Last Updated:
Pestisida
Pestisida www.pustakadunia.com

Makalah Pestisida : Lengkap dan Jelas

Salah satu aplikasi dari teknologi pertanian adalah penggunaan pestisidaMakalah pestisida ini akan membahas secara rinci tentang pestisida, kegunaan, jenisnya, bahaya pestisida hingga usaha yang terkait dengan pestisida. Selamat Membaca

Pendahuluan : Makalah Pestisida

Dalam pelaksanaan pembangunan nasional, Indonesia melakukan berbagai program dan strategi untuk memenuhi kebutuhan pokok penduduk terutama kebutuhan produk pertanian yang meliputi sandang, pangan, dan papan melalui program ekstensifikasi, intensifikasi, dan diversifikasi. 

Dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai 210 juta orang, maka semakin besar tantangan pembangunan pertanian di Indonesia ini dalam upaya pencapaian swa sembada produk pertanian. 

Inovasi dan Teknologi baru terus dikembangkan dan diaplikasikan sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembangunan nasional khususnya pembangunan pertanian. 

Salah satu unsur pendukung untuk mensukseskan pembangunan pertanian tersebut adalah penggunaan pestisida sebagai upaya dalam perlindungan terhadap komoditi pertanian baik yang dibudidayakan di lapangan untuk mendapatkan produksi secara optimal maupun pada produk penyimpanan untuk menjaga kuantitas dan kualitas komoditi yang disimpan. 

Namun demikian penggunaan pestisida sebenarnya tidak hanya terbatas pada pertanian baik pertanian dalam arti khusus  (seperti tanaman pangan, hortikultura, perkebunan) maupun dalam arti luas (termasuk kehutanan, peternakan, perikanan, dan karantina), tetapi dapat juga digunakan untuk bidang lain seperti dalam bidang kesehatan lingkungan, pekerjaan umum, perumahan, perhubungan, perhotelan, dan lain-lain.

Tumbuhan/tanaman memberikan sumber utama nutrisi baik langsung maupun tidak langsung bagi manusia, hewan dan organisme-organisme lain yang tidak terhitung jumlahnya. 

Seiring dengan pergeseran pola tanam ke arah monokultur dan terjadi pembukaan-pembukaan lahan pertanian baru yang secara langsung maupun tidak langsung telah menurunkan tingkat keragaman organisme di tempat tersebut, yang akan menghasilkan penumpukan sumber makanan bagi sebagian serangga yang pada akhirnya akan terjadi persaingan khususnya antara manusia dengan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Kasus-kasus peledakan serangan OPT yang dilaporkan dalam berbagai media menunjukkan bahwa permasalahan serangan OPT dapat terjadi di mana dan kapan saja.

Hal ini memberikan resiko tersendiri dalam berusaha tani atau kegiatan lain yang sangat rentan akan serangan OPT baik di lapangan, gudang maupun tempat lain seperti perumahan dan pekerjaan umum.

Kehilangan produksi pertanian rata-rata per tahun di lapangan akibat serangan OPT dapat mencapai 30-40%. 

Nilai kerusakan atau kehilangan produk pertanian tersebut akan bertambah besar jika kerusakan selama penanganan pasca panen ikut serta diperhitungkan baik kehilanagan karena serangan OPT maupun akibat penanganan teknis lainnya seperti penyortiran, pengepakan, transportasi dan lain-lain. Hal ini akan sangat merugikan baik ditinjau dari segi kualitas maupun kuantitas produk pertanian yang dihasilkan. 

Baca Juga: Artikel tentang beras organik

Untuk itu menjaga mutu dan jumlah produk pertanian baik di lapangan maupun di gudang merupakan tindakan yang sangat penting agar tidak terjadi kehilangan hasil yang sangat besar yang pada akhirnya akan merugikan produsen baik secara finansial maupun waktu sehingga sering kegiatan pertanian dianggap tidak efisien dan tidak produktif.  Dari hal seperti ini, penggunaan bahan-bahan perlindungan (protectant agents) termasuk pestisida sangat diperlukan.

Kemudian, pada era sekarang semakin banyak orang yang ingin hidup lebih sehat dan asri baik di rumah maupun di tempat-tempat pelayan publik. 

Ini sangat berkaitan dengan penilaian masyarakat umum terhadap tempat-tempat dimana mereka berada. 

Hotel-hotel berbintang mempertaruhkan reputasinya untuk menjaga lingkungannya agar bebas organisme pengganggu seperti kecoa dan nyamuk.

Demikian juga dengan restoran-restoran akan mempertahankan kebersihan lingkungannya sehingga serangga-serangga pengganggu di rumah tangga (urban insect pests) seperti lalat dan kecoa tidak mengganggu pengunjung yang datang. 

Belum lagi kantor-kantor besar dan perpustakaan yang menyimpan arsip-arsip penting akan memberikan perhatian yang lebih agar bahan-bahan simpanan tersebut tidak rusak karena serangan OPT. 

Demikian juga perumahan-perumahan (terutama peruamahan mewah) terus meningkatkan kualitas lingkungannya agar bangunan yang dihuni dan taman tidak terserang OPT seperti rayap. 

Tindakan perlindungan sangat diperlukan.  Ini menunjukkan bahwa pestisida diperlukan tidak hanya untuk kepentingan dunia pertanian, tetapi juga untuk bidang lain yang sangat berkaitan erat dengan kehidupan orang banyak. 

KARAKTERISTIK PESTISIDA

Pada bagian tulisan ini akan membahas tentang karakteristik pestisida secara detail mulai dari :

  • Bahan Aktif Pestisida
  • Bahan Aktif Pestisida Sintetik
  • Bahan Aktif Non Sintetik
  • Jenis - Jenis Pestisida
  • Penggolongan Pestisida Menurut Fungsinya
  • Penggolongan Pestisida Menurut Susunan Kimia
  • Penggolongan Pestisida Menurut Tingkat Toksisitas
  • Aturan Tentang Ukuran dan Kemasan Pestisida
  • Kualitas Pestisida
  • Jenis Industri Pestisida

Bahan Aktif Pestisida

Pestisida adalah zat kimia, jasad renik, virus, atau bahan lainnya yang digunakan untuk berbagai kebutuhan pertanian, antara lain mengendalikan dan mencegah hama, memberantas rumput-rumputan (gulma), mengatur pertumbuhan tanaman yang bertujuan agar tanaman mencapai produktivitas optimal.

Bahan aktif pestisida merupakan bahan utama yang memberikan aktivitas biologi pada organisme sasaran. 

Bahan aktif dapat memberikan efek kematian pada organisme sasaran seperti beberapa insektisida, herbisida, dan akarisida, efek statis atau penghambatan pertumbuhan seperti pada fungisida dan insektisida, dan dapat pula mempengaruhi aspek fisiologis organisme sasaran seperti pada insektisida. 

Bahan aktif ini yang menunjukkan apakah suatu pestisida efektif atau tidak dalam aplikasinya. 

Secara garis besar bahan aktif pestisida digolongkan menjadi beberapa golongan berdasarkan kandungan bahan kimia utamanya, yaitu bahan aktif sintetik dan bahan aktif non sintetik. 

Bahan aktif pestisida sintetik

Sebagian besar pestisida yang beredar mempunyai bahan aktif yang tergolong bahan aktif sintetik. 

Bahan aktif sintetik ini biasanya digolongkan berdasarkan kelompok senyawa seperti golongan hidrokarbon berklor, organofosfat, karbamat, dipiridium, arsenik, antikoagulan dan lain-lain yang biasanya dalam golongan yang sama akan menunjukkan aktivitas biologi yang sama. 

Bahan aktif pestisida non sintetik

Bahan aktif non sintetik terdiri dari golongan nabati/botani, mikroorganisme dan lain-lain. Bahan aktif non sintetik belum banyak berkembang kecuali yang berasal dari bakteri Bacillus thuringiensis.

Beberapa strain bakteri ini telah ditemukan dan di Indonesia sendiri telah beredar lebih kurang 15 jenis produk komersial. 

Belakang ini telah  berhasil dikembangkan bahan aktif non sintetik dari kelompok cendawan yaitu Beauvaria bassiana, yang dipasarkan dengan nama dagang Bevaria P .

Jenis - Jenis Pestisida

 Jenis pestisida dapat dibedakan berdasarkan.

  1. Penggolongan pestisida menurut fungsinya.
  2. Penggolongan pestisida menurut susunan kimia.
  3. Penggolongan pestisida menurut tingkat toksisitas.

Penggolongan Pestisida Menurut Fungsinya

Penggolongan berdasarkan fungsinya dikaitkan dengan aktivitas biologi pestisida terhadap organisme sasaran. Untuk itu digolongkan menjadi.

  • Insektisida yaitu pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama.
  • Fungisida yaitu pestisida untuk mengendalikan kapang (cendawan).
  • Herbisida yaitu pestisida untuk mengendalikan gulma atau tanaman penggangu lainnya.
  • Rodentisida yaitu pestisida yang digunakan untuk mengendalikan binatang pengerat seperti tikus.
  • Nematisida yaitu pestisida untuk mengendalikan nematoda atau cacing.
  • Moluskisida yaitu pestisida untuk mengendalikan binatang lunak seperti siput.
  • Akarisida yaitu pestisida untuk pengendalian tungau
  • Algisida yaitu pestisida untuk pengendalian alga atau ganggang
  • Zat Pengatur Tumbuh.

Penggolongan Pestisida Menurut Susunan Kimia

Berdasarkan komposisi kimia bahan aktif, pestisida dapat digolongkan menjadi.

  1. Golongan senyawa anorganik, misalnya: senyawa-senyawa arsenit, arsenat, merkuri, belerang, dan lain-lain.
  2. Golongan senyawa organik terdiri dari 2 jenis yaitu senyawa golongan organik alami/non sintetik dan senyawa golongan organik sintetik. Contoh golongan senyawa organik alami adalah: nikotin, piretrin, rotenone, azadirakhtin, dan lain-lain. Sedangkan golongan organik sintetik seperti  organofosfat, karbamat, piretroid, hidrokarbon berklor, dan lain-lain.

Penggolongan Pestisida Menurut Tingkat Toksisitas.

Penggolongan berdasarkan tingkat toksisitasnya dimaksudkan untuk menunjukkan tingkat bahaya pestisida bersangkutan.  Biasanya nilai lethal dose, LD50 (jumlah senyawa kimia yang dapat mematikan populasi sebanyak 50 %, umumnya dinyatakan dalam ppm) digunakan untuk menilai tingkat bahaya pestisida tersebut. 

Semakin kecil nilai LD50 menunjukkan makin tinggi tingkat atau daya racun pestisida tersebut.  Berdasarkan LD50, pestisida digolongkan menjadi.

  • Tingkat I : Oral LD50 < 50 mg/kg, inhalasi LD50 < 0,2 mg/l, dermal LD50< 200mg/kg, korosif pada mata dan kulit, penyempitan pupil mata tidak sembuh dalam 7 hari.
  • Tingkat II : Oral LD50 = 50 –500 mg/kg, inhalasi LD50 = 0,2 – 2 mg/l, dermal LD50=200 – 2000 mg/kg, iritasi pada mata selama 7 hari, iritasi pada kulit dalam 72 jam, penyempitan pupil mata sembuh dalam 7 hari.
  • Tingkat III : Oral LD50 = 500 – 5000 mg/kg, inhalasi LD502 – 20 mg/l, dermal LD50 = 2000 – 20.000 mg/kg, tidak menyebabkan penyempitan pupil mata, iritasi mata sembuh dalam 7 hari, iritasi sedang pada kulit dalam 72 jam.
  • Tingkat IV : Oral LD50 > 5000 mg/kg, inhalasi LD50> 20 mg/l, dermal LD50> 20.000 mg/kg, tidak menyebabkan iritasi pada mata tetapi menyebabkan iritasi ringan pada kulit dalam 72 jam.

Aturan Tentang Ukuran dan Kemasan Pestisida

Pestisida yang telah terdaftar dengan izin sementara atau izin tetap harus ditempatkan dalam kemasan atau wadah. 

Wadah pestisida harus tidak mudah pecah dan robek atau dilindungi wadah lain supaya tidak rusak, tidak bereaksi dengan senyawa pestisida atau korosif, sehingga bahaya terhadap manusia dan lingkungan dapat dihindarkan. 

Setiap wadah harus ditutup atau dilipat dengan baik sehingga tutup atau lipatan itu tidak dapat dibuka tanpa merusaknya kecuali wadah dibuat sedemikian rupa sehingga tanpa merusak tutupnya. 

Semua ketentuan ini telah tertuang dalam sebuah Surat Keputusan Menteri Pertanian. 

Pada kemasan harus diberi keterangan lengkap sehingga tidak meragukan konsumen. 

Spesifikasi wadah harus diuraikan secara lengkap yang mencakup volume, nama dagang, bahan aktif, jenis pestisida, organisme sasaran, tanaman yang dilindungi (jika untuk tanaman), dosis atau konsentrasi, petunjuk jika terjadi keracunan, nama distributor/perusahaan, dan lain-lain. 

Volume wadah dinyatakan dengan satuan yang jelas seperti mililiter, liter, gram, kilogram.  Semua keterangan pada kemasan harus tahan air sehingga tidak mudah luntur.  Keterangan-keterangan itu semua untuk menjamin keamanan dan keefektifan dalam aplikasi pestisida. 

Kualitas Pestisida

­Dalam pengajuan pendaftaran pestisida, beberapa persyaratan baik data-data teknis bahan aktif atau formulasi, juga harus disertakan hasil pengujian efikasi atau keefektifan terhadap organisme sasaran. 

Komisi Pestisida menunjuk sebuah lembaga untuk menguji keakuratan pestisida yang didaftarkan seperti kandungan bahan aktif dalam sebuah formulasi, warna, kekentalan, berat jenis, ketahanan simpan, pH, titik nyala, titik bakar, indeks bias, korosifitas, bau, komposisi formulasi, dan lain-lain. 

Pengujian terhadap organisme sasaran dapat dilakukan pada tingkat laboratorium atau lapangan yang dilakukan oleh institusi independen. 

Hasil pengujian kemudian dilaporkan ke Komisi Pestisida untuk diputuskan apakah pestisida tersebut dapat dipasarkan atau tidak. 

Dengan demikian semua pestisida yang beredar seharusnya mempunyai mutu yang baik karena telah melalui serangkaian pengujian baik sifat fisik, kimia maupun efikasi (keampuhan) pestisida. 

Disamping itu untuk menilai tingkat bahayanya dilakukan pula pengujian untuk menentukan nilai LD50 baik secara oral maupun dermal. 

Jenis Industri Pestisida

Secara garis besar industri pestisida dapat dikelompokkan menjadi  2 golongan yaitu.

  1. Industri manufacturing/bahan aktif yaitu industri yang menghasilkan bahan formula atau bahan aktif pestisida.
  2. Industri formulasi pestisida yaitu industri yang menghasilkan pestisida dari bahan formula tersebut melalui proses produksi.

