Last Updated:
Usaha penggilingan padi
Usaha penggilingan padi www.pustakadunia.com

Penggilingan Padi

Penggilingan Padi. Beras merupakan bahan pangan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa, dan konsumsi beras yang sangat tinggi, yaitu 133 kg/kapita per tahun, maka beras yang harus disediakan setiap tahunnya lebih dari 29 juta ton, atau setara dengan sekitar 50 juta ton gabah kering giling.

Masalahnya adalah kebutuhan beras yang demikian besarnya – terutama untuk saat ini – tidak diimbangi dengan kemampuan memproduksinya, sehingga beras harus didatangkan dari negara lain seperti Vietnam dan Thailand.

Di negara mana pun, rakyat harus dicukupi kebutuhan pangannya bila ingin negara stabil.

Begitu penting dan peliknya soal pemenuhan kebutuhan akan beras ini sehingga kebijakan membuka keran impor saja tidak cukup.

Baca Juga : Artikel tentang Jenis-jenis Beras Organik

Ada sisi lain yang harus diperhatikan yaitu kepentingan petani padi Indonesia. Bila impor beras tidak dibatasi dengan ketat, petani akan menderita karena harga gabah lokal akan semakin jatuh.

Sepintas lalu hal ini dianggap mudah karena produksi padi petani tidak efisien.

Tetapi bila hal ini dibiarkan, lambat laun kontribusi petani dalam usaha pengadaan beras akan semakin kecil dan ketergantungan Indonesia pada negara lain dalam soal pemenuhan kebutuhan beras akan semakin besar.

Penggilingan Padi
Hal ini merupakan sesuatu yang sangat membahayakan keselamatan bangsa, dan bukan hal yang tidak mungkin terjadi, karena beras merupakan komoditas politis.

Untuk tahun 2002 ini saja Indonesia diprediksi akan menjadi pengimpor beras terbesar di dunia dengan perkiraan volume impor sebesar 2,75 juta ton.

Ini adalah suatu jumlah impor yang sangat besar untuk Indonesia yang mengklaim diri sebagai negara agraris, sehingga memancing pro dan kontra di kalangan masyarakat luas.

Selain itu, hal ini juga menunjukkan penurunan prestasi mengingat pada kurun waktu 1985-1990 impor beras Indonesia hanya sekitar 100 ribu ton setiap tahunnya.

Masalah lain yang mungkin timbul dengan besarnya impor beras adalah ketepatan waktu dalam mengisi kekosongan beras di pasar.

Impor beras dilakukan melalui prosedur yang cukup memakan waktu, sehingga memerlukan perencanaan yang lebih matang dari segi waktu dan jumlah.

Belum lagi adanya kenyataan bahwa mutu beras yang didatangkan dari luar negeri tidak selalu terjamin.

Hal ini masuk akal karena mungkin saja beras dikirim ke Indonesia dengan mutu rendah dan telah lama diproses sebagai konsekuensi dari harga murah yang diminta.

Dilain sisi, tahun 2002 ini produksi padi nasional diprediksi akan mencapai lebih dari 50 juta ton gabah kering panen atau setara dengan lebih dari 43,6 juta ton gabah kering giling.

Dengan kenyataan seperti tersebut di atas, masalah kekurangan beras sebaiknya dipecahkan melalui pengadaan beras di dalam negeri, baik dengan cara perluasan areal pertanaman padi, maupun melalui peningkatan produktivitas.

Strategi dalam Mengatasi Kekurangan Pasokan Beras

Diperlukan strategi yang matang mengenai pertambahan luas areal tanam yang akan dicetak sambil mencegah terjadinya konversi areal persawahan ke jenis penggunaan lahan lainnya.

Suka atau tidak, alternatif tersebut tampaknya harus ditempuh, mengingat ketergantungan pada negara lain akan bahan pangan pokok sangat tidak baik bagi negara sebesar Indonesia, yang sebenarnya mempunyai potensi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan bagi penduduknya sendiri.

Selain di tingkat produksi, tingkat penanganan pasca panen padi juga perlu diperhatikan dengan baik. Pemanenan, perontokan, penjemuran, dan penggilingan padi harus dilakukan dengan cara dan teknologi yang tepat, untuk menekan susut mutu dan susut jumlah.

Baca Juga : Artikel tentang Artikel Pestisida

Penggilingan padi mempunyai peranan yang sangat vital dalam mengkonversi padi menjadi beras yang siap diolah untuk dikonsumsi maupun untuk disimpan sebagai cadangan.

Bagi Bulog, badan pemerintah yang ditugasi mengawasi dan mengatur ketersediaan bahan pangan pokok, mendistribusikan beras lebih murah karena volume yang harus disimpan telah berkurang lebih dari sepertiganya dibanding bila mendistribusikan gabah.

Kapasitas giling dari seluruh penggilingan padi yang ada di Indonesia saat ini masih belum mencukupi baik dari segi produksi maupun penanganan pascapanennya.

Dengan demikian, usaha penggilingan padi harus terus dibenahi untuk meningkatkan efisiensi dan menjamin kelangsungannya, agar usaha pemenuhan kebutuhan akan beras dapat dilakukan secara optimal.

GAMBARAN UMUM USAHA JASA PENGGILINGAN PADI

Ciri Khas Usaha Jasa Penggilingan padi

Usaha jasa penggilingan padi umumnya tidak berjalan penuh sepanjang tahun atau bersifat musiman, sebab gabah tidak tersedia sepanjang tahun.

Kegiatan usaha jasa penggilingan padi berjalan hanya pada musim panen dan beberapa bulan setelahnya, tergantung pada besarnya hasil panen di wilayah sekitar penggilingan padi berada.

Jasa Penggilingan Pafi
Oleh karena itu, hari kerja suatu penggilingan padi dalam setahun ditentukan oleh volume hasil dan frekuensi panen di wilayah sekitarnya.

Pada masa-masa di luar musim panen, biasanya pemilik dan pekerja usaha jasa penggilingan padi akan mengisi waktu mereka dengan jenis kegiatan lainnya seperti bertani dan berdagang.

Oleh karena itu, banyak di antara pemilik penggilingan padi juga berprofesi sebagai pedagang beras untuk mengisi kekosongan kegiatan penggilingan padi, bila mereka mempunyai modal yang cukup untuk itu.

Pengusaha jasa penggilingan padi yang juga berprofesi sebagai pedagang beras melakukan usaha jual beli gabah atau beras.

Pembelian gabah dilakukan dari petani dan tengkulak atau pedagang pengumpul. Setelah digiling, beras yang dihasilkan dijual kepada tengkulak, pasar-pasar sekitar atau ke DOLOG setempat sesuai dengan kesepakatan.

Selain itu terdapat juga pengusaha jasa penggilingan padi yang menjalin kerjasama dengan tengkulak atau pedagang pengumpul dimana tengkulak menggiling padi yang dimilikinya hanya di satu penggilingan padi tertentu.

Tengkulak biasanya membeli gabah dari petani dalam bentuk gabah basah langsung di lapangan setelah panen.

Selanjutnya gabah yang telah digiling di penggilingan padi mitranya dijual ke pasar-pasar sekitar atau DOLOG.

Penggilingan padi yang juga melakukan usaha perdagangan beras biasanya memiliki armada transportasi untuk mengangkut beras yang akan dijual.

Demikian juga dengan tengkulak atau pedagang pengumpul. Mereka kadang dibantu oleh calo yang bertugas mencari beras yang siap dilempar ke pasar.

Jasa calo diperlukan oleh tengkulak bila mereka tidak memiliki jalinan kerjasama dengan petani atau penggilingan padi.

Jasa calo juga terutama dibutuhkan oleh tengkulak atau pedagang pengumpul yang bukan merupakan penduduk asli daerah tersebut.

Secara kasar hari kerja suatu industri jasa penggilingan padi adalah sekitar 100 sampai 200 hari per tahun bila panen dilakukan dua kali dalam satu tahun, dengan jam kerja antara 8 sampai 10 jam per hari.

Bila pemilik penggilingan padi juga bertindak sebagai pedagang beras, maka hari kerja dapat bertambah sebab pemilik akan berusaha mencari gabah dari daerah lainnya untuk menjaga kontinuitas pasokannya.

Namun demikian, bila usaha penggilingan padi dikombinasikan dengan perdagangan beras, masalah jumlah hari kerja dapat diatasi karena kegiatan perdagangan beras akan tetap berlanjut ketika tidak ada lagi gabah yang digiling.

Dari segi pemanfaatan tenaga kerja tetap, hal ini akan sangat menguntungkan. Selain itu, cash flow perusahaan akan terus berlangsung sehingga perputaran modal tak pernah berhenti.

Akan tetapi manfaat yang akan didapat dari usaha perdagangan beras ini tergantung pada besar kecilnya modal yang ditanam dalam bentuk stok beras.

