Last Updated:
Hevea brasiliensis Muell. Arg Tanaman Karet
Hevea brasiliensis Muell. Arg Tanaman Karet https://www.pustakadunia.com

Karet Bahasan Lengkap, Prospek, Teknik dan Pemasaran

Karet Bahasan Lengkap, Prospek, Teknik dan Pemasaran. Komoditi perkebunan mempunyai peranan yang penting dalam program pembangunan ekonomi Indonesia.

Peranan ini semakin terasa dengan menurunnya sumbangan minyak dan gas (migas) terhadap devisa negara.

Karet Prospek, Teknik dan Pemasaran

Karet alam merupakan salah satu komoditi perkebunan yang penting bukan hanya dari segi ekonomi tetapi juga dari segi sosial, karena disamping sebagai sumber devisa negara tetapi juga sebagai sumber penghasilan bagi keluarga petani.

Karet alam berasal dari tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) yang diusahakan oleh perkebunan besar (negara dan swasta) dan perkebunan rakyat. 

Perusahaan perkebunan khususnya perkebunan negara dan swasta selalu dihadapkan pada kenaikan biaya produksi. 

Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan harga barang modal dan upah karyawan. 

Kecenderungan kenaikan biaya produksi ini memerlukan upaya peningkatan efisiensi penggunaan dana, baik dari jalur produksi maupun jalur pengolahan hasil panen dan pasca panen.

Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk menjadi produsen utama karet alam dunia.

Selain iklim dan lingkungan yang memenuhi syarat bagi pertumbuhan dan perkembangan, Indonesia juga mempunyai tenaga kerja yang relatif banyak. 

Areal yang luas dan tenaga kerja yang banyak tidak memberikan hasil yang optimum apabila tidak ditunjang dengan kemauan dan kemampuan penerapan teknologi. 

Karet sebagai bahan baku industri memerlukan sistem jaminan mutu yang baik, biasanya penentuan mutu dilakukan berdasarkan uji produk akhir.

Sistem ini mempunyai banyak kelemahan diantaranya adalah belum dapat menjamin hasil yang bebas kontaminasi dan konsisten. 

Memanfaatkan potensi dan mengatasi masalah dalam pengusahaan karet di Indonesia serta mengintip adanya kecenderungan meningkatnya konsumsi karet alam dunia di masa-masa mendatang dan adanya gejala membaiknya harga karet, merupakan peluang dan tantangan Indonesia dalam meningkatkan produksi karet alamnya. 

Menghadapi persaingan antar negara produsen, produk ekspor karet harus ditingkatkan mutunya disesuaikan dengan permintaan konsumen. 

Persaingan pasar global tidak terbatas pada produk yang dihasilkan, tetapi terkait aspek proses, sumber daya manusia dan lingkungan.

Prospek perkaretan Indonesia di masa mendatang cukup cerah dimana terdapat pertanaman karet yang luas, masih tersedianya lahan untuk pertanaman baru serta adanya kecenderungan terus meningkatnya permintaan dan harga karet di pasar dunia. 

Untuk memanfaatkan kemungkinan peluang pasar yang tersedia dilakukan upaya antara lain : peningkatan produksi lahan dengan teknologi intercropping, peningkatan mutu dengan sistem pengolahan yang lebih baik dan pengembangan produk baru guna membuka peluang pasar yang lebih luas.

Untuk perencanaan pembinaan pengembangan sampai dengan tahun 2010 akan dilakukan kegiatan sebagai berikut.

  1. peningkatan mutu tanaman (intensifikasi/rehabilitasi) seluas 800.000 ha,
  2. peremajaan tanaman tua/rusak seluas 400.000 ha dan
  3. perluasan dan pengembangan tanaman baru seluas 200.000 ha.

Dalam memberikan kontribusi untuk kemajuan pertanaman karet dan industri karet, Bank Rakyat Indonesia memerlukan informasi mengenai peluang dan investasi secara umum dan fakta yang terjadi dalam agribisnis karet. 

Profil dasar usaha karet akan memberikan informasi peubah biaya secara lengkap sehingga mempermudah dalam menentukan kelayakan usaha karet.

Karakteristik Tanaman 

Tanaman karet adalah tanaman tahunan yang dapat tumbuh sampai umur 30 tahun.  

Habitus tanaman ini merupakan pohon dengan tinggi tanaman dapat mencapai 15 – 20 meter.  

Modal utama dalam pengusahaan tanaman ini adalah batang setinggi 2,5 sampai 3 meter dimana terdapat pembuluh latek.  

Oleh karena itu fokus pengelolaan tanaman karet ini adalah bagaimana mengelola batang tanaman ini seefisien mungkin.

Deskripsi untuk pengenalan tumbuhan karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) dapat dilihat pada Gambar tanaman karet

Deskripsi Pohon Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.)

Tanaman karet memiliki sifat gugur daun sebagai respon tanaman terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (kekurangan air/kemarau).  

Pada saat ini sebaiknya penggunaan stimulan dihindarkan.  Daun ini akan tumbuh kembali pada awal musim hujan. 

Tanaman karet juga memiliki sistem perakaran yang ekstensif/menyebar cukup luas sehingga tanaman karet dapat tumbuh pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan.  

Akar ini juga digunakan untuk menyeleksi klon-klon yang dapat digunakan sebagai batang bawah pada perbanyakan tanaman karet.

Tanaman karet memiliki masa belum menghasilkan selama lima tahun (masa TBM 5 tahun) dan sudah mulai dapat disadap pada awal tahun ke enam.  

Secara ekonomis tanaman karet dapat disadap selama 15 sampai 20 tahun.

Bahan Tanam Karet 

Klon adalah “keturunan” yang diperoleh dengan cara perbanyakan vegetatif suatu tanaman sehingga sifat dari tanaman tersebut sama dengan  tanaman induknya.

Ciri-ciri suatu tanaman (klon) kadang-kadang berubah.

Perubahan ini disebabkan oleh pengaruh keadaan lingkungan tempat tanaman itu tumbuh, seperti jenis tanah, kesuburan tanah, tinggi tempat, iklim, kekurangan unsur hara tertentu, lindungan dan lain sebagainya.

Pengenalan klon-klon karet dengan mengetahui ciri-cirinya sangat penting dalam  menentukan mutu tanaman karet yang unggul untuk dibudidayakan. 

Seperti telah disebutkan diatas bahwa untuk mendapatkan pertanaman karet yang seragam diperlukan bahan tanam okulasi yang baik.  

Bibit yang baik diperoleh dari semaian batang bawah yang dianjurkan dan menggunakan mata okulasi dari kebun entres yang baik dan murni.  

Pemurnian kebun entres dilakukan dengan melihat ciri-ciri yang dimiliki oleh masing-masing klon oleh tenaga yang terlatih dan terampil. 

Pengamatan dilakukan secara visual dengan memperhatikan ciri-ciri yang khas pada masing-masing klon.  

Dengan teknik ini diperlukan kemampuan pengenalan ciri yang khas melalui latihan yang intensif.  Ciri-ciri morfologi yang diamati dapat di lihat pada Tabel. 

Ciri-Ciri Morfologi untuk Membedakan Klon Karet 

No.

Bagian Tanaman Karet

Ciri-ciri Morfologi

1.

Batang                       (umur 10 – 18 bulan)

Ciri-ciri yang diamati adalah: keadaan pertumbuhan, ketegakan batang, dan bentuk batang.

2.

Kulit Batang (telah berwarna coklat)

Ciri-ciri yang diamati adalah : corak kulit gabus, warna kulit gabus dan lenti sel.

3.

Mata (bakal tunas)

 

Ciri-ciri yang diamati adalah : letak mata, dan bekas pangkal tangkai daun.

4.

Payung (kelompok daun) termuda

Ciri-ciri yang diamati adalah : bentuk payung, ukuran payung, kerapatan payung, dan jarak antar payung.

5.

Tangkai Daun (payung ke dua dari atas)

Ciri-ciri yang diamati adalah : posisi dan bentuk tangkai daun, ukuran besar, ukuran panjang, dan bentuk kaki.

6.

Anak Tangkai Daun (pada payung yang telah tumbuh sempurna)

Ciri-ciri yang diamati adalah : posisi, bentuk, ukuran besar, ukuran panjang, dan sudut anak tangkai daun.

7.

Helai Daun

Ciri-ciri yang diamati adalah : warna daun, kilauan, bentuk, tepi helai daun, penampang memanjang, penampang melintang, letak helai daun dan posisi daun tengah, kedudukan simetri helaian daun pinggir, ukuran daun, dan ekor daun.

8.

Ciri-ciri Khusus

 

Pada dasarnya klon-klon karet tertentu kadang-kadang mempunyai ciri khusus, misalnya helaian daun tengah terpuntir. 

Klon Unggul Tanaman Karet 

Klon karet yang dianjurkan dapat berupa hasil seleksi klon-klon introduksi atau hasil persilangan sendiri.  

Kegiatan seleksi klon-klon karet merupakan satu rangkaian dalam kegiatan pemuliaan yang senantiasa berkembang, baik metode maupun materi yang diuji.  

Klon-klon anjuran tersebut dievaluasi setiap 2 tahun melalui lokakarya pemuliaan tanaman karet, yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Karet. 

Klon unggul untuk tanaman karet terus dikembangkan oleh pusat penelitian karet.  

Klon ini dikelompokan ke dalam klon skala besar, klon skala kecil dan klon skala percobaan.  

Pada umumnya klon yang dianjurkan adalah klon yang termasuk skala besar. 

Pada tahun 1999/2000 Pusat Penelitian Karet mengeluarkan klon anjuran yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas lahan.  

Beberapa klon-klon tersebut adalah.

  • Klon Penghasil Latek :  BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 217, PB 260, PR 261, PR 255, PR 300, RRIM 600.
  • Klon Penghasil Latek-Kayu :  AVROS 2037, BPM 1, PB 330, RRIC 100, TM 2 dan TMN 6.
  • Klon Penghasil Kayu  :  IRR 2, IRR 5, IRR 7. 

Pengadaan Bahan Tanam Karet 

Bahan tanam yang digunakan pada pengusahaan tanaman karet ada beberapa jenis, yaitu: stump mata tidur, bibit dalam polybag, stump mini dan stump tinggi.  

Dari segi kepraktisan, stump mata tidur lebih mudah ditangani sehingga biaya lebih murah.  

Kelemahannya adalah tingkat kematian di lapang cukup tinggi sehingga diperlukan jumlah yang cukup banyak.

Bibit dalam polybag sangat menjamin tingkat keberhasilan penanaman di lapang serta kemurnian klon lebih terjamin, tetapi biayanya cukup mahal. 

Pengadaan bahan tanaman dilakukan dengan dua tahap yaitu : pesemaian dan dilanjutkan dengan pembibitan.  

Di lokasi pembibitan dilaksanakan okulasi dan jika okulasi berhasil maka akan dihasilkan stump mata tidur atau bibit dalam polybag atau stump mini.

Persyaratan Tumbuh Tanaman Karet

Kesesuaian Iklim 

Secara garis besar tanaman karet dapat tumbuh baik pada kondisi iklim sebagai berikut : suhu rata-rata harian 28° C (dengan kisaran 25-35C) dan curah hujan tahunan rata-rata antara 2.500 – 4.000 mm dengan hari hujan mencapai 150 hari per tahun.

Pada daerah yang sering turun hujan pada pagi hari akan mepengaruhi kegiatan penyadapan.  

Daerah yang sering mengalami hujan pada pagi hari produksinya akan kurang.

Keadaan daerah di Indonesia yang cocok untuk pertanaman karet adalah daerah-daerah Indonesia bagian barat, yaitu Sumatera, Jawa dan Kalimantan, sebab iklimnya lebih basah.

Tanaman karet tumbuh dengan baik di daerah tropis.

Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 15° LS dan 15° LU.

