Last Updated:
Prospek dan Pemasaran Bunga Potong
Prospek dan Pemasaran Bunga Potong https://www.pustakadunia.com

Prospek dan Pemasaran Bunga Potong

Prospek dan Pemasaran Bunga Potong - Sebagai negara tropis yang mempunyai dataran rendah dan dataran tinggi, Indonesia dapat menghasilkan hampir semua jenis komoditas florikultura.

Pengusahaan komoditas ini dapat dilakukan dengan pemanenan sepanjang tahun tanpa terganggu musim sehingga kontinuitas dapat terus terpenuhi untuk memenuhi permintaan pasar. 

Perkembangan pasar tanaman hias dan bunga potong domestik yang cukup cepat membawa dampak terhadap perubahan sistem pengelolaan usaha tani dari sistem tradisional menjadi sistem agribisnis yang berorientasi pada kebutuhan konsumen.

Dengan demikian terciptalah segmen pasar yang menggunakan bahan tanam berkualitas tinggi walaupun belum begitu besar, yang ditunjukkan dengan  peningkatan 10% per tahun.

Pengembangan industri florikultura yang berdaya saing tinggi sangat membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya alam yang optimal dengan mempertimbangkan lingkungan nasional dan global, pemberdayaan potensi wilayah, peningkatan efisiensi usaha tani dan pelestarian lingkungan.

Tingkat Kejenuhan Pasar Bunga Potong 

Berdasarkan pola permintaan yang ada selama ini, terbagi dua macam ‘trend’ permintaan pasar terhadap tanaman hias, yaitu

  1. permintaan yang relatif tetap, tidak terlalu berfluktuasi dan
  2. permintaan yang sangat dipengaruhi oleh trend pasar yang berlaku saat itu. 

Permintaan yang relatif tetap umumnya terdapat pada jenis tanaman hias yang dibutuhkan untuk pernikahan, seperti bunga-bunga berwarna kuning dan putih (krisan), atau bunga ‘sakral’ dengan keharuman khas seperti melati dan sedap malam. 

Demikian pula dengan bunga potong atau daun potong yang hampir selalu ada/dibutuhkan pada rangkaian bunga dengan vase life yang panjang. 

Contoh bunga potong semacam ini seperti anyelir, krisan, anggrek, gerbera, lily  dan mawar (terutama untuk  perayaan valentine day),

Sedangkan contoh daun potong seperti asparagus bintang, dracaena, silver dollar, dan caspea. 

Jenis yang kedua adalah jenis tanaman hias yang permintaannya sangat dipengaruhi oleh trend yang biasanya diciptakan oleh para pelaku bisnis tanaman hias itu sendiri. 

Misalnya, pada sekitar tahun 1987-1988 tanaman suplir sangat populer sehingga semua hobyist sibuk mengkoleksi suplir, lalu pudar lagi. 

Pada tahun 1997 tanaman dari famili bromeliads menjadi populer dan diminati banyak pecinta tanaman hias. 

Kemudian pada tahun 1998 terkenal tanaman pacira dengan batangnya yang dikepang dan tahun 1999 tanaman dracaena yang ditata sedemikian rupa menjadi populer dengan nama ‘bambu air’ dan dihubungkan kepemilikannya dengan image rejeki. 

Kini macam tanaman hias tersebut sudah tidak begitu populer lagi.  Di awal 2000 popularitas tanaman ‘kamboja Jepang’ (Adenium sp) mencuat dan di tahun 2002 popularitasnya sudah mulai meredup kembali.

Sedangkan tingkat kejenuhan pengusaha/produsen bunga dan tanaman hias, masih terbuka peluang bagi para investor baru untuk menekuni usaha ini, dikarenakan masih terbukanya peluang yang masih cukup besar.

Analisis SWOT Usaha Bunga Potong 

Analisis SWOT adalah alat yang sering digunakan untuk menganalisa posisi industri dalam peta persaingan, serta digunakan untuk mengantisipasi langkah perusahaan di masa yang akan datang.

Tujuan dilakukannya analisis SWOT ini adalah untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, mengantisipasi langkah persaingan (bisnis) dan redefinisi tujuan perusahaan.

Analisis SWOT ini dilaksanakan sesuai kebutuhan, dan perlu memperhatikan faktor tempat dan waktu. 

  • Faktor kekuatan (Strenght)
    1. Produktivitas yang terus meningkat.
    2. Tersedianya varietas unggul yang sudah dilepas oleh pemerintah (BALITHI)
    3. Ketersediaan sumberdaya manusia yang banyak dan upah yang relatif murah.
    4. Kondisi iklim yang memungkinkan dikembangkannya usaha bunga dan tanaman hias.
    5. Cukup banyaknya petani ataupun pengusaha yang telah bergerak dalam bidang ini.
    6. Teknologi proses produksi relatif mudah diadopsi.
    7. Waktu produksi dan pengolahannya relatif singkat, dan tidak mengenal musim.
  • Faktor Kelemahan (Weaknesses)
    1. Tersedianya teknologi namun dengan keterbatasan dana untuk mengadopsi teknologi tersebut menyebabkan tidak tersosialisasi dan teradaptasi dengan baik.
    2. Kurangnya benih berkualitas, khususnya jenis yang disukai pasar internasional.
    3. Kurangnya modal kerja untuk usaha florikultura. Program kredit yang tersedia untuk sektor ini sangat sedikit.
    4. Pengawasan mutu yang kurang dan lemahnya pelaksanaan untuk standarisasi mutu tersebut.
    5. Tingkat ketergantungan akan benih impor yang terlalu tinggi dari negara dengan hukum proteksi varietas yang kuat, sangat meningkatkan biaya produksi.
    6. Degenerasi benih yang mengakibatkan produk bermutu rendah dan tidak seragam.
    7. Teknik budidaya kurang efisien dan kurang produtif dengan ketergantungan input produksi dari luar negeri.
    8. Kelembagaan lemah, kurang efektif dan efisien, serta sumber daya menusia yang kurang terampil.
  • Faktor Peluang (Opportunities)
    1. Adanya perubahan teknologi yang semakin baik dari segi budidaya, maupun pengolahan pasca panen.
    2. Konsumsi bunga yang terus meningkat dalam berbagai jenis produk segar maupun diversifikasinya.
    3. Masih beragamnya daerah pengembangan untuk perluasan usaha bunga dan tanaman hias, sehingga produksi masih dapat ditingkatkan.
    4. Kebijakan/regulasi pemerintah yang semakin tidak membatasi skala usaha.
    5. Terciptanya varietas-varietas lokal oleh BALITHI sehingga akan mengurangi konsumsi input produksi dari luar negeri.
    6. Permintaan tanaman hias dan bunga potong cenderung meningkat terutama di kota-kota besar.
    7. Kebijakan pemerintah di bidang pariwisata memberi dampak positif terhadap peningkatan permintaan bunga potong di dalam negeri.
  • Faktor Ancaman (Threath)
    1. Pasar bebas yang akan mempersempit pasar domestik sehingga akan lebih berat lagi jika produsen dalam negeri tidak bisa memenuhi standar mutu yang ditetapkan.
    2. Persaingan/tingkat kompetisi yang tinggi di era pasar bebas dengan pengusaha luar negeri, perubahan kondisi ekonomi dan politik yang tidak menentu, yang berpengaruh terhadap kestabilan harga.
    3. “Trend” pasar selalu berubah cepat sehingga produksi harus cepat mengikutinya.

Pengusahaan bunga dan tanaman hias (krisan, mawar dan daun asparagus bintang) merupakan kegiatan usaha dengan margin  usaha yang besar tetapi berisiko tinggi atau faktor kegagalan yang besar.

Bila ditelaah lebih mendalam, faktor kegagalan budidaya tersebut sesungguhnya relatif kecil bila dibandingkan dengan margin usaha apabila budidayanya berhasil.

Namun demikian faktor kegagalan budidaya tersebut sering menjadi penyebab bangkrutnya suatu usaha budidaya bunga, penyebab utamanya adalah penggunaan uang pada saat memperoleh keberhasilan tidak dialokasikan untuk cadangan/upaya pencegahan kegagalan.

Aspek Financial Usaha Bunga Potong 

Aspek finansial usaha bunga dan tanaman hias dikaji untuk melihat sejauh mana bunga dan tanaman hias layak untuk dijadikan usaha.

Asumsi Pengusahaan Bunga dan Tanaman Hias 

Pada kajian ini pengusahaan bunga dan tanaman hias dikaji pada luas lahan skala besar yaitu 5 000 m2.

Pengusahaan dilakukan pada lokasi yang baik bagi syarat tumbuh tanaman ini.

Penggunaan naungan/rumah plastik digunakan untuk menentukan kuantitas, kualitas dan kontinyuitas produksi.

Berikut adalah asumsi pengusahaan bunga dan tanaman hias.

Asumsi pengusahaan bunga krisan potong

Bunga krisan potong yang diusahakan adalah tipe standar dan tipe spray. Umur produksi usaha ini dilakukan selama tiga tahun.

Pola tanam yang digunakan adalah pola panen per hari yang dalam perhitungan diakumulasikan per minggu.

Dengan pola tersebut penanaman dan pemanenan dilakukan sebanyak setengah naungan per minggu.

Untuk kontinyuitas produksi tersebut maka jumlah naungan yang digunakan adalah sebanyak tujuh naungan.

Dengan jarak tanam 11 cm x 11 cm populasi per naungan  adalah 34 711 bibit.

Bunga krisan potong dapat dipanen pada 12 MST. Harga beli bahan baku (stek berakar) Rp. 185,- per stek, harga jual tipe spray Rp. 9 000 per ikat dan tipe standar Rp. 12 000,-  ( 1 ikat =10 batang).

Asumsi pengusahaan bunga krisan pot

Pengusahaan bunga krisan pot dilakukan dengan pola tanam yang sama dengan pengusahaan bunga krisan pot.

Jarak tanam yang digunakan adalah 20 cm x 40 cm sehingga populasi per naungan adalah 5 250 pot dan populasi total adalah 36 750 pot. 

Bunga krisan pot dapat dipanen pada 12 minggu setelah tanam. Harga jual per pot adalah Rp. 8 500,-.

Asumsi pengusahaan bunga mawar potong

Umur pengusahaan bunga potong mawar adalah lima tahun. Bibit mawar potong dibeli dalam bentuk stek berakar yang langsung dapat ditanam di lapang produksi.

Jarak tanam yang digunakan dalam pengusahaan ini adalah  22 cm x 40 cm sehingga populasi adalah 4 746 bibit dan populasi total adalah   28 476 bibit. 

Bunga mawar potong dapat dipanen pada umur empat bulan setelah tanam. Harga beli bibit Rp. 2 000,-  sedangkan harga jual Rp. 1 850 per tangkai.

Asumsi pengusahaan daun potong asparagus bintang

Bibit daun asparagus bintang didatangkan dari nursery-nursery lokal dalam bentuk polybag yang langsung dapat ditanam di lapang.

Bibit daun potong asparagus bintang tersebut diusahakan selama umur produksi lima tahun. 

Umur produksi tersebut digunakan dengan pertimbangan masa produktif dari bibit tersebut untuk berproduksi sehingga produksi dan produktifitasnya baik. 

Jarak tanam dalam pengusahaan ini adalah 40 cm x 40 cm sehingga populasi per naungan adalah 2 625 bibit. 

Daun potong asparagus bintang dapat dipanen pada umur empat bulan setelah tanam. Harga beli bibit Rp. 3 000,- dengan harga jual Rp.  6 166 per ikat

Standar Biaya (Cost Project) Usaha Bunga Potong 

Pembiayaan usaha bunga dan tanaman hias secara garis besar dibagi menjadi biaya investasi dan biaya operasional.

Komponen biaya untuk investasi terdiri dari sewa tanah, bangunan, kendaraan, mesin dan  peralatan. 

Sedangkan komponen biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan tidak tetap. 

