengan tujuan pembentukan bunga.

Disbudding dilakukan setelah bakal bunga yang tidak diharapkan mulai tumbuh dan siap dibuang tanpa mengganggu bakal bunga yang siap untuk dipelihara.

Pemberian Zat pengatur tumbuh (ZPT).

ZPT digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman: merangsang pertumbuhan tanaman atau menekan pertumbuhan tanaman.

Pada krisan pot, pemberian ZPT diupayakan untuk merangsang pertumbuhan tunas dan daun sehingga membentuk tanaman menjadi tanaman pot yang kompak, rimbun dan indah.

Salah satu ZPT yang biasa digunakan untuk mempercepat pertunasan adalah Hobsanol. Penyemprotan Hobsanol dilakukan setelah pinching dan seminggu setelah aplikasi yang pertama.

Untuk menekan pertumbuhan agar krisan pot tidak terlalu tinggi maka digunakan alar atau cultar.

Pengendalian Hama dan Penyakit Bunga Krisan

Kualitas krisan pot sangat ditentukan oleh kesehatan tanaman, sehingga pemeliharaan tanaman mulai dari tanam sampai siap untuk dipasarkan harus dilakukan secara cermat.

Untuk mendapatkan kualitas tanaman pot yang prima maka pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara intensif.

Adapun hama dan penyakit tanaman yang banyak menyerang krisan pot adalah sama dengan krisan potong yaitu pengorok daun, thrips, aphids, ulat , dan karat putih.

Panen dan Pasca Panen Bunga Krisan 

Pemanenan tanaman krisan pot tentunya dilakukan bersama-sama dengan medianya. Beberapa faktor yang menjadi kriteria kualitas tanaman pot adalah sebagai berikut.

  1. Tajuk. Batang tanaman tidak terlalu tinggi, sekitar 20-25 cm. Bentuk tajuk tumbuh ke samping pot, sehingga bila dilihat dari bagian atas, tanaman memiliki diameter lebih dari 20 cm; semakin lebar diameter tajuk dengan batang yang kuat akan semakin baik.
  2. Warna daun hijau segar dan bersih dari residu pupuk daun dan pestisida. Bentuk daun normal dan tidak cacat, bebas dari serangan hama penyakit. Daun tumbuh lebat sehingga terlihat rimbun.
  3. Warna bunga cerah dan tidak pudar. Semua bunga dalam satu pot tumbuh normal dan bebas hama penyakit. Bunga mekar serempak, kompak, dan tinggi bunga rata.

Setelah krisan pot diseleksi sesuai kriteria, maka segera dimasukkan ke dalam kantong plastik agar bunga dan cabang tidak patah selama dalam transportasi.

Sebelum tanaman pot dimasukkan kedalam plastik dan dikemas kedalam kardus, media tanam harus dalam kondisi lembab dan pot dalam keadaan bersih.

Teknik Budidaya Mawar

Bibit. Bibit tanaman mawar dapat diperbanyak dengan stek batang, cangkokan dan yang paling digemari adalah okulasi. Stek batang digunakan untuk batang bawah dan  biasanya digunakan mawar pagar sebagai batang bawah, karena jenis ini cukup kuat, cepat tumbuh, tahan hama penyakit dan mudah diperbanyak dengan stek.

Kebanyakan pengusaha bunga potong mawar di Indonesia sampai saat ini masih mengimpor bibit dari negeri Belanda.

Bibit yang didatangkan biasanya berupa tanaman hasil okulasi yang telah berumur tiga bulan dan bibit yang berumur setengah tahun.

Bila menggunakan bibit yang berumur tiga bulan tanaman baru didapat hasilnya setelah 6 bulan ditanam. Bibit ini selain diimpor berupa bibit cabutan tanpa media (stump), juga bisa berupa bibit dengan media buatan, misalnya roockwool.

Bibit berumur  setengah tahun umumnya berupa stump, yaitu bibit tanpa akar dan tanpa daun. Bibit ini sudah dapat diambil hasilnya setelah empat bulan ditanam dengan memberikan percabangan yang baru sekitar dua-tiga cabang utama. 

Penyiapan lahan dan Penanaman Bunga Mawar

Pasir, pupuk kandang dan tanah kebun dibutuhkan untuk media tanam dengan perbandingan 1:2:1.

Pupuk kandang diberikan pada awal tanam. Pemberian pupuk dasar super fosfat sebanyak 0.25 kg/m2 diberikan 1-2 minggu sebelum tanam. Bila tanah terlalu asam dapat ditambahkan kapur pertanian sebanyak 2.5 kg/10 m2 dan bila tanah terlalu basa dapat ditambahkan belerang ¼  kg/10 m2

Pupuk kandang diberikan sebanyak 75 ton/ha. Tambahan pupuk NPK 50 kg/ha/bl. Pemberian unsur mikro Fe, Mg dan S dapat diberikan melalui spray satu bulan sekali.

Sterilisasi dapat dilakukan dengan menggunakan bahan kimia basamid atau vapam dengan dosis yang dianjurkan. 

Persiapan dimulai dengan pembuatan lubang-lubang tanam berdiameter sekitar   15 cm dengan kedalaman 30 cm.