Bila ditanam di luar zone tersebut, pertumbuhannya agak lambat, sehingga memulai produksinya pun lebih lambat.

Tanaman karet tumbuh optimal di dataran rendah, yakni pada ketinggian sampai 200 meter di atas permukaan laut.

Makin tinggi letak tempat, pertumbuhannya makin lambat dan hasilnya lebih rendah. Ketinggian lebih dari 600 meter dari permukaan laut tidak cocok lagi untuk tanaman karet. 

Angin juga dapat mempengaruhi pertumbuhan pertanaman karet, angin yang kencang dapat mematahkan tajuk tanaman.

Di daerah berangin kencang dianjurkan untuk ditanamai penahan angin di sekeliling kebun.  

Selain itu angin menyebabkan kelembaban udara di sekitar tanaman menipis.

Dengan keadaan demikian akan memperlemah turgor tanaman.

Tekanan turgor yang lemah berpengaruh terhadap keluarnya lateks pada waktu sadap, walaupun tidak berpengaruh nyata, tetapi angin akan berpengaruh terhadap jumlah produksi yang diperoleh.

Kesesuaian Lahan Tanaman Karet 

Tanaman karet akan tumbuh baik pada kondisi lahan sebagai berikut :  tidak ada lapisan hardpan (kalaupun ada lebih dari 2 m dari permukaan tanah), kandungan liat < 20% , pH tanah 5,0 – 6,5, kedalaman efektif > 100 cm dan kemiringan lahan 0 – 8 persen. 

Pola Produksi Tanaman Karet

Keragaman menurut Kesesuaian Lahan 

Keragaman pola produksi akibat perbedaan kesesuaian lahan akan terlihat dari tingkat produktivitas yang berbeda.  

Pada tanaman karet (tergantung jenis klon yang digunakan) yang ditanam pada lahan sangat sesuai (S1) akan mampu menghasilkan produktivitas sebesar 3.000 kg/ha/tahun, pada lahan sesuai (S2) akan dihasilkan 2.500 kg/ha/tahun dan 2.000 kg/ha/tahun untuk lahan (S3). 

Keragaman menurut Umur Tanaman 

Pola produksi tanaman karet menurut umur tanaman secara umum adalah sebagai berikut :

  • tahap I, produksi terus meningkat yang terjadi pada tahun sadap 1 sampai dengan tahun sadap ke 10,  
  • tahap II, produksi stabil yang terjadi pada tahun sadap ke-11 sampai ke-15 dan
  • tahap III, produksi berkurang yang terjadi pada tahun sadap ke-16 dan seterusnya.  

Pada saat ini klon-klon yang dihasilkan mampu mencapai tingkat produktivitas 2.500 kg karet kering/ha/tahun.  

Tingkat produktivitas berdasarkan umur tanaman pada berbagai kondisi kesesuaian lahan tercantum pada            

Tingkat Produktivitas Tanaman Karet Berdasarkan Umur Tanaman 

Tahun Sadap

ke

Umur Tanaman (tahun)

Kelas Kesesuaian Lahan

S1

S2

S3

 

 

(kg/ha/tahun)

1

6

750

500

350

2

7

1.300

1.150

700

3

8

1.450

1.400

1.000

4

9

1.750

1.600

1.300

5

10

1.900

1.750

1.450

6

11

2.000

1.850

1.600

7

12

2.300

2.200

1.800

8

13

2.500

2.300

1.850

9

14

2.750

2.350

1.900

10

15

2.700

2.300

1.900

11

16

2.550

2.150

1.900

12

17

2.450

2.100

1.800

13

18

2.350

2.000

1.600

14

19

2.200

1.900

1.500

15

20

2.000

1.800

1.400

16

21

1.950

1.650

1.350

17

22

1.800

1.550

1.250

18

23

1.750

1.450

1.150

19

24

1.650

1.400

1.000

20

25

1.650

1.400

1.000

Teknik Budidaya Tanaman Karet

Persiapan 

Survei dan desain blok. Survei awal ini bertujuan untuk mengetahui kondisi awal lokasi kebun yang akan dibangun.

Kondisi awal ini akan mempengaruhi kegiatan, manajemen dan biaya persiapan lainnya.  

Data yang dikumpulkan pada survei ini adalah, vegetasi awal, topografi lahan dan luas areal. 

Sebuah kebun terdiri atas beberapa afdeling dan setiap afdeling terdiri atas beberapa blok kebun.  

Berdasarkan data topografi yang diperoleh dapat ditentukan lokasi-lokasi peruntukan kantor, emplasemen, pabrik dan kebun.  

Sebagai gambaran ukuran blok yang digunakan adalah 16 ha (400 m x 400 m) atau 25 ha (500 m x  500 m) dan setiap afdeling terdiri atas 10 sampai 20 blok.  

Total luas lahan yang digunakan untuk tanaman dan emplasemen  ini sangat tergantung dari kondisi lahan yang ada.  

Biasanya luasan ini bervariasi antara  80 sampai 85 persen. 

Persiapan dan pembukaan lahan.  

Tata cara pembukaan lahan yang akan dilakukan sangat dipengaruhi oleh kondisi vegetasi awal (hutan primer, hutan sekunder, semak belukar/padang alang-alang atau kebun karet tua).  

Secara garis besar kegiatan yang tercakup dalam pembukaan lahan adalah: penebangan pohon kecil (diameter < 20 cm), penebangan pohon besar, peracunan tunggul, perumpukan kayu ke pinggir jalan, pemotongan dan pengangkutan kayu tumbang dari areal penebangan, pembersihan jalur tanam, pemancangan titik tanam, pembuatan teras (jika perlu), penanaman penutup tanah dan pembuatan lubang tanam. 

Pada lahan yang vegetasi awalnya berupa semak belukar/padang alang-alang, tahap kegiatannya akan lebih mudah.  

Pada lahan berupa semak dapat langsung ditebas dan dibersihkan dan lahan siap untuk dibuatkan lubang tanamnya.  

Pada lahan padang alang-alang penggunaan herbisida (dengan dosis 6 l/ha) akan lebih efektif untuk pembukaan lahan. 

Konservasi tanah dan air

Konservasi tanah dan air pada daerah yang baru dibuka merupakan kegiatan yang sangat penting agar tanaman dapat tumbuh dengan optimal.  

Kegiatan ini sangat tergantung dari tingkat kemiringan lahan yang dibuka.  

Pada lahan-lahan yang datar (kemiringan lahan 0 – 3%), konservasi tanah dapat dilakukan dengan membuat guludan-guludan pada daerah-daerah yang agak miring. 

Pada tingkat kemiringan yang lebih besar, konservasi tanah dan air dapat dilakukan dengan membuat rorak (saluran buntu) atau dengan pembuatan teras.  

Saluran air juga perlu dibuat untuk menghindari terjadinya limpasan air yang terjadi akibat terbukanya lahan.

Selain secara fisik konservasi tanah dan air dapat dilakukan dengan cara biologi yaitu dengan penggunaan tanaman penutup tanah. 

Penanaman tanaman penutup tanah.

Tanaman penutup tanah (legum cover crops/LCC) berfungsi untuk melindungi tanah yang terbuka terhadap erosi terutama yang disebabkan oleh air hujan, sebagai sumber bahan organik dan meningkatkan kandungan nitrogen tanah.  

Jenis legum yang digunakan adalah Pueraria javanicaCentrocema pubecens dan Calopogonium mucunoides dengan dosis 12 kg sampai 15 kg per hektar.

Dianjurkan pula untuk menyisipkan  Calopogonium caerulem yang tahan naungan (shade resistence) yang berasal dari biji atau stek dalam polybag kecil sebanyak 1.000 bibit/ha. 

Penanaman kacangan ini dilakukan sebelum penanaman bibit karet dilakukan dengan tujuan.

  • Menghindari kemungkinan erosi.
  • Memperbaiki struktur fisik dan kimia tanah (pelapukan bahan organik dan fiksasi nitrogen dari udara).
  • Mengurangi penguapan air, dan sebagai reservoir air bagi tanaman karet.
  • Membatasi pertumbuhan gulma. 

LCC ditanam dengan cara menebarkan benih yang telah dicampur dengan pupuk Rock Phospate (RP) dengan dosis 50 kg/ha yang ditebar merata di dalam alur di gawangan karet.  

Untuk meningkatkan daya tumbuh LCC selama 3 bulan pertama pemeliharaan (pengendalian gulma dan pemupukan) harus intensif dilakukan. 

Pembangunan infrastruktur (jalan, jembatan)  

Pembangunan infrastruktur jalan sebaiknya dilakukan sejak awal agar proses pembangunan kebun dapat berjalan dengan baik. 

Pada kebun karet ada beberapa kelas jalan yaitu : jalan utama, jalan transpor, jalan produksi dan jalan blok. 

Jalan utama menghubungkan kantor pusat kebun ke afdeling atau ke jalan raya dibuat dengan lebar 6 m, jalan transpor menghubungkan lokasi afdeling ke jalan utama dibuat dengan lebar 4 m, jalan produksi adalah jalan yang menghubungkan antar blok dibuat dengan lebar 3 m.

Total luas jalan ini diperkirakan mencapai 15% dari total lahan. 

Pembangunan Kebun Karet 

Pembibitan tanaman karet dilakukan dua tahap yaitu, persemaian benih dan pembibitan.  

Pesremaian bertujuan untuk menyeleksi kecambah yang tumbuh.  Benih ditanam dalam bedengan selama maksimum 21 hari.  

Benih-benih yang tumbuh segera dipindahkan ke pembibitan.  

Benih-benih yang baru tumbuh setelah 21 hari dianggap afkir. 

Kecambah ditanam di pembibitan dengan jarak tanam 40 cm x 40 cm x 60 cm.  

Pemeliharaan di pembibitan dilaksanakan selama  12 sampai 18 bulan (untuk siap diokulasi coklat) dimana  pada saat itu diameter batang telah mencapai 2 sampai 3 cm dan berwarna coklat. 

Untuk mendapatkan bibit karet yang baik harus melalui okulasi.  

Oleh karena itu perlu batang atas (entres) yang berasal dari kebun entres.  

Kebun entres adalah kebun yang dibangun untuk memproduksi batang atas.  

Bahan tanam yang digunakan adalah stump mata tidur dan ditanam dengan jarak tanam 1 m x 1 m.  

Biasanya kebun entres ini baru dapat dipanen pada umur 1,5 tahun setelah tanam.

Batang entres ini dapat dipersiapkan sendiri atau membeli di pusat penelitian karet. Peta dasar kebun entres untuk lima klon pohon karet dapat dilihat pada gambar

Peta Dasar Kebun Entres untuk 5 Klon Pohon Karet

Peta Dasar Kebun Entres untuk 5 Klon Pohon Karet 

Persiapan tanam dan penanaman  

Sebelum penanaman di lapang, lahan perlu diajir untuk menentukan titik-titik penanaman.  

Tanaman karet ditanam dengan populasi 500 tanaman per hektar (jarak tanam yang digunakan dapat   8 m x 2,5 m atau 7 m x 3,3 m) dengan arah barisan utara-selatan.

Lubang tanam dibuat 2 minggu sebelum tanam dengan ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm. 

Penanam dilakukan pada saat awal musim hujan, sehingga bibit yang ditanam di lapang akan memperoleh air yang cukup untuk pertumbuhannya.  

Lubang yang telah dibuat diisi kembali dengan tanah sedalam setengah dalam lubang tanam kemudian bibit diletakan ditengah lubang tanam dan setangah bagian lagi tanah dimasukan dan dipadatkan.  

Bibit tertanam baik jika bibit tidak mudah bergoyang. Kebun benih batang bawah yang terletak di Sumatera.