Industri formulasi atau formulator akan sangat tergantung pada industri manufacturing yang menghasilkan bahan aktif namun sebaliknya industri manufacturing dapat langsung bertindak sebagai formulator. 

Namun untuk produksi berskala besar, industri manufacturing tetap membutuhkan industri formulasi terutama untuk penjualan dengan pasar yang luas antar negara. 

Ekspor dalam bentuk bahan aktif akan lebih jauh efisien dari pada dilakukan dalam bentuk produk jadi/commercial products.

Industri Manufacturing / Bahan aktif pestisida

Pabrik pestisida pertama yang berdiri pada tahun 1985 adalah PT Petrosida Gresik dengan kapasitas produksi pada tahun 1985 sebesar 3 246 ton dan hingga tahun 1988 telah mampu menghasilkan produksi sebanyak 13 300 ton dengan rincian 4 835 produk insektisida, 67 ton produk herbisida dan 4 ton pestisida lainnya. 

Sejak tahun 1990, perusahaan ini telah mampu berproduksi 3 500 ton/tahun.

Di Indonesia hingga tahun 2001 terdaftar sebanyak 317 jenis bahan aktif insektisida.  Bahan aktif pestisida digolongkan menjadi beberapa golongan berdasarkan kandungan bahan kimia utamanya.

Bahan aktif pestisida sintetis.

Bahan aktif pestisida golongan hidrokarbon berklor
  • Dieldrin
  • Endosulfan
  • Khlordan
  • Lain-lain
Bahan aktif pestisida golongan Organofosfat.
  • Diazinon
  • Diklorvos
  • Dimetoat
  • Fention
  • Khlorpirifos
  • Monokrotofos
  • Ethephon
  • Lain-lain
Bahan aktif pestisida golongan karbamat
  • Aldikarb
  • BPMC
  • MIPC
  • Karbaril
  • Karbofuran
  • Methomil
  • Lain-lain
Bahan aktif Pestisida golongan Dipiridilnium
  • Paraquat diklorida
  • Lain-lain
Bahan aktif pestisida golongan Arsenik
  • Arsenic pentoksida dehidrat
  • Arsenik Trioksida.
  • Lain-lain.
Bahan aktif pestisida golongan Antikoagulan
  • Brodifakoum
  • Difacinone
  • Coumakor
  • Lain-lain
Bahan aktif pestisida non sintetis yaitu
  1. Nabati/Botani
  2. Mikroorganisme
  3. Bacillus thringiensis
  4. Lain-lain

Industri Formulasi Pestisida

Industri formulasi pestisida pertama yang didirikan di Indonesia yaitu PT. Bayer pada tahun 1972.

Pada tahun 1985 pabrik formulasi ini berproduksi 53 844 ton, tahun 1987 sebesar 54 524 ton dan tahun 1988 turun menjadi 29 570 ton.

Pada tahun 1992, PT. DuPont mendirikan pabrik formulasi di Indonesia dengan memproduksi beberapa jenis pestiusida seperti insektisida, herbisida dan fungisida.

Seperti telah dikemukakan didepan bahwa formulasi pestisida dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. 

Sebanyak 115 perusahaan mendaftarkan produk pestisida ke pemerintah. 

Tidak semua perusahaan tersebut mempunyai pabrik formulasi untuk produk pestisida yang dipasarkan. 

Lebih kurang hanya 18 perusahaan yang mempunyai pabrik formulasi sehingga banyak perusahaan lain memanfaatkan pabrik-pabrik formulasi tersebut untuk membuatkan formulasi pestisida dengan cara mengontrak. 

Disamping itu tidak semua perusahaan mengimpor dalam bentuk bahan aktif, tetapi banyak yang mengimpor dalam bentuk produk komersial sehingga perusahaan tersebut dapat menjual langsung atau melakukan pengemasan ulang (repacking). 

Titik Kritis

Dalam industri pestisida seperti industri lainnya akan terdapat beberapa pembatas yang dapat menjadi resiko dalam proses industri. 

Beberapa resiko industri pestisida dipaparkan dibawah ini.

Bahan Baku

Semua bahan baku industri manufacturing masih diimpor. Demikian pula sebagian bahan aktif serta bahan tambahan seperti bahan pengemulsi dan bahan pembasah untuk formulasi masih harus diimpor, sehingga ketergantungan terhadap luar negeri masih cukup besar terutama bagi perusahaan yang memformulasi produk-produk milik perusahaan multinasional. 

Sebenarnya dengan berkembang industri kimia lainnya, ketersediaan bahan-bahan ini dapat diatasi sehingga dapat mengurangi impor. 

Ini menunjukkan bahwa industri pestisida tidak dapat berdiri sendiri tetapi harus ada dukungan dari industri lainnya. 

Dengan masih tingginya ketergantungan terhadap impor, maka proses produksi dalam industri pestisida belum ada jaminan untuk kelangsungan kegiatan.

Pemilikan Bahan Aktif

Pada umumnya pemilik/pemegang bahan aktif adalah perusahaan multinasional di luar negeri yang mendominasi pengadaan bahan aktif. 

Biasanya perusahaan multi nasional kurang mendukung terjadinya alih teknologi dan pendirian pabrik manufacturing baru sehingga hal ini akan memberikan tingkat ketergantungan penyediaan bahan aktif pestisida secara terus menerus. 

Ini dapat terjadi karena penjualan bahan aktif relatif lebih menguntungkan dibandingkan dengan penjualan produk komersial. 

Salah satu perusahaan menyatakan margin keuntungan dengan satu tahap proses penyelesaian akhir untuk pembuatan bahan aktif sebesar 50%. 

Ini sangat dimungkinkan karena satu kali penemuan bahan aktif dilakukan secara efisien, maka perusahaan tersebut dapat memproduksi bahan aktif secara terus menerus.  

Disamping itu, produksi bahan aktif relatif tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak dan tempat yang luas. 

Ini sangat berbeda pada saat pestisida akan dibuat formulasi yang membutuhkan tempat-tempat pencampuran yang besar dan gudang-gudang penyimpanan yang luas.

Alih Teknologi

Dengan adanya perusahaan campuran antara PMA dan PMDN diharapkan akan terjadi alih teknologi sehingga PMDN akan mampu mendirikan industri pestisida secara mandiri. 

Namun hal ini sangat sulit dilakukan karena biasanya pekerjaan-pekerjaan utama selain dikerjakan di luar Indonesia, atau kalau di Indonesia dilakukan oleh tim ahli dari negara yang bersangkutan. 

Untuk industri formulasi memang sudah terjadi alih teknologi ini, seperti di PT Agricon Indonesia namun untuk industri pestisida yang menghasilkan bahan aktif masih belum ada. 

Hingga saat ini belum ada industri pestisida PMDN yang menghasilkan bahan aktif yang lazimnya perusahaan manufacturing pestisida.

Seperti diuraikan didepan, untuk mendirikan industri pestisida yang menghasilkan  bahan aktif, selain membutuhkan waktu yang lama dengan dukungan finansial yang kuat, juga diperlukan tenaga ahli yang handal terutama untuk bidang kimia dan alat-alat analitik.

Kemampuan R & D

Industri pestisida perlu didukung oleh suatu kegiatan R & D yang kuat.

Disamping tenaga yang handal, juga diperlukan kerjasama tim (team work) yang solid karena sifat pekerjaanya saling mendukung. 

Pada saat ini belum cukup tersedia tenaga-tenaga ahli Indonesia, dan kurangnya dana dan sarana penunjang pengembangan R & D untuk menemukan jenis-jenis pestisida baru, pestisida yang aman terhadap lingkungan, kemasan yang aman dan lain sebagainya.

Pemasaran

Agresifitas pabrik baik di dalam negeri maupun di luar negeri sulit diperkirakan. Sulitnya perkiraan pasaran dalam negeri terutama disebabkan sulitnya peramalan serangan hama/penyakit tanaman.

Pasaran luar negeri sukar ditembus antara lain karena banyak negara yang melakukan proteksi.

Kemasan Pestisida

Mahalnya harga kemasan menyebabkan perusahaan menggunakan kemasan yang lebih murah sehingga ada kemungkinan tidak tahan lama dalam penyimpanan. 

Persyaratan pembungkusan memang mencantumkan keharusan kemasan yang kuat agar baik dalam transportasi dan penyimpanan tidak mudah bocor atau memberikan bau yang tajam. 

Kebanyakan pestisida dikemas dalam wadah metal seperti alumunium, wadah gelas, plastik atau bahkan kertas tergantung jenis fisik formulasi. 

Spesifikasi khusus wadah memang tidak ada namun diharuskan yang kuat dan tidak mudah bocor atau pecah.

Limbah Industri

Limbah industri pestisida pada umumnya mengandung bahan beracun dan berbahaya, maka diperlukan penanganan khusus agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan baik di dalam maupun di luar pabrik.

Penanganan limbah bahan beracun dan berbahaya tersebut menggunakan teknologi khusus yang memerlukan investasi/biaya cukup besar dan dengan hasil harus memenuhi persyaratan nilai baku mutu serta harus dilakukan pengawasan secara terus menerus.

Pemalsuan Pestisida

Di beberapa daerah terdapat kasus-kasus pemalsuan pestisida. 

Pemalsu mengedarkan pestisida palsu dengan kemasan dan ukuran yang sangat sukar dibedakan dengan pestisida palsu. 

Kasus pemalsuan ini selain merugikan konsumen juga produsen. 

Kerugian produsen dapat dikategorikan menjadi dua yaitu (1) segi finansial akan mengalami kerugian karena barang palsu akan dijual lebih murah dibandingkan dengan asli sehingga jumlah barang terjual akan menurun dan (2) produk tersebut dalam jangka waktu tertentu tidak akan digunakan lagi oleh konsumen. 

Hal ini disebabkan pada saat konsumen menggunakan pestisida palsu, mereka tidak mengerti kalau produk yang digunakan adalah palsu. 

Konsumen hanya menilai bahwa pestisida yang digunakan tidak efektif sehingga memberikan penilaian yang buruk terhadap pestisida tersebut.

Langkah penanggulangan terhadap pemalsuan pestisida dilakukan oleh berbagai instansi terkait dengan pengawasan pestisida baik secara lintas sektoral maupun melalui koordinasi Komisi Pengawasan Pestisida baik di tingkat Pusat maupun Daerah (Depperindag, 1990).

Depresiasi Nilai Tukar

Karena umumnya bahan aktif maupun formulasi diimpor dari luar negeri, maka ketergantungan terhadap nilai tukar akan sangat besar. 

Ini terjadi pada awal krisis ekonomi di Indonesia yang mana harga pestisida melonjak sangat tinggi hingga 3-4 kali dari harga sebelumnya. 

Ini menunjukkan bahwa nilai rupiah terhadap mata uang asing akan sangat berpengaruh pada industri pestisida. 

Nilai tukar yang berfluktuatif akan menyulitkan industri pestisida baik dalam produksi maupun dalam pemasaran. 

Ini tentunya akan sangat mengganggu dalam industri pestisida sehingga posisi nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang asing khususnya US$ akan menjadi titik kritis dalam industri pestisida.

Pesaing Baru

Tak dapat dibantah bahwa beberapa negara Asia Timur khususnya China dan Taiwan sedang banyak mengembangkan dan memperluas pemasaran produk pestisida mereka termasuk ke Indonesia. 

Di satu sisi ini akan dapat diambil keuntungan oleh pengguna (user) atau petani karena harga yang ditawarkan lebih rendah disbanding produk-produk pestisida dari negara USA dan Eropa. 

Namun bagi industri pestisida dalam negeri akan menjadi ancaman dan sekaligus sebagai titik kritis dalam pengembangan industri pestisida di Indonesia.

Efek samping pestisida

Efek samping karena penggunaan pestisida dapat dijadikan sebagai titik kritis dalam industri pestisida. 

Pelarang peredaran pestisida yang didasari oleh efek samping penggunaan pestisida merupakan contoh konkrit. 

Pemerintah dapat mencabut izin peredaran pestisida jika dinggap pestisida tersebut memang membahayakan tidak hanya terhadap manusia, hewan dan lingkungan juga terhadap organisme sasaran. 

Dengan pelarangan tersebut akan mempengaruhi produksi pestisida tersebut. 

Pengaruh Aturan Internasional terhadap Perdagangan Pestisida

Kebijakan internasional dalam upaya mengurangi penggunaan pestisida berkaitan dengan program menuju industri pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture).

Penggunaan pestisida dan industri pestisida umumnya telah diatur oleh undang-undang di tiap negara, walaupun demikian penggunaan pestisida juga dipantau oleh masyarakat internasional, yang melalui tekanan ekonomi dan politik memberikan hasil yang cukup efektif di beberapa bidang kegiatan.

Ini sebagai konsekuensi implementasi paragraf 19 agenda 21 Konferensi Rio terhadap bahan kimia toksis termasuk pestisida pada nuansa lingkungan hidup.

Negara dalam kelompok ekonomi Eropa, dalam rangka menunjang kebijakan menekan pengurangan penggunaan pestisida, telah mengusulkan dengan menerapkan perangkat yang berbasis pasar, termasuk pengenaan pajak dan liabilitas.

Aksi terhadap pembatasan penggunaan pestisida, sudah diberlakukan dan telah dijadikan sebagai salah satu instrumen ekonomi pada transaksi perdagangan internasional, sehingga issue pembatasan penggunaan pestisida harus menjadi perhatian serius.

Kebijakan sudah diterapkan di beberapa negara Eropa seperti Belanda, Swedia, Belgia Kanada, dan di Amerika. Seperti di Denmark, Belanda dan Swedia program pengurangan penggunaan pestisida lebih jelas dan konkrit, karena dari pihak pemerintah sendiri sudah menetapkan untuk mengurangi penggunaan pestisida sampai 50 persen atau lebih dan mengembangkan cara-cara alternatif untuk menggantikan ketergantungan terhadap pestisida, dengan memasyarakatkan cara-cara alternatif pengelolaan hama, termasuk pelayanan terhadap petani dan promosi terhadap kegiatan penelitiannya (Suwahyono, 1998)

Pemasaran Pestisida

Pemasaran produk pestisida merupakan ujung tombak dalam industri pestisida. 

Selain sebagai ujung tombak, dapat pula bidang ini dianggap sebagai motor dalam industri. 

Tidak jarang suatu perusahaan pestisida langsung terjun ke tingkat paling bawah untuk memasarkan baik produk baru maupun lama. 

Dengan demikian persaingan tidak hanya sebatas persaingan produk dalam hal mutu, tetapi juga bagaimana mereka bersaing untuk mendapat hati dari pengguna. 

Jika dalam suatu waktu suatu produk pestisida kurang baik mutunya, maka akan selamanya ditinggalkan oleh pengguna.

Informasi tersebut dapat menyebar dengan cepat sehingga nilai penjualan produk pestisida tersebut dapat menurun secara drastis. 

Dalam pemasaran produk pestisida, mengetahui sasaran pengguna sebelumnya akan sangat bermanfaat dalam promosi.

Penyusunan strategi pemasaran merupakan kunci berikutnya sehingga produk pestisida dapat bersaing dengan produk lainnya. 