Jarak tanam tergantung varietas.  Jarak tanam jenis Hybrid tea dan floribunda 100 cm x 60 cm, sedang jenis Polyantha 40 cm x 60 cm. 

Beberapa varietas baru bunga mawar potong ditanam dengan jarak    31 cm x 31 cm atau 38 cm, atau 20 cm x 40 cm tergantung jenis mawar yang ditanam.

Pemasangan pelindung berupa shading net 50% dilakukan untuk menghindari transpirasi yang tinggi dari tunas-tunas muda.

Pelindung ini dapat dibuka setelah tanaman berumur empat minggu. Untuk tanaman merambat dapat dibuat tiang penyangga  pergola.

Sebelum ditanam, bibit disterilisasi dahulu dalam larutan fungisida, misalnya Benlate (0.5 g/l) selama satu-dua menit.

Penanaman dilakukan dengan menempatkan bibit di tengah lubang dan diusahakan agar akar-akarnya menyebar ke semua arah serta tidak ada yang patah atau tertekuk.

Setelah penanaman selesai saluran irigasi yang berupa sprinkler atau drip dapat dipasang dan bibit yang baru ditanam ini disiram sampai cukup basah. 

Pemeliharaan Mawar

Pembentukan Tanaman Muda. Pembentukan tanaman mawar dilakukan dengan pemotongan/ pinching

Hal ini dimaksudkan untuk memelihara tanaman agar tetap muda, sehingga selalu menghasilkan tunas-tunas baru yang produktif berbunga. 

Dari tunas-tunas baru yang muncul lima minggu setelah tanam akan muncul bakal bunga yang kecil dan harus dipotong (di’pinching’).

Soft pinch dilakukan pada tunas yang masih muda, bertujuan untuk memaksimumkan pertumbuhan vegetatif. Bakal batang baru dengan warna kemerah-merahan akan tumbuh keluar dari cabang bibit atau dari cabang tunas pertama.

Tunas ini dibiarkan tumbuh panjang sampai dewasa dan setelah bakal bunganya berwarna maka harus segera dibuang (pinching yang dilakukan pada tunas yang sudah tua ini dikenal dengan istilah hard pinch).

Perundukan  tanaman (bending) dilakukan apabila cabang bibit sudah tua. Tempat pelekukan tunas/batang yang harus dibending sekitar 5-10 cm dari pangkal batang.

Untuk membantu perundukan agar tunas tidak kembali tegak maka tunas tersebut dapat dijepit dengan sepotong belahan bambu yang ditancapkan ke tanah.

Dari tunas yang dibending ini kadang-kadang tumbuh tunas kecil baru dan bila dari tunas kecil ini keluar bunga maka bunga ini harus dibuang dan daun dipotong sebanyak dua daun sejati (lima daun) agar tanaman mempunyai banyak daun.

Tunas baru yang merupakan tunas produksi yang akan muncul setelah beberapa minggu melakukan perundukan.

Pada waktu panen, tunas ini dipotong dengan menyisakan 3-4t daun sejati. Dari tunas yang telah dipanen setelah sekitar 10 hari pada umumnya akan muncul dua-tiga tunas baru dan akan berbunga setelah sekitar 6-7 minggu.

Dari tunas produksi ini selanjutnya dipanen dengan menyisakan dua daun sejati. 

Pemangkasan. Tujuan pemangkasan untuk memelihara bentuk tanaman agar memperoleh batang yang kokoh, mendorong pembungaan, peremajaan tanaman, menghasilkan tunas-tunas baru yang produktivitasnya tinggi, dan menjaga tanaman agar tetap sehat dan berumur panjang.

Pemangkasan yang dilakukan adalah pemangkasan ringan (30%) dengan memangkas sedikit pucuk-pucuk dari semak mawar, sehingga menghasilkan kuntum bunga banyak tapi kecil-kecil.

Pemangkasan sedang (50%) dilakukan dengan memangkas cabang-cabang atau pucuk, tetapi tidak terlalu panjang.

Biasanya dilakukan pada jenis-jenis Floribunda dan Polyantha. Sedangkan pemangkasan berat dilakukan pada batang yang sudah tua dan tanaman terkena penyakit yang sudah parah yang dilakukan dengan memangkas seluruh cabang sampai ketinggian 60 cm atau meninggalkan dua-tiga mata tiap-tiap batang.

Pemangkasan untuk pembentukan tanaman dapat dilakukan pula dengan mengatur cara pemotongan saat panen. “Pemangkasan biasa” dilakukan dengan menyisakan satu-dua daun lima (yaitu daun yang mempunyai lima helai daun individu) dari percabangan, dikenal dengan istilah normal cut. “Pemangkasan dalam” dilakukan dengan memotong batang dibawah percabangan dikenal dengan istilah under cut.

Cara panen ini dilakukan pada tahun kedua dengan tujuan agar percabangan tanaman tumbuh rendah kembali. “Pemangkasan sendi” dilakukan dengan memotong tangkai bunga tepat di atas percabangan yang akan dipanen, dikenal dengan istilah knuckle cut.

Cara ini dilakukan bila budidaya mawar sudah memasuki tahun ketiga agar tanaman tinggi kembali.