Komponen biaya untuk masing-masing usaha bunga dan tanaman hias seperti yang tertera pada Tabel berikut. 

Struktur Biaya Usaha Budidaya Bunga dan Tanaman Hias 

No

Jenis Usaha (Rp)

 

Komponen Biaya

Krisan Potong

%

Kisan Pot

%

Daun Asparagus

%

Bunga Mawar

%

I

Investasi

438.376.917

42.3%

494.055.000

  46.5%

459.092.000

48.7%

474.391.700

64.2%

II

Operasional

 

 

 

 

 

 

 

 

 

a. Biaya Tidak Tetap

534.120.775

51.6%

  498.417.973

46.9%

422.317.301

44.8%

200.367.305

27.1%

 

b. Biaya Tetap

     61.978.800

5.9%

   69.880.720

6.6%

61.800.000

6.6%

64.200.000

8.7%

 

Total Pengeluaran

1.034.476.492

100%

  1.062.353.693

100%

  943.209.301

100%

  738.898.965

100%

Komponen biaya yang digunakan adalah komponen operasional pada tahun optimum 

Dari struktur tersebut dapat dilihat komponen biaya investasi dan biaya operasional untuk masing-masing komoditas.  

Biaya Investasi Usaha Bunga Potong 

Investasi yang dibutuhkan dalam usaha ini adalah bangunan yang terdiri dari bangunan kantor dan rumah naungan.

Mesin peralatan, sarana irigasi dan listrik. Kendaraan dengan ruangan berpendingin diperlukan untuk memasarkan hasil panen.

Pada awal pengusahaan biaya investasi dikhususkan untuk pembangunan rumah plastik, pembelian mesin dan peralatan serta sarana irigasi dan listrik.

Berdasarkan Tabel diatas dapat diketahui bahwa untuk memulai usaha ini pada komoditas bunga krisan potong biaya investasi yang diperlukan adalah sebesar Rp. 438 376 917,-. 

Pada komoditas bunga krisan pot biaya investas yang diperlukan adalah Rp. 494 055 000,-, sedangkan pada komoditas bunga mawar potong dan daun potong asparagus bintang biaya investasi berturut-turut adalah sebesar  Rp. 474 391 700,- dan Rp. 459 092 000,-.

Biaya Operasional Usaha Bunga Potong

Biaya operasional yang dibutuhkan usaha bunga dan tanaman hias terdiri dari biaya tetap dan tidak tetap.

Biaya tetap meliputi biaya pemeliharaan angkutan, pemeliharaan mesin dan peralatan, adminsitrasi dan gaji karyawan.

Sedangkan biaya tidak tetap meliputi biaya produksi dan pemeliharaan (tenaga kerja dan bahan).

Biaya operasional usaha bunga krisan potong pada tahun optimum seperti yang terlihat pada Tabel adalah sebesar Rp. 596 099 575,-, komoditas bunga krisan pot biaya operasionalnya adalah Rp. 568 298 693,-.

Sedangkan pada usaha komoditas bunga mawar potong dan daun potong asparagus bintang biaya operasional yang dibutuhkan berturut-turut adalah sebesar Rp. 264 567 305,- dan Rp. 484 117 301,-.

Penerimaan Usaha Bunga Potong

  1. Penerimaan usaha komoditas bunga krisan potong berasal dari penjualan dua tipe bunga krisan potong (tipe standar dan tipe spray) yang diperhitungkan sebanyak 1 736 buket (1 buket = 10 tangkai) per setengah naungan, dengan harga jual yang digunakan adalah harga jual rata-rata per tahun, yaitu Rp 8 638,- per buket untuk krisan tipe spray dan Rp. 12 000,- untuk krisan potong tipe standar. Dengan pola tanam untuk kontinyuitas permintaan pasar, penerimaan usaha selama satu musim produksi adalah  Rp 18 223 140,- yang hasilnya dipanen setiap minggu. Dalam arus kas, penerimaan per bulan merupakan kumulatif dari penjualan tiap minggu.
  2. Penerimaan usaha komoditas bunga krisan pot didapat dari penjualan bunga krisan pot yang diperhitungkan sebanyak 2 250 pot per musim produksi, dengan harga jual rata-rata Rp 8 500,- per pot. Sehingga satu musim produksi penerimaan usaha adalah sebesar Rp 19 125 000,-. Pada arus kas penerimaan usaha merupakan kumulatif dari penjualan tiap minggu.
  3. Penerimaan usaha komoditas bunga mawar potong merupakan penjualan hasil budidaya yang diperhitungkan sebanyak 4 746 tangkai per naungan. Harga yang digunakan per tangkai adalah harga rata-rata dalam satu tahun sebesar Rp 1 850,-. Sehingga penjualan untuk satu bulan adalah Rp 8 780 000,-.
  4. Penerimaan usaha komoditas daun hias asparagus bintang didapat dari penjualan per ikat (1 ikat = 5 tangkai) dengan harga jual Rp 6 166 per tangkai yang merupakan harga rata-rata (rataan tiap kelas). Jumlah penjualan diperhitungkan tiap bulan dengan asumsi panen pada tahun ke-1= 2 tangkai per bibit, tahun ke-2 dan 5 = 3 tangkai per bibit dan tahun ke-3 dan 4 = 4 tangkai per bibit 

Kelayakan Investasi Usaha Bunga Potong 

Untuk menentukan kelayakan finansial dari usaha budidaya bunga dan tanaman hias dilakukan analisis dalam beberapa kriteria meliputi periode pengembalian (Pay back period, PBP), rasio manfaat biaya (benefit cost ratio, BCR), nilai tunai neto (net present value, NPV), tingkat penghasilan internal (Internal rate of return, IRR), dan titik impas (break event point,BEP)..

Hasil analisis kelayakan usaha beberapa komoditas bunga dan tanaman hias pada skala usaha 5 000 m2 dapat dilihat pada Tabel berikut 

Hasil Analisis Kelayakan Usaha Bunga dan Tanaman Hias 

Komoditas usaha

Kriteria

NPV

IRR(df 19%)

BCR

BEP

PBP/bulan

Krisan Potong*

Rp 210.317.480

38%

1,38

41.751

24

Krisan Pot**

Rp 314.258.078

44%

2.18

58.125

22

Asparagus Bintang*

  Rp 228.515.643

25%

1,39

88.202

29

Mawar***

Rp 453.215.432

30%

1.55

   304.864

22

Keterangan : * per ikat, ** per pot, ***per tangkai 

Hasil analisis pada Tabel menunjukkan, atas dasar tingkat suku bunga kredit atau laju investasi sebesar 19% per tahun, Industri bunga dan tanaman hias komoditas krisan potong pada umur proyek tiga tahun, memberikan manfaat internal 29%, dengan nilai NPV positif sebesar Rp. 106.3 juta dengan periode pengembalian investasi adalah 30 bulan. 

Sedangkan pada usaha bunga krisan pot dengan umur proyek yang sama dengan usaha bunga krisan potong, manfaat internal yang diperoleh adalah 35%, dengan nilai NPV positif sebesar  Rp. 204 juta.

Nilai rasio manfaat biaya 1.83 lebih menunjukkan kondisi usaha ini layak secara finansial dengan periode pengembalian investasi adalah 27 bulan.

Komoditas bunga mawar potong dengan umur proyek tiga tahun, nilai penghasilan internal adalah 28%, dengan nilai tunai neto positif sebesar Rp. 336.7 juta.

Usaha bunga mawar potong ini telah mampu mengembalikan semua modal investasi pada saat umur proyek 28 bulan dengan titik impas usaha adalah 304 864 tangkai.

Sedangkan pada usaha komoditas daun potong asparagus bintang, periode pengembalian usaha bunga ini adalah pada 34 bulan selama lima tahun proyek berjalan.

Selama proyek tersebut nilai tunai neto yang didapat adalah Rp. 109 juta.

Berdasarkan kriteria kelayakan yang disajikan pada Tabel diatas dapat disimpulkan bahwa untuk semua komoditas tersebut layak untuk diusahakan secara finansial, apabila asumsi-asumsi yang dijadikan dasar  analisis dipenuhi.  

Analisis Sensitivitas Usaha Bunga Potong 

Analisis sensitivitas perubahan parameter biaya dan harga bunga terhadap kelayakan finansial dilakukan untuk menguji sejauh mana perubahan parameter tersebut dapat menyebabkan industri bunga dan tanaman hias ini tidak layak secara finansial.

Komponen yang dijadikan bahan untuk uji sensitivitas adalah perubahan harga output, perubahan produksi, serta perubahan  biaya operasional.  Hasil analisis sensitivitas dapat dilihat pada Tabel  berikut. 

Hasil Analisis Sensitivitas Komoditas Bunga Krisan Potong

Kriteria

1

2

3

4

5

NPV  (df19%)

Rp 210.317.480

(Rp 3.112.563)

(Rp 4.270.627)

(Rp 5.548.683)

(Rp 4.894.249)

IRR   (df19%)

38%

19%

19%

19%

19%

BCR 

1,38

0,99

0.99

0.99

0.99

PBP (bulan)

24

33,97

34,54

34,06

34,13

BEP (buket)

41.751

47.379

41.756

44.510

41.768

Keterangan :

1)

  Kondisi normal

2)

  Proyeksi Harga jual bunga turun 12%

3)

  Biaya operasional naik 20%

4)

  Asumsi : Produksi turun 6%, biaya operasional naik 6%

5)

  Asumsi : Harga jual turun  7% , produksi turun 7%

Berdasarkan hasil analisis sensitivitas tersebut, kelayakan usaha krisan potong sensitif terhadap perubahan harga jual yang turun sampai dengan 12% dan biaya operasional yang meningkat sebesar 20%. 

Usaha ini mempunyai nilai rasio keuntungan terhadap biaya (BCR) yang cukup tinggi, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa usaha ini mempunyai tingkat sensitivitas yang sangat tinggi terutama terhadap perubahan harga, perubahan produksi dan biaya operasional yang meningkat.

Pada pengusahaan bunga krisan pot, hasil analisis sensitivitas ditunjukkan pada tabel berikut. 

Hasil Analisis Sensitivitas Bunga Krisan Pot

Kriteria

1

2

3

4

5

NPV  (df19%)

Rp 314.258.078

(Rp 4.075.308)

(Rp 3.515.873)

(Rp 3.515.873)

(Rp 5.426.242)

IRR   (df19%)

44%

19%

19%

19%

19%

BCR

                  2.18

0.99

0.99

0.99

0.99

PBP (bulan)

                  22

34

34

34

34

BEP (buket)

              58.125

             69.777

85.226

            65.308

63.873

Keterangan :

1)

   Kondisi normal

2)

   Harga jual turun 17%

3)

   Biaya operasional naik 32%

4)

   Asumsi : Harga jual turun 11%, biaya operasional naik 11%

5)

   Asumsi : Harga jual turun 9%,  produksi turun  9%

Berdasarkan hasil analisis sensitivitas pada Tabel komoditas bunga krisan pot  dapat disimpulkan bahwa pengusahaan komoditas ini mempunyai tingkat sensitivitas yang tidak begitu tinggi terhadap perubahan harga jual, perubahan biaya operasional  serta penurunan produksi. 

Hasil Analisis Sensitivitas Bunga Mawar Potong

Kriteria

1

2

3

4

5

NPV  (df19%)

Rp 453.215.432

(Rp 6.067.870)

(Rp 4.222.138)

(Rp 5.270.100)

(Rp 3.883.203)

IRR   (df19%)

30%

19%

19%

19%

19%

BCR

1.55

0.99

0.99

0.99

0.99

PBP (bulan)

22

43

41

43

43

BEP (ikat)

               304.864

             558.385

           534.619

             364.347

             409.889

Keterangan :

1)

   Kondisi normal

2)

   Harga jual turun 26%

3)

   Biaya operasional naik 57%

4)

   Asumsi : Harga jual turun 18%,  produksi turun 18%

5)

   Asumsi : Produksi turun 14%, biaya operasional naik 14%

 Tabel menunjukkan usaha bunga mawar potong mempunyai tingkat sensitivitas yang kurang sensitiv oleh karena perubahan harga, perubahan produksi dan perubahan biaya operasional.