Sebagai contoh atau alternatif pengelolaan suatu perkebunan karet dengan tanaman pelindung dapat dilihat pada Gambar.

perkebunan karet dengan tanaman pelindung

Keterangan: 

¯  = Tanaman karet

v  = Tanaman pelindung tetap non-produktif (misal. Lamtoro gung)

T  = Tanaman pelindung tetap produktif (misal. kelapa)                 

        = Tanaman penutup tanah (LCC )                                           

        = Tanaman pelindung sementara produktif (mis. Jagung) 

Pengelolaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 

Pengendalian gulma.

Pengendalian gulma pada tanaman belum menghasilkan dipusatkan di sekitar barisan tanaman.  

Pada tahap awal, daerah di sekitar pangkal batang dibebaskan dari gulma.  

Dengan bertambahnya umur tanaman pada daerah yang dibebaskan dari gulma adalah daerah 1 meter sebelah kiri dan kanan barisan tanaman.  

Dengan cara demikian maka kegiatan pemeliharaan selanjutnya dan penyadapan dapat dilakukan dengan mudah.

Pada masa TBM, pengendalian gulma lebih banyak menggunakan cara manual yaitu dengan mencabut/membersihkan gulma secara langsung dengan tangan/kored.

Pada saat yang bersamaan juga dilakukan pengaturan tanaman penutup tanah yang melilit batang karet.  

Cara pengendalian dengan menggunakan herbisida hanya dilakukan secukupnya saja.  

Pemupukan.  

Pemupukan pada TBM berfungsi untuk mempercepat tanaman mencapai matang sadap.  

Pada umumnya unsur yang diberikan adalah N, P, K dan Mg dengan dosis sesuai anjuran daerah setempat.  

Pupuk ini diberikan dua kali dalam setahun yaitu pada awal dan akhir musim hujan.  Jika dirasa perlu, penggunaan pupuk daun juga dapat dilaksanakan.

Dosis pupuk bagi TB, TBM, maupun TM disajikan pada Tabel di bawah ini. 

 Kebutuhan Pupuk Tanaman Karet 

Umur

Tanaman

Kebutuhan Pokok

Urea

SP-36

KCl

Urea

SP-36

KCl

…… (gram/pohon)…….

…… (gram/pohon)………

TB

50

100

-

25

50

-

TBM 1

236

100

100

118

50

50

TBM 2

333

267

150

160

123

75

TBM 3

381

267

200

175

128

92

TBM 4

429

333

200

188

147

88

TBM 5

476

333

200

200

140

84

TM 1 - 25

524

333

350

265

170

175

Irigasi dan pemberian mulsa.  

Pemberian irigasi pada tanaman belum menghasilkan jarang sekali dilakukan. 

Untuk mengurangi tingkat evapotranspirasi di sekitar pertanaman, maka pada daerah perakaran tanaman diberikan mulsa jerami.

Dari beberapa penelitian perlakuan ini akan mengurangi evapotranspirasi, menurunkan suhu tanah dan meningkatkan ketersediaan air dalam tanah.

Pemberian mulsa ini dapat dilakukan sejak awal tanaman ditanam di lapang sampai tajuk tanaman sudah saling menutup. 

Pembentukan bidang sadap. 

Pembentukan bidang sadap dilakukan dengan dua cara di bawah ini.

  • Untuk klon yang cenderung membentuk cabang digunakan cara pembuangan tunas. Semua tunas yang tumbuh di bawah ketinggian 2,5 m dipotong/dibuang sehingga batang tanaman akan tumbuh dengan baik (tinggi dan lurus).
  • Untuk klon yang sulit membentuk cabang/tunas maka dilakukan pemenggalan (topping) pada ketinggian 2,5 m atau penguncupan (pengikatan daun-daun dalam satu payung) pada ketinggian 2,5 m.  Dengan cara demikian diharapkan akan tumbuh tunas dan menghasilkan bidang sadap yang baik. 

Pengendalian hama dan penyakit. 

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara rutin dengan memperhatikan tingkat serangan yang terjadi.  

Untuk mengetahui akan terjadinya serangan hama/penyakit sejak awal maka perlu dilakukan pengontrolan tanaman secara rutin (early warning system). 

 Pada cara ini terdapat tim yang bertugas mengidentifikasi tingkat serangan dan tim pengendalian serangan hama/penyakit. 

Pada tanaman belum menghasilkan lebih banyak mengalami serangan penyakit dari pada hama.

Penyakit yang sering menyerang tanaman karet pada umumnya adalah rayap (Coptotermes sp), yang dapat diberantas dengan menggunakan Chlordane 8 EC atau Basudin 6 0 EC dengan konsentrasi 0,3%.  

Sementara itu hama Kuuk (Exopholis hypoleuca) dapat diberantas dengan Basudin 10 G. 

Penyakit tanaman karet lainnya yang seringpula ditemukan pada antara lain.

  1. Cendawan akar merah (Ganoderma pseudoferrum) dapat diberantas dengan collar protectant.
  2. Penyakit daun Gloesporium pada TBM, dapat diberantas penyemprotan larutan KOC, misalnya Cabak dengan konsentrasi 0,1% atau           Daconil 75 wp dengan konsentrasi 0,1 sampai 0,2%.  Sementara itu, jika menyerang TM, dapat diberantas dengan sistem fogging menggunakan Daconil atau fungisida lainnya.
  3. Cendawan akar putih (Rigidonporus lignosus), dapat diberantas dengan Fomac 2 atau Shell Collar Protectant atau Calixin Collar Protectant.
  4. Penyakit jamur upas (Corticum salmonikolor) dapat diberantas dengan Calixin Ready Mix 2%.
  5. Penyakit bidang sadapan Mouldyrot dapat diberantas dengan Benlate konsentrasi 0,1 - 0,2 % atau Difolan 4F konsentrasi 1 - 2 %.
  6. Penyakit bidang sadapan kanker garis (Phytophora palmivora) diberantas dengan Difolatan 4 F konsentrasi 2 - 4 %. 

Sensus dan konsolidasi tanaman. 

Sensus tanaman bertujuan untuk mengetahui jumlah dan kondisi tanaman yang ada di lapang.  

Dengan demikian dapat diketahui berapa jumlah tanaman yang harus disulam (konsolidasi tanaman).  

Kegiatan sensus tanaman akan terus dilakukan sampai tanaman menghasilkan, sedangkan penyulaman hanya dilakukan sampai tanaman berumur 4 tahun. 

Pemeliharaan jalan produksi.  

Pemeliharaan jalan secara rutin dilaksanakan dengan selang/rotasi pemeliharaan 6 bulan sekali.  Pada kondisi khusus (curah hujan tinggi) dapat saja perbaikan/peningkatan mutu jalan dilakukan di luar jadwal yang telah ditentukan.

Pemeliharaan jalan ini dapat berupa penimbunan/pemadatan, pemeliharaan saluran  dan perbaikan badan jalan. 

Pengukuran lilit batang.  Pengukuran lilit batang dilakukan untuk melihat perkembangan pertumbuhan tanaman dan terutama untuk menentukan waktu matang sadap.  

Pengukuran ini secara rutin dilakukan 6 bulan sekali pada semua tanaman yang ada di lapangan.  Dengan dilakukannya pengukuran lilit batang ini dapat dipersiapkan jumlah peralatan dan tenaga kerja penyadap yang diperlukan. 

Secara umum setiap tahun lilit batang tanaman karet akan bertambah antara 10 sampai 12 cm.  

Tanaman karet baru dapat disadap jika (1) lilit batangnya pada ketinggian 1 m dari pertautan lebih besar atau sama dengan  45 cm dan (2) 60% dari populasi memenuhi kriteria sebelumnya (kriteria nomor 1).

Pengelolaan Tanaman Menghasilkan (TM) 

Pengendalian gulma.  Pengendalian gulma pada tanaman karet menghasilkan lebih diarahkan pada daerah 1 meter sebelah kiri dan kanan barisan tanaman karet, sedangkan gawangan karet tetap dapat ditumbuhi gulma lunak. 

Pada daerah barisan tanaman karet harus bebas dari gulma.  Untuk itu digunakan pengendalian gulma secara kimia/herbisida.  

Pengendalian gulma dengan herbisida dilakukan 1 bulan sebelum pemberian pupuk agar pada saat pemupukan tanaman dapat menyerap pupuk secara optimal.

Walaupun pada daerah gawangan terdapat gulma lunak tetapi tidak boleh tumbuh gulma berkayu seperti Melastoma malabatrichum

Pemupukan.   Pemupukan pada tanaman karet menghasilkan didasarkan pada analisis tanah dan daun yang dapat dilakukan 1 sampai 2 tahun sekali.  

Oleh karena itu untuk masing-masing daerah dosis pupuk yang diberikan akan sangat bervariasi.

Pupuk diberikan dengan cara disebar di sekitar daerah perakaran tanaman lalu dicampur dengan tanah.  

Pemupukan dilakukan dua kali tahun sekali yaitu pada awal dan akhir musim hujan. 

Pengendalian hama dan penyakit.   Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara rutin dengan memperhatikan tingkat serangan yang terjadi.  

Untuk mengetahui akan terjadinya serangan hama/penyakit sejak awal maka perlu dilakukan pengontrolan tanaman secara rutin (early warning system).  

Pada cara ini terdapat tim yang bertugas mengidentifikasi tingkat serangan dan tim pengendalian serangan hama/penyakit. 

Pada tanaman menghasilkan lebih banyak mengalami serangan penyakit dari pada hama.  Penyakit gugur daun  yang menyerang daun muda (setelah gugur daun) sering dijumpai di lapangan jika kondisi iklim lembab.  

Pada tanaman yang disadap cukup berat juga sering dijumpai penyakit kekeringan alur sadap (KAS). 

Pengelolaan tanaman penutup tanah.   Pengelolaan tanaman penutup tanah pada tahap ini tidak seintensif pada tanaman belum menghasilkan.  

Kegiatan lebih diarahkan pada menjaga tanaman penutup tanah agar tidak mengganggu kegiatan pemeliharaan dan penyadapan yaitu dengan cara memangkas tanaman penutup tanah yang menjalar ke tanaman karet. 

Panen dan Pasca Panen Karet

Persiapan Panen 

Pemungutan hasil panen karet disebut penyadapan karet. Biasanya penyadapan dilakukan pada saat pagi hari hingga pukul 07.30.

Hal tersebut dilakukan untuk menghindari terjadinya koagulasi pada lateks. 

Pembuatan tempat penampungan hasil (TPH). TPH dibuat untuk menampung hasil lateks dari kebun sebelum diangkut ke pabrik.  

Satu TPH biasanya digunakan untuk menampung latek dari luasan areal sadap 20 sampai 30 hektar.  

Pada lokasi TPH disediakan bak/tangki penampung yang diletakan di atas, sehingga lateks yang ditampung dapat langsung dimasukkan ke truk pengangkut. 

Pembuatan jalan panen. Pembuatan jalan panen biasanya dibuat pada saat pekerja hendak melakukan penyadapan.

Biasanya jalan panen di perkebunan hanya sederhana dan berupa jalan setapak, sehingga yang dibutuhkan hanyalah parang atau sabit untuk memotong rumput atau gulma yang mengganggu jalan yang akan dibuat. 

Alat-alat panen. Alat-alat panen yang perlu dipersiapkan adalah pisau sadap, mangkok sadap, talang sadap, ember dan pengasah pisau.  

Pisau sadap, ember dan pengasah pisau hanya disediakan untuk masing-masing tenaga penyadap, sedangkan mangkok dan talang sadap harus disediakan untuk setiap tanaman. 

Kebutuhan tenaga panen. Kebutuhan tenaga penyadap diperhitungkan dengan cara menghitung luas lahan yang disadap per hari (tergantung frekuensi sadap yang digunakan).  Pada umumnya luas yang disadap per hari adalah 1/3 dari luas TM.  

Untuk kebutuhan tenaga penyadap dapat dihitung dengan memperhatikan kemampuan seorang penyadap dalam melakukan penyadapan dalam satu hari.  

Untuk lahan datar 1 orang penyadap mampu menyadap seluas 1 hektar. 

