Last Updated:
Prospek / Peluang Usaha Bengkel Mobil
PustakaDunia.com

Prospek / Peluang Usaha Bengkel Mobil

Anonymous
Anonymous Jasa

Prospek / Peluang Usaha Bengkel Mobil - Pertumbuhan bengkel kendaraan bermotor (mobil), sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor itu sendiri. Setelah mengalami penurunan penjualan selama masa-masa awal krisis ekonomi tahun 1997-1998, pertumbuhan penjualan kendaraan roda empat (mobil) dari semua merk mobil untuk semua kategori selama tahun 1998-2005 secara umum memperlihatkan tren yang terus mengalami peningkatan meskipun kadang mengalami fluktuasi.

Sejak dilakukannya deregulasi tahun 1999, penjualan domestik mengalami peningkatan pesat ditandai dengan meningkatnya penjualan tahun 1999 yang mencapai 93.813 unit menjadi 300.965 unit pada tahun 2000. Bermunculannya importir-importir umum yang memasukkan kendaraan bermotor secara CBU setelah pemerintah mengizinkan impor mobil secara utuh ikut memacu volume penjualan pada tahun 2000, selain itu ditambah dengan ikut sertanya para ATPM untuk memasukan secara CBU produk otomotif mereka membuat saat itu pasar otomotif di Indonesia marak dengan produk-produk asing yang selama ini tidak pernah terlihat di pasar Indonesia.

Kenaikan yang mencapai 220,8% pada tahun 2000 itu merosot pada tahun 2001 karena terjadi penurunan penjualan hingga mencapai -0,5%. Tetapi semenjak 2001 hingga 2005 terus mengalami peningkatan bahkan pada tahun 2002 mencapai 317.748 unit meningkat menjadi 354.629 unit pada tahun 2003 dan kemudian mencapai 483.148 pada tahun 2004, penjualan mencapai puncaknya tahun 2005 yang mencapai 533.917 unit.

Dan pada tahun 2006 terjadi penurunan pada penjualan domestik yang drastis menjadi hanya 318.904 unit. Anjloknya penjualan domestik tahun 2006 salah satunya disebabkan kenaikan harga BBM yang terjadi pada Oktober 2005 mengakibatkan daya beli masyarakat menjadi jauh berkurang sehingga keputusan membeli kendaraan bermotor ditunda bahkan dibatalkan. 

Penjualan kendaraan bermotor pada bulan Januari hingga Maret 2007 menurut data resmi Gaikindo menunjukkan peningkatan sebesar 6,4% dibanding kuartal pertama pada tahun 2006, yaitu dari 79.411 unit pada tahun 2006 menjadi 84.519 unit pada tahun 2007. Peningkatan terbesar terjadi pada bulan Maret yang mencapai 26% dari 26.823 unit menjadi 33.905 unit. 

Penjualan kendaraan bermotor yang semakin tinggi tersebut ditambah dengan varian mobil yang ditawarkan semakin bervariasi menimbulkan kebutuhan dan keinginan konsumen dalam hal perawatan dan pemeliharaan (maintenance) kendaraannya agar tetap memiliki Nilai (keamanan, kenyamanan, dan nilai jual) yang cukup baik, sehingga diperlukan suatu program purna  jual (after sales) yang dilakukan oleh penjual resmi (authorized dealer=ATPM) maupun non resmi (non-authorized dealer). Untuk mendukung program tersebut para Dealer kendaraan mendirikan Service Center yang umumnya meliputi usaha jasa servis (bengkel) dan penjualan suku cadang (sparepart).

Program Purna Jual - bengkel resmi tersebut hingga saat ini masih terbatas pada ibukota propinsi atau kotamadya dan sebagian kecil pada kabupaten di tiap wilayah, hal tersebut terjadi dikarenakan untuk pendirian bengkel diperlukan investasi yang cukup besar terutama pada peralatan dan suku cadang. Hal tersebut menjadi peluang dan mendorong munculnya bengkel-bengkel umum dan spesialis (tidak resmi) untuk mengisi celah pasar yang belum terisi oleh bengkel umum dan spesialis (resmi).