Semakin besar modal, semakin banyak stok beras yang dapat disimpan, dan semakin mantap posisi keuangan dari aspek perdagangannya.

Bahkan, dalam usaha perdagangan beras yang besar, posisi penggilingan padi dapat dijadikan sebagai penunjang, yang artinya tidak lagi menjual jasa penggilingan padi kepada orang lain,  tetapi untuk menggiling padi sendiri yang akan diperdagangkan.

Klasifikasi Skala Usaha Jasa Penggilingan Padi 

Skala usaha industri jasa penggilingan padi ditentukan oleh besar kecilnya kapasitas giling terpasang yang dimiliki suatu penggilingan padi.

Suatu penggilingan padi digolongkan sebagai penggilingan padi berskala kecil bila kapasitas penggilingannya tidak lebih dari 1500 kg beras per jam (Departemen, Pertanian, 2001).

Menurut data tahun 1990-1997, yang dirilis oleh Departemen Pertanian RI (1998), lebih dari 50% penggilingan padi yang ada di Indonesia tergolong dalam penggilingan padi dengan skala kecil dan lebih dari 36% adalah rice milling unit, yang dari segi kapasitas juga termasuk penggilingan padi kecil.

Dari sekitar 82 ribu unit industri jasa penggilingan padi berskala kecil ini, setiap tahunnya dihasilkan lebih dari 24 juta ton beras atau sekitar 95% dari kapasitas giling seluruh penggilingan padi di Indonesia.

Dibandingkan dengan situasi pada tahun 1997 tersebut, saat ini kapasitas giling penggilingan padi secara keseluruhan meningkat.

Hal ini dimungkinkan oleh semakin banyaknya pengusaha baru di bidang usaha jasa penggilingan padi dengan menggunakan mesin berkapasitas giling besar.

Peta Potensi/Penyebaran Usaha Jasa Penggilingan Padi

Pada tahun 2001 terjadi kelebihan kapasitas giling yang cukup besar pada usaha penggilingan padi di Indonesia.

Hal ini didukung oleh data kapasitas giling tahun 2001 dibandingkan dengan jumlah gabah kering yang tersedia untuk digiling.

Dari tahun 1997 secara umum terjadi peningkatan kapasitas giling penggilingan padi diseluruh wilayah Indonesia.

Namun hal ini tidak diikuti dengan meningkatnya produksi padi Indonesia. Hal ini dimungkinkan oleh terjadinya gagal panen padi di daerah-daerah sentra produksi padi.

Semakin maraknya konversi lahan subur pertanian menjadi area pemukiman juga turut mendorong terjadinya penurunan produksi padi Indonesia.

Propinsi Sumatra Utara adalah satu-satunya propinsi yang mengalami kekurangan kapasitas giling penggilingan padi.

Hal ini ditunjukkan oleh kapasitas giling yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah bagah tersedia.

Dengan demikian, bila tidak terjadi peningkatan produksi padi maka peluang usaha jasa penggilingan padi di Indonesia secara umum tidak ada.

Namun demikian perlu juga dikaji mengenai peluang usaha jasa penggilingan padi dalam bentuk yang lebih modern yang melakukan pengolahan padi secara terpadu.

Sebagai contoh adalah usaha yang memadukan antara proses penggilingan padi  hingga menjadi beras berkualitas super yang juga dikombinasikan dengan pemberian bahan aditif untuk meningkatkan nilai gizi beras, sekaligus menangani aspek pasca produksi dan pemasarannya. 

Potensi usaha penggilingan padi per propinsi di Indonesia tahun 2001

No.

Propinsi

Produksi

Kapasitas Giling *

Potensi usaha

 

 

Ton GKG

Ton GKG

 

1

D.I. Aceh

1,260,379

1,599,321

338,942

2

Sumatera Utara

3,287,112

3,148,555

-138,557

3

Sumatera Barat

1,574,439

2,807,718

1,233,279

4

R i a u

378,059

695,435

317,376

5

J a m b i

548,250

953,232

404,982

6

Bengkulu

359,934

847,138

487,204

7

L a m p u n g

1,990,168

2,411,113

420,945

8

Sumatera Selatan

1,684,660

2,624,617

939,957

 

S u m a t e r a

11,083,001

15,087,130

4,004,129

9

D.K.I Jakarta

13,056

78,889

65,833

10

Jawa Barat

9,070,153

13,196,723

4,126,570

11

D.I. Yogyakarta

661,802

975,877

314,075

12

Jawa Tengah

8,293,950

8,570,299

276,349

13

Jawa Timur

8,673,242

13,985,500

5,312,258

 

J a w a

26,712,203

36,807,287

10,095,084

14

B a l i

780,960

1,409,516

628,556

15

NTB

1,459,103

1,769,274

310,171

16

NTT

433,654

951,262

517,608

 

Bali & Nustra

2,673,717

4,130,052

1,456,335

17

Kalimantan Barat

910,232

983,874

73,642

18

Kalimantan Tengah

348,322

481,189

132,867

19

Kalimantan Selatan

1,384,646

1,499,375

114,729

20

Kalimantan Timur

359,387

703,431

344,044

 

K a l i m a n t a n

3,002,587

3,667,869

665,282

21

Sulawesi Utara

337,524

585,936

248,412

22

Sulawesi Tengah

461,763

1,075,546

613,783

23

Sulawesi Selatan

3,375,233

6,931,227

3,555,994

24

Sulawesi Tenggara

263,477

755,156

491,679

 

S u l a w e s i

4,437,997

9,347,865

4,909,868

25

M a l u k u

33,885

38,412

4,527

26

Papua

75,030

187,961

112,931

 

Maluku & Irja

108,915

226,374

117,459

 

I N D O N E S I A

48,018,420

69,266,576

21,248,156

Sumber : Departemen Pertanian 1998 dan 2000 (diolah) BPS 2002

Keterangan : *  Merupakan angka estimasi karena data tidak tersedia

SYARAT PENDIRIAN USAHA JASA PENGGILINGAN PADI

Perizinan Pendirian Usaha Jasa Penggilingan Padi

Peraturan mengenai perizinan pendirian usaha jasa penggilingan padi tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 859/Kpts/TP.250/11/98 tentang Pedoman Pembinaan Perusahaan Penggilingan Padi, Huller dan Penyosohan Beras.

Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa setiap perusahaan wajib memiliki izin usaha dimana setiap perusahaan skala besar harus memiliki izin usaha, sedangkan perusahaan skala kecil wajib mendaftarkan usahanya.

Pemberian izin usaha dan tanda daftar usaha kepada perusahaan yang tidak mengandung modal asing merupakan wewenang Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II.

Sedangkan bagi perusahaan yang mengandung modal asing, izin usahanya diberikan oleh Menteri Pertanian.

Perizinan usaha bagi perusahaan yang mengandung modal asing diatur secara tersendiri.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk perijinan di masing-masing daerah besarnya tidak sama, tergantung kebijakan pemerintah daerah setempat.

Biaya perijinan ini juga seringkali bukan merupakan biaya resmi yang ditetapkan oleh pemerintah.

Permohonan izin usaha harus dilengkapi dengan Surat Izin Tempat Usaha (SITU), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Daftar Isian/Formulir Isian.

Sedangkan permohonan tanda daftar usaha hanya perlu melampirkan Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dan Daftar Isian/Formulir Isian.

Keterangan selengkapnya mengenai perizinan pendirian usaha jasa penggilingan padi dapat dilihat dibawah ini.

Pelaksanaan pemberian ijin pendirian usaha jasa pendirian padi didasarkan pada dua ketentuan yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 859/Kpts/TP.250/11/98 tentang Pedoman Pembinaan Perusahaan Penggilingan Padi, Huller dan Penyosohan Beras dan Keputusan Direktur Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura Nomor : I.HK.050.99.75 tentang Petunjuk pelaksanaan Pedoman Pembinaan Perusahaan Penggilingan Padi, Huller dan Penyosohan Beras.

Dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 859/Kpts/TP.250/11/98 tentang Pedoman Pembinaan Perusahaan Penggilingan Padi, Huller dan Penyosohan Beras, diatur ketentuan-ketentuan umum mengenai pemberian ijin pendirian usaha jasa pendirian padi, seperti tertulis berikut ini.