Pelaksanaan Panen Karet 

Kriteria matang sadap. Kriteria matang sadap pada tanaman karet ditentukan oleh dua syarat yaitu, (1)  lilit batang (lingkar batang 1 meter di atas pertautan lebih besar dari 45 cm dan (2) 60% dari populasi memenuhi syarat nomor 1.  

Biasanya masa ini akan dicapai setelah tanaman berumur 5 tahun. 

Hanca panen. Hanca panen atau luas yang dipanen per hari sangat tergantung dari rotasi eksploitasi yang digunakan.  

Pada umumnya tanaman karet disadap 3 hari sekali, sehingga luas panen per hari kurang lebih 1/3 dari total luas tanaman menghasilkan (TM).  Untuk lahan yang datar, 1 orang penyadap mampu menyadap seluas 1 hektar. 

Rotasi panen. Lamanya rotasi panen dilakukan tergantung luasan hanca panen. Semakin luas hanca panen, maka rotasi panen semakin lama.

Rotasi panen juga tergantung pada berapa kali dalam seminggu dilakukan penyadapan. 

Aturan teknis panen. Setiap penyadap biasanya sudah berada di kebun pada pukul 05.00 untuk melakukan persiapan-persiapan seperti : pembagian lokasi sadap, pengecekan peralatan dan pengecekan kehadiran tenaga penyadap.

Setiap penyadap akan melakukan penyadapan pada hancanya sendiri (setiap penyadap memiliki lokasi penyadapan masing-masing). 

Penyadapan dilakukan dengan memotong kulit karet (setelah melepas lateks yang membeku pada alur sadap) pada alur sadap yang telah ada serta memasang mangkok dan pemberian anti koagulan (2 tetes) pada mangkok sadap.  

Anti koagulan ini berfungsi untuk mencegah terjadinya pembekuan lateks sebelum sampai di pabrik.

Setelah seluruh hanca sadap di sadap (selesai pada pukul 07.30) maka lateks ditunggu mengalir hingga pukul 11.00 dan selanjutnya lateks dikumpulkan di TPH.

Pada setiap penyadap akan dicatat volume lateks yang terkumpul pada hari itu dan akan digunakan sebagai salah satu penentu besarnya upah yang akan diterima. 

Pengangkutan Hasil Panen Karet 

Setelah lateks hasil sadapan terkumpul seluruhnya, selanjutnya lateks dari tangki penerimaan/pengumpulan yang berada di lokasi tempat pengumpulan hasil di kebun, kemudian diangkut dengan tangki pengangkut ke pabrik.

Tangki pengangkut ada yang ditarik dengan traktor, dan ada pula yang terpasang pada truk-truk tangki.

Dalam pengangkutan lateks ke pabrik harus dijaga agar lateks tidak terlalu tergoncang dan terlalu kepanasan karena dapat  berakibat terjadinya prakoagulasi di dalam tangki. Dalam keadaan tertentu, lateks dalam tangki tersebut perlu diberi obat anti koagulan. 

Sarana angkutan. Sarana angkutan yang digunakan untuk pengangkutan lateks dari kebun ke pabrik adalah truk tangki dengan kapasitas biasanya antara 2.000 sampai 3.000 liter.

Tangki dibuat dari bahan alumunium dan dirancang sedemikian rupa sehingga mudah dipasang dan dilepas dari alat penarik (truk/taktor) dan dengan mudah dibersihkan.

Jumlah truck yang diperlukan tergantung dari tingkat produksi lateks yang dihasilkan per hari.

Sedapat mungkin harus diusahakan semua lateks dapat diangkut ke pabrik pusat agar dapat dilakukan pencampuran lateks dari semua bagian kebun dalam satu atau beberapa  bak pencampur di pabrik, sehingga dapat diharapkan hasil yang seragam.

Jika keadaan tempat memaksa untuk dilakukan koagulasi di kebun, jumlah lateks yang dikoagulasi sedapat mungkin harus dibatasi. 

Prasarana jalan. Prasarana jalan yang digunakan untuk pengangkutan lateks dari kebun harus cukup baik.  

Hal ini untuk menghindari terjadinya goncangan-goncangan selama pengangkutan yang dapat meningkatkan proses prakoagulasi.  

Oleh karena itu TPH biasanya diletakkan/berada di pinggir-pinggir jalan produksi. 

PENGOLAHAN GETAH KARET (LATEKS) 

Pasokan Bahan Baku Karet 

Sistem pasokan bahan baku dilakukan dengan cara melakukan pengumpulan lateks di kebun (TPH) oleh para petani yang kemudian diangkut ke pabrik.

Bahan baku lateks akan tersedia setiap hari karena penyadapan selalu dilakukan setiap hari. 

Sumber Bahan Baku Industri Karet 

Sumber bahan baku industri karet berasal dari perkebunan karet baik Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Negara maupun Perkebunan Swasta.  

Pada perkebunan besar negara maupun swasta, bahan baku yang dihasilkan (lateks) biasanya langsung diolah di pabrik sendiri atau dikirim ke pabrik yang seinduk, sedangkan untuk prosesor yang tidak memiliki kebun harus berusaha untuk mendapatkan bahan baku dari perkebunan karet rakyat, baik melalui pembelian langsung ataupun melalui lelang yang diadakan pada waktu-waktu tertentu. 

Kondisi Bahan Baku (Kuantitas, Kualitas dan Kontinuitas) 

Kondisi bahan baku industri karet baik kuantitas, kualitas maupun kontinuitas pasokan dipengaruhi oleh sumber bahan baku itu sendiri.  

Pada perkebunan besar hal ini tidak begitu menjadi masalah.  

Bahan baku yang berasal dari perkebunan karet rakyat yang biasanya sangat bervariasi kualitasnya. 

Untuk menjaga kualitas dan kontinuitas bahan baku, maka dilakukan pengawasan pada tiap penyadap. Dari hasil penyadapan, dapat ditentukan.  

Bobot atau isi lateks 

Penyadap menuangkan lateks dari ember-ember pengumpul ke dalam ember-ember takaran melalui sebuah saringan kasar dengan ukuran lubang 2 mm, maksudnya untuk menahan lump yang terjadi karena prakoagulasi.

Kadar Karet Kering (KKK) 

Penentuan kadar karet kering (KKK) sangat penting dalam usaha mencegah terjadinya kecurangan para penyadap. 

Lateks sebagai bahan baku berbagai hasil karet, harus memiliki kualitas yang baik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas lateks, sebagai berikut.

  1. Faktor dari kebun (jenis klon, sistem sadap, kebersihan pohon, dan lain-lain).
  2. Iklim (musim hujan mendorong terjadinya prakoagulasi, musim kemarau keadaan lateks tidak stabil).
  3. Alat-alat yang digunakan dalam pengumpulan dan pengangkutan (yang baik terbuat dari aluminium atau baja tahan karat).
  4. Pengangkutan (goncangan, keadaan tangki, jarak, jangka waktu).
  5. Kualitas air dalam pengolahan.
  6. Bahan-bahan kimia yang digunakan.
  7. Komposisi lateks. 

Untuk mengetahui susunan bahan-bahan yang terkandung dalam lateks dapat dilihat pada Tabel.  

Dari bahan-bahan yang terkandung dalam lateks segar masih terdapat fraksi kuning latoid (2-10 ppm), enzim peroksidase dan tyrozinase. Fraksi kuning dianggap normal bila mencapai 0,1-1,0 mg tiap 100 gram lateks kering. 

Kandungan Bahan-Bahan dalam Lateks Segar dan Lateks yang Dikeringkan 

Bahan

Lateks Segar (%)

Lateks yang Dikeringkan (%)

Kandungan karet

35,62

88,28

Resin

1,65

4,10

Protein

2,03

5,04

Abu

0,70

0,84

Zat gula

0,34

0,84

Air

59,62

1,00

      Sumber: Setyamidjaja (1993) 

Cara Memperoleh Bahan Baku Industri Karet (Lateks) 

Pengumpulan lateks dalam kebun 

Untuk dapat mencapai hasil karet yang bermutu tinggi sebanyak mungkin, maka keberhasilan dalam bekerja merupakan syarat paling utama yang harus diperhatikan.

Hal ini pertama-tama berlaku untuk benda-benda yang berada di dalam kebun bersentuhan dengan lateks.

Selain dari kemungkinan terjadinya pengotoran lateks oleh kotoran-kotoran yang kelak sukar dihilangkannya, kotoran-kotoran tersebut dapat pula menyebabkan terjadinya pra koagulasi dan terbentuknya lump.

Pengawasan yang keras atas pekerjaan penyadapan dan pengumpulan lateks perlu dijalankan, karena hanya dengan jalan inilah banyaknya lump dapat dibatasi sampai serendah-rendahnya. 

Banyaknya lump dan scrap selanjutnya bergantung pula dari keadaan pertanaman dan sistem sadap yang dilakukan.

Demikian pula sifat-sifat lateks seperti kadar karetnya, warnanya, kecenderungan kepada pra koagulasi dan lain-lain. 

Membersihkan bidang sadap 

Jika dipandang perlu, sebelum sadap dimulai, bagian kulit pohon yang akan dibersihkan terlebih dahulu.

Jika penyadapan dilakukan tiap dua hari sekali pekerjaan membersihkan ini dapat dilakukan seperlunya saja. 

Spout 

Biasanya spout dipasang dengan sudut 45º pada jarak 10 cm di bawah titik terendah sadap.

Sebelum pohon-pohon disadap, scrap yang melekat pad spout harus disingkirkan terlebih dahulu.

Jika suatu masa sadap berakhir, spout dicabut untuk dibersihkan sebaik-baiknya dan dipasang kembali sebelum masa sadap yang baru dimulai.

Pada penyadapan dua hari sekali, jika dianggap perlu spout dapat dibersihkan pada waktu-waktu tertentu. 

Saluran sadap 

Dengan dipergunakannya gantungan mangkuk maka saluran sadap yang tegak lurus dapat diperpendek, karena spout dapat dipasang tepat di bawah torehan sadap.

Dengan demikian jumlah scrap dapat diperkecil. Saluran sadap ini harus pula dibersihkan secara teratur lebih-lebih pada penyadapan dekat permukaan tanah. 

Mangkuk 

Pemilihan mengenai bahan untuk mangkuk (aluminium, arnit, gelas, tanah yang diglasir atau tidak diglasir, batok kelapa dan sebagainya) pada umumnya ditetapkan oleh: harus mudah dipakai, mudah dibersihkan, cara penggunaannya, lamanya dapat dipergunakan, perbandingan harga dan (terutama untuk waktu sekarang) apakah mudah untuk mendapatkannya. 

Mangkuk yang paling banyak dipergunakan di Indonesia ialah mangkuk-mangkuk yang dibuat dari aluminium. Mangkuk-mangkuk ini tahan lama, ringan, dan mempunyai keuntungan pula bahwa penyadap-penyadap dapat membawanya ke pabrik dimana mangkuk-mangkuk tersebut dapat dicuci di bawah pengawasan.

Sesudah dicuci mangkuk-mangkuk tersebut disimpan terbalik, diletakan satu per satu, sehingga air dapat menetes dengan leluasa, dan mangkuk-mangkuk keesokan harinya sudah kering dan siap dipergunakan kembali. 

Pengumpulan lateks dan ember-ember lateks 

Terjadinya pra-koagulasi selain disebabkan oleh kurang bersihnya pekerja, juga dipercepat oleh pengaruh suhu yang tinggi dan jangka waktu yang terlalu lama antara waktu menyadap dan koagulasi di dalam pabrik.

Oleh karena itu harus senantiasa diusahakan agar sesegera mungkin, yakni 3 atau 4 jam sesudah dimulai menyadap, dimulai dengan pengumpulan lateks. 

Pada umumnya, keuntungan lateks yang diperoleh dengan memperlambat waktu pengumpulan, tidak sepadan dengan kerugian tersebut di atas.

