Last Updated:
Aspek Pemasaran Usaha Ayam Pedaging
Aspek Pemasaran Usaha Ayam Pedaging https://www.pustakadunia.com

Aspek Pemasaran Usaha Ayam Pedaging

Aspek Pemasaran Usaha Ayam Pedaging - Pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi yang terus terjadi merupakan peluang yang sangat terbuka bagi pengembangan industri ayam ras.

Daging ayam ras semakin diminati masyarakat luas karena faktor kesesuaian rasa bagi semua lapisan masyarakat, harga relatif terjangkau, kemudahan memperoleh produk karena kontinuitas ketersediaan di setiap wilayah, pengembangan teknologi pengolahan, dan kesadaran terhadap kebutuhan gizi dimana daging ayam ras sebesar kurang lebih 1/3 kg/kapita/tahun dan cenderung terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

Permintaan daging ayam ras cukup elastis terhadap perubahan pendapatan dengan nilai elastisitas sekitar 1,11.

Pemasaran Usaha Ayam Pedaging

Masa proses pemulihan ekonomi nasional merupakan momentum sangat baik dalam pengembangan bisnis ayam ras.

Beberapa pengusaha terutama skala menengah yang mengalami gulung tikar di saat krisis mulai bangkit kembali oleh karena membaiknya harga di pasar. 

Peluang dari sisi kebijakan terlihat kebijakan pemerintah dalam hal larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang tertuang dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1999 dan kebijakan impor yang dibatasi hanya dalam bentuk utuh untuk menjamin kehalalan yang dituangkan dalam Surat Edaran Dirjen Produksi No. TN 680 E 09.00 tanggal 25 September 2000. 

Pengembangan industri ayam ras nasional hingga saat ini masih menghadapi beragam hambatan baik yang dihadapi pengusaha besar, menengah, maupun peternak rakyat.

Industri besar masih menghadapi kendala harga pakan yang tinggi karena komponen impor sekitar 70 % masih impor.

Situasi yang tidak kondusif yang menyebabkan depresiasi rupiah akan sangat mengganggu cash flow perusahaan.

Beberapa perusahaan mulai mengantisipasi ketidakpastian pasar global ini dengan melakukan usaha penanaman tanaman bahan baku pakan seperti jagung dan kedelai. 

Hambatan yang masih dihadapi oleh terutama pemain baru dalam pengembangan ayam ras pedaging diantaranya menyangkut kekuatan monopoli atau oligopoli dan kartel yang sudah dikembangkan oleh beberapa kelompok pengusaha besar. 

Efisiensi dan jaminan pasokan input pada pemain baru biasanya sulit mengimbangi industri monopoli tadi kecuali mampu melakukan terobosan baik dalam hal teknologi dan maupun kelembagaan.

Bagi peternak kecil, pengembangan usaha ayam ras banyak terbentur oleh kendala lemahnya penguasaan teknologi pakan dan pengolahan, informasi harga, jaringan pasar, akses pemodalan, dan fluktuasi permintaan dan harga yang memerlukan antisipasi jangka panjang.

Kondisi Persaingan Usaha Ayam Pedaging

Menurut Porter (1995), terdapat lima kekuatan yang mempengaruhi persaingan dalam industri yaitu pendatang baru, produk pengganti, pembeli, pemasok dan pesaing.

Ancaman Pendatang Baru

Pendatang baru pada industri membawa kapasitas baru, keinginan untuk merebut bagian pasar serta seringkali juga sumberdaya yang besar.

Akibatnya harga menjadi turun dan membengkak, sehingga mengurangi profit. Ancaman masuknya pendatang baru ke dalam industri tergantung pada rintangan masuk yang ada digabung dengan reaksi dari para pesaing yang sudah ada yang dapat diperkirakan oleh pendatang baru.

Jika rintangan besar dan akan ada perlawanan keras dari industri-industri lama maka ancaman masuknya pendatang baru akan rendah.

Terdapat beberapa sumber utama rintangan masuk yaitu : skala ekonomis, diferensiasi, kebutuhan modal, dan akses masuk ke saluran distribusi. 

Kondisi persaingan yang terjadi yaitu adanya pendatang baru dengan kapasitas dan modal yang besar.

Hal ini dapat mempengaruhi mekanisme harga di pasar, sehingga dapat mengurangi profit.

Perusahaan pembibitan atau pakan yang melakukan integrasi dengan membangun peternakan milik perusahaan atau melakukan kerjasama dengan peternakan mitra akan menjadi pesaing dalam persaingan ayam broiler.

Ancaman Produk Pengganti

Produk pengganti membatasi harga dan laba potensial yang dapat diperoleh suatu perusahaan.

Semakin menarik alternatif harga yang ditawarkan oleh produk pengganti maka semakin ketat pembatasan laba industri.

Dengan semakin berkembangnya industri restoran fast food yang berusaha memanjakan konsumen dengan produk-produknya, maka dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan trend permintaan konsumen.

Oleh karena itu usaha peternakan harus membaca trend yang berkembang terutama produk yang sesuai dengan keinginan konsumen.

Munculnya produk baru misalnya ayam dengan dada yang lebih besar, daging rendah kolesterol dan juga daging ayam yang ditinjau dari keempukan. 

Kekuatan Tawar Menawar Pembeli

Pembeli bersaing dengan industri dengan cara memaksa harga turun, tawar menawar untuk mutu yang lebih tinggi dan pelayanan yang lebih baik serta berperan sebagai pesaing satu sama lain.

Apalagi bila terjadi over supply, maka mekanisme yang terjadi adalah harga menjadi turun karena pembeli memiliki bargaining yang lebih kuat.

Pembeli akan melakukan tawar menawar tentang harga, mutu dan ukuran sebelum melakukan pembelian.

Biasanya pembeli akan menetapkan standar tentang produk yang akan dibelinya.

Bila hal ini tidak dapat dipenuhi produsen, maka konsekuensinya produk akan dijual dengan harga di bawah standar. 

Kekuatan Tawar Menawar Pemasok

Pemasok bersaing dengan industri dengan cara mengancam akan menaikkan harga atau menurunkan mutu produk atau jasa yang dibeli.

Hal ini akan mempengaruhi profit industri. Pemasok disebut kuat jika memenuhi kriteria di bawah ini.

  1. Para pemasok didominasi oleh beberapa perusahaan.
  2. Pemasok tidak menghadapi produk pengganti lain untuk dijual kepada industri.
  3. Industri tidak merupakan pelanggan yang penting bagi pemasok.
  4. Produk pemasok merupakan input bagi perusahaan.
  5. Produk kelompok pemasok terdiferensiasi.
  6. Kelompok pemasok menunjukkan ancaman untuk melakukan integrasi. 

Pemasok dalam hal ini adalah perusahaan pembibitan, perusahaan pakan dan sarana produksi.

Umumnya peternak mitra tidak memiliki kemampuan untuk memilih strain ayam ras yang akan dipelihara, karena bibit telah dipasok oleh perusahaan pembibitan melalui perusahaan inti. 

Persaingan Antar Industri/Perusahaan

Persaingan terjadi karena satu atau lebih pesaing merasakan adanya tekanan atau melihat peluang untuk memperbaiki posisi.

Beberapa bentuk persaingan adalah harga, jumlah pesaing yang banyak, pertumbuhan industri yang lamban, biaya tetap yang tinggi, ketiadaan diferensiasi, penambahan kapasitas dalam jumlah yang besar, dan pesaing yang beragam. 

Kondisi persaingan yang terjadi yaitu antara peternakan mitra, peternakan milik perusahaan dan peternakan mandiri.

Perusahaan yang melakukan integrasi biasanya memiliki modal dan kapasitas yang besar, sehingga akan mempengaruhi harga ayam ras di pasaran. 

Lingkungan operasional terdiri dari faktor-faktor dalam situasi persaingan yang mempengaruhi keberhasilan suatu perusahaan dalam mendapatkan sumberdaya yang dibutuhkan atau dalam memasarkan produk atau jasanya secara menguntungkan.

Beberapa faktor yang penting tersebut adalah posisi bersaing perusahaan, komposisi pelanggan serta reputasi di mata pemasok dan kreditor. 

Persaingan adalah jiwa dari pasar, oleh karena itu setiap pemain baru yang berani masuk pasar, harus berani dan siap menghadapi pasar.

Hal yang harus dilakukan pertama kali dalam menghadapi persaingan adalah mengetahui siapa saja pemain yang bermain pada segmen pasar yang dimasuki.

Selain itu, pemain baru harus mengetahui bagaimana posisi masing-masing pemain pada segmen tersebut.

Pemain baru yang ingin bermain di pasar mengetahui strategi apa saja yang harus dilakukan, target apa yang akan dicapai dan siapa saja yang akan dihadapi secara langsung dan siapa saja yang tidak perlu dihadapi secara langsung. 

Untuk menghadapi persaingan yang ketat, maka perlu melakukan integrasi secara vertikal ataupun secara horisontal.

Integrasi yang dilakukan yaitu salah satunya dengan melakukan kemitraan dengan perusahaan inti.

Perusahaan bertindak sebagai inti biasanya menyediakan bibit pakan dan obat-obatan, sedangkan peternak menyediakan kandang dan tenaga untuk mengelola manajemen produksi.

Setelah masa produksi selesai, hasilnya dijual ke perusahaan inti dengan harga yang telah disepakati. Beberapa jenis pola kemitraan yang dikenal dijelaskan di bawah ini.

Kinak (Kawasan Industri Peternakan)

Kinak merupakan suatu kawasan peternakan ayam ras yang dibangun oleh suatu perusahaan atau oleh para peternak.

Tujuan didirikannya kinak adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar dan untuk melakukan efisiensi usaha. Kinak terbagi menjadi tiga macam, sebagai berikut.

Kinak PRA (Peternakan Rakyat Agribisnis)

Kinak PRA merupakan model kawasan industri yang dibangun oleh para peternak. Pola kemitraan yang terjadi antara perusahaan dengan peternak sebatas penyediaan sapronak secara kolektif agar mendapat harga yang lebih murah.

Kinak PIR

Pengusaha menyediakan bibit, pakan dan obat-obatan sedangkan peternak menyediakan lahan dan kandang sesuai dengan aturan yang ditetapkan pengusaha.

Perusahaan bertanggung jawab pada pemasaran hasil ternak dengan harga yang layak.

Kinak super (sentra usaha peternakan untuk ekspor)

Perusahaan membengun peternakan yang khusus ditujukan untuk pasar ekspor.

Bapak Angkat

Pola bapak angkat bisa berlangsung dengan adanya perusahaan yang ingin memajukan peternak kecil.

Bapak angkat adalah pemilik modal, sedangkan peternak berfungsi sebagai anak angkat yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup peternakannya.