Ketentuan Umum

Dalam pedoman pembinaan perusahaan penggilingan padi, huller dan penyosohan beras, yang dimaksud dengan :

  1. Perusahaan adalah setiap penggilingan padi, huller maupun penyosohan beras.
  2. Penggilingan padi adalah setiap perusahaan yang digerakkan dengan tenaga motor penggerak dan ditujukan serta digunakan untuk mengolah padi/gabah menjadi beras sosoh
  3. Huller adalah setiap perusahaan yang digerakkan dengan tenaga motor penggerak dan ditujukan serta digunakan untuk mengolah padi/gabah menjadi beras pecah kulit
  4. Penyosohan beras adalah setiap perusahaan yang digerakkan dengan tenaga motor penggerak dan ditujukan serta digunakan untuk mengolah beras pecah kulit menjadi beras sosoh atau mengolah beras sosoh menjadi beras yang lebih baik lagi
  5. Surat izin usaha adalah pernyataan tertulis dari yang berwenang memberikan hak untuk mengusahakan perusahaan
  6. Perusahaan skala kecil adalah perusahaan yang memiliki kapasitas giling sampai dengan 1500 kg/jam setara beras/unit usaha
  7. Perusahaan skala besar adalah perusahaan yang memiliki kapasitas giling lebih besar dari 1500 kg/jam setara beras/unit usaha
  8. Rubber Roll Husker adalah Mesin Pecah Kulit Tipe Karet
  9. Pelmolen adalah Mesin Pecah Kulit Tipe Batu
  10. Flash Type Husker adalah Mesin Pecah Kulit Tipe Lempar
  11. Separator adalah ayakan pemisah gabah dengan beras pecah kulit
  12. Polisher adalah mesin penyosoh beras
  13. PERPADI (Persatuan Penggilingan Padi Indonesia) adalah organisasi pengembangan dan pembinaan penggilingan padi di Indonesia
  14. SITU adalah Surat Izin Tempat Usaha
  15. SIUP adalah Surat Izin Usaha Perdagangan
  16. TDU adalah Tanda Daftar Usaha

Perizinan Usaha

Ketentuan Perizinan Usaha
  1. Setiap perusahaan wajib memiliki izin usaha.
  2. Perusahaan yang mengandung modal asing, izin usahanya diberikan oleh Menteri Pertanian, sedang bagi perusahaan yang tidak mengandung modal asing izin usahanya diberikan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang pelaksanaannya dilakukan oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II.
  3. Perizinan usaha bagi Perusahaan yang mengandung modal asing akan diatur tersendiri.
  4. Perusahaan dibedakan dalam :
    1. Usaha skala besar
    2. Usaha skala kecil
  5. Perusahaan skala besar wajib memiliki izin usaha, sedangkan perusahaan skala kecil wajib mendaftarkan usahanya.

Tatacara Permohonan dan Pemberian Izin Usaha

  1. Permohonan izin usaha diajukan secara tertulis di atas kertas meterai kepada Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II dengan tembusan kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II setempat.
  2. Setiap permohonan izin usaha harus dilengkapi dengan :
    1. Surat Izin Tempat (SITU)
    2. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
    3. Daftar Isian/Formulir Isian
  3. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II wajib memberikan penjelasan-penjelasan tentang cara mengisi formulir permohonan izin usaha serta cara melengkapi lampiran yang diperlukan.
  4. Dalam memberikan izin usaha Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II wajib memperhatikan persyaratan teknis sebagai berikut :
    1. Peralatan yang digunakan harus mendukung upaya menekan kehilangan hasil, meningkatkan rendemen dan meningkatkan mutu beras giling.
    2. Untuk huller menggunakan peralatan pecah kulit yang baik yaitu Rubber Roll Husker atau pelmolen atau flash type husker atau peralatan lain yang direkomendasikan.
    3. Untuk penyosohan beras menggunakan mesin penyosoh secara bertingkat yaitu lebih dari satu kali penyosohan
    4. Untuk penggilingan padi minimal menggunakan paket peralatan yang terdiri dari peralatan pecah kulit yang baik yaitu Rubber Roll Husker atau pelmolen atau flash type husker atau peralatan lain yang direkomendasikan; separator; mesin penyosoh atau polisher secara bertingkat
  5. Kepala Dinas Tanaman Pangan Daerah Tingkat II setempat setelah menerima surat permohonan ijin secara lengkap, dalam jangka waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja harus dapat memberikan jawaban diterima atau ditolak permohonan ijin usaha penggilingan padi, huller dan penyosohan beras.
  6. Penolakan permohonan ijin harus harus diberikan dengan alasan-alasan dan dasar hukum yang jelas.
  7. Ijin usaha diberikan untuk jangka waktu selama perusahaan masih beroperasi.
  8. Perusahaan yang melakukan perubahan-perubahan atau peralihan hak usaha dan atau kepemilikan usaha, wajib mengajukan permohonan kepada pemberi ijin dengan dilengkapi alasan-alasan dan hal-hal yang akan dilakukan perubahan dan atau pengalihan hak.

Tatacara Permohonan dan Pendaftaran Usaha

  1. Permohonan pendaftaran usaha diajukan secara tertulis diatas kertas meterai kepada Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II dengan tembusan kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II setempat
  2. Permohonan pendaftaran harus dilebngkapi dengan :
    1. Surat Izin Tempat Usaha (SITU)
    2. Daftar Isian/Formulir Isian
  3. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II setempat wajib memberikan penjelasan-penjelasan tentang cara mengisi formulir permohonan pendaftaran usaha serta cara melengkapi lampiran yang diperlukan
  4. Dalam memberikan tanda daftar usaha Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II wajib memperhatikan persyaratan teknis sebagai berikut :
    1. Peralatan yang digunakan harus mendukung upaya menekan kehilangan hasil, meningkatkan rendemen dan meningkatkan mutu beras giling
    2. Untuk huller menggunakan peralatan pecah kulit yang baik yaitu Rubber Roll Husker atau pelmolen atau flash type husker atau peralatan lain yang direkomendasikan
    3. Untuk penyosohan beras menggunakan mesin penyosoh secara bertingkat yaitu lebih dari satu kali penyosohan
    4. Untuk penggilingan padi minimal menggunakan paket peralatan yang terdiri dari peralatan pecah kulit yang baik yaitu Rubber Roll Husker atau pelmolen atau flash type husker atau peralatan lain yang direkomendasikan; separator; mesin penyosoh atau polisher secara bertingkat
  5. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II setempat setelah menerima surat permohonan pendaftaran usaha secara lengkap, dalam jangka waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja harus sudah menerbitkan tanda daftar usaha
  6. Tanda Daftar Usaha diberikan untuk jangka waktu selama perusahaan masih beroperasi
  7. Perusahaan yang telah memiliki Tanda Daftar Usaha bila akan melakukan perubahan lokasi dan atau kepemilikan usaha, wajib mendaftarkan usahanya kembali

Perluasan Usaha

Kriteria Perluasan Usaha
  1. Perusahaan skala besar yang akan memperluas usahanya melebihi 30% dari kapasitas riil semula wajib mengajukan permohonan  izin perluasan usaha.
  2. Perusahaan skala kecil yang akan memperluas usahanya mencapai kapasitas skala besar wajib mengajukan pemohonan ijn usaha.
Tatacara Permohonan Ijin Perluasan Usaha

Permohonan perluasan usaha diajukan secara tertulis kepada Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II setempat.

Petunjuk Pelaksanaan

Dalam Keputusan Direktur Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura Nomor : I.HK.050.99.75 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pedoman Pembinaan Perusahaan Penggilingan Padi, Huller dan Penyosohan Beras diatur mengenai teknis pelaksanaan pemberian ijin pendirian usaha jasa penggilingan padi seperti dijelaskan berikut ini.

