Last Updated:
Jagung Resiko,Mikro, Makro dan Kebijakan Pemerintah
Jagung Resiko,Mikro, Makro dan Kebijakan Pemerintah https://www.pustakadunia.com

Jagung Resiko,Mikro, Makro dan Kebijakan Pemerintah

Jagung Resiko,Mikro, Makro dan Kebijakan Pemerintah. Jagung merupakan komoditas nasional yang banyak campur tangan pemerintah terhadap perkembangan produk tersebut terutama jagung pipilan sebagai bahan baku pakan.

Seperti halnya dalam penentuan kebijakan harga, impor atau kaitannya dengan industri pakan itu sendiri, dan lain-lain.

Pengaruh Aturan Internasional Terhadap Perdagangan Komoditas

Kaitannya dengan industri pakan, aturan internasional yang tampaknya akan cukup berpengaruh terhadap perkembangan indsutri tersebut yaitu mengenai akan diberlakukannya perdagangan bebas beserta penghapusan segala hambatannya.  

Masuknya perusahaan asing dalam industri pakan nasional akan berdampak pada semakin tingginya tingkat persaingan pada industri pakan ini.  

Suatu antisipasi yang harus dilakukan untuk menghadapi kondisi ini adalah dengan mengembangkan struktur industri pakan nasional yang mengarah pada pencapaian efisiensi yang semakin meningkat sehingga dapat bersaing bukan hanya pada pasar domestik tetapi juga pada pasar luar negeri (ekspor).  

Selain itu secara langsung dapat berpengaruh terhadap pasokan bahan baku itu sendiri dimana bahan tersebut sampai saat ini masih impor.

Kebijakan internasional  dalam hal manajemen mutu (ISO 9000) dan aturan-aturan lainnya yang sejenis juga akan memberikan dampak terhadap perkembangan industri jagung pipilan dan industri pakan.

Hal ini dapat dimengerti bahwa jagung yang diproduksi domestik masih tidak memenuhi mutu yang diharapkan oleh industri lanjutannya (seperti industri pakan).  

Begitu juga bagi jagung impor, masih kurangnya penanganan jagung impor atau proses perolehannya misalnya keterlambatan bahan baku  atau mutu tidak sesuai, dan lai-lain.

Kondisi ini dan pemberlakuan aturan-aturan tersebut secara langsung akan mempengaruhi manajemen produksi dari setiap industri.  

Suatu tuntutan terhadap peningkatan mutu biasanya akan diikuti oleh peningkatan dalam hal biaya produksi.  

Oleh karena itu, kondisi ini perlu diantisipasi agar industri pakan nasional tetap mampu bersaing di pasar. 

Potensi Titik Kritis Usaha Jagung 

Ada beberapa faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya industri pakan diantaranya; sumber bahan baku, teknologi proses, sumber daya manusia, peluang pasar dan jalur distribusi.  

Faktor kedekatan lokasi produksi dengan bahan baku sangat penting dalam kelangsungan industri pakan.

Faktor Penentu Keberhasilan Usaha Jagung 

Industri jagung terutama jagung pipilan, merupakan industri penyedia bahan baku untuk industri pakan khususnya untuk ternak ruminansia seperti ayam, itik, puyuh dan lain-lain yang memanfaatkan jagung pipilan (sebagai bahan baku pakan ternak), sedangkan limbah jagung berupa jerami jagung atau tanaman jagung yang masih muda (umur 60 hari) dapat digunakan sebagai hijauan.  

Perkembangan industri jagung pipilan cenderung fluktuatif sejalan dengan perkembangan industri pakan ternak yang diproyeksikan akan semakin meningkat.  

Dimana industri pakan merupakan salah satu industri penyedia  sarana produksi bagi usaha budidaya ayam ras, dan lain-lain.  

Sedangkan perkembangan industri ternak khususnya ayam ras yang cenderung fluktuatif membawa dampak pada industri pakan sebagai industri hulu dalam sistem agribisnis peternakan ayam ras.  

Penurunan permintaan pakan yang terjadi pada masa krisis menyebabkan banyak perusahaan pakan yang mengurangi volume produksinya disamping juga disebabkan tingginya harga bahan baku. 

Keberhasilan usaha dalam industri jagung pipilan ditentukan oleh beberapa faktor antara lain:

  1. penguasaan sumber bahan baku yang sebaiknya tidak hanya mengandalkan impor melainkan lebih meningkatkan produksi dalam negeri dengan kemampuan yang ada;
  2. penguasaan teknologi lebih dikembangkan dan diterapkan dengan baik dan benar sehingga lebih nyata hasilnya bagi rakyat banyak;
  3. ketersediaan modal/dana investasi yang cukup besar;
  4. pengembangan strategi pemasaran yang mampu meningkatkan pangsa pasar;
  5. pengembangan jaringan distribusi yang efisien dan
  6. perencanaan investasi yang matang. 

Dari segi teknologi proses pengolahan jagung pipilan sudah semakin meningkat dari sebelumnya.  

Walaupun teknologi tersebut sudah diketahui dengan baik, namun tetap sulit untuk diterapkan oleh industri sakla kecil karena banyaknya keterbatasan yang mereka miliki.  

Oleh karena itu, dari segi teknologi, perlu adanya bantuan pemerintah dalam proses mengadopsi teknologi yang lebih baik dan modern.  

Selain itu dari sisi sumberdaya manusia yang merupakan faktor penentu untuk keberhasilan industri jagung berbagai bidang keahlian diperlukan di dalam mengelola industri.  

Tenaga ahli kita sudah cukup berpengalaman dalam industri jagung pipilan.  Namun demikian training secara berkala bagi calon pengelola industri tersebut sangat diperlukan.

Faktor Peluang Kegagalan Usaha Jagung 

Beberapa hal yang memungkinkan terjadinya kegagalan pada industri jagung pipilan terutama:

  1. proses produksi tanaman jagung;
  2. perencanaan pembiayaan yang tidak tepat,
  3. kurangnya penguasaan teknologi dan
  4. ketersediaan bahan baku yang tidak memadai. 

Proses Produksi Tanaman Jagung 

Proses produksi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan tanaman jagung dari mulai saat tanam sampai panen.

Faktor kritis yang mempengaruhi proses produksi tanaman yang tidak dapat dikendalikan adalah faktor iklim, sedangkan yang dapat dikendalikan adalah  benih bermutu, varietas unggul, kesuburan tanah dan kultur teknik.  

Oleh karena jagung mempunyai sifat menyerbuk silang, maka untuk mempertahankan kemurnian varietas penanaman suatu varietas hendaknya tidak bersamaan dengan jagung varietas lain yang dapat saling melakukan penyerbukan.  

Jika hal ini terjadi dapat menyebabkan hasil atau sifat bijinya tidak seperti yang diharapkan.   

Cara ini disebut dengan cara isolasi baik isolasi  tempat dengan jarak minimum 300 meter atau  isolasi waktu yaitu menanam dengan memperhitungkan jarak waktu dengan pertanaman jagung yang lain.  

Selain itu, faktor kesuburan tanah yang berkaitan dengan kultur teknis juga menentukan keberhasilan produksi jagung.  

Misalnya pemberian pupuk baik waktu dan dosisnya harus tepat, sehingga mampu menghasilkan jagung dengan kuantitas dan kualitas yang baik. 

Perencanaan Pembiayaan Yang Tidak Tepat 

Perencanaan pembiayaan yang tidak tepat.  Industri jagung merupakan industri yang relatif tidak memerlukan modal yang besar, mudah pengolahannya dan dengan tingkat penerapan teknologi sedang.  

Namun peluang kegagalan dalam industri ini dapat saja terjadi, oleh karena faktor alam dan saprodi sangat mempengaruhi berlangsungnya produksi jagung, serta faktor perencanaan tanam yang harus tepat.  

Disamping itu, faktor manajemen perusahaan itu sendiri akan menjadi faktor penentu apabila perencanaan pembiayaannya tidak tepat. 

Kurangnya Penguasaan Teknologi   

Kurangnya penguasaan teknologi selain teknologi produksi, yaitu teknologi pasca panen maupun pada waktu prosesing, merupakan faktor penyebab kegagalan.  

Cara penyimpanan jagung sebelum diproses atau diolah merupakan hal yang penting.  

Karena sifat komoditi jagung mudah rusak dan mutu jagung akan menurun jika tidak dilakukan penanganan pasca panen dengan baik.

Selanjutnya tahapan penanganan panen juga termasuk titik kritis, karena pemanenan yang tidak tepat (seperti penentuan waktu dan kadar air dalam biji ) berpengaruh terhadap proses pengolahan yang akan berakibat secara langsung juga terhadap mutu jagung atau pakan menjadi kurang baik. 

Ketersediaan Bahan Baku Yang Tidak Memadai 

Faktor ketersediaan bahan baku (jagung) untuk industri pakan ternak yang tidak memadai dalam kualitas, kuantitas, kontinuitas serta tingkat harga menjadi satu titik kritis yang juga perlu diantisipasi.  