Miranti-Mirama (mitra usaha inti dan mitra usaha plasma)

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh GAPPI (Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia). Miranti adalah perusahaan inti dan peternak sebagai plasma.

Tingkat Persaingan Usaha Ayam Pedaging

Memasuki era perdagangan bebas, usaha peternakan ayam ras dihadapkan pada persaingan yang sangat ketat, sementara persaingan yang ketat hanya bisa dihadapi dengan efisiensi yang tinggi.

Oleh sebab itu usaha peternakan ayam ras harus  terintegrasi yang tidak hanya berhenti pada tingkat budidaya, tetapi harus berintegrasi dengan industri backward maupun foreward

Persaingan antar pelaku budidaya ayam ras pedaging di lapangan semakin ketat. Persaingan sekarang ini terjadi antara perusahaan perunggasan (PP), pengusaha poultry shop (PPS), peternak plasma (kemitraan) dari PP, peternak plasma (kemitraan) dari PPS dan peternak mandiri (PPS atau non – PPS) yang tidak punya plasma.

Sistem Distribusi Produk

Sampai saat ini, DKI Jakarta masih menjadi pasar terbesar untuk produk hasil unggas, terutama ayam ras.

Pasokan daging ayam ras ke DKI Jakarta masih berupa ayam ras pedaging hidup yang diangkut dari kandang-kandang di seputar Bogor-Tangerang-Bekasi-Sukabumi, atau Priangan Timur bahkan dari Jawa Tengah atau Lampung.

Selain peternak-peternak mandiri, pemasok kebutuhan daging ayam ras penduduk Jakarta adalah perusahaan peternakan yang rata-rata memiliki struktur industri dari hulu sampai hilir. Selain daging ayam ras, ayam ras hidup pun banyak dipasarkan di Jakarta, baik oleh peternak mandiri maupun perusahaan integrator.

Oleh sebab itu, keberadaan “pangkalan” merupakan bisnis yang mampu bertahan di Jakarta. 

Di Jakarta, pangkalan merupakan pusat distribusi ayam ras hidup. Konsumen pangkalan sebagian besar adalah pengusaha makanan seperti rumah makan padang, pedagang ayam goreng kaki lima, warteg atau pengecer daging. 

Secara umum, sistem distribusi produk-produk peternakan, terutama ayam ras, adalah mengikuti pola sistem distribusi.

 

Distribusi dari hulu sampai ke hilir dalam usaha peternakan ayam ras pedaging breeding farm sebagai pensuplai bibit (DOC), pabrik pakan, peternak yang membudidayakan, agen lokal, industri pengolahan hasil dan pasar tradisional.

Produk yang dihasilkan 90 % didistribusikan ke pasar tradisional sedangkan sisanya (10 %) didistribusikan ke industri pengolahan (PINSAR, 2000). 

 Resiko Usaha Ayam Pedaging

Faktor Penentu Keberhasilan

Kondisi makro yang dihadapi industri ayam ras adalah kelangkaan bahan baku pakan, ketergantungan terhadap input dari impor, efisiensi yang sangat tinggi dari pelaku di negara lain yang dapat mengancam produk dalam negeri serta nilai tambah yang relatif rendah khususnya pada usaha budidaya skala kecil. 

Secara teknis industri ayam ras memerlukan manajemen yang ketat dan kecermatan dalam pengelolaan.

Sifat biologis bibit ayam ras yang sensitif terhadap perubahan lingkungan, rentan terhadap penyakit, dan mudah rusak dan kadaluwarsa memerlukan kontrol yang ketat. Karakteristik pasar ayam ras memiliki sifat permintaan, harga, dan pasokan yang sering fluktuatif.

Pasokan yang fluktuatif berkaitan dengan karakter peternak rakyat yang melakukan aktivitas usaha yang umumnya secara tidak kontinyu melainkan bersifat musiman.

Keberhasilan dalam pengembangan usaha ayam ras pedaging ditentukan sejauh mana pengusaha dapat melakukan hal-hal di bawah ini.

  1. Sinkronisasi skala usaha dan skedul produksi.
  2. Pencegahan penyakit secara efektif.
  3. Pengembangan teknologi pakan alternatif.
  4. Panen pada waktunya.
  5. Pemasaran sesingkat mungkin.
  6. Efisiensi penggunaan input produksi, misalnya dengan melakukan integrasi vertikal.
  7. Pelayanan konsumen lokal yang merupakan pasar terbesar secara lebih baik.
  8. Terobosan dalam teknologi pengolahan yang dapat meningkatkan pangsa
  9. Perencanaan investasi dengan didasarkan pada proyeksi supply- demand.
  10. Pengembangan informasi dan komunikasi.
  11. Pengembangan jaringan kerjasama (networking) dengan pelaku modal lokal, nasional maupun internasional baik dalam pengadaan input, proses produksi maupun pemasaran. 

Apabila point-point di atas tidak dilakukan akan menjadi faktor kegagalan dalam usaha peternakan. 

Faktor Kegagalan Usaha Ayam Pedaging

Kegagalan dalam pengembangan industri ayam ras sering terjadi pada usaha kecil dan menengah tetapi peluang kegagalan bagi pengusaha besar juga cukup besar apabila tidak disertai perencanaan investasi dan strategi efektif dalam perluasan pasar. 

Kegagalan bagi peternakan rakyat. Kegagalan yang banyak terjadi pada peternakan rakyat jarang disebabkan oleh faktor teknis produksi melainkan faktor kelemahan posisi, akses pasar, dan perencanaan investasi.

Sebagai peternak rakyat yang sebagian besar merupakan peternak plasma dari pola PIR, posisi tawar peternak sangat ditentukan peran dominan yang dilakukan peternak inti. 

Kegagalan bagi peternak mandiri. Pada peternak mandiri kegagalan sering disebabkan karena salah prediksi dalam mengantisipasi pasar yang sangat berfluktuatif setiap saat. Hal ini dapat terjadi karena peternak kurang memiliki kemampuan dalam proyeksi situasi pasar dalam jangka panjang. 

Kegagalan bagi perusahaan besar. Kegagalan yang banyak dialami perusahaan besar terutama disebabkan oleh ketergantungan yang tinggi terhadap input dari impor dan tidak adanya upaya melakukan diversifikasi produk. Kesalahan dalam perencanaan investasi dan strategi perluasan pasar akan menjadi faktor kegagalan bagi perusahan besar. Situasi ekonomi yang tidak menentu merupakan saat-saat paling krisis bagi industri ayam ras.

Pengaruh Aturan Internasional terhadap Perdagangan Komoditas

Di era globalisasi dan perdagangan bebas setidaknya perlu dicermati beberapa ketentuan internasional yang dapat berpengaruh terhadap kinerja dan daya saing industri ayam ras pedaging. Ketentuan tersebut menyangkut :   

  1. penghapusan berbagai subsidi kecuali untuk pengadaan sarana produksi peternak kecil investasi dan pengembangan;
  2. terciptanya pasar dengan pelaku yang tidak terbatas baik dalam negeri maupun luar negeri;
  3. tidak adanya perlakuan istimewa bagi perusahaan lokal dalam berhadapan dengan perusahaan asing; dan
  4. adanya sangsi bagi setiap negara yang melanggar ketentuan internasional. 

Penghapusan subsidi tanpa diimbangi dengan peningkatan efisiensi produk dapat menyebabkan daya saing dalam hal harga semakin lemah.

Kemampuan daya saing pengusaha dalam negeri baik perusahaan kecil maupun besar dewasa ini masih sangat lemah.

Membanjirnya ayam impor khususnya dari Amerika Serikat dengan harga yang jauh lebih murah kerap kali terjadi dan sangat mengganggu industri ayam ras dalam negeri.

Perilaku seleksi konsumen dalam negeri masih sangat rendah dimanfaatkan perusahaan asing dalam memasarkan produk yang tidak laku di pasar mereka.

Pada sisi lain, penghapusan subsidi ekspor akan dengan sendirinya memperlemah potensi ekspor yang selama ini masih sangat rentan baik dari aspek kualitas maupun persaingan harga. 

Terbukanya pasar bebas dengan pelaku yang semakin banyak dapat menimbulkan beberapa persoalan dalam pasar domestik seperti mudah terjadinya over supply yang dalam waktu singkat secara langsung akan menekan harga.

Sifat pasar ayam ras pedaging yang sangat mendekati pasar persaingan sempurna memungkinkan hal tersebut terjadi.

Terbukanya pasar juga cenderung mengakibatkan fluktuasi harga semakin tinggi dengan begitu mudahnya setiap pelaku keluar masuk pasar. 

Kemampuan daya saing pengusaha domestik yang masih lemah dalam memasuki pasar bebas tidak memperoleh proteksi lagi oleh pemerintah, sehingga hal ini mendorong terbentuknya pola usaha yang cenderung besar-besaran. Industri skala kecil menengah dengan tingkat efisiensi yang rendah lambat laun akan mengalami gulung tikar. 

Ketentuan-ketentuan tersebut beserta konsekuensinya harus menjadi perhatian setiap pemerintah dan pelaku industri ayam ras.

Pelanggaran terhadap ketentuan dapat berakibat secara luas baik terhadap industri ayam ras maupun perekonomian secara luas.

Oleh karena itu dalam menghadapi pasar global dengan ketentuan yang mengikat diperlukan strategi baik dalam menekan biaya maupun perbaikan kualitas sesuai dengan selera masyarakat yang terus berubah. 

Kondisi ekonomi yang dalam proses pemulihan di era perdagangan bebas, memberikan tantangan berat bagi sub sektor peternakan.

Penyediaan daging ayam, yang terutama mengandalkan daging broiler, meskipun sangat terpengaruh oleh krisis, perkembangan 2-3 tahun terakhir memperlihatkan bahwa industri ini akan bertahan tetap menjadi pemasok penting daging ayam.

Tantangan yang dihadapi adalah untuk meningkatkan efisiensi produksi pemasarannya.

Produksi broiler di negara penghasil utama seperti Amerika Serikat, merupakan industri yang melibatkan pelaku-pelaku industri pembibitan, industri pakan, industri obat, industri peralatan, integrator dan produsen broiler. Integrator yang melakukan kontrak produksi dengan produsen didominasi oleh sekitar 10 perusahaan terbesar yang pangsa produksinya lebih dari 67 % (Koeswardhono, 2001).

Untuk menghadapi perdagangan bebas, jalan yang harus ditempuh adalah dengan mengintegrasikan setiap tingkatan usaha baik integrasi secara vertikal maupun horisontal dengan penguasaan sentra bahan baku, produksi dan jaringan pemasaran. 

KONDISI MIKRO USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PEDAGING

Pohon Industri

Industri ayam ras pedaging dapat menghasilkan dua macam produk, yaitu produk utama dan produk sampingan.

