Last Updated:
Pemasaran Usaha Kulit dan Produk Kulit
Pemasaran Usaha Kulit dan Produk Kulit https://www.pustakadunia.com

Pemasaran Usaha Kulit dan Produk Kulit

Pemasaran Usaha Kulit dan Produk Kulit. - Sejak  krisis ekonomi melanda Indonesia beberapa tahun lalu, industri  kulit dan produk kulit di dalam negeri terlihat masih belum menunjukkan kemajuan yang cukup berarti.

Hal ini  terlihat dari  daya serap pasar  yang semakin melemah sehingga beberapa pengusaha kulit dan produk kulit ada yang gulung tikar, sedangkan yang lainnya  terpaksa harus mengurangi kapasitas produksinya.

Tingkat Persaingan dan Kejenuhan Usaha Kulit

Selain  itu di pasaran ekspor tingkat kompetisi kulit dan produk kulit juga semakin ketat, negara pesaing seperti, Korea Selatan, Cina, Hongkong, Vietnam, maupun dari negara Asia lainnya,  Malaysia,  India dan Pakistan Cina terlihat mulai penghambat pasar ekspor  kulit dan produk kulit  Indonesia.

Hebatnya negara-negara pesaing ini mampu menjual   dengan harga  lebih murah, yang menyebabkan  pangsa pasar industri  kulit dan produk kulit Indonesia  di pasaran ekspor sempat mengalami penurunan.

Pasar kulit dan produk kulit Indonesia di pasaran dalam negeri maupun ekspor sebenarnya masih cukup besar. 

Di dalam negeri sendiri misalnya, jika dilihat dari populasi penduduk Indonesia yang cukup besar merupakan potensi pasar  yang  sangat menjanjikan. 

Dengan populasi penduduk yang tercatat telah mencapai  209.1 juta jiwa pada tahun 2002, dan jika diasumsikan 50 % saja menggunakan 2 atau 3 produk kulit per orang per tahun maka jumlah kebutuhan dalam waktu satu tahunnya akan mencapai 261.4 juta produk kulit.

Namun karena kemampuan industri kulit dan produk kulit serta daya beli produk kulit di dalam negeri  masih rendah sehingga produksi kulit di dalam  negeri masih terbatas.

Padahal peluang untuk mengembangkan industri kulit dan produk kulit di dalam negeri  sebenarnya masih  terbuka luas.

Bahkan menurut Direktur Hubungan Internasional Association of Italian Manufactures of Machinery and Accessories for Footwear Leather Good and Tanneris (Assomac) Mr.Mario Pucci mengatakan, kendati pasar Cina dan Vietnam makin bagus, namun para produsen kulit – produk kulit dunia masih melihat pasar Indonesia memiliki prospek yang lebih baik.

Memang terlalu jauh untuk membandingkan antara Italia dan Indonesia dalam industri kulit, bahkan sebagai gambaran bahwa bahwa Italia masih merupakan negara yang menjadi kiblat bagi kalangan pengusaha kulit dunia dan Italia saat ini masih mengusai hampir 50 % pasar kulit dan produk kulit dunia, padahal Italia bukan  produsen kulit mentah  dunia..

Namun melihat  kemapuan produksi kulit dan produk kulit di dalam negeri saat ini yang masih rendah ini hal ini menimbulkan pertanyaan. Mengapai pasar kulit dan produk kulit di dalam negeri masih rendah. ?.

Menurut pengamatan ada beberapa kendala yang menyebabkan penetrasi pasar kulit dan produk kulit di dalam negeri masih rendah antara lain adalah :

  1. Produksi kulit dan produk kulit sebagian besar masih berdasarkan pesanan/job order.
  2. Produsen kulit dan produk kulit skala menengah dan kecil sebagian besar masih mengalami kesulitan dalam memasarkan produknya terutama untuk pasaran ekspor.
  3. Para produsen kulit dan produk kulit di dalam negeri masih belum mengikuti trend pasar, sebagai contoh produsen kulit dan produk kulit umumnya belum bisa mengikuti karakteristik yang sesuai dengan permintaan pasar.
  4. Daya beli masyarakat untuk bembeli produk kulit di dalam negeri masih rendah
  5. Kemasan produk alas kaki juga berperan penting untuk penjualan produk sepatu dan memiliki nilai tambah, namun sangat disayabgkan bahwa produk sepatu  yang berasal dari Indonesia tidak memiliki bungkus khusus, padahal jenis produknya sudah sangat ekslusif.
  6. Kemudian tenaga ahli di bidang desain produk kulit masih terbatas. 

Pemain Utama, Market  Share Usaha Kulit

Dari pengamatan dan penelitian di Indonesia  tercatat ada beberapa industri produk kulit terkemuka yang sudah cukup dikenal. Perusahaan-perusahaan tersebut ada yang hanya  memfokuskan produknya pada satu jenis, selain itu ada yang memproduksi beberapa  jenis produk kulit, bahkan ada industri produk kulit yang terintergrasi industri penyamakan kulit .

Produsen-produsen produk kulit yang utama tersebut antara lain PT Sepatu Bata yang  produksinya tetap fokus pada pembuatan sepatu dan alas kakinya lainnya baik untuk pria, wanita dan anak-anak yang produksinya hampir  80% dipasarkan di dalam negeri.  Kemudian PT Tunas Jaya, yaitu yang terintergrated, selain memproduksi kulit juga memproduksi produk kulit seperti sepatu kulit, sandal kulit, jacket kulit, sarung tangan kulit dan produk kulit lainnya yang sebagian besar produksinya di ekspor ke luar negeri terutama ke kawasan Eropa dan Hongkong. 