Ketersediaan tersebut relatif rentan apabila sebagian bahan baku berasal dari bahan baku yang diimpor.  

Hal ini akan berpengaruh terhadap berlangsungnya proses industri pakan itu sendiri. 

Oleh karena itu, peluang pasar untuk komoditas jagung pipilan masih terbuka lebar.  

Kebutuhan jagung di dalam negeri cukup tinggi, sementara persediaan domestik masih kurang, sedangkan harga jagung impor dirasa cukup tinggi karena krisis di dalam negeri masih belum terselesaikan.  

Industri jagung pipilan memiliki prospek yang sangat baik karena ada kecenderungan industri pakan meningkat dengan meningkatnya kebutuhan akan ternak (seperti ayam ras, dan lain-lain) sebagai sumber protein hewani penduduk Indonesia untuk konsumsi mereka sehari-hari.

KONDISI MIKRO BERBASIS KOMODITAS JAGUNG 

Tanaman jagung mempunyai berbagai manfaat tidak saja dari biji atau kernelnya sendiri yang dapat langsung dikonsumsi, namun juga dari hasil ikutannya (by product).  

Bagan industri jagung

Pada Gambar, disajikan bagan pohon industri jagung yang menampilkan berbagai hasil industri beserta jenis industri yang memproses bahan yang berasal dari jagung.   

Diawali dari jagung semi atau jagung muda (baby corn), merupakan hasil tanaman jagung yang paling cepat dapat dipanen  ± 55 Hari Setelah Tanam (HST).  

Jagung semi ini dipanen sebelum terjadi pengisian biji jagung.  Pada saat ini janggel masih muda, lunak dan rasanya agak manis.

Jagung semi dimanfaatkan untuk sayur. 

Jagung muda rebus, biasanya dari jenis jagung manis (sweet corn), dipanen pada awal pengisian biji sampai masak susu, kira-kira pada umur 70 HST.   

Jagung tua, umumnya dipanen untuk tujuan memanfaatkan biji/kernel kering. Biji kering jagung dapat diproses lebih lanjut setelah dipipil.

Produknya dapat berupa makanan ternak atau ransum unggas, pati jagung yang masih dapat diproses lanjut menjadi tepung maizena, dektrin dan gula jagung atau sirup jagung.  

Selain itu biji kering juga dapat diproses menjadi minyak jagung.

Hasil ikutan (by product) tanaman jagung yang berupa janggel (corn cops) dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak pemamah biak seperti sapi dan kambing, karena janggelnya mengandung karbohidrat yang dapat menggantikan rumput atau sebagai tambahan menu pakan.  

Selain itu, janggel dapat digunakan sebagai media tumbuh atau bahan untuk membuat pupuk organik/alami. 

Daun jagung merupakan pakan ternak yang dapat dikonsumsi segar maupun dalam bentuk kering.  

Selain sebagai pakan, daun jagung dapat dibuat sebaga bahan kerajinan bunga kering untuk hiasan.  

Di samping itu, daun jagung juga bermanfaat sebagai bahan pembuatan pupuk organik/alami.

Batang jagung yang masih muda juga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, sedangkan batang yang sudah tua dan kering untuk bahan pengganti kayu bakar.  

Kelobot atau kulit jagung yang muda juga dimanfaatkan untuk pakan ternak, sedangkan kelobot tua dan kering dapat dijadikan bahan kerajinan bunga kering, serta dapat juga digunakan untuk bahan pembungkus dodol. 

Dari uraian pohon industri di atas, jelas bahwa tanaman jagung mempunyai kegunaan yang banyak sehingga dapat menghasilkan suatu bahan sebagai penggerak industri dari tingkat bawah (seperti industri rumah tangga), industri tingkat menengah (seperti industri makanan), maupun industri tingkat atas (contohnya industri pakan ternak, industri farmasi dan kimia). 

Diversifikasi Produk Jagung 

Dibandingkan dengan komoditas tanaman lainnya, jagung mempunyai kegunaan yang sangat beragam. 

Hampir semua bagian tanaman jagung mempunyai nilai ekonomi, antara lain biji, daun, batang, tongkol, bahkan juga akarnya (CIMMYT, 2001).  

Pada umumnya jagung digunakan untuk bahan pangan, selain digunakan sebagai bahan pangan yang dapat dikonsumsi secara langsung, juga dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, baik industri pengolahan pakan, makanan, tekstil, farmasi maupun kimia (Winarno, 1988).  

Di Indonesia, awalnya penggunaan jagung masih didominasi untuk konsumsi langsung, selanjutnya secara bertahap penggunaan untuk industri pengolahan pakan dan makanan menunjukkan proporsi yang semakin meningkat. 

Berdasarkan bentuk produk jagung yang dihasilkan petani, selain jagung pipilan dan jagung kering berkelobot, terdapat juga jagung basah berkelobot yang umumnya ditujukan untuk konsumsi segar.   

Namun jika dilihat dari sisi tanaman jagung sebagai pakan ternak, tanaman jagung banyak manfaatnya.  

Salah satunya jerami sebagai limbah tanaman jagung dapat digunakan sebagai pakan ternak.  

Peningkatan produksi jagung berarti pula peningkatan limbah, baik berupa jerami maupun tongkol jagung.  

Akhir-akhir ini jerami sangat banyak digunakan karena berkurangnya ketersediaan hijauan akibat keterbatasan lahan dan berkembangnya populasi ternak ruminansia.  

Jerami jagung setelah jagung dipanen merupakan salah satu sumber makanan ternak yang banyak disukai peternak.    

Menurut  BPS (2000), perkiraan produksi limbah jagung dibandingkan limbah lainnya untuk daerah Jawa Barat mempunyai luas pertanaman pada tahun 1999 adalah 147.661 ha dengan hasil bahan kering ± 0,71 ton/ha dan totalnya 418.314 ton. 

Peta Komoditas Jagung 

Propinsi sentra produksi jagung dibagi atas tiga kelompok di bawah ini.

Propinsi A        :     Sumut, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulsel (6 Propinsi).

Propinsi B        :     Sumbar, Sumsel, DI. Yogyakarta dan Bali (4 Propinsi).

Propinsi C        :     NTB, NTT, Sulut, Sulteng dan Sultra (5 Propinsi). 

Pemerintah dalam usaha pengembangan tanaman jagung mulai mengembangkan daerah  sentra produksi jagung dengan sistem rayonisasi, yang terdiri atas lima rayon.

Daerah tersebut meliputi Sumatera Utara, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Daerah Sentra Produksi, Luas Pertanaman dan Produksi Jagung Tahun   2000 Berdasarkan Rayonisasi

No.

Rayon

Luas (Ha)

Produksi (Ton)

1.

2.

3.

 

4.

 

5.

Sumatera Utara (Medan, Kabanjahe)

Lampung (Metro, Lampteng, Lampsel)

Jawa Tengah (Grobogan, Purworejo, Kendal,

Temanggung, Semarang)

Jawa Timur (Kediri, Malang, Bojonegoro, Tuban, Pasuruan, Lamongan, Probolinggo)

Sulawesi Selatan (Ujung Pandang)

221.906

382.401

581.893

 

1.170.481

 

241.969

665.764

1.122.954

1.713.805

 

3.487.735

 

633.020

Sumber :  Balai Penelitian Tanaman Pangan, 1999

PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI SECARA UMUM 

Pasokan dan Permintaan Jagung. 

Dalam beberapa tahun terakhir, tanaman jagung mendapat perhatian yang cukup besar dari pemerintah karena adanya lonjakan-lonjakan harga jagung yang cukup berarti sebagai akibat resesi ekonomi Indonesia.  

Sementara itu luas panen jagung selama lima tahun terakhir cenderung menurun, meskipun produksi jagung nasional relatif meningkat dengan penggunaan benih bermutu dari varietas unggul baik hibrida maupun varietas bersari bebas.

Luas Pertanaman Jagung, Produktivitas, dan Produksi Jagung Indonesia Tahun 1996 – 2000.

No

Tahun

Luas Panen  (ha)

Pening-katan     (%)

Produksi (ton)

Pening- katan (%)

Produk-   tivitas (ton/ha)

Pening-  katan (%)

1

1994

3.047.348

-

6.752.146

-

2,21

-

2

1995

3.595.700

17,99

8.142.863

20,6

2,26

2,22

1

1996

3.685.459

2,5

9.200.807

12,99

2,49

10,1

2

1997

3.301.795

- 10,41

8.671.647

-5,75

2,62

5,15

3

1998

3.712.286

12,43

9.729.558

12,20

2,62

0

4

1999

3.456.357

- 6,89

9.204.036

- 5,40

2,75

5,32

5

2000

3.500.318

1,27

9.676.899

5,14

2,77

0,44

Rata-rata

3.471.323

2.82

8.768.279

6,63

2,53

3,87

Sumber : BPS, 2001 

Namun demikian, peningkatan produksi tersebut belum mampu mengimbangi permintaan jagung yang semakin meningkat, sehingga masih memerlukan tambahan dari impor.  