Diversifikasi Produk

Industri peternakan ayam ras, selain dapat menghasilkan produk-produk utama seperti yang telah diuraikan di atas, dapat juga dikembangkan menjadi berbagai macam bentuk produk, diantaranya dengan melakukan pengolahan daging menjadi nugget, baso ayam, kerupuk, dan lain-lain.

Selain itu, dalam hal pengemasan, dapat dilakukan pengklasifikasian, seperti kemasan karkas, kemasan jeroan, kemasan sayap, kemasan kepala, dan sebagainya.

Diversifikasi produk ini salah satunya adalah untuk memenuhi permintaan konsumen yang semakin memerlukan produk-produk peternakan setengah jadi (matang), bahkan produk yang siap hidang.

Peta Usaha Peternakan Ayam Ras

Populasi ternak ayam pedaging di Indonesia pada tahun 2000 sebanyak 530.874.057 ekor, yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, walaupun masih dalam skala kecil (Direktorat Jenderal Peternakan, 2001).

Sentral populasi ayam ras pedaging di Indonesia berada di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Lampung, seperti yang disajikan pada Tabel. 

Populasi Ayam Ras Pedaging di Indonesia Tahun 2000 (Ekor)

No

Propinsi

Jumlah

Persentase dari Populasi Nasional

1

JABAR

196.422.402

36,99

2

JATIM

88.077.360

16,59

3

JATENG

71.554.382

13,48

4

SUMUT

26.893.165

5,07

5

LAMPUNG

23.929.600

4,50

Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan, 2001 

Pada tahun 2002, populasi ternak ayam ras pedaging di Indonesia diproyeksikan akan mencapai 567.150.741 ekor.

Secara rinci, perkembangan populasi ternak ayam ras pedaging di Indonesia dari tahun 1996 – 2000 dan proyeksi populasi dari tahun 2001 – 2002 disajikan pada Tabel.

Populasi  Ternak  Ayam  Ras  Pedaging  di  Indonesia Tahun 1996 – 2004

Tahun

Jumlah (Ribu Ekor)

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

594.368.316

651.686.106

641.375.815

354.003.503

418.940.514

530.874.057

524.272.858*

567.150.741**

          Keterangan         : *  angka prediksi

                                      ** angka proyeksi       

          Sumber               : Direktorat Jenderal Peternakan, 2001 

Pengembangan bisnis ayam ras pedaging memerlukan sarana pendukung, salah satunya berupa rumah pemotongan ayam, (RPA).

Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 10 (RPA) modern yang masih aktif dan 4 RPA non aktif. RPA-RPA tersebut rata-rata mempunyai mesin yang berkapasitas sekitar 2.500 ekor per jam.

Rata-rata produksi yang dihasilkan per harinya adalah sekitar 24.100 ekor. Lebih lanjut kapasitas produksi dari RPA modern yang ada di Indonesia disajikan pada Tabel. 

Rumah Pemotongan Ayam Modern di Indonesia

Rumah Pemotongan Ayam (RPA)

Kapasitas Mesin (Ekor/Jam)

Rata-rata Produksi per Hari (Ekor)

1997

1998

1999

Charoen Pokhpand (Cikande)

Ciomas Adisatwa (Cikupa)

Cita Mutu Pangan Prima (Caringin)

Jaya Protena (Serpong)

Kartika Eka Dharma (Srengseng)

KOPEL BULOG (Ciputat)

Sierad Produce (Parung)

Slipi Jaya Wiwaha (Slipi)

Starfood (Citeureup)

Wonokoyo (Surabaya)

4.000

4.000

2.000

2.000

2.000

1.000

4.000

2.000

2.000

2.000

0

40.000

0

6.000

11.000

4.000

28.000

0

18.000

0

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

40.000

40.000

6.000

11.000

20.000

4.000

40.000

30.000

20.000

30.000

Dharma Jaya (Cakung)

Hibrida Niaga (Cibinong)

Satopati – Cipendawa (Bekasi)

Andini (Salatiga)

1.000

2.000

3.000

2.000

6.000

6.000

18.000

10.000

-

-

-

-

Non Aktif

Non Aktif

Non Aktif

Non Aktif

Pasar Tradisional dan RPA di DKI

 

522.500

  

         Sumber : PINSAR Unggas Nasional, 2000 

Sentra produksi ayam ras pedaging di Indonesia, menurut PINSAR Unggas Nasional, tersebar hampir di seluruh propinsi di wilayah Indonesia.

Sentra-sentra produksi tersebut didaftar di bawah ini. 

1.

DKI dan Jawa Barat

DKI Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Sukabumi, Cianjur, Purwakarta, Subang, Bandung, Tasik, Ciamis, Cirebon.

2.

Kalimantan             

Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, Pontianak, Singkawang.

3.

Sulawesi dan          Irian Jaya

Makassar, Pare-pare, Jayapura.

4.

Jawa Tengah dan DIY

Brebes, Pekalongan, Purwokerto, Purbalingga, Cilacap, Semarang, Ambarawa, Magelang, Solo, Yogyakarta.

5.

Sumatera

Medan, Padang, Payakumbuh, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Lampung.

6.

Jawa Timur dan Bali

Madiun, Pare – Kediri, Tulungagung, Blitar, Malang, Jombang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Denpasar, Surabaya.

Semua wilayah di Indonesia dapat dikembangkan peternakan ayam ras, selama masih mentaati persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan.

Persyaratan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Berdekatan dengan produsen atau pabrik pakan ternak.
  2. Berdekatan dengan pasar/konsumen, misalnya di sekitar kota-kota besar dan pemukiman dengan konsentrasi konsumen yang tinggi.
  3. Berdekatan dengan sentral produksi komoditas peternakan atau sentral populasi ternak.
  4. Sesuai dengan wilayah pengembangan usaha peternakan, wilayah penyebaran industri komoditi peternakan dan wilayah ekspor komoditi peternakan. 

Pemain di Dalam dan Luar Negeri

Pemain-pemain lama di dalam negeri yang bergerak dalam industri peternakan ayam ras.

 

Beberapa perusahaan lainnya yang ikut terlibat sebagai pemain dalam industri ayam ras pedaging, didaftar di bawah ini.

  • Nusantara Unggas Jaya.
  • Primatama Karya Persada.
  • Gema Usaha Ternak.
  • Wonokoyo Jaya Co.
  • Bandar Batavia Jaya.

Pemain lama luar negeri yang bergerak di bidang industri peternakan ayam ras diantaranya adalah sebagai berikut.

  • Pengolah daging ayam ras terbesar di Jerman, Wiesenhof (dengan merek dagang Auslauf Hahnchen) dan Stolle (dengan merek dagang Grunland).
  • Beizing Poultry Breeding Co. Ltd (joint venture antara beizing Dafa, Charoen Pokhpand Thailand dan Avian Farm USA), mensuplai lebih dari 400.000 Grand Parent Stocks ke lebih dari 28 propinsi, atau sekitar 54 % dari total permintaan pasar bibit ayam ras pedaging di Cina.
  • Tyson Foods, pengelola daging unggas terbesar di Amerika Serikat. 

Harga

Selama tahun 2000, harga baik DOC ayam ras pedaging FS (Final Stock), ayam ras pedaging hidup maupun daging ayam, berfluktuasi.

Perbedaan harga baik di tingkat produsen, grosir maupun konsumen berkisar antara Rp 300 sampai Rp 1.000. Fluktuasi harga ini terjadi salah satunya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan politik yang terjadi di Indonesia.

Harga bibit anak ayam DOC per ekor selama tahun 2000 disajikan pada Tabel. 

Perkembangan Harga DOC Ayam Ras Pedaging Final Stock Tahun 2000 (Rp/Ekor)

No

Harga

Jan

Peb

Mar

Apr

Mei

Jun

1

2

3

Produsen

Grosir

Konsumen

2.470

2.787

2.977

2.010

2.296

2.709

1.645

1.990

2.157

1.591

1.868

1.982

1.957

2.507

2.531

1.975

2.392

2.544

 

No

Harga

Jul

Agt

Sep

Okt

Nop

Des

1

2

3

Produsen

Grosir

Konsumen

2.143

1.400

2.677

2.150

2.386

2.468

2.460

2.616

2.697

2.510

2.965

3.136

3.096

3.487

3.700

2.711

3.105

3.289

         Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan, 2001 

Harga ayam ras pedaging hidup per kilogram tertinggi selama tahun 2000, terjadi pada bulan Desember, karena pada bulan tersebut diperingati tiga hari raya, yang mengakibatkan permintaan akan ayam ras pedaging hidup dan daging ayam ras naik.

Selengkapnya perkembangan harga ayam ras pedaging hidup per kilogram selama tahun 2000 disajikan pada Tabel. 

Perkembangan Harga Ayam Ras Pedaging Hidup Tahun 2000 (Rp/kg)

No

Harga

Jan

Peb

Mar

Apr

Mei

Jun

1

2

3

Produsen

Grosir

Konsumen

7.699

8.504

9.066

6.947

7.600

8.574

6.774

7.382

7.929

6.577

7.050

7.899

6.873

7.338

8.634

7.199

7.652

8.594

 

No

Harga

Jul

Agt

Sep

Okt

Nop

Des

1

2

3

Produsen

Grosir

Konsumen

6.893

7.455

8.160

6.752

7.165

8.023

6.746

7.094

8.190

6.642

7.088

8.150

7.700

8.139

8.528

8.306

8.797

9.211

            Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan, 2001      

Tahun 2001, nampak terjadi fluktuasi harga ayam ras pedaging dengan kisaran antara Rp 5.400/kg hingga Rp 8.800/kg.

Pada awal tahun 2001 terjadi penurunan harga ayam dan kemudian mengalami peningkatan pada bulan Februari.

Kondisi ekstrim terjadi pada bulan Juli hingga bulan September, karena pada bulan Juli merupakan posisi resistent harga tertinggi di tahun 2001 yaitu mencapai harga sebesar Rp 8.800/kg yang kemudian mengalami penurunan harga secara dramatis hingga bulan September.

Posisi support harga terendah di tahun 2001 yang terjadi di bulan September yaitu sebesar  Rp 5.400/kg.

Setelah terjadi penurunan hingga harga terendah, kemudian harga mulai bergerak naik hingga akhir bulan Oktober.

Diprediksikan hingga akhir bulan Desember 2001, trend harga ayam ras pedaging tetap tinggi. Pada bulan-bulan tersebut kecenderungan permintaan konsumen akan ayam broiler mengalami peningkatan, karena untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.

 

Demikian juga halnya dengan harga daging ayam broiler. Harga tertinggi terjadi pada bulan Desember, yaitu Rp 11.625 di tingkat peternak, Rp 12.750 di tingkat grosir dan Rp 13.975 di tingkat konsumen.