Lateks dalam mangkuk dituangkan ke dalam ember-ember dan sisa lateks dibersihkan dengan menggunakan sudip (spatel).

Biar bagaimanapun hendaknya jangan diperkenankan digunakannya bahan-bahan kain, scrap, atau rumput-rumput dan daun-daun untuk keperluan membersihkan sisa lateks ini.

Biasanya dipergunakan sebuah sudip terbuat dari kayu, yang dibungkus dengan sehelai karet ban dalam, dan bentuk sudip dibuat sedemikian rupa hinga dengan sekali gerak lateks dapat disingkirkan dari mangkuk-mangkuk.

Sudip-sudip harus dibersihkan dan diperiksa secara teratur dan harus diperbaharui pada waktu-waktu tertentu.

Ember-ember pengumpul lateks yang terbaik adalah ember-ember yang dibuat dari aluminium. 

Pengumpulan karet mutu rendah 

Scrap (lateks yang membeku pada alur sadap) dikumpulkan pada saat penyadapan akan dimulai.

Jika mangkuk ditinggalkan dalam kebun, maka selaput mangkuk disingkirkan dulu dengan tangan sebelum penyadapan dimulai. 

Bersamaan dengan pemasangan mangkuk-mangkuk torehan kulit dikumpulkan segera sesudah pohon-pohon ditoreh.  

Pada waktu senggang, yakni sesudah pohon-pohon selesai disadap dan sebelum dimulai mengumpulkan lateks, scrap yang terkumpul dipilih-pilih dalam scrap warna muda dan scrap warna tua, jika hal ini belum dilakukan sambil menyadap. 

Kadar lateks 

Sedapat mungkin harus diusahakan agar lateks diterima dalam pabrik tanpa diencerkan terlebih dahulu.

Pencampuran lateks dengan air di dalam kebun yang biasanya sudah mengandung kotoran-kotoran harus dicegah, karena hal ini mempercepat proses pra-koagulasi dan pembentukan lump dan dapat memperbesar timbulnya gelembung-gelembung udara pada pengolahan sheet

Penerimaan Lateks 

Jika pembayaran upah kepada para penyadap dilakukan untuk tiap satuan bobot kering, atau diberikan suatu premi tambahan untuk banyaknya hasil yang diperoleh di atas suatu ketetapan yang sudah ditentukan, maka sudah seharusnya untuk kedua keadaan tersebut diatas ini ditentukan pendapatan tiap hari untuk  tiap penyadap.

Walaupun penyadapan dilakukan dengan upah harian, suatu pengawasan atas tiap penyadap seorang demi seorang juga perlu, baik pemeriksaan atas produksi, maupun mengenai kadar karet dari lateks. 

Semua alat pengukur dan timbangan untuk menetapkan suatu upah harus diberikan dahulu oleh Jawatan Tera.

Sebaiknya para penyadap dilarang untuk masuk dalam ruangan pabrik. Para penyadap dapat disuruh menanti giliran ruangan tertutup yang berdampingan dengan pabrik, dimana lateks diterima. 

Pada pengangkutan dalam tangki (atau drum) ke pabrik atau tempat pembekuan, lateks dari tangki-tangki (atau drum) sedapat mungkin harus langsung mengalir melalui saringan-saringan di atas bak-bak penerima.

Hal ini hanya dapat dilaksanakan jika bak-bak penerima lateksnya tidak terlalu tinggi di atas permukaan jalan masuk. 

Pada saat ini di pabrik-pabrik yang besar sering kali terlihat bak-bak penerima yang tinggi letaknya sedangkan lateks ditekan ke atas dengan menggunakan tekanan udara.  

Hal ini hanya mungkin jika dipergunakan tangki-tangki yang tahan terhadap tekanan yang besarnya kira-kira 1 atm.

Tangki serupa itu dilengkapi dengan penghubung-penghubung untuk pipa-pipa karet (sebaiknya memakai murwater), untuk pipa-pipa lateks dan tekanan udara.

Tekanan udara yang diperlukan dapat diperoleh dari sebuah kompresor kecil. 

Penetapan bobot atau isi 

Penyadap menuangkan lateks dari ember-ember lateks ke dalam ember-ember takaran melalui sebuah saringan kasar, terdiri dari saringan kawat dengan lubang kasa kira-kira 2 mm lebar, atau dari pelat aluminium berguna terutama untuk menahan lump.  

Hendaknya diperhatikan, agar isi ember-ember lateks dituangkan dengan hati-hati, jangan dituangkan sampai habis, karena pada dasar ember banyak terkumpul kotoran sebelum disaring lateks tidak boleh diaduk. 

Sisa lateks yang dibiarkan dalam ember dengan endapan dan kotoran, dituangkan ke dalam bak terpisah.  

Setelah diendapkan secukupnya, maka bagian yang teratas dapat dibubuhkan ke dalam lateks campuran yang bersih, sedangkan bagian bawahnya harus dikerjakan secara terpisah, jika jumlah kotoran ini sedikit dan sebagian besar dapat diperoleh crepe yang cukup baik atau dikerjakan menjadi off-sheet, atau dapat juga dikerjakan menjadi karet mutu rendah. 

Penetapan banyaknya lateks lebih baik dijalankan dengan jalan menimbang daripada dengan jalan mengukur.  

Pekerjaan menimbang dapat dilakukan dengan cepat dan pasti tidak kurang telitinya.  

Untuk keperluan ini pakailah senantiasa ember-ember yang sama. Bobot ember yang sudah diketahui dengan sendirinya harus dipotong sebagai tarra.

Tidak ada suatu keberatan untuk mengambil sebagai ketetapan bobot 1 kg untuk tiap liter lateks.

Perhitungan isi yang tepat menjadi 1.020 ml per kg lateks yang tidak diencerkan, biasanya tidak perlu karena bobot lateks biasanya dihitung sampai kilogram penuh atau setengah kilogram. 

Penetapan kadar karet kering tiap penyadap 

Cara koagulasi percobaan dan menimbang potongan bekuan yang digiling menjadi potongan crepe yang kecil, masih merupakan satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk memeriksa kadar karet kering tiap penyadap.

Setelah diaduk terlebih dahulu, maka dari ember takaran untuk menggunakan sebuah takaran.

Takaran ini, yang dibuat dari kaleng, berbentuk silinder pendek dan mempunyai pegangan, sebaiknya ditera dengan lateks, sedemikian rupa sehingga waktu lateks dituang diperoleh jumlah lateks sebanyak 50 ml.

Takaran dikosongkan ke dalam mangkuk aluminium yang bagian luar dan dekat sekali pada tepinya diberi tanda nomor penyadap.

Mangkuk-mangkuk ini diletakkan menurut urutan di atas sebuah rak, yang jika perlu, dapat diberi tutup untuk mencegah kecurangan-kecurangan.

Untuk keperluan koagulasi, 10 ml larutan asam semut 1% atau asam cuka 2% sudah mencukupi. Larutan ini dapat terlebih dahulu dimasukan ke dalam mangkuk-mangkuk, atau dibubuhkan sesudah lateks ditakar dan sesudah itu harus senantiasa diaduk.

Pemakaian asam keras tidak dapat dianjurkan, karena biasanya terlalu banyak mempergunakannya. 

Dibeberapa perkebunan, segera setelah digiling, contoh-contoh dikeringkan dengan menggunakan secarik kain.

Sesudah itu ditimbang dan jika cara bekerja senantiasa sama maka hasilnya cukup memuaskan.

Setelah diberi tanda yang jelas contoh dapat juga dikeringkan dengan jalan menggantungkannya dengan pasak pada rak.

Lebih baik lagi jika lembaran crepe itu ditegangkan pada pasak sehingga lembaran diregangkan sampai tipis sekali lebih cepat kering. 

Untuk menghindar kecurangan, sebaiknya rak diberi pintu dari kawat kasa.

Dan untuk mempercepat pengeringan sebaiknya dinding-dinding sisi diberi lubang, sehingga terdapat peredaran udara yang kuat.

Semakin kecil kadar air pada waktu menimbang, semakin kecil koreksi, semakin kecil pula kesalahan.

Jadi pemilihan mengenai cara bekerja bergantung juga pada sampai kemana ketelitian pengawasan terhadap para penyadap dan kadar karet lateks kebun akan dijalankan. 

Pembayaran penyadap tidak perlu diperhitungkan (lateks meters), metrolacs dan sebagainya, alat-alat mana untuk keperluan tersebut di atas tidak dapat dipergunakan sama sekali. 

Pemakaian bahan anti koagulan 

Pemakaian anti koagulan tidak selamanya perlu, dan harus dibatasi. 

 Pemakaian bahan-bahan kimia memakan biaya dan kadang-kadang larutan asam untuk koagulasi terpaksa harus dinaikkan, yang dapat pula menghambat proses pengeringan. Jika persentase lump tinggi, maka harus diselidiki lebih dahulu apakah peraturan-peraturan tentang kebersihan yang diuraikan di atas sudah dijalankan dan apakah di dalam kebun tidak terjadi kecurangan umpamanya pengenceran dengan air. 

Dalam beberapa hal pemakaian anti koagulan memang sangat diperlukan, umpamanya: selama musim rontok, sesudah hujan-malam, jika lateks harus diangkut melalui jarak yang jauh, jika kebun muda baru disadap, dan teristimewa pada kebun-kebun okulasi.

Harus dipertimbangkan apakah pembubuhan anti koagulan harus terjadi pada waktu penerimaan lateks di pabrik, atau sudah harus diberikan di dalam kebun.

Yang tersebut terakhir ini kadang-kadang perlu dan membutuhkan pengawasan yang ketat sekali. 

Pembubuhan anti koagulan pada waktu menerima lateks di pabrik hanya dapat dijalankan jika lateks menunjukan sedikit sekali kecenderungan kepada pra koagulasi, atau jika anti koagulan terutama dipergunakan sebagai desinfektan atau sebagai anti oksidan.

Dalam keadaan yang sedemikian pemakaian anti-koagulan dapat mempengaruhi penyaringan lateks. 

Semakin cepat anti koagulan dibubuhkan ke dalam lateks, semakin besar daya guna yang dapat diharapkan.

Jika diinginkan daya lebih kuat dari anti koagulan, maka bahan ini harus dibubuhkan ke dalam bejana atau tangki pengangkut, ke dalam ember pengumpul atau ke dalam mangkuk.  

Banyaknya anti koagulan yang akan diserahkan kepada tiap penyadap ditetapkan menurut jumlah liter lateks yang ditaksir akan diperoleh tiap penyadap.

Jika masih terdapat sisa anti koagulan, penyadap dapat menuangkan sisa ini ke dalam ember pengumpul.

Perbedaan kecil pada pembubuhan dapat ditiadakan pada waktu pencampuran lateks di pabrik. Dalam paraktek dipakai 3 macam anti koagulan, yakni: soda, ammoniak dan natrium sulfit.

Jenis Pengolahan Lateks

Pengolahan Sit 

Sit (sheet) merupakan salah satu produk karet alam.

Dalam perdagangan Sit dikenal “Java Standar Sheet”, yaitu produk karet alam berupa lembaran-lembaran yang telah diasap, bersih dan liat, bebas dari bubuk (jamur), tidak  saling melekat, warnanya jernih, tidak bergelembung udara, dan bebas dari akibat pengolahan yang kurang sempurna.

Standar kualitas tersebut pada saat ini masih dipertahankan dan karenanya perdagangan sit dapat bertahan hingga saat ini. 

Jenis sit yang disebutkan di atas umumnya dihasilkan oleh pabrik sit milik perkebunan besar (swasta/PTP).

Pada perkebunan rakyat dikenal jenis sit yang lebih rendah kualitasnya, yang umumnya dihasilkan oleh petani-petani karet yang mengolah lateks menjadi sit dengan cara yang sederhana.