Kemudian PT Fortune Mate Indonesia Tbk, sebagai salah satu perusahaan sepatu kulit terbesar di Indonesia produksinya juga lebih memfokuskan pada pembuatan sepatu dan alas kaki lainnya baik sepatu untuk pria, wanita dan anak-anak yang produksinya sebagian besar di ekspor ke luar negeri dan sebagian lagi untuk pasaran dalam negeri.

Sementara itu berdasarkan  berdasarakan analisa 4 P (Product, Price, Place and promotion) poduk kulit Indonesia  khususnya sepatu kulit dan pakaian dari kulit termasuk sudah  cukup baik  dan berkualitas  terutama untuk produk-produk kulit yang  berorientasi ekspor, bahkan  dibandingkan dengan produk kulit impot tidak kalah kualitasnya.

Kemudian masalah harga  produk kulit Indonesia  terutama alas kaki dan pakaian  dari kulit memang masih jauh lebih murah  harganya dibandingkan dengan produk impor. Hal ini terutama disebabkan  oleh model, varian dan desain  produk lokal yang masih belum mengikuti  trend  pasar. 

Sedangkan masalah place atau tempat produk lokal khususnya sepatu kulit dan pakaian dari kulit serta produk lainnya sudah tergolong memenihi persayaratan  pasar, dimana produk-produk lokal  sudah ditempatakan dan disejajarkan dengan produk impor di departemen-departemen store terkenal baik di dalam negeri maupun luar negeri seperti Sogo.

Selain itu  produk kulit Indonesia juga dapat ditemukan di departemen-depateman store  di luar negeri  seperti di Singapore dan Hongkong. Disamping itu promosi produk kulit juga Indonesia sudah sampai ke mancanegara  melaui kerjasamasa badan ekspor nasional (BPEN) .

Promosi juga telah dilakukan  melalui media  elektronik maupun media cetak, namun promosinya masih kurang gencar.     Untuk lebih jelasnya produsen-produsen utama yang bergerak dibidang  pembuatan produk-produk kulit di dalam negeri dapat dilihat pada tabel berikut. 

Produsen Utama Produk Kulit Dan Kapasitasnya di Indonesia, Tahun 2002

 

Nama Perusahaan

Buah

Market Share

 

 

 

 

Lokal

Ekspo

 

 SARUNG TANGAN

 

(%)

(%)

 

 Kiho Budi Korin, PT              

1,080,000

35

65

 

 Komega Sports Indonesia, PT      

1,280,000

50

50

 

 Koryo Puspita Indonesia, PT      

2,520,000

55

45

 

 Krida Alam Lestari, PT           

1,040,000

40

60

 

 Massyndo Gemilang, PT            

2,900,000

45

55

 

 Mitra Saruta Indonesia, PT       

3,600,000

25

75

 

 Tayub Indo, PT                   

4,700,000

60

40

 

 Tunas Sukses, PT                 

6,000,000

-

100

 

 Woneel Midas Leathers, PT        

1,580,000

25

75

 

 Budi Makmur, PT                  

180,000

 

 

 

 TAS & DOMPET

 

 

 

 

 Condro Purnomo Cipto, PT         

945,000

30

70

 

 Dae Gun Utama, PT                

400,000

40

60

 

 Damai Columbus Inti, PT          

300.000

55

45

 

 Dutindo Multitama Leather,  PT   

1.080.000

20

80

 

 Koryo Puspita Indonesia, PT      

600,000

30

70

 

 Q'non Leather Handicraft, PT     

20.0000

35

65

 

 Rumindo Pratama, PT              

200.000

60

40

 

 Satria Megah Unggul Sejati, PT   

1.000.000

30

70

 

 Standjaja Putra Leather Ind., PT 

150.000

-

100

 

 Surawangi Prima, PT              

100,000

60

40

 

IKAT PINGGANG

 

 

 

 

 Citra Mutiara, PT                

100.000

20

80

 

 Damai Columbus Inti, PT          

100.000

40

60

 

 Makmur Perkasa Abadi, PT         

100.000

50

50

 

 Satria Megah Unggul Sejati, PT   

2.000.000

25

75

 

JACKET

 

 

 

 

 Adhi Busana Megah Perkasa, PT    

600.000

20

80

 

 Condro Purnomo Cipto, PT         

135,000

40

60

 

 Haewae Indonesia, PT             

135000

45

55

 

 Halim Jaya Sakti, PT             

360,000

30

70

 

 Kaltimex Namsung, PT             

2,000,000

25

75

 

 Kido Jaya, PT                     

180,000

70

30

 

 Kuju Indonesia, PT               

125,000

50

50

 

 Rodem Apparel, PT                

90.000

-

-

 

 Satria Megah Unggul Sejati, PT   

1.000.000

30

70

 

 Tunas Sukses, PT                 

2,400,000

-

100

 

SEPATU & SANDAL

Pasang

 

 

 

 Arti Sanjaya Internusa, PT       

1,290,000

25

75

 

 Astra International, PT          

6,480,000

30

70

 

 BATA Tbk , PT                         

15,000,000

80

20

 

 Bertoni Sarii Jaya, PT           

3,000,000

50

50

 

 Brown Prima Indonesia, PT        

800,000

10

90

 

 Ecco Indonesia, PT               

2,500,000

20

80

 

 Emperor Footwear Indonesia, PT   

6,000,000

20

80

 

 Fortune Mate Indonesia Tbk, PT       

6,300,000

10

90

 

 Mangul Jaya, PT                  

12.300,000

20

80

 

 Mitra Pradhasty, PT              

1,000,000

50

50

 

 Sudinar Artha, PT                

1,000,000

40

60

 

 Tunas Sukses, PT                 

6,000,000

10

90

& Sumber : Dari berbagai sumber

Kiat Sukses Dari Top Three

PT SEPATU BATA Tbk

PT Sepatu Bata adalah perusahaan sepatu  tertua di Indonesia, perusahaan dengan branded BATA ini selain memproduksi sepatu kulit juga memproduksi  alas kaki lainnya seperti sandal kulit, sepatu kulit anak-anak.