Akan tetapi risiko-risiko usaha yang cukup tinggi perlu mendapat perhatian bagi pengusaha yang akan terjun pada usaha ini. Sedangkan pada komoditas daun potong asparagus bintang, hasil analisis sensitivitas dapat dilihat pada Tabel berikut. 

Hasil Analisis Sensitivitas Daun Potong Asparagus Bintang

Kriteria

1

2

3

4

5

NPV (df19%)

Rp 228.515.643

(Rp 4.894.381)

(Rp 3.234.157)

(Rp 3.766.440)

(Rp 6.641.974)

IRR  (df 19%)

25%

19%

19%

19%

19%

BCR

1.39

0.99

0.99

0.99

0.99

PBP (bulan)

29

39

40

39

39

BEP (buket)

                 88.202

                113.229

                108.621

                95.044

                100.031

Keterangan :

1)

   Kondisi normal

2)

   Harga jual turun 12%

3)

   Biaya operasional naik 19%

4)

   Asumsi : Produksi  turun 7%, biaya operasional naik 7%

5)

   Asumsi : Harga jual turun  7%, produksi turun 7%

Hasil analisis sensitivitas daun potong asparagus bintang menunjukkan kelayakan usaha daun potong asparagus bintang kurang begitu sensitif terhadap perubahan harga jual, penurunan produksi, dan peningkatan biaya operasional seperti terlihat pada Tabel. 

Masih sedikitnya pengusahaan daun potong asparagus bintang menyebabkan komoditas ini memliki prospektif yang baik untuk merespon permintaan pasar disamping kebutuhan bibit dapat disuplai dari nursery lokal.

Secara umum pengusahaan bunga krisan potong, krisan pot, bunga mawar potong dan daun potong asparagus bintang memiliki kelayakan yang baik, akan tetapi tingkat sensitifitas yang tinggi karena perubahan harga jual, perubahan biaya operasional dan perubahan jumlah produksi perlu mendapat perhatian yang cukup serius sehingga pengusahaan komoditas ini berjalan dengan baik.

Aspek Pemasaran Usaha Bunga Potong 

Kondisi Persaingan Usaha Bunga Potong

Permintaan bunga potong dunia - Menurut Badan Pengembangan Ekspor Nasional (2000) selama tahun 1996-2000 permintaan dunia akan bunga potong cenderung mengalami penurunan terutama tahun 1999-2000 yaitu sebesar 6.1% per tahun setelah sebelumnya ada peningkatan pada tahun 1998.

Penurunan permintaan bunga potong dunia selama tahun 1996 sampai dengan tahun 2000  adalah  sebesar 1.1%. 

Permintaan bunga potong dunia

Grafik Impor Bunga Potong Dunia (US$ 000.000)

(Diolah oleh BPEN dari Internasional Trade Centre, 2000) 

Nilai impor bunga potong dunia pada tahun 2000 adalah US$ 3.780.3 juta. 

Negara-negara pengimpor terbesar adalah Jerman 18.62%, Amerika Serikat 19.9%, Inggris 13.8%, Prancis 9.48%, Belanda 11.6%, dan Jepang 4.31%, sedangkan negara-negara lainnya diantaranya Thailand, Ekuador, Australia, Belgia dan lain-lain dengan persentase yang rendah. Kontribusi permintaan Indonesia pada pasar dunia melalui impor adalah 0.00%, dengan nilai  US$ 145 ribu  (BPEN, 2000).

Selama tahun 1995 nilai impor dunia untuk komoditas tanaman hias meningkat tajam menjadi lebih dari US$ 5 milyar, terdiri dari tanaman hias bunga (US$ 3.2 milyar), tanaman hias daun (US$ 0.5 milyar) dan produk florikultura lainnya (US$ 1.8 milyar). 

Peningkatan yang tajam ini telah memancing perhatian banyak negara pengekspor untuk memasuki perdagangan bunga internasional. 

International Floriculture Trade Statistics untuk tahun 1996 menunjukkan bahwa India dan Ekuador telah mampu meningkatkan perdagangan sebesar 53 % untuk India dan 63% untuk Ecuador, dengan nilai masing-masing US$ 16.3 juta dan US$ 70.2 juta pada tahun 1995. 

Negara kecil lain yang mengikutinya adalah Irlandia, El-Savador, Uganda dan Haiti. (ASBINDO,1999).

Kecenderungan pasar ekspor bunga potong dunia menunjukkan persentase yang meningkat dari tahun 1996-2000 sebesar 0,16% tiap tahunnya walaupun pada tahun 2000 sendiri terjadi penurunan 4,15%. 

Perkembangan Ekspor Bunga Potong Dunia

Perkembangan Ekspor Bunga Potong Dunia (US$ 000.000)

                      (Diolah oleh BPEN dari Internasional Trade Centre, 2000) 

Dari US$.3,5 miliar total perdagangan dunia pada tahun 2000 tersebut kontribusi terbesar adalah dari Belanda 57,8%, Kolombia 16,3%, Ekuador 4,3%, Israel 2,1%, Italy 2,3%, Kenya 2,5%, Spanyol 2,3% dan Belgia 1,39% .

Perkembangan Nilai Ekspor  Untuk Komoditas Bunga Potong Menurut Negara tahun 1996-2000 

NEGARA

PERSENTASE EKSPOR (%)

 BELANDA

57,83

 KOLOMBIA

16,33

 EKUADOR

4,35

 ISRAEL

2,10

 SPANYOL

2,36

 ITALIA

2,30

 KENYA

2,55

 BELGIA

1,39

 NEGARA LAINNYA

0,26

 INDONESIA

0,03

   Sumber : BPEN dari Internasional Trade Centre, 2000) 

Permintaan bunga mawar dunia

Di lain pihak pada komoditas bunga mawar permintaan dunia dalam bentuk impor komoditas ini terlihat pada Gambayang menunjukkan penurunan sebesar 2.69% dari tahun 1996-2000, sedangkan kecenderungan impor pada tahun 1999 menurun sebesar 10.05%. 

Berikut adalah perkembangan permintaan dunia  (impor) tahun 1996-2000. 

Permintaan bunga mawar dunia
Perkembangan Impor Bunga Mawar Dunia (US$ 000)

(Diolah oleh BPEN dari Internasional Trade Centre, 2000) 

Selama tahun 1999–2000 trend impor beberapa negara menunjukkan peningkatan, seperti USA mencapai 12.99%, Kolombia 13.35 %, Jepang 9.80 %, Portugal 10.52%, Turki 37.37%, Uganda 20.57%, China 14.62%, Panama 26.07%, Uruguay 22,29%, dan Costa rica 24.29%, sedangkan negara-negara yang mengalami penurunan impor selama tahun tersebut adalah negara Ekuador 45.75%, Israel 57.71%, Tunisia 61,69%, Chile 43.91% dan Indonesia sendiri menunjukkan penurunan impor sebesar 25,14%.

Dari total nilai impor dunia sebesar US$ 87.062 ribu pada tahun 2000, negara-negara pengimpor terbesar adalah Perancis 14,70%, Amerika Serikat 14,19%, Jerman 13,17%, Kolombia 7,88%, Kanada 6.02%. Impor bunga mawar potong Indonesia adalah mencapai  nilai 0.04% dengan nilai US$ 33 ribu total nilai impor dunia, sedangkan negara Asia lainnya adalah Jepang 3.27%, China 0.2%, Republik Korea 0.7%, dan Thailand 0.03%.

Kecenderungan ekspor bunga mawar dunia adalah seperti yang ditujukkan dalam Gambar selama tahun 1996-2000 mengalami penurunan sebesar 2.69%, dan antara tahun 1999-2000 penurunan tersebut adalah 10.05%.

Perkembangan Ekspor Bunga Mawar Dunia
Perkembangan Ekspor Bunga Mawar Dunia (US$ 000)

(Diolah oleh BPEN dari Internasional Trade Centre, 2000) 

Negara-negara yang memberikan sumbangan pada komoditas mawar dunia selama tahun 2000 yang terbesar adalah  Belanda 34.06%, Denmark 17,17%, Kanada 12.86%, USA 7,20%, Polandia 5,8%, Prancis 4,23% serta Belgia 3.33%, Indonesia sendiri selama tahun 1996-2000 menurut data BPEN (2002) tersebut tidak mengekspor bunga mawar.

Belanda sebagai negara penghasil bunga terbesar dengan nilai ekspor pada tahun 2000 sebesar  US$ 31 254 ribu selama tahun 1996-2000 menunjukkan trend ekspor yang menurun sebesar 9,17%, sedangkan Denmark trendnya meningkat sebesar 58,23%, Canada 20,15%, Ekuador 32,23%. Trend kenaikan yang terbesar dialami oleh Swedia sebesar 106,75%.

Perkembangan Produksi Bunga

Menurut Dirjen Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman (2001) produksi bunga dan tanaman hias Indonesia sejak tahun 1996 sampai 2001 mengalami fluktuasi. 

Tahun 1999 produksi bunga turun dengan sebesar 5,9%, akan tetapi pada tahun 2001 produksi bunga meningkat sebesar  63,7% dengan total volume 127 juta kg.

Pada perkembangan produksi bunga krisan potong terjadi fluktuasi yang tidak begitu tajam dengan kecenderungan yang menunjukkan peningkatan sampai dengan tahun 2001.

Sedangkan untuk komoditas mawar kecenderungan peningkatan produksi terjadi pada tahun 1997-2001. 

Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman
Grafik Perkembangan Produksi  Krisan dan Mawar 1996-2001

Sumber : Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman,2001

Pasar Ekspor dan Domestik Bunga Potong

Peningkatkan sektor pariwisata dari tahun ke tahun berperanan penting terhadap permintaan bunga dan produk florikultura lainnya.

Permintaan terhadap bunga untuk acara keagamaan (Idul Fitri, Natal, Hari Raya Umat Hindu dan Budha) dan perayaan lain seperti hari kemerdekaan, tahun baru, pernikahan, valentine, terus meningkat.

Peningkatan permintaan bunga sebesar 20% menunjukkan adanya pertumbuhan yang disebabkan oleh berkembangnya sektor bisinis seperti jasa penyewaan tanaman, jasa pemeliharaan tanaman, penataan taman indoor atau lanskap di ruang terbuka, jasa parcel bunga dan bisnis jasa merangkai bunga.

Perkembangan ekspor nasional memperlihatkan dengan total produksi tanaman hias 191.013 kg pada tahun 2001 Indonesia bisa mengekspor bunga potong segar dengan volume 235 ribu kg. 

Sedangkan pada tahun sebelumnya yaitu pada tahun 1996 volume ekspor Indonesia adalah 66 ribu kg kemudian pada tahun 1997 ekspor bunga potong segar menurun sebesar 649 kg.

Dari tahun 1999 sampai 2001 peningkatan ekspor rata-rata meningkat sebesar 28.3%. (Deperindag, 2002).  Perkembangan ekspor bunga potong diperlihatkan pada Tabel. 

Perkembangan Ekspor Bunga Potong

Tahun

Volume (kg)

Nilai (US$)

1997

  66 372

  67 970

1998

       649

       257

1999

149 140

101 596

2000

231 174

287 835

2001

235 147

318 673

Sumber : Deperindag (2002) 

Negara tujuan ekspor Indonesia untuk bunga potong pada tahun 2001 adalah Jepang 15,5%, Belanda 14,6%, Hongkong 14,8%, Singapura 9,8%, Korea Selatan 6,08% dan Amerika Serikat 5,22%. Sedangkan negara Taiwan, Australia, Republik Emirat Arab, Brunai Darussalam, RRC, India, Malaysia dan lain-lain pada persentase yang lebih rendah. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa peluang pasar bunga potong Indonesia mempunyai tempat di pasar internasional (Deperindag, 2002).