Waktu pemangkasan yang paling baik adalah beberapa saat setelah musim hujan berakhir, oleh karena saat itu umumnya tanaman dalam keadaan subur dengan pembentukan cabang dan ranting tidak teratur.

Pemangkasan dilakukan sekali dalam setahun. 

Pemupukan. Pemberian pupuk untuk tanaman mawar tergantung dari hasil analisis tanah yang akan ditanam, sehingga setiap kebun/ growers mempunyai aturan pemupukan yang berbeda-beda.

Menurut penelitian BALITHI (Balai Penelitian Tanaman Hias) Cipanas, tanaman mawar perlu dipupuk NPK sebanyak 5 gram per tanaman pada umur satu-dua minggu setelah tanam.

Pemupukan selanjutnya dapat diberikan satu bulan sekali tergantung pertumbuhan tanaman.

Pupuk NPK yang dianjurkan per hektar dalam satu tahun adalah 1350 kg urea, 2100 kg TSP dan 800 kg KCl.

Pupuk tersebut disebar dalam larikan (parit) kecil yang dibuat di antara tanaman, kemudian ditutupi tanah kembali dan segera disiram air hingga cukup basah. 

Pengendalian hama dan penyakit.  Hama yang banyak terdapat pada tanaman mawar  antara lain adalah :

Tungau (Tetranicus urticae). Gejala dan serangan hama ini ialah timbulnya bintik-bintik nekrosa pada daun dalam jumlah yang banyak.

Ada semacam jaring laba-laba yang halus terutama pada bagian bawah daun bila serangan sudah parah. Hama ini akan mudah timbul bila temperatur di dalam rumah naungan tanaman tinggi, dengan kelembaban udara yang rendah.

Kutu daun. Kutu daun (‘Aphids’) banyak menyerang tanaman bila kondisi panas dan kering.

Hama ini akan menghisap cairan tanaman pada ujung daun dan kuncup tanaman muda serta kuntum bunga yang masih muda, yang akan mengakibatkan ujung-ujung tanaman menjadi ‘salah bentuk’ ketika dewasa. Kutu ini sering meninggalkan sekresi yang mengundang embun jelaga.

Thrips. Hama ini menyukai kondisi rumah naungan tanaman yang panas dan kering seperti pada tungau.

Hama ini akan menyerap cairan tanaman terutama pada mahkota bunga, dan sulit dikendalikan karena bersembunyi didalam kuncup bunga pada siang hari.

Kumbang. Hama kumbang menyerang tanaman mawar dengan cara memakan daun, tangkai, serta kuntum bunga sehingga menimbulkan lubang-lubang pada bagian bunga yang dimakan.

Pada kondisi lingkungan yang kurang baik, yaitu pada kelembaban tinggi, sirkulasi udara yang kurang, serta banyak kabut, banyak penyakit yang mungkin muncul pada tanaman mawar. Berikut adalah beberapa penyakit :

Embun tepung (‘Powdery mildew’). Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Spaeroteca pannosa  yang menyerang daun, batang, serta bunga tanaman mawar,  tampak seperti ada tepung yang berwarna putih pada bagian tanaman. Penyakit ini timbul bila pada malam hari temperatur siang turun sampai 150C atau lebih rendah dengan kelembaban yang tinggi 90%-99%, sedangkan pada siang hari temperatur tinggi dengan kelembaban yang rendah.

Black spot.  Tumbuhnya bercak-bercak hitam terutama pada daun mawar, diikuti dengan menguningnya daun dan kemudian gugurnya daun merupakan akibat serangan ‘black spot’ yang disebabkan oleh cendawan Diplocarpon rosae  dan Mansanina rosae.

Busuk bunga. Penyebab penyakit busuk bunga adalah cendawan Botrytis cinerea. Kuntum bunga yang akan dan telah mekar tampak membusuk dan berwarna coklat merupakan gejala serangan penyakit ini. 

Panen dan Pasca Panen Mawar.

Tanaman mawar dapat dipanen setelah 4-5 bulan tergantung dari varietas dan tingkat pertumbuhannya.

Tanaman ini bila dipelihara secara benar akan dapat tumbuh dan diambil hasilnya sampai umur 6 tahun.

Bunga mawar dapat dipanen bila seluruh kelopak bunga (sepal) telah membuka dan satu atau dua mahkota (petal) telah membuka.

Pemanenan awal ini dilakukan apabila bunga mawar akan disimpan untuk waktu yang cukup lama, tetapi mekarnya bunga akan kurang sempurna, sedangkan panen pada tingkat yang lebih mekar, vase life yang diperoleh lebih pendek.

Panen mawar dapat dilakukan pada pagi dan sore hari tergantung suhu udara dan tingkat kematangan bunga panen, dilakukan dengan cara under cut, knuckle cut dan normal  cut dengan menyisakan satu atau dua daun sejati.

Tanaman yang telah dipanen akan bertunas lagi dan bunganya dapat dipanen kembali setelah 40 sampai 50 hari.

Dari 1 m2 tanaman rata-rata dapat dipanen 120-160 tangkai per tahun.

Bunga yang telah dipanen dikumpulkan, lalu pangkal tangkainya direndam dalam ember yang berisi air yang mengandung larutan silver thio sulfat dan segera dimasukkan ke dalam ‘cold storage’ sebelum disortir.