Status perusahaan ini pada mulanya adalah bernama NV Nederlandesche Indiche Schoenhandel Maatschappij BATA dengan penanaman modal asing (PMA) pada tahun 1931,  dengan mayoritas pemegang saham  adalah BAFIN BV dari Nether land.

Pada tahun 1960 perusahaan ini berubah nama menjadi PT Perusahaan SEPATU BATA. 

Pada  tahun 1982, perusahaan ini berubah nama lagi menjadi PT SEPATU BATA,  dan modal dasar  perusahaan bertambah menjadi Rp 13.000.000.000,- dan yang ditempatkan sebesar Rp 9.920.000.000,- yang telah disetor penuh.

Pada tahun 1982 PT SEPATU BATA menjual 15 % sahamnya ke publik  di Bursa Saham Jakarta, dan terakhir  pada bulan Mei 1995 modal perusahaan  mengalami penambahan lagi menjadi Rp 20.000.000.000,-  dengan modal dasar menjadi Rp 13.000.000.000,- dan telah disetor penuh.

Hasil produksi perusahaan sebagian besar (80 %) ditujukan  pasaran lokal, dan sebagian lainnya  ditujukan untuk pasaran ekspor, terutama adalah ke negara-negara  kawasan Eropah seperti, German, Belanda, Inggris, dan negara lainnya.

Pabrik sepatu Bata yang berlokasi di Jalan Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta dan di daerah lainnya di Jawa Barat  ini memiliki kapasitas produksi sepatu mencapai 15.000.000 pasang pertahun  per tahun yang terdiri dari Sepatu Kulit, Sepatu Olahraga, Sandal Kulit, dan alas kaki lainnya. Selain itu PT Sepatu Bata juga memiliki pabrik di Jalan Raya Purwakarta, Desa Cibening, Jawa Barat dengan kapasitas produksi sebesar 7.3.000.000 pasang per tahun.

Pada saat krisis moneter pada tahun 1997-1998 lalu ,  pasaran sepatu dan alas kaki lainnya  di dalam negeri benar-benar mengalami penurunan sangat drastis, bahkan perusahaan ini sempat melakukan pengurangan produksi dan pengurangan tenaga kerja.

Namun untuk mengatisipasi pasar dalam negeri yang kian melemah, PT Sepatu Bata  mengubah orientasi pasarnya, yang semula untuk pasaran ekspor hanya sikitar 15 %  maka dirubah menjadi 60 % dan ternyata cukup berhasil, namun tidak berlagsung lama, karena harus bersaing dengan produk-produk kulit branded.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut akhirnya perusahaan kembali memfokuskan pasarnya di dalam negeri, karena lebih menjanjikan dan lebih masyarakat indonesia lebih familier terhadap produk Bata.

Kiat sukses perusahaan untuk tetap bertahan dan mengembangkan perusahaannya antara lain :

  • Tetap memfokuskan pada pembuatan sepatu dan alas kaki lainnya
  • Memiliki jaringan pemasaran yang luas serta mengembangkan gerai dengan konsep baru dengan nama “Bata Super Store” guna memperkuat jaringan outletnya yang telah mencapai 489 unit di seluruhan Indonesia.
  • Menggunakan baku pilihan
  • Tetap memfokuskan pemasarannya di dalam negeri
  • Harga yang relatif menjangkau masyarakat luas
  • After self services
  • Mengikuti trend desain
  • Mempertahan mutu dan menjaga kualitas mutu
  • Dan lain sebagainya

PT TUNAS SUKSES

Pada awalnya perusahaan ini bernama PT Surya Puspitayang didirikan pada tahun 1988 yang bergerak dalam bidang usaha penyamakan kulit  dengan produk utamanya kulit samak dari kulit domba dan kambing.

Pada saat itu seluruh produknya di ekspor ke Korea Selatan dan Hongkong. Meskipun perkembangan ekspornya mengalami peningkatan, namun secara ekonomis keuntungannya masih  kecil.

Berangkat dari pemikiran tersebut, perusahaan mencoba mempelajari untuk membuat barang-barang jadi kulit  seperti sarung tangan kulit, jaket kulit dan sepatu kulit.

Ternyata dengan melakukan diversifikasi produk tersebut cukup sukses, maka berdilah PT Tunas Sukses.

Perusahaan berkeyakinan bahwa dengan memproduksi produk kulit tersebut akan dapat menambah keuntungan lebih besar, apalagi potensi pasar  di dalam negeri sendiri dan ekspor masih cukup menjanjikan.

Antisipasi yang dilakukan perusahaan ternyata benar, ini bisa dibuktikan dari tingkat penjualan ekspor yang setiap tahunnya menunjukkan peningkatan yang cukup berarti, sehingga dapat menyerap tenaga kerja yang pada mulanya kurang dari 100 karyawan dan saat ini sudah mencapai lebih kurang 2.924 karyawan.