Perkembangan harga daging ayam broiler per kilogram selama tahun 2000, disajikan pada Tabel.

Perkembangan Harga Daging Ayam Broiler Tahun 2000 (Rp/kg)

No

Harga

Jan

Peb

Mar

Apr

Mei

Jun

1

2

3

Produsen

Grosir

Konsumen

11.618

12.284

13.080

10.080

10.889

11.787

9.545

10.295

11.377

9.425

9.979

10.492

9.383

10.460

11.188

9.493

10.813

11.580

 

No

Harga

Jul

Agt

Sep

Okt

Nop

Des

1

2

3

Produsen

Grosir

Konsumen

8.686

10.343

10.763

9.372

10.068

10.960

9.214

10.114

10.660

10.107

10.827

11.399

10.625

11.662

12.775

11.625

12.750

13.975

Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan, 2001 

Fluktuasi harga yang dialami oleh ketiga jenis produk di atas dipengaruhi oleh banyak hal, seperti dipaparkan di bawah ini.

  • Tingkat permintaan pasar, misalnya meningkat saat hari raya atau perayaan-perayaan lain, maka harga cenderung naik, seperti yang terjadi pada bulan Januari 2000 dan Desember 2000.
  • Persediaan yang melimpah karena produksi yang berlebih, sedangkan permintaan pasar menurun, menyebabkan harga turun, seperti yang terjadi pada bulan Februari, sedangkan pasokan yang berkurang menyebabkan harga menjadi naik.
  • Adanya berbagai penyakit yang menyerang ternak, terutama ND, sehingga banyak peternak yang menjual ternaknya yang masih berukuran kecil dengan harga yang sangat murah, seperti yang terjadi pada bulan Maret.
  • Melemahnya kurs Dollar yang menyebabkan naiknya harga pakan (karena sebagian besar bahan bakunya adalah impor), sehingga harga ayam menjadi naik. 

Sejak krisis ekonomi berlangsung, usaha peternakan ayam ras semakin didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar, yang skala pemeliharaannya besar umumnya terkonsentrasi pada suatu tempat, sehingga menyebabkan fluktuasi harga terjadi lebih cepat.

Faktor-faktor musiman yang secara tradisional mempengaruhi perilaku pasar peternakan rakyat, lambat laun bergeser. Sekarang ini situasi pasar ayam ras lebih ditentukan oleh hal-hal sebagai berikut.

  • Stok ternak di kandang-kandang perusahaan besar.
  • Kapasitas cold storage.
  • Banyaknya produksi DOC yang dihasilkan.

Oleh karena itu, ketiga faktor tersebut di atas dinilai cukup efektif untuk mengendalikan harga komoditi ayam ras, terutama ayam ras pedaging. 

Perkembangan Produksi dan Konsumsi

Perkembangan Produksi

Selama kurun waktu 1995 – 2000, perkembangan produksi daging ayam ras di Indonesia menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, dibandingkan dengan produk-produk ternak lainnya.

Rata-rata pertumbuhan tiap tahunnya adalah sebesar 66,73 %. Peningkatan produksi daging ayam ras ini seiring dengan peningkatan permintaan masyarakat akan produk daging ayam ras.

Tahun 2001 merupakan angka sementara, yaitu sebanyak 516,29 ribu ton sedangkan angka pada tahun 2002 merupakan angka perkiraan yang didapat dari trend data pokok tahun sebelumnya dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing propinsi.

Pada tahun 2002 diproyeksikan produksi daging ayam ras pedaging akan mencapai 554 ribu ton. Pada Tabel di bawah ini, disajikan produksi daging ayam ras dari tahun 1995 – 2002. 

Produksi Daging Ayam Broiler Tahun 1995 – 2002

Tahun

Produksi Daging Broiler (000 Ton)

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

551,80

605,00

515,30

285,00

337,30

515,00

516,29*

554,00**

Keterangan : *   angka prediksi

                              ** angka proyeksi            

Sumber       : Direktorat Jenderal Peternakan, 2001 

Produksi ayam ras pedaging dunia dikuasai oleh Amerika Serikat. Pada tahun 2000, produksi ayam ras pedaging Amerika Serikat mengalami kenaikan sekitar 4 % mencapai 16.623 ribu metrik ton (tahun 1999 produksinya sebanyak 15.981 metrik ton).

Produksi ayam ras pedaging dunia dari tahun 1999 – 2000 lebih lanjut disajikan pada Tabel. 

Produksi Ayam Ras Pedaging Dunia (1.000 Metrik Ton)

Negara

1999

2000

Kenaikan (%)

Amerika Serikat

Cina

Uni Eropa

Brasil

Meksiko

Jepang

Thailand

Kanada

Lain-lain

15.981

11.000

7.297

5.269

1.919

1.190

1.025

1.004

11.202

16.623

11.350

7.405

5.577

2.033

1.185

1.100

1.040

11.589

4,0

3,2

1,5

5,8

5,9

-0,4

7,3

3,6

3,5

TOTAL

55.887

57.902

3,6

Sumber : PINSAR Unggas Nasional, 2000 

Perkembangan Konsumsi

Konsumsi daging ayam ras dari tahun 1996 hingga 2001 (angka sementara) menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat.

Hal ini terjadi seiring dengan semakin meningkatnya pendapatan masyarakat dan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan protein asal hewan. Konsumsi daging ayam ras di Indonesia pada tahun 2000 paling tinggi diduduki oleh DKI Jakarta yaitu sebesar 27,98 kg/kapita/tahun.

Nilai konsumsi penduduk DKI tersebut setingkat dengan tingkat konsumsi penduduk Malaysia. Secara rinci, perkembangan konsumsi daging ayam ras di Indonesia dari tahun 1996 – 2001 disajikan pada Tabel. 

Konsumsi Daging Ayam Ras Tahun 1996 – 2001 (kg/Kapita/Tahun)

No

Propinsi

1996

1997

1998

1999

2000

2001*

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

NANGROE ACEH DAR.

SUMATERA UTARA

SUMATERA BARAT

RIAU

JAMBI

BENGKULU

SUM.  SELATAN

LAMPUNG

DKI JAKARTA

JAWA BARAT

JAWA TENGAH

DI YOGYAKARTA

JAWA TIMUR

BALI

KAL.BARAT

KAL. TENGAH

KAL. SELATAN

KAL. TIMUR

SULAWESI UTARA

SULAWESI TENGAH

SUL. SELATAN

SULTRA

NTB

NTT

MALUKU

PAPUA BARAT

0,39

3,59

1,07

3,47

1,34

1,34

1,77

1,45

21,19

3,25

2,34

6,83

2,92

5,16

1,42

1,25

2,57

5,56

1,31

0,71

0,64

0,51

0,36

0,25

0,39

0,37

0,37

3,41

1,02

3,30

1,27

1,27

1,68

1,38

20,13

3,09

2,22

5,54

2,77

4,90

1,35

1,19

2,44

5,28

1,24

0,67

0,61

0,48

0,34

0,24

0,37

0,35

0,30

2,73

0,81

2,64

1,02

1,02

1,35

1,10

16,10

2,47

1,78

4,43

2,22

3,92

1,08

0,95

1,95

4,23

1,00

0,54

0,49

0,39

0,27

0,19

0,30

0,28

0,37

3,41

1,02

3,30

1,27

1,27

1,68

1,38

20,13

3,09

2,22

6,54

2,77

4,90

1,35

1,19

2,44

5,28

1,24

0,67

0,61

0,48

0,34

0,24

0,37

0,35

0,51

4,74

1,41

4,58

1,77

1,77

2,34

1,91

27,98

4,29

3,09

7,70

3,86

6,81

1,88

1,65

3,39

7,34

1,73

0,94

0,85

0,67

0,48

0,33

0,51

0,49

0,67

6,16

1,84

6,96

2,30

2,30

3,04

2,49

36,38

5,58

4,02

10,01

5,01

8,86

2,44

2,15

4,41

9,54

2,25

1,22

1,10

0,88

0,62

0,43

0,67

0,64

TOTAL RATA-RATA

2,61

2,48

1,98

2,48

3,45

4,48

         * Angka sementara

         Sumber : PINSAR Unggas Nasional, 2000 

Terlihat bahwa konsumsi daging ayam ras masyarakat Indonesia masih tergolong cukup rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.

Tingkat konsumsi terhadap daging ayam ras beberapa negara tetangga per kapita/tahun disajikan pada Tabel. 

Konsumsi Beberapa Terhadap Daging Ayam Ras Tahun 1995 – 2000 (kg/Kapita/Tahun)

Tahun

Malaysia

Filipina

Thailand

Vietnam

1995

1996

1997

1998

2000*

21,8

23,3

23,4

23,1

25,8

4,3

4,0

7,1

7,1

8,2

15,5

16,8

14,1

11,4

12,3

1,0

1,0

1,3

1,4

2,8

            Keterangan      : * = estimasi

            Sumber            : American Soybean Association (ASA), 2000

Perkembangan Ekspor dan Impor

Ekspor daging ayam ras pedaging masih terbatas dan baru dilaksanakan beberapa tahun terakhir ini.

Faktor terpenting yang perlu diperhatikan dalam ekspor daging ayam broiler ini adalah persyaratan yang ketat dari negara pengimpor yang menginginkan produk dengan tingkat keamanan atau kualitas yang tinggi.

 

Volume ekspor tahun 1996 mengalami penurunan 63 % dari volume ekspor pada tahun 1995 sebesar 997,6 ton.

Peningkatan volume ekspor dari 368 ton pada tahun 1996 menjadi sebesar 1.800 ton pada tahun 1997.

Volume ekspor di tahun 1998 dan tahun 1999 relatif stabil yaitu masing-masing sebesar 2.996,2 ton dan 2.859,3 ton, kemudian menurun hingga menjadi 708,38 ton di tahun 2000. 

Dilihat dari sarana perunggasan khususnya ayam ras merupakan industri terlengkap dibandingkan dengan komoditas lain

Industri ternak ayam ras tidak berhenti pada tingkat budidaya. Namun industri ini memberikan multiplier effect yang merupakan peluang untuk digarap.

Jenis produk ayam olahan yang di ekspor disajikan pada  Tabel . 