Jenis sit yang kedua ini ada dua macam, yaitu sit angin dan sit asap.  

Sit angin adalah lembaran-lembaran sit yang dikeringkan dengan cara diangin-anginkan, dan umumnya berwarna putih kekuning-kuningan.

Sedangkan sit asap berwarna coklat karena lembaran-lembaran sit tersebut mengalami pengasapan.

Di bawah ini akan diuraikan cara pengolahan sit, baik yang dilaksanakan oleh petani maupun perkebunan besar. 

Pengolahan Sit oleh Petani Karet 

Pengolahan yang dilakukan sederhana sekali, yakni hanya dengan menggunakan gilingan tangan.  

Urutan pengolahan sit yang dilakukan oleh petani karet adalah  sebagai berikut.

  1. Lateks hasil penyadapan diangkut ke tempat pengolahan yang biasanya berada di sekitar rumah tinggal. Lateks ditempatkan dalam ember kemudian diencerkan dengan dicampur air bersih dengan volume yang sama dengan volume lateks tersebut.
  2. Lateks yang telah diencerkan kemudian disaring dengan saringan yang dibuat dari logam.  Lima liter lateks dimasukkan ke dalam “takung” (baskom) tempat pembekuan.  Kemudian ditambahkan  500 cc larutan asam semut 2,5% dan diaduk perlahan-lahan agar asam semut tersebut tercampur merata dengan lateks.  Buih-buih yang timbul dibuang.
  3. Setelah  0,5 jam lateks akan membeku. Setelah lateks membeku, tuang sedikit air bersih ke dalam takung agar permukaan bekuan terendam, dan biarkan beberapa lama.
  4. Bekuan dikeluarkan dari takung dan taruh di atas meja dan ditekan-tekan sehingga bekuan tersebut sampai tebal separuhnya.
  5. Bekuan digiling menggunakan gilingan tangan yang terdiri dari gilingan licin dan gilingan kembang. Bekuan digiling sebanyak 3-4 kali dalam gilingan licin sampai diperoleh lembaran yang tebalnya ± 3 mm. Setelah itu lembaran digiling pada gilingan kembang sehingga terbentuk lembaran yang permukaannya berkembang-kembang
  6. Setelah digiling lembaran-lembaran sit dicuci untuk membuang serum yang tertinggal di permukaan lembaran. Gantungkan tiap lembaran pada palang-palang bambu/kayu di tempat yang teduh agar supaya lembaran menjadi kering.
  7. Setelah lembaran menjadi kering, lembaran segera dimasukan ke dalam rumah asap yang sederhana. Lembaran sit yang diasap menghasilkan sit asap. Apabila lembaran sit tersebut tidak diasap dan hanya dikeringkan saja dengan cara diangin-anginkan, maka akan dihasilkan sit angin. 

Pada pembuatan sit rakyat ini 1 (satu) alat penggiling dapat digunakan oleh 15 sampai 20 orang petani (satu kelompok tani).  Pengelolaan alat penggiling ini diserahkan pada kelompok masing-masing. 

Pengolahan Sit oleh Perkebunan Besar 

Pengolahan sit oleh perkebunan besar dilaksanakan di pabrik pengolahan dengan menggunakan peralatan yang lebih baik dengan kapasitas yang lebih besar.

Oleh karena itu sit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan kapasitas produksinya pun tinggi. 

Standar kualitas yang tinggi tersebut dapat dicapai karena proses pembuatanya dilaksanakan sesuai dengan persyaratan pengolahan yang memenuhi standar.  

Cara pengolahan sit oleh perkebunan besar pada garis besarnya meliputi. penerimaan lateks, pengenceran, pembekuan, penggilingan, pengasapan, dan pengeringan, sortasi, serta pengepakan.

Penjelasan masing-masing tingkat pengolahan akan diuraikan satu persatu di bawah ini.

Penerimaan lateks.  Lateks hasil penyadapan yang berasal dari berbagai bagian kebun diangkut dengan tangki yang ditarik truk atau traktor ke pabrik.

Di pabrik lateks diterima dan dicampur dalam bak penerimaan. Lateks yang dimasukkan ke dalam bak penerimaan harus melalui saringan untuk mencegah aliran lateks yang terlalu deras dan terbawanya lump atau kotoran lainnya ke dalam bak penerimaan. 

Jumlah truk yang diperlukan untuk luasan 500 ha kebun karet adalah satu buah. 

Saringan yang dipasang pada bak penerimaan terdiri dari saringan kasar dan saringan sedang, terbuat dari aluminium tahan karat berukuran 15 mesh (Ø lubang 1 mm2) dan 24 mesh (Ø lubang 0.6 mm2).

Dari lateks yang telah terkumpul dalam bak penerimaan diambil contoh (sample) untuk mengetahui kadar karet kering (dry rubber content, KKK-nya).

Hal ini penting untuk memperhitungkan taksasi produksi dan kebutuhan air dan asam  dalam proses pengenceran lateks. 

Cara penentuan KKK lateks adalah sebagai berikut: lateks contoh sebanyak 100 cc lateks ditambahkan 20 cc asam semut 1 % atau asam cuka 2 %.  

Lateks tersebut kemudian membeku. Koagulum diambil dan giling dalam gilingan tangan beberapa kali.

Lembaran kemudian ditimbang dan akan didapatkan berat basahnya, misalnya seberat 40 gram.

Dengan menggunakan faktor pengeringan yang berlaku di perkebunan yang bersangkutan, akan dapat ditentukan berat keringnya. 

Pengenceran lateks.  Pengenceran lateks adalah untuk menurunkan kadar karet yang terkandung dalam lateks sampai diperoleh kadar karet baku atau disebut juga (Kadar Karet Standar, KKS) sesuai dengan yang diperlukan dalam pembuatan sit, yaitu sebesar 13%, 15%, 16%, atau 20% sesuai dengan kondisi dan peralatan setempat. 

Pengenceran lateks dilaksanakan dalam bak-bak pembekuan yang terbuat dari bahan aluminium. 

Cara pengenceran yang umum dilaksanakan di pabrik adalah sebagai berikut.

  • Bak pembekuan diisi dengan air bersih yang banyaknya sesuai dengan keperluan, sehingga tercapai kadar karet baku yang telah ditentukan.
  • Lateks dialirkan dari bak penampung ke dalam bak pengenceran melalui talang.
  • Setelah lateks masuk ke dalam bak pengencer/pembekuan yang telah terisi air tersebut kemudian diaduk perlahan-lahan dengan alat pengaduk. Buih-buih yang terjadi diambil dan ditempatkan dalam wadah yang tersedia untuk diolah lebih lanjut. 

Pengenceran yang terlalu encer akan mengakibatkan bekuan terlalu lunak dan dalam penggilingan mudah robek.

Akan tetapi bila bekuan terlalu keras, akan mengakibatkan pemakaian tenaga gilingan yang lebih besar, dan “print” atau batikan yaitu terjadinya kembang pada permukaan lembaran sit (ribbed sheet) kurang dalam, dan akibatnya waktu untuk pengeringan lebih lama.

Banyaknya air yang diperlukan untuk pengenceran lateks diperhitungkan menurut rumus:

Ap= (c-g) x L/g

Di mana:

Ap= banyaknya air pengencer   g   = kadar karet baku

c   = kadar karet kering (KKK)            L  = volume lateks yang diencerkan 

Pembekuan lateks.  Untuk membuat bekuan/koagulum ini, lateks perlu dibubuhi asam semut atau asam cuka.  

Supaya dapat terjadi penggumpalan atau koagulasi, pH yang mendekati netral tersebut harus diturunkan sampai 4,7.   

Pada kemasaman ini tercapai titik isoelektris atau keseimbangan muatan listrik pada permukaan partikel-partikel karet, sehingga partikel-partikel atau butir-butir karet tersebut dapat menggumpal menjadi satu.

Penurunan pH  ini terjadi dengan membubuhkan asam semut 1% atau asam cuka 2% ke dalam lateks yang telah diencerkan. 

Ukuran bak-bak pembekuan yang digunakan dalam proses koagulasi bermacam-macam, tergantung pada besarnya produksi masing-masing kebun.

Pada perkebunan karet rakyat dapat dijumpai bak-bak pembekuan dari bahan aluminium, seperti terlihat pada Tabel. 

Bak-bak Pembekuan dari Bahan Aluminium 

Ukuran isi

Ukuran bak

Bagian atas

Bagian bawah

Tinggi

Untuk 6,5 – 7,5 l (lateks)

 

Untuk 5,0 l (lateks)

65 cm x 30 cm

 

45 cm x 25 cm

60 cm x 25 cm

 

40 cm x 20 cm

9 cm

 

9 cm

Pemakaian kedua macam bak ini tergantung pada jenis standar sit yang akan dihasilkan oleh perkebunan yang bersangkutan.  

Standar sit adalah sit yang ukuran panjang, lebar, dan beratnya telah ditetapkan dalam dunia perdagangan. 

Menurut “ Java Standar Sheet” dikenal tiga jenis sit yang ukurannya dapat dilihat pada Tabel . di bawah ini. 

Ukuran Sit Standar 

Standar model

Berat (kg)

Panjang (cm)

Lebar (cm)

Tebal (mm)

Besar

Sedang

Kecil

1,5

1,2-1,3

1,0

135

135

90

45

45

45

3,35

2,50

3,35

Pabrik-pabrik sit milik perkebunan besar umumnya menggunakan tangki-tangki pembekuan dari aluminium tahan karat yang bersekat-sekat dengan ukuran standar (baku) sebagai berikut.

-  Panjang bak bagian dalam                 :  300 cm

-  Lebar bak bagian dalam                    :    70 cm

-  Tinggi bak bagian dalam                    :    40 cm

-  Jarak antar sekat                               :   + 4 cm (32-38 mm) 

Lebar bekuan atau sampai berapa tinggi bak/tangki harus diisi lateks tergantung pada jarak antar sekat, lebar kilang (mesin giling), kadar karet standar dan cara menggiling yang berkaitan dengan sifat bekuan.

Untuk memberikan gambaran yang sederhana, pada tangki yag berukuran seperti tersebut diatas diisi lateks berkadar karet baku sampai tinggi 29 cm.

Kemudian dipasang 74 buah sekat, sehingga menghasilkan 75 ruangan. Dari tangki pembekuan tersebut akan diperoleh 75 buah koagulum berukuran 70 cm x 29 cm x 4 cm yang setelah digiling akan menghasilkan sit dengan berat masing-masing 1,25 kg.  Pada tangki yang lebih besar yang berukuran 300 cm x 90 cm x 40 cm akan menghasilkan lembaran-lembaran sit yang beratnya 1,5 kg. 

Penggilingan.  Koagulum yang berukuran 70 cm x 30 cm x 4 cm diangkat dari tangki/bak pembekuan dan melalui talang yang sengaja dipasang didorongkan mendekati mesin giling.

Mesin giling sit terdiri dari satu unit yang dipasang secara berurutan dengan tujuan : untuk menggiling lembaran-lembaran koagulum menjadi lembaran-lembaran sit yang mempunyai ukuran panjang, lebar, dan tebalnya tertentu, mengeluarkan serum yang terdapat di dalam koagulum, untuk membuang busa yang tertinggal, untuk memberikan gambaran (print, batikan, kembang) pada permukaan lembaran sit. 

Untuk maksud tersebut, gilingan sit dipasang sedemikian rupa sehingga tersusun atas beberapa gilingan licin dan satu gilingan gambar (printer).

Gilingan ini digerakkan dengan mesin penggerak berkekuatan 5-7 tenaga kuda (pk). Pada pabrik-pabrik sit milik perkebunan besar, satu unit/baterai mesin gilingan yang disebut continue sheet machine terdiri dari beberapa gilingan licin dan satu gilingan primer.

