Last Updated:
Kondisi Mikro,Makro, Prospek dan Resiko Usaha Ayam Ras Petelur
Kondisi Mikro,Makro, Prospek dan Resiko Usaha Ayam Ras Petelur https://www.pustakadunia.com

Kondisi Mikro,Makro, Prospek dan Resiko Usaha Ayam Ras Petelur

Kondisi Mikro,Makro, Prospek dan Resiko Usaha Ayam Ras Petelur. Hal penting yang harus di perhatikan dalam usaha Ayam Ras Petelur berupa kondisi mikro dan makro yang mempengaruhi usaha serta prospek dan resiko dalam usaha tersebut.

Untuk menganalisa Prospek dan Resiko menggunakan analisis SWOT.

Analisis Strategi (Analisis SWOT) Usaha Ayam Ras Petelur

Analisis strategis dilakukan untuk mengetahui strategi yang akan dipakai oleh praktisi usaha peternakan ayam ras petelur ini.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengidentifikasi kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunities) dan ancaman (threat) yang dapat terjadi dalam usaha peternakan ayam ras petelur tersebut. 

Kekuatan (Strength) Usaha Ayam Ras Petelur

Dua lingkungan yang dihadapi oleh perusahaan mencakup lingkungan internal dan lingkungan eksternal.

Lingkungan internal terdiri atas faktor kekuatan dan kelemahan. Beberapa faktor yang menjadi kekuatan pengembangan usaha ternak ayam ras petelur, sebagai berikut.

  1. Sistem agribisnis peternakan yang sudah mantap, artinya usaha peternakan tidak hanya berada pada tingkat budidaya, tetapi juga adanya usaha hulu sebagai penyedia sarana produksi. Dengan demikian telah terdapat dukungan sarana produksi yang tersedia setiap saat, sehingga tidak ada masalah mengenai penyediaan sarana produksi untuk usaha peternakan ayam ras.
  2. Teknologi budidaya ayam ras yang mudah dikuasai oleh masyarakat.
  3. Sistem pemasaran tidak menjadi permasalahan, karena telah terbentuk jalur-jalur distribusi sampai ke berbagai lapisan dan pelosok wilayah.
  4. Adanya dukungan sumberdaya lahan yang luas dan jumlah tenaga kerja tersedia merupakan kekuatan pegembangan ayam ras petelur secara nasional. 

Kelemahan (Weakness) Usaha Ayam Ras Petelur

Beberapa faktor yang menjadi kelemahan dalam usahaternak ayam ras petelur adalah sebagai berikut.

  1. Usaha peternakan ayam ras petelur seringkali dihadapkan pada harga input produksi tinggi, sedangkan harga output produksi yang rendah. Kondisi marjin yang semakin rendah (rasio harga 1 kg telur dengan 1 kg pakan sama dengan 2,5-3 : 1, dibandingkan dengan tahun 80-an dapat mencapai 4-5 : 1), oleh karena rasio harga telur dengan harga pakan yang semakin tinggi.
  2. Adanya risiko dan kondisi ketidakpastian yang relatif tinggi baik dari aspek teknis maupun finansial karena produksi sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan sementara keuntungan sangat sensitif terhadap perubahan harga.
  3. Adanya permintaan konsumen yang fluktuatif dari hari ke hari karena telur termasuk bahan makanan yang subtitutif.
  4. Sifat telur yang merupakan produk yang sifatnya perishable (mudah rusak), sehingga harus dapat dijual atau dikonsumsi segera.
  5. Pada umumnya kualitas produk belum mencapai standar internasional, sehingga kemampuan untuk ekspor sangat lemah. 

Peluang (Opportunities) Usaha Ayam Ras Petelur

Lingkungan eksternal yang dihadapi perusahaan berupa peluang dan ancaman.  Faktor peluang  ini meliputi sebagai berikut.

  1. Dukungan pemerintah terhadap usaha peternakan ayam ras yang mempunyai andil besar dalam pemenuhan protein hewani masyarakat dan usaha peternakan dipandang sebagai usaha potensial bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Dukungan pemerintah ini diwujudkan dalam bentuk deregulasi peternakan.
  2. Kondisi ekonomi makro Indonesia yang mulai membaik. Dengan adanya pergantian kabinet yang fokus pada perbaikan ekonomi memberikan harapan bagi kepastian usaha dan investasi di dalam negeri.
  3. Terdapat kecenderungan selera masyarakat yang semakin menyukai telur ayam ras dari lapisan perkotaan hingga masyarakat pedesaan.
  4. Meskipun permintaan masyarakat terhadap telur ayam ras fluktuatif, tetapi pada saat-saat tertentu permintaan masyarakat terhadap telur ayam ras sangat tinggi, misalnya untuk keperluan hajatan, hari-hari besar dan sebagainya.
  5. Terdapat kecenderungan permintaan telur ayam ras akan selalu ada setiap saat, karena potensi pasar telur ayam ras cukup besar dalam peranannya sebagai bahan baku pembuatan makanan ringan (roti, kue, martabak, dan lain-lain). Potensi pasar ayam ras semakin tinggi, karena sebagai bahan baku untuk usaha makanan ringan.
  6. Peluang ekspor telur ayam ras kemungkinan akan dapat meningkat, karena beberapa negara mengalami stagnasi khususnya Amerika Serikat yang sedang mengalami krisis intern. 