Bunga disortir dan dipisahkan menurut varietas dan panjang tangkainya.

Grading kualitas mawar umumnya dibedakan berdasarkan panjang tangkai dengan beberapa kriteria menurut Standar Nasional Indonesia (SNI).

Bunga-bunga yang telah digrading, daun serta durinya dibuang sekitar 20 cm dari pangkal tangkai kemudian diikat dan dibungkus masing-masing 10-20 tangkai.

Bunga yang telah dibungkus ini pangkal tangkainya kembali direndam ke dalam bak yang berisi air kemudian dikirim ke tempat penjualan atau disimpan kembali  dalam ‘cold storage’.

Apabila bunga mawar akan dikirimkan ke luar kota, bunga mawar dapat dikirim dalam keadaan kering, yaitu dimasukkan dalam box karton.

Bunga-bunga yang dikirim dalam box karton, setibanya ditempat tujuan harus segera direndam dalam air yang bersih, tetapi sebelumnya batangnya dipotong sekitar 5 cm dari bagian bawah pangkal batang.

Teknik Budidaya Daun Asparagus Bintang 

Persiapan Media. Asparagus memerlukan tanah yang cukup gembur, sehingga tanah untuk pertanaman asparagus harus dicangkul dengan baik, sedalam 30-40 cm.

Asparagus bintang tumbuh optimum pada media yang porous dengan pH 5.5-6.6. Bedengan dibuat selebar 1 meter dan panjang sesuai lahan yang ada.

Jumlah populasi ditentukan dengan melihat bentuk pertumbuhan daun agar tidak saling menaungi dan juga kecepatan perkembangan tunas agar tidak terjadi persaingan penyerapan air dan hara. 

Lubang tanam dibuat sesuai dengan populasi tanaman, pada setiap lubang tanam diberi pupuk dasar, yaitu 0.5 kg pupuk kandang, 15 g SP 36, 5 g ZA dan 10 g dolomite, sedangkan pupuk K akan diberikan sebagai pupuk susulan.

Asparagus tidak tahan terhadap pupuk yang mengandung chlor, oleh karena itu sebaiknya tidak menggunakan KCl. 

Bibit dan Persemaian Asparagus

Bibit tanaman asparagus dapat diperoleh dari hasil perbanyakan dengan biji, rimpang dan stek. Perbanyakan dengan biji cukup mudah dan cepat menghasilkan, serta tidak memerlukan pemeliharaan yang rumit.

Perbanyakan dengan cara mengambil rimpang untuk dibelah juga bisa dilakukan, akan tetapi akan sedikit mengganggu tanaman utamanya.

Perbanyakan dengan stek batang memerlukan cara tersendiri dan lebih rumit serta memerlukan persiapan yang lebih lama.

Untuk tujuan perbanyakan tanaman dengan biji, maka perlu ditanam tanaman yang dikhususkan untuk penghasil biji.

Biji yang dihasilkan dalam satu rumpun tanaman bisa mencapai ratusan bahkan ribuan, sehingga perbanyakan dengan biji bisa lebih mudah dan cepat.

Persemaian biji dilakukan pada media yang cukup mengandung pupuk kandang.

Pupuk kandang yang digunakan sebaiknya pupuk kandang dari sapi atau kambing yang sudah matang dan kering, sekitar 3 kg/m3 media semai.

Media semai yang umum digunakan adalah campuran tanah steril : kompos =  1:1. Media persemaian  dibuat bedengan, dengan ukuran lebar 1m dan panjang sesuai kebutuhan.

Untuk menjaga kelembaban media semai perlu dibuat sungkup plastik setingi 0.5 m.

Biji asparagus cukup kecil. Untuk lahan semai seluas 1 m2 bisa menampung 2500 biji (jarak semai sekitar 2 cm x 2 cm), yaitu dengan cara menabur biji di atas media semai, kemudian disiram dan sungkup ditutup rapat agar terjaga kelembabannya. 

Dalam waktu 1 bulan, biji akan berkecambah.

Bibit yang sudah mengeluarkan daun semu dengan ketinggian 10 cm harus dipindahkan ke pot-pot kecil  berdiameter 5 cm.

Pot-pot kecil tersebut ditempatkan di dalam naungan yang diberi paranet hitam 70 %.

Kemudian bibit  dalam pot diberi tambahan hara berupa larutan pupuk NPK 24:8:8 dengan konsentrasi 5 g/l, dosis 50 cc/pot, dengan frekuensi pemberian satu minggu sekali. Setelah 2-3 bulan tanaman sudah membentuk tunas-tunas baru sehingga membentuk rumpun setinggi 15 cm dan bibit siap untuk dipindahkan ke lapangan. 

Kualitas tanaman yang bagus dapat diperoleh apabila asparagus ditanam di dalam bangunan tanam dengan naungan 25%. 

Pemeliharaan Asparagus Bintang

Penyiraman. Tanaman asparagus relatif tahan terhadap kekeringan, karena akarnya cukup dalam (bisa mencapai lebih dari 1 meter). Akan tetapi penyiraman tetap perlu dilakukan apabila kondisi tanah terlihat sudah kering. Harus diperhatikan bahwa tanaman asparagus tidak tahan terhadap genangan air, sehingga perlu dibuat saluran drainase yang baik. Penyiraman bisa menggunakan springkler, disemprot dengan pompa, menggunakan emrat dan lain-lain.