Di lain pihak impor bunga potong menunjukkan peningkatan pada tahun 1999-2001 setelah sebelumnya mengalami penurunan pada tahun 1998.

Perkembangan Impor Bunga Potong Indonesia

Tahun

Volume (Kg)

Nilai (US$)

1997

27.251

126.501

1998

  2.337

   10.679

1999

13.645

  50.500

2000

49.005

  79.262

2001

50.101

  72.668

Sumber : Deperindag (2002)

Negara-negara yang memberikan sumbangan untuk konsumsi dalam negeri Indonesia adalah Belanda yang pada tahun 2001 sebesar 37,3%, Singapura 23,5%, Australia 19,3%, Vietnam 9,5% dan Malaysia 4,8%, sedangkan negara-negara lain seperti India, RRC, Thailand dan Selandia Baru dengan persentase rata-rata  1,15% (Deperindag, 2002).

Perkembangan Harga Bunga Potong

Penetapan harga merupakan suatu keputusan strategi pemasaran yang sangat menentukan karena harga merupakan salah satu unsur penting dalam menentukan penguasaan pangsa pasar serta mempengaruhi tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan.

Tingkat harga yang terjadi di pasar bunga baik pada tingkat pedagang pengumpul maupun pedagang pengecer memiliki kecenderungan mengikuti mekanisme pasar, dimana dalam pasar bunga ini lembaga pemasaran yang bergerak di dalam penyaluran bunga memiliki kebebasan untuk bersaing secara sehat.

Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/Tanaman Hias Rawa Belong (2001) melaporkan perkembangan bulanan harga pada bulan Januari sampai dengan Desember sebagai berikut. 

Perkembangan Harga Bulanan Tahun 2001

Jenis Bunga

Satuan

 

Harga (Rp) Bulanan

Jan

Peb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nop

Des

Krisan lokal

Ikat

6.682

5.000

5.000

5.000

5.214

5.000

5.000

5.000

3.036

5.000

5.000

5.275

Krisan holand

Ikat

9.085

8.321

8.321

8.321

8.086

8.178

8.875

8.286

8.821

9.214

9.339

8.526

Mawar lokal

Kuntum

178

132

132

132

145

187

209

199

175

146

149

177

Mawar holland

Kuntum

1.250

1.687

1.687

1.687

2.264

2000

2.000

2.000

1.786

2.000

1.828

2.015

Sumber : Pusat Promosi Dan Pemasaran Hasil Pertanian Dan Hasil Hutan (2001). 

Pada tingkat lokal (domestik) perkembangan harga cenderung tidak selalu stabil  karena dipengaruhi oleh trend yang berkembang ataupun musim (even-even) tertentu. Harga-harga tersebut akan mengalami kenaikan sebesar 10-15% bahkan lebih pada even-even tertentu seperti Hari Raya Lebaran, Tahun Baru, Natal, dan Valentine.

Menurut www.puspoflorist.com pada komoditas mawar hari biasa harga satu stem adalah Rp 1 500 – Rp 2 000 sedangkan pada hari Valentine adalah Rp. 3 000 – Rp. 7 500,-. Pada Tabel diperlihatkan beberapa harga bunga di tingkat produsen. 

Beberapa Harga Bunga Potong

Jenis Bunga

Harga2

Keterangan

Krisan potong spray

  9 000/ikat

1 ikat = 10 tangkai

Krisan potong standar

12 000/ikat

1 ikat = 10 tangkai

Krisan pot

 8 500-9 500/pot

-

Mawar Kelas I

55 000-60 000/ikat

1 ikat = 20 tangkai

Mawar Kelas II

45 000-55 000/ikat

1 ikat = 20 tangkai

Mawar kelas III

35 000-45 000/ikat

1 ikat = 20 tangkai

Asparagus bintang Kelas S

5 000/ikat

1 ikat = 5 tangkai

Asparagus bintang Kelas M

6 000/ikat

1 ikat = 5 tangkai

Asparagus bintang Kelas L

7 500/ikat

1 ikat = 5 tangkai

Dari beberapa sumber  Harga pada tahun 2002

Sistem Distribusi bunga Potong 

Produk florikultura merupakan produk yang dipanen dalam keadaan segar  sehingga mudah sekali rusak (perishable product).

Oleh karena hal tersebut diperlukan penanganan dan pemasaran secara cepat dan aman sehingga distribusi memegang peranan penting dalam bidang usaha ni.

Sesuai dengan sifatnya yang sangat mudah rusak tersebut maka harus diusahakan bunga potong sampai ke tujuan pengguna secepat mungkin.

Bunga potong atau tanaman hias dikonsumsi oleh pasar domestik dengan jalur distribusi seperti  yang diperlihatkan pada Gambar .

Banyaknya produsen bunga potong baru yang bermunculan baik skala kecil maupun besar mengharuskan para pengusaha yang baru berkecimpung dalam industri tersebut memiliki strategi pemasaran yang tepat untuk mampu bersaing dengan perusahaan lainnya.

Alur pemasaran bunga dan tanaman hias dari tingkat produsen hingga konsumen akhir cukup sederhana dan cocok menjadi acuan bagi pengusaha baru dalam menerapkan sistem dan saluran pemasarannya.

Secara keseluruhan pola pemasaran bunga potong dapat dilihat pada Gambar.

 Saluran Pemasaran dari Perusahaan  Hingga Konsumen Akhir

Skema Saluran Pemasaran dari Perusahaan  Hingga Konsumen Akhir

     Keterangan :

                                    : menunjukkan jalur I dalam saluran pemasaran

                                    : menunjukkan jalur II dalam saluran pemasaran

                                    : menunjukkan jalur III dalam saluran pemasaran 

Proses penyaluran komoditas bunga dari tingkat petani produsen hingga konsumen dapat dilakukan melalui beberapa alternatif saluran pemasaran seperti yang terlihat pada skema saluran pemasaran. 

Kecenderungan pengusaha memilih suatu sistem saluran pemasaran lebih didasarkan pada faktor kepastian kepuasan konsumen, perjanjian terdahulu ataupun karena keuntungan yang dicapai lebih tinggi.

Pada umumnya di tingkat pedagang pengumpul terlibat dalam skala kecil dan temporer. Sementara itu pada pihak pedagang perantara, pembelian bunga hanya dilakukan pada saat permintaan bunga potong mengalami kenaikan yang tajam.

Selain pemasaran lokal atau dalam negeri, perusahaan bunga potong dapat mengambil langkah pemasaran internasional yaitu ekspor. Jalur distribusi pemasaran ekspor ini dapat dilihat pada Gambar.

 Jalur Distribusi Pasar Ekspor

Jalur Distribusi Pasar Ekspor 

Ekspor biasanya didorong oleh melemahnya peluang pasar dalam negeri atau meningkatnya peluang pasar di luar negeri.

Untuk distribusi biasanya produsen akan langsung menjual ke pembeli di negara yang dituju kemudian melalui sub disributor atau ritel tertentu akan langsung dipasarkan ke konsumen luar negeri.

Resiko Usaha Bunga Potong

Faktor Keberhasilan Usaha 

Bunga dan tanaman hias merupakan komoditas yang diperdagangkan baik ditingkat nasional maupun internasonal.

Perdagangan komoditas ini menunjukkan penerimaan masyarakat yang begitu tinggi.

Keberhasilan usaha bunga dan tanaman hias ditentukan oleh beberapa faktor penting yang antara lain adalah :

  • Pemilihan bahan baku,
  • Tingkat penguasaan teknologi, dan
  • Strategi pemasaran yang jitu dalam upaya mempertahankan kestabilan harga.

Dari segi pemilihan dan ketersediaan bahan baku, Indonesia memiliki keanekaragaman varietas yang baik untuk diusahakan, diantaranya beberapa varietas yang telah dilepas olah BALITHI.

Terciptanya varietas-varietas lokal oleh BALITHI tersebut akan mengurangi konsumsi input produksi luar negeri. 

Pemilihan varietas begitu penting mengingat permintaan konsumen akan bunga dan tanaman hias ini cenderung berubah-ubah dengan cepat sesuai dengan trend yang berlaku.

Dari permintaan pasar dengan trend pasar yang berubah-ubah tersebut maka dalam pengusahaan bunga dan tanaman hias ini dituntut menghasilkan kualitas yang tinggi.

Tuntutan ini harus dibarengi dengan teknologi pembudidayaan, pengolahan pasca panen dan strategi pemasaran yang baik.

Untuk itu ketersedaiaan sarana dan prasarana yang mendukung perbaikan kualitas sangat penting untuk diadakan.

Telah terbukti kualitas bunga dan tanaman hias yang baik membuat harga lebih bersaing dan  pasar lebih mudah terkontrol. 

Faktor Kritis Kegagalan Usaha Bunga Potong 

Pada pelaksanaan pengelolaan usaha bunga dan tanaman hias banyak risiko-risiko usaha yang menjadi faktor kritis yang harus mendapat perhatian lebih diantaranya dipaparkan di bawah ini. 

Iklim, Tanah dan Air

Kedua unsur sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bunga dan tanaman hias yang akan dibudidayakan. 

Ketersediaan air akan menentukan diterapkannya budidaya yang dapat dirancang untuk panen sepanjang tahun. 

Tanpa tersedianya air maka usaha tani ini akan menjadi budidaya tradisional musiman.

Syarat yang harus diperhatikan adalah bahwa air harus harus bebas dari hama penyakit serta benih gulma karena sistem irigasi yang digunakan adalah biasanya dengan sistem perendaman atau irigasi tetes (drip irrigation).

Rumah naungan dan Listrik

Kecenderungan iklim yang panas atau intensitas hujan yang tinggi  di daerah tropik, hama dan penyakit tanaman, serta perubahan suhu dan kelembaban merupakan risiko usaha yang dominan pada usaha ini. 

Dengan demikian membangun rumah naungan menjadi keharusan, dengan kualitas dan ukuran yang dapat disesuaikan dengan modal dan kondisi lapang.

Tanaman krisan baik pot ataupun potong sangat peka terhadap panjang hari.

Cahaya tambahan harus diberikan pada malam hari untuk mencegah pembentukan bakal bunga minimal dua jam  dengan intensitas cahaya minimal 40 lux/m2 bila menggunakan lampu TL dan 70 lux/m2 bila menggunakan lampu pijar.

Tanaman induk (mother plant)

Pertimbangan dalam memilih mother plant dari tanaman induk impor atau tanaman induk produksi dalam negeri sangat tergantung dari sejauh mana orientasi pasar.

Jika dilakukan impor, maka yang perlu diperhatikan adalah kemampuan bahan tanaman tersebut untuk diperbanyak (distek) tanpa menyebabkan penurunan mutu stek yang dihasilkan. 

Kondisi bibit yang perlu dijaga antara lain tanaman harus bebas dari hama dan penyakit, seragam, true to type, selalu berada pada fase vegetatif, mendapat  asupan hara yang cukup serta cukup dewasa pada saat diambil steknya.

Sumber daya manusia

Suatu proses produksi hendaknya dipercayakan pada pengelola yang handal dan profesional di bidangnya.

Suatu perusahaan harus memiliki SDM yang mempunyai kemampuan dalam pengetahuan teknis mengenai produksi tanaman hias dan bunga serta dapat berhubungan dengan karyawan.

Di samping itu, faktor cinta pada pekerjaan dan keuletan menghadapi tantangan adalah faktor yang cukup dominan dalam mencapai  kesuksesan.

Tindakan Pasca Panen dan Distribusi

Karakteristik bunga pada umumnya mempunyai sifat mudah rusak (perishable) sehingga harus  dikonsumsi dalam keadaan segar dan tidak cacat.

Hal ini merupakan titik kritis yang memerlukan penanganan pasca panen yang baik,  khususnya pengawetan (untuk memperpanjang vase life, misalnya dengan perendaman pangkal batang ke dalam larutan Chrysal, dsb.) dan pengemasan.  