Ekspor Produk Ayam Olahan (1990-1999)

Tahun

Jenis Produk

Volume (kg)

1990

Ayam potong dan jeroan tanpa hati, beku

141.192

1991

Ayam potong dan jeroan tanpa hati, beku

213.446

1992

Ayam potong dan jeroan tanpa hati, beku

Hati ayam beku

443.298

42.587

1993

Ayam potong dan jeroan tanpa hati, beku

Daging dan jeroan ayam, beku

631.586

161

1994

Ayam potong dan jeroan tanpa hati, beku

1.103.358

1995

Ayam potong dan jeroan tanpa hati, beku

Daging dan jeroan ayam, beku

997.603

2.887

1996

Ayam utuh, beku

368

1997

Ayam potong dan jeroan tanpa hati, beku

1.800

1998

Ayam utuh segar atau dingin

Ayam utuh, beku

Ayam potongan dan jeroan, segar atau dingin

Ayam potongan dan jeroan, segar atau dingin

7.200

904.030

1.132.765

952.200

1999

Ayam utuh, beku

Ayam utuh, segar dan dingin

Ayam potongan dan jeroan, segar dan dingin

Ayam potongan dan jeroan, beku

129.505

23.595

785.712

987.665

Sumber : Trobos, 2000 

Beberapa perusahaan yang menggarap bidang ayam olahan di antaranya Charoen Pokphand Food (CP Food) dan Five Star (Termasuk Charoen Pokphand Group), Sierad Produce (Anwar Sierad Group), serta Japfa OSI Food Industry dan Supra Sumber Cipta (Japfa Comfeed Group).

Industri produk ayam olahan ini merupakan diversifikasi dari produk ayam broiler yang item-item produknya telah menjadi produk ekspor ekspor.

Kontinuitas permintaan ekspor produk ayam olahan ini selalu ada meskipun nampaknya volumenya berfluktuasi.

Ekspor produk ayam olahan ini mengalami booming pada tahun 1998, pada saat puncaknya krisis ekonomi. 

Selama kurun waktu Januari – April 2001, Indonesia mengekspor bibit ayam dan daging ayam ke beberapa negara di dunia.

Ekspor terbesar bibit ayam adalah ke Belgia yaitu sebanyak 14.997 kg, sedangkan untuk ekspor daging ayam terbesar adalah ke negara Jepang sebanyak 175.645 kg.

Lebih lanjut, ekspor bibit ayam dan daging ayam ke beberapa negara disajikan pada Tabel. 

Volume Ekspor Bibit Ayam dan Daging Ayam Januari – April  2001

No

Negara Tujuan

Volume (kg)

1

Republik Korea

4.299

2

Thailand

376

3

Singapura

8.167

4

Myanmar

150

5

Brunei

595

6

Ethiopia

80

7

Malaysia

3.352

8

Timor Timur

734

9

Taiwan

4.500

10

Belgia

14.997

11

Portugis

160

DAGING AYAM

No

Negara Tujuan

Volume (kg)

1

Jepang

275.645

2

Singapura

3.600

3

Malaysia

1.264

Sumber : BPS, 2001

Perkembangan Impor

Selama ini, kita masih mengimpor berbagai jenis produk peternakan.

Produk peternakan yang saat ini masih diimpor salah satunya adalah DOC dan daging unggas (daging ayam ras).

Impor DOC dan daging unggas ini dalam kurun waktu 1994 – 2000 memiliki kecenderungan yang menurun.

Hal ini disebabkan karena selain produksi dalam negeri yang mulai mencukupi, juga diikuti dengan adanya adanya isu-isu penyakit yang menyerang ternak-ternak ayam di negara pengekspor daging ayam ras tersebut.

Selain itu juga, semua impor produk-produk hasil peternakan harus mendapatkan rekomendasi dari Departemen Pertanian.

Selengkapnya, perkembangan volume dan nilai impor daging unggas dan DOC disajikan pada Tabel 

Perkembangan Volume Impor Daging Unggas dan DOC Tahun 1994 – 2000

Volume (000)

Tahun

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

Daging Unggas (kg)

2.315,0

2.002,1

2.051,2

811,1

571,5

4.070,4

14.017,4

DOC (Ekor)

1.800,1

1.499,9

1.287,9

693,2

496,6

1.862,5

1.610,1

Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan, 2001 

Selama kurun waktu Januari – April 2001, Indonesia juga mengimpor bibit ayam dan daging ayam (termasuk jeroan) dari beberapa negara di dunia.

Impor terbesar bibit ayam adalah dari Perancis yaitu sebanyak 293.032 kg, sedangkan untuk impor daging ayam beserta jeroan terbesar adalah dari Amerika Serikat, yaitu sebanyak 793.708 kg..

Lebih lanjut, ekspor bibit ayam dan daging ayam ke beberapa negara disajikan pada Tabel.

Volume dan Nilai Impor Bibit Ayam dan Daging Ayam Januari – April 2001

No

Negara Asal

Volume Bibit Ayam Ras (kg)

1

Thailand

16.736

2

Malaysia

44.735

3

Amerika Serikat

14.835

4

Belanda

671

5

Perancis

293.032

6

Jerman

8.537

7

Denmark

1.060

8

Australia

168.000

9

Filipina

88

10

Vietnam

75

No

Negara Asal

Volume Daging Ayam Ras (kg)

1

Inggris

53

2

Amerika Serikat

793.708

3

Singapura

16

4

Brazil

430.961

          Sumber : BPS, 2001

KONDISI EKONOMI MAKRO DAN PERDAGANGAN 

Posisi Pertanian dalam Perdagangan Dunia - Perekonomian dunia tahun 2000 mencatatkan pemulihan dan kondisi lebih baik daripada era pasca krisis sebelumnya. Pertumbuhan perdagangan dunia tercatat oleh FAO (2001) sebesar 12,5 %, lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 4,0 %, bahkan juga lebih tinggi daripada pertumbuhan rata-rata dekade 1990-2000 sebesar 6,0 %. 

Sektor pertanian tahun 2000 juga mencatat perbaikan pertumbuhan, menjadi positif  2 % dari negatif 5 dan 3 % berturut-turut tahun-tahun sebelumnya.

Tampak dalam hal ini sektor pertanian juga mengikuti kecenderungan perekonomian secara umum, namun dalam kisaran yang jauh lebih kecil. 

Porsi produk pertanian dalam perdagangan barang relatif kecil, hanya 9,0 %. Diantara US$ 6.186 triliun, produk pertanian mencatatkan nilai perdagangan sebesar US$ 558 triliun.

Porsi dan perkembangan perdagangan produk pertanian dapat dilihat pada Tabel. 

Porsi dan Perkembangan Perdagangan Produk Pertanian Dunia Tahun 2000 

Sektor

Nilai Triliun US$

%

Perkembangan (%)

80-85

80-90

90-00

98

99

00

Produk Pertanian

558

9

-2

9

3

-5

-3

2

Perdagangan barang

6186

100

dta

dta

6,0

dta

4,0

12,5

Sumber   : FAO, 2000

dta          : data tidak ada

Posisi Pertanian dalam Perdagangan di berbagai Wilayah Dunia - Porsi perdagangan produk pertanian sebesar 9,0 % diatas dibagi secara tidak merata dalam arus ekspor dan impor. Amerika Utara dan Amerika Latin cenderung lebih kuat dalam melakukan ekspor, sementara Eropa (Barat dan Timur), Afrika, Timur Tengah dan Asia cenderung lebih kuat sebagai pengimpor.

Khusus Afrika, porsi ekspor dan impor diduga melebihi porsi total dunia. Porsi produk pertanian dalam perdagangan total berbagai wilayah dapat dilihat pada Tabel. 

Porsi Produk Pertanian dalam Perdagangan Total Tahun 2000

Wilayah

Ekspor (%)

Impor (%)

Dunia

9,0

9,0

Amerika Utara

10,0

5,9

Amerika Latin

18,4

9,0

Eropa Barat

9,0

10,0

Eropa Timur dan sekitarnya

8,9

10,7

Afrika

12,9

15,1

Timur Tengah

2,4

13,1

Asia

6,5

9,4

Australia

dtt

dtt

Sumber   : FAO, 2000

dtt           : data tidak tercatat 

Produk pertanian mengambil porsi sebesar 40,7 % dari perdagangan produk primer. Porsi produk pertanian dalam ekspor lebih tinggi daripada rata-rata dunia, Amerika (Utara dan Latin), Eropa dan Asia.

Porsi produk pertanian dalam impor di Amerika Latin dan Eropa (Barat dan Timur), Afrika dan Timur Tengah lebih tinggi daripada rata-rata dunia.

Porsi ekspor dan impor produk pertanian Amerika Latin dan Eropa Barat lebih tinggi daripada rata-rata dunia.

Porsi produk pertanian dalam perdagangan produk primer dapat dilihat pada Tabel. 

Porsi Produk Pertanian dalam Perdagangan Produk Primer Tahun 2000

Wilayah

Ekspor (%)

Impor (%)

Dunia

40,7

40,7

Amerika Utara

58,2

33,8

Amerika Latin

47,3

44,1

Eropa Barat

57,2

47,3

Eropa Timur dan sekitarnya

20,7

41,8

Afrika

17,7

51,9

Timur Tengah

3,2

59,9

Asia

48,0

34,7

Sumber : FAO, 2000 

Porsi arus ekspor produk pertanian dunia menurut wilayah utama dunia terbesar terjadi di intern Eropa Barat, sebesar 49,7 % dengan nilai sebesar 174,2 triliun US Dollar.

Hal ini mengindikasikan bahwa arus perputaran produk pertanian dunia terbesar terjadi di intern Eropa Barat, diikuti oleh belahan dunia lainnya yaitu intern Asia sebesar 19,2 % dan intern Amerika Utara sebesar 10,3 %.

Arus ekspor produk pertanian dunia menurut wilayah utama dapat dilihat pada Tabel. 

Arus Ekspor Produk Pertanian Dunia Menurut Wilayah Utama Tahun 2000

Wilayah

Nilai

(Triliun US$)

Pertumbuhan

(Persen per Tahun)

90-00

99

00

Intern Eropa barat

174,2

2

-2

-4

Intern Asia

67,2

5

2

14

Intern Amerika Utara

36,0

1

2

10

Amerika Utara ke Asia

33,3

7

7

4

Amerika Latin ke Amerika Utara

21,7

8

2

21

Amerika Latin ke Eropa Barat

18,3

3

-7

-2

Sumber : FAO, 2000       

Pertumbuhan arus ekspor produk pertanian tahun 2000 dunia terbesar terjadi di Amerika Latin ke Amerika Utara sebesar 21 % per tahun, diikuti oleh intern Asia sebesar 14 % dan intern Amerika Utara sebesar 10 %.

Peran Pertanian dalam Perekonomian Nasional - Memasuki awal tahun 2000, perekonomian Indonesia diwarnai oleh nuansa optimisme yang cukup tinggi.

Tanda-tanda awal dari proses pemulihan ekonomi telah mulai nampak sejak triwulan III tahun 1999.

Stabilitas moneter juga terkendali, sebagaimana tercermin dari pencapaian tingkat inflasi yang rendah dan nilai tukar yang menguat hingga akhir tahun 1999.