Strategi pemasaran yang sudah biasa dilakukan oleh perusahaan biasanya adalah melakukan demplot di lahan petani, promosi dengan pertemuan dengan kelompok tani yang disertai dengan pembagian gift seperti kaus, topi, atau sticker. 

Tidak jarang pula perusahaan menggunakan jasa tokoh masyarakat formal maupun informal dalam promosinya seperti PPL dan ketua kelompok tani.

Kondisi Persaingan

Jumlah pestisida untuk pertanian yang diedarkan di Indonesia sebanyak 571 jenis dalam 317 bahan aktif yang dipasarkan oleh sebanyak 115 perusahaan. 

Namun demikian pangsa pasar banyak dikuasai oleh para perusahaan-perusahaan papan atas yang memang telah lama bermain dalam bidang industri pestisida. 

Kebanyakan dari perusahaan tersebut adalah PMA. 

Dari sepuluh besar industri pestisida di Indonesia yang meliputi Monagro Kimia, Zeneca, Aventis, Bayer Indonesia, Novartis, FMC, Petrokimia Kayaku, Rohm & Haas Indonesia, Du Pont Indonesia dan Agricon Indonesia, hanya PT Agricon Indonesia yang PMDN. 

Adapun perusahaan-perusahaan lain lebih banyak berperan sebagai agen tunaggal atau distributor dari perusahaan di negara lain. 

Dengan adanya deregulasi tentang perizinan pendaftaran pestisida, diprediksi akan semakin banyak perusahaan pestisida yang bertindak sebagai distributor atau agen didirikan.

Dari segi volume penjualan, pada tahuan 2000 herbisida menguasai lebih kurang 47 persen pangsa pasar pestisida, kemudian diikuti insektisida 28 persen, fungisida sebesar 19 persen dan sisanya sekitar 6 persen berupa produk pestisida lainnya, termasuk rodentisida. 

Sedang dari segi penggunaan, lebih dari setengah produk pestisida digunakan di perkebunan.

Untuk usaha tani padi menyerap sekitar 30 persen dan 20 persen lagi di serap oleh secondary crop (hortikultura).

Di kelompok insektisida terdapat beberapa merek dagang sangat dikenal oleh konsumen seperti Regent, Furadan, Spontan, Decis, Matador, Confidor, dan lain-lain. 

Promosi besar-besaran biasanya dilakukan untuk mengenalkan produk-produk pestisida di atas seperti insektisida Regent melalui media elektronik televisi dan radio, dan beberapa merek melalui media cetak (Koran dan majalah).

Pada kelompok fungisida, Rohm & Haas Indonesia dan Bayer Indonesia merupakan pemain utama dan menguasai pasar.

Dengan produk andalannya Antracol berbahan aktif propineb, Bayer menempati peringkat ke-4 dari 10 besar industri pestisida nasional.

Tiap tahun perusahaan itu menjual lebi dari 600.000 ribu unit kemasan.

Sistem Distribusi Produk

Pemasaran pestisida diatur melalui distribusi sebagai berikut.

Terhitung sejak 1 Januari 1989 ditetapkan bahwa subsidi pestisida dihapuskan.

Melalui  Surat Dirjen Dalam Negeri No.111/Dagri/IV/1989 tanggal 10 April 1989 maka kebijaksanaan tentang tata niaga pestisida di dalam negeri, bebas/tidak diatur lagi.

Namun demikian ketentuan tata niaga pestisida bersubsidi sebagaimana diatur dalam SK Menteri Perdagangan No.61/KP/II/1988 masih tetap berlaku terhadap penyaluran sisa stok pestisida bersubsidi yang belum terjual habis dimana PT Pertani tetap sebagai penanggung jawab tunggalnya.

Meskipun PT Pertani bukan lagi sebagai penanggung jawab penyaluran pestisida bersubsidi, tetapi karena PT Pertani telah berpengalaman dan mempunyai aparat sampai di kabupaten maka para distributor dan agen sebagian besar masih mengikutsertakan PT Pertani dalam sistem penyaluran pestisida.

Secara singkat urutan distribusi pestisida adalah pestisida ex impor maupun produksi dalam negeri oleh pemiliknya disalurkan ke distributor/agen lalu ke sub distributor/PT Pertani kemudian ke pengecer dan terakhir ke konsumen yaitu petani..

Perkembangan Produksi dan Konsumsi Pestisida Domestik dan Dunia

Industri formulasi pestisida di Indonesia memiliki prospek cerah, Hal ini terlihat dari perkembangan produksi dan nilai penjualan formulasi pestisida yang meningkat. Indonesia sendiri dari target produksi (kapasitas) yang baru dapat memenuhi sekitar 16,7% bahan aktif dan 21% formulasi.

Perkembangan industri pestisida tidak terlepas dari perkembangan sector lainnya seperti sektor pertanian baik pangan, hortikultura, perkebunan, dan kehutanan, juga jasa-jasa pengendalian hama baik untuk kepentingan ekspor dan rumah tangga.

Hal ini terjadi karena industri pestisida sebagai faktor pendukung untuk kegiatan pertanian secara luas maupun untuk keperluan rumah tangga dan industri/perdagangan. 

Untuk sektor pertanian, tampaknya sektor hortikultura akan terus dikembangkan potensinya hampir pada semua komoditi. 

Walaupun rata-rata perluasan areal untuk hortikultura menurun pada tahun 2000, namun pada masa mendatang terutama untuk sayur-sayuran dan buah-buahan dan bunga-bungaan, penggunaan pestisida akan tetap tinggi.

Kapasitas/target produksi dan produksi (ton) pestisida di Indonesia

Tahun

Bahan aktif

Formulasi

Kapasitas

Produksi

Kapasitas

Produksi

1995/1996

    21 400

    3 410

   177 850

   35 570

1996/1997

   21 400

    3 580

   177 850

   37 350

1997/1998

   21 400

    3 760

   177 850

   39 280

1998/1999

   21 400

    3 780

   178 000

   35 600

1999/2000

   21 400

    4 000

   177 850

   35 000

Sumber: Depperindag, 2001

 

Sedangkan nilai penjualan formulasi pestisida sebesar Rp 175 941.6 juta pada tahun 1989 yang meningkat menjadi sebesar Rp 280 101.2 juta pada tahun 1996, dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 14,14 persen per tahun. 

Jika perekonomian Indonesia kembali pulih diprediksi bahwa nilai penjualan produk pestisida akan kembali meningkat dengan nilai penjualan yang lebih besar lagi.

Perkembangan Ekspor dan Impor

Perkembangan volume ekspor pestisida Indonesia dari tahun 1995-2000 menunjukkan pertumbuhan rata-rata sebesar 13,89 persen per tahun.

Ekspor produk pestisida Indonesia umumnya ke negara Thailand, Filipina, Malaysia, Vietnam, RRC dan negara lainnya.

Perkembangan nilai penjualan formulasi pestisida di Indonesia tahun 1989-1996

Tahun

Nilai Penjualan       (jutaan Rp)

Pertumbuhan (%)

1989

175 941.6

-

1990

233 577.9

32.76

1991

214 607.4

(8.12)*

1992

244 096.1

13.74

1993

297 251.3

21.78

1994

559 107.8

88.09

1995

276 615.0

(50.53)*

1996

280 101.2

1.26

Sumber: Depperindag, 1997

* Angka dalam () menyatakan penurunan

Perkembangan ekspor beberapa produk pestisida antara tahun  1996-2001 dalam jumlah ( ton) dan nilai (US$ juta)

Tahun

Jenis pestisida

Insektisida

Fungisida

Herbisida

ZPT

1996

15,63 (19,9)

349,55(5,3)

315,360(1,2)

  1(0,6)

1997

17,70(17,5)

389,06(4,2)

2583,26(9,2)

  0(0,0)

1998

11,12(15,1)

576,59(4,8)

4442,35(11,7)

  0(0,0)

1999

22,53(30,2)

482,98(5,6)

3418,02(11,3)

43,596(0,5)

2000

21,82(32,9)

426,48(5,1)

4017,58(18,4)

51,460(0,7)

2001*)

11,43(15,8)

166,62(1,9)

930,76(1,8)

6,088(0,8)

Sumber: Depperindag, 2001

*) data terhitung sejak bulan Januari –Juni tahun 2001

Volume ekspor obat pembasmi kuman, serangga, cendawan tahun 1995-2000

Tahun

Volume (ton)

1995

8 170.13

1996

16 641.66

1997

21 088.69

1998

17 559.79

1999

28 851.79

2000 (Jan-Okt)

23 729.99

Sumber : Depperindag, 2001

Perkembangan impor beberapa produk pestisida antara tahun 1996 -  2001 dalam jumlah ( ton) dan nilai (US$ juta)

Tahun

Jenis pestisida

Insektisida

Fungisida

Herbisida

ZPT

1996

895,60 (5,6)

3081,3(15,6)

222,02(3,2)

  303,78(1,1)

1997

784,25(4,5)

2753,18(11,4)

156,02(2,5)

  56,78(0,2)

1998

314,88(1,9)

1937,54(10,1)

614,41(2,2)

  60,15(0,3)

1999

2130,66(5,2)

3751,87(14,1)

766,98(5,4)

270,33(1,1)

2000

2232,61(11,7)

3498,69(19,9)

1686,60(13,3)

129,35(0,9)

2001*)

1781,06(11,9)

2290,03(10,9)

601,87(4,5)

14,79(0,1)

Sumber: Depperindag, 2001

*) data terhitung sejak bulan Januari –Juni tahun 2001

Sedangkan perkembangan impor bahan obat-obatan dan kesehatan dari tahun 1995 sampai dengan tahun 2000 menunjukkan penurunan rata-rata sebesar 14.44 persen per tahun

Prospek cerah dalam industri formulasi pestisida di Indonesia menunjukkan masih besarnya peluang bagi perusahaan-perusahaan untuk memenuhi permintaan konsumen.

Dimana penggunaan pestisida menurut usaha yaitu Perkebunan sebesar 50 persen, Padi sebesar 30 persen dan Hortikultura 20 persen.   

Perkembangan volume impor bahan obat-obatan dan kesehatan tahun 1995-2000

Tahun

Volume (ton)

1995

8 613.04

1996

7 179.52

1997

8 738.48

1998

5 559.38

1999

5 020.27

2000 (Jan-Okt)

4 913.53

Sumber : Depperindag, 2001 

KONDISI MIKRO INDUSTRI PESTISIDA

Skema Industri Pestisida

Pada dasarnya industri pestisida dapat dipersamakan dengan industri farmasi. 

Dalam industri pestisida dan farmasi, hal yang paling penting dan paling utama adalah bagaimana mendapatkan bahan-bahan aktif produk baru yang lebih efisien dan efektif dari produk sebelumnya. 

Untuk industri pestisida, dalam upaya pengembangan bahan aktif ini dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu pengembangan melalui (1) sintesis yang dikenal sebagai pestisida sintesik dan (2) mencari bahan-bahan dari alam seperti dari bakteri, tumbuhan dan lain-lain yang dikenal sebagai pestisida alami. 

Melalui eksplorasi berskala luas dapat dihasilkan beberapa bahan aktif untuk dijadikan produk komersial. 

Insektisida berbahan aktif bakteri Bacillus thuringiensis dilakukan dengan eksplorasi dari berbagai tempat. 

Senyawa-senyawa aktif dari pestisida alami dapat saja, jika mungkin, digunakan sebagai senyawa model (model compound) untuk sintesis sehingga akan dihasilkan insektisida sintetik. 

Beberapa golongan pestisida sintetik seperti insektisida dan akarisida disintensis dengan mengambil senyawa model dari bahan aktif baik tumbuhan maupun mikroorganisme. 

Kelompok insektisida piretroid yang banyak dipasarkan di Indonesia merupakan kelompok insektisida yang model senyawa aktifnya berasal dari tumbuhan Chrysanthemum cinerariaefolium (Asteraceae), demikian juga golongan karbamat yang mana senyawa aktifnya mengambil model dari tumbuhan Physostigma venosum (Papilionaceae). 

Dari senyawa model tersebut dirancang begitu banyak senyawa (dapat mencapai ratusan atau bahkan ribuan senyawa) yang pada akhirnya hanya beberapa senyawa saja yang dianggap efisien dan efektif serta aman di lingkungan. 

Efisiensi dapat dilihat dari proses kimia yang terjadi seperti berapa langkah yang harus dilalui untuk mendapatkan senyawa tersebut, persentase bahan aktif terambil dari suatu proses (berkaitan dengan produk buangan dan limbah), serta daya tahan/persistensi, sedangkan efektivitas selain dilihat dari aspek toksikologi senyawa aktif tersebut, juga dievaluasi pengaruh senyawa terhadap hama sasaran (efek samping) seperti mudah tidaknya terjadi resistensi pada serangga, efek samping pada serangga non sasaran seperti predator dan parasitoid, keracunan pada tanaman (fitotoksisitas), dan pengaruhnya terhadap organisme non sasaran.

Bidang penelitian dan pengembangan industri pestisida serta bidang pemasaran merupakan dua bidang yang sangat berperanan penting. 

Bidang penelitian dan pengembangan berupaya untuk mendapatkan senyawa-senyawa aktif melalui serangkaian kegiatan laboratorium hingga didapatkan senyawa aktif baru. 

Bahan aktif pestisida yang telah didapatkan harus diformulasikan terlebih dahulu dengan mengacu pada sifat bahan aktif, jenis pestisidanya (insektisida, herbisida, fungisida, rodentisida dan lain-lain), organisme sasaran (jika serangga apakah pemakan daun, penggerek, pengorok, dan lain-lain), tempat aplikasi (lapangan, gudang, rumah tangga), wilayah pemasaran (USA, Asia, Eropa, Afrika dan lain-lain) sehingga jika produk tersebut dipasarkan akan mendapat respon dan pemasaran yang baik dari konsumen.  

Untuk membuat pestisida dalam bentuk formulasi, bahan aktif  tersebut dicampur dengan beberapa bahan tambahan untuk membuat satu atau beberapa jenis formulasi dalam bentuk formulasi cair atau padat seperti EC, WP, G atau lainnya sehingga lebih mudah diaplikasikan dan tidak mengurangi daya racun pestisida tersebut.  

Pendaftaran/registrasi bahan aktif atau formulasi untuk pemasaran diperlukan untuk mengontrol pestisida tersebut. 

Ini diperlukan jika terjadi kasus-kasus tertentu di lapangan seperti keracunan, efek samping terhadap organisme sasaran, pencemaran lingkungan dan lain-lain.  

Jika semua proses tersebut telah dilakukan, maka pestisida tersebut dapat dipasarkan dan akan dievaluasi kembali sesuai dengan ijin yang diberikan atau yang diajukan pada saat pengajuan pendaftaran seperti ijin percobaan, ijin sementara atau ijin tetap.

Klasifikasi Produk Pestisida

Pengklasifikasian golongan pestisida dapat dilakukan dalam berbagai cara seperti menurut organisme sasaran, mekanisme cara meracuni, golongan senyawa, bahkan asal atau sifat kandungan bahan aktif. 