Sarana jalan yang baik, ketersediaan alat transportasi berupa cold storage  serta kepastian pasar menjamin sistem distribusi yang baik, sehingga dapat meminimumkan kerugian akibat kerusakaan produk/produk  tak  terpasarkan.

Pemasaran

Pemasaran dapat menjadi titik kritis pada saat tercapainya suatu persaingan (kompetisi) akibat terlalu banyaknya pengusaha yang berkecimpung dalam industri  bunga potong sejenis.

Dengan demikian nilai, strategi dan taktik penjualan harus benar-benar terfokus. Untuk itu perusahaan bunga potong perlu memilih sebagai berikut.

  1. Jenis-jenis tanaman hias/bunga yang akan diproduksi, jika perlu bahkan menciptakan pasar/ trend dari jenis yang selama ini belum banyak di pasaran.
  2. Segmen- segmen  yang  dianggap   efektif,  di  antaranya   adalah   florist, hotel, wholesaler, perkantoran, catering, supermarket dan sebagainya. Setiap segmen pasar memiliki pertimbangan masing-masing dalam membeli bunga potong.
  3. Menyesuaikan skala produksi dan waktu panen berdasarkan tingkat permintaan yang dimiliki perusahaan tanaman hias/bunga tersebut (penentuan skala produksi juga tentu harus berdasarkan perhitungan finansial). 

Disamping beberapa hal di atas, produsen harus menyadari bahwa trend pemakaian bunga dan tanaman hias selalu berubah setiap waktu sehingga produsen harus mengetahui jenis bunga atau tanaman hias yang dikehendaki pasar.

Apabila  dulu orang senantiasa memakai anggrek dan bunga lokal seperti gladiol, sedap malam dan dahlia, maka setelah munculnya bunga-bunga potong sub tropis perilaku konsumen mulai berubah. 

Kecenderungannya terhadap bunga-bunga potong sub tropis sekarang mendapat sambutan positif karena memiliki berbagai kelebihan seperti vase life yang lama, warna beraneka ragam, tangkai kokoh, lebih panjang dan lurus serta lebih variatif bentuknya.

Produsen juga harus mengetahui saat-saat tertentu dimana kebutuhan akan bunga meningkat.

Hal tersebut penting dipelajari, agar produksi dapat diserap pasar dengan baik. 

Saat-saat tersebut antara lain Hari Lebaran, Natal, Tahun baru, Imlek, 17 Agustus, Valentine dan bulan-bulan ramai pernikahan (seperti bulan haji menurut kalender islam, dan sebagainya).

Salah satu kiat para pengusaha tanaman bunga untuk mengatasi over production yang tak terhindarkan adalah dengan memproduksi (atau menjalin kerjasama dengan pengusaha) potpoury yaitu rempah wewangian yang terbuat dari biji-bijian, serpihan daun dan kelopak atau mahkota bunga (mawar, melati, krisan, dll) yang dikeringkan.

Pasokan Bahan Baku Bunga Potong

Sumber Bahan Baku

Kendala utama dalam bisnis tanaman hias adalah ketahanannya untuk tetap segar sangat terbatas. 

Oleh karena itu perlu perlakuan khusus yang tidak murah.

Selain itu kendala lain dalam mengembangkan tanaman hias, khususnya krisan dan mawar di Indonesia antara lain sangat sukar memperoleh bibit unggul dalam jumlah yang banyak dan seragam, 

Peremajaan terhadap tanaman sumber kurang  baik selain pengawasan mutu dan sertifikasi benih yang belum berjalan sesuai dengan aturannya.

Tanaman krisan dan mawar dapat diperbanyak dari benih atau bibit.

Pada umumnya krisan dapat diperbanyak dengan stek pucuk yang dijadikan bibit atau stek yang telah berakar.

Bibit untuk dijadikan sebagai tanaman induk krisan, mawar dan asparagus bintang dapat diperoleh dengan cara impor sebagai bibit introduksi, dapat pula dengan membeli dari produsen dalam negeri (seperti BALITHI yang sudah melepaskan beberapa varietas krisan dan mawar), atau bahkan membeli dari petani lokal (untuk bibit asparagus bintang).

Bibit impor  dapat didatangkan dari Belanda, Amerika Serikat, Malaysia ataupun Jepang.  Bibit yang berasal dari Belanda dapat  diperoleh melalui pedagang (trader) seperti perusahaan Fides dan CBA. 

Pedagang tersebut memperoleh bibit dari penangkar (breeder) sepeti Fides, CBA, Cleangro, Delta Steak, Van der Coe, dan Gastok. 

Perusahaan bibit krisan dari Amerika diantaranya Yoder Brother Inc (Rosliany,1997).

Beberapa perusahaan bibit mawar di Belanda memperbanyak bibit mawarnya di Afrika, misalnya di daerah Lake Navasha, Kenya. 

Bibit hasil perbanyakan ini kemudian disalurkan ke berbagai konsumen melalui perusahaan bibit mawar di Belanda (Adriana,1996).

Di Indonesia, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Hias (BALITHI) telah melaksanakan kegiatan penelitian dengan pendekatan dan orientasi pada kebutuhan pengguna dalam mengatasi berbagai permasalahan usaha tanaman hias menuju efisiensi industri florikultura.

Program penelitian diarahkan untuk menghasilkan varietas unggul yang novelty melalui pemanfaatan sumberdaya genetik dari koleksi plasma nutfah untuk perakitan varietas, perbaikan teknologi produksi benih, efisiensi teknik budidaya, media tumbuh organik, bioekologi hama dan penyakit, agen hayati, pemanfaatan organisme antagonis dan penelitian pascapanen.

Kegiatan penelitian telah menghasilkan dan melepaskan varietas baru tanaman krisan, mawar, gladiol yang telah memasuki tahap komersialisasi.

Bibit asparagus bintang dapat diperoleh melalui impor, ataupun dengan cara membelinya langsung dari nurseri-nurseri lokal.

Kondisi Bahan Baku

Bibit krisan dapat berupa stek berakar (rooted cutting) dengan jumlah daun sekitar enam-tujuh helai yang langsung siap tanam ke lapang, atau berupa stek tanpa akar (unrooted cutting) yang harus diakarkan dahulu sebelum ditanam ke lapang.

Bibit Krisan dalam Bentuk Stek Berakar
Bibit Krisan dalam Bentuk Stek Berakar

Perusahaan produsen bibit impor krisan di Indonesia biasanya mendatangkan bibit krisan dalam bentuk rooted cutting

Stek berakar ini akan langsung didistribusikan ke nursery/ grower yang akan memproduksi bunga krisan. 

Oleh nursery/grower, bibit ini akan ditumbuhkan menjadi tanaman induk (mother stock plant) dengan cara mempertahankan fase vegetatif  melalui pemberian lampu untuk memperlama periode panjang hari.  S

etiap tanaman induk akan menghasilkan sekitar 16-32 stek dalam satu masa tanam.

Bibit mawar diimpor dalam bentuk “half year bush”,  berupa hasil okulasi yang sudah mempunyai satu-tiga percabangan dengan atau tanpa daun, dengan tinggi sekitar 40 cm atau berupa hasil okulasi dengan mata tunas yang masih hijau.

Bibit mawar  berumur enam bulan
Bibit mawar  berumur enam bulan

Asparagus bintang dapat diimpor dalam bentuk bibit, akan tetapi nurseri- nurseri lokal sudah banyak menjual dalam bentuk bibit-bibit dalam polybag yang sudah siap tanam.

Cara perolehan bibit bunga

Impor sumber bahan tanaman mengacu kepada Undang-Undang RI no. 12 Tahun  1992 Bab Penyelenggaraan Budidaya Tanaman atau UU Perbenihan pasal 8, bahwa perolehan benih bermutu untuk pengembangan budidaya tanaman dilakukan melalui penemuan varietas unggul dan atau introduksi dari luar negeri dalam bentuk benih atau materi induk untuk pemuliaan tanaman, dapat pula dilakukan oleh perorangan atau badan hukum. 

Di lain pihak ketentuan umum UU RI no 12 Tahun 1992 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan benih tanaman yang selanjutnya disebut benih adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak atau mengembangbiakkan tanaman.

Dengan demikian bibit krisan dapat disebut benih karena merupakan bagian tanaman yang digunakan untuk memperbanyak atau mengembangbiakkan tanaman.

Dasar hukum dalam pemasukan media pembawa Organisme Pengganggu Tanaman Karantina (OPTK) yang berupa bibit/benih tanaman adalah sebagai berikut.

  1. Undang-undang No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman;
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman.
  3. Undang-undang No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.
  4. SK Menteri Pertanian No. 797 tahun 1984 tentang Pemasukan Media Pertumbuhan untuk Tanaman.
  5. SK Menteri Pertanian No.38/Kpts/HK.310/1/90 tahun 1990 tentang Pesyaratan dan Tindakan Karantina untuk Pemasukan  Tanaman dan Bibit Tanaman;
  6. SK Menteri Pertanian No. 810/Kpts/KU.440/10/1990 tentang Imbalan Jasa Karantina Tumbuhan;
  7. Keputusan Kepala Pusat Karantina Pertanian No. 110/OT.210/7/1995 tentang Petunjuk Pelaksanaan Menteri Pertanian No. 800/OT.210/12/1994.

Impor bibit dilakukan melalui prosedur dan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 

Alur dan prosedur impor benih tanaman hias dapat dilihat pada Gambar.

Para importir harus memenuhi beberapa ketentuan karantina tumbuhan untuk memasukkan tanaman dan bibit tanaman hias ke wilayah Republik Indonesia, sebagai berikut.

  1. Memiliki Surat Izin Pemasukan (SIP) dari menteri pertanian
  2. Memiliki Sertifikat kesehatan tanaman atau Phytosanitary Certificate (PC) dari dinas karantina negara asal dan negara transit.
  3. Melalui tempat-tempat pemasukan yang telah ditetapkan
  4. Dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina tumbuhan di tempat-tempat pemasukan untuk keperluan tindakan karantina.
  5. Wajib memenuhi ketentuan lain dari karantina tumbuhan. Untuk bibit krisan harus bebas dari hama dan penyakit tertentu seperti Dythienchus destructor, Septoria chrysanthemi, tidak boleh mengandung partikel tanah atau kompos, dan harus diberi perlakuan perendaman pestisida tertentu seperti 0,2% malathion atau 0,3% mancozeb selama 5-10 menit. Pengujian dilakukan oleh Dinas Karantina Tumbuhan di pelabuhan kedatangan bibit tersebut.
Arus Benih Tanaman Hias
 Arus Benih Tanaman Hias (Rosliany, 1997)

Prosedur Ijin Impor Bibit
Prosedur Ijin Impor Bibit (Rosliany, 1997) 

Pembelian bibit tersebut disertai dengan syarat-syarat antara lain sebagai berikut.

  1. Jangka waktu pembelian bibit tersebut ditetapkan selama empat bulan sekali. Namun mengingat kondisi saat ini dimana biaya-biaya melambung tinggi, maka disepakati pembelian menjadi lima-enam bulan sekali.
  2. Perusahaan tidak diperbolehkan memperbanyak bibit untuk kemudian dijual kembali (sebagai bibit).
  3. Kewajiban perusahaan untuk melaksanakan pembayaran royalti. Contoh kasus pada perusahaan Fides, royalti didapatkan dari satu bibit yang diperbanyak menjadi 30 bibit, dan dibayarkan segera sesudah mendapatkan bibit tersebut; sedangkan bagi perusahaan CBA, royalti diberikan atas dasar laporan perusahaan berdasarkan jumlah tanaman yang telah terjual. Lain halnya perjanjian dengan International Plant Propagation Society di Amerika Serikat, royalti harus dibayarkan kepada pemilik varietas untuk setiap bibit yang akan digandakan sebesar US$ 0.02 (tahun 1997).