Meningkatnya penyediaan dan kebutuhan akan jagung dalam negeri disebabkan adanya peningkatan permintaan bahan baku pakan ternak, bahan baku industri pengolahan jagung, serta peningkatan konsumsi.

Berikut ini disajikan data perkembangan produksi  dan  permintaan jagung tahun 1980 – 2000.

Produksi dan Permintaan Jagung Nasional Tahun 1980 – 2000

No

Tahun

Produksi (000 ton)

Permintaan ( 000 ton )

1

1980

3.991

3.894

2

1985

3.099

5.246

3

1990

5.389

6.790

4

1995

6.360

6.408

5

2000

9.344

7.149

Sumber : BPS, 2001 

Pemanfaatan Jagung 

Komoditas jagung dalam pemanfaatannya dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu sebagai bahan pangan, bahan baku pakan ternak, bahan baku industri olahan dan sebagai bahan tanaman atau benih.  

Sebagai bahan pangan, jagung merupakan sumber karbohidrat kedua setelah beras.  

Pemanfaatan jagung sebagai bahan pangan dapat ditingkatkan dengan diversifikasi makanan dari jagung.  

Saat ini di daerah tertentu di Indonesia, yang paling banyak dikonsumsi sebagai bahan makanan pokok adalah jagung pipilan.  

Hal ini memberikan indikasi pemakaian jagung sebagai bahan pangan masih tinggi.  

Namun secara keseluruhan, ada kecenderungan konsumsi jagung di tingkat rumah tangga semakin menurun.

Berdasarkan kegunaannya, secara rinci pemanfaatan jagung di Indonesia selama kurun waktu lima tahun dapat dilihat pada Tabel.  

Pemanfaatan Jagung di Indonesia Tahun 1996 - 1999

Tahun

Stok (ribu ton)

Pemanfaatan

Bahan Makanan

Industri Olahan

Benih

Pakan

Tercecer

Ribu ton

%

Ribu ton

%

Ribu ton

%

Ribu ton

%

Ribu ton

%

1996

9.902

6.901

67,7

1.805

18,2

102

1,1

594

6

495

5

1997

9.854

7.250

73,6

1.419

14,4

90

0,9

591

6

493

5

1998

9.857

8.401

85,2

264

 2,7

108

1,1

591

6

493

5

1999

9.731

8.299

85,3

264

 2,7

97

1,0

584

 6

487

5

Sumber : Neraca Bahan Makanan, BPS. 

Sebagian besar jagung yang dipergunakan sebagai bahan pangan, masih menunjukkan pentingnya jagung sebagai bahan pangan terutama pada saat krisis ekonomi.  

Hal ini sekaligus menunjukkan pentingnya jagung dalam rangka diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan bahan makanan pokok yaitu beras.  

Sementara itu, pemanfaatan jagung sebagai bahan industri olahan selama lima tahun terakhir kelihatan menurun.  

Keadaan ini kemungkinan disebabkan adanya resesi ekonomi akhir-akhir ini, mengakibatkan perusahaan. industri olahan jagung banyak yang mengurangi atau menghentikan produksinya,  sedangkan persentase pemanfaatan biji jagung sebagai benih maupun bagian yang tercecer tidak menunjukkan perubahan yang drastis.  

Demikian juga penggunaan jagung sebagai pakan nampaknya tetap stabil. 

Kondisi Parameter Ekonomi Makro Industri Jagung 

Kebutuhan jagung dalam negeri sebagian besar dipenuhi oleh jagung produksi dalam negeri.   

Dengan melihat peningkatan produksi jagung dari tahun 1999 yang sangat baik yaitu dari  -5,40% menjadi 5,14% pada tahun 2000.  

Hal ini menunjukkan peluang untuk memenuhi permintaan domestik dan internasional, walaupun sampai saat ini Indonesia masih melakukan impor jagung. 

Namun seiring dengan meningkatnya kebutuhan industri pakan akan komoditi jagung, maka jagung lokal masih belum memenuhi kebutuhan domestik walaupun terjadi peningkatan produksi, sehingga Indonesia akan tetap melakukan impor jagung dalam jumlah yang cukup besar untuk setiap tahunnya. 

Impor jagung Indonesia berfluktuatif dan cenderung meningkat selama periode tahun 1996–2000.  

Data menunjukkan volume dan nilai impor jagung terbesar pada tahun 2000.  

Hal ini terjadi dikarenakan tingkat suplai jagung lokal tidak mampu mencukupi kebutuhan domestik.  

Volume dan nilai impor jagung terendah terjadi pada tahun 1998, namun kemudian meningkat signifikan, yang semula 313.630.562 kg menjadi 617.805.972 kg (80.259.923 US $) pada tahun 1999 dan 1.256.575.026 kg (157.949.067 US $) pada tahun 2000.  

Negara importir jagung terbesar adalah China, Argentina, Vietnam dan Amerika selama periode tersebut.

Volume dan Nilai Impor Jagung Indonesia, 1996 - 2000

Keterangan

1996

1997

1998

1999

2000

Total

Total Volume Impor (kg)

616.781.364

1.098.353.438

313.630.562

617.805.972

1.256.575.026

3.903.146.362

Total Nilai Impor (US $)

132.886.242

171.674.409

47.828.698

80.259.923

157.949.067

590.598.339

Sumber : BPS 2000, diolah  

Grafik Impor Jagung
Grafik Perkembangan Impor Jagung Indonesia, 1996-2000 

Selain melakukan impor jagung, Indonesia juga mengekspor jagung kebeberapa negara.   

Dari data menunjukkan ekspor jagung Indonesia selama periode 1996-2000 mengalami kecenderungan menurun berdasarkan nilai dan volume ekspornya.  

Namun volume dan nilai ekspor terbesar terjadi pada tahun 1998 yaitu sebesar  624.792.000 kg (65.452.000 US $) dan terendah pada tahun 1997 adalah 18.957.000 kg (10.885.000 US $).  

Negara tujuan ekspor terbesar selama periode 1996-2000 adalah Belanda dan Filipina (BPS, 2000)

Volume dan Nilai Ekspor Jagung Indonesia, 1996 - 2000

Keterangan

1996

1997

1998

1999

2000

Total

Total Volume Ekspor (kg)

26.882.207

18.956.951

624.792.193

90.646.845

28.038.872

789.257.068

Total Nilai Ekspor (US $)

5.266.464

10.885.417

65.452.328

11.035.061

4.984.331

97.623.601

Sumber : BPS 2000, diolah.

grafik import jagung
Grafik Perkembangan Ekspor Jagung Indonesia, 1996 - 2000 

Total permintaan jagung diperkirakan akan terus meningkat, seiring dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk industri pangan dan pakan ternak.  

Hal ini dapat dilihat dari impor Indonesia tahun 1999 yang mencapai 80.319.320 US $.  

Sampai bulan Oktober 2000 impor jagung sudah mencapai 92.227.060 US $ dengan volume 741.874 ton.

Saat ini Indonesia hanya mampu memproduksi jagung sebanyak 2,6-2,7 ton/ha padahal di USA mencapai 8,4-8,6 ton/ha, China mencapai 5,4 ton/ha, sedangkan dengan Thailand mencapai 3,5 ton/ha.  

Teknologi produksi di Indonesia masih ketinggalan dibandingkan dengan USA atau bahkan Argentina atau Brazil.

Hal ini mengindikasikan Indonesia akan terus mengimpor jagung di masa mendatang dengan meningkatnya kebutuhan pakan. 

Saat ini Indonesia masih melakukan impor jagung walaupun produksi jagung secara nasional telah dapat memenuhi kebutuhan jagung untuk benih, industri olahan, pangan dan pakan ternak.  Impor secara besar pada bulan-bulan tertentu atau diluar masa panen raya tetap dilakukan oleh industri pakan ternak, karena mereka selalu mengalami kesulitan bahan baku pada saat itu.  

Untuk memperkecil nilai impor, Indonesia terus mencoba meningkatkan produksinya.  

Pada tahun 2000, produksi jagung  Indonesia mencapai 9.344.826 ton.  

Namun produksi tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan industri pakan yang meningkat lebih cepat dibandingkan perkembangan produksi jagung Indonesia.  

Usaha untuk menekan impor adalah dengan percepatan pengembangan produksi jagung hibrida dalam skala luas, penyediaan produksi jagung yang teratur dan berkesinambungan serta pola pengembangan kemitraan agribisnis. 

Perkembangan yang menunjukkan semakin membaik pada kondisi makro ekonomi membawa implikasi yang positif  bagi dunia peternakan, khususnya peternakan unggas dan industri pakan.

Usaha peternakan khususnya industri perunggasan dalam sejarah perkembangannya mengalami pasang surut sejak tahun 1970 hingga saat ini.  