Kalau dilihat dari kandungan bahan aktif, maka pestisida dapat dikelompokan menjadi kelompok pestisida sintetik dan pestisida non sintetik atau pestisida alami. 

Pestisida sintetik mengandung senyawa aktif yang berasal dari senyawa-senyawa kimia hasil sintesis, sedangkan pestisida alami adalah kelompok pestisida yang bahan aktifnya berasal dari bahan-bahan alami seperti senyawa-senyawa tumbuhan (dikenal juga sebagai pestisida botani), mikroorganisme seperti bakteri dan virus, atau metabolit-metabolit sekunder dari organisme laut. 

Dalam pengembangan kedua jenis golongan ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan perhatian masyarakat terhadap lingkungan. 

Untuk pestisida sintetik seringkali juga digolongkan kembali menjadi kelompok senyawa anorganik dan organik. 

Sekarang ini, kelompok senyawa anorganik seperti garam-garam, belerang, arsen dan lain-lain telah jarang dipergunakan. 

Sementara itu pestisida sintetik organik sangat mendominasi pemasaran baik untuk kelompok herbisida, insektisida, fungisida, rodentisida dan lainnya.

Senyawa pestisida organic seringkali sangat beracun tidak hanya terhadap organisme sasaran tetapi juga terhadap manusia dan hewan ternak. 

Di samping itu, banyak dari senyawa pestisida sintetik ini yang mempunyai daya tahan atau persistensi yang tinggi sehingga dapat terakumulasi di alam yang akan menyebabkan polusi lingkungan. 

Beberapa jenis seperti kelompok hidrokarbon berklor, DDT, paration telah dilarang untuk diedarkan terutama untuk bidang pertanian.

Penggolongan pestisida berdasarkan jenis sasaran organisme sering dan sangat umum digunakan untuk pemasaran. 

Penyebutan istilah insektisida, herbisida, rodentisida, fungisida, akarisida, bakterisida, dan lain-lain biasa dikenal. 

Data-data tercatat biasanya menggunakan penggolongan seperti ini disamping golongan bahan aktif. 

Untuk beberapa jenis pestisida dapat digolongkan kembali seperti insektisida dan fungisida. 

Istilah racun fumigan, racun perut, racun kontak dan racun sistemik banyak dikenal dalam penggolongan insektisida disamping penggolongan mekanisme kerja seperti racun syaraf, pengambat pergantian kulit, penghambat makan dan sebagainya.

Penggolongan lain yang sering juga dilakukan yaitu berdasarkan bentuk formulasi.  Penggolongan ini meliputi (1) konsentrat-konsentrat yang dilarutkan dengan air seperti bentuk formulasi EC (emulsifiable concentrate), SC (suspension concentrate), CS (capsule suspension), SP (water soluble powder), WP (wettable powder), WG (water dispersible granule), (2) konsentrat-konsentrat yang dilarutkan dengan pelarut organic seperti OP (oil dispersible powder), OL (oil miscible liquid), OF (oil miscible flowable concentrate), (3) formulasi tanpa ada pelarut/siap pakai seperti G (granule), D (dust), ULV (ultra low volume), ED (electrochargeable), dan (4) formulasi untuk penggunaan khusus seperti RB (bait/umpan), AE (aerosol dispenser). 

Formulasi pestisida mempunyai peranan yang penting yang tidak hanya dipandang dari segi kemudahan dalam aplikasi tetapi juga sangat besar perananannya dalam pemasaran. 

Hal ini tentunya harus diperhatikan pada saat bahan aktif suatu pestisida akan segera dibuat dalam bentuk formulasi. 

Akan terdapat preferensi yang berbeda antar wilayah dalam hal pemilihan bentuk formulasi. 

Untuk insektisida lebih banyak diedarkan dalam bentuk formulasi EC, untuk fungisida biasanya lebih banyak diperjualbelikan dalam bentuk formulasi WP, sedangkan untuk herbisida lebih banyak dalam bentuk formulasi WSC.  

Untuk rodentisida, selain harus diperhatikan mekanisme peracunan, juga bentuk formulasi termasuk warna bahan pestisida harus diperhatikan. 

Hal ini dikaitkan dengan sifat organisme sasaran yang memang memiliki kemampuan yang baik untuk menolak bahan pestisida yang diberikan yang biasanya dibuat dalam bentuk formulasi umpan (bait). 

Peta Potensi Wilayah Komoditas Pestisida

Wilayah Indonesia yang luas ini akan memberikan konsekuensi sendiri dalam pemasaran industri pestisida.

Untuk industri manufacturing penghasil bahan aktif, biasanya pabrik dibangun dekat dengan sumber bahan baku.

Berbeda halnya dengan industri formulasi yang dapat dibangun di tempat yang dekat dengan pasar atau sentra-sentra pertanian.

Disamping itu persyaratan pendirian industri manufacturing bahan aktif akan lebih ketat dibandingkan hanya sebagai industri pestisida. 

Dalam industri manufacturing akan banyak terjadi proses-proses kimia yang kemungkinan akan menghasilkan limbah-limbah sisa proses kimia tadi.

Berbeda dengan industri formulasi yang sebagian kegiatannya adalah mencampur antara bahan aktif dengan bahan tambahan.

Untuk memproduksi pestisida diperlukan bahan-bahan yang bahan dasarnya sebagian terdapat di Indonesia. Potensi bahan dasar pembuatan pestisida di Indonesia antara lain dipaparkan dibawah ini.

Gas Bumi

Potensi gas bumi di Indonesia cukup besar yang terdapat tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan di beberapa daerah Indonesia Bagian Timur.

Gas bumi merupakan bahan baku yang dapat menghasilkan metanol, amoniak, karbon monoksida dan senyawa lain yang dapat digunakan sebagai bahan antara dalam pembuatan bahan aktif pestisida. 

Penggunaannya hingga saat ini belum optimal karena industri di Indonesia lebih banyak sebagai industri formulasi.

Minyak bumi

Potensi minyak bumi di Indonesia cukup besar dan bahan ini merupakan bahan dasar untuk produk-produk petrokimia.

Dari minyak bumi dapat dihasilkan bahan antara untuk bahan aktif pestisida dan bahan tambahan untuk membuat formulasi pestisida seperti pelarut, pengemulsi dan pembawa.  

Beberapa wilayah Indonesia yang sangat kaya akan minyak bumi diantaranya Aceh, Riau, Kalimantan Timur, beberapa lokasi di Pulau Jawa, dan beberapa di lautan lepas.

Garam (Natrium klorida)

Sebagaimana diketahui sebagian besar wilayah Indonesia adalah laut, sehingga potensi garam (Natrium klorida) sangat besar. 

Natrium klorida adalah bahan baku untuk memproduksi asam klorida yang merupakan salah satu bahan baku untuk bahan aktif pestisida golongan organo halogen. 

Belerang

Cadangan/deposit belerang yang ditemukan tersebar diberbagai wilayah dengan jumlah yang kecil dan dengan kadar antara 20% sampai 50%.

Disamping sebagai defosit, dapat pula berasal dari sumber lain misalnya sebagai hasil samping copper smelter dan penyulingan minyak bumi.

Banyak pestisida seperti insektisida (organosulfur) dan fungisida yang mengandung belerang dalam bahan aktifnya. 

Belerang ini dapat digunakan sebagai bahan baku dalam industri pestisida. 

Belerang hampir terdapat di seluruh wilayah Indonesia baik defosit sebagai belerang maupun hasil samping.

Pasir

Banyak pestisida yang bentuk formulasinya dalam bentuk padatan.

Pasir bersama-sama tanah liat/lempung dapat digunakan sebagai bahan pembawa (carrier) dan bahan pembantu proses dalam pembuatan pestisida bentuk granule dan wettable powder.

Jenis pasir yang digunakan adalah pasir silika dan pasir kuarsa yang banyak terdapat di daerah Bangka, Surakarta, Kali Brantas, dan daerah lain.

Kaolin

Kaolin merupakan bahan pembawa (carrier) untuk formulasi pestisida bentuk tepung (powder).

Cadangan kaolin dengan mutu yang baik sampai saat ini baru diketahui di Pulau Bangka.

Bahan-bahan lainnya

Bahan galian seperti. kapur, lempung, fullers earth, talk mineral dan diatomit digunakan sebagai bahan tambahanpenolong untuk produksi pestisida bentuk padat.

Cadangan/deposit bahan galian tersebut tersebar diberbagai wilayah Indonesia.

Bahan-bahan  alami

Penggunaan bahan-bahan pestisida yang berasal dari tumbuhan (nabati) sebagai agens pengendalian OPT telah lama digunakan terutama pada pertanian tradisional. 

Dengan berkembangnya ilmu kimia dan instrumen-instrumen analisis memberikan dampak yang luar biasa pada pengembangan pestisida sintetik terutama insektisida. 

Pemanfaatan tumbuhan sebagai agens pengendalian OPT semakin terdesak dengan kehadiran pestisida sintetik.

Namun demikian, pada tahun-tahun terakhir ini, penelitian-penelitian tentang pestisida nabati khususnya dan pestisida alami umumnya kembali dilakukan karena beberapa faktor seperti pencemaran lingkungan yang diakibatkan aplikasi pestisida sintetik yang berlebihan dan tidak bijaksana, terjadinya resistensi (kekebalan) pada organisme sasaran, residu bahan kimia pada produk-produk pertanian dan lainnya, serta khusus untuk metil bromida ditenggarai sebagai salah satu senyawa kimia yang dapat merusak lapisan ozon (Ozone depleting substance) sehingga penggunaan se metil bromida ini terus dikurangi dan diharapkan untuk negara-negara berkembang pada tahun 2010 telah tidak ada lagi penggunaan metil bormida.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, beberapa tumbuh-tumbuhan dapat digunakan sebagai bahan aktif pestisida yang keberadaan tanaman tersebut di Indonesia cukup berlimpah.

India dan Thailand setiap tahunnya memproduksi pestisida berbahan aktif tumbuhan yang bahan bakunya diperoleh dari penanaman di negara mereka.

Ini menunjukkan bahwa dalam pengembangan industri pestisida berbahan aktif tumbuhan akan terdapat keuntungan lain untuk beragribisnis tanaman penghasil bahan aktif pestisida yang mana untuk produksinya memerlukan bahan baku yang cukup banyak.

Beberapa tumbuhan yang mengandung senyawa aktif sebagai pestisida dijelaskan dibawah ini.

  1. Tembakau yang  mengandung senyawa nikotin yang dapat digunakan sebagai insektisida pemberantas ulat pada tanaman kubis.
  2. Akar tuba yang mengandung rotenone yang dapat digunakan sebagai insektisida pemberantas ulat pada tanaman kubis dan tanaman hortikultura lainnya.
  3. Culan atau Aglaia odorata (Meliaceae) mengandung senyawa-senyawa kelompok rokaglamida yang memberikan peracunan pada beberapa jenis serangga hama.
  4. Biji sirsak mengandung senyawa asetogenin yang dapat membrikan efek peracunan pada banyak serangga. Beberapa anggota kelompok sirsak juga telah diketahui mempunyai efek fungisidal pada beberapa cendawan patogen.
  5. Minyak-minyak atsiri dapat digunakan untuk dijadikan pengusir nyamuk, kecoa, lalat rumah dan lain-lain.
  6. Nimba, Azadirachta indica (Meliaceae) memberikan beragam aktivitas biologi pada serangga. Beberapa negara seperti USA, Jerman, India, dan Thailand telah memproduksi insektisida yang berbahan aktif ekstrak tumbuhan A. indica ini.  Ini tentunya akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari pada menggunakan pestisida sintetik.  Permasalahan mendasar adalah belum adanya industri yang masuk ke bidang ini.  Ini merupakan tantangan yang harus dijawab dari dunia industri. 

PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI INDUSTRI PESTISIDA

Kondisi dan Parameter Ekonomi Makro

Industri pestisida sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah melalui departemen terkait seperti Departemen Kesehatan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Pertanian, dan lain-lain serta institusi dibawahnya sebagai pembuat aturan-aturan dan pengawasan dalam industri, pemasaran hingga aplikasi pestisida di lapangan. 

Kalau dilihat kembali peranan pemerintah dalam kaitannya dengan kebijakan yang telah diambil akan terlihat bahwa peran pemerintah sangat besar. 

Ini sangat berkaitan dengan program pemerintah yang dilakukan untuk bidang pertanian. 

Pada tahun 1985, pemerintah memberikan subsidi untuk peredaran pestisida hingga nilainya mencapai US$ 141 juta atau lebih kurang 85% dari total biaya keseluruhan yang kemudian semakin menurun hingga tidak ada lagi subsidi yang diberikan.  

Walaupun pemerintah tidak lagi mensubsidi produksi pestisida di Indonesia, namun demikian bukan berarti peran pemerintah dalam pengaturan pestisida berkurang. 

Pemerintah tetap mengatur tentang peredaran pestisida di Indonesia sehingga kebijakan-kebijakan yang akan diambil dapat mempengaruhi industri pestisida di Indonesia.

Pada tahun 2001 pemerintah telah mengeluarkan kembali suatu kebijakan berupa Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 434.1/kpts/TP270/7/2001 tentang Syarat dan Tata cara Pendaftaran Pestisida yang didalamnya terdapat deregulasi pembatasan ijin pemegang pendaftaran  bahan aktif. 

Kalau sebelumnya pemegang ijin pendaftaran suatu bahan aktif pestisida dibatasi hanya tiga perusahaan saja, sekarang pendaftaran atau registrasi bahan aktif pestisida yang akan dipasarkan tanpa membatasi pemegang ijin atau pendaftar.

Deregulasi tersebut akan membuka peluang perusahaan lain dalam pendaftaran produk-produk mereka, namun demikian dipastikan persaingan pasar pestisida akan semakin ketat. 

Dengan persaingan yang ketat namun diharapkan tetap dalam persaingan yang sehat, pengguna pestisida akan diuntungkan karena akan mendapatkan harga yang kompetitif dengan kualitas yang baik. 

Pengguna akan mempunyai banyak pilihan sebelum membeli suatu produk pestisida. 

Subsidi pestisida di Indonesia tahun 1985-1990

Tahun

Jumlah subsidi

(x  1 juta US$)

Persentase

(%)

1985

             141

             85

1986

             179

             75

1987

             134

             45

1988

               85

             40

1989

                 2

               0

1990

                 0

               0

 

Pestisida yang berkualitas baik dengan harga terjangkau akan menguasai pasar. 

Dengan adanya deregulasi ini akan datang “pemain-pemain baru” dalam bidang pestisida yang tentu saja akan membuat perusahaan besar yang selama ini mendominasi pasar pestisida akan mengalami tekanan perubahan pasar yang besar.

Secara umum, dalam pemasaran jenis pestisida, herbisida mendominasi pasar global pestisida dengan menguasai pangsa pasar hingga 46%, sedangkan insektisida 31%, fungisida 16%, sedangkan lainnya (bakterisida, rodentisida, akarisida dan lain-lain) hanya 7% (EPA, 1997). 