Peremajaan tanah. Asparagus adalah tanaman tahunan. Kondisi tanah setelah berumur lebih dari satu tahun perlu mendapat perhatian. Apabila tanah terlihat  sudah keras dan kandungan bahan organiknya kurang, perlu dilakukan peremajaan media dengan menambahkan humus atau pupuk kandang. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan menggemburkan tanah di sekitar pangkal batang kemudian menambahkan humus atau pupuk kandang sebanyak 0,5-1 kg per rumpun, kemudian diaduk rata.

Pemupukan. Pemupukan tanaman asparagus dilakukan untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru. Pupuk utama yang diberikan adalah pupuk N. Pupuk yang digunakan sebaiknya pupuk majemuk dengan kadar N lebih tinggi seperti NPK (24:8:8). Pemupukan dilakukan sebulan sekali dengan dosis 2-5 g per tanaman. Dosis pupuk bisa ditingkatkan sesuai dengan besarnya tanaman dan banyaknya anakan dalam satu rumpun. Pemupukan bisa diberikan dalam bentuk cair kemudian disiramkan ke tanah atau dibuat larikan di sekeliling pangkal tanaman.

Pengendalian hama dan penyakit. Tanaman asparagus relatif sedikit mendapat serangan hama penyakit, akan tetapi ada beberapa hama yang kadang terlihat pada tanaman asparagus bintang seperti aphids, ulat grayak, mites, thrips, dan kutu putih (‘white fly’). 

Panen dan pasca panen Asparagus

Pemanenan daun asparagus dapat dilakukan kapan saja diperlukan dengan cara memotong dahannya. Daun asparagus yang dipotong sebaiknya memiliki beberapa kriteria seperti :

  1. Daun tampak hijau tua
  2. Pada daun tidak terdapat bunga dan buah, bebas dari hama dan penyakit
  3. Batang lurus, panjang batang lebih dari setengah panjang bagian berdaun serta memenuhi kriteria kelas tanaman, kuat dan segar.

Hasil panen asparagus bintang dibagi dalam tiga kelas tanaman yang terdiri atas :

S (small)         : panjang bagian berdaun 40-50 cm

M (medium) : panjang bagian berdaun 50-60 cm

L (large)         : panjang bagian berdaun lebih dari 60 cm.

Untuk pengiriman asparagus, daun bisa dikemas dengan cara mengikat setiap 5-10 tangkai batang sesuai dengan kelasnya.

Ikatan tanaman disimpan tegak dalam ember berisi air. Tinggi air dalam ember  cukup 3 cm. 

Perendaman tangkai dilakukan untuk mempertahankan kesegaran tanaman. Pada saat dikirim, tanaman dikemas dengan dibungkus kertas (koran bekas).

Pembungkusan kertas bertujuan untuk melindungi tanaman dari kerusakan sekaligus untuk memudahkan dalam membawa tanaman karena asparagus bintang berduri tajam.

Perancangan Tata Letak (Lay out) dan Alur Produksi 

Perancangan Tata Letak (Lay out) unit usaha tani bunga potong (kebun) adalah susunan penempatan sarana produksi tanaman, tanaman dan produknya di kebun dan unit pengolahan produknya (pasca panen).

Penataletakan tersebut merupakan salah satu fase dalam perancangan sistem produksi tanaman.

Tata letak unit usaha tani yang baik diartikan sebagai penyusunan atau penempatan yang teratur dari semua sarana produksi tanaman, tanaman (juga ternak dalam sistem terpadu), dan karyawan dikebun.

Sarana produksi tanaman mencakup bahan-bahan dan alat-alat/mesin yang digunakan dalam proses produksi tanaman, termasuk tempat penerimaan/penyimpanan bahan dan pengiriman/penyimpanan produk.

Tujuan penataletakan adalah mencapai  arus proses produksi tanaman yang efektif dan efisien dengan adanya arus bahan dan hasil serta pergerakan alat/mesin dan karyawan yang lancar di kebun/unit pengolahan (pasca panen).

Terdapat dua pola penataletakan unit usaha berbentuk pabrik yakni penetaletakan atas dasar proses (disebut process lay out) dan penataletakan atas dasar arus (disebut flow/line lay out).

Di dalam praktek usahatani yang hanya berupa kebun (agricultur), penataletakan berdasarkan proses merupakan pola peletakan yang umum.

Sehingga Desain kebun untuk bunga dan tanaman hias dapat diidentikan dengan desain kebun buah-buahan yang menurut Pusat Kajian Buah-buahan Tropika IPB (1998) pada prinsipnya terdiri atas zona-zona sebagai berikut.

  1. Zona produksi lapang
  2. Zona penanganan pasca panen
  3. Zona pelayanan
  4. Zona perumahan
  5. Zona umum atau zona penerimaan 

Zona Produksi Lapang

Zona produksi merupakan inti kebun dan mewadahi aktivitas budidaya tanaman.  Zona ini terdiri atas pertanaman di lapang dan areal pembibitan.

Zona ini seharusnya berada dalam suatu hamparan yang tidak terputus-putus, terbebas dari penggunaan lain seperti bangunan perumahan.     