Usaha ini mencapai puncaknya pada tahun 1997 dan kemudian menurun drastis pada tahun 1998 sampai 1999 sebagai akibat adanya krisis moneter yang menyebabkan industri perunggasan hampir bangkrut, bahkan hampir 80% peternak-peternak kecil dan menengah gulung tikar, namun pada akhir tahun 1999 dan 2000 usaha perunggasan mulai bangkit kembali sebagai implikasi semakin baiknya kondisi makro ekonomi dan stabilitas politik dalam negeri. 

Industri pakan sebagai subsistem hulu dari industri unggas mengalami fenomena yang sama dengan yang dihadapi industri unggas.

Industri pakan di Indonesia mengalami fase pertumbuhan yang cukup pesat seiring dengan perkembangan industri ayam ras yang dalam waktu singkat tumbuh dengan pesat.  

Kebutuhan pakan ternak diperkirakan mencapai 4,3 juta ton per tahun dan disaat kondisi optimal dapat mencapai 5,5 juta ton per tahun.

Namun produksi riil baru mencapai sekitar 2,1 juta ton per tahun, yang berarti masih terjadi kelebihan permintaan (excess demand) yang berarti masih terbukanya peluang perluasan usaha dalam industri pakan ternak.

Grafik import jagung

Sebagai ilustrasi berikut ini disajikan konsumsi pakan ternak tahun 1990-2000 dalam juta ton/tahun. 

Nampak bahwa konsumsi pakan paling tinggi terjadi pada tahun 1996 sebesar 6-5 juta ton, kemudian pada tahun 1997 menurun seiring dengan terjadinya krisis pada pertengahan 1997.  

Konsumsi pakan yang sangat rendah terjadi pada tahu 1998 yaitu hanya 2,6 juta ton, kemudian pada tahun 1999 mulai meningkat lagi sebesar 3,7 juta ton dan pada tahun 2000 konsumsi pakan mencapai 4,6 juta ton.  

Diharapkan konsumsi pakan pada tahun 2001 akan terus meningkat, yang berarti industri pakan dan perunggasan Indonesia mulai bangkit.

 import jagung

Grafik Konsumsi Pakan Ternak (juta ton), Tahun 1999-2000  (MMA, 2001) 

Terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi peningkatan produksi pakan unggas, yaitu komoditas telur dan daging ayam yang berkembang lebih luas akan berlanjut terus, sehingga kebutuhan pakan akan bertambah serta adanya situasi kondusif yang mendorong peternak/investor untuk mengembangkan usaha dibidang perunggasan. 

Industri pakan di Indonesia selama ini masih mengandalkan bahan baku impor karena persediaan bahan baku lokal sangat terbatas.  

Oleh karena itu disaat krisis moneter dengan terjadinya depresiasi rupiah yang signifikan, industri pakan mengalami pukulan yang hebat.  

Kestabilan makro ekonomi dan sosial politik secara keseluruhan sangat menentukan kondisi nilai tukar rupiah.  

Industri pakan merupakan salah satu industri yang cukup responsif terhadap perkembangan nilai tukar.   

Pemulihan yang terjadi pada kondisi perekonomian nasional telah mampu menggairahkan industri pakan sebagai industri hulu dari industri unggas. 

Pertumbuhan penduduk merupakan satu faktor makro yang juga mempengaruhi pertumbuhan industri peternakan secara keseluruhan.  

Data yang ada menunjukkan bahwa pada lima tahun terakhir rata-rata pertumbuhan penduduk Indonesia adalah sebesar 1,66%/tahun.

Sementara itu laju pertumbuhan ekonomi sampai pertengahan tahun 1997 meningkat 7%/tahun, yang kemudian menurun bahkan negatif sejak terjadinya krisis moneter. 

Pemulihan ekonomi yang tampak telah menimbulkan optimisme dalam perekonomian nasional memiliki implikasi yang besar terhadap perkembangan industri pakan nasional.

Apabila proses pemulihan terus dapat berlangsung dan pertumbuhan ekonomi terus membaik maka tingkat pendapatan masyarakat akan naik dan sekaligus mendorong daya beli masyarakat.  

Dengan tingkat pendapatan yang semakin membaik tersebut serta pengetahuan masyarakat yang semakin positif terhadap komoditi perternakan maka permintaan terhadap komoditas peternakan, termasuk unggas, dapat diprediksi akan mengalami pertumbuhan yang positif.

Peningkatan permintaan pada industri unggas akan secara langsung berimplikasi terhadap permintaan pakan sebagai permintaan turunannya (derived demand). 

Persepektif Ekonomi Bisnis Industri Jagung 

Berdasarkan data dari Pusat Studi Ekonomi/PSE  (1997) pada tahun 1970 tingkat konsumsi jagung tercatat sebesar 28,98 kg/kapita/tahun, kemudian turun menjadi 15,75 kg pada tahun 1980 dan pada tahun 1990 menurun menjadi 8,48 kg terus menurun pada tahun 1993 menjadi 5,93 kg.  

Saat ini sekitar 2,5 juta ton jagung dipakai untuk ternak dan 3,9 juta  ton untuk tanaman pangan lainnya, sedangkan di negara ASEAN dari total pemakaian jagung sebesar 18,6 juta ton.  

Sebanyak 13,9 juta ton (75%) digunakan untuk pakan (U.S. Grains Council, 1999).  

Jagung memiliki potensi sebagai bahan baku berbagai industri makanan, minuman dan farmasi.  

Permintaan jagung sebagai bahan baku untuk industri rumah tangga diperkirakan cukup besar dan akan terus meningkat.  

Bahkan saat ini jagung menjadi sumber minyak nabati yang memiliki keunggulan kandungan kolesterol yang lebih rendah dibandingkan minyak nabati sawit dan kelapa. 

Sementara itu, untuk proses produksi jagung, diperlukan bahan tanaman atau benih jagungnya sendiri sebagai salah satu sarana produksi yang utama.

Dengan meningkatnya penanaman jagung, atau meningkatnya kesadaran petani untuk menggunakan benih unggul, maka keperluan benih jagung akan terus meningkat.  

Dengan semakin meningkatnya teknologi pengolahan jagung, baik diversifikasi makanan, pakan ternak dan industri pangan maka permintaan jagung akan meningkat.  

Dengan kondisi ini maka kekhawatiran akan merosotnya harga jagung akan berkurang sehingga akan meningkatkan pendapatan petani.  

Hal yang menghambat dalam peningkatan produksi jagung Indonesia adalah belum adanya suatu jaminan pemasaran hasil.

Sistem kemitraan dengan industri terkait merupakan solusi yang menjanjikan untuk petani dalam meraih peluang pasar jagung. 

Potensi lain yang dimiliki jagung adalah sebagai bahan baku pakan ternak.  

Dalam hal ini peningkatan pemanfaatan jagung umumnya sejalan dengan meningkatnya industri pakan terutama yang ditujukan untuk pakan ayam ras baik pedaging maupun petelur.  

Harga pasar di Indonesia memiliki fluktuasi yang jelas, yaitu ketika musim tanam jagung (musim hujan)  harga kemungkinan jatuh namun periode berikutnya harga akan meningkat sehingga industri pangan dan pakan dalam pemenuhannya akan mengimpor dari negara produsen jagung lainnya.

Kebijakan Pemerintah Dalam Komoditas Jagung

Kebijakan Pengembangan Jagung. Pengembangan komoditas jagung sejalan dengan arah kebijakan pemerintah di bidang pertanian, yaitu untuk mewujudkan pertanian yang berkebudayaan industri dengan pendekatan sistem agribisnis, dan dicirikan oleh kemampuan dalam mensejahterakan petani dalam mendorong pertumbuhan sektor terkait dan ekonomi nasional secara menyeluruh.  

Dengan mengacu pada arah pembangunan pertanian dan pengembangan jagung nasional, maka kebijakan operasional adalah sebagai berikut.                        

Menerapkan pola kemitraan para pelaku dari hulu sampai hilir, yaitu petani sebagai mitra tani, KUD, swasta, BUMN sebagai mitra media, pabrik pakan sebagai mitra industri.  

Kemitraan tersebut harus saling menguntungkan, berlanjut dan saling membina.

Pertanaman jagung hibrida dikonsentrasikan pada sentra produksi jagung dan tersedianya pabrik pakan serta tetap memperhatikan keseimbangan pengembangan Kawasan Barat dan Kawasan Timur Indonesia.  

Penyebaran pertanaman jagung komposit ditempatkan pada sentra produksi dimana belum ada pabrik pakan dan prasarananya relatif belum memadai sehingga produksi dapat diserap oleh pasar lokal sebagai gerakan awal untuk lebih mempercepat peningkatan produksi dan pendapatan petani jagung. 

Untuk menjamin penerapan rekomendasi teknologi pada MT 1996/97 dan MT 1997, petani peserta program diberikan paket benih dan pupuk secara natura terutama melalui pencairan KUT (pola khusus dan pola umum).