Pemasaran bahan aktif sendiri mempunyai pola yang sama yang mana didominasi oleh herbisida 40%, lalu insektisida 26%, fungisida hanya 9%, sementara pestisida lainnya cukup tinggi yaitu 25%.   

Namun demikian kalau diperinci lebih jauh untuk tiap negara bahkan daerah, komposisi jenis pestisida yang mendominasi penjualan dapat berbeda.

Di Indonesia sendiri dari sekitar 571 jenis pestisida, insektisida mendominasi jumlah produk yang dipasarkan yaitu sebanyak 178 jenis, lalu diikuti oleh herbisida 140 jenis, fungisida 114 jenis, pengawet kayu 43 jenis,  ZPT 20 jenis, rodentisida 16 jenis, akarisida 21 jenis, dan sisanya terdiri dari bakterisida, atraktan, moluskisida, ajuvan, dan lain-lain. 

Untuk Indonesia, konsumsi produk pestisida juga didominasi oleh herbisida 47 %, insektisida 28 %, fungisida 19 %, dan jenis lainnya 6 % . 

Kalau dibandingkan dengan USA, pola penggunaan pestisida hampir sama yang mana di USA konsumsi herbisida mendominasi penjualan yaitu 58 %, insektisida 30 %, fungisida 7 %, sementara jenis lainnya 6 % (Tabel 2). 

Jika diamati lebih jauh dan dibandingkan dengan beberapa dekade kebelakang, jumlah jenis herbisida yang dipasarkan di Indonesia telah menggeser posisi fungisida. 

Ini berkaitan dengan semakin banyaknya penggunaan herbisida baik untuk tanaman pangan dan terutama untuk tanaman perkebunan.

Petani-petani padi di Karawang dan Subang sudah mulai menggunakan herbisida untuk pengendalian gulma, satu hal yang jarang terjadi pada masa-masa sebelumnya. 

Demikian juga untuk perkebunan, dari Laporan Tahunan Pelaksanaan Perlindungan Tanaman, Departemen Kehutanan dan Perkebunan tahun anggaran 1998/1999 terlihat bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pengendalian dengan insektisida, fungisida dan rodentisida terjadi fluktuasi, maka pengeluaran untuk herbisida semakin meningkat dari tahun-ketahun. 

Dari total Rp. 12,7 milyar untuk total biaya pengendalian secara kimia (pestisida) Rp. 5,5 milyar dibelanjakan untuk herbisida.

Secara keseluruhan biaya untuk membelanjakan pestisida untuk tiap tahun anggaran selalu meningkat.

Jumlah pengeluaran dan bahan aktif  pestisida di USA dan Dunia pada tahun 1997

 Jenis pestisida

USA

Dunia

Jumlah  pengeluarann  (US $)

 

Juta

(%)

Juta

(%)

Herbisida

$6,846

58%

$16,886

46%

Insektisida

$3,553

30%

$11,592

31%

Fungisida

$802

7%

$6,037

16%

Lain-lain

$696

6%

$2,533

7%

Total

$11,897

100%

$37,048

100%

Jumlah bahan aktif (juta)

 

Pon

(%)

Pon

(%)

Herbisida

568

46%

2,254

40%

Insektisida

129

10%

1,470

26%

Fungisida

81

7%

539

9%

Lain-lain

453

37%

1,421

25%

Total

1,231

100%

5,684

100%

Konsumsi beberapa jenis pestisida (ton) di Indonesia  tahun 1996-2000

Jenis  Formulasi

Konsumsi

 

1996

1997

1998

1999

2000

Herbisida

16718

 17555

 18433

16732

 16450

Insektisida

  9960

 10458

 10982

  9968

   9800

Fungisida

  6758

  7097

  7452

  6764

   6650

Lainnya

  2134

  2241

  2353

  2136

   2100

              Sumber: Depperindag, 2001

Ini menunjukkan bahwa pasar pestisida di Indonesia masih cukup terbuka untuk investasi baru, bahkan menurut salah seorang pengusaha yang telah lama berkecimpung dalam dunia pestisida menyatakan bahwa pangsa pasar untuk herbisida baru 10%. 

Dengan demikian, apabila dikaitkan dengan kondisi alam, iklim, dan keberadaan OPT pada sepanjang tahun, pestisida akan sangat dibutuhkan untuk mengendalikan OPT pada masing-masing komoditi. 

Hal ini disajikan pada bagian ini hanya menunjukkan bahwa jenis-jenis pestisida yang dipasarkan mempunyai dinamika tersendiri. 

Dinamika itu sendiri yang dapat meningkatkan atau menurunkan junmlah jenis pestisida yang dipasarkan dapat terjadi karena kebijakan pemerintah, tidak ada perpanjangan ijin peredaran, dan penarikan.

Seperti telah dinyatakan didepan, bahwa penggunaan pestisida tidak hanya terbatas pada bidang pertanian secara luas, tetapi juga pada bidang lain terutama untuk keperluan ekspor impor dan penyimpanan beberapa komoditi di gudang termasuk komoditi pertanian dan kehutanan seperti beras, kopi, rotan, kayu, furnitur, dan lain-lain.

Untuk keperluan fumigasi umumnya digunakan senyawa metil bromida yang masih diimpor.

Secara global dalam perdagangan dunia, lebih dari US$ 30 milyar tiap tahunnya (bahkan pada tahun 1995 tercatat US$38 milyar) dibelanjakan untuk pestisida yang mana 25% dari total penjualan itu terdapat di Asia.

Pada tahun 2000 terjadi kenaikan 10% dari total penjualan untuk kawasan Asia ini. 

Untuk kawasan Asia Tenggara, Thailand merupakan negara pembeli pestisida terbesar dengan nilai total US $27 juta. 

Negara lain di Asia Tenggara yang cukup besar mengkonsumsi pestisida adalah Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. 

Untuk pengembangan industri pestisida ini, negara-negara Asia Tenggara dapat dijadikan pangsa pasar yang sangat besar. 

Lebih kurang terdapat 759 jenis bahan aktif yang digunakan di seluruh dunia diproduksi terutama di negara-negara maju seperti USA, Jerman, Jepang, Inggris, Belanda, Kanada, Swiss, dan lain-lain. 

Di Indonesia sendiri beredar sebanyak 317 bahan aktif yang dipasarkan dengan berbagai nama dagang. 

Perusahaan-perusahaan di negara-negara tersebut dapat menguasai hingga 90% dari total penjualan pestisida di seluruh dunia. 

Sepuluh perusahaan pestisida besar di dunia tercatat Novartis, Monsanto, DuPont, Zeneca, agrEvo, Bayer, Rhone-Poulenc, Cyanamid, Dow Agro dan BASF. 

Dalam tahun-tahun terakhir ini telah terjadi penggabungan (merger) antar perusahaan seperti AgrEvo dengan Rhone-Poulenc menjadi Aventis, dan Novartis dengan Zeneca menjadi Syngenta. 

Penggabungan-penggabungan ini tidak selalu didasari oleh krisis finansial namun lebih diutamakan karena keinginan untuk menguasai pangsa pasar yang lebih besar, penguasaan sumber daya manusia, dan efisiensi riset dan promosi.  

Untuk Indonesia sendiri, industri pestisida masih dikuasai oleh penanam modal asing (PMA). 

Sepuluh besar industri pestisida di Indonesia meliputi Monagro Kimia, Zeneca, Aventis, Bayer Indonesia, Novartis, FMC, Petrokimia Kayaku, Rohm & Haas Indonesia, Du Pont Indonesia dan Agricon Indonesia (Novartis dan Zeneca melakukan merger menjadi Syngenta).

Dari  sepuluh besar industri pestisida di Indonesia tersebut, hanya satu perusahaan yang dikuasai 100% oleh pemodal pribumi yaitu PT Agricon Indonesia.  

Impor metil bromida (ton) di Indonesia antara tahaun 1998-2000

No.

Importir

1998

1999

2000

1.

PT. Asomindo Raya

    192.5

       178.7

       182.7*)

2.

PT. Panca Ratna

      30.0

         75.3

           6.4

                     Total

    222.5

        254.0

        189.1

*) perkiraan nilai dari survei 1998, Sumber: Jurusan HPT, IPB

Volume penggunaan metil bromida (kg) di Indonesia antara  1998-2000.

No.

Perusahaan pemberi jasa fumigasi *)

1998

1999

2000

1.

DOLOG Jawa Timur (AR**))

     4500

    2000

   4700

2.

PT Pan Asia SC (Surabaya) (PASC, JKT)

     2223

    2825

   1871

3.

PT Mandiri Perlisa (AR)

        78.5

    1318

     974

4.

PT Atlas Nusantara (Surabaya) (AR)

     1284

    2223

   1575.5

5.

PT Panca Ratna (PR)

       139

    NA***)

   1135

6.

PT Beckjorindo Paryaweksana (AR)

     1200

     1200

   1200

7.

PT Caretama Inspindo Carya (AR)

     15500

   15500

 15500

8.

PT Pan Asia SC (Lampung)

           0

           0

         0

9.

DOLOG Lampung

           0

           0

         0

10.

PT Sucofindo, Lampung (AR, PR)

     4000

     4000

   4000

11.

PT Sucofindo, Jakarta (AR. PR)

 110900

 108250

104050

12.

PT Sumber Alam Bahagia (AR)

     1750

     1500

    3000

13.

PT Rentokil  Initial (AR)

     NA

    2100

    3850

14.

PT. Bhanda Ghara Reksa (AR)

     250

      400

      350

15.

PT Atlas Nusantara (Jakarta) (AR)

   7200

    5850

     3725

                          Total

149074.5

147165.6

  145930.5

Sumber: Jurusan HPT, IPB (2001)

*)     Pemberi jasa fumigasi utama di Jawa dan Lampung

**)   Pemasok metil bromida; AR= Asomindo Raya; PR=Panca Ratna

***) Data tak tersedia

 Adapun pengusaha lokal pada umumnya hanya sebagai mitra kerja perusahaan PMA dengan mengambil posisi sebagai distributor tunggal produk perusahaan PMA atau sebagai jika sebagai formulator, penanam modal dalam negeri membentuk perusahaan gabungan (joint company) dengan perusahaan-perusahaan asing, seperti PT Petrokimia Kayaku (dengan   salah satu perusahaan dari Jepang). 

Di Indonesia sendiri terdapat 115 perusahaan pemegang pendaftaran pestisida untuk pertanian dan 66 untuk non Pertanian.

Penggunaan metil bromida di Indonesia

No.

Perusahaan pemberi jasa

komoditi

Dosis

(g/m3)

Teknik Aplikasi

Sasaran

1.

PT Pan Asia SC

Kayu

48

Gas

Serangga gudang

Rotan

48

N A

Kayu

48

N A

Beras

28

Gas

Padi

21

N A

2.

PT Mandiri Perlisa

Beras

28

Gas

Serangga gudang

Padi

21

Gas

3.

PT Atlas Nusantara

Surabaya

Beras

28

Gas

Tribolium sp.

S. oryzae

Tikus

Padi

21

Tumpukan

4.

PT Panca Ratna

Beras

28

Gas

Serangga gudang

Padi

21

Gas

5.

PT Beckjorindo

Parya Weksana

Kopi

24-48

Fumigasi tenda

Serangga gudang

Lada hitam

24-48

Fumigasi ruang

Kopi

24-48

Fumigasi ruang

6.

Caretama Inspindo

Carya

Kopi

 

Fumigasi ruang

Serangga gudang

7.

PT Sucofindo

Lampung

Kayu

24-48

Fumigasi tenda

Serangga gudang

Kopi

24-48

Fumigasi ruang

Lada

24-48

Fumigasi ruang

Tapioka

24-48

Fumigasi ruang

Jagung

24-48

Fumigasi ruang

8.

PT Sucofindo

Jakarta

Produk pertanian

16-32

Fumigasi tenda

Serangga gudang

Produk perkebunan

24-32

Fumigasi ruang

Produk kehutanan

48-64

Fumigasi ruang

Produk industri

32-48

Fumigasi ruang

9.

PT. Sumber Alam Bahagia

Rotan

48

Fumigasi ruang

Serangga gudang

10.

PT. Rentokil

Bangunan

24-48

Fumigasi ruang

Hama rumah tangga

11.

PT Bhanda Ghara Reksa

Furnitur

48

Gas

Tribolium sp. Termite

Produk pertanian

48

Gas

12.

PT Atlas Nusantara

Jakarta

Beras

21

Fumigasi

Serangga gudang

Sumber: Jurusan HPT, IPB (2001)

Hampir 85% pestisida yang beredar di dunia ini digunakan untuk bidang pertanian. 

Buah-buahan dan sayuran merupakan komoditi yang paling banyak menggunakan pestisida yaitu sebesar 26%, kemudian tanaman kacang-kacangan (serealia) 15%, jagung 12%, padi 10%, kedelai 9,4%, kapas 8,6% dan sisanya untuk tanaman lainnya. 

Penggunaan pestisida di Indonesia sendiri menunjukkan bahwa sektor perkebunan mengkonsumsi pestisida terbesar yaitu kira-kira 50%, kemudian padi dan tanaman palawija lainnya 30%, dan secondary crops (hortikultura) sekitar 20%. 

Monagro Kimia merupakan perusahaan terbesar dalam penjualan pestisida.  Perusahaan ini menguasai hampir 30 % pangsa pasar pestisida nasional. 

Produk utama Monagro Kimia adalah herbisida yang  tercatat 3 jenis herbisida yang sudah tidak asing lagi bagi petani. 

Ketiga jenis herbisida berbahan aktif Glyphosate.  Pada tahun 2000 tercatat nilai penjualan Monagro Kimia mencapai Rp 400 milyar lebih (Tropis, 2001).

Negara maju (developed country) seperti USA, Jerman, Inggris, Jepang, dan lain-lain merupakan pengguna pestisida terbesar di dunia dibandingkan dengan negara-negara sedang berkembang. 

Namun demikian dengan semakin berkembangnya pertanian di negara-negara berkembang lainnya terutama di Asia, maka diperkirakan lambat laun permintaan pestisida untuk Asia akan meningkat.

Tingkat penjualan pestisida sangat dipengaruhi olah perkembangan komoditi pertanian itu sendiri. 

Penjualan pestisida sendiri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti harga komoditi pertanian, perluasan area pertanian, apresiasi konsumen terhadap mutu produk pertanian, dan kebijakan pemerintah. 

Harga komoditi pertanian yang rendah akan mempengaruhi daya beli pengguna.

Sebagai salah satu input produksi maka pengguna akan memperhitungkan keluaran dan margin keuntungan yang akan diperoleh. 

Untuk komoditi-komoditi unggulan seperti kentang, anggur, bunga-bungaan (gerbera) mungkin tetap menggunakan pestisida karena memang harga di pasaran cukup baik, namun untuk beberapa komoditi, terutama pada panen raya seperti bawang merah dan padi lebih banyak dibiarkan.