Persaingan di antara bengkel umum dan spesialis (resmi dan tidak resmi) pun menjadi semakin kompleks, sehingga semua pemain harus meningkatkan keunggulan bersaing (differensiasi), dan harus bisa mengambil langkah tepat pada kesempatan pertama.

Untuk mendapatkan informasi akan jasa bengkel mobil tersebut maka dibutuhkan suatu pengkajian atau penelaahan lebih lanjut terhadap bengkel mobil (umum dan spesialis).

Konsumen dan Permintaan

Perkembangan pasar sektor usaha bengkel saat ini relatif stabil, kejenuhan pasar relatif tidak terasa, hal ini lebih dikarenakan adanya permintaan sektor usaha bengkel mobil yang meningkat sebesar 10.86% seiring dengan meningkatnya penjualan kendaraan mobil (baru dan bekas).

Ditinjau dari permintaan berdasarkan pertumbuhan pasar terutama dari pertumbuhan penjualan kendaraaan bermotor (mobil) dari tahun 1999 – 2006, total kendaraan terjual sebagaimana terlihat pada tabel berikut:

Tabel 4 . Pasar mobil nasional

(dalam satuan unit)

Tahun

penjualan

1999

93.813

2000

300.965

2001

299.599

2002

317.748

2003

354.629

2004

483.148

2005

533.917

2006

318.904

          Sumber : diolah (GAIKINDO) 

Tipe konsumen usaha jasa bengkel mobil dapat dikelompokkan sebagai berikut;

  1. Konsumen kelas menengah - atas (memiliki daya beli tinggi) dan memiliki tingkat pendidikan menengah-tinggi.
  2. Konsumen kelas menengah – atas namum memiliki tingkat pendidikan menengah – rendah.
  3. Konsumen kelas menengah – bawah (memiliki daya beli sedang) dan tingkat pendidikan menengah – tinggi.
  4. Konsumen kelas menengah - bawah dan tingkat pendidikan  menengah – rendah.
  5. Konsumen kelas bawah – bawah (memiliki daya beli rendah) dan tingkat pendidikan rendah.

Produk atau Jasa Layanan

Produk bengkel mobil terbagi menjadi 3 (tiga) tipe yaitu :

  1. Bengkel tipe A, merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan, perawatan berkala, perbaikan kecil, perbaikan besar, perbaikan chassis dan body.
  2. Bengkel tipe B, merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala, perbaikan kecil dan perbaikan besar atau jenis pekerjaan perawatan berkala, perbaikan kecil serta perbaikan chassis dan body.
  3. Bengkel tipe C, merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala dan perbaikan kecil. 

Lokasi Distribusi dan Fasilitas

Sesuai dengan klasifikasi usahanya, jasa usaha bengkel lebih memperhatikan faktor jarak ke pemasok (suku cadang/tempat tinggal mekanik) dan jarak ke pusat keramaian daripada kuantitatifnya.

Lokasi
  • Strategis berdasarkan perhitungan potensi pasar sasaran, mudah terjangkau pelanggan
  • Domisili tetap, tidak cepat berpindah 

Luas Tanah Dan Bangunan 

  • Harus diperhatikan karakteristik dan kendaraan yang akan diperbaiki sesuai dengan pasar sasaran bengkel
  • Bila kendaraan yang diperbaiki lebih banyak, yang harus dilakukan dalam waktu lama (rawat inap) maka dengan sendirinya arealnya harus lebih luas. Misal: bengkel Body repair, karoseri, Overhoull mesin
  • Luasnya areal akan dapat menggambarkan berapa daya tampung bengkel termaksud atas kendaraan yang dapat diperbaiki pada saat bersamaan dan dengan melihat jumlah kendaraan yang dapat diselesaikan setiap harinya akan dapat dihitung berapa kapasitas bengkel setiap bulannya.
  • Idealnya luas bangunan bengkel maksimal 60% dari Luas Tanah. 

