Last Updated:
Pemasaran Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur
Pemasaran Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur https://www.pustakadunia.com

Pemasaran Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur

Peluang investasi perusahaan ayam ras petelur sangat terkait dengan laju pertumbuhan penduduk dan ekonomi.

Konsumsi telur berkorelasi positif dengan pendapatan per kapita.

Peningkatan pendapatan masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan menyebabkan peningkatan konsumsi telur.

Peningkatan pendapatan masyarakat sebesar 100 % dapat meningkatkan konsumsi telur sebesar 10 %.

Sebaliknya dengan menurunnya daya beli, tingkat konsumsi telur secara drastis menurun.

Peluang usaha ayam
Pada masyarakat dengan tingkat pendapatan rendah, penurunan konsumsi telur lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok masyarakat berpendapatan tinggi.

Hal ini dapat disimak misalnya ketika terjadi krisis moneter, penurunan konsumsi telur per kapita per tahun di pedesaan dari tahun 1996 sampai 1999 mencapai 33,6 % sementara di perkotaan hanya turun 32,9 %.

Peluang dan Hambatan Usaha Ayam Ras Petelur

Peluang investasi perusahaan ayam ras petelur terbuka di berbagai wilayah Indonesia, karena hampir semua lapisan masyarakat umum mengkonsumsi  telur ayam ras.

Peluang pengembangan sangat terbuka untuk wilayah dengan jumlah penduduk tinggi dan tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi seperti DKI Jakarta, Propinsi Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Peluang perkembangan bisnis ayam ras petelur di masa mendatang tergantung situasi ekonomi dan politik yang berkembang dewasa ini.

Semakin membaiknya perekonomian nasional memasuki tahun 2001/2002, bisnis ayam ras petelur terlihat kembali bergairah memasuki tahun 2001, perkembangan bisnis ayam ras petelur cukup stabil dengan peningkatan konsumsi sebesar 3,4 % per tahun dari 821,81 ribu ton pada tahun 2000 menjadi 849,84 ribu ton pada tahun 2001. 

Berdasarkan aspek budidaya, peluang pengembangan ayam ras petelur sangat terbuka, karena secara teknis kegiatan budidaya ayam ras petelur sangat fleksibel yang  tidak terlalu terikat dengan ketersediaan lahan apalagi lahan subur.

Kegiatan budidaya ayam ras petelur dengan kata lain dapat dilakukan di semua lokasi yang tidak menimbulkan gangguan sosial dan lingkungan. 

Peluang pasar domestik cukup terbuka karena minat konsumen yang semakin membaik oleh karena harga yang lebih rendah dibandingkan telur ayam buras atau itik.

Disamping itu jalur pemasaran juga mulai efektif, sehingga tidak menjadi kendala dalam distribusi.

Dukungan pemerintah yang tinggi terutama dalam upaya penyediaan pangan dengan program “Gema Proteina” merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan. 

Peluang internasional terbuka dengan dibukanya pasar agribisnis peternakan di pasar internasional.

Diratifikasi-nya kesepatakan WTO pada tahun 1995, perekonomian dunia akan menuju pada era perdagangan bebas.

Berbagai kebijakan tarif dan non tarif pada perdagangan produk ternak internasional akan dihapus, sehingga tidak ada lagi hambatan teknis maupun birokratis.

Ketentuan tersebut juga menyangkut kewajiban setiap negara untuk menerima produk dari negara lain dengan persyaratan tertentu. 

anak ayam sehat
Hambatan yang dijumpai dalam pengembangan bisnis ayam ras petelur menyangkut fluktuasi pasar dan belum stabilnya harga input.

Komponen input yang sebagian masih impor menyebabkan harga di pasaran ditentukan gejolak nilai tukar rupiah terhadap nilai US Dollar.

Hambatan lain menyangkut karakteristik produk telur mentah yang bersifat perishable.

Disamping memerlukan teknologi penanganan produksi secara khusus, distribusi produk telur harus dapat dilakukan dengan sangat efisien dan hati-hati.

Secara teknis budidaya, hambatan sering dijumpai dalam hal wabah penyakit yang dapat muncul setiap saat, seperti Gumboro atau Flu Hongkong yang sewaktu-waktu dapat terjadi. 

Kondisi Persaingan Usaha Ayam Ras Petelur

Terdapat lima kekuatan yang mempengaruhi persaingan dalam industri yaitu pendatang baru, produk pengganti, pembeli, pemasok dan pesaing.

Ancaman Pendatang Baru

Pendatang baru pada industri membawa kapasitas baru, keinginan untuk merebut bagian pasar serta seringkali juga sumberdaya yang besar.

Akibatnya harga menjadi turun dan membengkak, sehingga mengurangi profit. Ancaman masuknya pendatang baru ke dalam industri tergantung pada rintangan masuk yang ada digabung dengan reaksi dari para pesaing yang sudah ada yang dapat diperkirakan oleh pendatang baru.

Apabila rintangan besar dan akan ada perlawanan keras dari industri-industri lama maka ancaman masuknya pendatang baru akan rendah.