Penggunaan pestisida untuk tiap wilayah pada tahun 1990

Wilayah

Jumlah

(x 1000 metrik ton)

Persentase

(%)

Eropa

800

         32

USA

500

         20

Kanada

100

           4

Negara industri lainnya

500

         20

Asia (negara berkembang)

300

         12

Amerika Latin

200

           8

Afrika

100

           4

Kemudian hal lain yang mempengaruhi tingkat penjualan pestisida adalah apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar US.

Hal ini disebabkan karena   hampir 50% komponen  pestisida adalah komponen impor, sehingga ketika nilai dolar naik seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998 harga pestisida di Indonesia menjadi naik yang menyebabkan daya beli petani terhadap pestisida menurun. 

Hampir seluruh bahan kimia untuk keperluan industri pestisida baik bahan mentah (umumnya senyawa intermediat), bahan aktif dan bahan-nahan tambahan lainnya menunjukkan kecenderungan menurun pada tahun 1995-1999. 

Sebagai contoh senyawa kelompok fenol memiliki kecenderungan nilai impor yang menurun pada tahun 1995-1999 sebesar – 7,14%. 

Namun nilai impor pada tahun 2000 cenderung meningkat dengan perubahan lebih dari 30 % (Depprindag,2001). Hal ini terkait dengan semakin maraknya industri pestisida semenjak deregulasi peraturan pemerintah dilakukan.

 Perspektif Ekonomi Bisnis Industri Pestisida

Dengan melihat kondisi alam yang sangat rentan terhadap serangan OPT baik di lapangan maupun di penyimpanan dan ketergantungan yang tinggi terhadap produk pertanian maka industri pestisida mempunyuai peluang yang besar untuk terus berpartisipasi dalam pembangunan pertanian di Indonesia. 

Semakin banyak perusahaan jasa pest control (pengendali OPT) terutama untuk jasa-jasa pengendalian seperti gedung, buku, dan perumahan-perumahan menujukkan pula bahwa industri pestisida sudah merambah bidang lainnya selain bidang pertanian. 

Margin keuntungan yang besar yang diperoleh oleh perusahaan pestisida seperti seperti PT Monagro Kimia dengan nilai penjualan sekitar 400 milyar rupiah, kemudian Zeneca dengan nilai penjualan produk Gramoxone (b.a. paraquat) mencapai 250 milyar rupiah per tahun, menunjukkan bahwa  industri pestisida memiliki peluang dan potensi yang sangat baik dalam bidang agroindustri dan agrobisnis. 

Banyaknya perusahaan PMA terutama perusahaan besar yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa industri pestisida di Indonesia memang masih prospektif.

Produk-produk mereka selain untuk diedarkan untuk wilayah Indonesia sendiri, banyak perusahaan yang telah mengekspor produk pestisida ke berbagai negara tujuan seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Asia lainnya bahkan ke negara-negara Afrika, Eropa dan Pasifik.

Permasalahan terbesar yang terjadi pada saat ini adalah pemalsuan pestisida yang sangat merugikan tidak hanya pihak produsen pestisida tetapi juga konsumen pestisida. 

Pestisida palsu dapat dikategorikan menjadi dua yaitu produk yang benar-benar palsu yaitu produk yang tidak mengandung bahan aktif sama sekali, dan produk semi palsu yaitu produk pestisida asli yang telah dicampur dengan bahan lain sehingga kandungan bahan aktif akan sangat rendah. 

Kasus pemalsuan insektisida Furadan 3G di Karawang, Lampung, dan daerah lainnya sangat merugikan produsen dan konsumen. 

Demikian juga kasus pemalsuan pestisida Spontan yang diproduksi oleh PT Agricon.  Adanya pemalsuan ini mengindikasikan bahwa pestisida memang dibutuhkan. 

Kalau dinyatakan adanya pemalsuan karena harga jual pestisida yang mahal, seharusnya pengguna akan merugi kalau membeli pestisida palsu karena pasti tidak akan efektif. 

Yang lebih mungkin adalah karena permintaan pestisida tetap tinggi sehingga membuka peluang terjadinya pemalsuan.

Sulitnya membedakan antara produk asli dengan produk palsu menjadikan maraknya produk palsu di pasaran. 

Diharapkan dengan adanya deregulasi yang telah dikeluarkan akan memberikan nilai positif untuk industri pestisida seperti harga dapat lebih kompetitif dan banyak pilihan produk pestisida di pasaran sehingga tidak dikuasai oleh satu jenis atau satu perusahaan.

Apabila dikaji dari sisi industri Pestisida itu sendiri di negara berkembang seperti Indonesia, maka hanya ada dua jenis industri yaitu sebagai distributor dengan atau tanpa pengepakan kembali dan formulator. 

Kedua jenis industri ini tidak terlalu banyak membutuhkan investasi namun mempunyai resiko yaitu tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap pemasok bahan-bahan industri terutama bahan aktif pestisida. 

Namun demikian bukan berarti pendirian industri pestisida secara penuh tidak dapat dilakukan. 

Jika segala persyaratan seperti sumber daya manusia, fasilitas baik bangunan maupun lapangan, dan manajemen yang baik maka Indonesia dapat membangun industri pestisida yang mandiri.

Kebijakan Pemerintah Tentang Pestisida

Perdagangan Pestisida

Lokal

Kebijakan pemerintah dalam pengembangan industri pestisida adalah mewajibkan industri formulasi pestisida agar sedapat mungkin menggunakan bahan aktif pestisida dan bahan pembawa atau bahan tambahan hasil produksi dalam negeri.

Tentunya aturan ini untuk saat sekarang belum dapat dijalankan secara menyeluruh karena untuk menjadikan industri pestisida yang sesungguhnya (dimulai dari investigasi senyawa/bahan aktif hingga pemasaran) akan dibutuhkan sumber daya manusia yang benar-benar berkualitas terutama penguasaan bidang ilmu kimia serta kekuatan modal yang tinggi. 

Seperti diperlihatkan pada bagian terdahulu, untuk pengembangan pestisida baru diperlukan studi yang menyeluruh dan ini akan memerlukan dukungan finansial yang cukup tinggi. 

Yang dapat dilakukan sekarang ini adalah memanfaatkan hasil penemuan dari negara lain untuk dibuatkan formulasinya di Indonesia sehingga pendiriannya sebagai usaha bersama (Depperindag, 1990). 

Salah satu contoh adalah pendirian PT Agricon.

PT Agricon adalah satu-satunya PMDN yang telah dapat memproduksi salah satu bahan aktif pestisida. 

Namun demikian, perusahaan ini tidak mengembangkan bahan aktif tetapi hanya merubah bentuk intermedia bahan aktif menjadi bahan aktif melalui satu tahap proses. 

Kalau dilihat sejarahnya, PT Agricon sebelumnya untuk waktu yang lama adalah distributor produk-produk pestisida dari PT ICI. 

Dengan pengalaman yang cukup lama, mereka mampu mendirikan perusahaan pestisida sendiri yang kepemilikannya 100% dari mereka. 

Agricon sendiri masih menjadi distributor untuk beberapa produk pestisida. 

Ekspor

Kebijakan pemerintah dalam pengembangan ekspor industri pestisida adalah memanfaatkan forum pestisida internasional sebagai sarana untuk meningkatkan pasaran ekspor dan keahlian tenaga-tenaga Indonesia (Depperindag, 1990). 

Namun demikian perlu diperhatikan adanya beberapa batasan atau aturan dari negara-negara tujuan ekspor.

Negara-negara seperti USA, Eropa sangat ketat dalam pemberian izin masuknya produk pestisida ke negara-negara mereka.

Namun demikian, kalau dilihat lebih jauh dari pangsa pasar sebenarnya pangsa pasar produk pestisida masih sangat terbuka luas khsususnya untuk kawasan Asia Tenggara. 

Namun demikian hal ini belum dimanfaatkan secara optimal bahkan sebaliknya terjadi penurunan ekspor. 

Berdasarkan data dari Deperindag (2001) 10 negara terbesar tujuan ekspor produk pestisida Indonesia adalah Thailand, Taiwan, Sri Langka, Afrika Selatan, Meksiko, Korea Selatan, Ghana, Filipina, Malaysia, dan Bangladesh. 

Impor

Kebijakan pemerintah di bidang impor adalah melindungi industri manufacturing terhadap dumping oleh pemasok dari luar negeri dengan kebijakan pengenaan tarif bea masuk. 

Pada umumnya impor pestisida bagi Indonesia adalah impor bahan aktif walaupun banyak juga para distributor pestisida yang belum mampu atau mempunyai pabrik formulator mendatangkan produk-produk pestisida dalam bentuk formulasi pestisida. 

Ditinjau dari segi efisiensi memang hal ini sangat efisien karena pihak distributor langsung dapat mengedarkan bahan pestisida sebagai barang dagangan, namun ditinjau dari segi teknologi dan devisa maka Indonesia akan sangat tergantung pada principal atau negara pemasok.

Investasi

Kebijakan pemerintah dalam pengembangan investasi industri pestisida adalah industri formulasi yang sejenis didorong agar mendirikan industri bahan aktifnya secara bersama bila belum diproduksi di dalam negeri (Depperindag, 1990). 

Ini jelas bahwa pemerintah membuka peluang untuk para penanam modal dalam negeri untuk berinvestasi dalam industri pestisida di Indonesia. 

Diperkirakan pada tahun 2020 industri kimia secara umum akan meningkat 13 kali lipat dibandingkan dengan keberadaan industri kimia pada tahun 1993. 

Perizinan

Suarat Keputusan Menteri Pertanian, Republik Indonesia No.343.1/kpts/TP.270/7/2001 tentang syarat dan tatacara pendaftaran pestisida menyatakan bahwa  setiap produk yang akan dipasarkan, disimpan dan digunakan di Indonesia harus didaftarkan di Komisi Pestisida dengan melalui pengujian dan pemeriksaan administrasi yang ketat. 

Komisi ini sendiri merupakan komisi yang anggotanya berasal berbagai instansi seperti Departemen Pertanian, Departemen Kesehatan, Departemen Perdagangan, Departemen Kehutanan dan Perkebunan dan instansi lain yang terkait.

Dengan dikeluarkan surat keputusan tersebut maka terjadi deregulasi dalam perijinan pemasaran pestisida di Indonesia. 

Inti deregulasi itu adalah dibukanya pintu pendaftaran pestisida tanpa ada lagi pembatasan jumlah pemegang izin pendaftaran.  

Jika sebelumnya terjadi pembatasan yaitu dalam satu bahan aktif hanya boleh didaftarkan oleh paling banyak tiga perusahaan maka dengan deregulasi ini aturan tersebut tidak ada lagi. 

Pembukaan pintu dalam perizinan ini sangat membantu dalam pengembangan industri pestisida paling tidak untuk industri formulasi dan distributor.     

Tiga jenis perizinan yang ada yaitu.  izin percobaan, izin sementara dan izin tetap.

Izin percobaan

Izin percobaan diberikan setelah kelengkapan persyaratan baik administrasi maupun teknis pestisida (toksisitas, fisiko-kimia, dan efektivitas) yang didaftarkan telah terpenuhi. 

Departemen Pertanian dalam hal ini Komisi Pestisida akan menilai sejauh mana kelayakan, keamanan baik terhadap organisme sasaran itu sendiri, manusia, dan lingkungan terhadap pestisida yang akan dipasarkan. 

Izin percobaan ini berlaku satu tahun. Izin percobaan dikeluarkan dengan maksud untuk membuktikan kebenaran klaimnya mengenai mutu, efikasi dan keamanan pestisida yang terdaftar. 

Pestisida yang memiliki izin percobaan tidak boleh diedarkan atau  digunakan secara komersil.  

Pemohon yang telah memiliki izin percobaan harus menyerahkan sampel pestisida kepada Direktur Jenderal untuk dilakukan uji mutu laboratorium yang telah diakreditasi oleh Badan Standarisasi Nasional.

Hasil uji mutu dilaporkan ke Direktur Jenderal untuk evaluasi dan atas saran Komisi Pestisida pemohon agar mengajukan permohonan ulang. 

Hasil uji mutu dan sampel oleh lembaga penguji yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal utuk melakukan uji efikasi dan toksisitas. 

Setelah lolos uji pemohon akan mendapatkan nomor pendaftaran dan izin sementara.

Izin sementara

Seperti halnya izin percobaan, pengajuan izin sementara juga merupakan proses perizinan serial sehingga izin diberikan dengan memperhatikan beberapa pertimbangan yang berkaitan dengan produk pestisida yang akan dipasarkan. 

Izin sementara ini berlaku satu tahun.

Direktoral Jenderal atas pertimbangan Komisi Pestisida untuk jangka waktu satu tahun dan dapat diperpanjang dua kali, masing-masing dalam jangka waktu 1 tahun. 

Izin sementara diberikan dengan maksud agar pemohon dapat melengkapi data dan informasi sesuai persyaratan teknis dan administrasi yang ditetapkan. 

Pestisida yang telah memiliki izin sementara dapat dipasarkan dengan jumlah terbatas yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri. 

Izin sementara dapat dicabut jika dalam penggunaannya menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

Izin tetap

Izin tetap diberikan oleh Menteri atas pertimbangan Komisi Pestisida setelah pemohon memenuhi syarat teknis dan administrasi yang telah ditetapkan, yang berlaku selama 5 tahun. 

Izin tetap bisa dicabut jika dalam penggunaanya menimbulkan dampak negatif bagi manusia dan kelestarian lingkungan hidup. 

Izin tetap dapat diperpanjang dengan mengikuti prosedur pendaftaran awal yang dilakukan pada saat berakhirnya izin.

Disamping tiga izin tersebut diatas, Menteri Pertanian dalam hal ini Komisi Pestisida dengan memperhatikan dan mempertimbangkan tingkat bahaya terhadap manusia dan lingkungan hidup, izin pestisida dapat juga dibedakan sebagai pestisida terbatas dan pestisia umum. 

Namun hal ini tidak ada kaitan dengan lamanya pemberian izin namun biasanya akan ada pemeriksaan atau evaluasi yang lebih ketat.

Produksi dan Pengawasan Mutu Pestisida

Di Indonesia, industri pestisida yang berkembang adalah industri formulasi pestisida. 

Hal ini disebabkan unit formulasi pestisida diperlukan investasi yang relatif lebih kecil dan sifatnya sangat fleksibel dari pada industri bahan aktif sehingga dapat menghasilkan beberapa jenis formulasi pestisida yang berbeda-beda dalam unit yang sama. 

Namun demikian Pemerintah Indonesia mengharapkan industri pestisida nantinya diarahkan ke industri bahan aktif.

Kebijakan pemerintah dalam hal produksi dan pengawasan mutu di bidang industri pestisida adalah sebagai berikut.

  • Surat Keputusan Menteri Pertanian No.434.1/Kpts/TP.270/2001 yang berisi mengenai syarat dan tata cara pendaftaran pestisida.
  • International Organization for Standarization (IOS) atau British Standard Organization dalam hal pemberian nama umum dari tiap jenis pestisida

Pemanfaatan Kapasitas Terpasang (KNT) industri pestisida di Indonesia masih rendah sehingga dalam Pola Pengembangan Industri Pestisida pada PELITA V, REPELITA VI dan REPELITA VII tidak diproyeksikan adanya kenaikan Kapasitas Nasional Terpasang baik untuk industri formulasi maupun industri bahan aktif. 