Kondisi Mikro Usaha Bunga Potong dan Tanaman Hias 

Pohon Industri Krisan, Mawar dan Asparagus Bintang

Umumnya bunga dan tanaman hias adalah komoditas yang dinikmati karena keindahannya. 

Namun pada beberapa jenis tanaman hias, ada pula yang dapat dikonsumsi atau digunakan untuk tujuan lain karena bahan aktif yang terkandung di dalamnya. 

Berikut ini adalah gambaran pohon industri dari krisan, mawar dan daun potong asparagus bintang.

Pohon Industri Krisan dan Mawar
Pohon Industri Krisan dan Mawar Pohon Industri Asparagus Bintang
Pohon Industri Asparagus Bintang

 

Diversifikasi Produk Bunga Potong

Bunga dan tanaman hias dapat dikonsumsi dalam bentuk segar maupun jenis olahannya. Secara tradisional menurut Asian Productivity Organisation (APO) bisnis bunga dan tanaman hias ini dibagi ke dalam bunga potong, bunga pot dan untuk produksi minyak.

Bunga potong lebih diminati/dibutuhkan dalam perdagangan internasional dan digunakan orang untuk hiasan/kecantikan. Trend yang selalu berubah sangat bergantung pada nilai estetika masyarakat untuk berbagai produk dan perbaikannya dilakukan terus menerus.

APO menyebutkan bahwa bisnis bunga dan tanaman hias berpotensi dalam bidang entertainment, pariwisata, bahkan pada dunia olah raga.

Hal ini memperlihatkan ketidakterbatasan medan bisnis bunga dan tanaman hias dikarenakan tingkat estetika yang mendorong masyarakat untuk memakainya pada berbagai tempat dan kesempatan.

Dalam kehidupan sehari-hari bunga dan tanaman hias dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, diantaranya adalah sebagai penghias taman/halaman terbuka (outdoors) atau lebih mengarah ke landscaping, sebagai tanaman hias dalam pot penyemarak ruang tamu dapat berupa bunga pot atau rangkaian bunga dengan cut flower atau cut foliage sebagai bahan pengisi, dijadikan bunga tabur pada upacara kenegaraan/tradisi ritual dan digunakan pada berbagai event seperti  perayaan pernikahan, Ulang Tahun, Valentine Day, Hari Raya Natal, Idul Fitri, Tahun Baru dan sebagainya.

Menurut APO sektor lain dari produksi tanaman hias dan bunga dengan potensi yang luas adalah untuk produksi rasa/essens,  parfum, bahan obat dan pestisida.

Sebagai obat, bunga mawar pada masa perang dunia II di Inggris telah dirintis sebagai bahan makanan/minuman dan dijadikan sebagai sumber vitamin C. Tabib Cina memanfaatkan minyak bunga mawar untuk obat “Yin” yang berfungsi menenangkan syaraf, memperlancar sirkulasi darah, memperkuat otot dinding perut besar dan menyehatkan pembuluh kapiler.

Selain itu, kelopak daun mawar yang dikeringkan dapat digunakan untuk industri potpoury (untuk pengharum wadah, ruangan, dll.), dibuat bahan teh (rose tea) dan diekstrak kandungan fine etil alcohol (citronellol, nerol geraniol) untuk bahan dasar pembuatan rose oil dan parfum.

Bahan aktif pyrethrin yang dikandung kelopak bunga krisan, digunakan sebagai bahan pembuat pestisida (anti nyamuk dan serangga lainnya) karena kemampuan bahan aktif ini dalam melumpuhkan sistem syaraf serangga sehingga menyebabkan kematian serangga. Bunga krisan juga digunakan sebagai bahan pembuat teh (chrysant tea) dan digunakan pada industri bunga kering.

Sebagai tanaman hias daun maupun daun potong asparagus bintang banyak digunakan untuk pelengkap rangkaian bunga (fillers), terutama untuk rangkaian pot et fleur yaitu rangkaian bunga yang memakai perpaduan bunga potong, tanaman hias daun/bunga hidup lengkap dengan akarnya dan daun potong.

Penyebaran Wilayah Usaha Tanaman Hias dan Bunga Potong 

Kondisi agroekologi Indonesia yang bervariasi memungkinkan tersedianya berbagai daya dukung lahan (land capability) dan kesesuaian lahan (land suitability) sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan berbagai jenis tanaman hortikultura tropik maupun sub tropik. 

Keragaman spesies dan varietas yang tinggi memungkinkan untuk memilih jenis komersial untuk dikembangkan pada lahan-lahan yang sesuai dengan kondisi dan potensi sumber daya alam.

Pusat produksi bunga dan tanaman hias harus dikembangkan dengan mempertimbangkan pada kondisi iklim, tanah dan jaraknya dari kota besar.

Beberapa pusat produksi bunga dan tanaman hias Indonesia diperlihatkan pada Tabel sedangkan tempat-tempat  penting sebagai pusat penjualan bunga dan tanaman hias biasanya merupakan kota-kota besar. 

Sentra Produksi Tanaman Hias dan Bunga di Indonesia 

Daerah

Sentra Produksi

Jenis Komoditas

Jabotabek

Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi

Anggrek, aneka tanaman hias bunga dan daun

Sumatera Selatan

Brastagi, Kabanjahe, Tanjung, Morawa dan Medan

Gladiol, krisan, gerbera, aster, dahlia, anthurium, sedap malam, lily, mawar, palm, soka, dieffenbachia, dracaena

Riau

Kepulauan Riau

Heliconia

Jawa Barat

Cipanas, Cianjur, Bogor, Cisarua/Lembang, Sukabumi, Tasik malaya

Krisan, mawar, gladiol, gerbera, anyelir, aster, dahlia, suplir, palm, heliconia, sedap malam, azalea, melati, dracaena, dieffenbachia,  cala lily, bougenvillea, asparagus, caspea, gypsophylla, silver dollar

Jawa Tengah

Bandungan, Yogyakarta, Magelang, Tegal, Pemalang dan Purbalingga

Aster, mawar, kenikir, sedap malam, gerbera, dahlia, gladiol, krisan, lily, amarylis, melati.

Jawa Timur

Tretes, Batu, Pujon, Pasuruan dan Madura

Gladiol, mawar, krisan, anggrek, gerbera, lily, kenikir, palm, ficus, soka, dracaena,azalea,dieffenbachia, sedap malam, melati

Bali

Tabanan, Bangli, Gianyar, Badung

Anggrek, Mawar, Heliconia, anyelir, anthurium, gladiol, krisan, palem, sedap malem

Sumber : Sutater, 1998 

Sentra Penjualan Tanaman Hias dan Bunga di Indonesia 

Daerah

Sentra Penjualan

Jawa

Jakarta, Bandung, Semarang, Malang dan Surabaya

Sumatera

Medan

Bali

Denpasar

Sulawesi

Ujung Pandang

Sumber : Sutater, 1998

Pemetaan wilayah komoditas harus berdasarkan pada kesesuaian sumber daya lahan (jenis dan kesuburan tanah, ketinggian tempat, curah hujan, ketersediaan perairan, topografi) dengan persyaratan komoditas unggulan, serta memperhatikan nilai ekonomi, permintaan pasar, nilai keuntungan komparatif, fasilitas pemasaran, kondisi sosial ekonomi petani serta rencana tata ruang dan wilayah.

Dengan demikian, pemetaan wilayah tersebut dapat menghasilkan rencana tata ruang dan wilayah pengembangan komoditas unggulan yang sangat berguna bagi pengembangan wilayah produksi dan juga sangat berguna bagi para pengusaha yang akan menanamkan modalnya pada sektor agribisnis khususnya  untuk komoditas florikultura.

Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman (2000) menyebutkan beberapa daerah sentra pengembangan untuk tanaman hias non-anggrek sebagaimana tercantum pada Tabel berikut.

Daerah Pengembangan Tanaman Hias Non Anggrek 

No

Uraian

Sentra Pengembangan

Komoditas

1

Perluasan areal tanaman dan pemeliharaan

Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung

Tanaman hias Non Anggrek

2

Peningkatan produksi tanaman hias untuk ekspor

Bekasi, Semarang

Tanaman hias Non Anggrek

3

Pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya potensi wilayah

Tabanan, Bangli, Kodya Medan, Deli Serdang, Karo, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Kodya Pontianak, Kodya Manado, Bol. Mangondow, Gowa, Kodya Jayapura.

Tanaman hias Non Anggrek

4

Bunga potong untuk kebutuhan nasional (hinterland)

Bogor, Sukabumi, Pontianak

Tanaman hias Non Anggrek, Palm

5

Pemasyarakatan teknologi dan pemberdayaan petani dalam penerapan teknologi maju.

Cianjur, Bandung, Sambas, Pontianak, Kodya Pontianak, Sintang.

Tanaman hias Non Anggrek, Tanaman hias daun

6

Penumbuhan produksi di areal pekarangan

Bekasi, Sambas, Pontianak, Sungai Landak, Sanggau, Sintang, Kapuas hulu, Ketapang, Bengkayang, Pontianak

Tanaman hias Non Anggrek, Tanaman hias daun

7

Penggunaan tanaman hias pohon/daun untuk kenyamanan lingkungan

Semarang, Kodya Pontianak

Tanaman hias Non Anggrek,

8

Pembinaan manajemen produksi dan usaha tani

Malang, Banyuwangi, Sumenep, Kodya Surabaya, Tabanan, Bangli, Kodya Medan, Deli Serdang, Karo, Agam

Tanaman hias Non Anggrek, Tanaman hias daun

Sumber : Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman, 2000

Syarat Pendirian Usaha Bunga Dan Tanaman Hias 

Syarat-syarat Pendirian Usaha 

Syarat pendirian usaha bunga dan tanaman hias, dilakukan dengan cara berikut.

Mengajukan permohonan rekomendasi kepada walikota/bupati dengan syarat-syarat:

  1. Mengisi formulir surat rekomendasi yang ditujukan untuk walikota/bupati setempat. Dalam formulir surat rekomendasi tersebut, terdapat beberapa data yang harus diisi seperti pada daftar di bawah ini.
    1. Data pemohon meliputi nama, pekerjaan dan alamat calon pemilik usaha.
    2. Data tanah meliputi luas tanah (dalam m2), lokasi (kelurahan dan kecamatan), alamat, jenis tanah (darat/sawah), status tanah (tanah sertifikat/akta jual beli/sewa/kontrak), kondisi fisik (tanah kosong/ada bangunan) serta kondisi tanah tersebut saat ini (sudah/belum dibangun).
    3. Kelengkapan-kelengkapan lainnya, meliputi:
      1. Foto kopi KTP
      2. Foto kopi tanda lunas PBB
      3. Foto kopi NPWP
      4. Jika berbadan usaha melampirkan Akte Pendirian Perusahaan
      5. Bukti kepemilikan tanah
      6. Gambar situasi
      7. IMB yang sudah ada bangunan/IMB lama
      8. Surat ijin tetangga diatas segel Rp. 6000 diketahui Lurah dan Camat
      9. Surat kuasa apabila dikuasakan diatas materai Rp. 6000
      10. Tembusan surat permohonan rekomendasi tersebut ditujukan kepada:
        1. Kepala Badan Perencanaan Daerah Setempat
        2. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Sosial Setda Setempat
        3. Kepala Dinas Permukiman Setempat
        4. Kepala Dinas Pertanahan Setempat
        5. Kepala Kantor Pengendalian Lingkungan Hidup Setempat
        6. Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda Setempat
        7. Kepala Bagian Hukum Setda Setempat
        8. Kepala Kantor Pelayanan Satu Atap Setempat 
  2. Mengajukan permohonan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dengan cara mengisi formulir surat Izin Mendirikan Bangunan yang ditujukan kepada walikota/bupati dengan Cq. Kepala dinas permukiman. Terdapat beberapa berkas-berkas yang harus dilengkapi meliputi:
  3. Foto kopi KTP yang masih berlaku sebanyak dua rangkap
  4. Foto kopi Surat Kepemilikan Tanah sebanyak dua rangkap
  5. Foto kopi pembayaran PBB tahun terakhir (STTS) sebanyak dua rangkap
  6. Surat pemberitahuan tidak keberatan dari tetangga (asli atau foto kopi dua     rangkap)
  7. Gambar rencana bangunan sebayak lima rangkap, meliputi:
    1. Denah, tampak dan potongan skala (1 : 100; 1 : 200)
    2. Bak sampah, saluran, septic tank
    3. Gambar situasi skala (1 : 1000; 500)
  8. Surat kuasa/pernyataan dari pemilik tanah bila tanah tersebut milik orang lain (asli/satu rangkap)
  9. Gambar dan perhitungan konstruksi (untuk bangunan bertingkat) sebanyak dua rangkap
  10. Surat pernyataan kesanggupan mematuhi ketentuan teknis sebanyak dua rangkap
  11. Rekomendasi walikota/ijin lokasi
  12. Gambar site plan sebanyak dua rangkap
  13. BA TPU (untuk perumahan) sebanyak dua rangkap
  14. Surat keterangan perolehan dan penggunaan tanah dari dinas pertanahan kota Bogor sebanyak dua rangkap
  15. SPPL, UKL dan UPL yang disyahkan oleh Kantor Lingkungan hidup Setempat sebanyak dua rangkap
  16. Rekomendasi dari Kantor Kesbang (bila untuk tempat hiburan) sebanyak dua rangkap
  17. SK IMB dan Gambar bangunan terdahulu (bila bermaksud memperluas bangunan sebanyak dua rangkap
  18. Mengajukan Permohonan Izin Gangguan dengan persyaratan sebagai berikut:
    1. Foto kopi KTP
    2. Foto kopi Lunas PBB tahun terakhir
    3. Foto kopi Bukti kepemilikan tanah dan perjanjian kesepakatan dengan pemilik bangunan
    4. Foto kopi Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
    5. Foto kopi Akta Pendirian Perusahaan untuk perusahaan yang berbadan hukum
    6. Surat pernyataan tidak keberatan dari warga sekitar perusahaan (diktahui RT/RW)
    7. Rekomendasi dari instansi terkait sesuai dengan izin kegiatan usaha
  19. Mengisi formulir surat pernyataan kesanggupan mematuhi ketentuan teknis, yang terdiri dari:
    1. Ketentuan teknis yang meliputi antara lain:
    2. Peruntukan / zoning
    3. Garis Sempadan (GSB, GSS, GSP)
    4. Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
    5. Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
    6. Membangun sesuai dengan gambar rencana bangunan yang telah disyahkan
    7. Tidak membangun terlebih dahulu sebelum SK IMB yang dimohon terbit
    8. Lokasi bangunan, Kelurahan dan Kecamatan
  20. Membuat Tanda Daftar Industri (TDI) dengan persyaratan :
    1. Mengisi formulir permohonan tanda daftar industri (PDFI IK)
    2. Foto kopi KTP pemilik/penanggung jawab perusahaan
    3. Foto kopi NPWP
    4. Foto kopi Akta Pendirian Perusahaan dan Perubahan bagi yang berbadan hukum
    5. Izin tetangga
    6. Surat keterangan domisili perusahaan yang dikeluarkan oleh Kelurahan/Desa/Izin Gangguan
    7. Surat pernyataan Pengelolaan Lingkunagn (SPPL)
    8. Surat pernyataan bersedia mengurus HO/IMB atau Peraturan Perundang-undangan lainnya yang dipersyaratkan

Prosedur permohonan Tanda Daftar industri terdiri dari hal-hal berikut.

  1. Pemohon mengajukan Surat Permohonan melaui KPSA dengan melampirkan persyaratan
  2. Petugas loket meneliti kelengkapan berkas dan mencatat pada buku register
  3. Pemrosesan TDI
  4. Peninjauan Lapangan
  5. Penerbitan TDI di Kandep Perindag
  6. Pemohon mengambil keputusan izin di Loket Penyerahan Izin

Waktu penyelesaian permohonan Tanda Daftar Industri adalah 12 hari kerja terhitung sejak permohonan diterima secara lengkap.

  1. Membuat Surat Izin Usaha Perdagangan Kecil (SIUP Kecil) dengan persyaratan :
    1. Mengisi formulir permohonan untuk mendapatkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).
    2. Persyaratan administrasi :
    3. Foto kopi KTP Pemilik/Penanggung Jawab Perusahaan
    4. Foto kopi NPWP
    5. Materai Rp. 6000,- (3 lembar)
    6. Surat keterangan domisili perusahaan/izin gangguan
    7. Pas foto ukuran 3 x 4 (3 lembar)
    8. Neraca awal
    9. Surat pernyataan tidak akan melakukan kegiatan yang menyimpang dari SIUP
    10. Surat pernyataan bersedia mengurus HO
    11. Foto kopi Akta Notaris Pendirian Perusahaan yang telah didaftarkan pada pengadilan negeri bagi persekutuan komanditer (CV, Firma)
    12. Foto kopi Akta Pendirian Koperasi yang telah mendapatkan pengesahan dari instansi berwenang bagi koperasi
    13. Foto kopi Akta Notaris Pendirian Perusahaan bagi Perseroan terbatas (PT)
    14. Foto kopi Surat Keputusan Pengesahan Badan Hukum dari Menteri Kehakiman bagi Perseroan Terbatas (PT) atau foto kopi Akta bukti pendirian Perseroan dan foto kopi bukti setor biaya administrasi pembayaran proses pengesahan Badan Hukum dari Departemen Kehakiman

Hal yang perlu diperhatikan dalam syarat-syarat administrasi diatas adalah:

  • Foto kopi dokumen harus dilampiri aslinya guna penelitian
  • Point a s/d h : untuk Perusahaan Perorangan
  • Point a s/d i : untuk perusahaan yang berbadan hukum (PT, CV, FIRMA dan Koperasi)

Adapun prosedur permohonan Surat Izin Usaha Perdagangan Kecil (SIUP Kecil) terdiri dari:

  1. Pemohon mengajukan surat permohonan melalui KPSA dengan melampirkan persyaratan.
  2. Petugas loket meneliti kelengkapan berkas dan mencatat pada buku register.
  3. Pemrosesan SIUP dan berita acara pemeriksaan perusahaan.
  4. Penerbitan SIUP di Kandep Perindag.
  5. Pemohon mengambil SIUP di loket penyerahan izin.

Waktu penyelesaian permohonan Surat Izin Usaha Perdagangan Kecil (SIUP Kecil) adalah 5 hari kerja sejak permohonan diterima lengkap.

Setelah calon pemilik usaha memenuhi syarat-syarat tersebut, maka selanjutnya adalah calon pemilik mengajukan seluruh syarat permohonan pendirian usaha ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat. Adapun syarat-syarat pendirian usaha yang harus dipenuhi oleh calon pemilik usaha adalah sebagai berikut:

  1. Syarat-syarat mendirikan usaha bagi usaha yang berbadan hukum (PT dan CV) adalah:
    1. Foto kopi akte pendirian
    2. Foto kopi KTP (penanggung jawab)
    3. Foto kopi HO / izin gangguan
    4. Foto kopi domisili usaha
    5. Pas foto 3 x 4 sebanyak dua buah
    6. Materai Rp. 6000,- sebanyak tiga lembar
  2. Syarat-syarat mendirikan usaha bagi usaha perorangan adalah:
    1. Foto kopi KTP pemilik
    2. Foto kopi HO
    3. Foto kopi domisili usaha
    4. Pas foto 3 x 4 sebanyak dua buah
    5. Materai Rp. 6000,- sebanyak tiga lembar

Selain hal tersebut, pada perusahaan yang bergerak di bidang hortikultura, ada perizinan yang harus didapatkan oleh calon pengusaha sebagai berikut.

  1. Persetujuan prinsip usaha budidaya tanaman hortikultura.
  2. Izin pemasukan bibit tanaman hortikultura (jika kegiatan perusahaan tersebut menyangkut pemasukan (import) benih/ bibit tanaman hias)

Dilain pihak prosedur untuk memperoleh perizinan/ persetujuan prinsip usaha budidaya tanaman pangan dan hortikultura adalah sebagai berikut.

  1. Mengajukan proyek proposal atau rencana usaha kepada dinas pertanian tanaman pangan propinsi Dati I setempat untuk memperoleh rekomendasi.
  2. Menyampaikan permohonan persetujuan prinsip yang ditujukan kepada menteri pertanian c.q. Direktur Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura, Jakarta. Permohonan ditandatangani oleh Direktur utama atau salah seorang Direktur perusahaan dengan tembusan kepada Direktur Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil, Ditjen Tanaman Pangan dan Hortikultura dan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Dati I lokasi yang dimohonkan.
  3. Permohonan dilampiri dengan syarat-syarat berikut.
    1. Akte pendirian perusahaan dari notaris dan perubahan-perubahannya (kalau ada) serta pengesahan akte pendirian perusahaan dari menteri kehakiman.
    2. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) Perusahaan
    3. Status lahan yang digunakan/dimohon (pencadangan lahan, HGU, sertifikat, rekomendasi atau informasi lahan/pengarahan lahan untuk budidaya dari bupati atau walikotamadya)
    4. Proyek proposal atau rencana usaha yang telah disetujui/dilegalisir oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Dati I setempat.
    5. Rekomendasi dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Dati I setempat.
    6. Surat pernyataan perusahaan yang ditandatangani oleh direktur utama atau salah satu direktur perusahaan di atas materai.

Berikut adalah alur cara memperoleh permohonan persetujuan usaha budidaya tanaman pangan dan hortikultura.

Prosedur Permohonan Persetujuan Prinsip Usaha Budidaya Tanaman Pangan dan Hortikultura
Prosedur Permohonan Persetujuan Prinsip Usaha Budidaya Tanaman Pangan dan Hortikultura

Kebijakan Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura 

Strategi Pengembangan Produksi Hortikultura 

Pengembangan produksi hortikultura secara umum menekankan pada peningkatan produktivitas, mutu produk dan total produksi pada sentra produksi dan wilayah pengembangan sesuai perwilayahan komoditas bagi komoditas unggulan nasional dan unggulan daerah. Secara rinci strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut.

  1. Pembinaan Produksi Komoditas Unggulan
  2. Perwilayahan Komoditas untuk Pengembangan Kawasan Agribisnis
  3. Penumbuhan Sentra Produksi
  4. Pemantapan Sentra Produksi dengan Pembinaan Penerapan Teknologi Maju
  5. Pembinaan Pengamanan Hasil, Mutu dan Keselamatan Produk.
  6. Pengembangan Sistem Perbenihan Nasional
  7. Perlindungan Tanaman Hortikultura
  8. Pembinaan Kelembagaan Agribisnis 

Strategi Pengembangan Agribisnis Tanaman Hias

Pengembangan produksi tanaman hias dilakukan dengan penerapan teknologi dan manajemen usaha, sehingga mampu menghasilkan produk/jenis yang sesuai dengan selera konsumen. Kegiatan ini dilakukan dengan pembinaan kelembagaan petani penyediaan informasi teknologi produksi dan informasi pasar.

Sedangkan menurut Rachmat (2000) sesuai dengan potensinya, maka tanaman hias berpotensi sebagai sumber pertumbuhan baru sektor pertanian yang mencakup  hal-hal sebagai berikut.