Zona ini merupakan zona yang terluas dibandingkan keempat zona lainnya.   Luasnya, tidak termasuk sekitar 4-5 % untuk jalan kebun dan saluran drainase, mencapai 90-95 % total area. 

Mengingat hal tersebut maka zona produksi ini dapat diletakkan relatif jauh terhadap akses utama kebun. 

Namun demikian dalam zona produksi haruslah terdapat jalan untuk pelayanan kebun atau service path yang secara hirarkhis dapat menjangkau hingga ke pelosok kebun, bahkan jika memungkinkan dapat menjangkau satuan-satuan baris ganda tanaman.   

Zona Penanganan Pasca Panen

Zona penanganan pasca panen merupakan area kegiatan penanganan pasca panen dan pengolahan hasil.

Proses penanganan pasca panen dan pengolahan hasil dilakukan oleh atau dengan suatu manajemen agroindustri.  Dalam zona ini terdapat bangunan atau fasilitas sebagai berikut.

  1. Emplasemen (area penampungan hasil).
  2. Bangunan pabrik untuk pengolahan hasil dan atau penanganan pascapanen (packing house).
  3. Gudang bahan mentah (hasil panen).
  4. Gudang bahan pembantu (bahan kimia, karton untuk packing, tali).
  5. Gudang hasil/produk akhir (gudang penimbunan sementara).

Hasil dari kebun diterima di emplasemen, sebagian disimpan sementara  di gudang bahan mentah, yang lain ditangani (dibersihkan, dipilah dan diklasifikasi, dikemas) di packing house. 

Hasil yang telah dikemas disimpan sementara di gudang produk akhir. 

Zona Pelayanan

Zona pelayanan (service area)  merupakan tempat untuk fasilitas-fasilitas di bawah ini.

  1. Bengkel/workshop.
  2. Gudang peralatan kebun, peralatan umum dan gudang perkakas.
  3. Gudang pupuk, pestisida dan kapur pertanian.
  4. Garasi traktor, truk pengangkut, mobil box dan sejenisnya. 

Zona Perumahan      

Pada zona perumahan ini terdapat fasilitas antara lain fasilitas olah raga, masjid, unit penjernihan air (untuk air minum), ruang pertemuan dan sebagainya.

Zona perumahan perlu berada jauh dari zona penanganan pasca panen untuk menghindari dampak kegiatan pasca panen yaitu polusi udara, air, suara, bau dan sebagainya.

Zona perumahan perlu dirancang sedemikian, sehingga penataannya menginduksi kemungkinan kontak sosial yang besar antar tetangga. 

Pola (konfigurasi) cul de sac (gang buntu) dan loop pendek dapat merupakan alternatif yang direkomendasikan. 

Pada pola estate, rancangan lingkungan sedemikian dan ditambah dengan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang memadai dapat menambah daya tarik calon investor. 

Zona Umum atau Penerimaan

Zona umum merupakan etalase perkebunan. Zona ini menampung aktivitas menerima tamu, kunjungan, melakukan promosi dan sebagainya. Dalam zona ini masyarakat dan klien pihak perkebunan dapat meminta layanan informasi, mengadakan transaksi jual beli dan sebagainya.  Oleh karena itu zona ini harus dekat dengan akses keluar-masuk misalnya dengan jalan raya dan sebagainya.

Pola Produksi

Tahapan produksi untuk usaha tani krisan, mawar dan asparagus adalah identik. Dimulai dengan persiapan lahan, pembibitan penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen serta pemasaran. 

Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam mengelola usaha tani krisan (potong dan pot), mawar dan asparagus bintang relatif sama yaitu harus bergantung pada kondisi topografi, iklim, luas areal dan desain kebun.

Prasarana dalam hal ini adalah ketersediaan air, jaringan listrik, jaringan jalan, jaringan komunikasi dan kondisi iklim sedangkan sarana diklasifikasikan menjadi sarana pra produksi, produksi, pasca panen. Berikut adalah masing-masing bagian :

Instalasi irigasi

Ketersediaan air penting dirasakan manfaatnya dalam metabolisme tanaman. Terkadang banyaknya deterjen dan pestisida menyebabkan beberapa tanaman bunga tidak bisa menarik ion fosfat dari medianya sehingga pertumbuhan generatif tanaman terganggu. Instalasi irigasi yang diperlukan untuk pembuatan sistem irigasi adalah bak pengumpulan air, pompa pendorong, pressure regulator yang berfungsi sebagai pengontrol tekanan yang dihasilkan oleh pompa pendorong dan jaringan penyiraman.

Penyiraman dapat berupa perendaman dan irigasi tetes. Hendaknya diusahakan supaya pemupukan bersamaan pelaksanaannya dengan pengairan yang dikenal dengan fertigasi.

 

Instalasi listrik

Beberapa tanaman hias dan bunga potong seperti krisan, gysophila dan poinsettia adalah tanaman yang berhari pendek, artinya tanaman akan berbunga apabila menerima rangsangan hari pendek.

Untuk pertumbuhan vegetatif yang baik dibutuhkan cahaya lebih kurang 14 jam lamanya.

Pemasangan jaringan atau instalasi listrik di dalam rumah naungan disesuaikan  dengan kebutuhan jumlah cahaya yang diperlukan oleh tanaman.