Ketentuan Perizinan Usaha
  1. Setiap perusahaan wajib memiliki Ijin usaha (IU) atau tanda Daftar Usaha (TDU)
  2. Bagi perusahaan yang telah memiliki surat izin usaha atau yang telah memperbaharui surat ijin usahanya sebelum diterbitkannya Keputusan Menteri Pertanian Nomor 859/Kpts/TP.250/11/98, ijin usahanya tetap berlaku sampai masa berlaku surat izin usaha tersebut.
  3. Bagi perusahaan yang belum memiliki surat izin usaha atau yang akan memperpanjang/memperbaharui surat izin usahanya setelah peraturan baru tersebut dikeluarkan wajib menyesuaikan dengan peraturan yang baru.
  4. Apabila dianggap perlu, pengklasifikasian lebih lanjut misalnya penggilingan padi terpadu, tidak terpadu, Huller dan penyosohan beras dapat dilakukan dalam pengkodean surat izin usaha atau tanda daftar usaha yang diberikan.
Pelaksanaan Pelayanan Perizinan Usaha
  1. Yang berwenang memberikan Izin Usaha (IU) atau Tanda Daftar Usaha (TDU) adalah Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II atas nama Bupati/Walikota Kepala Daerah Tingkat II setempat.
  2. Permohonan Izin Usaha (IU) ditujukan kepada Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II setempat yang dilengkapi dengan :
    1. Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dan atau izin berdasarkan Undang-undang Gangguan (HO) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah setempat;
    2. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Departemen atau Kepala Kantor Wilayah Departemen Perindustrian dan Pedagangan setempat;
    3. Akte Pendirian perusahaan dari Notaris tentang Badan Hukum jika perusahaan tersebut Berbadan Hukum, dan pengesahan akta pendirian perusahaan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia atau Surat Pengesahan Badan Hukum untuk Badan Hukum Koperasi;
    4. Daftar isian/formulir isian yang terdiri dari :
      • Daftar yang berisi informasi usaha (contoh form B)
      • Denah bangunan dan tata letak peralatan
    5. Permohonan Tanda Daftar Usaha (TDU) ditujukan kepada Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II setempat yang dilengkapi dengan
      1. Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dan atau izin berdasarkan Undang-undang Gangguan (HO) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah setempat;
      2. Akte Pendirian perusahaan dari Notaris tentang Badan Hukum jika perusahaan tersebut Berbadan Hukum, dan pengesahan akta pendirian perusahaan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia atau Surat Pengesahan Badan Hukum untuk Badan Hukum Koperasi;
      3. Daftar isian/formulir isian yang terdiri dari :
        • Daftar yang berisi informasi usaha (contoh form B)
        • Denah bangunan dan tata letak peralatan
      4. Sebelum Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II memberikan Izin Usaha atau Tanda Daftar Usaha, terlebih dahulu harus memperhatikan persyaratan teknis sebagaimana dijelaskan pada Keputusan Menteri Pertanian Nomor 859/Kpts/TP.250/11/98.
      5. Permohonan Izin Usaha atau Tanda Daftar Usaha dapat ditolak apabila :
        1. Bertentangan dengan kebijaksanaan Ketahanan Pangan Nasional;
        2. Tidak memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan;
        3. Tidak sesuai dengan kebijaksanaan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) daerah setempat.
      6. Perusahaan yang akan melakukan perubahan-perubahan atau peralihan dan atau kepemilikan usaha, wajib mengajukan permohonan dan memberitahukan kepada pemberi izin dengan dilengkapi alasan-alasan dan hal-hal yang akan dilakukan perubahan dan atau pengalihan hak serta akte notaris tentang pengalihan hak tersebut.
      7. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Tingkat II setempat setelah menerima surat permohonan izin secara lengkap, dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja harus dapat memberi jawaban diterima atau ditolak permohonan izin usaha penggilingan padi, huller dan penyosohan beras. Contoh Form keputusan pemberian Izin Usaha dan Tanda Daftar Usaha dapat dilihat pada Form C dan Form D. 

Prasarana Penunjang

Prasarana penunjang yang biasa dimiliki oleh industri penggilingan padi adalah alat pengukur kadar air gabah (moisture tester), timbangan, mesin jahit karung portabel, lantai jemur, gudang, tangki bahan bakar, sarana pengangkutan, dan ketersediaan sumber listrik untuk penerangan.

Tetapi ketersediaan lantai jemur bersifat optional, yaitu diperlukan bila penggilingan padi menerima/membeli gabah kering panen yang masih perlu dijemur.

Bahkan bila volumenya besar akan diperlukan juga pengering mekanis. Bila kegiatan di atas tidak dilakukan maka lantai jemur tidak mutlak diperlukan.

Ketersediaan mesin jahit karung juga bersifat optional.

Pada usaha penggilingan padi kecil biasanya tidak dilengkapi dengan mesin jahit karung, cukup dengan menggunakan jarum jahit karung yang merupakan alat jahit manual.

Alat pengukur kadar air gabah diperlukan untuk memastikan bahwa gabah yang akan digiling sudah memiliki kadar  air yang cukup rendah (12%-14%) untuk digiling.

Kadar air yang masih tinggi menyebabkan penurunan kapasitas mesin pemecah kulit dan beras yang dihasilkan nantinya akan mudah rusak, sedangkan kadar air yang terlalu rendah dapat meningkatkan persentase beras patah dan menir pada beras yang dihasilkan.

Bila alat pengukur kadar air gabah tidak tersedia, maka operator penggilingan padi dituntut harus mempunyai keterampilan khusus dalam memeriksa kadar air gabah melalui pendugaan (misalnya dengan digigit atau dikupas dan dipatahkan dengan tangan).

Timbangan dan mesin jahit karung portabel diperlukan untuk melakukan pengemasan beras hasil gilingan ke dalam karung-karung yang biasa digunakan dalam penyimpanan dan perdagangan beras.

Penutupan karung dapat dilakukan tanpa bantuan mesin penjahit portabel,  akan tetapi kecepatannya menjadi jauh lebih rendah dan hasilnya kurang rapi.

Gudang sangat penting untuk menyimpan gabah yang akan digiling bila kapasitas giling sedang penuh untuk dilakukan penggilingan kemudian.

Demikian juga dengan hasil giling (beras) yang menunggu dijemput oleh pemiliknya atau untuk diantar kepada pemesan kemudian.

Kapasitas gudang disesuaikan dengan aliran bahan yang terjadi di penggilingan padi tersebut.

Tangki bahan bakar diperlukan untuk menyimpan persediaan bahan bakar agar kelancaran penggilingan padi dapat terjamin.

Listrik untuk penerangan dapat digantikan dengan generator yang dibangkitkan sekaligus oleh tenaga penggerak mesin-mesin penggilingan bila tidak tersedia di lokasi.

ASPEK TEKNIS DALAM USAHA JASA PENGGILINGAN PADI 

Tinjauan Teknis Mesin-mesin Penggilingan padi

Secara umum, mesin-mesin yang digunakan dalam usaha industri jasa penggilingan padi dapat dikelompokkan sebagai berikut.

  • Mesin pemecah kulit/sekam atau pengupas kulit/sekam gabah kering giling (huller atau husker)
  • Mesin pemisah gabah dan beras pecah kulit (brown rice separator)
  • Mesin penyosoh atau mesin pemutih (polisher)
  • Mesin pengayak bertingkat (sifter)
  • Mesin atau alat bantu pengemasan (timbangan dan penjahit karung)

Mesin pemecah kulit/sekam gabah kering giling berfungsi untuk memecahkan dan melepaskan kulit gabah.

Input bahan dari mesin ini adalah gabah kering giling (GKG), yaitu gabah dengan kadar air sekitar 14% basis basah dan outputnya berupa beras pecah kulit (BPK) yang berwarna putih kecoklatan (kusam) atau disebut juga brown rice.

Mesin pemecah kulit gabah yang banyak digunakan dewasa ini adalah mesin tipe rubber roll yang prinsip kerjanya memecah kulit gabah dengan cara memberikan tenaga tarik akibat kecepatan putar yang berbeda dari dua silinder karet yang dipasang berhadapan.

Persentase gabah terkupas, beras patah dan beras menir tergantung pada kerapatan dan kelenturan silinder karet ini.

Silinder yang telah mengeras atau yang terlalu rapat satu sama lain akan meningkatkan jumlah beras patah dan beras menir, sedangkan jarak kedua silinder yang renggang akan menyebabkan persentase gabah tidak terkupas meningkat.

Biasanya gabah yang tidak terkupas akan dipisahkan dari beras pecah kulit dan dimasukkan lagi ke dalam pengumpan hingga semuanya terkupas. 

Pekerjaan ini dilakukan menggunakan mesin lain yang disebut mesin pemisah BPK dan gabah, atau secaram umum disebut pengayak.

Gabah yang diumpankan ke dalam mesin pemecah kulit biasanya tidak seluruhnya terkupas.

Besar kecilnya persentase gabah tidak terkupas ini tergantung pada penyetelan mesin. Bagian yang tidak terkupas tersebut harus dipisahkan dari beras pecah kulit untuk diumpankan kembali kedalam mesin pemecah kulit.

Pemisahan ini dilakukan dengan menggunakan mesin pemisah gabah dari beras pecah kulit, yang dapat menyatu atau terpisah dengan mesin pemecah kulit.

Selanjutnya beras pecah kulit mengalami proses penyosohan yang dilakukan menggunakan mesin penyosoh atau disebut juga mesin pemutih.

Hasil dari proses penyosohan adalah beras putih yang siap dipasarkan atau dimasak. Mesin penyosoh yang umum digunakan di Indonesia adalah mesin tipe friksi jetpeller.

Beras pecah kulit yang diumpankan ke dalam mesin ini didorong memasuki silinder dengan permukaan dalam tidak rata dan pada bagian dalamnya terdapat silinder lain yang lebih kecil dan mempunyai permukaan luar yang tidak rata serta berlubang-lubang.

Beras pecah kulit akan berdesakan dan bergesekan dengan permukaan silinder yang tidak rata sehingga lapisan kulit arinya (aleuron) yang berwarna kecoklatan terkikis.