Fasilitas Utama

Areal bengkel yang baik memiliki tiga fasilitas utama, yaitu:

  1. Fasilitas penerima tamu (Customer Oriented)
  • Reception Room
  • Ruang Tunggu Customer
  • Customer Toilet
  • Parkir kendaraan Customer
  • Service Office
  1. Fasilitas Produksi (Production Function)
  • Stall untuk kendaraan yang diperbaiki
  • Tempat perbaikan komponen
  • Gudang peralatan bengkel
  • Gudang Spare part/bahan baku cat
  • Gudang Oli
  • Ruang Oven
  • Car Washing booth
  • Air Compresor
  1. Fasilitas Sosial (Working Comfort)
  • Locker Room
  • Ruang makan/Ruang istirahat/Meeting Room
  • Kamar Mandi/toilet
  • Parkir kendaraan karyawan

Promosi

Dari hasil survey yang dilakukan Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Bandung dapatkan bahwa keberadaan usaha jasa bengkel mobil lebih ditentukan oleh loyalitas konsumen yang merasa puas, maka tidak ada cara yang istimewa dalam mempromosikan usaha ini.

Adapun bila terjadi komplain dari pihak konsumen yang merasa dirugikan oleh adanya promosi yang tidak sejalan dengan realita yang diberikan oleh bengkel, maka pihak bengkel pada umumnya memberikan pelayanan tambahan  tanpa tambahan tarif/harga  untuk memperbaiki kekurangan servis / pelayanan yang diberikan pada konsumen atau dengan memberikan garansi uang kembali . 

Tingkat Persaingan Antar Perusahaan 

Untuk menentukan tingkat persaingan usaha jasa bengkel mobil digunakan 2 (dua) parameter yaitu positioning tingkat harga dan kualitas relatif terhadap pesaing.

Positioning tingkat kualitas relatif terhadap pesaing menurut responden usaha jasa bengkel mobil
Gambar 6. Positioning tingkat kualitas relatif terhadap pesaing menurut responden usaha jasa bengkel mobil

Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa untuk tingkat harga yang relatif sama sebagian besar responden lebih memilih untuk meningkatkan aspek kualitas untuk memenangkan persaingan.

Strategi Pemasaran Usaha Bengkel Mobil 

Untuk mencapai keunggulan posisional, terdapat tiga cara yang digunakan, yaitu : (1) Melalui comparative advantage, apabila perusahaan memiliki keunikan. (2) Melalui competitive advantage, apabila perusahaan   memiliki  layanan yang unggul (superior customer value). (3) Melalui   cooperative   advantage,   apabila    perusahaan    tidak memiliki keunggulan (inferior customer value), sehingga lebih memilih untuk bekerjasama dengan perusahaan lain yang lebih kuat.

Untuk mencapai keunggulan posisional melalui keunggulan kompetitif, maka aspek SDM menjadi sangat berperan. Kualitas SDM bengkel mobil telah ditentukan dengan menggunakan standar yang sama merata di seluruh wilayah hukum Indonesia melalui Kepmenperindag No.551/1999 dimana Penentuan Kebutuhan Tenaga Kerja (SDM)  difokuskan kepada Mekanik sebagai kunci utama dalam peran bengkel mobil.

Prospek / Peluang Usaha Bengkel Mobil

Usaha bengkel mobil masih memiliki peluang yang cukup besar, dikarenakan terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat pertumbuhan penjualan mobil yang masih cukup baik dan minat konsumen untuk melakukan perawatan dan pemeliharaan mobil.

Oleh karena itu sektor usaha jasa bengkel mobil selain dituntut untuk menyediakan pelayanan jasa umum, juga dituntut pelayanan khusus yang tentunya memerlukan keahlian khusus pula (customized).