Kemudian pabrik yang semula menyewa lahan di daerah Ciracas dan  Pulogadung, kini sudah dibangun secara permanen yaitu di Kawasan Industri Pulogadung yakni di jalan Rawa Sumur II Kav 7 dan Rawa Gelam 1/9 yang semuanya telah menjadi milik sendiri. Sebagai salah satu perusahaan kulit dan produk kulit terbesar di Indonesia, kiat sukses yang dilakukan perusahaan untuk mengembangkan perusahaan antara lain adalah sebagai berikut :

  • Diversifikasi Product yaitu mengembangkan produk kulit bukan hanya jaket kulit, melainkan berupa rompi, celana/pants, skirt, long coat, fashion jaket lainnya. Kemudian produk sarung tangan kulit/gloves, yang pada awalnya hanya memproduksi untuk Golf (Golf Gloves) , namun sekarang juga memproduksi Batting Gloves, Winter Gloves, Dress Gloves, Racket Gloves dan Base Ball Gloves.
  • Diversifikasi Buyers, yaitu memperluas jaringan pemasaran. Saat ini jumlah buyer tercatat lebih dari 50 buyer tetap dari berbagai merek terkenal seperti, Nike, Reebok, Greg Norman, Ben Hogan, Wilson, Titleist & Foot Joy, Yamaha, Bridgestone, Dunlop dan merek terekenal lainnya.
  • Menjaga kualitas produk
  • After self service
  • Mengutamakan bahan baku kulit pilihan
  • Desainer dari luar negeri
  • Dapat dibuat berdasarkan pesanan
  • Dan lain sebagainya.

PT BROWN PRIMA INDONESIA

PT BPI mendapat fasilitas penanaman modal asing (PMA) di bidang industri leather shoes dan sandal. Pabrik yang berlokasi di Jalan Raya Rancaekek Km 25.5 Sumedang , Jawa Barat, berdiri di atas lahan seluas 12.000 meter per segi.

Lokasi pabrik tersebut dibeli  dan bekas pabrik milik PT Bintang  Raya Sari yang juga bergerak dibidang industri sepatu kulit yang terbakar pada  bulan juli tahun 1996 lalu. Pabrik tersebut dibangun lagi pada awal tahun 1997 dan mulai beroperasi percobaan pada bulan april 1997 dengan memproduksi sepatu kulit dan sandal kulit. 

Sekitar 90 %  hasil produksinya di ekspor ke luar negeri berdasarkan job order dengan merek W.Brown ke Filipina, dan merek Startex ke Amerika Serikat dan merek HOGG ke Uni Eropa dan merek lainnya ke Singapore dan negara lainnya.

Sedangkan  sekitar 10 % nya dengan merek W.Brown di pasarkan  di dalam negeri. Bahan baku penolong berupa kulit sebagian besar di impor dari luar negeri dan sebagian lagi menggunakan bahan baku dari dalam negeri.

Depresiasi rupiah yang sangat tajam terhadap  US$ dan mata uang asing lainnya sempat berdampak baik terhadap PT BPI karena sekitar 90 % produknya di ekspor ke luar negeri sehingga penjualan perusahaan dalam rupiah meningkat cukup tinggi.

Di lain pihak krisis ekonomi yang terjadi pada beberapa tahun lalu  juga sempat membawa dampak buruk terhadap perusahaan ini karena harga bahan baku dan biaya produksi meningkat  cukup drastis.

Sehingga perusahaan sempat mengalami penurunan produksi dan dampak lain mengakibatkan timbulnya keragu-raguan buyer luar negeri untuk melakukan transaksi dengan industri di Indonesia.

Akan tetapi dengan melihat kondisi ekonomi Indonesia yang mulai membaik  sampai saat ini PT BPI masih tetap bertahan.

Sebagai salah satu perusahaan sepatu kulit dan sandal kulit terbesar di Indonesia, kiat sukses yang dilakukan perusahaan antara lain :        

  • Jaringan pemasaran yang luas terutama untuk pasaran ekspor
  • Memiliki desain yang sudah sesuai dengan standar ekspor
  • Menggunakan bahan baku kulit pilihan
  • Menjaga kualitas produk
  • Ketepatan waktu dalam penyerahan barang pesanan
  • Menjaga hubungan baik dengan perusahaan yang memberikan order
  • Mengutamakan pelayanan 

Investasi Baru Dan Perluasan

Industri kulit dan produk kulit yang tergolong industri padat karya yang memiliki prospek yang cukup baik  namun sampai saat ini  belum ada  investor baru yang  menanakan modalnya di sektor tersebut.

Jumlah industri kulit dan produk kulit di Indonesia memang  sudah tergolong sudah cukup banyak, sementara  masalah modal kerja dan bahan baku tetap menjadi kendala saat ini.

Selama tahun 2001 hingga pertengahan tahun 2003 belum terlihat adanya investasi baru di sektor ini, hanya beberapa perusahaan saja yang terlihat melakukan perluasan usaha itupun hanya industri-industri skala besar saja dan sudah jelas pasarnnya, seperti PT Fortune Mate Indonesia melakukan investasi dalam penambahan mesin-mesin baru, PT Wira Sakti  selain menambah mesin baru juga melaukan perluasan pabrik, dan bebera perusahaan lainnya. 

Proyeksi Harga

Menurut penelitian pasar, harga kulit dan produk kulit di dalam negeri cukup bervariasi dan tergatung dari jenis produk dan kualitas kulit itu sendiri.

Harga produk kulit seperti sepatu dan alas kaki lainnya untuk kualitas sedang harganya rata-rata dapat mencapai Rp 75.000 sampai Rp 150.000 per pasang, dan untuk kualitas yang baik harganya bisa mencapai   Rp 200.000,- sampai Rp 350.000 per pasang.

Sedangkan harga sepatu kulit impor rata-rata bisa mencapai Rp 500.000 sampai Rp 2.000.000,- per pasang.

Sementara produk kulit lainnya seperta tas tangan, kopor, tas kerja, dompet dan produk lainnya harganya sangat bervariasi.   