Kulit ari yang terkikis ini menjadi serbuk dedak yang dapat menempel pada permukaan beras dan juga permukaan dinding silinder, sehingga dapat menurunkan kapasitas penyosohan.

Oleh karena itu mesin penyosoh tipe jetpeller dilengkapi dengan hembusan udara yang kuat dari dalam silinder kecil yang berlubang-lubang, sehingga mendorong dan melepaskan serbuk dedak dari permukaan beras dan dinding silinder untuk mendapatkan beras putih yang bersih dan menjaga kapasitas giling tidak menurun.

Selain itu hembusan udara ini juga berfungsi untuk menjaga suhu beras tetap rendah selama proses penyosohan sehingga penurunan mutu akibat perubahan kimia (menyebabkan cracking pada beras) yang disebabkan oleh panas dapat dicegah.   

Beras putih hasil proses penyosohan kemudian perlu dipisahkan menurut kelompok mutunya yaitu beras utuh dan beras kepala sebagai mutu terbaik, beras patah sebagai mutu kedua, dan beras menir sebagai mutu ketiga.

Pemisahan dilakukan menggunakan mesin pengayak bertingkat (sifter) atau silinder pemisah (silinder separator).

Ketiga macam mutu beras tadi akan dicampurkan kembali dengan perbandingan tertentu untuk menentukan harga jual sebelum beras dikemas bila akan dipasarkan.

Pengemasan umumnya menggunakan karung plastik berukuran 50 kg. Penimbangan dilakukan secara manual, demikian pula penutupan karung, dapat dilakukan secara manual baik dengan atau pun tanpa bantuan alat penjahit portabel.

Bila ditinjau dari kapasitasnya, mesin-mesin penggiling padi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu rice milling unit (RMU) dan rice milling plant (RMP).

Perbedaan yang mendasar antara keduanya adalah pada ukuran, kapasitas dan aliran bahan dalam proses penggilingan yang dilakukan.

Penggilingan padi yang lengkap kadangkala dilengkapi dengan pembersih gabah sebelum masuk mesin pemecah kulit, dan pengumpul dedak sebagai hasil sampingan dari proses penyosohan.

Rice Milling Unit

Rice milling unit (RMU) merupakan jenis mesin penggilingan padi generasi baru yang kompak dan mudah dioperasikan, dimana proses pengolahan gabah menjadi beras dapat dilakukan dalam satu kali proses (one pass process).

RMU rata-rata mempunyai kapasitas giling kecil yaitu antara 0.2 hingga 1.0 ton/jam, walau mungkin sudah ada yang lebih besar lagi.

Mesin ini bila dilihat fisiknya menyerupai mesin tunggal dengan fungsi banyak, namun sesungguhnya memang terdiri dari beberapa mesin yang disatukan dalam rancangan yang kompak dan bekerja secara harmoni dengan tenaga penggerak tunggal.

Di dalam RMU sesungguhnya terdapat bagian mesin yang berfungsi memecah sekam atau mengupas gabah, bagian mesin  yang berfungsi memisahkan BPK dan gabah dari sekam lalu membuang sekamnya, bagian mesin yang berfungsi mengeluarkan gabah yang belum terkupas untuk dikembalikan ke pengumpan, bagian mesin yang berfungsi menyosoh dan mengumpulkan dedak, dan bagian mesin yang berfungsi melakukan pemutuan berdasarkan jenis fisik beras (beras utuh, beras kepala, beras patah, dan beras menir).

Kesemua fungsi tersebut dikemas dalam satu mesin yang kompak dan padat, sehingga praktis dan mudah digunakan. 

Rice Milling Plant

Pada prinsipnya, RMU (Rice Milling Unit) dan RMP (Rice Milling Plant) adalah dua nama yang sama bila ditinjau dari segi fungsi, yaitu mesin-mesin penggilingan padi yang berfungsi mengkonversi gabah kering menjadi beras putih yang siap untuk dikonsumsi.

Bila RMU merupakan satu mesin yang kompak dengan banyak fungsi, maka, RMP merupakan jenis mesin penggilingan padi yang terdiri dari beberapa unit mesin yang terpisah satu sama lain untuk masing-masing fungsinya dalam proses penggilingan beras.

Karena terpisah, unit-unit pada RMP dapat memiliki kapasitas yang berbeda, sehingga waktu operasional tiap unit tidak sama untuk jumlah padi yang sama.

Hal ini bukan merupakan masalah, hanya memerlukan penjadwalan yang lebih baik untuk operasional dan perawatan unit-unit yang terpisah tersebut.

Namun demikian aliran bahan dapat dijalankan secara otomatis bila mesin-mesin dari RMP merupakan satu set mesin yang sama, dari industri manufaktur yang sama.

Perbedaan lain yang lebih penting pada RMP dibandingkan dengan RMU terletak pada kapasitas gilingnya. RMP biasanya memiliki kapasitas giling yang lebih besar daripada RMU yaitu antara 1.0 hingga 5.0 ton/jam.

Perbedaan kapasitas giling ini menjadi penting sebab akan meningkatkan efisiensi penggunaan mesin-mesin penggiling.

Untuk menggiling padi dengan jumlah dan lama waktu giling yang sama, akan dibutuhkan jumlah mesin berkapasitas giling kecil yang lebih banyak dibandingkan dengan mesin berkapasitas giling  besar.

Pada umumnya, bila faktor-faktor lainnya sama, lebih murah membeli sebuah mesin berkapasitas giling besar dibanding jika membeli sejumlah mesin dengan kapasitas giling yang kecil, baik ditinjau dari segi biaya pembelian maupun perawatan.

Akan tetapi penggunaan mesin dengan kapasitas giling besar juga tidak akan efisien bila padi yang akan digiling tidak tersedia dalam jumlah yang mencukupi.

Dengan demikian pemilihan kapasitas mesin giling harus disesuaikan dengan jumlah padi yang akan digiling dalam waktu tertentu, agar mesin penggilingan dapat beroperasi optimal dan ongkos giling per kg beras dapat ditekan. 

Proses Pengolahan Gabah Menjadi Beras

Gabah dipanen pada tingkat kadar air sekitar 22% sampai 25% basis basah.

Gabah dengan kadar air demikian tidak dapat langsung digiling karena kulitnya masih cukup basah sehingga sukar pecah dan terkupas.

Oleh karena itu gabah perlu dikeringkan hingga kadar airnya berkisar 14% basis basah, yang biasanya dilakukan melalui proses penjemuran.

Pengeringan juga dapat dilakukan menggunakan berbagai tipe alat pengering mekanis yang biasanya dioperasikan oleh penggilingan padi berskala besar.

Sebelum dilakukan penjemuran, gabah harus dipisahkan dari malainya dengan cara perontokan, agar penjemuran dapat berlangsung lebih singkat dan dapat menghemat tempat penjemuran.

Perontokan biasanya dilakukan dengan cara manual, yang disebut penggebotan karena gabah bersama malainya digebot (dipukulkan) pada sebuah papan bercelah sehingga butir-butir gabah terlepas dari malainya.

Cara yang lebih baik adalah menggunakan alat perontok semi-mekanis (pedal thresher) atau pun mesin perontok mekanis  (power thresher) bila tersedia.

Penggunaan mesin perontok mekanis kapasitas perontokan dapat ditingkatkan hingga mendekati satu ton GKP per jam, selain juga mengurangi susut perontokan yang umumnya tinggi pada perontokan cara gebotan (5-8%).

Sedudah dirontokkan gabah kemudian dijemur di lamporan. Lamporan adalah suatu lantai semen yang dibuat agak tinggi di bagian tengahnya dengan saluran air diantaranya untuk mencegah berkumpulnya air hujan.

Praktek penjemuran yang baik adalah dengan menggunakan alas tikar atau plastik/terpal pada lantai sehingga gabah pada lapisan dasar tidak terkena panas yang berlebihan akibat pemanasan lantai semen, selain memudah untuk ditutupi dan diangkut ke gudang dengan cepat bila sewaktu-waktu turun hujan selama penjemuran.

Gabah hasil pengeringan dengan kadar air sekitar 14% basis basah disebut gabah kering giling (GKG) karena sudah dapat menjalani proses penggilingan.

Sebelum digiling, gabah biasanya dibersihkan dari segala kotoran seperti jerami, kayu, pecahan batu, logam dan sebagainya.

Kotoran-kotoran lunak seperti jerami akan mengurangi kapasitas giling, sedangkan kotoran-kotoran keras seperti batu akan merusak mesin penggiling.

Penggilingan gabah dimulai dengan proses pemecahan dan pengupasan kulit/sekam, dilanjutkan penyosohan beras pecah kulit (BPK) dan diakhiri dengan pemutuan (grading), sebelum dikemas dan dijual.