Terdapat beberapa sumber utama rintangan masuk yaitu : skala ekonomis, diferensiasi, kebutuhan modal, dan akses masuk ke saluran distribusi. 

Ancaman Produk Pengganti

Produk pengganti membatasi harga dan laba potensial yang dapat diperoleh suatu perusahaan.

Semakin menarik alternatif harga yang ditawarkan oleh produk pengganti maka semakin ketat pembatasan laba industri.

Semakin berkembangnya image konsumen tentang produk-produk baru, maka dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan trend permintaan konsumen.

Oleh karena itu usaha peternakan harus membaca trend yang berkembang dengan melakukan grading untuk sasaran konsumen yang tersegmentasi.

Munculnya produk baru misalnya telur omega 3 atau telur dengan grade tertentu.

Saat ini ancaman produk subtitusi yaitu telur ayam buras dan telur itik bukan merupakan ancaman serius, sebab pangsa konsumsi telur ayam ras jauh lebih besar yaitu sekitar 63%. 

Kekuatan Tawar Menawar Pembeli

Pembeli bersaing dengan industri dengan cara memaksa harga turun, tawar menawar untuk mutu yang lebih tinggi dan pelayanan yang lebih baik serta berperan sebagai pesaing satu sama lain.

Apalagi bila terjadi over suplay, maka mekanisme yang terjadi adalah harga menjadi turun.

Keseimbangan harga yang terjadi merupakan tawar-menawar antara kekuatan supply dengan kekuatan demand

Kekuatan Tawar Menawar Pemasok

Pemasok bersaing dengan industri dengan cara mengancam akan menaikkan harga atau menurunkan mutu produk atau jasa yang dibeli.

Pemasok dalam hal ini adalah perusahaan pembibitan, pakan dan sarana produksi. Hal ini akan mempengaruhi profit industri.

Pemasok disebut kuat jika memenuhi kriteria sebagai berikut.

  1. Para pemasok didominasi oleh beberapa perusahaan.
  2. Pemasok tidak menghadapi produk pengganti lain untuk dijual kepada industri.
  3. Industri tidak merupakan pelanggan yang penting bagi pemasok.
  4. Produk pemasok merupakan input bagi perusahaan/industri.
  5. Produk kelompok pemasok terdiferensiasi.
  6. Kelompok pemasok menunjukkan ancaman untuk melakukan integrasi.

Persaingan Antar Industri

Persaingan terjadi karena satu atau lebih pesaing merasakan adanya tekanan atau melihat peluang untuk memperbaiki posisi.

Beberapa bentuk persaingan adalah harga, jumlah pesaing yang banyak, pertumbuhan industri yang lamban, biaya tetap yang tinggi, ketiadaan diferensiasi, penambahan kapasitas dalam jumlah yang besar, dan pesaing yang beragam. 

Lingkungan operasional yang terdiri dari faktor-faktor dalam situasi persaingan akan mempengaruhi keberhasilan suatu perusahaan dalam mendapatkan sumberdaya yang dibutuhkan atau dalam memasarkan produk atau jasanya secara menguntungkan.

Beberapa faktor yang penting tersebut adalah posisi bersaing perusahaan, komposisi pelanggan serta reputasi di mata pemasok dan kreditor. 

Persaingan adalah jiwa dari pasar, oleh karena itu setiap pemain baru yang berani masuk pasar, harus berani dan siap menghadapi pasar.

Hal yang harus dilakukan pertama kali dalam menghadapi persaingan adalah mengetahui siapa saja pemain yang bermain pada segmen pasar yang dimasuki.

Selain itu, pemain baru harus mengetahui bagaimana posisi masing-masing pemain pada segmen tersebut.

Pemain baru yang ingin bermain di pasar perlu mengetahui strategi apa saja yang harus dilakukan, target apa yang akan dicapai dan siapa saja yang akan dihadapi secara langsung dan siapa saja yang tidak perlu dihadapi secara langsung. 

Untuk menghadapi persaingan yang ketat, maka perlu melakukan integrasi secara vertikal ataupun secara horisontal.

Integrasi yang dilakukan yaitu salah satunya dengan melakukan kerjasama atau kemitraan dengan perusahaan inti.

Perusahaan bertindak sebagai inti biasanya menyediakan bibit pakan dan obat-obatan, sedangkan peternak menyediakan kandang dan tenaga untuk mengelola manajemen produksi.

Setelah masa produksi selesai, hasilnya dijual ke perusahaan inti dengan harga yang telah disepakati.

Beberapa jenis pola kemitraan yang dikenal dijelaskan sebagai berikut. 

Kinak (Kawasan Industri Peternakan)

Kinak merupakan suatu kawasan peternakan ayam ras yang dibangun oleh suatu perusahaan atau oleh para peternak.

Tujuan didirikannya kinak adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar dan untuk melakukan efisiensi usaha. Kinak terbagi menjadi tiga macam, adalah sebagi berikut.

Kinak PRA (Peternakan Rakyat Agribisnis)

Kinak PRA merupakan model kawasan industri yang dibangun oleh para peternak.

Pola kemitraan yang terjadi antara perusahaan dengan peternak sebatas penyediaan sapronak secara kolektif agar mendapat harga yang lebih murah.