Untuk menjamin pendapatan petani dan stabilitas harga jagung serta kontinyuitas pasokan jagung kepada pabrik pakan, maka ditetapkan adanya Harga Kesepakatan ditingkat Petani (HSP) dan Harga Kesepakatan ditingkat Industrik (HIS).

Harga kesepakatan tersebut bergerak antara Harga Terendah (HTR) dan Harga Tertinggi (HTT). HTR adalah ongkos produksi jagung/kg ditambah keuntungan petani 20%.  HTT adalah harga jagung impor sampai tingkat pabrik pakan.             

Untuk menjamin mutu produksi pakan ternak diperlukan mutu jagung sesuai standar yang telah ditetapkan sebagai bahan baku sehingga penanganan pascapanen harus diintensifkan.                                              

Untuk mempercepat terwujudnya pengembangan pertanaman jagung perlu memperkuat kelembagaan pedesaan sebagai mitra terutama kelompok tani dan KUD termasuk merangkul para tengkulak di pedesaan, organisasi penjual jasa alat mesin pertanian dan lain-lain. 

Pola Kemitraan Usaha Jagung 

Pola kemitraan antara petani sebagai produsen jagung dengan pengusaha swasta baik sebagai penyedia saprodi, benih, serta usaha pelayanan jasa lainnya, maupun industri pengolahan jagung, menjadi sangat penting.  

Disamping itu, peran pemerintah untuk menunjang sub-sub sistem tersebut di atas seperti penelitian, penyediaan prasarana, penyuluhan dan pendampingan, serta lain-lain juga sangat diperlukan.  

Menurut Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan (2001), pola kemitraan petani jagung tersebut dapat dikembangkan sebagai empat sub sistem, yaitu (1) sub sistem hulu (penyediaan sarana produksi), (2) sub sistem usahatani (proses produksi dan jasa), (3) sub sistem hilir (pengolahan dan pemasaran), serta (4) sub sistem penunjang (dengan melaksanakan penelitian, prasarana, penyuluhan), dan sebagainya.  

Beberapa contoh pola kemitraan yang mungkin diterapkan, antara lain dijelaskan seperti berikut ini.

Pola kemitraan dengan Perusahaan Pembimbing Pengelola 

Kemitraan dengan pola pengelolaan adalah suatu bentuk kemitraan dimana perusahaan pembina memberikan suatu bimbingan teknologi/pengelolaan usahatani, bantuan sarana, kredit dan pemasaran hasil kepda petani binaannya melalui kelompok tani atau gabungan kelompok tani.

Pola Kemitraan dengan Perusahaan Pembimbing Penghela 

Pola perusahaan pembimbing penghela melakukan kemitraan dengan kelompok tani hanya memberikan suatu bimbingan teknologi pengelolaan usaha tani dan pemasaran produksi.

Bantuan sarana produksi dan kredit diperoleh petani dari pihak lain atau secara swadana.

Dalam melaksanakan bimbingan teknologi pengelolaan usahatani dan pemasaran hasil produksi maka perusahaan pembimbing tetap menggunakan mitra media yang akan berhubungan secara langsung dengan kelompok tani. 

Pola Kemitraan dengan Perusahaan Inti Rakyat 

Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR) adalah pola kemitraan yang dilakukan oleh perusahaan yang bergerak di bidang usaha tani sampai dengan pemasaran hasil yang bertindak sebagai inti dan petani/kelompok tani sebagai plasma dalam suatu sistem kerjasama yang saling menguntungkan, utuh dan berkesinambungan.

Perusahaan inti melaksanakan fungsi bimbingan, pengelolaan, pelayanan sarana produksi petani, kredit dan pemasaran hasil disamping mengusahakan usahatani sendiri.

Pola Kemitraan dengan Sistem Bayar Panen (Yarnen) 

Kemitraan dengan perusahaan Sistem Yarnen dilaksanakan oleh petani/kelompok tani dengan perusahaan dalam lingkup kerjasama yang tidak terlalu besar.

Perusahaan yang mungkin melakukan pola kemitraan ini antara lain : Perusahaan Swasta, BUMN, Pengusaha/Kios Saprodi (benih, pupuk, penjual jasa transportasi (saprodi dan hasil panen), penjual jasa pemipilan jagung (corn sheller), pelepas uang, penampung hasil pertanian, tengkulak dan lain-lain.

Mekanisme kerja dari pola kemitraan yang diterapkan  pada dasarnya sangat sederhana.  Perusahaan mempunyai debitur (petani) tetap sebanyak 40-50 orang (1-2 kelompok) dengan memberikan pinjaman modal kerja yang akan dibayar setelah panen dalam bentuk natura atau tunai.

Pola Kemitraan dengan Mitra Media 

Pola kemitraan dengan mitra media dilakukan oleh perusahaan hanya dalam bentuk pemasaran hasil produksi melalui mitra yang akan berhubungan secara langsung dengan kelompok tani.  

Penentuan harga jagung minimal yang diterima petani pada saat panen tiba atau bila harga saat panen naik biasanya berdasarkan harga kontrak yang telah disepakati. 

Bila pola ini akan dikembangkan sama seperti pola Perusahaan Pembimbing Penghela maka lembaga/instansi pendukung yang akan mengadakan dan menyalurkan sarana produksi dan permodalan untuk petani harus terjamin.

Kebijakan Impor Jagung 

Sejak awal, Indonesia terlambat melakukan antisipasi meningkatnya permintaan jagung karena pemerintah lebih mengutamakan pengadaan jagung sebagai pangan langsung untuk manusia terutama untuk wilayah Indonesia bagian timur.

Namun  di sisi lain, pemerintah mendorong pertumbuhan industri unggas. Setelah dibukanya kebijakan impor bibit unggul dan kemudian pemerintah juga membuka kesempatan investasi yang luas bagi para penaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanam modal asing (PMA) membuat industri unggas mulai bangkit.

Akibat kebijaksanaan ini, dengan segera bermunculan industri pembibitan unggas dan industri pakan skala besar.

Industri unggas segera mengalami pertumbuhan spektakuler, tetapi Indonesia tidak siap dan belum mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan tersebut.

Sebagai jalan keluar permasalahan tersebut, pemerintah membuka keran impor sekalipun menerapkan tarif bagi impor tersebut.  

Walaupun demikian sebenarnya PMA dibebaskan tarif impor beberapa tahun setelah beroperasi di Indonesia.  

Hal ini mendorong meningkatnya impor jagung yang sangat besar, dan menjatuhkan harga jagung petani dalam negeri.

Untuk menyelamatkan produksi dalam negeri maka pemerintah menetapkan harga dasar jagung pada waktu itu.  

Tetapi setelah beberapa tahun kemudian, yaitu tahun 1990, peraturan harga dasar jagung dicabut karena tidak efektif.

Kebijakan Harga dan Produksi Domestik serta Dampaknya 

Pada tahun 1985, pemerintah pernah menetapkan harga dasar jagung dengan pertimbangan untuk menyelamatkan petani dan pengadaan jagung bagi kebutuhan pakan ternak.  

Kebijakan ini diterapkan bersamaan dengan ditunjuknya Bulog oleh pemerintah sebagai importir tunggal.  

Sebenarnya dengan kebijaksanaan itu, Bulog mempunyai peran dalam perdagangan  jagung yang sangat besar, karena menguasai perdagangan bahan utama peternakan, sehingga diharapkan Bulog dapat membantu menyelamatkan peternak rakyat yang sulit mendapatkan jagung dengan harga relatif murah. 

Pada tahun 1990, pemerintah mencabut harga dasar jagung dan melepaskannya ke pasar bebas.

Penetapan harga dasar selama ini dinilai tidak efektif karena perdagangan jagung ini sudah dikendalikan oleh pedagang-pedagang dan industri pakan.  

Pada saat itu harga jagung dunia relatif rendah, sehingga industri pakan tidak bersedia membeli jagung yang dikumpulkan Bulog.

Tetapi enam tahun kemudian, impor jagung terus meningkat cepat, sementara produksi dalam negeri relatif tidak banyak berubah.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah kemudian mengambil inisiatif dengan mengeluarkan kebijakan yang disebut dengan terobosan pengembangan jagung hibrida dan komposit pada tahun 1996-1997.

Hal ini bertujuan untuk meningkatkan produksi jagung dalam negeri sebagai pengganti impor jagung.  

Strategi yang dilakukan adalah memberikan Kredit Natura kepada petani melalui KUT agar petani menanam jagung hibrida yang benihnya disediakan oleh pemerintah.

Sebelum panen, pemerintah telah melakukan kesepakatan harga jagung petani yang harus dibayar oleh industri pakan.  

Namun kebijakan ini tidak bertahan lama, karena pada kenyataannya pada saat panen raya jagung melimpah sehingga harga jual jagung anjlok, jauh dibawah harga kesepakatan.  

Hal ini menyebabkan industri pakan tidak membeli jagung dari petani sesuai dengan kesepakatan. 