Sebagai contoh, cahaya minimal untuk tanaman krisan tidak boleh kurang dari 70 lux (jika menggunakan lampu pijar/bohlam) atau  40 lux jika menggunakan lampu neon.

Jaringan Jalan
  • Jaringan jalan dibuat untuk mempermudah mobilisasi dalam pemeliharaan, dan pemanenan tanaman, sehingga nantinya berpengaruh dalam jumlah biaya yang dikeluarkan. Tidak tersedianya jalan yang memadai akan menghambat pembangunan, pemeliharaan dan pengangkutan hasil-hasilnya.

Jaringan komunikasi

  • Saluran telepon dan faksimile seringkali belum terjangkau daerah pedalaman. Namun, sekarang ini sudah tersedia alat komunikasi tanpa kabel yang sedikit banyak bisa mengatasi kesulitan komunikasi.

Pada subsistem pra produksi dan produksi diperlukan sarana-sarana sebagai berikut :

Sarana pra produksi

Sarana praproduksi ini dapat berupa ketersediaan ruangan pengakaran, dan ruangan pembibitan yang tujuannya untuk mengakarkan atau aklimatisasi bibit hasil impor atau untuk perbaikan kualitas, juga untuk perbanyakan tanaman induk. Dalam ruang pembibitan dapat tersedia instalasi listrik untuk perlakuan panjang hari, instalasi penyiraman dan pemupukan.

Sarana produksi dan pasca panen

Bangunan penunjang produksi dapat berupa bangunan gudang yang digunakan untuk menyimpan pupuk, pestisida, gunting, sarung tangan dan ember.

Bangunan rumah plastik yang berfungsi mengurangi sengatan matahari secara langsung pada tanaman dan curahan air hujan, juga dilengkapi dengan instalasi penerangan untuk penambahan panjang hari..

Tipe bangunan yang akan digunakan ikut menentukan kualitas, kuantitas dan kontinuitas produksi komoditi yang diusahakan, sehingga tipe bentuk dan ukuran bangunan tanam harus mendukung kondisi agroklimat tanaman yang ada didalamnya, selain harus murah dan ekonomis.  

Sarana lainnya adalah sarana tidak tetap seperti pupuk, pestisida dan media tanam serta ZPT.

Ruang pasca panen dilengkapi dengan ruang berpendingin (cool storage), meja sortasi, alat perontok daun, alat pemotong batang dan alat pemotong plastik. Pengangkutan hasil panen menggunakan mobil berpendingin. 

Struktur Organisasi dan Manajemen

Dalam melaksanakan usaha/proyek yang telah layak (feasible) untuk dikembangkan, peranan manajemen tidak dapat diabaikan untuk keberhasilan dari usaha tersebut.

Bagaimanapun baiknya prospek dari gagasan usaha/proyek yang dilaksanakan tanpa didukung dengan manajemen yang baik, tidak mustahil akan mengalami kegagalan.

Menurut Mugnisyah (2000) rencana operasional perusahaan harus mencerminkan rencana strategis menunjukkan pentingnya pengorganisasian karyawan dalam perusahaan.

Dalam konteks ini organisasi didefinisikan sebagai suatu koordinasi aktivitas yang rasional dari kelompok orang dengan maksud untuk mencapai tujuan yang sama. Definisi ini memiliki dua hal atau bagian yang penting. Yaitu :

  • Adanya koordinasi atas aktivitas dari sekelompok orang.
  • Adanya tujuan organisasi yang pada kasus perusahaan untuk memaksimumkan keuntungan, menyediakan kondisi bekerja yang baik dan memenuhi pertanggungjawaban kepada masyarakat.

Struktur Organisasi industri bunga dan tanaman hias adalah sederhana, secara garis besar struktur organisasi dapat dilihat pada

Menjalankan manajemen operasional di sebuah usaha bunga dan tanaman hias tidaklah terlalu memerlukan struktur yang rumit. pengawasan hanya terfokus pada tiga kegiatan besar, yaitu produksi, pasca panen dan pengelolaan umum (pengawasan mekanik dan  administrasi).

Pengawasan produksi dipimpin oleh manajer produksi, pengawasan pasca panen dipimpin oleh manajer pasca panen dan untuk umum pengawasan dilakukan oleh seorang manajer umum.

Glossary Artikel Prospek Usaha Perkebunan Bunga

tanaman dalam pot, tanaman mawar, tanaman pot, tanaman bunga mawar, budidaya mawar, budidaya bunga mawar, tanaman bunga dalam pot, cara menanam mawar, cara merawat bunga, pot tanaman hias, tanaman hias dalam pot, cara budidaya anggrek, pupuk anggrek, bunga dalam pot, bunga pot, cara budidaya tanaman hias, budidaya bunga, tanaman bunga hias, bibit bunga hias, pohon bunga, bibit bunga anggrek, cara menanam tanaman hias, tanaman bunga anggrek, pohon mawar, budidaya tanaman anggrek, budidaya bunga anggrek