Kondisi sosial-politik dan keamanan pada waktu itu sudah membaik, dengan proses pelaksanaan pemilihan pimpinan nasional yang dinilai berjalan lancar dan demokratis.

Berbagai perkembangan yang menggembirakan tersebut telah memungkinkan terjadinya penurunan suku bunga lebih lanjut hingga akhir tahun 1999 dan menggairahkan pasar modal sehingga proses pemulihan ekonomi mendapatkan momentumnya kembali.

Perkembangannya, pada tahun 2000 beberapa indikator menunjukkan bahwa proses pemulihan ekonomi nampak semakin menguat.

Pertumbuhan ekonomi meningkat lebih tinggi dari yang diperkirakan semula menjadi 4,8 %.

Beberapa faktor seperti membaiknya permintaan domestik, masih kompetitifnya nilai tukar rupiah, serta situasi ekonomi dunia yang membaik, telah memungkinkan sejumlah sektor ekonomi, termasuk sektor usaha kecil dan menengah (UKM), meningkatkan kegiatan usaha mereka baik untuk memenuhi konsumsi domestik maupun ekspor. Beberapa kemajuan juga dicapai dalam proses restrukturisasi perbankan, penjadwalan kembali utang luar negeri pemerintah, serta penyelesaian masalah Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan Pemerintah. 

Namun demikian, sejumlah permasalahan mendasar dan faktor ketidakpastian masih berlanjut dan menjadi kendala bagi proses pemulihan ekonomi secara lebih cepat dan berkelanjutan.

Dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya yang mengalami krisis serupa, proses pemulihan ekonomi di Indonesia juga relatif lebih lambat.

Secara mikro, masih banyaknya kendala yang membatasi percepatan investasi swasta menimbulkan kekhawatiran akan kesinambungan pemulihan ekonomi dalam jangka menengah. Ekspansi  kredit

perbankan masih relatif terbatas meskipun secara umum kondisi perbankan telah membaik.

Kemajuan dalam proses restrukturisasi utang perusahaan dan utang luar negeri swasta juga belum secepat yang diharapkan.

Besarnya beban pengeluaran pemerintah, terutama untuk pembayaran bunga utang dan subsidi, mengakibatkan terbatasnya stimulus fiskal untuk mendorong pemulihan ekonomi dan kekhawatiran akan kesinambungan dalam jangka menengah panjang.

Nuansa optimisme yang tinggi di awal tahun mengenai akan terjadinya perbaikan di bidang politik, keamanan dan hukum di dalam negeri ternyata juga belum dapat terwujud. 

Berbagai permasalahan mendasar dan faktor ketidakpastian tersebut, proses pemulihan ekonomi selama tahun 2000 telah dibarengi dengan meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan laju inflasi.

Nilai tukar rupiah cenderung melemah dan bergejolak sejak Mei 2000 sejalan dengan memanasnya kondisi politik dan keamanan dalam negeri, disamping tekanan yang muncul dari kesenjangan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing.

Sementara itu tekanan terhadap laju inflasi semakin meningkat sehubungan dengan relatif lambatnya sisi penawaran dalam mengimbangi kenaikan sisi permintaan akibat berbagai permasalahan struktural ekonomi yang masih ada.

Tekanan inflasi juga muncul sebagai dampak dari kebijakan pemerintah dibidang harga dan pendapatan, serta melemahnya nilai tukar rupiah.

Berbagai perkembangan tersebut menyebabkan inflasi melampaui sasaran yang ditetapkan pada awal tahun. 

Secara keseluruhan, selama tahun 2000 perekonomian Indonesia menunjukkan pemulihan ekonomi yang semakin kuat dengan pola pertumbuhan ekonomi yang semakin seimbang.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2000 mencapai 4,8 %, lebih tinggi dari perkiraan awal tahun Bank Indonesia sebesar 3,0-4,0 %.

Sejumlah kemajuan juga dicapai dalam proses penyelesaian utang luar negeri pemerintah, telah selesainya program rekapitalisasi perbankan, serta telah dicapainya kesepakatan dalam penyelesaian masalah BLBI antara pemerintah dan Bank Indonesia.

Namun demikian, kecepatan proses pemulihan ekonomi tersebut dibatasi dengan masih berlanjutnya beberapa permasalahan mendasar dalam perekonomian, terutama berkaitan dengan lambatnya restrukturisasi utang perusahaan, belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan, dan relatif terbatasnya stimulasi fiskal bagi pertumbuhan ekonomi. 

Berbeda dengan tahun  1999 yang hanya didorong oleh pengeluaran konsumsi, sumber-sumber pertumbuhan ekonomi pada tahun 2000 menjadi lebih seimbang.

Didukung oleh nilai tukar yang kompetitif, ekspor nonmigas menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, kegiatan investasi mulai meningkat. Peningkatan ini antara lain didorong oleh mulai tersedianya pembiayaan dari sisi perbankan disamping tetap besarnya penggunaan dana sendiri (self financing).

Tingkat penggunaan kapasitas pada beberapa sektor produksi bahkan telah mencapai tingkat yang tinggi guna memenuhi konsumsi dalam negeri maupun ekspor.

Sementara itu, pengeluaran konsumsi juga tetap meningkat sejalan dengan perbaikan tingkat pendapatan pada sebagian lapisan masyarakat, baik yang berasal dari upah/gaji maupun ekspor.

Sumbangan ekspor, investasi, dan konsumsi terhadap pertumbuhan PDB pada tahun 2000 masing-masing mencapai 3,9%, 3,6%, dan 3,1%.

Kuatnya kinerja ekspor dan peran investasi yang meningkat dalam pembentukan PDB mengindikasikan semakin mantapnya proses pemulihan ekonomi yang terjadi. 

Pada sisi penawaran, semua sektor dalam perekonomian mencatat pertumbuhan positif.

Dengan dorongan permintaan baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan dan sektor pengangkutan menjadi motor pertumbuhan dengan sumbangan terhadap pertumbuhan PDB masing-masing sebesar 1,6%, 0,9%, dan 0,7%.

Sektor industri pengolahan pada tahun 2000 mencatat pertumbuhan sebesar 6,2%, sementara sektor perdagangan serta sektor pengangkutan masing-masing meningkat sebesar 5,7% dan 9,4%. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel. 

Perkembangan Produk Domestik Bruto atas Dasar Harga Berlaku

Sektor

Pertumbuhan (%)

1997

1998

1999

2000

PDB

17,86

52,26

16,14

16,28

Pertanian, Peternakan,

Kehutanan dan Perikanan

13,76

71,10

25,51

0,68

    Bahan Makanan

9,59

75,03

26,04

-3,90

    Perkebunan

13,94

102,40

10,22

-5,20

    Peternakan

22,73

34,70

52,06

14,90

    Kehutanan

20,02

19,31

18,28

8,95

    Perikanan

20,32

90,73

31,62

11,28

Sumber: BPS, 2001 

Perkembangan Produk Domestik Bruto atas Dasar Harga Berlaku (Miliar Rupiah)

Sektor

Pertumbuhan (Miliar Rupiah)

1997

1998

1999

2000

PDB

627.695,5

955.753,5

1.109,979,5

1.290.684,2

Pertanian, Peternakan,

Kehutanan dan Perikanan

101.009,4

172.827,6

216.913,6

218.397,5

    Bahan Makanan

52.189,4

91.346,0

115.134,9

110.640,6

    Perkebunan

16.447,4

33.289,6

36.691,7

34.784,5

    Peternakan

11.688,1

15.743,6

23.939,4

27.507,3

    Kehutanan

9.806,5

11.700,5

13.839,7

15.007,7

    Perikanan

10.878,1

20.747,9

27.307,9

30.387,5

Sumber   : BPS, 2001

Berlanjutnya beberapa permasalahan struktural dalam perekonomian dan meningkatnya faktor ketidakpastian didalam negeri, proses pemulihan ekonomi selama tahun 2000 ternyata dibarengi oleh meningkatnya tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah.

Selama tahun 2000, nilai tukar rupiah rata-rata mencapai Rp 8.400 per US Dollar, lebih tinggi dari asumsi yang dipergunakan dalam penetapan sasaran inflasi yakni sebesar Rp 7.000 per US Dollar.

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah meningkat terutama sejak bulan April 2000 sebagai akibat perkembangan politik dan keamanan menjelang sidang tahunan MPR Agustus 2000, menguatnya mata uang US Dollar terhadap hampir semua mata uang utama dunia, dan besarnya permintaan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri.

Berbagai tekanan terhadap rupiah tersebut telah mengakibatkan kurs rupiah menjadi terlalu rendah (undervalued) dan tidak sesuai dengan perkembangan fundamental perekonomian. 

Akselerasi pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari yang diperkirakan juga telah meningkatkan tekanan kenaikan harga terutama sejak pertengahan tahun 2000.

Tekanan inflasi muncul karena dorongan permintaan agregat yang tinggi tidak sepenuhnya dapat diimbangi dengan kenaikan sisi penawaran agregat sebagai akibat masih adanya berbagai permasalahan struktural dalam perekonomian.

Tekanan inflasi menjadi lebih tinggi lagi dengan adanya kebijakan pemerintah untuk mengurangi berbagai subsidi guna mendorong pembentukan harga berdasarkan mekanisme pasar, melemahnya nilai tukar rupiah, serta tingginya ekspektasi inflasi di masyarakat.

Berbagai perkembangan tersebut mengakibatkan kecenderungan kenaikan harga-harga menjadi sulit diredam dengan segera karena sifatnya yang menetap (persistent). 

Meningkatnya tekanan terhadap inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah mendorong Bank Indonesia menempuh kebijakan moneter yang cenderung ketat terutama sejak bulan Mei 2000.

Kebijakan ini ditempuh guna mencapai laju inflasi  yang cukup rendah yang memiliki arti penting bagi kelangsungan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang dengan tetap memper-timbangkan dampaknya secara minimal terhadap proses pemulihan perbankan, penyelesaian utang, dan pemulihan perekonomian yang sedang berlangsung. 

Pada tahun 2000, sebagai kelanjutan dari kebijakan tahun sebelumnya, kebijakan perbankan tetap difokuskan pada upaya memperlancar program penyehatan lembaga perbankan dan program peningkatan ketahanan industri perbankan di masa depan.

Program penyehatan lembaga perbankan meliputi penjaminan pemerintah bagi bank umum dan BPR, rekapitalisasi perbankan, restrukturisasi kredit perbankan dan pemulihan fungsi intermediasi perbankan.

Sementara itu, upaya meningkatkan ketahanan sistem perbankan difokuskan pada pengembangan infrastruktur perbankan, peningkatan mutu pengelolaan perbankan (good governance) serta penyempurnaan sistem pengaturan dan pengawasan bank. 