Dengan melihat kondisi yang tidak menentu terhadap perkembangan harga maupun produksi jagung, maka Direktorat Jendral Bina Produksi Tanaman Pangan pada tahun 2001 telah menetapkan sasaran/rencana produksi jagung sebesar 11 juta ton (terdiri dari 2 juta ton jagung hibrida/komposit dan jagung lainnya 9 juta ton).

Yaitu dengan meningkatkan luas tanaman jagung hibrida dan komposit dengan sasaran produktivitas sebesar 5,4 ton/ha untuk jagung hibrida dan komposit, serta 2,7 ton/ha untuk varietas jagung bersari bebas. 

Kebijakan dihapuskannya subsidi pupuk dan tarif impor oleh pemerintah berkorelasi positif terhadap menurunnya produksi tanaman pangan khususnya jagung.  

Dan secara bersamaan akan menurunkan insentif bagi petani untuk berproduksi.  

Maka dilihat dari sisi penawaran, berakibat penawaran pangan yang berasal dari produksi domestik cenderung mengalami penurunan.  

Begitu juga dari sisi permintaan, pertumbuhan permintaan jagung lebih rendah tanpa intervensi pemerintah.  

Hal ini disebabkan oleh efek elastisitas silangnya terhadap harga beras, dimana elastisitas permintaan jagung terhadap harga beras positif dan laju kenaikan harga beras tanpa intervensi lebih rendah dari pada dengan adanya intervensi.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa jika subsidi pupuk dan kebijaksanaan harga (proteksi) tanaman pangan secara bersamaan dihapus, maka pertumbuhan produksi akan lebih sulit dipacu. 

Pengawasan Mutu Jagung 

Pemanfaatan komoditas jagung, selain untuk diekspor, dapat dikelompokkan sebagai bahan makanan, bahan baku pakan ternak, bahan baku industri pengolahan, dan untuk bahan tanaman atau lebih umum disebut benih.  

Komoditas jagung (pipilan kering) untuk pangan mempunyai persyaratan standar mutu berdasarkan SNI 01-3920-1995 dan Codex Standar 153/1985, sedangkan sebagai bahan pakan, standar mutu jagung ditetapkan..

Persyaratan Mutu Jagung Untuk Pangan

No

Jenis Uji

Satuan

 

 

 

 

Codex

1

Kadar air

max %

14

14

15

17

15,5

2

Butir rusak

max %

2

4

6

8

7

3

Butir warna lain

max %

1

3

7

10

2

4

Butir pecah

max %

1

2

3

5

6

5

Kotoran

max %

1

1

2

2

1

6

Benda asing

max %

-

-

-

-

2

7

Butir berjamur

max %

-

-

-

-

5

8

Toxin

max %

-

-

-

-

Tidak membahaya- kan kesehatan

Sumber : SNI 01-3920-1995 dan Codex Standard 153/1985 

Persyaratan Mutu Jagung Untuk Pakan

No

Jenis Uji

Satuan

Nilai

1

Kadar air

max %

14,0

2

Kadar protein kasar

min %

7,5

3

Kadar serat kasar

max %

3,0

4

Kadar abu

max %

2,0

5

Kadar lemak

min %

3,0

6

Mitotoksin :

a.   Aflatoxin

b.  Okratoxin

 

max ppb

max ppb

 

50,0

5,0

7

Butir rusak

max ppb

5,0

8

Warna lain

max %

5,0

9

Benda asing

max %

2,0

10

Kepadatan

min kg/cm3

7,0

Sumber : RSNI No.30-TAN-1996

Disamping itu, jagung sebagai bahan tanaman atau benih, mempunyai persyaratan khusus yang lebih rumit, yang akan diuraikan lebih lanjut.

Sebagai barang komersial, benih mempunyai sifat yang sangat khas.  

Mutu benih, terutama mutu genetik dan mutu fisiologi tidak dapat langsung dinilai oleh pembeli seperti terhadap mutu bahan makanan atau pakan.  

Penilaian mutu genetik benih harus melalui tahapan sertifikasi benih yang dimulai sejak awal proses produksi benih bermutu dan melalui pemeriksaan lapangan oleh pengawas benih dari pihak yang berwenang.  

Adapun mutu fisiologis benih dapat diketahui dari hasil pengujian contoh benih di laboratorium yang ditetapkan.

Persyaratan khusus yang diterapkan pada bahan tanaman (benih) ini dikarenakan bahan tersebut berperan dalam hasil akhir baik secara kuantitas maupun kualitas/mutu jagung yang akan dihasilkan. 

Tidak semua benih jagung adalah unggul atau benih bersertifikat, karena tidak semua benih varietas unggul dihasilkan melalui proses sertifikasi.  

Tetapi benih unggul yang dihasilkan dari suatu varietas unggul melalui proses sertifikasi disebut benih bersertifikat.  

Berikut ini disampaikan proses pengawasan mutu benih jagung, melalui sertifikasi benih (secara umum).

Persyaratan Sertifikasi Benih Jagung 

Sebagai landasan pelaksanaan sertifikasi benih adalah SK Menteri Pertanian No.460/Kpts/Org/XI/1971 Jis No.67/Kpts/Org/2/1977 dan No.415/Kpts/Um/7/ 1979,

Surat Keputusan Direktur Jenderal Pertanian Tanaman Pangan No. SK.I.HK 050.84.68 dan No.SK.I.HK. 050.84.70.

Prosedur Sertifikasi Benih Jagung 

Tujuan utama sertifikasi benih adalah menjamin kemurnian genetik dengan cara menilai kemurnian tanaman di lapangan maupun kemurnian benih hasil pengujian laboratorium. Berikut ini diuraikan prosedur sertifikasi benih sesuai dengan Surat Keputusan di atas.

Varietas Tanaman yang Baik untuk Disertifikasi

Suatu varietas hanya dapat disertifikasi apabila telah ditetapkan oleh Menteri Pertanian atas usul Badan Benih Nasional.

Kelas dan Sumber Benih Jagung dalam Sertifikasi

Kelas-kelas benih dalam sertifikasi ialah Benih Dasar (BD), Benih Pokok (BP), dan benih Sebar (BR).  Kelas-kelas benih harus memenuhi standar yang ditetapkan untuk tiap-tiap jenis/varietas tanaman.

Sumber Benih Jagung

Produsen  benih harus melampirkan bukti-bukti tentang kelas dan sumber benih yang akan ditanam kepada Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih pada saat permohonan sertifikasi.

Areal Sertifikasi

Areal sertifikasi adalah areal lahan yang harus dinyatakan dengan jelas tentang luas, letak, dan batas-batasnya. 

Areal sertifikasi boleh terbagi-bagi menurut peraturan-peraturan khusus untuk tiap-tiap jenis tanaman.

Permohonan untuk Sertifikasi Benih Jagung dan Persyaratannya

Permohonan sertifikasi harus disampaikan oleh penangkar benih ke Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih, paling lambat 10 hari sebelum tanam dengan melampirkan bukti-bukti kelas dan sumber benih serta peta areal penangkaran.

Pemeriksaan Lapangan

Pemeriksaan lapangan dilakukan pada taraf pertumbuhan tertentu, sesuai dengan petunjuk pemeriksaan lapang untuk tiap-tiap jenis tanaman.  

Apabila dalam pemeriksaan lapangan terdapat hal-hal yang tidak memenuhi standar lapangan tetapi masih mungkin dibenahi, maka produsen/penangkar benih diijinkan untuk memperbaiki keadaan pertanamannya dan dapat meminta pemeriksaan lapangan ulang setelah perbaikan-perbaikan selesai.

Pengawasan Panen, Pengeringan dan Pengolahan

Peralatan dan/cara panen dan pengolahan diperiksa untuk menjamin bahwa yang dipanen dan diolah tersebut tidak tercampur varietas lain.

Pemeriksaan Gudang dan Tempat Penyimpanan Benih

Pemeriksaan tempat penyimpanan termasuk pemeriksaan gudang dilakukan oleh pengawas benih.

Pemeriksaan dilakukan sebelum benih disimpan. Penangkar benih harus mengajukan pemeriksaan tempat penyimpanan benih kepada Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih, paling lambat satu minggu sebelum dilaksanakan penyimpanan benih.

Pengambilan Contoh Benih

Pengambilan contoh benih hanya dilakukan pengawas benih.

Contoh benih yang diambil harus dari kelompok benih yang seragam mutunya dan mempunyai identitas serta sejarah pembentukan yang jelas.

Pengujian di Laboratorium

Pengujian benih harus dilakukan di Laboratorium Pusat, Laboratorium Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih, atau yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pertanian Tanaman Pangan bila diperlukan.

Laporan

Semua laporan mengenai pemeriksaan lapangan, pengujian benih di Laboratorium dan pemeriksaan tempat penyimpanan, harus dibuat dalam bentuk dan cara yang telah ditentukan.

Pemasangan Label dan Penyegelan Benih Bersertifikat

Penangkar benih akan mendapatkan label benih bersertifikat dari BPSB menurut kelas benihnya, dalam jumlah yang cukup untuk ditempatkan pada setiap wadah dari kelompok benih.