Harga Produk kulit menurut jenis , 2003-2004

 

Produk Kulit

 

 

 

 

Alas kaki : /ps

 

 

 

 

Sepatu kulit Pria

Rp 75000-150.000

Rp 200.000 –350.000

Rp 500 ribu – Rp 1.8 juta

 

Sepatu kulit Wanita

Rp 75000-125.000

Rp 150.000 - 250.000

Rp 350 ribu – Rp 1.2 juta

 

Sandal kulit

Rp 50000-75.000

Rp 100.000 – 200.000

Rp       -      

 

 

 

 

 

 

Pakaian kulit :/ unit

 

 

 

 

Jaket kulit

Rp 150.000–200.000

Rp 500.000 – 750..000

Rp 1.5 juta – Rp 3 juta

 

Sarung tangan kulit

Rp 50.000

Rp 100.000 – 150.000

-

 

Ikat pinggan kulit

Rp 50.000

Rp 120.000 – 150.000

-

 

 

 

 

 

 

Tempat dari kulit :

 

 

 

 

Kopor kulit/unit

Rp 300.000

Rp 500000 –   750.000

-

 

Tas tangan

Rp 150.000

Rp 200.000 – 300..000

 

 

Dompet

Rp 75.000-100.000

Rp 150000 –   250.000

 

& Sumber : Penelitian  lapangan

Proyeksi Produksi Domestik Usaha Kulit

Menurut catatan selama lima tahun lalu perkembangan produksi produk kulit  terlihat mengalami penurunan baik dilihat jenisnya maupun volumenya, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar minus 0.55 %.

Menurunnya produksi produk  kulit di dalam negeri ini juga tidak terlepas dari menurunnya produksi kulit samak dalam beberapa tahun terakhir ini.

Karena sebagaimana diketahui bahwa kulit samak merupakan  bahan baku utama bagi pembuatan produk-produk kulit di dalam negeri.

Selain itu menurunnya poduksi kulit samak di dalam negeri dalam lima tahun terakhir ini juga terkait dengan adanya kebijakan pemerintah tentang  pelarangan impor kulit mentah dan setengah jadi dari beberapa negara pengimpor  serta kebijakan tentang  pajak ekspor kulit mentah dan setengah jadi (wet blue) menjadi nol persen, yang mengakibatkan industri kulit dan produk kulit di dalam negeri  mengalami kekurangan  bahan baku baik kulit mentah maupun kulit  samak/setengah jadi.    

Dengan melihat perkembangan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnnya mengenai kondisi  industri kulit dan produk kulit di dalam negeri, diperkirakan bahwa di tahun-tahun mendatang  produksi kulit samak di dalam negeri akan mengalami perbaikan  dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dengan pertumbuhan rata-rata sebesar  6 % sampai 7 % per tahun. 

Kenaikan tersebut diasumsikan apabila kebijakan tentang pelarang impor kulit mentah dan kulit setengah jadi  dari negera-negara pengimpor kulit mentah seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Argentina dan beberapa negara lainnya dibuka kembali. Karena total volume impor kulit mentah dan kulit setengah jadi Indonesia dari negera-negara tersebut terglong cukup besar yaitu  rata-rata  sekitar 20.000 ton per tahun atau sekitar 30 % dari total konsumsi dalam negeri.      

Dengan asumsi-asumsi tersebut, diperkirakan produksi kulit samak di dalam negeri pada tahun 2003 akan meningkat menjadi 40.434 ton, dan pada tahun 2004 menjadi 43.212 ton atau hingga tahun 2007 diproyeksikan akan mencapai  53.696 ton atau dengan tingkat utilisasi rata-rara sebesar  41.35 % sampai dengan 54.9 %. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. 

Proyeksi Produksi Kulit Samak di Dalam Negeri 2003-2007

Tahun

K.Produksi

Produksi

Kenaikan

Utilisasi

 

(Ton)

(Ton)

(%)

(%)

2003

97.774

40.434.0

6.55

41.35

2004

97.774

43.212.0

6.87

44.20

2005

97.774

46.316.0

7.18

47.37

2006

97.774

49.792.0

6.81

50.93

2007

97.774

53.696.0

7.84

54.92

& Sumber : diolah 

Selanjutnya dengan asumsi bahwa produksi kulit samak di dalam negeri yang diperkirakan akan naik rata-rata sekitar 6% sampai 7 % per tahun, maka produksi kulit  seperti  sepatu kulit dan alas kaki lainnya dari kulit, pakaian dari kulit & perlengkapannya serta  produk kulit lainnya pada tahun-tahun mendatang  juga diperkirakan   akan mengalami kenaikan.

Seperti diketahui  bahwa hampir 60 % kulit samak di dalam negeri diserap oleh industri sepatu kulit dan alas kaki lainnya, sedangkan sisanya diserap oleh industri pakaian dari kulit dan produk kulit lannya.

Dengan demikian apabila sektor  bahan baku kulit samak di dalam negeri menurun, maka secara tidak langsung akan mengakibatkan  menurunnya produksi  produk-produk kulit di dalam negeri, seperti yang terjadi beberapa tahun lalu, dimana industri-industri kulit kesulitan dalam memperoleh bahan baku akibatannya banyak industri mengurangi kapasitas produksinya, bahkan banyak industri  dan pengrajin kulit yang gulung tikar. 

Pada tahun 2002 lalu misalnya produksi produk kulit di dalam negeri tercatat mencapai  18.244 ton, sedangkan pada tahun 2003 diperkirakan akan meningkat menjadi 22.633 ton dan pada tahun 2004 menjadi 23.789 ton atau hingga tahun 2007 diperkirakan akan mencapai 28.149 ton. 