Tata Letak Mesin-mesin Penggilingan Padi

Mesin-mesin di dalam suatu industri penggilingan padi harus diletakkan sesuai urutan perlakuan selama proses penggilingan berlangsung, seperti telah dipaparkan sebelumnya.

Hal ini diperlukan untuk menjamin kelancaran aliran bahan dan efisiensi tenaga kerja serta konsumsi energi.

Namun demikian hal ini tidak berlaku mutlak bagi mesin penggilingan padi kompak atau rice milling unit (RMU), di mana proses pemecahan kulit, penyosohan dan pemutuan dilakukan dengan satu mesin yang kompak, sehingga hasilnya dapat langsung dikemas.

Tata letak mesin rice milling unit (RMU) yang dianjurkan dalam usaha jasa penggilingan padi

Keterangan :

1. Penampung gabah

4. Penampung sekam

2. Rice milling unit

5. Penampung beras

3. Diesel penggerak

6. Penampung dedak

Keterangan :

1. Penampung gabah

5. Penyosoh

9.   Motor penggerak

2. Pemecah kulit

6. Timbangan

10. Bahan bakar

3. Pengayak I

7. Pengemas

11. Bak air pendingin

4. Pengayak II

8. Penampung dedak

12. Penampung sekam

Kesesuaian Lokasi dan Waktu Pendirian Usaha Jasa Penggilingan Padi

Sangat mudah untuk dimengerti bahwa suatu industri jasa penggilingan padi harus berlokasi di daerah sekitar persawahan, akan tetapi cukup mudah akses ke jalan desa.

Lokasi yang dekat dengan persawahan memudahkan petani untuk membawa hasil panen mereka ke tempat penggilingan padi untuk melakukan penggilingan, sedangkan akses ke jalan desa memudahkan bagi para pedagang yang akan membawa beras hasil gilingannya ke ibukota setempat atau kota lainnya.

Selain itu disarankan mempunyai jarak yang cukup jauh dengan perumahan untuk menghindari polusi udara akibat abu sekam yang beterbangan.

Waktu pendirian penggilingan padi harus diperhitungkan agar pemasukan yang diperoleh dapat optimal.

Masa kerja penggilingan padi dalam setahun sangat tergantung pada musim panen dan jumlah gabah kering giling yang tersedia di daerah tersebut.

Penggilingan padi tentunya diharapkan dapat beroperasi dengan kapasitas maksimum sesuai dengan kapasitas terpasang segera setelah masa konstruksi selesai. 

Dengan demikian waktu yang terbaik untuk memulai pembangunan penggilingan padi adalah sekitar satu bulan sebelum masa panen.

Waktu satu bulan tersebut digunakan untuk konstruksi bangunan dan mesin penggilingan padi serta percobaan pengoperasian mesin.

Musim panen padi di Indonesia umumnya jatuh pada bulan Pebruari-Maret dan Oktober-Nopember, sehingga pekerjaan pendirian penggilingan padi sebaiknya selesai sekitar akhir bulan Januari atau September, sehingga siap dioperasikan bila telah mulai memasuki masa panen.

Namun demikian, seperti bentuk usaha lain pada umumnya, masa awal peroperasian mesin merupakan masa perkenalan dan promosi ke konsumen sehingga pada tahun pertama penggilingan padi mungkin belum dapat memenuhi 100% kapasitas terpasangnya.

Manajemen Operasional

Umumnya usaha penggilingan padi kecil tidak mempunyai manajemen operasional yang baik.

Pemilik sekaligus bertindak sebagai pengelola yang berhak mengambil keputusan mengenai apa saja dan kapan saja.

Pemilik akan memegang banyak fungsi dan wewenang seperti menetapkan harga sewa giling, menentukan upah pekerja, bahkan membeli barang-barang modal lainnya.

Seringkali pemilik juga ikut serta dalam pengoperasian usaha. Sedangkan pekerja operasional merupakan pekerja lepas yang ahnya bekerja saat mesin giling.

Secara umum, usaha penggilingan padi kecil dikelola oleh satu orang pimpinan secara kekeluargaan.

Dalam banyak kasus, keuangan usaha bercampur dengan keuangan keluarga dan usaha lainnya bila dilakukan juga oleh pemilik.

Struktur Organisasi

Karena usaha penggilingan padi kecil dikelola oleh pemiliknya langsung dan dilakukan secara kekeluargaan, maka struktur organisasi yang ada juga biasanya sederhana.

Ada kalanya struktur organisasi dibuat cukup ideal, tetapi pada pelaksanaannya tetap bertumpu pada satu orang, yaitu pemilik.

Jadi, walaupun telah diberi wewenang, pekerja di bawah tidak berani mengambil keputusan pada saat diperlukan.

Sedangkan struktur organisasi pada penggilingan padi besar umumnya lebih spesifik lagi, yang kompleksitasnya sesuai dengan volume pekerjaan yang ditangani seperti yang terdapat pada sebuah perusahaan pada umumnya.

Aspek Pemasaran Usaha Penggilingan Padi

Kebiasaan Petani Setempat dalam Mengolah Gabah

Keberhasilan suatu usaha jasa penggilingan padi tidak terlepas dari kebiasaan petani padi setempat dalam menangani hasil panennya.

Bila mereka mempunyai kebiasaan menyimpan atau menjual hasil panennya dalam bentuk beras, maka penggilingan padi akan ramai didatangi mereka untuk melakukan penggilingan.

Namun sebaliknya bila mereka lebih suka menjual gabah segera selepas panen, maka kemungkinan penggilingan padi setempat akan sepi dari penyewa karena pembeli padi mungkin saja datang dari tempat yang jauh, misalnya dari desa tetangga yang panennya berbeda waktu.

Alasan petani untuk segera menjual padi segera setelah panen biasanya karena tidak tersedianya lantai jemur yang cukup sehingga mereka tidak dapat melakukan pengeringan padi.

Faktor penyebab lainnya adalah ketiadaan sarana pengangkutan dari lahan ke penggilingan padi terdekat, ditambah keharusan membayar uang sewa penggilingan yang terasa cukup berat sebelum mereka menjual padi hasil panennya.

Untuk mengatasi masalah ini industri penggilingan padi dapat menyediakan sarana pengangkutan gabah dari lahan ke lokasi penggilingan padi, sedangkan ongkos penggilingan dan pengangkutan dapat dibayarkan dalam bentuk beras sesuai kesepakatan bersama.

Pembayaran ongkos giling dalam bentuk beras ditemukan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat dengan jumlah pembayaran 1 kg beras tiap 10 kg beras yang dihasilkan dari penggilingan.

Ketersediaan Penggilingan Padi

Penggilingan padi harus tersedia di lokasi yang relatif mudah dijangkau dari segala penjuru lahan persawahan untuk menarik minat pemilik padi membawa hasil panennya untuk digiling.

Kapasitas giling yang cukup, kontinuitas operasional dari penggilingan padi, mutu hasil gilingan dan biaya sewa penggilingan juga akan menentukan minat pemilik padi untuk melakukan penggilingan.

Biasanya di tiap desa/dusun sudah tersedia penggilingan padi yang dimaksudkan untuk keperluan petani setempat.

Oleh karena itu isu yang lebih penting adalah mutu hasil giling dan biaya sewa giling menjadi dominan dalam menarik minat pelanggan.

Mutu hasil seperti rendemen akan mempengaruhi volume hasil giling, sedangkan kritria mutu seperti persentase beras utuh, beras kepala, beras patah dan beras menir akan mempengaruhi harga jual dari beras hasil giling.

Kedua faktor diatas akan mempengaruhi pendapatan pemilik gabah setelah mereka menjual beras hasil giling nantinya.

Saat ini ketersediaan penggilingan padi di Indonesia cukup memadai terutama di pulau Jawa.

Hal ini dapat dilihat dari jumlah penggilingan padi yang ada dibandingkan dengan tingkat produksi padi di daerah tersebut.

Bahkan belakangan ini muncul usaha penggilingan padi bergerak yang biasa disebut grandong di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Usaha ini muncul dengan adanya pemikiran untuk menarik petani menggiling padi tanpa harus memikirkan pengangkutan hasilnya.

Mesin penggilingan yang digunakan biasanya berupa RMU yang dimodifikasi dengan mobil pengangkut sehingga dapat dibawa keliling ke tempat petani menyimpan gabahnya.

Keberadaan grandong ini secara langsung mengancam kelangsungan usaha penggilingan padi statis/tidak bergerak karena bagaimanapun juga petani tentu akan lebih memilih penggilingan padi yang memudahkan mereka.

Perkembangan Tarif Jasa Penggilingan Padi

Harga sewa penggilingan padi dari musim ke musim relatif stabil.

Kalaupun ada perubahan biasanya kecil, sehingga tidak mempengaruhi minat pemilik padi.