Warna dan Tanda Label untuk Kelas-Kelas Benih Bersertifikat

Kelas dan warna label benih adalah sebagai berikut.

  1. Benih Dasar dengan label warna putih
  2. Benih Pokok dengan label warna ungu
  3. Benih Sebar dengan label warna biru 

Sertifikasi Benih Jagung Hibrida 

Sertifikasi benih jagung hibrida mempunyai prosedur yang spesifik, karena pembentukan maupun perbanyakan/penangkaran benih jagung hibrida ini berbeda dengan benih jagung non hibrida (varietas jagung bersari bebas) atau varietas secara umum.  

Tahapan sertifikasi benih jagung hibrida, agak berbeda dibanding benih jagung bukan hibrida.

Perbedaan-perbedaan tersebut bersumber pada cara penangkaran benihnya karena menggunakan tahapan sertifikasi benih.  

Alasan lainnya karena menggunakan dua macam benih sumber yang berbeda sebagai tetua betina dan tetua jantannya, sehingga pengawasan pada tahapan pemeriksaan lapangan serta standar lapangannya berbeda pula.  

Berikut ini adalah tahapan yang dilakukan dalam sertifikasi jagung hibrida :

Standarisasi Sertifikasi Jagung Hibrida

Jumlah tanaman yang diperiksa dalam satu areal contoh pemeriksaan adalah 100 batang. Setiap tegakan tanaman yang terdapat pada areal contoh diperiksa dengan teliti dan dihitung semua varietas dan tipe simpang, termasuk semua batang yang diserang hama dan penyakit yang ditularkan melalui benih serta semua bunga jantan (yang tepung sarinya telah terbuka) yang tertinggal pada induk betina).

Faktor-faktor yang diperiksa adalah sebagai berikut.

Fase vegetatif

Bentuk dan lebar daun, warna helai daun dan warna batang

Fase generatif

Bentuk dan lebar daun, warna helai daun, warna batang, bentuk tipe bunga jantan,   bentuk tongkol dan bunga jantan (yang tepung sarinya telah terbuka) yang tertinggal pada induk betina.

Pertanaman Materi Induk

Hibrida materi induk

Pemeriksaan lapang sama dengan pertanaman jagung hibrida komersial tetapi ditambah dengan perhitungan varietas lain dan tipe simpang.

Galur untuk materi induk

Pada pemeriksaan lapangan pertanaman galur murni induk, persentase campuran varietas lain dan tipe simpangnya hanya dihitung pada tanaman induk jantannya saja. Sedangkan pemeriksaan terhadap bunga jantan yang tertinggal pada induk betina tidak dilakukan.

Varietas bersari bebas materi induk

Cara pemeriksaan lapangnya dengan jagung bersari bebas.

Perhitungan Persentase Campuran Varietas Lain, Tipe Simpang dan Bunga  Jantan yang Tertinggal pada Induk Betina

Cara menghitung persentase campuran varietas lain dan tipe simpang adalah sebagai berikut.

Menghitung jumlah campuran varietas lain dan tipe simpang dari hasil pemeriksaan seluruh areal contoh pemeriksaan.

Hasil pemeriksaan dinyatakan dengan persen dengan perhitungan : 

Jumlah campuran varietas lain dan tipe simpang   =     1        x       100 %

                   Jumlah contoh pemeriksaan                       100

 

Hasil Pemeriksaan Lapang

Setelah semua tahapan pemeriksaan selesai dilaksanakan, maka hasil setiap tahapan pemeriksaan lapang diisikan pada formulir yang telah disediakan oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih.

Standar Lapang

Pemeriksaan lapang oleh pengawas benih bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya varietas lain atau tanaman lain dan tanaman-tanaman tipe simpang yang diperkirakan dapat mempengaruhi mutu genetik dari calon benih yang sedang ditangkarkan.

Pengawasan dimulai sejak benih sumber akan ditangkarkan dan persiapan areal penangkaran untuk menghindari tercemarnya mutu genetik calon benih.

Areal penangkaran dinyatakan lulus pemeriksaan lapangan apabila hasil penilaian pada pemeriksaan lapangan telah memenuhi standar lapangan.

Sebaliknya, bila tidak memenuhi standar lapangan maka dinyatakan tidak lulus pemeriksaan lapangan.

Penjelasan Singkat Mengenai Isolasi Jarak dan Isolasi Waktu, serta Standar Lapangan

Isolasi Jarak dan Isolasi Waktu

Ketentuan-ketentuan yang ada berkenaan dengan isolasi jarak dan isolasi waktu adalah sebagai berikut.

  1. Pertanaman jagung hibrida yang disertifikasi harus jelas terpisah dari pertanaman varietas lainnya dengan jarak paling sedikit 200 meter.
  2. Isolasi jarak tersebut dapat diperpendek bila penangkaran benih bertambah luas.  Untuk jagung hibrida dapat dilakukan dengan cara menanam induk jantan pada pinggir dan berbatasan dengan blok lainnya.
  3. Apabila dua blok yang berdampingan dan akan menghasilkan benih jagung yang berbeda, maka diperlukan pengaturan tanggal tanam sehingga saat berbunganya berbeda kurang lebih satu bulan dengan demikian tidak terjadi persilangan. 
Standar Lapangan Benih Jagung Hibrida

Standar kemurnian lapangan untuk pertanaman jagung hibrida komersial harus kurang dari 3%. Nilai 3% tersebut diperoleh dari pemeriksaan lapang pertama pada induk betina. Apabila pada pemeriksaan pertama ternyata pertanaman tidak memenuhi standar kemurnian lapangan, maka harus segera dilakukan seleksi cabut (roguing) sesuai pemeriksaan.  Pertanaman jagung hibrida komersial juga dapat dinyatakan tidak lulus dan proses sertifikasinya tidak boleh dilanjutkan bila pada waktu pemeriksaan dalam pertanamannya tersebut terdapat lebih dari 1% induk betina yang menyebarkan tepung sari pada waktu diadakan pemeriksaan atau mencapai 2% selama tiga kali pemeriksaan.

Jenis Perizinan untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanan Modal Asing (PMA)

Surat Persetujuan Penanaman Modal (SP/PMDN)

SP/PMDN diberikan oleh Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua BKPM kepada perusahaan PMDN untuk mempersiapkan pengurusan perizinan lainnya sebelum Izin Usaha Tetap (IUT) dikeluarkan.

Surat Persetujuan Presiden

Surat Persetujuan Presiden tentang permohonan persetujuan penanaman modal PMA diberikan kepada perusahaan PMA melalui Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua BKPM, selanjutnya Meninves/Ketua BKPM akan menerbitkan Surat Pemberitahuan tentang Persetujuan Presiden (SPPP/PMA).

Surat persetujuan ini digunakan untuk melengkapi perizinan lainnya yang diperlukan sebelum diterbitkan IUT.

Surat Persetujuan Pemberian Fasilitas atas Pengimporan Barang Modal/Bahan Baku/Penolong (SP Pabean)

SP Pabean diberikan oleh Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua BKPM kepada perusahaan PMDN atau PMA setelah menyampaikan daftar induk barang modal/bahan baku/penolong melalui PT Suveryor Indonesia.

SP Pabean digunakan untuk memperoleh pembebasan atau keringanan bea masuk atas impor mesin/bahan baku/penolong/yang dipakai dalam proses produksi.

Angka Pengenal Importir Terbatas (APIT)

APIT diterbitkan oleh Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua BKPM.

Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA)

RPTKA diperlukan sebagai dasar bagi Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/ketua BKPM menerbitkan Izin Kerja Tenaga Asing Pendatang (IKTA) yang diperlukan.

Izin Kerja Tenaga Kerja Asing (IKTA)

IKTA diberikan oleh Ketua BKPMD setelah sebelumnya perusahaan memperoleh RPTA dari Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/BKPM.

Izin Usaha Tetap (IUT)

Setiap perusahaan PMDN/PMA yang akan melaksanakan produksi komersil diwajibkan memohon Izin Usaha Tetap (IUT) kepada Menteri Penggerak Dana Investasi/Ketua BKPM.

Prosedur Memperoleh Perizinan untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). 

Sebelum mengajukan permohonan penanaman modal untuk proyek baru baik dalam rangka PMA maupun PMDN, pertama-tama calon investor lebih dahulu mempelajari Daftar Negatif Investasi (DNI).  

Prosedur untuk memperoleh Persetujuan atau Izin yang dikeluarkan Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua BKPM sebagai berikut.

Surat Persetujuan Penanaman Modal (SP/PMDN)

Permohonan proyek baru PMDN diajukan kepada Meninves/Ketua BKPM dengan menggunakan Formulir Model I/PMDN.

Permohonan diajukan kepada Meninves/Ketua BKPM rangkap 2 (dua) dari kepada Ketua BKPMD setempat dimana proyek akan berlokasi rangkap 1 (satu) dan disampaikan sendiri oleh pemohon.