Dari total produksi produk kulit  tersebut, porsi terbesar tetap sepatu kulit dan alas kaki lainnya yang pada tahun 2003 diperkirakan produksinya   mencapai 20.8 juta pasang, meningkat pada tahun 2004 menjadi 21.9 juta pasang dan pada tahun 2005 menjadi 23.1 juta pasang, atau  hingga tahun 2007 akan mencapai  25.9 juta pasang.

Produksi pakaian dari kulit dan perlengkapannya, dari 16.7 juta buah akan meningkat pada tahun 2007 menjadi 21.1 juta buah. Atau secara keseluruhan kenaikan produksi  produk kulit di dalam negeri  selama tahun 2003-2007 mendatang akan naik rata-rata sebesar  5.0 % per tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Proyeksi Produksi Produk kulit Menurut Jenis, 2003-2007

Tahun

Sepatu*)

Pakaian**)

Lainnya***)

Total

 

 

Pasang

Ton

Buah

Ton

Buah

Ton

Ton

 

2003

20.892.000

13579.8

16.974.750

6.789.9

11.316.500

2.263.3

22.633

 

2004

21.959.077

14273.4

17.841.750

7.136.7

11.894.500

2.378.9

23.789

5.10

2005

23.148.923

15046.8

18.808.500

7.523.4

12.539.000

2.507.8

25.078

5.41

2006

24.483.692

15914.4

19.893.000

7.957.2

13.262.000

2.652.4

26.524

5.60

   2007

25.982.769

16888.8

21.111.000

8.444.4

14.074.000

2.814.8

28.148

6.12

&Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Proyeksi Produksi Kulit International

Produksi Kulit Dunia dalam lima tahun terakhir ini (1997-2002)  cenderung meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 0.85 % per tahun. 

Pada tahun 1997 lalu misalnya produksi kulit dunia tercatat sebesar 15.072 juta  sqf, turun pada tahun 1998 menjadi 14.848 juta sqf , namun pada tahun berikutnya terlihat terus meningkat dari 15.321 juta sqf pada tahun 1999 meningkat menjadi 15.451 juta sqf di tahun  2001 atau pada tahun 2002 diperkirakan mencapai 15.715 sqf. 

Perkembangan Produksi Kulit Dunia, 1997-2002

Tahun

(Million square fee)t

Kenaikan (%)

1997

15.072

-

1998

14.848

-1.49

1999

15.321

3.19

2000

15.451

0.85

2001*)

15.583

0.85

2002*)

15.715

0.85

                  &  Sumber : diolah  

Dari total produksi kulit dunia tersebut di atas, penghasil kulit terbesar dunia uratan pertama adalah  negara Cina yang pada tahun 2001 produksinya mencapai 3.000 juta sqf, kemudian urutan kedua  Italia sebesar 1.875 juta sqf, disusul kemudian India sebesar 1.375 juta sqf, Korea Selatan sebesar 1.000 juta sqf dan negara lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Produksi Kulit Menurut Negara, 2001

No

Negara

(Million square fee)t

1

China

3.000

2

Italy

1.820

3

India

1.375

4

Korea

1.000

5

Brazil

    725

6

USA

    700

7

Soviet

    650

8

Spain

    500

9

Turkey

    450

10

Mexico

    450

11

Pakistan

    370

12

Argentina

     320

13

Negara Lainnya

  4.223

 

Total

15.583

  &  Sumber : diolah 

Sementara itu kalau dilihat proyeksi produksi kulit dunia yang rata-rata tumbuh sekitar 0.85 %, maka pada tahun 2003 produksi kulit dunia diperkirakan akan mencapai 15.849 juta Sqf, meningkat pada tahun 2004 menjadi 15.983 juta sqf dan pada tahun 2005 sebesar 16.120 juta sqf atau hingga tahun 2007 produksinya diperkirakan akan mencapai 16.394 juta sqf. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Proyeksi Produksi Kulit Dunia, 2003-2004

Tahun

(Million square fee)t

Kenaikan Rata-rata (%)

2003

15849

0.85

2004

15983

0.85

2005

16120

0.85

2006

16256

0.85

2007

16394

0.85

&    Sumber : diolah 

Proyeksi Konsumsi Kulit  Domestik

Kulit dan produk kulit di dalam negeri dalam tahun-tahun mendatang diperkirakan akan mengalami kenaikan setiap tahunnya.

Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya produksi produk-produk kulit di dalam negeri yang rata-rata diperkirakan akan mengalami  peningkatan sebesar 5 % per tahun. 

Kebutuhan Kulit samak di dalam negeri selain untuk  industri barang-barang kulit seperti sepatu dan barang-barang kulit lainnya   juga sebagian di ekspor ke berbagai negera seperti ke Italia, Jepang dan Hongkong dan lain sebagainya. 

Kebutuhan kulit samak di dalam negeri selain diperoleh dari  dalam negerijuga di impor dari berbagai negara.    

Konsumsi kulit samak di dalam negeri yang dihitung berdasarkan produksi ditambah impor dan dikurang ekspor pada tahun 2003 diperkirakan  sebesar 54.435 ton dan pada tahun 2004 meningkat menjadi  57.212 ton atau hingga tahun 2007 kebutuhan kulit  samak didalam negeri diperkirakan akan mencapai 67.696 ton.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Proyeksi Konsumsi Kulit Samak di Dalam Negeri, 2003-2007

Tahun

Produksi

Impor

Ekspor

Konsumsi

 

(Ton)

(Ton)

(Ton)

(Ton)

2003

40.434

20.000

6000

54.434

2004

43.212

20.000

6000

57.212

2005

46.316

20.000

6000

60.316

2006

49.792

20.000

6000

63.792

2007

53.696

20.000

6000

67.696

&  Sumber : Diolah  

Dengan asumsi melihat perkembangan konsumsi kulit samak di dalam negeri yang cenderung meningkat pada tahun-tahun mendatang, yang rata-rata tumbuh sebesar 6 % sampai 7 % per tahun, maka pada tahun 2003 produksi produk kulit di dalam negeri juga diperkirakan akan meningkat menjadi 22.633 ton dan pada tahun 2004 menjadi 23.789 ton atau hingga tahun 2007 menjadi 28.148 ton.