Dalam rangka penguatan struktur industri pestisida, industri bahan aktif yang akan dikembangkan atau baru diarahkan untuk memproduksi jenis yang belum diproduksi dan yang diperlukan oleh industri formulasi dalam negeri (Depperindag, 1990). 

Lingkungan

Untuk mencegah pengaruh samping pestisida maka pemerintah mengadakan pengawasan pengadaan, peredaran, serta penggunaan pestisida.

Hal ini sejalan dengan Undang-undang Republik Indonesia No.12 tahun 1992 tentang sistem budidaya pasal 39 dan 40. 

Kegiatan pengawasan meliputi pemeriksaan jenis, mutu, jumlah, wadah, pembungkus, label, residu, keselamatan kerja, dokumen publikasi, alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan pengadaan, peredaran dan penggunaan pestisida. 

Hal ini dilakukan karena bahan pestisida baik dalam proses industri maupun produk komersialnya dikelompokkan dalam bahan berbahaya. 

Untuk menghindari biaya sosial dan lingkungan maka biasanya industri kimia termasuk industri pestisida harus lebih memperhatikan aspek lingkungan yang akan ditimbulkan dari kegiatan industrinya.

Pemerintah Indonesia sendiri pernah mengeluarkan keputusan dalam pelarangan sebanyak 57 jenis insektisida sintetik untuk tanaman padi karena ditenggarai sebagai penyebab peledakan hama wereng  batang coklat di Jalur Pantura.  Berdasarkan SK Menteri Pertanian, Republik Indonesia berapa jenis bahan aktif pestisida sintetik telah dilarang untuk dipasarkan di Indonesia sehingga tidak mungkin untuk dikembangkan di Indonesia. 

Kemudian dengan semakin besarnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan pribadi dan lingkungan hidup, maka penggunaan atau aplikasi insektisida dengan tingkat resiko tinggi akan sangat sulit dalam pemasaran. 

Departemen Pertanian telah mengeluarkan daftar beberapa pestisida yang penggunaannya dikelompokkan dalam penggunaan terbatas. 

Ini berkaitan dengan tingkat bahaya (toksisitas) bahan pestisida tersebut sehingga dapat memberikan pengaruh baik langsung maupun tidak langsung kepada pengguna dan lingkungan selama atau setelah penggunaan/aplikasi.

Industri pestisida tergolong dalam kelompok kegiatan yang berdampak kurang penting terhadap lingkungan, maka.

  • Pengembangan industri pestisida harus diawali dengan penyusunan Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) beserta Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)
  • Bagi industri pestisida yang telah berproduksi tetapi belum memiliki studi AMDAL yang telah disetujui instansi berwenang diwajibkan menyusun Penyajian Evaluasi Lingkungan (PEL) beserta RKL dan RPL
  • Bagi industri pestisida dan proyek baru yang berlokasi di kawasan industri yang telah mempunyai studi AMDAL tidak perlu membuat PEL atau PIL tetapi tetap diwajibkan membuat RKL dan RPL

Dalam pengamanan terhadap lingkungan, industri pestisida harus berpedoman kepada Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), dengan memanfaatkan laboratorium yang ada baik milik pemerintah maupun swasta.

 

Jenis-jenis senyawa pestisida yang telah dilarang untuk dipasarkan di Indonesia

No.

Nama senyawa

No.

Nama senyawa

1.

2,3,5-T

20.

Heptaklor

2.

2,4,5-triklorofenol

21.

Kaptafol

3.

2,4,6-triklorofenol

22.

Khlordan

4.

Na-4-brom-2,5-dikhlorofenol

23.

Khlordimefon

5.

Aldikarb

24.

Leptofos

6.

Aldrin

25.

Lindan

7.

Arsonat (MSMA)

26.

Metoksiklor

8.

Ciheksatin

27.

Mevinfos

9.

DDT

28.

Monosodium metam

10.

Dibromokhloropropan

29.

Natrium khlorat

11.

Dieldrin

30.

Natrium tribromofenol

12.

Dikhlorofenol

31.

Paration metil

13.

Dinoseb

32.

Pentakhlorofenol

14.

EPN

33.

Senyawa arsen

15.

Endrin

34.

Senyawa merkuri

16.

Etilen dibromida

35.

Strikhnin

17.

Fosfor merah

36.

Telodrin

18.

Halogen fenol

37.

Toksafene

19.

HCH dan isomernya

  

Pestisida yang ditetapkan sebagai pestisida untuk penggunaan terbatas.

No.

Nama pestisida

Nama bahan aktif

Pemegang pendaftaran

1.

Celphide 56PI

Alumunium fosfida

PT Petrokimia Kayaku

2.

Celphos 56T

Alumunium fosfida

PT Petrokimia Kayaku

3.

Gramoxone

Parakuat diklorida

PT Zeneca Agri product Indonesia

4.

Gramoxone S

Parakuat diklorida

PT Zeneca Agri Product Indonesia

5.

Herbatop 276AS

Parakuat diklorida

PT Fajar Purnama Pratama Inti

6.

Kovin 80P

Seng fosfida

PT Kresna Bumitama Sejati

7.

Magtoxin 80P

Magnesium fosfida

PT Berdikari Niaga Utama

8.

Mestagas

Alumunium fosfida

PT Fajar Purnama Pratama Inti

9.

Metabrom 98LG

Metil Bromida

PT Asomindo Raya

10.

Mebrom 98LG

Metil Bromida

PT Grasse Arum Lestari

11.

Nuvan 50EC

Diklorvos

PT Novartis Agro Indonesia

12.

Nuvantop 500EC

Diklorvos

PT Novartis Agro Indonesia

13.

Para-col

Parakuat diklorida

PT Zeneca Agri product Indonesia

14.

Phostoxin 56T

Alumunium fosfida

PT Berdikari Niaga Utama

15

Phostoxin 57T

Alumunium fosfida

PT Berdikari Niaga Utama

16.

Sobrom 98LG

Metil bromida

NV Panca Ratna

17.

Supracide 40EC

Metidation

PT Novartis Agro Indonesia

18.

Termisidin 350EC

Endosulfan

PT Harina Chemicals Industry

Standar Biaya (Total Cost of Project ) Industri Pestisida

Biaya proyek industri pestisida

Industri pestisida merupakan industri pendukung bagi sektor pertanian dalam arti luas, sektor industri maupun sektor perumahan/pekerjaan umum. 

Sebagaimana pendirian industri lainnya maka dalam pendirian industri pestisida diperlukan perijinan dari instansi terkait, pembangunan sarana dan prasarana, serta pemasangan alat-alat produksi atau mesin sebagai investasi awal. 

Disamping itu juga disiapkan sarana dan prasarana pendukung yang akan menyokong proses berjalannya industri itu sendiri seperti alat transportasi, pengolahan limbah, lahan percobaan, gudang, dan lain-lain.

Secara garis besar modal investasi untuk pendirian sebuah industri pestisida dapat dikelompokkan dalam tiga bagian yaitu biaya perijinan, biaya pembangunan termasuk sarana dan prasarana, dan biaya operasional.

Perkiraan nilai investasi industri pestisida

Dalam meninjau perkiraan nilai investasi, perlu diberikan beberapa gambaran.

  • Bahwa nilai investasi yang disampaikan disini adalah nilai investasi untuk industri pestisida sebagai formulator. Untuk industri pestisida sebagai pure manufacture yang diperkuat dengan pencarian atau pengembangan bahan aktif yang tampaknya masih jauh untuk dilakukan di Indonesia kecuali untuk PMA.
  • Dalam pemberian nilai investasi ini akan sangat dipengaruhi pula oleh jenis formulator yang dikembangkan sehubungan dengan jenis formulasi yang akan dihasilkan atau diproduksi seperti cairan, tepung, padatan atau pellet.
  • Nilai investasi yang dicantumkan dapat direduksi atau diperluas sesuai dengan perencanaan produksi. 

Penggunaan komponen lahan untuk industri pestisida terdiri dari gedung kantor, pabrik, dan lain-lain yang luasnya hanya 20%, sedangkan sisanya sebagai daerah penyangga untuk meminimalkan resiko jika terjadi kebocoran dalam proses industri. 

Letak gedung dan pabrik biasanya berada di bagian tengah lahan sehingga pabrik dan gedung dikelilingi oleh lahan yang luas. 

Lahan tersebut dapat juga digunakan sebagai areal percobaan pendahuluan.

Bangunan fisik untuk industri pestisida terdiri dari gedung kantor, pabrik dengan beberapa unit gedung tergantung jenis formulasi yang akan diproduksi, laboratorium, gudang sebagai tempat penyimpanan baik bahan-bahan dasar pembuatan formulasi maupun produk-produk formulasi yang siap untuk dipasarkan, pengolahan limbah, garasi dan bangunan-bangunan lain yang mendukung proses produksi.

Struktur Biaya Industri Pestisida

No.

Komponen Biaya

Struktur Biaya

Rp.

%

1

Investasi
 

a. Bangunan

          860.000,00

0,76

 

b. Tanah

        2.000.000,00

1,77

 

c. Mesin

        1.095.000,00

0,97

 

d. Kendaraan

           480.000,00

0,42

 

e. Peralatan dan perlengkapan

           575.000,00

0,51

 

f. Instalasi air, listrik & Telepon

             10.000,00

0,01

 

g. Izin

             50.000,00

0,04

 

h. Registrasi

             75.000,00

0,07

 

I. Lainnya

             77.175,00

0,07

        Total Biaya Investasi

        5.222.175,00

4,62

2

Biaya Operasional

 

a. Bahan Baku

     103.910.994,00

91,85

 

b. Tenaga Kerja

           840.000,00

0,74

 

c. Kemasan

        2.880.000,00

2,55

 

d. Perawatan Peralatan

               6.000,00

0,01

 

e. Listrik & Telepon

               6.000,00

0,01

 

f. Penyusutan

           224.000,00

0,20

 

g. Administrasi

             30.000,00

0,03

 

h. Pajak & Iuran

             10.000,00

0,01

         Total Biaya Operasional

     107.906.994,00

95,38

Mesin-mesin pabrik dalam industri pestisida sangat tergantung dengan jenis formulasi yang akan diproduksi. 

Namun demikian mesin-mesin yang memproduksi satu jenis pestisida sebaiknya tidak digunakan untuk jenis pestisida lainnya terutama jenis pestisida herbisida. 

Mesin formulator untuk herbisida sedapat mungkin tidak digunakan untuk memproduksi jenis pestisida lain. 

Hal ini berkaitan dengan sifat jenis pestisida tersebut yang dapat berakibat fatal dalam proses produksi jenis pestisida lainnya. 

Dengan demikian perlu investasi  mesin-mesin secara spesifik baik untuk jenis pestisida maupun jenis formulasinya. 

Kapasitas mesin sendiri dapat dimulai dari satu ton per batch hingga 5 ton per batch

Pengendalian mutu dan pemeriksaan sample perlu dilakukan dengan menggunakan alat atau instrumen analisis seperti kromatografi cair kinerja tinggi (high performance liquid chromatography, HPLC) sehingga produk yang akan dipasarkan benar-benar mempunyai mutu yang seragam dan baik. 

Untuk itu investasi instrumen ini sangat dibutuhkan. 

Pengolahan limbah industri pestisida perlu dilakukan secara hati-hati karena limbah yang dikeluarkan akibat proses produksi sangat beracun yang biasanya dikelompokkan dalam B3. 

Untuk itu unit ini perlu ada dan dikelola dengan baik untuk menjamin kelangsungan industri itu sendiri. 

Dengan demikian perlu dilakukan investasi beberapa peralatan untuk pengolahan limbah ini.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas, maka pada tabel di bawah ini dapat dirangkumkan perkiraan nilai investasi untuk industri pestisida. 

Nilai investasi ini seperti diuraikan di muka dapat dipersempit atau diperluas sesuai dengan rencana pendirian industri pestisida itu sendiri. 

Biaya investasi industri pestisida

No.

Uraian

Volume

Satuan

Harga

(Rp./Satuan)

Nilai

(Rp. X 1000)

1

Tanah

50000

M2

          40,00

2.000.000,00

 

           Sub total I

2.000.000,00

2

Bangunan

 

kantor

300

M2

 350,00

105.000,00

 

pabrik

2000

M2

 250,00

500.000,00

 

gudang

300

M2

250,00

75.000,00

 

labolatorium

100

M2

350,00

35.000,00

 

rumah kaca

100

M2

350,00

35.000,00

 

garasi

200

M2

200,00

40.000,00

 

pengolahan limbah

100

M2

300,00

30.000,00

 

lainnya

200

M2

200,00

40.000,00

 

        Sub total II

 860.000,00

3

Mesin

 

formulasi cair

1

Unit

400.000,00

400.000,00

 

formulasi tepung

1

Unit

 300.000,00

300.000,00

 

formulasi padat

1

Unit

 300.000,00

300.000,00

 

forklift

3

Unit

 15.000,00

45.000,00

 

pengolahan limbah

1

Unit

 50.000,00

50.000,00

 

        Sub total III

 1.095.000,00

4

Kendaraan

    
 

truk

2

Unit

120.000,00

240.000,00

 

pick up

3

Unit

80.000,00

240.000,00

 

        Sub Total IV

 480.000,00

5

Peralatan dan perlengkapan

 

kantor

1

Paket

 10.000,00

 10.000,00

 

gudang

1

Paket

 5.000,00

5.000,00

 

labolatorium

/instrumen analisis

1

Unit

560.000,00

560.000,00

 

         Sub total V

575.000,00

6

Instalasi air,

listrik, telepon

1

Paket

10.000,00

10.000,00

 

         Sub total VI

 10.000,00

7

Proses perizinan

pendirian pabrik

1

Paket

 50.000,00

 50.000,00

 

        Sub Total VII

50.000,00

8

Proses registrasi

produk pestisida

3

Jenis

25.000,00

 75.000,00

 

        Sub total VIII

75.000,00

9

Lainnya (1,5 %)

   

77.175,00

 

        Sub Total IX

77.175,00

 

                Total

5.222.175,00

Sumber Dana Investasi

Dana investasi berasal dari pinjaman lembaga keuangan seperti bank dengan masa tenggang waktu 3-4 tahun, kredit investasi ini akan dicicil setiap tahun dengan beban bunga sebesar 19 %. 

Besarnya dana investasi yang dipinjam dari lembaga keuangan seperti Bank adalah sebesar 65 % dari total biaya investasi yang diperlukan.

Asumsi-asumsi

Luas kepemilikan Lahan

Pendirian sebuah industri formulasi pestisida setidak-tidaknya membutuhkan lahan seluas 5 hektar.

Mesin

Dengan luas lahan 5 ha, pabrik yang akan didirikan terdiri dari 1 unit mesin formulasi cair, 1 unit mesin formulasi tepung dan 1 unit mesin formulasi pellet, 3 unit forklift dan 1 unit mesin pengolahan limbah.