Berkaitan dengan program rekapitalisasi, pemerintah bersama Bank Indonesia telah menyelesaikan program rekapitalisasi perbankan pada 31 Oktober 2000, seiring dengan telah selesainya rekapitalisasi enam bank umum (BNI, BRI, BTN, Bank Niaga, Bank Bali dan Bank Danamon).

Jumlah obligasi yang diterbitkan selama tahun 2000 mencapai Rp 148,6 triliun, sehingga total obligasi pemerintah yang diterbitkan dalam rangka program rekapitalisasi perbankan adalah sebesar Rp 430,4 triliun. 

Sampai dengan Desember 2000, jumlah kredit yang telah direstrukturisasi baik oleh bank sendiri atau melalui fasilitasi Satgas Restrukturisasi Kredit Bank Indonesia telah mencapai Rp 59,9 triliun atau sekitar 71,0 % dari total NPLs. Sementara itu, restrukturisasi kredit oleh BPPN yang mencapai tahap implementasi proposal dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) restrukturisasi baru sebesar 28,3 % dari total kredit sebesar Rp 286,3 triliun.

Sehubungan dengan itu, percepatan proses restrukturisasi kredit khususnya yang dilakukan BPPN akan menjadi salah satu faktor pendorong pulihnya kondisi perbankan dan pesatnya kegiatan investasi pada periode mendatang. 

Prospek perekonomian Indonesia tahun 2001 diperkirakan akan membaik sejalan dengan berbagai perkembangan positif baik dari sisi eksternal maupun internal. Hal ini diindikasikan dari hasil survei maupun indikator Dini Ekonomi (leading economic indicator) yang dilakukan Bank Indonesia.

Pada sisi eksternal, perekonomian global diperkirakan masih mengalami perkembangan perkembangan yang positif yaitu sebesar 4,2 %, atau sedikit lebih rendah dibanding tahun 2000 sebesar 4,7 %.

Penurunan pertumbuhan terutama akan terjadi di negara-negara Amerika Utara dan sebagian negara terutama Jepang diperkirakan mengalami pertumbuhan yang meningkat, sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap iklim investasi dan ekspor Indonesia melalui berbagai anak perusahaan dan perusahaan patungan yang beroperasi di Indonesia. 

Sejalan dengan kegiatan ekonomi dunia yang sedikit menurun dan harga minyak yang masih tinggi, volume perdagangan dunia akan tumbuh meskipun melambat.

Inflasi di negara-negara industri juga diperkirakan akan mengalami penurunan di tahun 2001, sementara suku bunga internasional diperkirakan relatif tetap sehingga mendorong aliran dana ke negara-negara berkembang (emerging market) termasuk negara-negara yang terkena krisis dengan membaiknya credit rating

Berdasarkan pertimbangan kondisi eksternal di atas, dan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8 % di tahun 2000, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2001 diperkirakan dapat mencapai sekitar 4,5-5,5 %.

Pertumbuhan moderat tersebut sebagai kelanjutan dari proses pemulihan yang terus berlangsung.

Pada sisi penawaran, seluruh sektor ekonomi diperkirakan mencatat pertumbuhan positif di tahun 2001 dengan sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, dan sektor bangunan akan tetap menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.

Pada permintaan, pendorong utama pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih akan bersumber dari kegiatan ekspor dan investasi.

Dorongan untuk meningkatkan utilisasi kapasitas produksi ataupun penambahan kapasitas yang telah ada untuk kebutuhan domestik maupun ekspor diperkirakan memperoleh momentum yang lebih kuat seperti adanya suku bunga riil yang masih relatif rendah dan fungsi intermediasi perbankan yang diperkirakan terus membaik.

Usaha Ayam Pedaging
Peran Sub Sektor Peternakan

Perkembangan sumbangan sektor pertanian selama tahun 1997-2000 tidak mengalami perubahan yang cukup berarti.

Rata-rata perkembangan sumbangan sektor pertanian terhadap produk domestik bruto nasional sebesar 17,7 % per tahun.

Sektor bahan makanan merupakan penyumbang terbesar dalam produk domestik bruto sektor pertanian dengan perkembangan 52 % per tahun, diikuti oleh sektor perkebunan sebesar 17 % per tahun, sektor perikanan sebesar 12 % per tahun, sektor peternakan sebesar 11 % per tahun dan sektor kehutanan sebesar 8 % per tahun. 

Perkembangan sumbangan sektor peternakan terhadap produk domestik bruto sektor pertanian menunjukkan kecenderungan untuk terus meningkat, walaupun pertumbuhan produk domestik bruto sub sektor peternakan tahun 2000 menurun sebesar 14,9 % dari tahun sebelumnya. 

 

Berdasarkan amanat GBHN 1990-2000, yang harus dilaksanakan oleh sektor pertanian, yaitu mengembangkan ketahanan pangan yang berbasis pada kemampuan produksi, keragaman sumberdaya bahan pangan, kelembagaan dan budaya lokal.

Selain itu juga program pengembangan agribisnis yang berorientasi global dengan membangun keunggulan kompetitif produk-produk daerah berdasarkan kompetensi, keunggulan komparatif sumberdaya alam dan sumberdaya manusia di daerah yang bersangkutan. 

Berdasarkan perhitungan statistik, lebih dari 54 % masyarakat Indonesia terdiri dari petani, sehingga apa yang terjadi di sektor pertanian akan memberikan pengaruh yang besar kepada sektor kehidupan yang lain.

Dengan demikian sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam menggerakkan perekonomian nasional yang mengalami krisis yang berkepanjangan. 

Sebagai bagian penting dari sektor pertanian, sub sektor peternakan jelas punya andil besar dalam ikut memikul misi menggerakkan perekonomian nasional, baik pada saat sekarang untuk dapat keluar dari situasi krisis maupun dalam tahap pemantapan di masa-masa mendatang.

Oleh karena itu, sebagai sub sektor yang memiliki potensi sebagai andalan di bidang pertanian, sub sektor peternakan dapat memainkan peranan penting dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan, melalui pengembangan agribisnis peternakan. 

Dalam rangka mendukung ketahanan pangan, khususnya pangan asal hewan, maka tuntutannya adalah dukungan atau peningkatan produksi hasil ternak.

Oleh karena itu perlu didorong pengembangan usaha peternakan dengan manajemen modern, sebagai pengganti pola tradisional atau subsisten yang menjadi ciri usaha peternakan selama ini.

Pengelolaan usaha peternakan secara modern  tidak terhindarkan, karena dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan sumber protein hewani selain dituntut ketersediaan dalam jumlah yang cukup, juga disyaratkan memenuhi standar kualitas.

Jika produksi hasil ternak tersebut meningkat, maka kebutuhan ternak akan pakan ternak juga meningkat baik jumlah maupun mutunya. 

Dilihat dari sisi sosial budaya, Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta dan didominasi oleh penduduk yang menganut agama Islam, merupakan potensi pasar produk ternak unggas yang cukup besar.

Hal ini disebabkan disamping karena tingkat konsumsi yang masih rendah, juga didukung oleh produk unggas (ayam) tidak dilarang oleh agama apapun untuk dikonsumsi.

Tingkat konsumsi daging dan telur masyarakat Indonesia saat ini masih belum mencapai standar gizi yang dicanangkan, yaitu 3,4 kg untuk telur dan 10 kg untuk daging per tahun.

Kondisi dan pola konsumsi daging dan telur yang masih mempunyai peluang untuk ditingkatkan, akan mendukung berkembangnya sektor budidaya dan pada akhirnya turut pula mendukung pertumbuhan sektor industri pakan ternak. 

Konsumsi daging mengalami puncaknya pada tahun 1996 yaitu sebesar                           8,4 kg/kapita/tahun kemudian turun drastis pada tahun 1998 sebesar                                 4,2 kg/kapita/tahun.

Tahun 1998 merupakan puncaknya krisis ekonomi yang melanda negeri ini sehingga mempengaruhi perilaku konsumsi penduduk.

Tahun 2000 menunjukkan ada harapan perbaikan perekonomian Indonesia, ini terlihat dari peningkatan konsumsi yaitu menjadi sebesar 5,2 kg/kapita/tahun.

Hal serupa dialami komoditas telur. Tahun 1997 konsumsi telur sebesar 3,5 kg/kapita/tahun kemudian mengalami penurunan pada tahun 1998 yang menjadi sebesar 2,3 kg/kapita/tahun.

Mengenai perkembangan konsumsi daging dan telur penduduk Indonesia dari tahun 1995 sampai tahun 2001. 

Pemenuhan protein hewani dapat dilihat dari kontribusi masing-masing ternak  dalam sumbangannya pada produksi total daging nasional.  

Produksi daging ayam ras tahun 2001 sebesar 516,3 ribu ton (35,6%).

Produksi daging sapi tahun 2001 hanya sebesar 338,6 ribu ton (23,3%), daging kambing sebesar 42,9 ribu ton (2,9%), daging domba sebesar 30,7 ribu ton (2,1%) dan daging ayam buras sebagai rival utama daging ayam ras sebesar 265,6 ribu ton (18,31%), sedangkan lainnya sebesar 256,6 ribu ton (17,7%).

Kontribusi Ayam ras pedaging adalah terbesar dalam sumbangannya pada produksi daging nasional. Hal ini menunjukkan bahwa ayam ras pedaging memegang peranan penting pada pembangunan nasional.

KEBIJAKAN PEMERINTAH

Peraturan Perundang-undangan Peternakan

Beberapa kebijakan pemerintah yang dituangkan dalam bentuk peraturan-peraturan yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan agribisnis ayam ras dipaparkan di bawah ini.