Sementara itu impor produk kulit Indoinesia diproyeksikan rata-rata sebesar 2.000 ton, sedangkan yang di ekspor rata-rata sebesar 10.000 ton.

Dengan demikian pada tahun 2003 konsumsi produk kulit di dalam negeri diperkirakan  sebesar 14.633 ton, meningkat pada tahun 2004 menjadi 15.789 ton atau hingga tahun 2007 menjadi 20.148 ton. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.    

Proyeksi Konsumsi Produk Kulit di Dalam Negeri, 2003-2007

Tahun

Produksi

Impor

Ekspor

Konsumsi

 

(Ton)

(Ton)

(Ton)

(Ton)

2003

22.633

2.000

10.000

14.633

2004

23.789

2.000

10.000

15.789

2005

25.078

2.000

10.000

17.078

2006

26.524

2.000

10.000

18.524

2007

28.148

2.000

10.000

20.148

&  Sumber : Diolah 

Dilihat dari jenisnya proyeksi konsumsi kulit dan produk kulit di dalam negeri, terbesar adalah produk sepatu dan alas kakilannya, kemudian pakaian dan perlengkapannya  serta produk lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Proyeksi Konsumsi Produk Kulit Menurut Jenis di Dalam Negeri , 2003-2007

Tahun

Sepatu

Sepatu

Pakaian

 

Lainnya

 

 

(ton)

Pasang

(ton)

(buah)

(ton)

(buah)

2003

11.706

18.009.231

2.195

5.487.500

732

3.660.000

2004

12.631

19.432.308

2.368

5.920.000

789

3.945.000

2005

13.662

21.018.462

2.562

6.405.000

854

4.270.000

2006

14.819

22.798.462

2.779

6.947.500

926

4.630.000

2007

16.118

24.796.923

3.022

7.555.000

1.007

5.035.000

& Sumber : Diolah

Proyeksi Konsumsi Kulit Internasional

Dari total produksi kulit dunia tersebut di atas, menurut  sumber FAO, terbesar adalah untuk kebutuhan industri sepatu, kemudian industri garments, outomotive, furniture, dan produk kulit lainnya.

Komposisi  komsumsi kulit dunia menurut FAO 65 %  untuk industri sepatu, 18 % untuk industri garments, 2 % industri outomotive, 5 % furniture dan produk kulit lainnya sekitar 10 %.  Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Komposisi Konsumsi Kulit Dunia Menurut Jenis, 2001

Leathers Production & use worldwide

Million square feet

Komposisi (%)

Footwear

10.128.95

 65.00

Garment

  2.804.94

 18.00

Automotive

     311.66

   2.00

Furniture

     779.15

   5.00

Other leathers products

  1.558.30

 10.00

Total

15.583.00

100.00

&  Sumber : Leather Statistics and Sources Information, FAO 

Sementara itu dilihat dari nilai ekspor kulit dan produk kulit dunia selama tahun 1997-2002 terlihat berfluktuasi namun ada kecenderungan meningkat.

Dari  US$ 13.4 miliar pada tahun 1997 turun  menjadi US$ 12.2 miliar di tahun 1998 dan pada tahun 1999 masih menurun menjadi US$ 11.4 miliar .

Akan tetapi pada tahun 2000 –2002 terlihat meningkat dari US$ 13.4 miliar menjadi US$ 13.6 miliar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. 

Perkembangan Nilai Ekspor Produk Kulit Dunia, 1997-2002

Tahun

Nilai.US$,000

Kenaiakan

1997

13.350.595

 

1998

12.199.094

-8.63

1999

11.444.132

-6.19

2000

13.383.592

16.95

2001

13.498.712

0.86

2002*)

13.550.585

0.75

  *) angka perkiraan

&  Sumber : ITC UNCTAD/WTO 

Dilihat  nilai ekspor produk kulit dunia yang rata-rata tumbuh sekitar 0.75 %, per tahun maka pada tahun 2003 ekspor produk kulit dunia diperkirakan akan mencapai nilai US$ 13.7 miliar, meningkat pada tahun 2004 menjadi US$ 13.8 miliar  dan pada tahun 2005 sebesar US$ 13.9 miliar atau hingga tahun 2007 nilai ekspor kulit dan produk kulit dunia  diperkirakan akan mencapai US$ 14.1 miliar .

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Proyeksi Nilai Ekspor Produk Kulit Dunia, 2003-2007

Tahun

Nilai.US$,000

Kenaiakan

2003

13.652.214

0.75

2004

13.754.606

0.75

2005

13.857.765

0.75

2006

13.961.699

0.75

2007

14.066.412

0.75

&  Sumber : ITC UNCTAD/WTO, 

Dari total nilai ekspor dunia pada tahun 2001, sepuluh besar negera pengekspor kulit dan produk kulit dunia  adalah Italia berada pada posisi pertama, kemudian Korea Selatan, menyusul China, Brazil, Amerika Serikat, Argentina, Germany, Spanyol, Perancis, dan Inggris.

Sementara  Indonesia berada pada urutan 23 sebagai negara pengekspor kulit dan produk kulit dunia. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.  