Mesin-mesin yang akan digunakan tersebut sedapat mungkin merupakan produk dalam negeri, sehingga biaya untuk investasi dapat ditekan.

Proyeksi Produksi

Industri formulasi diasumsikan dapat berproduksi secara komersial pada tahun pertama. Produksi tahun pertama ini sebesar 2 ton/Unit mesin/hari.

Pada tahun ke-2, produksi meningkat menjadi 3 ton/Unit mesin/hari, sedangkan pada tahun ke-tiga produksi meningkat lagi menjadi 3.5 ton/Unit mesin/hari.

Selanjutnya produksi stabil. Kondisi ini tidak berlaku pada keadaan tertentu dimana di pasar terjadi peningkatan permintaan, pabrik dapat saja meningkatkan produksinya dengan cara menambah jam kerja mesin.

Penambahan jam kerja ini bisa mencapai 3 kali lipat jam kerja biasa per hari.

 Harga

Harga jual produk yang akan dihasilkan ditetapkan akan memiliki harga yang tetap dari tahun ke tahun.

Proyeksi Keuangan

Proyeksi arus kas industri pestisida menunjukkan bahwa penarikan kredit investasi berlangsung selama dua tahun sejak tahun 0 sampai tahun 1. 

Sedangkan pengembalian kredit investasi dimulai pada tahun ke 1 dan berakhir/lunas pada tahun ke 9 atau selama 8 tahun.

Kelayakan Investasi

Untuk mengukur kelayakan investasi industri pestisida digunakan alat analisis payback period, NPV/IRR, Benefit Cost Ratio dan Analisis Sensitivitas.

Payback Period

Analisis payback period digunakan untuk mengetahui pada tahun ke berapa investasi yang dilakukan akan kembali, dengan asumsi seluruh penerimaan dikurangi beban bunga kredit digunakan untuk melunasi kredit investasi. 

Untuk proyek investasi industri pestisida, perhitungan payback period disajikan pada Tabel. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kredit dapat dikembalikan pada tahun ke-4.

NPV dan IRR

Berdasarkan hasil perhitungan yang tertera pada Tabel (Arus Kas) dapat dihitung NPV proyek industri pestisida yaitu sebesar Rp 32.978.820,80. Pada tingkat diskon faktor (DF) sebesar 19 persen.

Internal Rate of Return Industri pestisida yang diperoleh sebesar 38 persen. 

Hal ini menunjukkan bahwa untuk memperoleh NPV = 0 (pulang pokok) tingkat pengembalian investasi per tahun yang harus dicapai sebesar 38 persen.

Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas ini digunakan untuk melihat sejauh mana kelayakan suatu industri pestisida terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.

Dalam bahasan ini akan diuraikan bagaimana pengaruh penurunan pemasukan, kenaikan harga bahan baku dan kenaikan harga bahan baku yang disertai oleh penurunan pemasukan.

Penjelasan lebih rinci dijabarkan sebagai berikut.

Penurunan Pemasukan

Penurunan pemasukan yang masih dapat ditoleransi suatu industri pestisida adalah sebesar 7.3 persen (IRR = 19 persen, NPV = Rp 102 355.49, B/C Ratio = 1,82 dan payback period selama 6 tahun 3 bulan).

Kenaikan Harga Bahan Baku

Salah satu titik kritis industri pestisida adalah harga bahan baku. Industri pestisida masih layak beroperasi bila terjadi kenaikan harga bahan baku sebesar 8,5 %.

Pada kondisi ini, kredit investasi akan dapat dikembalikan pada tahun ke – 6 atau tepatnya 6 tahun 3 bulan.

Kenaikan Harga Bahan Baku yang di Sertai Penurunan Pemasukan 

Apabila pada suatu kondisi dimana terjadi kenaikan harga bahan baku dan disertai dengan penurunan pendapatan, industri pestisida mampu bertahan pada tingkat kenaikan harga bahan baku sebesar 2,5% dan disertai penurunan pendapatan sebesar 5,2%.

Pada kondisi ini, kredit dapat dikembalikan pada tahun ke – 6 bulan ke – 3 hari ke – 15. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 21.

Rasio Industri

Dari analisis yang dilakukan terhadap laporan keuangan perusahaan “X” , diketahui bahwa perusahaan “X” tersebut masih dalam keadaan likuid. Keadaan ini dapat dilihat dari nilai rasio lancar dan rasio cepat perusahaan “X” yang masing-masing sebesar 1,22 dan 1,00.

Rasio lancar 1,22 artinya industri pestisda mempunyai aktiva lancar sebesar Rp 1,22 untuk setiap Rp 1,00 hutang lancar.

Sedangkan bila dilihat dari nilai rasio cepat, industri pestisida memiliki nilai rasio cepat sebesar 1,00. Hal ini berarti industri pestisida masih mampu memenuhi seluruh kewajiban finansialnya.

Dalam keadaan reel, nilai Rasio Cepat dan Rasio Lancar sebesar angka-angka tersebut, sebenarnya beresiko  karena banyak sekali faktor yang mempengaruhi kondisi keuangan industri pestisida.

Salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah nilai kurs dolar terhadap rupiah.

Bila dilihat aktivitasnya, perusahaan “X” mampu menghasilkan Rp 0,13,- laba operasi untuk setiap Rp 1,00,- penjualan, perusahan ini memiliki perputaran harta total sebesar Rp 2,18 dari setiap penjualan yang dilakukan.

Laba operasi yang diperoleh adalah Rp 0,29 dengan marjin laba neto 0,12 %.

Perusahaan “X” ini menggunakan utang baik utang jangka pendek maupun utang janka panjang sebesar Rp 0,48,- untuk mendanai Rp 1,00 harta yang dimiliki.

Dalam hal ini ekuitas berperan sebesar 0,96 % dalam pembiayaan harta. Kemampuan penerimaan perusahaan “X” untuk membayar bunga pinjaman adalah sebesar 8.27%.

Perusahaan “X” mampu menberikan penghasilan investasi sebesar 0,26. Perusahaan ini juga mampu menghasilkan laba sebesar Rp 0,49,-  untuk setiap Rp 1,00,- ekuitas biasa.

Penilaian masyarakat terhadap perusahaan “X”, dapat dikatakan baik karena perusahaan ini memiliki rasio harga buku sebebsar 2,63, rasio harga laba sebesar 41,90 dengan laba perlembar saham sebesar Rp 829,50,-.

 Proyeksi Arus Kas perusahaan pestisida

 

No.

Uraian

Tahun

  
   

0

1

2

      

1.

PEMASUKAN

   
 

- Penjualan

 

   78,960,000.00

 118,440,000.00

      

2.

PENGELUARAN

   
 

a.

Investasi

   
  

 - Lahan

  2,000,000.00

  
  

- Bangunan

     860,000.00

  
  

- Mesin

  1,095,000.00

  
  

- peralatan dan perlengkapan

     575,000.00

  
  

- Instalasi air, listrik, telepon

       10,000.00

  
  

- perizinan

       50,000.00

  
  

- Registrasi

       75,000.00

  
  

- Kendaraan

     480,000.00

  
  

- Lainnya

       77,175.00

  
  

Jumlah Investasi

  5,222,175.00

  
 

b.

Biaya Operasi

   
  

- Bahan baku

 

 103,910,994.00

 103,910,994.00

  

- Tenaga Kerja

 

       840,000.00

       840,000.00

  

- Kemasan

 

     2,880,000.00

     4,320,000.00

  

- Perawatan Peralatan

 

           6,000.00

           6,000.00

  

- Listrik dan telepon

 

           6,000.00

           6,000.00

  

- Penyusutan

 

       224,000.00

       224,000.00

  

- Administrasi

 

         30,000.00

         30,000.00

  

- Pajak dan iuran

 

         10,000.00

         10,000.00

  

Jumlah Biaya Operasi

                  -  

 107,906,994.00

 109,346,994.00

 

c

Biaya Kredit

   
  

 - Angsuran Pokok + Bunga

     644,938.61

   17,618,241.57

       573,278.77

 

 -Jumlah Pengeluaran

  5,867,113.61

 125,525,235.57

 109,920,272.77

3

ARUS KAS

   
  

 - Musim ini

 (5,867,113.61)

  (46,565,235.57)

     8,519,727.23

  

 - Akumulasi

 (5,867,113.61)

  (52,432,349.18)

  (43,912,621.95)

 

No.

Uraian

Tahun

   

3

4

5

      

1.

PEMASUKAN

   
 

- Penjualan

 138,180,000.00

 138,180,000.00

 138,180,000.00

      

2.

PENGELUARAN

   
 

a.

Investasi

   
  

 - Lahan

   
  

- Bangunan

   
  

- Mesin

   
  

- peralatan dan perlengkapan

   
  

- Instalasi air, listrik, telepon

   
  

- perizinan

   
  

- Registrasi

   
  

- Kendaraan

   
  

- Lainnya

   
  

Jumlah Investasi

   
 

b.

Biaya Operasi

   
  

- Bahan baku

 103,910,994.00

 103,910,994.00

 103,910,994.00

  

- Tenaga Kerja

       840,000.00

       840,000.00

       840,000.00

  

- Kemasan

     5,040,000.00

     5,040,000.00

     5,040,000.00

  

- Perawatan Peralatan

           6,000.00

           6,000.00

           6,000.00

  

- Listrik dan telepon

           6,000.00

           6,000.00

           6,000.00

  

- Penyusutan

       224,000.00

       224,000.00

       224,000.00

  

- Administrasi

         30,000.00

         30,000.00

         30,000.00

  

- Pajak dan iuran

         10,000.00

         10,000.00

         10,000.00

  

Jumlah Biaya Operasi

 110,066,994.00

 109,796,994.00

 109,796,994.00

 

c

Biaya Kredit

   
  

 - Angsuran Pokok + Bunga

       501,618.92

       429,959.08

       358,299.23

 

 -Jumlah Pengeluaran

 110,568,612.92

 110,226,953.08

 110,155,293.23

3

ARUS KAS

   
  

 - Musim ini

   27,611,387.08

   27,953,046.93

   28,024,706.77

  

 - Akumulasi

  (16,301,234.87)

   11,651,812.05

   39,676,518.82

 

No.

Uraian

   
   

6

7

8

      

1.

PEMASUKAN

   
 

- Penjualan

 138,180,000.00

 138,180,000.00

 138,180,000.00

      

2.

PENGELUARAN

   
 

a.

Investasi

   
  

 - Lahan

   
  

- Bangunan

   
  

- Mesin

   
  

- peralatan dan perlengkapan

   
  

- Instalasi air, listrik, telepon

   
  

- perizinan

   
  

- Registrasi

   
  

- Kendaraan

   
  

- Lainnya

   
  

Jumlah Investasi

   
 

b.

Biaya Operasi

   
  

- Bahan baku

 103,910,994.00

 103,910,994.00

 103,910,994.00

  

- Tenaga Kerja

       840,000.00

       840,000.00

       840,000.00

  

- Kemasan

     5,040,000.00

     5,040,000.00

     5,040,000.00

  

- Perawatan Peralatan

           6,000.00

           6,000.00

           6,000.00

  

- Listrik dan telepon

           6,000.00

           6,000.00

           6,000.00

  

- Penyusutan

       224,000.00

       224,000.00

       224,000.00

  

- Administrasi

         30,000.00

         30,000.00

         30,000.00

  

- Pajak dan iuran

         10,000.00

         10,000.00

         10,000.00

  

Jumlah Biaya Operasi

 109,796,994.00

 109,796,994.00

 109,796,994.00

 

c

Biaya Kredit

   
  

 - Angsuran Pokok + Bunga

       286,639.38

       214,979.54

       143,319.69

 

 -Jumlah Pengeluaran

 110,083,633.38

 110,011,973.54

 109,940,313.69

3

ARUS KAS

   
  

 - Musim ini

   28,096,366.62

   28,168,026.46

   28,239,686.31

  

 - Akumulasi

   67,772,885.44

   95,940,911.90

 124,180,598.21

 

No.

Uraian

  

Jumlah

 

   

9

10

 

 

      

 

1.

PEMASUKAN

   

 

 

- Penjualan

 138,180,000.00

 138,180,000.00

 1,302,840,000.00

 

      

 

2.

PENGELUARAN

   

 

 

a.

Investasi

   

 

  

 - Lahan

   

 

  

- Bangunan

   

 

  

- Mesin

   

 

  

- peralatan dan perlengkapan

   

 

  

- Instalasi air, listrik, telepon

   

 

  

- perizinan

   

 

  

- Registrasi

   

 

  

- Kendaraan

   

 

  

- Lainnya

   

 

  

Jumlah Investasi

   

 

 

b.

Biaya Operasi

   

 

  

- Bahan baku

 103,910,994.00

 103,910,994.00

 1,039,109,940.00

 

  

- Tenaga Kerja

       840,000.00

       840,000.00

       8,400,000.00

 

  

- Kemasan

     5,040,000.00

     5,040,000.00

      47,520,000.00

 

  

- Perawatan Peralatan

           6,000.00

           6,000.00

            60,000.00

 

  

- Listrik dan telepon

           6,000.00

           6,000.00

            60,000.00

 

  

- Penyusutan

       224,000.00

       224,000.00

       2,240,000.00

 

  

- Administrasi

         30,000.00

         30,000.00

          300,000.00

 

  

- Pajak dan iuran

         10,000.00

         10,000.00

          100,000.00

 

  

Jumlah Biaya Operasi

 109,796,994.00

 109,796,994.00

 1,095,899,940.00

 

 

c

Biaya Kredit

  

                       -  

 

  

 - Angsuran Pokok + Bunga

         71,659.85

                    -  

      20,842,934.63

 

 

 -Jumlah Pengeluaran

 109,868,653.85

 109,796,994.00

 1,121,965,049.63

 

3

ARUS KAS

  

                       -  

 

  

 - Musim ini

   28,311,346.15

   28,383,006.00

    180,874,950.37

 

  

 - Akumulasi

 152,491,944.37

 180,874,950.37

 

 

 

 

     

PBP (tahun)

               4.58

 

BCR (x)

1.97

 

NPV (DF = 19% pa)

32,973,802.80

 

IRR

38%

 

BEP Vol (Kg)

       95,513.91

 

            

Analisis Sensitivitas Industri Pestisida

Kriteria

Kelayakan

Usaha

Penurunan Pemasukan

Kenaikan Harga

Bahan Baku

Kenaikan Harga

Bahan Baku & Penurunan Pemasukan

PBP (Tahun)

6,28

6,24

6.29

BCR (x)

1,82

1,82

1.82

NPV (DF = 19 %)

102.355,49

769.300,30

86.612,76

IRR

19 %

19 %

19 %

BEP Vol (kg)

95.398,33

95.513,91

95.395,63

Referensi Bacaan

  1. Artikel pestisida di situs wikipedia
  2. Artikel Pestisida di situs WHO
  3. Artikel Pestisida dari National Institute of Environmental Health Sciences
  4. Artikel Pestisida dari Beyond Pesticide
  5. Artikel Pestisida dari Tokipedia
  6. Lain-lain