cara budidaya bunga mawar, bunga anggrek plastik, merawat bunga mawar, cara merawat tanaman anggrek, cara menanam bunga krisan, tanaman bunga gantung, pohon bunga mawar, cara menanam bunga di pot, tanaman hias pot, jenis jenis bunga hias, menanam bunga mawar, tanaman hias di pot, bunga di pot, menanam anggrek, cara menanam tanaman, cara memelihara anggrek, pupuk anggrek agar cepat berbunga, tanaman bunga matahari, merawat tanaman hias, pot hias, pot anggrek, cara budidaya mawar, cara menanam anggrek di pot, cara menanam bunga krokot, menanam bunga matahari, pot bunga hias, cara budidaya bunga anggrek, budidaya anggrek bulan, tanaman berbunga

cara menanam bunga lavender, merawat bunga anggrek, cara tanam bunga mawar, media anggrek, aneka tanaman hias, pupuk bunga anggrek, cara tanam anggrek, cara membudidayakan tanaman hias, merawat anggrek, cara menanam bunga aster, merawat bunga, cara menanam bunga teratai, merawat mawar, cara budidaya tanaman anggrek, cara merawat anggrek bulan, cara menyetek bunga, budidaya bunga bougenville, cara menanam bunga dalam pot, macam tanaman hias, bunga mawar dalam pot, berkebun bunga, jenis pupuk anggrek, cara menanam bunga dahlia, cara menanam bunga bugenvil, cara menanam bunga anggrek di pot, macam bunga hias,

aneka bunga hias, cara menanam bunga krisan potong, cara membudidayakan bunga mawar, cara mencangkok tanaman bunga, cara menanam anggrek dengan sabut kelapa, bunga mawar, cara menanam bunga lily, cara merawat bunga anggrek agar cepat berbunga, anggrek hidroponik, cara menanam anggrek bulan, pupuk untuk bunga, video cara menanam bunga anggrek, aneka tanaman bunga, cara merawat anggrek bulan agar rajin berbunga, nama tanaman hias dan gambarnya, taman hias, mawar tanah, bonsai bunga kertas, budidaya tanaman jahe, cara merawat tanaman bunga, jenis bunga taman, cara merawat tanaman hias, nama bunga hias

macam macam bunga hias dan namanya, nama nama bunga hias, macam2 bunga hias, bunga taman, cara budidaya anggrek bulan, cara merawat anggrek dendrobium, media tanam anggrek bulan, bunga anggrek tanah, macam macam bunga dan namanya, bunga hiasan rumah, tanaman adenium, macam2 tanaman hias, tanaman hias spesies perwakilan, macam macam tanaman hias bunga, merawat anggrek bulan, nama bunga hias dan gambarnya, jenis tanaman bunga, cara menanam bunga kertas, tumbuhan bunga, gambar macam macam bunga, cara menyetek bunga kertas, bunga kamboja merah, bunga bunga indah, tanaman hias untuk taman, cara menanam anggrek hidroponik, gambar bunga kertas, cara pembibitan anggrek bulan, bunga taman hias, cara menanam bunga kertas agar cepat tumbuh, cara merawat anggrek agar cepat berbunga, bunga tanaman hias, 10 macam tanaman hias, cara merawat mawar, gambar bunga hias, contoh tanaman hias bunga, tanaman hias tahan panas dan hujan, cara menanam bunga wijaya kusuma, tanaman hias berbunga

jenis jenis tanaman hias bunga, bunga untuk taman, cara stek bunga kertas, bunga yg indah, cara menanam bunga sedap malam, gambar bunga aster, bunga hiasan dalam rumah, kembang mawar, bunga kertas bonsai, cara merawat bunga mawar agar cepat berbunga, bunga bugenfil, cara menanam bunga puring, cara memperbanyak anggrek bulan, cara menanam bunga mawar dengan batang, bunga aster putih, gambar tanaman bunga, macam macam tanaman bunga, macam macam gambar bunga, cara menanam pohon, gambar hiasan bunga, bunga tahan panas, jenis bunga kertas, cara merawat tanaman mawar, bunga di taman, agar bunga mawar berbunga besar

perawatan bunga mawar, nama pupuk untuk bunga kertas, tanaman bougenville, cara merawat bunga kertas, cara menyambung bunga kertas, tanaman yang mudah ditanam dan cepat tumbuh, gambar bunga yang mudah, pupuk agar tanaman cepat berbunga, tanaman hias pot kecil, bunga bagus, cara membuat tanaman hias, kertas bunga, cara menanam bunga kamboja jepang, teknik budidaya tanaman hias, kembang hias, foto bunga bunga, tanaman bunga kertas, cara merawat bunga kertas agar tetap berbunga, ragam hias bunga, gambar bunga dalam pot, bunga kembang kertas

contoh tumbuhan berbunga, tanaman indah, cara menanam bunga tulip, cara menanam bunga kenanga, cara menanam bunga rosella, cara agar bunga kertas berbunga lebat, tanaman pot kecil, cara merawat bunga bougenville, bunga pot kecil, tanaman kecil, bunga bunga mawar, cara perawatan bunga mawar, cara stek bunga, gambar bunga di pot, bunga yang mudah ditanam, cara menanam tumbuhan, cara menanam bunga kembang sepatu, nama bunga bunga, cara merawat bunga mawar dalam pot, cara menanam tanaman di pot, bunga yang bagus, bunga cantik dalam pot