Ancaman (Threat) Usaha Ayam Ras Petelur

Beberapa faktor ancaman yang perlu diantisipasi dalam usahaternak ayam ras petelur adalah, sebagai berikut.

  1. Persaingan negara tetangga khususnya Thailand atau Malaysia yang dapat berproduksi dengan biaya lebih murah dengan perkembangan teknologi yang lebih efisien, karena adanya dukungan pemerintah secara aktif.
  2. Kondisi keamaman dalam negeri yang masih rawan menyebabkan ancaman penjarahan dari kelompok masyarakat tertentu masih tinggi.
  3. Teknologi yang belum sepenuhnya dapat menciptakan produk bebas residu antibiotik dapat menghambat pemasaran di pasar global, karena dalam WTO diterapkan persyaratan yang ketat dalam hal kesehatan terhadap konsumen.
  4. Ancaman perdagangan bebas yang tidak diberlakukannya lagi hambatan tarif untuk bea masuk produk luar negeri dan semakin berkurangnya peranan pemerintah dalam intervensi perdagangan. Hal ini perlu diwaspadai dengan membanjirnya produk-produk luar negeri yang cenderung over supply, sehingga akan mengganggu kestabilan harga di dalam negeri. 

Strategi Bisnis Usaha Ayam Ras Petelur

Langkah selanjutnya untuk merumuskan strategi adalah mengkombinasikan analisis faktor internal dan eksternal dalam analisis SWOT.

Analisis SWOT merupakan kombinasi strategi yang dapat dipilih oleh perusahaan dalam menjalankan usahanya, sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

Usaha peternakan ayam ras petelur akan berhasil apabila dilakukan dengan strategi-strategi berikut ini.

  1. Marjin yang tipis dan sifatnya sangat sensitif terhadap perubahan harga harus diimbangi dengan sistem produksi yang sangat efisien. Dukungan pemerintah diperlukan dalam membuat kebijakan yang memihak usaha ayam khususnya yang ditangani masyarakat kecil, misalnya dalam hal pembebasan PPN dan pajak baik dalam hal input produksi (pakan, bibit, obat-obatan dan peralatan) maupun hasil produksi.
  2. Sifat permintaan ayam ras masih cenderung berfluktuasi sehingga perencanaan usaha dengan pertimbangan faktor waktu.
  3. Karakteristik produk ayam ras petelur bersifat perishable (mudah rusak) sehingga diperlukan perencanaan usaha yang sangat cermat dan teliti dan dukungan teknologi penyimpanan.
  4. Bagi pengusaha mandiri harus dapat menjalin kerjasama dengan perusahaan besar yang biasanya menguasai sarana produksi yang berwawasan lingkungan.
  5. Pengembangan peternakan skala besar perlu dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat untuk menghindari masalah sosial yang mungkin terjadi di masyarakat.
  6. Membangun sistem agribisnis peternakan yang secara terintegrasi dari hulu sampai hilir dan membangun jaringan distribusi yang mantap serta meningkatkan kualitas produk untuk menghadapi ancaman perdagangan bebas. 

Analisis Daya Saing Usaha Ayam Ras Petelur

Daya saing usaha ayam ras petelur Indonesia diramalkan melalui delapan parameter, yakni impor Indonesia, ekspor Indonesia, produksi ayam ras Indonesia, konsumsi telur ayam ras di Indonesia, harga domestik, konsumsi dunia (negara ASEAN), pangsa pasar Indonesia dan kelayakan usaha.

Skoring ditetapkan berdasarkan hasil analisis trend, proyeksi dan pergerakan masing-masing parameter.

Penentuan Daya Saing Usaha Ayam Ras Petelur

Parameter

Trend

Proyeksi

Pergerakan

Nilai

1. Impor Indonesia

-

-

-

0

2. Ekspor Indonesia

+

+

-

2

3. Produksi Indonesia

+

+

+

3

4. Konsumsi dalam negeri

+

+

+

3

5. Harga domestik

+

+

-

2

6. Konsumsi dunia (ASEAN)

+

+

+

3

7. Pangsa Indonesia

+

+

+

3

8. Kelayakan usaha

+

+

-

2

Total Nilai

  

18 (75%)

Keterangan    :      Daya saing tinggi                 : Total Nilai > 75%

                                Daya saing sedang              : Total Nilai 50 – 75%

                                Daya saing rendah              : Total Nilai < 50%

Grafik Perkembangan Impor Telur Indonesia
Grafik Perkembangan Impor Telur Indonesia