  1. UU No. 5 tahun 1968 berisi tentang izin lokasi/Hak Guna Usaha (HGU). Hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara, dalam jangka waktu paling lama 36 tahun dan dapat diperpanjang lagi untuk 25 tahun, guna perusahaan pertanian, peternakan dan perikanan. HGU ini diberikan atas tanah yang luasnya minimal 5 hektar. Upaya pemerintah dalam pembangunan nasional yang berorientasi pada pertanian.
  2. Keppres No. 50 Tahun 1980, berisi pembatasan skala usaha budidaya ayam ras. Skala maksimum yang diperkenankan sebesar 650 ekor per periode. Pemerintah berusaha mendorong usaha peternakan rakyat, namun kebijakan ini lebih banyak dinikmati oleh pengusaha besar. Pembatasan skala usaha ini kurang mendukung bagi pengembangan agribisnis peternakan ayam ras. Keppres ini kemudian dicabut dan diganti dengan Keppres No. 22/1990.
  3. Keppres 50 Tahun 1981, berisi tentang pembinaan usaha peternakan ayam ras. Kebijakan ini sebagai tanggapan terhadap adanya kemelut antara peternak kecil dengan peternak besar. Peternak kecil sering mengalami kesulitan bahan baku dan harga jual daging dan telur turun. Para peternak tersebut mengadukan kesulitannya kepada DPR. Kebijakan ini merupakan suatu upaya restrukturisasi dan stabilisasi perunggasan setelah terjadi ketimpangan struktur usaha dan timbulnya pertentangan peternak kecil dengan peternak besar. Namun dalam implementasinya, masih terjadi pelanggaran sehingga Menteri Pertanian RI menerbitkan SK Mentan No. TN. 406/Kpts/5/1984 yang mengatur pola kerjasama tertutup yang saling menguntungkan antara perusahaan sebagai inti dan peternak sebagai plasma. Kerjasama ini disebut dengan Perusahaan Inti Rakyat (PIR).
  4. SK Menteri Pertanian No. 750/Kpts/Um/10/1982 tentang syarat-syarat pemasukan bibit ternak dari luar negeri yang bertujuan untuk meningkatkan produksi, populasi dan mutu ternak serta meningkatkan pendapatan peternak. Kebijakan ini sebagai upaya pemerintah untuk mendorong pengembangan peternakan di Indonesia agar dapat meningkatkan produksi, populasi dan mutu ternak sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak.
  5. Keppres No. 22/1990, berisi tentang kebijaksanaan pembinaan usaha peternakan ayam ras. Keppres ini dikeluarkan sebagai pengganti Keppres No. 50 Tahun 1981. Keppres ini merupakan deregulasi bidang perunggasan untuk meredam gejolak di lapangan.
  6. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 362/Kpts/TN.120/5/1990, berisi tentang prosedur untuk memperoleh izin usaha peternakan. Untuk peternakan rakyat hanya perlu mendaftar ke Dinas Peternakan setempat, sedangkan untuk mendirikan perusahaan peternakan rakyat diperlukan izin usaha. Dalam SK Mentan tersebut menyatakan bahwa usaha peternakan yang jumlahnya kurang dari 10.000 ekor petelur dewasa disebut sebagai peternakan rakyat. Sementara untuk ayam pedaging, jumlah maksimum 15.000 ekor per siklus disebut peternakan rakyat. Untuk PMA wajib melakukan ekspor sekurang-kurangnya 65 % dari hasil produknya. Peraturan ini menjadi pemicu bagi pengembangan agribisnis perunggasan, terutama ayam ras karena peraturan ini memberi kesempatan kepada siapapun untuk mengusahakan peternakan ayam ras. Untuk mendorong usaha peternakan rakyat yaitu dengan memberikan kemudahan dalam perizinan usaha.
  7. Surat Keputusan Menteri Perdagangan No. 89/Kp/V/95, mengenai barang-barang yang diatur tata niaga impornya. Ayam yang dapat diimpor adalah ayam dari spesies Gallus domesticus dengan berat tidak lebih dari 185 gram.
  8. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 472/1996 mengenai petunjuk pelaksanaan pembinaan usaha peternakan ayam ras, diantaranya mengenai tata cara pelaksanaan program kemitraan oleh perusahaan. Kemitraan tidak terbatas pada bentuk Peternakan Inti Rakyat (PIR) tapi juga dapat dalam bentuk pengelola maupun penghela. Kebijakan ini sebagai upaya pemerintah untuk mendorong usaha peternakan rakyat. Melalui kemitraan diharapkan dapat terjadi suatu simbiosis yang saling menguntungkan antara perusahaan peternakan dengan peternakan rakyat. Pola kemitraan dilakukan yaitu perusahaan peternakan menyediakan lahan, sarana produksi, bimbingan teknis, manajemen, menampung, mengolah dan memasarkan hasil produksi peternakan rakyat.
  9. SK Dirjen Peternakan No. 289/TN.220/Kpts/DJP/Deptan/1996, mengenai pedoman pengawasan dan standar mutu bibit anak ayam ras niaga atau Final Stock umur sehari (kuri/DOC) tipe pedaging dan petelur.
  10. Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 135/KMK.05/1997, mengenai pembebasan atau keringan bea masuk atas impor bibit dan benih untuk pembangunan dan pengembangan industri pertanian, peternakan atau perikanan. Kebijakan ini sebagai upaya pemerintah untuk mendorong usaha di tingkat budidaya agar memperoleh mutu bibit dengan harga yang wajar. Di tingkat usaha pembibitan merupakan suatu tantangan agar memperbaiki mutu dan efisiensi produksi agar harga dapat bersaing.
  11. SK DirJend Peternakan No. 289/TN.220/Kpts/DJP/Deptan/1996, tentang Standar mutu bibit anak ayam ras niaga atau final stock umur sehari (kuri/DOC) tipe petelur dan standar mutu bibit anak ayam ras niaga atau Final Stock umur sehari (kuri/DOC) tipe pedaging. SK Dirjend Peternakan No. 568/TN. 220/Kpts/DJP/Deptan/1997, tentang petunjuk teknis pengawasan mutu bibit ayam ras niaga umur sehari (DOC). Pada tingkat budidaya, pemerintah mendorong terjaminnya mutu bibit untuk peningkatan produktivitas, efisiensi dan peningkatan pendapatan peternak. Pada tingkat pembibitan merupakan tantangan agar perusahaan pembibitan meningkatkan mutu bibit agar memiliki daya saing.
  12. Undang-undang No. 5 Tahun 1999, mengenai larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Kebijakan ini merupakan upaya pemerintah untuk melindungi peternakan rakyat lebih rentan dengan fluktuasi harga.
  13. Surat Dirjen Produksi Peternakan No. TN. 680/E/09.00 tanggal 25 September 2000, yang menyatakan bahwa hanya memperbolehkan impor ayam dalam bentuk utuh, tidak berupa potongan, untuk mencegah pemasukan pangan yang tidak jelas status kehalalannya. Sebuah dilema yang harus dihadapi oleh Indonesia dalam perdagangan internasional. Peraturan ini dinilai sebagai tidak rasional, membatasi perdagangan dan menyalahi prinsip-prinsip WTO. Pada sisi lain Indonesia harus menghadapi kenyataan untuk siap bermain di perdagangan internasional yang bebas tarif bea masuk. Pemerintah Indonesia tidak dapat lagi mengeluarkan kebijakan untuk mencampuri perdagangan internasional. Hal yang paling utama bagi pemerintah untuk mengakselerasi pembangunan agribisnis peternakan yang terintegrasi dan modern. 

Secara umum pemerintah mempunyai keberpihakan kepada peternakan rakyat yang merupakan bagian utama dalam pembangunan agribisnis peternakan Indonesia.

Melalui pola kemitraan yang memberikan kesempatan usaha bagi peternak rakyat yaitu berupa kemudahan mendapatkan fasilitas pendukung untuk budidaya ternak ayam ras serta pemasaran produk ternak ayam ras. 

Pada tingkat budidaya, pemerintah berusaha mendorong peningkatan produktivitas, efisiensi produksi dengan pengendalian mutu bibit bagi usaha peternakan ayam ras. Pada tingkat pembibitan merupakan tantangan untuk meningkatkan mutu bibit dengan harga yang bersaing. 

Kegairahan usaha peternakan ayam ras di tingkat budidaya akan memberikan multiplier effect (efek ganda) baik itu backward linkage maupun foreward linkage. Kegairahan usaha peternakan ayam ras di tingkat budidaya akan mendorong industri pakan ternak dan pembibitan untuk mensuplai usaha ini serta industri pasca panen.

Izin Usaha Peternakan

Skala Usaha

Izin usaha peternakan diberikan kepada perusahaan peternakan baik perorangan warga negara Republik Indonesia atau Badan Hukum Indonesia berbentuk Perseroan Terbatas atau koperasi yang telah siap melakukan kegiatan produksi, termasuk untuk memasukkan ternak dan pembibitan ternak.

Berdasarkan jenis dan jumlah ternak yang diusahakan, izin usaha peternakan diberikan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Izin usaha peternakan untuk perusahaan peternakan ayam ras pedaging diberikan dengan ketentuan dari Dirjen Peternakan minimal 15.000 ekor/siklus, sekurang-kurangnya 65 % untuk ekspor bagi PMA. 

Peternakan rakyat tidak wajib memiliki izin usaha peternakan, tetapi cukup memiliki Tanda Daftar Peternakan Rakyat yang diberikan oleh Dinas Peternakan Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II.

Jumlah ternak kegiatan budidaya peternakan rakyat untuk ayam ras petelur yaitu di bawah 15.000 ekor/siklus.

Prosedur Memperoleh Perizinan peternakan

Prosedur untuk memperoleh izin usaha peternakan lebih rinci tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 362/Kpts/TN.120/5/1990. Secara garis besar tata cara memperoleh izin, adalah sebagai berikut.

  1. Sebelum mengajukan permohonan izin usaha peternakan lebih dahulu mengajukan permohonan persetujuan prinsip disampaikan kepada Dirjen Peternakan atau Gubernur Kepala Daerah Tingkat I setempat sesuai dengan ketentuan pembagian kewenangan pemberian izin.
  2. Selambat-lambatnya 20 hari kerja Dirjen Peternakan atau Gubernur Kepala Daerah Tingkat I telah memberikan persetujuan prinsip atau menolaknya. Persetujuan ini berlaku selama jangka waktu 1 tahun dan dapat diperpanjang 1 kali dalam 1 tahun.
  3. Permohonan izin usaha peternakan diajukan kepala Dirjen Peternakan atau Gubernur menggunakan Model IUPm-I dengan tembusan Kepala Dinas Peternakan daerah Tingkat I dan Dati II setempat, dengan disertai :
  • Izin lokasi
  • Izin Mendirikan Bangunan (IMB), izin Hak Guna Usaha (HGU)
  • Izin tempat usaha (HO)
  • Izin tenaga kerja asing
  • Izin pemasangan instalasi serta peralatan yang diperlukan
  • Izin pemasukan ternak bagi perusahaan yang akan memasarkan ternak
  • UKL/UPL
  1. Selambat-lambatnya 20 hari kerja sejak diterimanya tembusan permohonan secara lengkap, Dinas Peternakan Dati I mengadakan pemeriksaan kesiapan perusahaan untuk berproduksi sesuai pedoman teknis peternakan.
  2. Selambat-lambatnya 5 hari kerja setelah pemeriksaan, Dinas Peternakan Dati I melaporkan hasil pemeriksaan dilaporkan kepada Dirjen Peternakan atau gubernur.
  3. Selambat-lambatnya 20 hari kerja setelah menerima hasil pemeriksaan, Dirjen atau Gubernur mengeluarkan izin usaha peternakan atau menundanya.

Aspek Pemasaran Usaha Ayam Pedaging