Penyebab perubahan tarif sewa biasanya berkaitan dengan penetapan harga dasar gabah oleh pemerintah dan harga bahan bakar.

Namun demikian tarif sewa penggilingan tidak sama untuk tiap lokasi penggilingan padi karena faktor lokasi dan mutu hasil giling sangat berperan.

Dengan demikian perubahan tarif sewa penggilingan tidak menjadi faktor yang penting untuk diperhatikan.

Pengguna akan lebih memperhatikan faktor-faktor lain seperti kemudahan dan kesulitan melakukan penggilingan pada penggilingan padi setempat seperti telah diungkapkan di depan. 

Pemilik suatu usaha jasa penggilingan padi dapat menjaga kontinuitas usahanya dengan memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen, menjaga kinerja mesin-mesin penggiling padi agar tetap pada kondisi puncak, mempunyai kapasitas giling yang sesuai dengan banyaknya pelanggan dan jumlah padi yang akan digiling sehingga pelanggan tidak harus menunggu terlalu lama, serta menyediakan perlengkapan pengemasan dan gudang penyimpanan sementara bila diperlukan oleh pelanggan.

Untuk dapat melakukan hal tersebut, pemilik harus cermat dalam memproyeksikan jumlah padi hasil panen di daerah sekitarnya, mempunyai tenaga-tenaga kerja yang trampil dalam mengoperasikan dan merawat mesin-mesin penggilingan, serta menyediakan akses transportasi yang cukup baik ke lokasi penggilingan, dan bila memungkinkan gudang penyimpanan sementara.

Kerusakan mesin penggiling yang dapat menyebabkan rendahnya rendemen (banyak gabah yang tak terkupas), atau tingginya persentase beras patah dan beras menir (sehingga mutunya menurun) harus segera diperbaiki.

Bila hal ini dibiarkan, pelanggan akan berpindah ke penggilingan padi lainnya walaupun jaraknya lebih jauh, sebab kerusakan semacam itu jelas akan menurunkan tingkat penerimaan pelanggan setelah mereka menjual beras hasil gilingnya.

Demikian akses transportasi, baik jalan maupun kendaraan yang tersedia dengan biaya sewa yang wajar, akan menjadi daya tarik sendiri bagi pemilik padi untuk mendatangi suatu penggilingan padi.

Sedangkan gudang penyimpanan sementara hanya diperlukan bagi pelanggan yang melakukan penggilingan padi dalam jumlah yang relatif besar sehingga tidak tertangani dalam satu hari.

Mereka dapat mengantarkan gabahnya dan mengambil beras hasil giling pada hari yang lain. Hal seperti ini bisa saja terjadi pada pelanggan besar yang setia dan telah terjalin hubungan bisnis yang baik.

Ketersediaan penggilingan padi bersama dengan tarif sewa giling dan pelayanan yang diberikan terhadap petani merupakan faktor-faktor penting yang perlu diperhatikan oleh pengusaha jasa penggilingan padi untuk memenangkan persaingan usaha.

Variasi ongkos giling padi di beberapa tempat di Kabupaten Karawang

No.

Desa, Kecamatan

Ongkos giling padi per kg (Rp)

1

Tegalsawah, Majalaya

150

2

Kutaraharja, Jatisari

100

3

Pasir Kaliki, Rawamerta

100

4

Dayeuh Luhur, Tempuran

150, 220

5

Lemah Duhur, Tempuran

150

Sumber : Laporan Praktek Kerja Magang PS Alsintan Fateta IPB, 2002 (diolah)

Resiko Usaha Penggilingan Padi

Karena usaha jasa penggilingan padi tidak terlalu rumit untuk dijalankan, maka risiko yang ada juga relatif kecil dan mudah ditanggulangi.

Risiko terbesar adalah sedikitnya pengguna atau kecilnya angka produktivitas padi per hektarnya sehingga kapasitas giling terpasang tidak terpenuhi karena volume gabah yang digiling setiap harinya kecil dan jumlah hari operasional penggilingan padi juga kecil.

Risiko lainnya adalah kerusakan mesin-mesin penggilingan padi sehingga menyebabkan penurunan kapasitas giling dan mutu hasil gilingan.

Selain itu kenaikan biaya operasional juga dapat mempengaruhi kelangsungan usaha jasa penggilingan padi.

Variabel biaya terbesar dalam operasional usaha jasa penggilingan padi adalah bbiaya bahan bakar dan penggantian rubber roll.

Risiko kekurangan volume giling sehingga penggilingan padi beroperasi di bawah kapasitas gilingnya dapar diatasi dengan cara mempelajari keadaan sekelilingnya yang berkaitan, yaitu produktivitas lahan, musim panen dalam satu tahun, selang waktu panen dalam satu desa/daerah kawasan sekitar penggilingan padi, kebiasaan petani dalam menangani hasil panennya, dan lain sebagainya.

Bila hal-hal seperti di atas diamati dengan seksama, seharusnya volume giling minimal sudah dapat diperkirakan, sehingga peralatan penggilingan padi yang disediakan sudah disesuaikan sejak awal.

Risiko kerusakan mesin-mesin penggilingan padi dapat diperkecil dengan melakukan perawatan dan pemeriksaan kondisi mesin-mesin tersebut secara berkala.

Penggantian suku cadang harus sesuai dengan umur pakai setiap suku cadang tertentu, sehingga mesin-mesin dapat beroperasi secara optimal.

Pada dasarnya risiko menurunnya pendapatan suatu usaha jasa penggilingan padi dapat dikurangi dengan cara menggabungkannya dengan usaha perdagangan beras.

Namun demikian hal ini membutuhkan modal, keterampilan dan jaringan pemasaran tersendiri dari pemilik usaha jasa penggilingan padi, terutama dengan pedagang yang memasok beras ke daerah perkotaan.

Bila hal ini dapat dilakukan, maka masa giling penggilingan padi akan berlangsung lebih lama dalam setahun, karena adanya sejumlah gabah milik perusahaan sendiri yang perlu digiling untuk diperdagangkan, diluar gabah milik pelanggan.

Selain itu, kegiatan perusahaan  dapat berlangsung sepanjang waktu karena kegiatan perdagangan beras dapat terjadi sepanjang tahun.

Hal ini berakibat baik bagi tenaga kerja yang dibayar harian, karena mereka tidak menganggur ketika tidak ada lagi padi yang harus digiling.

Tenaga mereka dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bongkar muat beras dari gudang penyimpanan ke truk pengangkut saat pengiriman beras dan sebaliknya saat penerimaan beras.

Loyalitas tenaga kerja pada perusahaan akan dapat dipertahankan karena pendapatannya lebih terjamin dengan terus bekerja.

Aspek Kritis dan Penanganannya

Aspek kritis pertama dalam usaha jasa penggilingan padi adalah kekurangan volume giling sehingga kapasitas giling optimum dari mesin tidak dapat terpenuhi.

Keberadaan usaha sejenis di area yang relatif dekat ataupun munculnya grandong sebagai bentuk alternatif mesin penggilingan padi merupakan faktor utama yang menyebabkan kapasitas giling optimum tidak dapat dipenuhi.

Hal ini dapat ditanggulangi dengan memberikan pelayanan lebih terhadap petani sebagai konsumen dan meningkatkan mutu hasil gilingan.

Pelayanan ini antara lain bisa diberikan dalam bentuk penyerahan hasil giling sampingan misalnya sekam dan dedak kepada pemilik gabah serta penyediaan transportasi bagi pengangkutan gabah maupun beras hasil gilingan.

Aspek kritis kedua dalam usaha jasa penggilingan padi adalah perawatan mesin-mesin penggilingan padi yang meliputi keterampilan operator, pembersihan dan perawatan berkala.

Pembersihan sangat penting dilakukan dengan rutin setelah pengoperasian mesin untuk menjaga kinerja mesin tetap optimal, menjamin kebersihan bahan selama proses pengolahan, dan menghindarkan bau-bau yang tidak sedap pada beras hasil gilingan.

Operator penggilingan padi harus mempunyai pengetahuan tentang penyetelan mesin pemecah kulit untuk meningkatkan efisiensi kerja mesin sekaligus menghindari kerusakan pada beras pecah kulit yang dihasilkan.

Operator juga harus mempunyai pengetahuan tentang hubungan kadar air gabah dengan kinerja mesin dan mutu beras hasil gilingan, serta cara-cara mengukur atau menduga kadar air gabah yang akan digiling, baik menggunakan alat khusus ataupun secara manual.

Selain operator juga harus memahami tujuan proses penyosohan beras dan mengerti maksud dari derajat penyosohan pada beras untuk menghasilkan beras putih sesuai dengan kemauan pengguna.