Surat Persetujuan Presiden untuk Perusahaan PMA

Permohonan proyek baru PMA diajukan kepada Meninves/Ketua BKPM dengan menggunakan Formulir Model I/PMA dengan dilengkapi data sebagai berikut.

  • Permohonan proyek PMA diajukan kepada Meninves/Ketua BKPM dengan rangkap 2 (dua) dan kepada Ketua BKPMD setempat rangkap 1 (satu) dan disampaikan oleh yang bersangkutan.
  • Meninves/Ketua BKPM akan meneruskan permohonan persetujuan kepada Presiden Republik Indonesia dan apabila Surat Persetujuan Presiden telah keluar, maka Meninves/Ketua BKPM akan menyampaikan Surat Pemberitahuan tentang Persetujuan Presiden (SPPP/PMA) kepada perusahaan PMA.

Surat Persetujuan Pemberian Fasilitas atas Pengimporan Barang Modal/Bahan Baku/Penolong (SP Pabean)

Permohonan Surat Persetujuan Fasilitas Pabean (SP Pabean) diajukan kepada Meninves/Ketua BKPM dengan menggunakan Formulir Model IV yang dilengkapi persyaratan berikut ini masing-masing 2 (dua) rangkap.

Dalam rangka mengajukan permohonan penangguhan pembayaran PPN dan atau PPNBM (impor atas barang modal) dengan menggunakan formulir PPN yang diajukan kepada Meninves/Ketua BKPM.

Permohonan Angka Pengenal Impor Terbatas (APIT)

Permohonan APIT diajukan kepada Meninves/Ketua BKPM dengan menggunakan formulir APIT.

Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA)

Permohonan persetujuan RPTKA diajukan kepada Meninves/Ketua BKPM dengan menggunakan formulir RPTKA.  

Tenaga kerja asing yang telah siap datang untuk bekerja di perusahaan PMA/PMDN di Indonesia, wajib memiliki Visa Berdiam Sementara (VBS) yang dikeluarkan oleh Kantor perwakilan RI (KBRI).

Permohonan memiliki VBS, diajukan secara tertulis disertai formulir Ppt.2 diajukan kepada Meninves/Ketua BKPM.  

Rekomendasi atas permohonan di atas dikeluarkan oleh Kepala Biro Perizinan dan Fasilitas BKPM atas nama Meninves/Ketua BKPM, disampaikan kepada Direktur Jenderal Imigrasi.

Dirjen Imigrasi berdasarkan rekomendasi memberitahukan Kantor Perwakilan RI untuk mengeluarkan Visa Berdiam Sementara (VBS) bagi Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bersangkutan.

Perusahaan yang bersangkutan mengajukan permohonan penerbitan Kartu Izin Masuk Sementara (KIM/S) kepada kantor Imigrasi setempat, setelah TKA datang.

Izin Kerja Tenaga Kerja Asing (IKTA)

TKA yang telah memperoleh KIM/S dan bekerja di Indonesia, wajib memperoleh IKTA. Permohonan diajukan kepada Ketua BKPMD setempat. 

Izin Usaha Tetap (IUT)

Perusahaan PMA/PMDN yang akan melaksanakan produksi komersil diwajibkan memohon izin usaha kepada Ketua BKPM dan tembusan kepada Ketua BKPMD setempat dengan menggunakan Formulir IUT yang dilengkapi persyaratan.

Perusahaan PMA maupun PMDN yang telah memiliki IUT dan ingin menambah kapasitas produksi dapat mengajukan permohonan perluasan proyeknya kepada Meninves/Ketua BKPM dengan tembusan kepada ketua BKPMD.  

Bagi perusahaan PMDN, perluasan proyek diajukan dengan menggunakan Formulir Model II/PMDN.

Penjelasan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal. 

Bagi perusahaan PMA permohonan diajukan dengan menggunakan Formulir Model II/PMA kepada Ketua BKPM dan tembusan kepada Ketua BKPMD. 

Kelengkapan Pendukung 

Hak Guna Usaha (HGU)

HGU untuk penggunaan lahan yang luasnya lebih dari 200 ha diberikan oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional (Kepala BPN), sedangkan yang luasnya tidak lebih dari 200 ha diberikan oleh Kantor Wilayah Pertanahan Propinsi.

Hak Guna Bangunan (HGB)

HGB dengan luas lebih dari 5 ha diberikan oleh Kantor Wilayah Pertanahan Propinsi, sedangkan yang luasnya sampai dengan 5 ha oleh Kantor Pertanahan Kabupaten/Walikotamadya.

Izin Lokasi

Izin lokasi diberikan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten/Walikotamadya.

Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

IMB diberikan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten/Kotamadya atau Kepala Dinas Pengawasan Pembangunan Kota (P2K) untuk Daerah DKI Jakarta.

Izin Undang-Undang Gangguan (UUG/HO)

Izin UUG/HO diberikan oleh Sekwilda Kabupaten/Kotamadya.  

Khusus untuk daerah DKI Jakarta diberikan oleh Kepala Biro Ketertiban atas nama Gubernur.

Izin HO tidak diwajibkan bagi perusahaan industri yang wajib memiliki AMDAL atau yang berlokasi di kawasan industri/kawasan berikat.

Rekomendasi AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)

AMDAL diperuntukkan bagi rencana usaha atau kegiatan yang dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan.

AMDAL sektor pertanian dinilai oleh Komisi AMDAL Pusat Departemen Pertanian (izin pusat) atau komisi AMDAL Daerah setempat (izin daerah).  

Rencana usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup No : 17 tahun 2001 tentang jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan dan Keputusan Menteri Pertanian No. 57/Kpts/OT.210/2/97.

Rekomendasi UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan) dan UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan)

UKL-UPL diperuntukkan bagi rencana usaha atau kegiatan yang tidak menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan.  

Bagi kegiatan izin pusat rapat pemberian arahan UKL-UPL oleh Badan Agribisnis bersama direktur teknis, sedangkan bagi kegiatan izin daerah rapat pemberian arahan oleh Kantor Wilayah Departemen Pertanian Propinsi bersama dengan dinas teknis setempat.  

Jenis rencana usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi UKL-UPL ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 562/Kpts/OT.210/6/97.

Prosedur Memperoleh Kelengkapan Pendukung

HGU dan HGB

Dalam rangka memperoleh hak atas tanah, perusahaan mengajukan permohonan izin lokasi dari Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya (BPN Kab/Kodya) dengan melampirkan SP/PMDN atau SPPP/PMA.

Setelah mendapatkan izin lokasi, perusahaan mengajukan permohonan Hak Guna Bangunan (HGB) kepada BPN Kabupaten/Kotamadya untuk luas tidak lebih dari 5 Ha dan BPN Propinsi untuk luas lahan lebih dari 5 Ha.  

Sedangkan permohonan Hak Guna Usaha (HGU) kepada BPN Propinsi untuk lahan dengan tidak lebih dari 200 Ha dan BPN/Menteri Negara Agraria untuk luas lahan lebih dari 200 Ha.

Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

Perusahaan PMA/PMDN yang akan mendirikan bangunan harus memohon IMB kepada Bupati/Walikotamadya melalui Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU)/Dinas Tata Kota atau Kepala Dinas Pengawasan Pembangunan Kota (P2K) bagi DKI Jakarta. Permohonan diajukan dengan formulir yang disediakan.

Undang-Undang Gangguan (UUG)/HO (Hinder Ordonantie)

Permohonan izin UUG diajukan kepada Bupati/Walikotamadya melalui Sekretaris Wilayah atau Kepala Biro Ketertiban bagi DKI Jakarta. Permohonan izin UUG diajukan dengan menggunakan formulir yang disediakan.

Dokumen AMDAL

Dokumen disampaikan secara resmi/tertulis sebanyak 30 (tiga puluh) eksemplar kepada Komisi AMDAL Pusat untuk izin usaha dari pusat dan 10 (sepuluh) eksemplar kepada Komisi AMDAL daerah untuk izin usaha di daerah. 

Paling lambat 10 hari setelah kelengkapan dokumen dipenuhi akan ditentukan jadwal sidang komisi.

Setelah itu akan dilakukan penyempurnaan dan persetujuan dokumen oleh Menteri Pertanian u.b. kepala badan agribisnis atau Komisi AMDAL Daerah.

Dokumen UKL - UPL

Dokumen disampaikan secara resmi/tertulis sebanyak 6 (enam) eksemplar kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Pertanian untuk izin dari daerah.

Paling lambat 10 hari setelah dokumen diterima akan dilaksanakan rapat pemberian arahan oleh Badan Agribisnis/Kanwil Departemen Pertanian beserta Direktorat/Dinas teknis.

Referensi artikel Jagung Resiko,Mikro, Makro dan Kebijakan Pemerintah

  1. Data BPS
  2. Artikel wikipedia
  3. Sumber agriculture
  4. Artikel dari dedlesheed
  5. Artikel dari almanac
  6. Sumber lainnya