Sebuah baterai continue machine yang terdiri atas 4 gilingan licin dan satu gilingan gambar disebut 5 in 1 (five in one), dan ada pula yang terdiri atas 5 gilingan licin dan 1 gilingan gambar (6 in 1). 

Gilingan gambar (printer, batikan) berfungsi untuk membentuk pola/patron pada permukaan lembaran sit.

Pola atau patron ini akan memperluas permukaan lembaran sit. pola atau patron ini akan memperluas permukaan lembaran sit, hal ini sangat penting dalam hubungannya dengan proses pengeringan.

Dewasa ini “pola pilin” (spiral) lebih baik daripada pola belah ketupat, karena dengan pola pilin/spiral serum lebih mudah mengalir ke luar.

Mesin-mesin gilingan dilengkapi dengan air pelincir yang terletak di atas gilingan masing-masing.

Air pelincir ini berfungsi untuk membersihkan serum yang terdapat pada lembaran sit, mengurangi lengketnya lembaran-lembaran pada silinder-silinder gilingan dan mengurangi daya gelincir (slip). 

Pengasapan dan pengeringan.  Lembaran sit yang keluar dari mesin giling mengandung + 30% air, yaitu air yang melekat pada permukaan lembaran dan air yang terdapat di antara butir-butir karet di dalam lembaran. 

Untuk mendapatkan lembaran yang sunguh-sungguh kering, air yang terdapat pada lembaran harus dikeluarkan.

Disamping itu, lembaran perlu pula diawetkan agar tahan terhadap kerusakan karena gangguan cendawan yang dapat mengakibatkan penurunan kualitas.

Oleh karena itu dalam pembuatan sit diperlukan adanya proses pengasapan dan pengeringan. 

Proses pengasapan dimaksudkan juga untuk memberikan warna coklat terang yang diinginkan.

Dengan pengasapan, lembaran-lembaran terdesinfeksi karena di dalam asap terkandung komponen formaldehyde, phenol, zat warna, dan zat asam organik.

Untuk mendapatkan desinfeksi yang kuat, pada tingkat pengasapan suhu tidak boleh kurang dari 40° C. 

Partikel-partikel asap merupakan partikel padat terdispersi di dalam campuran gas yang berasal dari pembakaran kayu bakar.

Partikel-partikel asap ini mempunyai kutub polar, sehingga dengan lembaran-lembaran sit yang masih basah (air pun mempunyai kutub polar) akan terjadi koagulasi asap yang menyebabkan warna coklat pada permukaan lembaran.

Teknik pengasapan dan pengeringan harus disesuaikan dengan sifat tersebut, agar diperoleh sit kering yang warnanya baik. 

Sit yang telah kering tidak dapat lagi mengikat warna dari asap. Karenanya, bila jalannya proses pengasapan dan pengeringan kurang teratur, sering menghasilkan lembaran sit yang sudah kering akan tetapi warnanya masih pucat.

Atau dapat pula sebaliknya. Sit yang demikian mudah dijangkiti oleh mikroorganisme (cendawan) yang dapat menimbulkan kerusakan dan penurunan kualitas. 

Untuk pengasapan dan pengeringan digunakan rumah asap. Bentuk rumah asap bermacam-macam dari yang sederhana dan berkapasitas rendah sampai yang modern dan berkapasitas tinggi. 

Sortasi.   Lembaran-lembaran ribbed smoked sheet atau sit yang telah selesai diasap, sesampainya di ruang sortasi ditimbang untuk mengetahui berat hasil akhir pengolahannya.

Berat yang diperoleh tidak boleh berbeda besar dengan taksiran yang telah diperhitungkan pada saat memperoleh hasil lateks.

Perbedaan yang besar menunjukan adanya kesalahan-kesalahan dalam penanganan lateks, baik dalam penerimaan, pengumpulan, pengenceran, ataupun penggilingannya. 

Setelah penimbangan selesai, lembaran-lembaran sit dibawa ke ruang sortasi. Pelaksanaan sortasi ini dimaksudkan untuk memisahkan lembaran-lembaran sit berdasarkan tingkat (grade) kualitasnya. 

Di dalam ruangan sortasi terdapat meja sortasi, yang dilengkapi dengan kaca baur yang dipasang miring 45º dengan garis vertikal.

Dari bawah meja dimasukkan sinar tembus yang berasal dari sinar matahari (pada siang hari) atau dari lampu neon 10 watt.

Bila digunakan lampu neon, sinar lampu harus dibiaskan lebih dahulu, tidak boleh langsung.

Dengan demikian, sinar yang menembus permukaan meja sortasi adalah sinar diffus yang kemudian menembus lembaran-lembaran sit yang diperiksa. 

Pengolahan Krep 

Krep (crepe) adalah produk lainnya yang dihasilkan dalam pengolahan karet alam.

Bila menggunakan bahan baku lateks, pelaksanaan pungutan lateks atau penyadapan di kebun dan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk memperoleh krep yang baik kualitasnya, tidak berbeda dengan cara-cara yang telah diterangkan pada pembuatan  sit.

Walaupun demikian, pada pengolahan krep bila keadaan tidak memungkinkan atau pengangkutan lateks dari kebun ke pabrik terlalu jauh, dan selama pengangkutan ada kemungkinan terjadinya kerusakan lateks, maka pembekuan lateks dapat dilakukan di kebun.

Dengan demikian yang diangkut ke pabrik berupa koagulum yang sesampainya di pabrik siap untuk digiling pada mesin-mesin gilingan krep. 

Proses pembuatan krep dengan bahan baku lateks berlangsung dengan urutan pengolahan, penyaringan, pencampuran,  pengenceran lateks, pembekuan, penggilingan, pengeringan , sortasi dan pembungkusan. 

Penyaringan, pencampuran dan pengenceran lateks.   Setibanya di pabrik, lateks kebun diterima dalam bak pencampur.

Pencampuran harus dilakukan lebih teliti dengan menggunakan tiga buah saringan, karena pembekuan kadang-kadang dilaksanakan dalam bak-bak pencampuran itu juga. 

Dari bak pencampur diambil contoh (monster) untuk menentukan kadar karet keringnya, dengan cara yang sama seperti pada pengolahan sit.  

Untuk pembuatan krep digunakan kadar karet baku 20%. Waktu pelaksanaan pengenceran, air yang digunakan harus lebih baik kualitasnya daripada untuk pengenceran pada pembuatan sit.

Untuk memperoleh warna krep yang baik di masa sebelum perang (Perang Dunia ke-II) dikenal krep baku Jawa yang memiliki ciri-ciri: warna rata ”pale” (pucat), bebas dari noda-noda, kotoran-kotoran atau tanda-tanda oksidasi, maka pada pengolahan krep tersebut biasa digunakan obat pemutih.

Pemberian obat pemutih dilakukan pada saat pengenceran lateks. 

Pembekuan lateks.   Pembekuan (koagulasi) dilakukan dalam bak koagulasi, tetapi dapat juga dalam bak pencampuran. Pelaksanaan pembekuan adalah sebagai berikut.

  • Lateks diencerkan sampai mencapai kadar karet baku 20%.
  • Berikan larutan obat pemutih Natrium-bisulfit 5% sesuai dengan kebutuhan.
  • Bubuhkan obat pembeku, yaitu 20 cc asam semut 2,5% atau asam cuka 5%, kemudian aduklah perlahan-lahan.
  • Bila pembekuan dilakukan dalam tangki pembekuan, sekat dipasang dengan jarak 8 cm. Bekuan dibiarkan sampai keesokan harinya, tetapi harus ditutup dan ditambahkan air (setelah terjadi pembekuan) untuk menjaga agar warna koagulum tetap baik, dan menghindari adanya kotoran.
  • Bila pembekuan dilakukan dalam bak pencampuran, sebelum dilaksanakan penggilingan, koagulum harus dipotong-potong lebih dahulu untuk memudahkan pelaksanaan penggilingan. Demikian pula bila pembekuan dilaksanakan di kebun. Cara pembekuan yang terakhir ini dilakukan bila jarak pabrik dari kebun terlalu jauh, sehingga pengangkutan dalam bentuk koagulum lebih mudah dari pada pengangkutan dalam bentuk lateks. 

Penggilingan.   Koagulum yang diperoleh dari bak pembekuan dapat berbentuk bongkah-bongkah dengan ukuran tertentu, atau potongan-potongan.

Potongan-potongan atau bongkah-bongkah koagulum diletakan diatas meja menunggu saat penggilingan, dan agar bak pembekuan dapat dibersihkan dan diisi kembali dengan lateks baru yang akan dibekukan. 

Satu seri mesin gilingan krep terdiri atas 3-5 buah gilingan/kilang, yang dapat dibedakan menjadi tiga macam gilingan, di bawah ini.

  1. Gilingan pertama (voorwerker)
  2. Gilingan tengah (tussenwerker)
  3. Gilingan akhir (finisher) 

Pada pabrik krep yang kapasitas produksinya tinggi biasa menggunakan gilingan pertama 7 buah, gilingan tengah 2 buah, dan gilingan akhir 1 buah.

Berlangsungnya proses penggilingan adalah sebagai berikut.

Koagulum dimasukan ke dalam gilingan pertama. Oleh gilingan pertama koagulum ditekan sambil digilas menjadi lembaran yang koyak-koyak, berlobang-lobang dan masih belum rata ketebalannya.

Lembaran-lembaran ini kemudian dilipat dua dan digiling kembali pada gilingan pertama. Setelah keluar dari gilingan pertama, lembaran dilipat dua lalu dimasukkan ke gilingan tengah ke-1.

Lembaran yang keluar dari gilingan tengah  ke-1 sudah lebih tipis tetapi masih berlubang-lubang. Lembaran ini terus dimasukkan ke dalam gilingan tengah ke-2 yang rodanya lebih sempit.  

Lembaran yang keluar dari gilingan tengah ke-2 digulung dengan gulungan kayu atau bambu. 

Skema Penggilingan Krep 

Gilingan

Perlakuan

Hasil

Gilingan pertama

(Voorwerker)

 

 

Gilingan tengah

(Tussenwerker)

 

 

 

Gilingan akhir

(Finisher)

Koagulum digiling pertama dilipat dua, digiling kedua kalinya.

 

Lembaran dilipat dua, digiling,

Lembaran digiling tanpa dilipat.

 

Lembaga digiling satu kali

Koyak-koyak, tebal 7- 10 mm, berlobang-lobang, tebal 4-5 mm.

 

Lembaran berlobang-lobang kecil, tebal 3-4 mm.

 

 

Lembaran permukaannya rata, tebal mencapai 1-2 mm.

Sumber: Setyamidjaya (1993) 

Kemudian digiling pada gilingan akhir (finisher) dengan tujuan untuk meratakan permukaan lembaran krep tersebut.

Selama berlangsung proses penggilingan lembaran-lembaran krep, rol gilingan harus selalu dibasahi dengan air.

Maksud pemberian air ini bukan saja sebagai pencuci serum yang keluar dari  koagulum yang digiling, tetapi juga untuk menghindari karet lengket pada rol dan untuk mendinginkan rol tiap-tiap gilingan yang bekerja.  

Kebutuhan air pencuci dan pendingin adalah 25 liter tiap kadar karet kering. 

Krep yang keluar dari gilingan akhir berupa lembaran yang panjangnya 6-7 meter, lebar 40 - 45 cm, dan tebal 1-2 mm.

Lembaran krep permukaannya tidak licin dan berpori-pori halus.  Sekeluarnya air dari gilingan akhir lembaran yang panjang itu digulung atau dilipat-lipat.

Gulungan-gulungan ini diletakkan tegak agar airnya menetes selama 1-2 jam. Sebelum lembaran-lembaran dibawa ke rumah pengeringan, biasanya ditimbang dahulu untuk mengetahui berat basah krep tersebut. Setelah dikeringkan, bobotnya akan susut sekitar 12-20%. 