Sekam yang terperangkap dalam mesin pemecah kulit akan menurunkan kinerja mesin, sedangkan yang tersangkut pada saringan akan menurunkan kecepatan penyaringan.

Oleh karena itu harus selalu dibersihkan.

Dedak yang menempel pada mesin penyosoh beras bila dibiarkan lama kelamaan akan menjadi tengik dan pada proses penyosohan berikutnya bau tengik akan mencemari beras yang disosoh.

Dengan demikian serbuk dedak pada mesin penyosoh beras harus sering dibersihkan.

Perawatan berkala meliputi penggantian minyak pelumas pada motor penggerak, penggantian suku cadang mesin-mesin penggilingan dan perbaikan di bengkel bila diperlukan.

Suku cadang yang frekuensi penggantiannya paling besar adalah rubber roll.

Idealnya penggantian harus dilakukan setiap 10 ton beras dihasilkan sehingga frekuensi penggantian tergantung pada kapasitas giling mesin tiap harinya.

Jenis dan periode penggantian suku cadang pada mesin rice milling plant (RMP)

Jenis suku cadang

Penggantian

Frekuensi penggantian per thn (kali)

Harga /satuan (Rp)

Waktu operasi (bulan) 

Gabah (ton)

Saringan

12

2100

1

700.000

Flat belt

6

1050

2

270.000

V belt

2

350

6

25.000

Bearing

3

525

4

40.000

Ring piston

12

2100

1

150.000

Sumber : Suharsono, 2002

PROSPEK USAHA JASA PENGGILINGAN PADI

Tingkat Kejenuhan

Usaha penggilingan padi, terutama yang tergolong penggilingan padi kecil (PPK), sudah tersebar di seluruh bagian Indonesia, namun secara umum kapasitas gilingnya masih perlu ditambah.

Penambahan kapasitas giling ini dapat  dilakukan melalui pendirian penggilingan padi baru jika di suatu lokasi sangat dibutuhkan tetapi belum tersedia, atau dengan menambah kapasitas gilingnya bila sudah tersedia tetapi tidak mencukupi.

Dalam hal penambahan penggilingan padi baru, hal penting yang harus diperhatikan adalah tingkat kejenuhan atau keberadaan penggilingan padi yang telah ada.

Hal ini untuk mencegah berlebihnya jumlah penggilingan padi dalam satu kawasan tertentu yang akan membawa masalah pada kurangnya jumlah gabah yang akan digiling sehingga penggilingan padi tidak dapat beroperasi pada kapasitas terpasangnya.

Cara mudah untuk mengetahui tingkat kejenuhan adalah dengan menghitung luas areal minimum (minimum coverage area) persawahan yang diperlukan oleh suatu penggilingan padi agar dapat menerima pasokan gabah dan beroperasi secara penuh.

Luas areal minimum ini bervariasi pada tiap penggilingan padi, tergantung pada beberapa faktor seperti kapasitas penggilingan padi, jam kerja per hari, hari kerja per tahun, produktivitas padi per hektar, dan jumlah musim tanam atau musim panen dalam setahun.

Luas areal minimum persawahan yang diperlukan untuk penggilingan padi pada berbagai kapasitas giling dan hari kerja per tahun.

Semakin besar kapasitas giling dan jumlah hari kerja dalam setahun, maka penggilingan padi tersebut memerlukan areal persawahan yang semakin luas karena memerlukan pasokan gabah yang lebih banyak agar dapat beroperasi sesuai kapasitas terpasangnya. Ini berarti dua buah penggilingan padi dengan kapasitas giling dan jumlah hari kerja per tahun tertentu tidak boleh berada dalam jarak tertentu (sementara faktor-faktor lainnya diasumsikan sama) akan berakibat pada terjadinya persaingan memperebutkan jumlah penyewa dari lokasi yang sama.

Luas areal minimum (ha) persawahan yang harus ada di sekitar penggilingan padi pada berbagai kapasitas giling dan hari kerja per tahun (jam kerja=8 jam/hari, produktivitas padi 4500 kg/ha, 2 kali panen per tahun)

Kapasitas Giling

Jumlah Hari kerja

(hari/tahun)

(kg beras/jam)

100

120

140

160

180

200

100

8.89

10.67

12.44

14.22

16.00

17.78

200

17.78

21.33

24.89

28.44

32.00

35.56

300

26.67

32.00

37.33

42.67

48.00

53.33

400

35.56

42.67

49.78

56.89

64.00

71.11

500

44.44

53.33

62.22

71.11

80.00

88.89

600

53.33

64.00

74.67

85.33

96.00

106.67

700

62.22

74.67

87.11

99.56

112.00

124.44

800

71.11

85.33

99.56

113.78

128.00

142.22

900

80.00

96.00

112.00

128.00

144.00

160.00

1000

88.89

106.67

124.44

142.22

160.00

177.78

1200

106.67

128.00

149.33

170.67

192.00

213.33

1500

133.33

160.00

186.67

213.33

240.00

266.67

1600

142.22

170.67

199.11

227.56

256.00

284.44

1700

151.11

181.33

211.56

241.78

272.00

302.22

1800

160.00

192.00

224.00

256.00

288.00

320.00

2000

177.78

213.33

248.89

284.44

320.00

355.56

Peluang dan Hambatan

Peluang usaha jasa pada industri penggilingan padi tergantung pada kondisi lingkungan setempat.

Lingkungan yang menunjang dalam hal ini adalah ketersediaan penggilingan padi masih berada di bawah jumlah yang dibutuhkan, yang dapat diketahui dari jumlah produksi padi total dalam suatu wilayah, dikaitkan dengan kapasitas total dari sejumlah penggilingan padi yang  beroperasi di wilayah tersebut, dengan asumsi bahwa padi tidak dijual ke luar wilayah dalam bentuk gabah.

Selanjutnya dalam satu wilayah sejumlah penggilingan padi tidak dibenarkan berada pada lokasi yang berdekatan sehingga tidak mampu menguasai areal minimum persawahan seperti telah dipaparkan di atas.

Hambatan utama pada usaha jasa industri penggilingan padi terletak pada modal pembelian mesin-mesin penggilingan padi untuk penggilingan padi baru.

Hambatan lainnya adalah pengoperasian dan perawatan mesin-mesin penggilingan padi yang memerlukan tenaga-tenaga terampil agar penggilingan padi dapat beroperasi secara efisien.

Untuk hal terakhir ini dapat diusahakan dengan mengadakan pelatihan-pelatihan singkat bagi tenaga operator dan tenaga perawatan penggilingan padi untuk meningkatkan keterampilan mereka.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

  1. Usaha jasa penggilingan padi memiliki karakteristik seperti usaha jasa pada umumnya dimana pemasukan bisa didapat segera setelah mesin beroperasi.
  2. Kebutuhan akan jasa penggilingan padi di Indonesia mengalami perubahan seiring dengan tingkat produksi padi. Pendirian usaha jasa penggilingan padi harus dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kejenuhannya. Tingkat kejenuhan ini dapat dilihat dari coverage area masing-masing usaha jasa penggilingan padi. Menurut data sekunder, kapasitas penggilingan padi di Indonesia tahun 2001 mengalami kelebihan sekitar 21 juta ton.
  3. Pemilihan mesin-mesin penggilingan padi, baik jenis dan kapasitasnya, harus mengacu kepada besar kecilnya volume padi yang akan digiling dalam waktu tertentu, karena akan mempengaruhi biaya operasional dan perawatannya.
  4. Analisis terhadap kriteria-kriteria kelayakan usaha jasa penggilingan padi menunjukkan bahwa usaha tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan dengan tetap mempertimbangkan berbagai resiko dan hambatan yang dihadapi terutama pada coverage area usaha dan perawatan mesin.
  5. Suatu usaha jasa penggilingan padi harus selalu menjaga kinerja mesin-mesin penggilingnya untuk menjaga kepuasan pelanggan. Rendahnya rendemen giling dan mutu beras hasil gilingan yang disebabkan oleh kerusakan mesin penggiling harus dihindarkan dengan cara melakukan perawatan mesin-mesin penggiling secara berkala.
  6. Usaha jasa penggilingan padi akan lebih baik bila mengadakan kerjasama dengan tengkulak atau pedagang beras atau dikombinasikan dengan usaha perdagangan beras, sebab kepastian mesin penggilingan sesuai kapasitas giling lebih terjamin dengan adanya pasokan gabah dari tengkulak atau gabah milik sendiri yang akan diperdagangkan. Dengan demikian penggunaan mesin-mesin giling secara maksimal lebih besar peluangnya.

Referensi Bacaan Tentang Penggilingan Padi

  1. Artikel pestisida di situs IRRI

  2. Artikel Pestisida di situs Vikaspedia

  3. Artikel Pestisida dari Procedurrice

  4. Artikel Pestisida dari wikipedia

  5. Lain-lain