Selain itu, dengan keran deregulasi otomotif yang dibuka, banyak  importir umum bermunculan dengan memasukkan mobil-mobil CBU (completely built up). Sayangnya para importir ini belum memperhatikan layanan purna jual seperti yang dilakukan para ATPM. Dan karena persaingan bisnis, bengkel-bengkel yang me miliki ATPM tidak mau merawat mobil-mobil yang masuk lewat importir umum. Situasi ini menciptakan peluang munculnya bengkel layanan purna jual untuk kendaraan CBU yang masuk lewat importir umum. 

Daya Tarik Industri 

Hambatan industri sektor usaha jasa bengkel mobil ini terdiri atas hambatan eksternal dan Internal yaitu :

Hambatan Eksternal

  1. Peraturan dan persyaratan mengenai kualifikasi dan kewajiban sertifikasi
  2. Kendala teknologi yang diadopsi karena memerlukan biaya yang cukup mahal (umumnya masih berasal dari luar negeri – import)
  3. Pasokan suku cadang yang terbatas
  4. Tingkat persaingan antar bengkel yang semakin kompleks
  5. Bagi bengkel kelas I – II dan bengkel resmi (authorized) masalah pendapatan dan daya beli masyarakat yang masih rendah menjadi problema tersendiri

Hambatan Internal

  1. Kemampuan SDM yang tersedia kurang memadai.
  2. Teknologi perbengkelan yang harus diadopsi cukup mahal
  3. Kesulitan pemasaran jasa bengkel
  4. Kurangnya informasi teknis yang dimiliki oleh pengelola dan para mekanik (terutam bengkel kecil – menengah )
  5. Pengelolaan AMDAL atau limbah yang masih terbatas.
  6. Produk perbankan yang telah diterapkan pada sektor usaha jasa bengkel.
  7. Ukuran pasar keseluruhan menunjukkan keadaan atau gambaran penawaran dan permintaan yang terdapat pada sektor usaha bengkel mobil.
  8. Pertumbuhan pasar bengkel mobil akan terus bertumbuh dan menjadikan daya tarik tersendiri bagi calon calon pemain lama dan calon pemain baru.
  9. Tingkat keuntungan rata-rata sektor usaha bengkel mobil masih memberikan tingkat keuntungan yang masih menjanjikan bagi pemain bengkel.
  10. Kebutuhan SDM-Mekanik bengkel mobil yang handal sebagai ujung tombak dalam usaha ini.
  11. Intensitas persaingan bengkel mobil masih didasarkan pada kemampuan mekanik, sehingga persaingan lebih mengarah pada keahlian dan pelayanan bengkel mobil tersebut.
  12. Kebutuhan teknologi cukup berpengaruh.
  13. Faktor Inflasi dapat menyebabkan sektor usaha terpengaruh terutama pada pengadaan suku cadang yang berasal dari import.
  14. Sektor usaha bengkel mobil ini memiliki dampak terhadap lingkungan sekitarnya terutama mengenai dampak kebisingan yang dihasilkan, limbah.

Kekuatan Pasar Usaha Bengkel Mobil 

  1. Pangsa Pasar sektor usaha bengkel mobil masih memiliki pasar yang belum terlayani dengan maksimal terutama didaerah daerah.
  2. Mekanik yang ahli dan memberikan pelayanan yang memuaskan akan mendapatkan konsumen yang loyal dan berdampak pada jangka panjang.
  3. Kekuatan industri dari sisi pertumbuhan bengkel memiliki optimistis.
  4. Kekuatan industri ini mutlak ditunjang oleh kualitas pelayanan yang memadai .
  5. Kekuatan sektor usaha bengkel ditunjang kapasitas pelayanan yang dapat dilayani.
  6. Biaya merupakan faktor yang cukup mendukung pada kekuatan industri ini.
  7. Kekuatan suatu bengkel mobil ditunjang oleh keberadaan suku cadang yang tersedia pada bengkel tersebut.
  8. Promosi memiliki kekuatan dalam memberi tahu keberadaan bengkel mobil pada lingkungan