Perkembangan Nilai Ekspor Produk Kulit Dunia Menurut Negara Tujuan, 1999-2001

No

Negara

1999

2000

2001

1

Italia

2.977.000

3.568.736

3.741.105

2

Korea Rep

1.167.037

1.353.308

1.240.654

3

China

350.399

537.955

896.443

4

Brazil

594.760

756.777

872.387

5

USA,PR

826.762

846.269

819.299

6

Argentina

748.544

804.816

785.846

7

Germany

704.103

681.917

725.259

8

Spain

334.326

373.977

415.695

9

France

298.306

326.734

396.096

10

Unted King

357.823

339.944

294.427

11

Australia

260.521

277.287

266.540

12

Thailand

185.145

208.500

254.991

13

Pakistan

174.039

204.231

245.603

14

Uruguay

171.761

215.742

229.788

15

Austria

191.631

192.913

212.678

16

New Zealand

130.856

144.584

164.677

17

Mexico

158.055

176.397

140.174

18

Netherland

123.521

120.422

137.812

19

Japan

117.806

143.784

124.528

20

South Africa

133.739

167.339

119.023

21

Sinagpore

80.296

99.402

101.621

22

Polandia

61.431

77.555

90.438

23

Indonesia

63.621

94.729

85.042

24

Colombia

39.372

72.516

82.705

25

Belgium

64.168

71.301

80.539

26

Sweden

62.454

59.254

70.577

27

Hungary

55.701

53.887

60.610

28

Ireland

48.698

55.095

54.680

29

Paraguay

33.289

52.594

54.253

30

Lainnya

928.968

1.305.627

735.222

 

 T o t a l

11.444.132

13.383.592

13.498.712

&  Sumber : ITC UNCTAD/WTO

Keseimbangan Produksi Dan Konsumsi

Berdasarkan proyeksi produksi dan konsumsi di atas, maka dapat dilihat keseimbangan antara keduanya selama lima tahun mendatang.

Dari perbandingan antara produksi dan konsumsi di dalam negeri tersebut, maka secara umum akan diketahui kondisi pasar kulit dan produk kulit di dalam negeri hingga tahun 2007 mendatang.

Dari  keseimbangan pasar kulit dan produk kulit di dalam negeri tersebut, pada tahun 2003-2007 mendatang terdapat kelebihan pasokan dari produk produk  lokal   sebesar  8.000 ton per tahun.

Angka kelebihan pasok tersebut sebenarnya merupakan peluang pasar ekspor yang akan datang yang rata-rata ekspornya diasumsikan masih di atas 8.000 ton per tahun. Sementara itu di dalam negeri sendiri  kalau dibandingkan dengan populasi penduduk Indonesia yang pada tahun 2002 telah mencapai  209.0 juta jiwa, sebenarnya konsumsi kulit dan produk kulit di dalam negeri tergolong masih rendah yang pada tahun 2003 diperkirakan hanya sebesar 14.633 ton dan hingga tahun 2007 diperkirakan mencapai 20.184 ton.  

Kondisi ini karena daya beli masyarakat Indonesia terhadap produk-produk kulit  masih rendah.

Keseimbangan Produksi dan Konsumsi Produk Kulit di Dalam Negeri, 2003-2007

Tahun

Produksi

Konsumsi

Peluang

 

(Ton)

(Ton)

(Ton)

2003

22.633

14.633

8.000

2004

23.789

15.789

8.000

2005

25.078

17.078

8.000

2006

26.524

18.524

8.000

2007

28.148

20.148

8.000

&  Sumber : Diolah 

Jika dilihat dari jenis produknya  maka peluang ekspor produk kulit dari dalam negeri terbesar adalah jenis pakaian dari kulit dan perlengapannya, disusul kemudian  produk lainnya.

Pada tahun 2002 lalu misalnya ekspor produk pakaian dari kulit dan perlengapannya  sebesar 4.922 ton, sedangkan pada tahun 2003 diprediksikan menurun menjadi  4.595 ton, namun pada tahun 2004 mulai meningkat menjadi 4.769 ton dan pada tahun 2005 menjadi 4.961 ton atau hingga tahun terus meningkat menjadi 5.178 ton pada tahunn 2006 dan 5.422 ton pada tahun 2007.

Sedangkan ekspor produk lainnya seperti tas, dompet, dan sejenisnya   diperkirakan meningkat  pada tahun – tahun mendatang. 

Pada tahun 2002 lalu misalnya ekspor produk kulit lainnya  tercatat sebesar 1.487 ton, sedangkan pada tahun 2003 diperkirakan meningkat menjadi 1.531 ton dan pada tahun 2004 menjadi 1590 ton atau hingga tahun 2007 akan mencapai 1.808 ton.  Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Keseimbangan Produksi dan Konsumsi Produk Kulit Menurut Jenis , 2003-2007

Tahun

2003

2004

2005

2006

2007

PRODUKSI

(ton)

(ton)

(ton)

(ton)

(ton)

Sepatu

13.580

14.273

15.047

15.914

16.889

Pakaian

6.790

7.137

7.523

7.957

8.444

Lainnya

2.263

2.379

2.508

2.652

2.815

 

22.633

23.789

25.078

26.524

28.148

KONSUMSI DN

 

 

 

 

 

Sepatu

11.706

12.631

13.662

14.819

16.118

Pakaian

2.195

2.368

2.562

2.779

3.022

Lainnya

732

789

854

926

1.007

 

14.633

15.788

17.078

18.524

20.147

PELUANG

 

 

 

 

 

Sepatu

-1874

-1642

-1385

-1095

-771

Pakaian

-4595

-4769

-4961

-5178

-5422

Lainnya

-1531

-1590

-1654

-1726

-1808

&  Sumber : Diolah