Kinak PIR

Pengusaha menyediakan bibit, pakan dan obat-obatan sedangkan peternak menyediakan lahan dan kandang sesuai dengan aturan yang ditetapkan pengusaha.

Perusahaan bertanggung jawab pada pemasaran hasil ternak dengan harga yang layak.

Kinak Super (Sentra Usaha Peternakan Untuk Ekspor)

Perusahaan membengun peternakan yang khusus ditujukan untuk pasar ekspor.

Bapak Angkat

Pola bapak angkat bisa berlangsung dengan adanya perusahaan yang ingin memajukan peternak kecil. Bapak angkat adalah pemilik modal, sedangkan peternak berfungsi sebagai anak angkat yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup peternakannya.

Miranti-Mirama (Mitra Usaha Inti Dan Mitra Usaha Plasma)

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh GAPPI (Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia). Miranti adalah perusahaan inti dan peternak sebagai plasma.

Tingkat Persaingan

Usaha peternakan ayam ras petelur mengarah pada bentuk usaha industri skala menengah dan besar.

Berbeda dengan ayam ras pedaging, kebebasan untuk masuk dan keluar dalam sistem pasar ayam ras petelur relatif lebih terbatas.

Pelaku dalam bisnis ayam ras petelur umumnya kelompok lebih mapan dengan modal cukup, dalam bentuk usaha mandiri.

Perkembangan jumlah pelaku relatif lambat karena memerlukan persiapan yang lebih matang dan modal lebih besar.

Minat masyarakat luas menangani usaha ternak ayam ras petelur relatif rendah termasuk melalui kemitraan dengan pengusaha, tidak seperti ayam ras pedaging.

Investasi yang cukup besar, jangka waktu yang lama, dan memerlukan ketelitian dan ketekunan lebih tinggi pada usaha ayam ras petelur menyebabkan daya tarik untuk peternak rakyat rendah.

Oleh karena itu persaingan dalam bisnis ayam ras petelur yang terjadi adalah antar pelaku perusahaan skala menengah atau antar perusahaan integrated di wilayah tertentu, sedangkan persaingan antara pelaku skala menengah dan perusahaan integrated jarang terjadi karena biasanya perusahaan integrated skala besar menjalin hubungan kerjasama dengan peternak menengah.

Selain persaingan pasar produksi, persaingan yang terjadi antar perusahaan integrated adalah dalam merebut peluang kerjasama dengan peternak menengah.

Berbagai strain dengan keunggulan masing-masing yang ditawarkan oleh perusahaan besar merupakan salah satu siasat yang dilakukan perusahaan integrated meraih sebanyak mungkin mitra perusahaan skala menengah.

Selain itu masing-masing perusahaan integrated melakukan berbagai terobosan dengan memberikan berbagai kemudahan bagi pengusaha menengah.

Kerjasama dengan pengusaha menengah bagi perusahaan integrated dirasakan sangat menguntungkan karena juga merupakan sarana dalam pemasaran aneka produk terutama pakan sebagai komponen biaya terbesar.

Kontribusi keuntungan pada perusahaan integrated terbesar berasal dari usaha pakan, yang dapat mencapai  75 %, jauh lebih besar dibanding dengan tingkat keuntungan di tingkat budidaya yang  hanya 5 %.   

Namun persaingan secara lebih intensif yang sering terjadi adalah persaingan pelaku antar daerah.

DKI Jakarta yang merupakan wilayah konsentrasi konsumen menjadi wilayah perebutan pelaku berbagai daerah khususnya Pulau Jawa dalam memasarkan produksi telur yang melimpah.

Persaingan harga telur ayam ras terjadi di Jakarta sebagai akibat dari membanjirnya produksi telur dari daerah tertentu seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Melihat kondisi ini situasi pasar DKI Jakarta menjadi sangat tidak menentu.

Pola yang serupa juga dapat terjadi di wilayah kota tertentu sebagai akibat dari masuknya produk dari wilayah hinterland sekitarnya apabila terjadi over supply, meskipun hal ini jarang terjadi. 

Kekuatan harga dalam hal ini masih memegang peran penting dalam persaingan antar pelaku berbagai  daerah.

Disamping tidak terdapat perbedaan signifikan pada kualitas produk telur yang dihasilkan, dominannya faktor harga dalam persaingan disebabkan karena masih rendahnya perilaku seleksi produk pada masyarakat konsumen.

Oleh karena itu dalam era pasar bebas, persaingan dengan produk dari negara lain akan semakin ketat.

Konsumen dalam negeri belum akan banyak peduli dalam hal kualitas produk yang dibeli melainkan lebih mempertimbangkan faktor harga, sedangkan efisiensi perusahaan asing cenderung lebih tinggi sehingga dapat memainkan harga di pasaran domestik.

Apabila hal ini terjadi, antisipasi untuk menekan biaya produksi serendah mungkin harus menjadi prioritas bagi pengusaha ayam ras petelur di Indonesia. 

Referensi Artikel Pemasaran Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur
  1. Artikel pemasaran hewan hidup
  2. Artikel dari CNBC
  3. Artikel dari wikipedia
  4. Sumber lainnya