Pengeringan.  Bentuk dan kontruksi rumah pengeringan krep berbeda dengan rumah asap sit, karena krep tidak diasap dan lembaran-lembarannya panjang-panjang.

Ukuran rumah pengeringan krep panjangnya 15 meter, lebar 7.5 meter, dan tingginya dari lantai ke atap 10 meter.

Didalam rumah pengeringan ini terdapat bilah-bilah penggantungan yang dibuat dari bahan kayu jati. Tebal bilah adalah 4-5 cm.

Bilah-bilah yang terbuat dari kayu jati penggunaannya akan tahan lama dan cukup kuat diinjak oleh pekerja yang menggantung-gantungkan krep yang akan dikeringkan.

Bagian atas bilah penggantungan ini dibulatkan untuk menjaga agar permukaan krep menjadi rata.

Kerapatan bilah-bilah di ruangan pengeringan dengan panas buatan adalah 8-12 cm, sedangkan pada rumah-rumah pengeringan alami (dengan udara biasa) lebih jarang, yaitu sekitar 15-20 cm. 

Cara pengeringan krep ada dua macam, yaitu dengan panas udara biasa (pengeringan alami) dan dengan udara yang dipanaskan (pemanasan buatan).  

Pada pengeringan secara alami, pengeringan memakan waktu yang cukup lama yaitu sekitar satu bulan, tergantung dari keadaan cuaca/iklim.

Pada pengeringan dengan panas buatan, suhu udara dalam ruangan pengeringan yang dibutuhkan adalah sekitar 33 - 34º C. 

Setelah mengalami pengeringan selama waktu tersebut, lembaran-lembaran krep umumnya telah mencapai tingkat kering yang diharapkan.

Tanda-tanda krep yang telah kering di antaranya adalah: tidak terdapat bintik-bintik keputih-putihan, dan bila dites kadar airnya telah mencapai rata-rata 0,6% (0,35 – 1,00 %). 

Sortasi.   Krep yang telah selesai dikeringkan di ruang pengeringan kemudian diangkut ke ruang sortasi. Untuk memudahkan sortasi, lembaran-lembaran krep yang panjang digulung dengan bilah kayu.

Ruangan sortasi harus kering dan bersih, penerangan atau keadaan cahaya harus cukup, biasanya dengan cahaya baur yang dapat diperoleh dengan melalui jendela-jendela kaca susu.

Noda-noda kotoran yang terdapat pada lembaran digunting dan bekas guntingan dirapatkan kembali.  Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sortasi krep, yaitu warna, noda-noda kotoran, tanda-tanda oksidasi, dan belang-belang serta bintik-bintik atau garis-garis. 

Pengepakan. Pengepakan krep dilakukan dengan menjadikan lembaran-lembaran krep tersebut menjadi bandela-bandela (bal-bal) berbentuk kubus berukuran 52 cm x 52 cm x 52 cm dengan berat 80 kg.

Pembungkusan harus sungguh-sungguh rapat, dibalut dengan menggunakan lembaran-lembaran krep pembalut yang sejenis atau berkualitas sama. 

Pengolahan Karet Remah 

Karet remah atau crumb rubber merupakan produk karet alam yang relatif baru. Dalam perdagangan dikenal dengan sebutan “karet spesifikasi teknis”, karena penentuan kualitas atau pengklasifikasian  jenisnya dilaksanakan secara teknis dengan analisis yang teliti di laboratorium. 

Dengan pengolahan karet remah dapat diperoleh beberapa keuntungan, yaitu proses pengolahannya lebih cepat, produk lebih bersih dan lebih seragam, serta penyajiannya lebih menarik. 

Berbagai bahan olahan karet dapat diolah menjadi karet remah. Dalam pengolahan karet remah digolongkan dua macam bahan baku, yaitu lateks kebun dan lump serta gumpalan mutu rendah.  

Proses pengolahan karet remah dapat dilaksanakan dengan bermacam-macam cara pemrosesan. Proses pengolahan karet remah  dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan di bawah ini. 

Pembekuan lateks.  Proses pembekuan (koagulasi) dilaksanakan dalam bak-bak pembekuan. Lateks kebun dalam bak pembekuan dibubuhi dengan asam semut 1% + melase 0,36 %.

Bak pembekuan dibuat dari aluminium atau tegel porselin yang dapat dipasangi sekat-sekat dengan jarak 30 cm.

Untuk memperoleh karet remah yang berwarna putih, selain koagulan dan malase,  ke dalam bak pembekuan dibubuhkan juga larutan natrium bisulfit dengan konsentrasi 0,05 %. dalam waktu 18-24 jam akan terbentuk bekuan/koagulum yang siap untuk digiling/diremahkan. 

Peremahan.  Koagulum dari bak pembekuan yang berukuran  45 cm x 23 cm x 23 cm dimasukkan ke dalam mesin pisau berputar (rotary cutter) yang diengkapi dengan saringan yang berlobang ukuran 1,6 – 1,9 cm.

Remah-remah yang terbentuk, setelah melalui saringan, akan diterima dalam kotak-kotak pengering. Pada peremahan ini air pencuci berguna untuk memudahkan peremahan dan untuk membersihkan remah-remah tersebut. 

Pengeringan.  Remah-remah dari mesin peremah diterima dalam kotak-kotak pengeringan yang terbuat dari besi tahan karat. Kotak-kotak ini kemudian dimasukkan ke dalam mesin pengering Unidryer atau alat pengering lorong.

Ukuran kotak pengering adalah 120 cm x 50 cm x 40 cm diisi dengan 16 kg remah, dan tiap kotak disesuaikan dengan ukuran bandela yang dikehendaki. Oleh karena itu, tiap kotak dibagi menjadi dua ruang, hingga setiap ruang berisi 8 kg. 

Suhu dalam lorong Unidryer adalah 70-100°C, lama pengeringan 4 jam dengan kapasitas 400 kg per jam.  

Kotak di dalam lorong pengeringan berjalan perlahan-lahan dari pangkal menuju ke ujung.

Karet remah yang keluar dari alat pengeringan dengan suhu 100°C dapat bertahan pada suhu sekitar 80°C selama beberapa hari.  

Dalam proses pengeringan terdapat pula alat pendingin (cooler) yang dapat menurunkan suhu gumpalan karet remah menjadi sekitar 50-60°C  sewaktu keluar dari mesin pengering. Dengan demikian, gumpulan remah dapat dikerjakan lebih lanjut. 

Pengempaan.  Remah-remah yang keluar dari mesin pengering Unidryer berada dalam kotak-kotak.

Remah-remah kemudian diangkat dan ditaruh diatas meja yang tersedia. Sejumlah remah ditimbang untuk memperoleh berat 35 kg. Kemudian dimasukkan ke dalam mesin pengempa. 

Ada berbagai tipe mesin pengempa yang biasa digunakan. Mesin yang terbaik adalah mesin yang dapat membentuk bongkah-bongkah dengan bentuk yang baik dan volume yang kecil, dengan kapasitas sebesar mungkin, tetapi tidak mudah dalam operasi dan perawatannya. 

Untuk memperoleh bentuk bongkah yang baik, harus menggunakan mesin pengempa yang bertenaga besar, misalnya dengan kekuatan tekanan 60-100 ton.

Remah-remah seberat 35 kg yang masih panas dikempa selama 30 menit. Sebagai hasilnya diperoleh bongkahan dengan ukuran 75 cm x 35 cm x 15,25 cm atau 28 inci x 14 inci x 6,5 inci, dan terdapat tanda “SIR” pada permukaan bongkah tersebut 

Pembungkusan.  Setelah bongkahan keluar dari mesin pengempa, bongkahan tersebut harus dibiarkan dahulu selama 8-12 jam supaya menjadi dingin.

Kemudian bongkahan dibungkus dengan plastik politein untuk SIR yang tebalnya antara 0,02 - 0,04 mm. Selanjutnya bongkahan tersebut dipak dalam bentuk pallet dan dibungkus dengan plastik hitam yang tebal 0,1 mm.

Berat kotor (bruto) tiap pallet beserta dari berat bersih (netto) karet remahnya sebesar 1050 kg dan berat peti kayunya 30 kg. Dari bahan baku lateks diperoleh karet remah yang kualitasnya dapat dikategorikan sebagai: SIR 5 CV, SIR 5 LV, Sir 5 L, dan SIR 5. 

Standar Mutu Karet 

Kualitas karet mempunyai standar tertentu. Klasifikasi kualitas dilaksanakan menurut cara-cara baru dengan penggolongan berdasarkan ciri-ciri teknis.

Yang menjadi dasar dalam spesifikasi teknis adalah kadar beberapa zat dan unsur-unsur tertentu yang terdapat dalam karet, yang berpengaruh terhadap sifat-sifat akhir produk yang dibuat dari karet.

Unsur-unsur dalam penetapan kualitas secara spesifikasi teknis sebagai berikut. kadar kotoran, kadar abu dan kadar zat menguap. 

Standar Indonesia Rubber (SIR) 

Standar Indonesia Rubber (SIR) adalah produk karet alam dimana dalam pemrosesannya maupun penentuan kualitasnya, dilakukan secara spesifikasi teknis.

Ketentuan-ketentuan tentang SIR mula-mula didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Perdagangan No. 147/Kep/V/1969, yang isinya berupa ketentuan-ketentuan yang menyangkut SIR yang kriterianya tercantum pada Tabel 7.5 di bawah ini. 

Standar Spesifikasi SIR 

Spesifikasi

SIR 5

SIR 20

SIR 35

SIR 50

Kadar kotoran (%)

Kadar abu (%)

Kadar zat menguap (%)

0,05

0,50

1,00

0,20

0,75

1,00

0,35

1,00

1,00

0,50

1,25

1,00

Sumber: Setyamidjaja (1993) 

Pada Tabel  disajikan spesifikasi karet SIR yang telah diubah menurut SK Menperdag No. 293/Kp/X 1972. 

Spesifikasi Karet SIR yang Diubah (revised) sesuai SK Menperdag No. 293/Kp/X /1972 

Spesifikasi

Standard Indonesia Rubber (SIR)

5CV

5LV

5L

5

10

20

50

Kadar kotoran (%, maks)

Kadar abu (%,maks)

Kadar zat menguap (%, maks)

PRI (min)

Po (min)

Indeks warna

(Lovibond, maks)

ASH-T (maks)

Sari aseton

Warna kode

0,05

0,50

1,00

 

-

-

-

 

8

-

Hijau

0,05

0,50

1,00

 

-

-

-

 

8

6-8

Hijau

0,05

0,50

1,00

 

60

30

6

 

-

-

Hijau

0,05

0,50

1,00

 

60

30

-

 

-

-

Hijau

0,10

0,75

1,00

 

50

30

-

 

-

-

Coklat

0,20

1,00

1,00

 

40

30

-

 

-

-

Merah

0,50

1,50

1,00

 

30

30

-

 

-

-

Kuning

Sumber: Setyamidjaja (1993)

Untuk tiap golongan SIR tersebut harus ditentukan nilai Plastisity Retention Index (PRI)-nya dan digolongkan dengan menggunakan simbol huruf H, M dan S.

Simbol huruf H menunjukan nilai PRI-nya sebesar 80, M untuk nilai PRI antara 60-79, dan S untuk nilai PRI antara 30-59. 

Plastisity Retention Index adalah ukuran terhadap tahan usangnya karet dan juga sebagai petunjuk mudah tidaknya karet tersebut dilunakkan dalam gilingan pelunak. Makin tinggi PRI, maka makin tinggi pula kualitas karet tersebut.

Untuk menentukan nilai PRI digunakan alat yang disebut Wallace Plastemer.

Sumber Artikel Karet Bahasan Lengkap, Prospek, Teknik dan Pemasaran
  1. Artikel wikipedia
  2. Artikel tentang tanaman karet dari wikipedia
  3. Artikel dari nurserylive
  4. Artikel gardeninghow
  5. Artikel ficuselastica
  6. Sumber lainnya