PeluangInvestasi Usaha Bengkel Mobil 

Untuk mendukung keberhasilan strategi “posisi pengamanan” maka diperlukan faktor-faktor pendukung sebagai kunci keberhasilan usaha bengkel mobil. Faktor kunci yang menjadi keberhasilan suatu usaha jasa bengkel mobil terletak  keahlian SDM, khususnya tenaga mekanik yang merupakan ujung tombak dalam berhadapan dengan konsumen yang menentukan apakah suatu usaha bengkel ini akan dipenuhi oleh konsumen atau tidak. Faktor keberhasilan lainnya adalah ketersediaan suku cadang, terutama suku cadang untuk perawatan berkala dan perbaikan kecil yang memiliki tingkat perputaran cukup tinggi.

Selain faktor SDM dan ketersediaan suku cadang, kesesuaian lokasi bengkel mobil menjadi faktor kunci, dimana daerah favorit penyebaran usaha bengkel mobil adalah yang relatif dekat (dalam radius 1 km atau dalam batasan waktu tempuh tidak lebih dari 60 menit) dengan tempat pasokan suku cadang atau pusat keramaian (misalnya jalur lalu lintas utama dan jalur transportasi umum)

Terdapat beberapa alternatif strategi yang telah ditempuh dan telah berhasil ditetapkan di sejumlah bengkel yaitu : 

  1. Strategi Harga dan Pelayanan. Bengkel mobil menerapkan tarif jasa lebih rendah dengan pelayanan yang memuaskan kepada konsumen, (terutama dalam pelayanan yang diberikan oleh mekanik). Disini bengkel lebih memprioritaskan kepada kapasitas mobil yang masuk per unit per hari menjadi lebih banyak.
  2. Strategi Kelengkapan Fasilitas dan Ketersediaan Suku cadang. Dengan menerapkan strategi seperti ini konsumen tidak terlalu sulit untuk mendapatkan suku cadang dan peralatan yang memenuhi sehingga konsumen menjadi lebih tenang dikarenakan pengerjaan menggunakan peralatan/fasiltas yang memadai.
  3. Strategi “memperbaiki” atau kreatifitas suku cadang yang belum terlalu rusak. Hal ini dilakukan oleh bengkel mobil dikarenakan umumnya permintaan konsumen terhadap suku cadang sulit didapatkan atau harga suku cadang yang relatif cukup tinggi.

Investasi Usaha Bengkel Mobil

 

Sebagian besar pengusaha jasa bengkel mobil (55 persen) menginginkan pembiayaan dalam bentuk investasi dengan tingkat margin yang di sepakati antara investor dan pengusaha.

Investasi tersebut disarankan agar diberikan langsung dalam bentuk peralatan (tidak dalam bentuk uang kas) yang sekaligus juga menjadi agunan. Hal ini disarankan untuk menghindari penyalahgunaan investasi yang diberikan.

Sedangkan jangka waktu pengembalian pinjaman yang dianggap tidak terlalu membebani pengusaha jasa bengkel mobil adalah 5 (lima) tahun. 

Selain itu, terdapat juga sebagian kecil responden yang menginginkan investasi dalam bentuk  modal kerja (45 persen) dengan skim yang sama seperti investasi namun diberikan secara langsung dalam bentuk uang kas.

Perusahaan jasa bengkel mobil yang menginginkan kredit modal kerja umumnya adalah perusahaan yang tergolong besar dengan fasilitas dan peralatan bengkel yang relatif lebih lengkap.

Menurut pengalaman, investasi dalam bentuk modal kerja sangat rawan karena diberikan secara langsung dalam bentuk uang kas, sehingga penggunaan uang investasi tersebut belum tentu sesuai dengan tujuan semula. Dengan kata lain, investasi tersebut dapat saja digunakan untuk kepentingan di luar jasa bengkel mobil.