  1. Pengembangan Industri Benih
  2. Pengembangan Sistem Usaha Tanaman Hias
  3. Dukungan Penunjang Ekspor
  4. Dukungan Litbang Pertanian Dalam Pengembangan Tanaman Hias

Glossary Prospek dan Pemasaran Bunga Potong

bunga potong, anggrek, florist jakarta, bibit bunga, bunga gerbera, jual bunga potong, supplier bunga potong, harga buket bunga, jual bunga, bunga papan, harga bunga mawar, supplier bunga, jenis bunga potong, florist bandung, distributor bunga potong, harga bunga, karangan bunga, bisnis bunga potong, bunga plastik, jual bunga mawar, jual bunga potong online, jual bunga potong segar, supplier bunga potong impor, bunga duka cita, bunga potong segar, bibit bunga mawar, harga karangan bunga, jual bunga mawar potong murah, bibit bunga potong, tanaman hias, usaha bunga segar, pesan bunga online, merangkai bunga, jual bunga online,

tanaman hias bunga, bunga online, cara menanam bunga mawar potong, budidaya bunga krisan, beli bunga online, bunga hias, jenis tanaman hias, cara merangkai bunga, tanaman bunga, pot bunga, buket bunga wisuda, bunga adenium, bunga artificial, budidaya tanaman hias, bisnis bunga segar, buket bunga, taman safari, jual bibit bunga mawar potong, harga rangkaian bunga, bunga wisuda, boneka wisuda, tanaman hidroponik, usaha bunga potong, tanaman bonsai, grosir bunga potong segar, bibit bunga gerbera, buket bunga mawar, bunga tangan, harga bunga krisan, rangkaian bunga, buket bunga murah, budidaya bunga, gubahan bunga,

bunga gantung, budidaya bunga potong, toko bunga potong, jenis jenis bunga potong, budidaya bunga mawar potong, bunga anggrek, tanaman pengusir nyamuk, jenis jenis bunga, bunga tangan pengantin, bunga matahari, jual mawar potong, bisnis bunga, tanaman hias potong, kirim bunga, bunga anggrek bulan, buket bunga kertas, bunga melati, jenis mawar potong, macam macam bunga, buket, toko bunga mawar, bunga kaktus, bunga murah, cara menanam bunga krisan potong, tanaman air, jenis tanaman, tanaman langka, kota bunga, macam macam bunga mawar, jenis bunga, bunga kamboja jepang, jenis bunga krisan, bunga rose, bisnis bunga mawar,

bunga mawar merah, bunga lily, supplier bunga segar, bunga mawar hitam, bunga krisan, bunga mawar biru, grosir bunga potong, jual bunga murah, bunga anthurium, tanaman hias bunga gerbera, bunga gelombang cinta, bunga sedap malam, bunga cantik, bunga bunga, bunga lavender, bunga kamboja, kirim bunga online, bunga mawar potong, bunga mawar, tanaman hortikultura, mawar potong, cara mengawetkan bunga segar, tanaman gerbera, pengertian tanaman hias, mengawetkan bunga, bunga langka, budidaya bunga krisan potong, bunga aglonema, bunga, bunga bonsai, tanaman mawar, bunga dahlia, puisi bunga, bunga lili, bunga segar, bunga cempaka, bunga kenanga, bunga mawar putih, bibit bunga mawar potong,

cara mengawetkan bunga mawar potong, bunga ros, bunga bunga cantik, bunga indah, bunga asoka, gambar bunga cantik, bunga bakung, bunga teratai, cara menanam bunga, bunga kembang sepatu, gambar bunga ros, gambar tanaman, gambar bunga raya, bunga rangkai, bunga kertas, nama bunga, gambar bunga anggrek, bunga pengantin, bunga daisy, bunga tulip, foto bunga mawar, gambar bunga, gambar bunga mawar, bunga tanjung, bunga edelweis, bunga sakura,

contoh gambar bunga, potong, bunga sepatu, bunga abadi, bunga seroja, bunga bangkai, taman bunga, bunga mawar pink, gambar bunga melati, foto bunga, taman nasional, gambar bunga matahari, bunga rampai, bunga rafflesia, gambar bunga tulip, bunga citra lestari, gambar bunga kamboja, gambar bunga sepatu, gambar bunga bangkai, bunga raflesia, bunga layu, gambar bunga teratai, bunga nusa indah, bunga zainal, foto bunga sakura, bunga cengkeh, fungsi bunga, bagian bunga, bunga terakhir, bunga segar tahan lama, taman rekreasi, bunga melati putih,

cara memperbanyak bunga krisan, cara merangkai bunga hidup, buket mawar, aneka bunga mawar, gambar bunga bunga, hadiah bunga, tanaman nilam, allescia bunga potong, bunga kantong semar, bireuen, beli bunga potong, tanaman kaktus, animasi bunga, rangkaian bunga segar, tanaman lidah buaya, gambar bunga raflesia, supplier mawar potong, merangkai bunga segar, foto bunga tulip, bunga anggrek hitam, cara merangkai bunga potong, macam2 bunga hias,

Bunga florist, supplier bunga potong di bali, bunga kumis kucing, bunga taman, tanaman transgenik, gambar buket bunga, cara mengawetkan bunga hidup, anyelir, bunga merah, bunga mawar ungu, bunga euphorbia, cara budidaya bunga mawar potong, bunga tulip belanda, cara merawat bunga, foto taman bunga, jual bunga segar, bunga anggrek langka, gambar bunga dahlia, bunga hidup, bunga potong online, pokok bunga, foto bunga cantik, bojong, tanaman anti nyamuk, buket bunga matahari, anthurium bunga potong, karangan bunga mawar, kebun bunga mawar, deskripsi bunga mawar, bunga segar murah, gambar bunga sempurna,

tanaman hias gerbera, gambar karangan bunga, buket bunga pernikahan, bunga unik, supplier bunga import, bunga lili putih, distributor bunga segar, bunga citra, budidaya bunga aster, cara budidaya tanaman hias, download gambar bunga, buket bunga plastik, pemuliaan tanaman, bunga bunga indah, membuat bunga, gambar bunga lavender, harga bunga potong, tanaman bunga krisan, tutorial membuat buket bunga mawar, cara menanam tanaman hias, foto bunga mawar merah, gambar bunga hias, gambar bunga lengkap, cara mengawetkan bunga,

pengawet bunga, tanaman kamboja, bunga mawar layu, buket bunga cantik, buket bunga valentine, budidaya bunga anggrek, menanam bunga, bunga hiasan meja, bunga jagung, harga bunga gerbera, bunga lestari, cara membungkus bunga, cari bunga mawar, bunga mawar cantik, buket mawar merah, penyakit tanaman, pengawet bunga potong, cara penanggulangan sampah, supplier bunga jakarta, bouquet bunga mawar, bunga mawar kuning, gambar bunga krisan, foto bunga matahari, bunga eforbia, merawat bunga mawar, cara membuat buket bunga mawar, jenis2 bunga, bunga indonesia, merangkai bunga mawar, bunga mawar indah,

supplier bunga potong jakarta, foto bunga terindah di dunia, buket bunga asli, bisnis karangan bunga, bunga bungaan, supplier bunga potong malang, gambar bunga bakung, gambar bunga valentine, budidaya tanaman hias bunga, bunga natal, bunga mawar langka, bentuk bunga, jual bunga potong jakarta, pengertian budidaya tanaman hias, bunga hati, importir bunga segar, kertas buket bunga, budidaya bunga melati, buket bunga besar, buket mawar putih, foto bunga teratai, foto bunga sepatu, grosir bunga mawar segar,

cara merawat bunga mawar agar tidak layu, bisnis bunga hidup, cinta bunga lestari, bunga potong jakarta, pembibitan bunga aster, foto bunga indah, foto buket bunga, foto bunga mawar putih, buket bunga lily, florist bunga, pemasok bunga segar, bunga potong bandung, bunga anggrek putih, makalah budidaya tanaman hias, bunga import jakarta, tutorial buket bunga, pengertian bunga mawar, supplier bunga mawar, bunga air, buket bunga lili, harga bunga krisan per tangkai, perawatan bunga mawar, buket bunga krisan, daftar nama bunga, daftar harga bunga potong, seikat bunga mawar, benih bunga aster, foto bunga edelweis, deskripsi bunga anggrek, bunga peacock, gambar bunga langka, cinta bunga, bahaya sampah, foto bunga raflesia, contoh buket bunga, bunga import, gambar bunga kaktus, bunga mawar asli,

perkebunan bunga, bunga bagus, kado bunga mawar, cara budidaya bunga aster, bunga mawar amsterdam, teknik budidaya tanaman hias, bunga plastik hiasan, bunga flower, membuat buket bunga, buket bunga artificial, bunga tulip merah, bunga di indonesia, cara merangkai buket bunga mawar, bunga fresh, pengertian tanaman hias bunga, perkebunan bunga mawar, bahan buket bunga, petani bunga, hadiah bunga mawar, sentra bunga florist, bunga mawar segar,

parcel bunga mawar, supplier bunga potong di malang batu, bunga kembang, bunga mawar harga, cara menanam bunga aster, merawat bunga aster, tentang bunga, bunga mawar hidup, berbagai jenis bunga, bunga potong malang, bunga mawar import, budidaya aster, bunga bunga langka, harga bunga potong 2016, bunga mawar buket, harga bunga mawar potong, cara merawat bunga potong, kiriman bunga mawar, hantaran bunga segar, cara mengawetkan bunga mawar,

cara menanam bunga aster dalam pot, buket bunga hidup, buket bunga aster, bunga jeruk, cara merangkai buket bunga segar, foto bunga tercantik, usaha buket bunga, artikel bunga mawar, pembungkus buket bunga, agen bunga mawar, 1 buket bunga, bunga dalam vas, gambar bunga segar, bunga bunga hias, buket bunga kotak, air bunga mawar, cara mengawetkan bunga mawar agar tidak layu, buket bunga unik, distributor bunga mawar, menanam bunga aster, satu buket bunga, bunga tahan lama, teh bunga mawar, foto buket bunga mawar, kultur jaringan tanaman,

buket bunga sederhana, 1 buket bunga mawar, cara penanaman bunga, buket bunga mawar asli, buket bunga simple, petani bunga mawar, usaha bunga mawar, buket bunga mawar flanel, karangan bunga romantis, membuat karangan bunga, bunga mawar holland, cara agar bunga tidak layu, merangkai buket bunga, bunga mawar mekar, bunga bunga di indonesia, vas bunga mawar, membuat bunga mawar, allesscia bunga potong bali, satu buket bunga mawar, jenis bunga bunga, importir bunga, buket bunga hydrangea, jenis bunga yang tahan lama, harga mawar potong, batang bunga mawar, buket bunga mawar dari flanel, bunga mawar kuncup,

kuncup bunga mawar, bunga hidup tahan lama, macam macam bunga potong, buket bunga imitasi, pot bunga mawar, cara buket bunga, bunga mawar satuan, bunga mawar lokal, karangan bunga matahari, bunga bunga segar, buket bunga gerbera, bertanam bunga mawar, cara merawat bunga sedap malam dalam vas, cara merawat bunga mawar potong, pertumbuhan bunga mawar, gerbera bunga, lazada bunga mawar, bunga mawar bouquet, bunga hidup dalam air, cara menghias bunga hidup, bunga lokal indonesia, bunga bunga indonesia, macam bunga potong,

penanaman bunga mawar, foto bunga cinta lestari, bunga mawar hadiah, bcl, rangkaian bunga potong, karangan bunga kertas, cara merawat bunga sedap malam di vas, bunga floral, bunga mawar kado, cara merawat bunga mawar dalam vas, pengertian bunga potong, pemberian bunga mawar, bunga dalam air, tips bunga segar tahan lama, bunga lokal, foto bcl terbaru, kerangka bunga mawar, bunga bunga wangi, nama lain dari vas bunga, cara mengawetkan mawar, vas bunga hidup,

bunga mawar mati, hiasan bunga bunga, cara merawat bunga hidup, foto bunga segar, jambangan bunga mawar, perkembangan bunga mawar, bunga segar tahan berapa lama, berapa lama bunga mawar bertahan, cara menjaga bunga ros hidup, bunga awet, contoh bunga potong, bunga hati florist, varietas gerbera, Prospek dan Pemasaran Bunga Potong